Kamis, 11 Juni 2009

Kutitipkan Bangsa Ini…

Oleh Achmad Subechi - 25 Maret 2009 - Dibaca 525 Kali -

LELAKI tua itu selalu saja datang ke rumah, setiap kali saya pulang dari Balikpapan. Saya juga heran, kenapa ia bisa tahu kalau saya sudah tiba di Jakarta. Usianya sekitar 65 tahun. Ia tinggal di rumah petak bersama istri keduanya. Anaknya dua, semua wanita. Satu pelajar SMA dan satu lagi pelajar SMP. Meski tergolong kurang mampu, namun anaknya terawat, bersih dan tak kelihatan kalau mereka anaknya orang tidak mampu.

Setiap kali saya lewat di depan rumahnya ada rasa trenyuh dan terharu dengan spiritnya. Bayangkan, tinggal di rumah petak berukuran 3 X 4 meter, tanpa kamar dan hanya ada satu kamar mandi Pak Tua itu mampu menyekolahkan anaknya. Istrinya hanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Sehari-hari, dengan nafas tersenggal-senggal, ia datangi rumah tetangga kanan kirinya. Tangannya menengadah tanda meminta. Saya enggak tahu persis berapa penghasilan yang ia dapatkan dalam sehari. Kadang, seusai bertemu saya, Pak Tua itu selalu tersenyum manja. Wow… hati saya terasa plong. Artinya, hari ini saya bisa membahagiakan manusia lain, walau hanya dengan senyuman dan kata-kata.

Anak-anak saya sudah hafal. Ketika Pak Tua terlihat berjalan kaki tertatih-tatih dari jauh, anak saya selalu teriak. “Pak Pak… Tua tuh… Dia mau ke rumah.” Biasanya, kami duduk di teras rumah, sekedar ngobrol. Sesekali saya berpura-pura sebagai orang ‘pintar’ saat penyakit asmanya kambuh. Biasanya, telapak tangan saya tempelkan ke dada. Enggak lama kemudian, Pak Tua itu tersenyum sambil mengatakan, “Kena… kena… Nah itu dia… penyakitnya… Alhamdulillah….” Saya tertawa kecil, karena apa yang saya lakukan itu hanya sedikit memberikan sugesti saja.

Apakah ia dapat BLT? Ternyata tidak. Sama dengan tetangga saya lainnya. Seorang janda beranak tiga. Tahun lalu, ia mengadu dan menangis di depan saya menceritakan ada rasa ketidakadilan terhadap program BLT. “Masak… tetangga saya yang mampu malah dapat BLT, sedangkan saya tidak. Padahal nama saya sudah didata. Pak RT sudah saya datangi, tapi dia diam saja,” tuturnya.

Rasanya ingin hari itu juga saya menemui Ketua RT setempat. Tapi karena rumah kontrakan saya beda dengan RT sang Ibu, saya tak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya mengelus dada melihat perilaku-perilaku penguasa kampung.

Kemarin seorang janda setengah baya, punya dua orang anak datang ke rumah saya. Ia mengucapkan rasa terima kasih karena selama ini biaya sekolah anaknya dihandle oleh istri saya. Lagi-lagi, dia mengeluh tak mendapatkan dana BLT. “Tapi untunglah Pak… Ibu mau memberi dana kepada anak saya untuk biaya sekolah…”

***
DI BALIKPAPAN ketika bencana tanah longsor menghantam salah satu pemukiman, saya datang ke lokasi kejadian memotret dan mencari data. Masya Allah, saya dapati sebuah rumah berukuran 3 kali 2 meter yang dihuni oleh lima orang anggota keluarga. Kamar tidurnya saja tidak ada. Semua ngruntel jadi satu. “Bapak bekerja menjadi penjaga sekolah… Kami berlima tinggal di rumah ini,” kata seorang bocah berusia tujuh tahun kepada saya.

Pemandangan memilukan juga saya lihat di Maumere. Ketika itu saya meliput gempa bumi. Ketika masuk ke pedalaman, ada juga manusia yang tinggal di kandang binatang bersama anak-anak dan istrinya. Pekerjaannya di ladang. Lagi-lagi saya mengelus dada.

Gambaran seperti ini amat kontras dengan di ibu kota. Mall-mall penuh sesak. Rumah-rumah makan bertebaran disana sini. Mau apa saja bisa. Semuanya tersedia. Bagaimana dengan yang di pelosok-pelosok desa yang infrastrukturnya belum memadai bahkan hampir tidak ada?

Dimana rasa keadilan? Dimana pemerataan? Dimana kesejahteraan? Lalu mengapa kemakmuran itu masih jauh dan tak bisa dipetik? Mengapa bangsaku menjadi terpecah-pecah begini, terkotak-kotak oleh simbol dan kekuasaan, tercabik-cabik oleh kepentingan?

Indonesia, bukan negeri yang tak memiliki masa depan. Indonesia adalah aset dunia. Negeri ini akan menjadi bangsa yang besar kalau para pemimpinnya bertindak adil, visioner, arif, bijaksana, berintegritas, merakyat, cerdas dan punya hati.

Wahai para calon pemimpin bangsa, “Kutitipkan negeri ini kepada kalian. Kutitipkan jasa-jasa bapaku yang telah berjuang terhadap negeri ini kepada kalian. Kutitipkan anak-anak bangsa ini kepada kalian. Kuserahkan semuanya kepada kalian… dan dengarkan jeritan hati rakyat serta pahami tingkat kesulitan mereka. Tenggoklah mereka dan jangan hanya duduk di singgasana… Angkatlah derajat kesadaran manusia ke dalam nilai-nilai kemanusian universal..”

Bangsa ini terlalu mahal dipertaruhkan hanya untuk kepentingan sempit. Bangsa ini harus tetap ada, bangsa ini harus mampu memerdekakan kemiskinan, kebodohan, kesengsaraan, ketidakadilan, kesenjangan, kerampuhan jiwa dan segala tetek bengeknya. Akankah masa depan bangsa ini kita percayakan kepada manusia-manusia yang pragmatis, oportunis, tak memiliki integritas, tak profesional, tak berintelektual? Jawabannya ada pada bangsa ini…. Salam dari anak bangsa…

Share on Facebook Share on Twitter

10 tanggapan untuk “Kutitipkan Bangsa Ini…”

1. Novrita,
— 25 Maret 2009 jam 3:16 pm

Ketika orang yang dianggap sebagai pemegang amanah untuk menyelenggarakan negara ini , untuk mensejahterakan rakayt negeri ini, untuk memakmurkan kehidupan bernegara…tidak mampu atau bahkan ada yang menyelewengkan amanah… Kewajiban kita adalah mengingatkan…
Tidak bisa kita memaksakan dengan cara-cara kekerasan…
Namun setidaknya…janganlah kita menjadi penyebab dari keterpurukan, kemiskinan, kesemrawutan, kekacauan…
Tamparlah diri kita sendiri ketika kita mengabaikan tangisan orang disekeliling kita yang kelaparan….
2. jalil,
— 25 Maret 2009 jam 3:49 pm

Ya bangsa ini adalah bangsa yang besar, gemah ripah lo jinawi, seharusnya tidak ada pemandangan kurang makan, anak2 tidak sekolah, susah berobat krn ngga punya biaya, tidur di kandang binatang, tapi saat ini realitanya demikian adanya. Masih banyak jumlahnya lalu kapan akan berkahir penderitaan saudara-saudara kita sebangsa yang kurang beruntung tersebut, Kita memang hanya bisa menitip bangsa ini kepada pemimpinnya, sang pemimpin yang BENAR.
3. slametwijadi,
— 25 Maret 2009 jam 3:54 pm

ada adagium yang menyatakan “the society get a leader it deserves”. apakah memang “layak” bangsa indonesia mendapatkan pemimpin2 spt sekarang ini? jawaban ada pada kita sendiri. indonesia mempunyai semua syarat2 untuk menjadi bangsa yang besar, makmur dan sejahtera tetapi ibarat diterowongan yang panjang dan gelap, saat ini kita belum melihat sinar cahaya diujung terowongan.betapapun, kita tidak boleh pesimis,semoga satu saat nanti bangsa kita dapat memilih pemimpin2nya yang benar.
4. Unang Muchtar,
— 25 Maret 2009 jam 4:07 pm

Ya Allah, sayatlah di api neraka lidah para pemimpin kami, yang hari-hari ini sedang menebar janji untuk memperbaiki nasib Saudara-saudara kami dari belenggu kemiskinan, kesengsaraan dan kesulitan hidup, sayatlah lidah mereka bila mereka terpilih dan tak menepati janjinya……………..
Engkau maha bijaksana, engkau maha tahu dan jauhkanlah kami dari Pemimpin-pemimpin munafik.
Amin……
5. Ryani,
— 25 Maret 2009 jam 7:52 pm

Seharusnya para pemimpin bangsa ini lebih banyak meluangkan waktunya untuk melihat langsung keadaan rakyatnya. Jangan hanya pandai berteori saja & mengumbarkan kata2 yang mengatasnamakan kepentingan rakyat.
6. abuga,
— 25 Maret 2009 jam 8:05 pm

salam,
saya yakin masih banyak cerita pilu di negeri ini.

ini bisa akibat dari aparat daerah yang hanya berpangku tangan dan membuat laporan abs ‘asal bapak senang’ saja. sudah biasa aparat daerah hanya nunggu jatah dan ngemplang.

sementar pemimpin nasional kalo mau terjun terlalu ribet dengan protokol. pendek kata pemimpin tidak punya gambaran ttg rakyat yang sebenarnya.

hanya satu pertanyaan di hati: apa kira2 yang terpikirkan di benak presiden, gubernur, bupati, dpr jika media memberitakan kisah2 pilu anak negeri ini. di mana peran mereka?? kenapa kisah2 ini selalu ditemukan oleh wartawan bukan dpr yang katanya dekat dengan rakyat?? bukan pemerintah yang katanya pengayom rakyat??

masihkah mereka bisa tertawa, makan enak omong kosong, selingkuh, tidur nyenyak, menilep uang rakyat miskin………. entahlah.
7. Endro,
— 25 Maret 2009 jam 8:20 pm

Mohon maaf, ada satu hal yang bisa dilakukan pak Achmad Subechi. Sepertinya pak SBY meski dikritik kiri kanan masih komit melanjutkan program BLT apabila terpilih jadi presiden lagi.
Mohon maaf lho ya pak Achmad, mungkin anda masih bisa mendatangi pak RT dari Pak Tua. Meskpun bukan Pak RT anda namun apabila didatangi dan dihimbau baik-baik untuk menambahkan nama Pak Tua pada daftar penerima BLT dan pak RT tahu anda wartawan insya Allah beliau tergerak melakukannya. Wassalam.
8. Bambang Darmanto,
— 26 Maret 2009 jam 9:37 am

Saya sendiri heran kalau membaca dan mendengar SBY dengan lantangnya mengatakan bahwa tingkat kemiskinan dan pengangguran telah menurun dibandingkan sebelumnya, padahal dalam keseharian melihat disekitar kita semakin banyak pengemis, pengamen & pengangguran yang berseliweran disepanjang jalan dan di tempat-tempat umum.
Apakah keberhasilan hanya mungkin dinikmati oleh mereka yang dekat dengan kekuasaan ?
9. Fatchurrachman,
— 27 Maret 2009 jam 6:57 am

Tentu saja SBY mengatakan tingkat kemiskinan dan pengangguran turun, karena disekeliling dia kan orang-orang kaya yang meskipun mengemis, tetapi SBY pikir dia bisa dimanfaatkan untuk kumpulin dana kampanye gitu. Lha korban lumpur lapindo yang kepengin ketemu saja dicuekin, tapi dia ga bisa menindak Nirwan Bakrie. Hopo tumon ?
10. sumijan,
— 21 Mei 2009 jam 3:58 pm

Ya, ini satu realitas anomali jiwa dari negeri yang katanya mengusung visi kedilan bagi sosial dan kemakmuran begi seluruh rakyat Indonesia.

Disisi lain, sebagai anak bangsa yang mengedepankan hati empati dan nalar ketika bersikap, jangan sampai lupa mengkalkulasi secara lebih cermat setiap keadaan sebelum bertindak. Dengan begitu energi positif yang hendak kita transpormasikan untuk membela kebenaran itu jangan sampai secara tidak disadari ternyata telah terjebak kedalam wilayah yang kontra pruduktif,di tengah 99% sumber daya dan dana di negeri ini di kuasai oleh para “politikus hitam,pengusaha hitam dan konlomerat hitam”.

Jadi secara itung-itungan ilmu saudagar, syarat utama yang dibutuhkan untuk menolong orang kecil di neri ini adalah dengan cara bersikap premisif terhadap perilaku koruptif kapanpu, dimanapun dan dalam keadaan situasi serta kondisi yang bagaimanapun,pokoknya harus dapet restu kaum koruptif terlebih dahulu.

Dengan begitu pekerjaan menolong orang lain dalam bentuk mengentaskan dari jurang kemiskinan atau apapun masalahnya di jamin menjadi “LEBIH CEPAT DAN LEBIH BAIK”.

Pendeknya, semua itu tergantung ISITAS para pihak yang berkompeten.

Urusan pantas atau tidak,nanti dulu.

Selamat Jalan Sahabat

Selamat Jalan Sahabat
Oleh Achmad Subechi - 28 April 2009 - Dibaca 851 Kali -

AWAL Januari 2008. Nongkrong sambil ngobrol (berdiskusi) di kantin belakang Kompas, seusai bekerja menjadi kebiasaan kami. Malam itu, selepas bertugas di Kompas.com, saya janjian bertemu Eddy Hasbi (redaktur foto Kompas) di kantin membicarakan perkembangan Kompas Images. Setelah itu saya berniat naik kembali ke lantai lima (kantor Kompas.com).

Sebelum menuju ke lantai lima, saya mampir ke ruangan Eddy. Di tempat itulah, saya bertemu Bambang Wahyuwahono, redaktur desk olahraga. Kami berdua tertawa terbahak-bahak mengenang masa lalu. Masa-masa yang menyenangkan saat bertugas di lapangan meliput berita-berita hukum dan politik. Maklum, saya sudah begitu lama tidak bertemua dia. “Saya baru saja Ching (begitu dia biasa memanggil saya) ditarik lagi ke Jakarta. Sebelumnya saya menjadi wakil kepala biro di Jawa Barat. Sekarang saya di desk olahraga,” katanya.

Saat itu saya juga bercerita kepada dia kalau saya ‘dua kaki’ –menjadi Kepala Biro Persda dan diperbantukan ke Kompas.com. “Baguslah Ching. Hidup ini jangan dibuat susah. Dinikmati saja…. Yang penting anak-anak bisa sekolah. Kedua, integritas (kejujuran) tetap dipertahankan Ching…,” tuturnya sedikit memberi pesan.

Pertemuan dengan Bambang mengingatkan saya pada masa lalu. Pria yang begitu bersahaja, santun, tegas dan penuh wibawa serta energik itu, cukup dikenal oleh para pejabat di negeri ini. Semangatnya dalam mencari berita tak mengenal waktu. Pernah suatu hari, saya bertemu dia di kantor Komnas HAM kawasan Rawamangun. Padahal waktu itu hari sudah menunjukkan pukul 00.30. Kebetulan Ketua Komnas HAM hendak mengumumkan hasil investigasinya. Tak ada keluh kesah dari bibirnya. Ia dengan setia menanti hasil jumpa pers yang disampaikan Baharuddin Lopa.

Begitu juga ketika kantor Komnas HAM pindah ke kawasan Menteng. Ia benar-benar akrab dengan semua pejabat di Komnas HAM. Keakraban Bambang dengan mereka karena ia dianggap memiliki integritas dan peduli dengan berbagai macam persoalan HAM. Ia benar-benar menguasai konteks (duduk persoalan). Wajar saja, kalau bertanya, pertanyaannya begitu tajam dan menukik.

Begitu juga saat ngepos di kantor YLBHI. Hampir setiap hari, ia berdiskusi sambil menggali isu dari Bambang Widjajanto, Munir (almarhum) dan Teten Masduki. Gaya bicaranya tidak meledak-ledak. Tatapan matanya tajam dan bersahaja. Kekritisannya itulah yang membuat dirinya disegani wartawan lain. Banyak yang terkesima dengan BW (panggilan akrabnya). Apalagi selama ini ia sangat peduli dengan apa yang dinamakan penegakan supremasi hukum dan ketidakadilan.

Sepekan setelah peremuan itu, saya mendapat kabar kalau BW terjatuh di kantor dan dirawat di rumah sakit karena stroke. Saya kaget. Saya tak menduga, jika pertemuan itu merupakan pertemuan kali terakhir saya dengan BW, karena beberapa saat kemudian saya dipindah ke Kalimantan Timur. Lebih mengejutkan lagi, Minggu (26/4) kemarin saya mendapat SMS yang mengabarkan bahwa sahabat saya itu telah pergi selama-lamanya. Selamat jalan sahabat…. Semoga Allah Swt meluaskan dan menerangi kuburmu serta menerima semua amal ibadahmu, termasuk hasil karya jurnalistikmu hingga pintu reformasi terbuka seperti sekarang ini. Sekali lagi, selamat jalan kawan….

Share on Facebook Share on Twitter

8 tanggapan untuk “Selamat Jalan Sahabat”

1. lily yulianti,
— 29 April 2009 jam 7:56 am

Terima kasih untuk tulisan ini. Saya ingat saat beberapa kali bertemu mas BW di Jakarta, dia ramah dan dalam percakapan-percakapan yang meski singkat, senantiasa memberi pesan serta semangat. Semoga Allah memberi tempat yang layak dan menerima ibadah mas BW. Amin.

ly
2. adven,
— 29 April 2009 jam 8:31 am

Turut berduka cita Pak Bechi,

Meninggalnya Pak Bambang Wahyuwahono yang mendadak tentu menjadi kabar yang mengagetkan. Saya tidak mengenal secara pribadi Beliau, namun membaca kiprah Beliau dari tulisan Bapak, bisa saya pastikan Pak BW merupakan salah satu aktor penting di belakang panggung bagi tegaknya demokrasi dan keadilan HAM di Indonesia. Melalui hasil liputan dan investigasinya masyarakat Indonesia belajar tentang hak dan kewajibannya selaku warga negara. Jalan hidup seorang wartawan memang jalan terjal dan sunyi. Kita, pembaca berita bisa mengenal hasil tulisannya namun sangat jarang bisa mengenal pribadinya. Selamat jalan Pak BW, terima kasih atas dedikasi dan integritas di dalam hidup dan karya ini.

Terima kasih sudah mensharingnya pada kami Pak Bechi.
3. Yani,
— 29 April 2009 jam 10:58 am

Inna Lillahi wa Innalillahi roojiuun…
Semoga Almarhum mendapat tempat yang mulia di sisi Allah swt dan kepada keluarga yang
ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan lahir batin..Aamiin.
4. katou,
— 29 April 2009 jam 4:30 pm

telah hilang sahabat ku “koKi”, kolom kita… i love koki forever more than ever… say yes to koki
5. Cempluk,
— 30 April 2009 jam 2:37 pm

Hikz sedih membacanya…smoga mas BW diterima disisiNYA…,,,,,pakdhe ACHMAD SUBECHI ikut berduka cita hiks
6. R.Ngt.Anastasia Ririen Pramudyawati,
— 1 Mei 2009 jam 4:38 am

..turut berduka, Bung Bechi..

Saya hafal geliat internal seorang Jurnalist idealis & terhormat seperti Beliau..
Semoga setiap sumbangsih gelisah Nurani atas segala kisah & peristiwa eksternal yang Beliau sharing-kan selama ini tetap berlanjut dan menjadi salah satu agent pengubah - pembaik kondisi stagnant yang masih banyak menggejala di Negeri yang sama kita cintai ini..

‘nuwun
7. gsumariyono,
— 3 Mei 2009 jam 5:21 pm

landasan utamanya karena pak BW jujur, berani dan punya harga diri, tidak terombang ambing dengan ideologi dan konsep2 pemikiran yang ‘ngawur’, tetapi pak BW mempunyai pandangan yang membela kepentingan banyak.. selamat jalan pak BW….
8. sumijan,
— 21 Mei 2009 jam 2:30 pm

saya yakin di gedung Kompas Palmerah,disana tempat bersemayam para jurnalis pejuang yang seluruh pengabdian hidupnya hanya pantas dicatat dan diperlihatkan di depan Tuhan. Semoga apa yang di buat oleh generasi jurnalis kedepan bisa membuat orang seperti Mas Bambang menjadi tersenyum bahagia dari liang-liang kubur mereka. Saya sangat mengenal tipologi jurnalis group kompas,dari bau dan warnanya sungguh kentara menyengat tajam hingga ke jantung hati setiap pembacanya. Saya selalu bilang kepada anak-anak saya di daerah” nak,kalau kamu rajin baca koran terbitan group Kompas,insyaAlloh kamu akan menjadi cerdas dan lekas dewasa”. Alkhamdulillah anak saya sangat faham akan maksud saya. Selamat jalan, saudaraku,do’a dan sikapku menyertai setiap kebaikanmu.

Wasiat Terakhir Mantan Presiden Korea Selatan

Oleh Achmad Subechi - 23 Mei 2009 - Dibaca 1486 Kali -

USIANYA sudah mencapai 62 tahun. Ia pernah memegang tampuk kekuasaan tertinggi (presiden) tahun 2003-2008 di negaranya. Namanya Roh Moo-hyun. Beberapa waktu lalu, lelaki itu dipanggil aparat kejaksaan di negaranya, terkait dengan kasus korupsi yang melibatkan keluarga dan orang dekatnya. Bahkan, 19 April 2009 lalu, para jaksa di Korea Selatan (Korsel), menahan seorang pembantu dekatnya bernama Jung Sang Moon.

Mantan Sekretaris Umum itu kemudian ditahan, karena diduga menerima suap jutaan dolar dari pengusaha sepatu yang sudah ditahan dan para pengusaha lokal lainnya untuk keluarga Roh. Roh Moo-hyun sendiri, juga akan diperiksa terkait tuduhan itu. Sedangkan, istri Roh, anaknya dan seorang keponakan perempuan Roh, telah diperiksa.

Diduga malu atas tuduhan korupsi melibatkan anggota keluarganya, Roh akhirnya mengambil jalan pintas. Sabtu (23/5) pagi, lelaki itu bunuh diri loncat dari sebuah bukit dan tewas seketika, walau sempat dibawa ke rumah sakit.

“Mantan Presiden Roh meninggalkan rumahnya pukul 05.45. Ketika mendaki bukit Ponghwa, dia terlihat melompat sekitar pukul 06.40,” kata Moon Jae-in, Kepala Staf Kepresidenan Roh. Bahkan, sebelum bunuh diri, ia meninggalkan wasiat buat keluarganya. “Segalanya menjadi sulit… Saya merasa membuat banyak orang menderita.” Selain itu Roh juga berpesan agar jenazahnya dikremasi.

Roh adalah pribadi yang dibentuk dari bawah (jalanan). Mantan pejuang hak asasi manusia itu tak pernah menduga bakal duduk di The Blue House, Istana Kepresidenan. Sebagai anak petani miskin dan peternak ayam di Kimhae, Roh amat bersahaja.

Sayang, petaka itu menghampiri keluarganya. Roh merasa malu. Suatu hari sebelum kasus korupsi melilit keluarganya terbongkar, Roh dengan rendah hati menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat dan negaranya karena tak bisa menuntaskan masalah korupsi dan perekonomian. Pidato itu disampaikan, satu hari setelah Mahkamah Konstitusi negara itu menolak usaha untuk meng-impeachnya dan memulihkannya kembali ke jabatan presiden.

Katanya, Mahkamah tidak membebaskan dirinya dari kewajiban moral dan politiknya. Untuk itu dia bertekad mengatasi masalah ekonomi Korea Selatan. Sebelumnya, parlemen meng-impeachnya Roh dengan tuduhan melancarkan kampanye secara tidak sah, salah-kelola dalam bidang ekonomi dan tidak berhasil menghentikan korupsi. Mahkamah Konstitusi Korea Selatan memutuskan tuduhan ketidakmampuannya melaksanakan tugas dan tuduhan korupsi tidak dapat dibuktikan.
***
SUNGGUH amat menyedihkan. Lebih-lebih setelah membaca isi surat wasiat Roh. Pesan yang ia sampaikan teramat dalam. Ada makna tersembunyi yang patut dijadikan pelajaran buat para pejabat kita di negeri ini. Roh tidak akan melakukan tindakan nekat, seandainya anggota keluarganya tak terlilit kasus korupsi. Ia paham betul kekuasaan akan melahirkan madu. Madu-madu itulah yang menarik minat para ’semut’ untuk mendekat ke istana raja. Ketika keinginan atau kepentingan para ’semut’ itu tak mampu menembus benteng pertahanan Roh, maka keluarga dekat Roh yang didekati.

Akibatnya, aib itu menyeruak, lalu melambung ke seantero Korea bahkan dunia. Roh tak mampu mengelola isu itu. Ada beban moral yang tak bisa ia tanggung untuk selamanya. “Saya merasa membuat banyak orang menderita..” Bayang-bayang ketakutan karena merasa bersalah, bisa jadi membuat Roh mengambil jalan pintas. Kematian adalah cara terbaik dan tercepat dalam menyelesaikan masalah. Roh ingin bebas, ia tak mau dikejar-kejar bayang-bayang ketakutan yang telah membuat malu dirinya. Ada perasaan bersalah terhadap masyarakat dan negaranya. Ia tak tega melihat bangsanya menderita karena ulah para koruptor yang notabene ternyata ada di dalam anggota keluarganya sendiri.

Dalam pribadi manusia, tubuh ini selalu dikendalikan oleh dua kekuatan: nafsu dan akal (pikiran). Ketika hati (tempat bersemayamnya segala keinginan/nafsu) tak mampu dikendalikan oleh akal, maka manusia cenderung akan melakukan aktivitas negatif dan merugikan manusia lain. Sebaliknya, ketika akal manusia mampu menguasai hati –’merevisi’ atau bahkan tak menuruti kata hati– maka ia akan menjadi pribadi-pribadi tinggi yang bisa mengeyampingkan bahkan mencampakan penyakit hati. Pribadi yang tinggi dijamin berjiwa bersih dan bercahaya.

Bagaimanapun juga, petaka yang terjadi pada Roh, mari kita ambil hikmahnya. Calon pemimpin di negeri ini hendaklah bercermin dari peristiwa-peristiwa terburuk yang awalnya mengeyampingkan persoalan moral untuk memenuhi keinginan hati. Bukankah pusat kekuasaan, akan menjadi sentral para ’semut’ untuk menghisap bahkan mencuri madu dengan berbagai cara? Tak mustahil, kasus yang terjadi pada keluarga Roh juga bakal terjadi di negeri ini.

Kita semua tahu, kekuasaan yang dimiliki istana, mampu merubah segala-galanya. Tergantung mereka yang memiliki kepentingan akankah mampu menanamkan pengaruhnya untuk meraih apa yang diinginkannya? Untuk itu kita berharap, siapapun presiden terpilih, hendaknya mampu mengendalikan hatinya, mengontrol perilaku-perilaku anggota keluarganya, agar rakyat dan negara tak dirugikan…

Share on Facebook Share on Twitter

14 tanggapan untuk “Wasiat Terakhir Mantan Presiden Korea Selatan”

1. om_parmin,
— 23 Mei 2009 jam 5:02 pm

coba kalo di indonesia. pejabat yang korupsi punya rasa malu dan urat ke-MALU-an nya tdk putus.bisa di bayangkan berapa banyak yang akan bunuh diri karena ketahuan korupsi.sayang nya pejabat kita masih memegang motto: BERANI HIDUP demi sebuah kemunafikan..
2. hendro,
— 23 Mei 2009 jam 5:09 pm

KPK tidak perlu capek kalau pejabat kita seperti orang KOREA, pasti banyak yg bunuh diri.
3. pablo,
— 23 Mei 2009 jam 6:43 pm

“Saya merasa membuat banyak orang menderita..” Bayang-bayang ketakutan karena merasa bersalah, bisa jadi membuat Roh mengambil jalan pintas. Kematian adalah cara terbaik dan tercepat dalam menyelesaikan masalah. Roh ingin bebas, ia tak mau dikejar-kejar bayang-bayang ketakutan yang telah membuat malu dirinya. Ada perasaan bersalah terhadap masyarakat dan negaranya. Ia tak tega melihat bangsanya menderita karena ulah para koruptor yang notabene ternyata ada di dalam anggota keluarganya sendiri.
Begitulah seharusnya kita bersikap - para karuptor ” SILAHKAN MENYUSUL “
4. amien,
— 23 Mei 2009 jam 10:17 pm

di Indonesia sebenarnya juga mencoba untuk mulai memasuki fase tersebut, dimana korupsi menjadi hal yang hina. bukan saja korupsi yang dilakukan diri sendiri, tapi juga korupsi yang terjadi karena faktor keluarga seperti yang dialami Roh dan di Indonesia oleh Soeharto.

terkait dengan korupsi oleh keluarga presiden, pak SBY juga sering mengungkapkan hal tersebut di berbagai kesempatan di TV. Bahwa memimpin bangsa harus mendahulukan kepentingan rakyat, bukan keluarga, Entah siapa yang dimaksud oleh SBY seperti yang terakhir disampaikan pada diskusinya dengan Kadin. beberapa pakar menyatakan bahwa yang disindir oleh SBY tentang bisnis keluarga di pemerintah ialah JK, meskipun JK tidak pernah menanggapi langsung hal tersebut, mungkin karena JK tidk merasa melakukan hal tersebut. ia hanya menyatakan bahwa bisnis keluarganya hanya sekitar 10 % yang bersentuhan dengan pemerintah yang dinyatakannya saat menjawab pertanyaan Karni Ilyas tentang bisnis keluarga JK dalam tolk show di TVOne.

sebaiknya pak SBY mengungkapkan data seperti tuduhannya, biar masyarakat dapat menilai…
karena mental pak Roh Mooh-Hyun (untuk mengakui korupsi yang dilakukan keluarga dekatnya) sepertinya belum dimiliki oleh calon pemimpin-pemimpin kita
5. sianeindriani,
— 23 Mei 2009 jam 11:37 pm

Kita juga prihatin, negeri kita ini sekarang yang dipikirin hanya Kekuasaan, lantas uang. Kini uang telah menjadi segalanya. Agar menang Pilkada pakai uang, menang Pileg pakai uang, lolos dari tangkapan KPK pakai uang, Menang Pilpres pakai uang…eh BLT
6. Rukyal Basri,
— 24 Mei 2009 jam 6:22 am

Kalau arwah Roh yang punya malu tiba tiba terbang ke Indonesia, dan merasuki orang orang Indonesia yang memang pantas dirasukinya, wah, agaknya lahan kuburan nggak bakal cukup deh, tukang gali kubur panen raya, termasuk supir ambulanse dan modin tukang doa, tukang kembang dll.
7. oscar soenda,
— 24 Mei 2009 jam 10:19 pm

bangsa jepang punya tradisi harakiri jika merasa malu teramat sangat. rasa malu ditransformasikan kedalam laku seppuku, mengakhiri hidup dengan usus terburai daripada hidup dipermalukan karena kegagalan. bangsa jepang juga mengubah spirit bushido menjadi sikap etos kerja yang hebat. lihat saja, produk2 industri jepang pasti ada ditiap rumah tangga indonesia. korea juga begitu. roh moon-hyun mengakhiri hidup dengan bunuh diri, daripada hidupnya dipermalukan !

saatnya semangat siri ala bugis ditransformasikan dalam kehidupan bangsa indonesia. misalnya, malu untuk korupsi, malu untuk mencuri, malu untuk kolusi, malu untuk memanfaatkan jabatan dan kekuasaan untuk keluarga, kerabat, lingkaran dekat, dst. andai JK jadi presiden, dan ada kerabatnya yang korupsi, akankah seppuku dengan badik untuk menebus rasa malu? atau seperti pada umumnya bangsa kita yang suka ngeles dan cari kambing hitam? wallauhualam bissawab………………….
8. Abak,
— 24 Mei 2009 jam 10:30 pm

Hm…. di sini rasa salah itu selalu dilempar ke orang lain, tidak berhenti di diri sendiri. dan berani menunjuk, saya yang salah.
sehingga persoalan tidak selesai, dan ujungnya saling menyalahkan, dan merasa dirinya yang paling benar dan paling bersih.

siapa korup?

tidak ada yang mengaku, tunjuk orang lain

siapa yang nepotis?

tidak ada yang mengaku, tunjuk orang lain

siapa yang menyalahgunakan fasilitas?

tidak ada yang mengaku, tunjuk orang lain
9. zentua Simbolon,
— 25 Mei 2009 jam 3:27 am

Hidup Indonesia, tidak perlu bunuh diri kayak gini. Para koruptor kita memang lain dari yang lain. ketika koruptor biasanya berlindung atas nama agama; bantu bangun mesjid, LSM berbau agama, sumbang pengjian,sekolah-2 berbau agama(Pesantren-2), sumbang ke gereja, dan rumah ibadah agama-2 lainnya. Jadi kontradiktif dengan korea, koruptor kita malah bangga udah sumbang itu-ini. ada yang malah merasa malaikat, Hidup koruptorrrrrrrrrrrrr,,,,,….. selamat koruptor,……………. Amin.
10. Yan,
— 25 Mei 2009 jam 6:03 am

Pejabat Indonesia disarankan nonton drama korea, supaya terhibur sekaligus dapat pelajaran berharga. he he he
11. ANSWARI JADI,
— 25 Mei 2009 jam 7:59 am

KEMATIAN YANG SANGAT TERHORMAT, DARI PADA DIADILI OLEH MASA YANG KADANG2 MENGABAIKAN HUKUM, SEBAGAI ANAK BANGSA BERANI BERBUAT BERANI BERTANGGUNG JAWAB, TINGGAL MENUNGGU PENGADILAN AKHIRAT, YANG BAIK KITA TIRU YANG JELEK BUANG JAUH2 DR NKRI
12. z Lubis,
— 25 Mei 2009 jam 9:05 am

@abak.
Untuk Korup,kolusi mungkin bisa lempar atau tunjuk orang lain
tp kalo nepostis sudah jelas terlihat,tinggal tunjuk aja!!
13. sumijan,
— 25 Mei 2009 jam 11:04 pm

Terimakasih Pak Bechi, anda telah mengantarkan hikmah kebaikan kerumah kami melalui bacaan ini, sehingga :

Kami bisa belajar untuk untuk lebih hati-hati dan lebih teliti dalam menilai setiap keadaan.

Kami bisa belajar menjaga nasib, dengan menghindari sikap inkonsisten sebagaimana yang telah membuat Pak Roh Moo Hyun menjadi “kesleo Sikap” yang kemudian menjadi “Kesleo Jiwa”.

Kami bisa belajar, betapa Pak Roh Moo Hyun telah kehilangan jiwanya lantaran tidak pandai menjaga nasibnya,perubahhan sikapnya telah membuat hidupnya dikelilingin kesukaran-kesukaran yang menghantarnya pada jurang aib kematian.

Kami bisa belajar, bahwa “Hantu Kewenangan Presiden” telah menjadi “ALAT UJI PENYINGKAP TABIR KARAKTER ASLI” dari seorang “Humanis” kaliber dunia Roh Moo Hyun. Sehingga harga diri dan kredibilitas se orang Roh Moo Hyun talah di ukur dan di bobot dengan hasil akhir “r a s a m a l u” yang tak tertahankan.

“Rasa Malu”, Ia benar-benar telah memberikan kredibilitas luarbiasa atas bangsa jepang, sifat Tuhan sungguh di Muliakan di sana yang justeru oleh bangsa yang tak pernah menyebut-nyebut nama Tuhan.

“Rasa malu” Ia juga telah di wahyukan pada Bangsa Cina,ketika korupsi secara kongkret dapat di berantas dengan sikap tegas dan sangat cekatan.

Beribu-ribu penjahat termasuk koruptor telah di hukum tembak mati di negeri cina,bahkan jika itu ketua partai berkuasa atau presiden sekalipun.

Tanpa bermaksud menjelek-jelekan bangsa sendiri, di Indonesia ini kurang apa di banding negara manapun dalam menyebut-nyebut nama Tuhan.

Tetapi mengapa “Rasa Malu” itu hingga kini belum juga datang..?

Ketika “rasa malu” itu tidak lagi ada dan atau kalaupun ada tak lagi dapat diterapkan secara persis, maka masih adakah tempat bagi Tuhan di sini…?

Ketika “kerja tipu-tipu.nego-nego dan kommpak-kompak jahat” telah di angkat menjadi panglima sikap, masihkah harus tetap merasa bahwa agama dan keber-agamaan masih ada disini…?

Ini negara kita,baik buruknya ya.. tanggungjawab kita bersama,, karena agama itu nasehat..agama itu nasehat..agama itu nasehat

memnerapkan agama secara persis itu dengan nasehat

nasehat itu menghendaki kebaikan pada yang lainya

Karena sesungguhnya amal ibadah itu di hitung pada akhirnya perbuatan

Berbahagialah bagi orang yang bisa istikomah dalam nama Tuhan hingga ajal tiba.
14. qqpink,
— 30 Mei 2009 jam 12:38 am

klo di indonesia semua pejabat yg ngaku korup pasti butuh penjara yg lebih besar lagi….soalnya saingan sama yg nyolong ayam…n klo disini pejabat berani bunuh diri kaya mantan presiden korsel pasti kuburan pada numpuk tuh saingan sama orang yg gak ada identitasnya…n pasti indonesia penduduknya jadi gak banyak…..kan pada mati semua…buat negara korsel turut berduka cita atas kepergian Roh Moo-hyun……T_T

Duka dari Pulau Dewata

Oleh Achmad Subechi - 26 Mei 2009 - Dibaca 1209 Kali -

MASIH ingat kasus pembunuhan terhadap Fuad Muhammad Syafruddin yang akrab dipanggil Udin. Wartawan Harian Bernas, Yogjakarta, tewas dianiaya sejumlah pria tak dikenal di depan rumah kontrakannya. Peristiwa itu terjadi 13 Agustus 1996. Insan pers di tanah air geger. Penguasa Orde Baru diminta menuntaskan kasus itu. Hakim di pengadilan memvonis bebas terdakwa Iwik. Motifnya sampai sekarang belum jelas.Kasus kekerasan terhadap wartawan kembali terulang. AA Gde Bagus Narendra Prabangsa, redaktur Radar Bali (Jawa Pos Group) yang hilang sejak 11 Februari dan ditemukan tewas di tengah laut di Teluk Bungsil, antara Pelabuhan Padang Bai dan Pulau Nusa Penida, 16 Februari 2009 lalu, ternyata tewas dibunuh. Kapolda Bali Irjen Polisi Teuku Ashikin Husein menjelaskan, eksekusi terhadap korban dilakukan di rumah aktor intelektual Nyoman Susrama di Banjar Petak, Bebalang, Bangli, sekitar pukul 16.30 hingga 22.30 Wita, 11 Februari 2009.

Nyoman Susrama dikenal publik sebagai adik pejabat di Bangli. Sore itu korban dijemput Komang Gede, Nyoman Rencana dan Komang Gede Wardana di Taman Bangli menggunakan mobil Honda Civic hijau. Dalam kasus dugaan penyimpangan proyek di Dinas Pendidikan, Komang Gede menjabat sebagai akunting proyek pembangunan sekolah TK Internasional di Bangli. Sesampainya di rumah Susrama, korban digelandang ke belakang rumah dengan kedua tangan dilipat dan diikat di belakang.

Susrama memerintahkan Nyoman Rencana dan Wardana menghabisi nyawa korban. Pelaku memukul kepala korban berkali-kali hingga terkapar. Setelah tak bernyawa, mayat korban dimasukkan ke dalam kamar.Kemudian, Susrama memerintahkan pelaku Jampes dan Endy, membersihkan darah yang tercecer di halaman belakang. Malamnya mayat korban dibawa keluar rumah lalu dibuang ke tengah laut. Tujuh tersangka yang diduga terlibat dalam kasus pembunuhan berencana ini kini di tahanan Polda Bali.

Terungkapnya kasus pembunuhan terhadap jurnalis kali ini membuat hati kami pedih. Kami ikut berduka atas meninggalnya kawan kami. Mengapa kebencian atau ketidaksukaan itu harus dilampiaskan dengan mencabut nyawa kawan kami? Apalagi dilakukan dengan tindakan kekerasan yang melampaui batas-batas kemanusiaan.

Wartawan adalah manusia biasa. Wartawan bukan makhluk yang tidak pernah melakukan kesalahan atau kehilafan. Ketidaksempurnaan selalu saja terjadi dalam menjalankan tugas-tugas jurnalistiknya. Sama dengan profesi-profesi lainnya.

Wartawan memiliki tanggungjawab moral, selalu kritis dalam menyikapi problem-problem sosial yang ada di depan matanya, menggunakan mata hati dalam memotret berbagai macam ketimpangan, berjalan dengan pikirannya dan selalu berorientasi kepada mereka yang lemah, terperdaya serta tertindas.

Ketika hasil karya mereka dianggap ‘menyakitkan’, maka pihak-pihak yang merasa tersentil atau bahkan dirugikan, seharusnya memanfaatkan ruang hak jawabnya. Bukan sebaliknya, ketidakpuasan terhadap pemberitaan harus dihadapi dengan cara-cara yang tidak terpuji, main culik, lalu dianiaya sampai mati. Sebagai insan pers, kami semua tentu saja menyesalkan tindakan main hakim sendiri. Aparat kepolisian diharapkan bekerja secara profesional, tanpa pandang bulu dalam menegakkan hukum. Siapapun para pelakunya, mereka harus diadili dengan baik dan benar sesuai koridor hukum yang berlaku di negeri ini.

Kita semua sudah muak dengan tindakan-tindakan kekerasan yang terjadi di atas kulit bumi bernama Indonesia. Segala persoalan yang terjadi pada bangsa ini, hendaknya diselesaikan dengan menggunakan akal, bukan lagi dengan kekuatan otot.

Bukankah bangsa kita adalah bangsa yang beradab, bangsa yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan berbudi luhur? Kedepan kita tak mengharapkan kasus Udin dan Narendra Prabangsa kembali terulang. Kita juga tak menginginkan pencabutan nyawa terjadi kepada siapa saja, terutama kepada manusia-manusia Indonesia, karena nyawa adalah hasil karya cipta Tuhan. Membunuh manusia –bukan dalam keadaan darurat– sama dengan kita tak menghargai hasil karya Sang Maha Pencipta. Semoga apa yang terjadi pada kawan kami, bisa diambil hikmahnya agar kekuatan akal lebih dikedepankan daripada menggunakan kekuatan emosional yang ujung-ujungnya melahirkan kematian… Selamat jalan kawan. Kami semua turut berduka… Kepada keluarga yang ditinggalkan, kami turut berbelasungkawa.

Share on Facebook Share on Twitter

21 tanggapan untuk “Duka dari Pulau Dewata”

1. linda,
— 26 Mei 2009 jam 11:10 am edit

Duka saya juga luar biasa mengetahui ada kejadian seperti ini (lagi!) yang diterima oleh wartawan.
Hanya pengadilah akhirat lah yang amat berimbang kelak yang akan ditimpakan kepada si pelaku dan sutradara pembunuhan ini…..
2. arifin basyir,
— 26 Mei 2009 jam 11:27 am edit

Inna lillahi wainna illaihi rojiun. Selain kasus udin yogya masih ada lagi yaitu marsinah dan yang masih hangat adalah kasus munir dan terbaru kini nazarudin. Suspec diagnosa atau azas praduga tak bersalah mengarah pada keterlibatan aparatur keamanan negara. Tetapi ‘kekebalan hukum’ agaknya tidak mampu ditembus oleh pengak hukum, sehingga penyelesaian masalah agaknya masih jauh panggang dari api. Ironisnya ini terjadi dalam kehidupan dunia nyata, dalam kehidupan hukum positif yang jelas aturan mainnya. Lalu bagaimana sekarang dengan kehidupan dunia maya yang sekarang semakin marak. Orang bebas berbicara, tanpa harus diketahui dimana keberadaannya. Orang bisa menjadi wartawan dadakan, bisa menjadi politisi, menjadi kontrol sosial. Kalau seandainya makhlik di dunia maya ini tersangkut masalah hukum, sehubungan dengan ucapannya di dunia maya menyerang kepentingan pejabat negara di dunia nyata. Apakah juga harus menanggung resiko nyawa taruhannya. Jelas lebih sulit mencari barang bukti di dunia maya, sehingga kalaupun ada pembunuhan sang pelaku akan lebih mudah lari dari tanggung jawabnya. Kalau demikian halnya, sungguh semakin tidak nyaman hidup di republik ini. Resiko pekerjaan ini tidak saja menimpa wartawan, tetapi bisa jadi orang terkenal (publik figure) lainnya, misalnya artis atau selebritis yang justru celaka oleh fanatisme penggemarnya. Ya memang semua pekerjaan menanggung resiko dan semua kehidupan pasti ada resiko. Semoga kasus Bali jangan terulang kembali
3. ardi yanuar,
— 26 Mei 2009 jam 2:11 pm edit

sedih banget mendengar kejadian demi kejadian yg menimpa jurnalis indonesia.. untuk menulis dan mengungkap sebuah kasus secara aktual dan faktual, seorang jurnalis tak jarang sering mempertaruhkan nyawa-nya…btw, majulah terus jurnalis indonesia…gempur semua ketidakadilan di negri tercinta ini.. mendiang bagus narendra layak menyandang pahlawan pers bali, yg saya yakin dirinya tak terbeli…
4. Ahmad Zainul Ihsan Arif,
— 26 Mei 2009 jam 9:19 pm edit

Turut berduka cita yang mendalam, semoga pihak pengadilan dapat memvonis hukuman yang seberat-beratnya.
Selamat Jalan Kawan, menghadaplah yang kuasa dengan tenang.
5. sumijan,
— 26 Mei 2009 jam 10:56 pm edit

“RASA MALU” benar-benar telah terputus dari urat nadi para pelaku itu sehingga nekat luar biasa menyiksa dan membunuh seorang jurnalis yang mencari nafkah keluarga dengan cara menyuarakan kebenaran.

Saya menduga ada yang nggak beres dengan praktek penyelenggaraan pemerintahan dan tata kelola pembangunan di daerah itu.

Lebih dari itu, fenomena premanisme di sekeliling pemimpin pemerintahan lokal marak diseantero negeri ini bahkan mengarah pada praktek premanisme aparat dan aparatisme preman.

Pertanyaanya adalah, kepentingan apa yang mendasari fenomena maraknya premanisme di pemerintahan lokal…?

Saya percaya, ketika kejahatan berjaya maka pemimpinya pasti penjahat.
Mungkin keberadaan para preman itu, sengaja di ciptakan dan dipelihara untuk mengkompensasikan atas kebobrokan moral pemimpin dan kepemimpinan di pemerintahan lokal.

Sistem yang tadinya merupakan alat, diubah menjadi tujuan sehingga segalanya menjadi serba formalitas tanpa rasa. Di atas semua itu yang sesungguhnya berperan adalah sistem diluar sistem,yaitu apa kata preman. Pemimpin dan kroni-kroninya di pemerintahan cukup terima bersihnya saja.

Praktek premanisme di seputar penyelenggaraan pemerintahan di daerah saat ini sudah sedemikian mantap dan kokoh, dilakukan oleh multifihak dengan sistem bagito alias dibagi roto,
Dibutuhkan kompak-kompak jahat untuk membuat semuanya menjadi tampak normal dan terhormat setiap hari.

Dengan begitu Pasukan Preman “PEJAH GESANG KULO NDEREK PENJENENGAN” (hidup mati pokoknya saya ikut boss) akan meraja lela di seantero negeri.

Inilah ancaman terbesar yangb berpotensi menggagalkan demokrasi di daerah, acuh terhadap kondisi ini resikonya adalah NKRI pecah berantakan. Tunggu waktu saja.
6. abraham,
— 27 Mei 2009 jam 7:56 am edit

tidak ada masalah yg tdk dpt dicarikan solusinya dgn baik. jangan membunuh, jangan menginginkan isteri, suami, anak, harta benda sesamamu. jgn merencnkan yg jahat kpd sesama, pdhal kalian saling kenal. peace, please!!
7. putu,
— 27 Mei 2009 jam 9:13 am edit

Sebagai putra Bali, saya sangat berduka, bukan saja terhadap korban dan keluarganya, terlebih lagi terhadap kejahatan yang dilakukan oleh otak pelaku kejahatan ini.
Kejahatan kemanusiaan ini telah melukai kita semua, terlepas dari apapun agama kita. Peristiwa memalukan ini membuktikan bahwa walau orang Bali terkenal jujur, baik hati, ramah, dsb. sebenarnya tidak berbeda dengan suku-suku lain di dunia dalam hal kejahatan kemanusiaan. Selalu ada oknum, yang karena kebodohannya (begitulah kitab suci Weda menyebut) mampu berbuat kejahatan diluar batas-batas kemanusiaan.
Apabila terbukti tersangka adalah otak pelaku kejahatan sesungguhnya, sebaiknya masyarakat Bali meminta Bupati Bangli (kakak tersangka) dan istri tersangka yang lolos menjadi anggota DPRD Bali, untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Sangat tidak pantas keluarga ini menempati kedudukan terhormat di masyarakat.
8. Pepih Nugraha,
— 27 Mei 2009 jam 10:07 am edit

Ikut berduka, Bec…. biarlah hukum yang bicara selanjutnya. Kalau hukum sudah bicara ngawur atas kasus ini (misalnya membebaskan si anak pejabat preman itu), wartawan turun ke jalan untuk demo besar-besaran!
9. viant,
— 27 Mei 2009 jam 10:54 am edit

semoga hukum bisa benar2 berada pada posisinya
10. linda,
— 27 Mei 2009 jam 11:39 am edit

Hukum harus diluruskan. Jangan sampai sulit bagai menegakkan benang basah. Anak pejabat mana yang kebal hukum di dunia reformasi seperti ini? Besan Presiden saja bisa ditahan, kok!

Coba buka lembaran lama. Peristiwa Sum Kuning yang menyayat hati, apakah sampai kini sempat terkuak siapa pelakunya? Kalau dihitung-hitung, sang pelaku kini sudah beranak bercucu. Bagaimana kalau hukum Tuhan berlaku bagi keturunannya..?

Anak pejabat, harusnya tak perlu gede kepala. Mereka lupa, hidup mereka pun nebeng uang bapaknya, yang segala sesuatunya dibayar dari pajak rakyat. Dari keringat kita. Mereka benar-benar lupa…..
11. arifin basyir,
— 27 Mei 2009 jam 11:56 am edit

Waduh, waduh seperti ini to perilaku pejabat dan anak pejabat di republik ini. Kalau begini aku nggak kerasan hidup di negeri ini. Aku akan pindah, aku akan mendirikan negara sendiri. Dunia masih luas, dunia maya, planet maya pada masih bisa dihuni. Mudah-mudahan di negei baru menemukan keadilan diatas kebenaran dan kebenaran diatas keadilan, keadilan dan kebenaran diatas segala-galanya. Sampai jumpa disana………………………………
12. sayurijo,
— 27 Mei 2009 jam 1:16 pm edit

superman dan spiderman… sama-sama jadi jadi wartawan di siang hari, menghajar orang di malam hari. Kenapa wartawan?

Karena wartawan banyak tahu, tapi tak punya kekuatan. Karena mereka cuma manusia biasa yang punya nyawa hanya satu lapis. Tinggal diincar, dihabisi dan… dilupakan. selesai perkara.

Seharusnya ada semacam superhero yang bisa melindungi wartawan
13. bambang setyawan,
— 27 Mei 2009 jam 2:53 pm edit

Tindakan pelaku membunuh wartawan sangat keji dan tidak ber pri kemanusiaan. Ikut berduka cita atas wafatnya wartawan Gde Bagus Narendra.
Tetapi para wartawan perlu mawas diri dan melihat kebelakang, kenapa peristiwa penganiayaan atau pembunuhan kepada wartawan terus berulang.

Saya berbendapat hal ini berulang karena cara pengungkapan berita yang dilansir para wartawan dianggap menyinggung dan bahkan membuka aib si pelaku dan bahkan disiarkan kepada umum, dan kadang kadang sangat vulgar, yang membuat amarah besar bagi orang yang diberitakan.

Kebebasan Pers tidaklah mutlak, bahwa wartawan bisa semena mena untuk menista orang dengan memberitakan atau memuat berita berita yang menyinggung harkat atau perasaan seseorang. dengan dalih toh sesuai undang undang pers seharusnya orang tersebut bisa membantah melalui hak jawab atas pemberitaan tersebut.

Saya berharap pemberitaan wartawan lebih santun, isi berita berimbang, jujur dan tentu tidak secara vulgar beritanya menyinggung harkat, martabat, perasaan orang yang diberitakan.

Mudah mudahan komentar ini afda manfaatnya, agar peristiwa kekerasan terhadap wartawan tidak berulang/terulang lagi. Wallohuallam…….
14. bineka,
— 27 Mei 2009 jam 4:59 pm edit

yah begitulah hukum du Indonesia, maju tak gentar membela yang bayar, banyak kasus koruposi yang hilang begitu saja, dan ynag menegakkan kebenaran malah dibunuh. maling ayam dipenjkara + dihajar kadang smapai mati semntra yg korupsi sampai triyunan melenggang bebas. Paling dari pak hakin cuma slah prosedsur. Yah kalau si Fulan korupsi 10 m, tinggal kasih pak hakim 1m, jaksa 1m, polisi 1m dan pengacara 1m. nanti jkan jadi salah pe\rosedure. kasihan rakyat dan pahlawan yang telah mebela tanah air melihat NKRI jadi rebutan para pejabat korup. terahir di Batam kapal Tangker Pewrtamina jual BBM di laut lepas. Makanya kita kalah sama Vietnam yang baru Merdeka tahun1974.
15. R.Ngt.Anastasia Ririen Pramudyawati,
— 27 Mei 2009 jam 5:54 pm edit

..turut berduka, Bung Becki..

Kejernihan Nurani desakan asli energi jurnalistik tidak sedetikpun bisa dipatahkan oleh arogansi apa pun.. dari pihak siapa pun di muka Bumi ini. Jenis kejernihan yang kemurniannya tidak lekang waktu. Sebab ia bermuara pada hakikinya sang Kebenaran sendiri.

Sebuah aliran lembut (dalam nada tegas sekalipun) ..yang derasannya mampu getarkan elegi hati mana pun.

Energi itu, juga untuk pengorbanan (Alm.) AA Gde Bagus Narendra Prabangsa..
16. Robin,
— 27 Mei 2009 jam 6:21 pm edit

Ikut berduka atas kematian wartawan.
semoga arwahnya di terima di sisi Tuhan
17. haris harindra,
— 27 Mei 2009 jam 7:24 pm edit

selain harus mengawal terus proses hukum, mungkin ada baiknya pula boikot berita kepemimpinan kakak dari aktor yang bupati bangli itu. terus tekan supaya mereka berhitung dengan posisinya yang tidak terhormat itu.
- turut berduka cita. AA Gde Bagus Narendra Prabangsa, saya tidak mengenal anda sebelumnya. tapi kini saya kehilangan anda. semoga keluarga yang ditinggalkan tabah menerima -
18. Djawara Putra Petir, MP., SH., MH.,
— 27 Mei 2009 jam 7:45 pm edit

TURUT BERDUKA CITA ATAS MENINGGALNYA AA GDE BAGUS NARENDRA PRABANGSA DAN SEKALIGUS RASA SENANG DENGAN TERBONGKARNYA PARA PELAKU PEMBUNUHAN YANG HARUS DIHUKUM SETIMPAL DENGAN PERBUATANNYA, SEMOGA INI MERUPAKAN KORBAN KALI TERAKHIR DARI PEJABAT BERMENTAL KOROP—–MENTAL KOROP MERUPAKAN MENTAL KEJAM UNTUK MENSENGSARAKAN ORANG BANYAK, SEHINGGA BAGI MEREKA APALAH ARTINYA MENGHILANGKAN SATU NYAWA, SEDANGKAN KOROP ITU SENDIRI SECARA TIDAK LANGSUNG MEMBUNUH RIBUAN JIWA.

SALAM DARI SURABAYA :
BUAT KELUARGA ALMARHUM DAN JAWAPOS GROUP, JANGAN GENTAR UNTUK TERUS MENYUARAKAN——BENAR KATAKAN BENAR, SALAH KATAKAN SALAH ! ———
19. albertus prayudia,
— 28 Mei 2009 jam 3:31 pm edit

Kenapa seorang yang mewartakan harus tewas dengan cara seperti itu? Jangan Pandang keluarga pejabat… Tindak tegas Pak Polisi….
20. albertus prayudia,
— 28 Mei 2009 jam 3:35 pm edit

Kenapa Ruang hak Jawab Harus Di Gantikan dengan Balok untuk mentungin orang… Katanya keluarga Pejabat… Kok Bodoh ya… Ketahuan, ya resiko… Kalau takut di tangkap, ya jangan korupsi atau maling…Kan akhirnya Ketangkap juga… Meski mayat saudara kami di buang di laut tapi jangan bersuka dulu. CCTV Tuhan ada di mana-mana…
21. sumijansumijan,
— 28 Mei 2009 jam 9:37 pm edit

Manusia-manusia penyembah koruptor dan uang hasil korupsi, melihat kejadian ini sebagai alat pemuas nafsu kompak-kompak jahat mereka.

Tanpa menyembah koruptor dan uang hasil korupsi, mereka akan mati.
Wajar jika dalam peristiwa berdarah seperti ini, kemudian ada yang memanfa’atkan sebagai tunggangan gratis untuk memojok-mojokan peran wartawan. Dengan begitu Ia merasa telah berbuat benar dan karenanya pantas untuk mendapat “Angpao” dari para koruptor yang menghidupinya.

Apalagi kalau dengan caranya itu lantas bisa membuat para wartawan menjadi takut menyuarakan kebenaran dan berhenti memberitakan kasus-kasus korupsi, maka Ia akan mendapat mahkota dan di angkat menjadi panglima atas pasukan “pejah gesang kulo nderek boss”.

Begundal-begundal macam nih, maunya di ceburin ke laut aja.

Ayat Sarat Makna

PASAR menjadi sumber inspirasi kehidupan. Lebih-lebih kalau kita mau melangkahkan kaki ke pasar tradisional. Ada spirit yang bisa kita ambil, setelah mengamati kehidupan dan perilaku para pedagangnya.

Entah sudah berapa banyak sahabat yang saya ajak nongkrong di pasar, sambil mengamati kehidupan di pasar. Ada nilai-nilai kearifan di dalamnya. Sebaliknya, ada juga pedagang yang tak berpegangan pada nilai. Terpenting untung, walau ketidakjujuran selalu menjadi alat untuk meraup kekayaan. Lebih mengelikan lagi, ada pedagang yang asal kasih harga, setelah melihat penampilan konsumennya.

Begitu juga ketika kita mengamati perilaku pembeli. Ulet, tidak grusak-grusuk dan pandai menawar. Sangking uletnya, cara menawarnya pun, benar-benar mampu merontokan hati pedagangnya. "Ada kepuasan tersendiri kalau kita berhasil menawar barang dagangan dengan murah," begitu seorang sahabat saya berkomentar setelah saya ajak nongkrong di Pasar Palmerah, beberapa bulan lalu.

Sahabat saya itu merasakan ketenangan, setelah berjam-jam bercengkaram dengan pedagang sayur mayur. Ia bertanya ngalor ngidul, termasuk mengorek asal-usul sang pedagang serta sayur mayur yang dijajakannya. "Coba bayangkan, hanya mengambil untung Rp 500 perak saja per ikat, ibu itu berangkat dari Serpong pukul 15.00 sore dan kembali ke rumah pukul 06.00 pagi. Ini spirit luar biasa yang berhasil saya tangkap dari cerita sang ibu itu," katanya.

Sejak itu, sahabat saya mengaku akan mencoba hidup berhemat, karena mencari uang Rp 500 perak saja susahnya minta ampun dan harus memeras keringat seperti yang dilakukan seorang ibu pedagang. "Hidup ini memang keras. Kalau mau makan, ya harus banting tulang kayak pedagang itu. Mereka tak mengenal waktu," tuturnya.

Paling menyenangkan kalau nongkrong di pasar tradisional adalah mengamati perilaku para pedagangnya. Kekerabatan antara penjual cabe, tomat, wortel, sayur mayur, benar-benar terbangun dari zaman nenek moyang mereka. Walau lapak mereka berdekatan, tak pernah ada cekcok mulut apalagi berantem.

"Tuhan menurunkan rezeki itu sudah ada alamatnya. Kita tak boleh sakit hati kalau melihat warung orang lain ramai, sedangkan warung kita sepi. Iri, dengki, sombong, rakus, harus kita kesampingkan kalau rezeki itu mau datang ke diri kita," kata Paijah, sang pedagang sayur mayur di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Paijah sudah puluhan tahun membuka lapak di pasar itu. Ia nyaris tak pernah menggerutu, walau dagangannya kadang sepi pembeli. Kuncinya, harus ulet, rajin dan tak mudah patah semangat.

Sesekali saya tertawa geli setiap kali mengamati para pedagang sayur, ikan, bumbu-bumbu, buah dan lain-lain. Sambil menunggu pembeli, tangan mereka tak pernah berhenti bergerak atau berpangku tangan. Pasti ada-ada saja yang dipegangnya atau dibenahi (utek-tek barang dagangan). Nganggur sedikit saja (berdiam diri), rasanya tidak ada kamus buat para pedagang. Hidup harus dinamis.
***
RABU (10/6) kemarin, saya sengaja mengajak Rizal (anak saya) jalan-jalan ke Pasar Kebayoran Lama. Kali ini saya ingin mengamati para pedagang di pasar loak. "Pa... itu ular kobra ya? Hi... menakutkan. Ular kok dijual," kata anak saya.

Kami terus berlalu. Kali ini kaki melintas di depan para penjual batu akik, manik-manik tempoe doloe, hingga keris-keris mini (miniatur). Saya tak begitu suka dengan batu akik. Pandangan kami hanya sekilas.

Di ujung pasar, seorang wanita tua berbadan gemuk, sibuk menawarkan lembaran uang kuno. Saya berhenti sejenak. Seorang pria muda, terlihat memilih-milih uang jadul, diantaranya pecahan Rp 1000 bergambar Soekarno yang diterbitkan sekitar tahun 1964. Potongan kertasnya agak tebal, lebar dan panjang. Pada tahun yang sama, juga dikeluarkan uang pecahan Rp 10.000 juga bergambar sang Proklamator Soekarno. Bentuknya, lebih lebar lagi dibanding uang pecahan kertas terkini. Trus ada juga uang pecahan Rp 10.000 bergambar RA Kartini, pecahan Rp 100 rupiah bergambar Soekarno dan pecahan Rp 25 rupiah (tahun 1964) serta tumpukan uang kuno lainnya.

"Anak muda itu orang kaya. Dia kolektor uang dan sering membeli uang kuno ini. Kapan hari dia nongkrong di rumah saya sampai jam 03.00 pagi, hanya memilih uang jadul. Penampilannya ya begitu saja, tapi dia sangat kaya. Kadang dia memburu mata uang asing, Iran, Irak, dolar dan lain-lainnya," bisik sang emak kepada saya.

Saya amati, anak muda itu. Lagi-lagi, sang emak selalu menceritakan keadaan sesungguhnya siapa anak muda tersebut. Kali ini suaranya agak keras. Sang anak muda itu tahu kalau lagi diperguncingkan. "Ah... saya ini orang biasa saja. Jangan dengerin omongan emak," tuturnya.

Sepuluh uang pecahan telah dipilih. Sang emak menelitinya satu persatu. "Ah.. kalau yang ini harganya agak mahal. Rp 100 ribu perlembar (mata uang Iran). Kalau lainnya okelah... perlembar Rp 5000 saja," kata sang emak.

Usai dibayar, sang pemuda itu pergi. Saya jadi ikutan tertarik mengoleksi uang jadul. Saya pilih sepuluh lembar. "Berapa Mak?" "Kasih saja Rp 50.000." "Kalau uang golden nedherland ini berapaan?" "Oh... uang ini biasa dipakai untuk kerokan. Ya sudah sepuluh ribu empat," ungkapnya.

Anak saya, tertawa geli mengamati cara saya memilih-milih uang jadul. "Untuk apa Pa? Masak uang jadul kok dibeli?" "Eittt... tahu enggak... kalau kamu mau jadi orang kaya, mestinya uang pecahan Nedherland yang dikeluarkan tahun 1914 itu kamu beli semua," kata saya. "Lho untuk apa?" "Ah.. dikau ini kurang cerdas. Kan uang kepeng ini bisa dibuat liontin. Tinggal kamu lubangi, lalu dibelikan tali kalungnya, trus dijual ke teman-teman sekolahmu. Kamu jual Rp 25.000 saja bisa laku lho kalau sudah jadi kalung. Siapa tahu kalung dengan bandul mata uang kuno, bisa ngetren." Anak saya hanya tertawa saja. Akhirnya, saya beli empat kepeng. Sesampainya di rumah, kepeng-kepeng itu saya lubangi pakai paku dan saya bersihkan dengan braso. "Wow... bagus juga Pa," kata Rizal.

Nah, sebelum saya meninggalkan lapak sang emak, mata wanita itu seakan tak berkedip menatap saya. Orang di sekitarnya juga begitu. "Apa ada yang salah? Bukankah, saya sudah membayarnya."

Sesaat kemudian, emak itu mendekati saya. Ia berbisik. "Sebentar... saya ada oleh-oleh buat kamu." "Hah.....? Oleh-oleh apa Mak?" Wanita itu lalu merunduk ke bawah mengambil tas kresek warna merah. "Ini kamu bawa pulang." "Apa isinya?" "Sudah bawa saja pulang ke rumah."

Awalnya saya berusaha menolak. Tapi bibir rasanya tak bisa berkata-kata, kecuali ucapan terima kasih. Saat kaki baru melangkah beberapa meter, sang emak itu memanggilnya saya kembali. "Hoi... kesini sebentar." "Ada apalagi Mak?" "Ini juga kamu ambil. Bawa ke rumah dan jangan dijual..." pesannya sambil memberikan satu tas kresek berwarna hitam.

Sambil pulang menuju ke rumah, Rizal, anak saya tak henti-hentinya tertawa. "Ada... ada saja Pa. Kenapa tidak ditolak?" "Zal... Papa justru terharu dengan sikap emak itu. Coba bayangkan, ditengah masyarakat yang tingkat individualistiknya begitu tinggi, masih saja ada orang mau memberi sesuatu ke orang lain. Dan nanti kamu akan tahu ada apa dibalik semua ini. Pasti ada makna tersembunyi..."

Sesampainya di rumah, Rizal berteriak memanggil mamanya. "Nih... Papa ada-ada saja. Tuh, dikasih pedagang dua tas kresek. Enggak tahu apa isinya." Mendengar cerita Rizal, isteri saya tentu saja ngomel. "Kenapa enggak ditolak? Buat apa dibawa pulang ke rumah? Kasihkan ke orang saja..."

Saya diam, tak menjawab. Di depan teras, Rizal saya suruh membeli kardus bekas. Maksud saya, apapun isi dari tas kresek itu, barang pemberian orang haruslah kita rawat dan kita hargai, tanpa harus melihat nilainya. Apalagi, sang pemberi adalah manusia-manusia yang tulus, ikhlas tanpa pamrih.

Setelah saya buka, astaga... isinya berbagai macam pakaian wanita dan anak-anak. Semuanya terlihat masih baru. Entah, sang emak beli dari mana dan apa maksud dari pemberian itu.

Begitu, saya masukan ke dalam kardus, lewatlah seorang janda tetangga rumah saya. "Om... itu apa?" tanyanya. "Oh... ini diberi pedagang uang jadul di Pasar Kebayoran Lama."

"Wah saya mau juga lho Om... Kebetulan anak-anak belum beli baju." Tanpa ba... bi... bu... lagi, semua pakaian itu saya suruh angkut ke rumahnya. "Asal dipakai ya?" "Iya.. Om... dengan senang hati. Anak-anak saya pasti merasa senang...." tuturnya.

Dari cerita itu, ternyata sedekah itu memang ada alamatnya. Saya hanya perantara dari sang emak. Barang pemberian itu, akhirnya jatuh di tangan janda yang sehari-hari bekerja sebagai pembantu rumah tangga... Terima kasih Tuhan, Engkau telah menunjukan satu ayat yang sarat makna....

Minggu, 07 Juni 2009

‘Pasar Hati’ Mendukungmu Prita (Era Humanisme)

Oleh Achmad Subechi - 3 Juni 2009 - Dibaca 876 Kali -

PRITA Mulyasari. Dia hanya manusia biasa. Popularitasnya mengalahkan artis-artis papan atas di Indonesia, karena ketertindasan. Sudah ada 15.000 dukungan di facebook. Hampir setiap hari saya mendapatkan surat dukungan itu dari beberapa rekan saya. Tuntutan teman-teman adalah ‘Bebaskan Ibu Prita Mulyasari dari tahanan dan segala tuntutan hukum’.

Di Balikpapan, Kalimantan Timur, kalangan penggiat dunia maya, sudah memperguncingkan kasus Prita. “Tolong angkat kasus ini. Dimana empati kita? Ibu itu masih punya dua anak yang masih kecil-kecil. Masak gara-gara menulis email saja, dia harus masuk penjara. Ini keterlaluan,” kata Yoyok Setiyono (News Director Info Channel).

Yoyok, usianya masih muda. Tapi, hatinya bergejolak dan tak mau menerima perlakuan yang dianggapnya melampaui batas dan mengekang kebebasan manusia untuk berkeluh kesah atau sekedar menyampaikan pendapatnya setelah mendapatkan pengalaman empiris. Begitus juga teman-teman saya lainnya yang rajin berselancar di dunia internet. Mereka terharu mendengar berita yang cukup mengejutkan. “Apa salahnya kita curhat dengan teman melalui email dan isinya menceritakan pengalaman pribadinya. Lha kok ini tiba-tiba dijebloskan ke penjara. Aneh….?” tutur rekan saya lainnya.

Kembali ke soal dukungan terhadap Prita yang angkanya sudah mencapai 15.000. Ini sutau fenomena yang luar biasa. Surat dukungan yang melimpah ruah itu, menandakan bahwa masyarakat kita telah muak dengan tindakan-tindakan yang tak menggunakan hati. Ini adalah era bangkitnya gerakan humanisme. Ketika ada manusia tertindas, dianggap terdhzalimi, bahkan tercerabut hubungan kasih sayangnya dengan sang buah hati, maka ‘pasar’ akan menjawabnya. ‘Pasar’ juga yang akan ikut berbicara, menolak tindakan-tindakan yang dianggap bertentangan dengan nilai-nilai dasar kemanusian.

Sebuah gerakan yang ciamik dan tak menutup kemungkinan akan terus berkembang, demi menjaga harga diri dan harkat martabat manusia. Terlepas salah atau benar, rakyat rupanya masih mempunyai hati. Hati nurani yang letaknya di dasar jiwa itu berontak dan ikut berbicara dalam memperjuangkan asasi manusia. Ketika hati sudah mengambil peranan, maka pendekatan yang dilakukan dalam menyelesaikan masalah, akan lebih elegan, walau negara kita adalah negara hukum.

Hati terbuat dari segumpal darah yang hitam. Tapi ia mampu merobek-robek keangkuhan, merobek-robek kesombongan, merobek-robek kediktaktoran, merobek-robek kedhzaliman dan merobek-robel sel syaraf mata manusia serta mampu menumbahkan air mata bahkan menjebol dinding-dinding hati manusia lainnya yang hitam pekat akibat kearoganan.

Bukankah Prita adalah manusia biasa, manusia yang juga punya hati dan buah hati? Tak ada satupun manusia di dunia ini yang boleh memisahkan atau bahkan membuat abar-abar, sehingga hubungan kasih sayang antara seorang ibu dan anaknya tercabik-cabik. Mampukah kita membendung air mata, manakala Khairan Ananta Nugroho (3) dan adiknya Ranarya Puandika Nugroho (1 tahun 3 bulan) –keduanya anak Ny Prita– bertanya kepada bapaknya, “Ayah dimana Ibu….?”

Ternyata, dibalik rintihan itu… kini sang ibu berada dibalik jeruji penjara hanya karena persoalan yang mungkin bisa diselesaikan dari hati ke hati, sejak kasus itu mencuat. Kini lagi-lagi ‘Pasar Hati’ telah mengibarkan bendera perang. ‘Pasar Hati’ sudah terlanjur berbicara tak hanya di seantero negeri ini. ‘Pasar Hati’ di dunia internasional pun juga sudah mendengar cerita ini. Lalu, sampai kapan ‘Pasar Hati’ mampu menerobos dinding-dinding hati manusia-manusia yang diberikan amanah untuk menegakkan hukum dan keadilan? Prita… bersabarlah….. teman-teman di dunia maya berada di belakangmu……

Share on Facebook Share on Twitter

34 tanggapan untuk “‘Pasar Hati’ Mendukungmu Prita (Era Humanisme)”

1. Linda Sari,
— 3 Juni 2009 jam 2:07 pm

setuju mas….. mari kit beri dukungan terus untuk ibu Prita….

hanya orang2 yang tidak punya hati nurani yang sanggup memisahkan anak dari ibunya..
atau..(maaf..) mungkin mereka tidak terlahir dari rahim seorang ibu…..
2. linda,
— 3 Juni 2009 jam 2:08 pm

Hanya manusia yang tidak berhati dan tidak berbudi lah yang mengusulkan dan memberi ide, serta menyeret seorang Ibu muda yang tengah menyusui, yang hanya berseloroh dalam tulisannya menyatakan ketidakpuasannya kepada layanan publik yang namanya Rumah Sakit…..

Ayo kita cari tahu,siapa pemilik RS OMNI itu.., siapa saja susunan direksinya…. , yang apakah betul-betul hanya mementingkan bisnis semata-mata tanpa mau menerima kritikan konsumen. . ?? dan dengan segala arogansinya menyeret wanita yang memiliki dua anak balita kepada proses hukum.

Bukalah hati .. bukalah rasa wela asih kalian…..
Tiada akan ada gunanya Rumah Sakit semegah itu kalau penghuninya ( baca: pemiliknya ) tidak berjiwa….
3. bambang,
— 3 Juni 2009 jam 2:18 pm

dulu tindakan seperti itu mungkin dilakukan penjajah kepada warga “inlander”,tapi sekarang setelah lebih 60 tahun merdeka,mereka para penguasa dan penegak hukum yang punya logo “pengayom” justru tanpa hati nurani dan deep tought mengikuti saja perintah organisasi/orang yang membayarnya mengetrapkan pasal-pasal yang memberatkan pada orang yang lemah.
Quo vadis kebebasan mengemukakan pendapat ya
4. rizaldo,
— 3 Juni 2009 jam 2:18 pm

setuju mas. jajaran direksi RS OMNI tidak punya hati nurani. copot saja para direksinya.
5. Novrita,
— 3 Juni 2009 jam 2:33 pm

Yang paling gak bisa diterima adalah orang yang demikian tega memisahkan anak yang masih membutuhkan ASI dengan ibunya. Apa hal ini tidak melanggar hak bagi seorang ibu untuk memberikan gizi, makanan, asupan yang baik buat sang bayi?
Saya begitu marah mengikuti kasus ini. Dari segi hak asasi sang bayi, dia berhak 100% memperoleh ASI, begitu juga sebaliknya. Katanya digembar-gemborkan pemberian ASI. Sekarang, kok malah ada ibu sedang memberikan ASI harus dipisahkan dengan anaknya.
Jangan bilang, bahwa ” bisa saja anaknya dibawa serta ke rumah tahanan.”Apa gak lihat kondisi kejiwaan sang anak..?
Konsumen ngeluh kok malah diseret ke pengadilan?

Kemana nurani para penegak hukum?
APa tidak bisa melihat kasus ini dari kacamata yang lebih lebar?

Paranoid yang berlebihan dari RS Omni saya rasa makin membuat makin kacau… Saya yakin, adanya kasus ini makin menambah simpati kepada Prita dan mempurukkan RS Omni..
APa iya hal itu yang diinginkan RS Omni..?
Pihak Humas RS Omni mestinya bisa melihat hal ini dengan cermat dan mempertimbangkan dengan matang. Begitu juga Direkturnya… Semua yang mengelola RS Omni seharusnya memberi masukan yang bijak terhadap pemilik.
Kalo sudah begini, percayalah.. yang diingat masyarakat adalah hal jelek tentang RS Omni…Makin jauh dari tujuan semula untuk meredam agar complaint Prita gugur kan…

Kalo Prita tidak merasa salah, ya memang dia tidak salah menurut saya… Bukankah wajar seorang konsumen mengeluh apabila ada pelayanan yang kurang…
Semoga Prita tabah dan terus diberi kekuatan. Dibalik semua ini ada hikmah yang jauuuuuhhh lebih besar..
6. Mas Agus,
— 3 Juni 2009 jam 2:35 pm

Naahhhh… IDI… apa ini bisa disebut malpraktek…? DEPKES… kok diam saja…? Kok yang berkunjung malah Dewan Pers bukannya LBH ini kasus hukum yang semena-mena… siapa sih yang punya OMNI…? kok sebegitu kuasanya dia terhadap pasien… Polisi harus menyelidiki ini…
7. ugeng,
— 3 Juni 2009 jam 2:46 pm

betul mas achmad.. ini memang perang hati.. dimana keadilan dan hati para jaksa, ketika mereka harus menahan seorang ibu di penjara. padahal saat pemeriksaan di polisi, polisi tidak menahannya karena ibu prita sangat kooperatif dan mempunyai balita.. sedangkan 2 jaksa yg terancam pidana 20 th karena ganja saja dikenakan wajib lapor… saya akan memilih pemimpin yg lebih mengutamakan hati dan keadilan.. tp apakah ada?

Ugeng: Itulah kualitas pemimpin kita. tanpa bermaksud mencurigai siapapun, kita sudah bosan dan jenuh dengan apa yang dinamakan ketidakadilan. Buat apa pakai lambang timbangan segaa, kalau cara menakarnya tidak baik dan benar. Salam kompasiana….
8. Indont3ars,
— 3 Juni 2009 jam 2:52 pm

Anda terlalu banyak berteori.!!!bla…bla..bla…ngoceh tanpa makna….apa yg anda harapkan dng teriak2 di internet..? knp ngga bertindak sekalian aja,turun kejalanan demontrasi..emang lbh gampang sih bersikap seperti orang yg perduli,soalnya anda cuman duduk didepan komputer di temenin rokok sama kopi…dan tulisan anda terlalu puitis….mencoba menarik simpati membaca justru bikin muak,stop being a walking pen…try to sound smart buy you are stupid.aksi bicara lebih keras dari pada omongan ….just go outside and help that women….!!!

Indont3ars: Luar biasa sekali pemikaran dan penilaian anda. Salut.. Thanks banget… Sorry gue mau ngopi lagi nih… daag
9. Bagindazzz,
— 3 Juni 2009 jam 2:53 pm

Jgn pernah singgah apalagi berobat ke Rumah Sakit ini
10. N. Nurhayathi,
— 3 Juni 2009 jam 3:08 pm

Kasus ini sebenarnya bisa jadi berakar pada debat hangat akhir-akhir ini yakni tentang neoliberalisme. Rumah Sakit yang dibuat tidak lebih sebagai proyek bisnis akhirnya hanya bicara keuntungan..keuntungan dan bila perlu menipu pasiennya karena mengganggap pasien sapi perahan yang dapat dieksploitasi. Pendekatan pasar dalam pengembangan kesehatan melalui privatisasi layanan rumah sakit sangat jelas bersumber pada neoliberalisme…dan bisa dicari siapa yang membuatnya menjadi begitu.

Para dokter sekarang pun banyak yang mengejar keuntungan materi sebagai motivasi menjadi dokter, bukan untuk pelayanan publik. Oleh karena itu, mereka menganggap pasien adalah konsumen yang dapat diperas demi memperoleh penghasilan yang tinggi, bukan demi penyembuhan penyakit si pasien. Cerita Ny Prita jelas menunjukkan betapa rendahnya kualitas dokter yang bertugas.

Jadi, kesimpulannya..mari kita dukung pembebasa ibu Prita..stop privatisasi layanan rumah sakit.. perketat masuk FK dengan seleksi yang baik agar yang masuk benar-benar memiliki motivasi menolong sesama bukan untuk mencari keuntungan di atas penderitaan orang lain dan yang terpenting boikot rumah sakit yang mengeksploitasi pasiennya. Yang terpenting jangan piliah capres yang melakukan privatisasi pelayanan publik alias neolib.

Salam
11. dedy risanto,
— 3 Juni 2009 jam 3:21 pm

Ikut Prihatin dengan kasus ibu Prita, membuat kita jadi berhati-hati lagi berselancar di dunia maya… tapi seperti biasa orang indonesia,,,Untung Kejadiannya dimasa Kampanye Capre-Cawapres,jadi kayaknya bisa happy ending,, karena baru sebentar saja Ibu mega, ibu Mufidah dan ibu Uga mau membesuk bahkan menurut kompas akan diminta unutk di bawa pulang,!
saya tidak bisa membayangkan penderitaan ibu Prita kalo kejadiannya bukan dimasa Kampaye, Kasus David-Singapur meledak di masa kampanye Caleg,, jadi niali jualnya kurang,,,,,sabar-sabar-sabar,, gusti paringono sabar!
12. albertus prayudia,
— 3 Juni 2009 jam 3:31 pm

Mentang-mentang punya kuasa, punya wewenang, eh begitu… Inikan demokrasi Cyber…Kalau nggak mau di komentarin… ya berhati baik dan bertindaklah yang baik… Sekali lagi kan ada hak jawab… Jangan main penjarain orang….penjara bukan penyelesaian… terlebih tangisan sang buah hati… sungguh menggetarkan hati…

kok ya tega…………,
13. Abukamal,
— 3 Juni 2009 jam 3:38 pm

Ngeri juga ya, kalau berobat ke rumah sakit ini berarti harus siap-siap dipenjara. Apapun yang dilakukan dokter, perawat, dan temen2nya di rumah sakit tidak boleh diomongin, tidak boleh diperbincangkan, tidak boleh dikeluhkesahkan.

Kami ikut mendoakan semoga Bu Prita secepatnya bebas.
14. andre,
— 3 Juni 2009 jam 3:41 pm

BOIKOT RUMAH SAKIT OMNI
15. Mas Agus,
— 3 Juni 2009 jam 3:43 pm

@Indont3ars… kalah saingan ente… kita kaum intelektual bro… demo milik kaum liberal… klo kita masih bisa berkarya dengan damai kenapa gak. Ini juga bisa dibilang demo… tapi ini demonya orang intelek… Kaum intelek berpikir dengan otak dan penanya… kaum liberal berpikir dengan otak dan ototnya… jangan-jangan anda ini termasuk orang liberal… atau mungkin neo-liberal…?
16. lintang,
— 3 Juni 2009 jam 4:02 pm

saya yakin masih ada penegak hukum yang ‘punya hati’
17. kuncoro,
— 3 Juni 2009 jam 4:06 pm

tolong kompas kalau perlu membantu ini, depkes bereaksilah kalau perlu juga tutup tuh rumah sakit. mentang2 oran kecil sebegitunya enak aja jeblos penjara
18. sumijansumijan,
— 3 Juni 2009 jam 5:07 pm

WOW….ADA YANG SEPERTI NASIB SAYA…..?

Saudaraku Prita Yang Terhormat tapi Tertindas di seantero negeri,

Dalam situasi ini,pekerjaan terpenting adalah memnajaga nasib dengan benar dan tepat,agar semua kesukaran-kesukaran tidak semakin sukar.

Sungguh…!, trenyuh dan haru-biru suasana hati empati di dada ini, baru mengetahui hal ini setelah membaca tulisan “Pasar Hati” Mas Bechi.

Seorang Ibu tulen yang kelihatan tak neko-neko, mengalami nasib buruk luar biasa akibat di laporkan pencemaran nama baik oleh satu Institusi yang merasa telah di cemarkan nama baiknya. Ironinya institusi yang sangat lekat dengan kerja-kerja sosial kemanusiaan pula.

Sebagi orang waras, saya bertanya-tanya dalam hati, dimanakah tempatnya hati dan empati Institusi kemanusiaan itu….? sehingga terlalu yakin bahwa tindakan-nya atas Ibu Prita adalah hal yang pantas dan wajar.

Adakah ibu Prita dijadikan tumbal alat sock theraphy atas sakit hati oknum-oknum Institusi yang semakin sering di laporkan mall praktek oleh para pasien-nya…?

Boleh jadi, Ibu-ibu Prita lainya akan menunggu giliran di pidanakan hanya karena melakukan-hal-hal baru yang seharusnya menjadi tanggung-jawab pemerintah untuk melakukan kerja pembinaan terhadap pengguna internet di se antero negeri ini. Ini fenomena baru, yang apabila terdapat unsur negatif-nya harusnya cukup dilakukan upaya pembinaan sosialisasi dan pendekatan yang lebih manusiawi.

Yakin, seandainya para arwah leluhur pendiri negara bangsa ini menyaksikan hal ini, niscaya mereka akan marah dan mengutuk praktek kerja-kerja anak bangsa yang semakin mendewa-dewa kan angka-angka untung-rugi dan menang-kalah.

Seakan pusaka warisan leluhur, nilai-nilai filosofis Panca Sila dan mukadimah UUD’45 sudah lenyap di telan bumi, duh… Gusti alloh Tuhan-ku, semoga jauhkan azhab dari negeri kami ini!

Betapa nasib sesamaku di seantero negeri ini telah menjadi korban ke biadapan penerapan menejemen angka-angka, budaya baru dari bangsa kapitalis opportunistis asing yang dipaksakan untuk menindas dan memeras kami. Celaka.., oh…celaka, ternyata terbukti angka-angka tidak memiliki hati dan empati,apalagi rasa.

Yakin, di “Pasar Hati” Pak Bechi pasti ada di sediakan gratis ilmu “Menejemen Rasa dan Merasa”
Dengan ilmu “menejemen rasa dan merasa” semua anak bangsa akan menemukan hati dan empati serta kredibilitas nasionalis dan Pancasialis sejati.

Penerapan menejemen angka-angka dalam urusan apapun pasti, melahirkan ketidak seimbangan, ke tidak pantasan, ketidak wajaran, ketidak samaan, ketidak pasian, ketidak adilan, ketitak rataan dsb..dsb…

Selanjutnya yang terjadi adalahsemuanya kerja-kerja hanya untuk memakmurkan dan mensejahterakan kaum kapitalis opportunistis dalam dan luar negeri. bahkan kerja-kerja di pemerintah,swasta dan kemasyarakatan….?

Semoga seluruh stakeholders bangsa ini segara siuman,bahwa peran dan fungsi anak bagsa ini adalah untuk membangun bangsa Indonesia dengan rasa dan karsa. Tanpa itu, kita hancur lebur sebagai bangsa.

Kembali ke Ibu Prita, apakah tindakan “institusi sosial kemanusiaan” RS melaporkan Ibu prita ini tidak kontraproduktif dengan visi dan misi RS sebagai institisu pengemban amanah sosial kemanusiaan…?

Ataukah, Ibu Prita ini adalah orang yang kebetulan dijadikan korban balas dendam dan sock theraphy atas oknum-onum RS yang sakit hati lantaran semakin sering di adukan mall paktek oleh warga masyarakat….?

kalau kesemuanya itu hanya di dasarakan atas asumsi pihak RS akan adapat dirugikan, maka stikma negatif RS ke depan sebagai institusi angker dan berbahaya tak terhindarkan lagi.

Saya sangat berharap ada fihak-fihak yang memiliki kapasitas intervensi positif menjadi fasilitator agar pihak RS mau mencabut laporanya, sebab ini kasus delik umum.

Semoga pihak Institusi aparat yang menengani kasus ini, dapat mengedepankan unsur “rasa dan merasa” serta pembinaan yang lebih manusiawi lagi terhadap Ibu Prita, sebab kasus internet adalah fenomena massa yang sama sekali baru sehingga menjadi tanggungjawab pemerintah juga untuk melindungi dan mengayomi setiap warga negaranya dari jeratan hukum lantaran ke awamanya. Apalagi untuk kategori seorang Ibu rumah tangga yang jelas tak mungkin neko-neko itu.

Mari membangun bangsa dengan rasa dan merasa, agar negara bangsa ini menjadi berbahagia.

Besakan Ibu Prita atau bangsa ini tak punya hati dan rasa malu!!!!

Terimakasih Pasar Hatinya.
19. bambang p.s.,
— 3 Juni 2009 jam 5:17 pm

Masalah ini sudah menyangkut berbagai aspek. Pertama masalah penerapan UU ITE, apakah pasal-pasal dalam UU ITE ini sudah tepat? atau terlalu kaku? atau terlalu mudah ‘diplintir’? atau justru penerapan UU nya yang salah? Janganlah gara-gara UU ITE menjadikan para pecinta internet malah jadi takut berkomunikasi. Bayangkan, susahnya mensosialisasikan internet, eh udah pada demen internet, malah ketika datang UU ITE maka datang juga hukuman penjara bagi orang yang hanya sekedar curhat ataupun menyuarakan kebenaran.

Kedua adalah aspek pelayanan kesehatan. Waduh, kok empati sudah hilang yah dalam pelayanan kesehatan kita. Kita sudah sering dengar dimana-mana bahwa jika mau masuk ke sebuah rumah sakit harus bayar DP dulu baru terlayani. Belum lagi kasus malpraktek yang sering juga terjadi. Nah, kalau sekedar protes atau tidak setuju dengan pelayanan yang diberikan lalu dituntut ……….. waduh …………… kok arogan sekali yah. Apa tidak dilalui dengan pertemuan terlebih dahulu antara kedua belah pihak? Selesaikan secara damai jikalau ada perbedaan pendapat. Bukan langsung bak bik buk tahan. Apa sudah hilang budipekerti dari para pelayan kesehatan kita?

Aspek berikut adalah wawasan kebangsaan (walau tdk terkait dgn artikel di atas), lha ini kaitannya dengan neoliberal (ha….ha….ha…). Beberapa minggu yang lalu disurat kabar saya membaca sebuah rubik tentang masuknya dokter-dokter asing ke Indonesia, dgn praktek yang gak karuan pula. Alasannya cukup klasik, adalah globalisasi yang menjadi kambing hitamnya. Jujur ini membuat aroma yang tidak sedap. Harus segera diatasi.

Aspek politik (??), yang karena musim kampanye presiden, konon beberapa kontestan mendatanginya dan ingin membebaskannya. Terlepas pro dan kontra apakah dijadikan komoditas politik, mari kita dukung saja pelepasan ibu muda ini dari penjara, biar segera berkumpul dengan anak-anaknya. Utamakan kemanusiaannya dibanding pro kontra sesama kita disini soal apakah menjadi komoditas politik atau tidak :-)
20. swibo,
— 3 Juni 2009 jam 6:56 pm

mungkin kasus kaya prita ini sebenarnya banyak tapi gak ketahuan aja, kasihan si prita. Boss tulisannya bagus ajarin dong….
21. rotten,
— 3 Juni 2009 jam 7:39 pm

Gak perlu demo2an klo zaman sekarang. Ada cara lain yg jauh lebih efektif utk menghukum pengusaha yg spt ini: Word of Mouth, apalagi dgn bantuan kemajuan teknologi.

Lindungilah diri Anda & orang2 yg Anda sayangi dgn:
- Jangan datang lagi ke sini & jgn berobat ke 2 dokter ini
- Informasikan kpd teman2, tetangga2, & keluarga2 Anda & minta mereka menginformasikan kpd orang2 lain

Ingat, kasus ini bisa jadi preseden. Kalau para customer gak bertindak, jgn heran kalau akan ada Omni2 lainnya. Tapi, kalau kita bisa bertindak dgn efektif, ini akan jadi pelajaran bagi pengusaha lainnya utk gak sewenang2.

Customer adalah raja. Kita berhak & malah harus menghukum mereka yg menginjak2 kita.
22. sumijansumijan,
— 3 Juni 2009 jam 10:10 pm

Pak Bechi Yth, saya baru saja baca postingan Mas Iskandarjet di Kompasiana, disana di ceritakan bahwa, Ibu prita sekarang sudah keluar dari Lapas berkumpul kembali dengan keluarganya dengan status tahanan Kota. Namun demikian, perkaranya tetap jalan.

PN Tanggerang memutus bersalah dan bayar uang penggati kerugian materiil Rp.161 Juta dan kerugian imateriil Rp. 100 juta untuk klarifikasi media nasional. Menyedihkan.

Mengapa sepertinya para Hakim di negeri ini tidak ada lagi yang berani bersikap “progresif”, ketika seorang hakim di dalam mengambil keputusan hukum atas satu perkara yang sedang di tanganinya boleh di dasarkan atas “hati nurani sanga hakim”….?

Mengapa seolah “seluruh hakim” di negeri ini menjadi serempak tunduk patuh habis pada Berita Acara Pemeriksaan (BAP)…..?

Kalau seandainya seorang hakim lebih mengikuti hati nurani dalam menjalankan tugasnya, siapa yang marah-marah…?

Kalau kerja Hakim cuma tunduk patuh habis pada wilayah BAP, apa tidak sebaiknya tugas-tugas kehakiman di seluruh indonesia di ganti-kan oleh ” hakim robot cop” saja…?

Dengan begitu semua proses hukum dapat diselesaikan secepat kitlat, murah dan tanpa prosedur berbelit n bertele-tele.

Jika lau sama-sama tak pakai hati nurani dan akal sehat, mengapa negara ini tak pilih pakai “Hakim Robot Cop” saja….?

Paling kalau “hakim robot cop” lagi macet, dibelikan baterai di warung sebelah, jalan lagi.

Duh…., Gusti..Allah SWT, semoga Ibu Prita dan keluarganya setiap hari semakin siap menghadapi tantangan nasib memilukan ini. Amiiin.

Mohonma’af jika pertanyaan dan usulan saya salah.
23. muir,
— 4 Juni 2009 jam 3:31 am

setiap orang itu punya otak dan punya hati…nah kalo melihat kasus Prita seharusnya hati kita tergugah tapi kalo liat kasus Manohara, orang2 gak pake bahkan otak juga gak dipake yang ada pake nafsu…pa lagi kl liat ibunyaaa…
24. anto,
— 4 Juni 2009 jam 10:19 am

wah.. kalo bu prita sampai dinyatakan bersalah.. kayanya kolom surat pembaca di media cetak ga perlu ada lagi deh.. Tidak boleh melakukan aktivitas curhat atau komplain dalam bentuk apapun di media apapun termasuk email, facebook dan termasuk kompasiana, resikonya besar “penjara”.
25. S. Rumondor,
— 4 Juni 2009 jam 10:39 am

Siapapun yg pernah berobat apalagi dirawat di RS Swasta pasti tahu bahwa Rumah sakit adalah ladang bisnis yg paling subur ,ketidak tahuan pasien dimanfaatkan sebesar2nya utk mengeruk duit pasien sebanyak2nya sebagai contoh ada RS dimana rawat inap kls 3 yg harga kamar hanya Rp 150,000 ttp harus memberi deposit sejumlah Rp 13 jt dan selesai perawatan deposit tsb masih kurang ,demikia pula ada RS UTK Rawat jalan sebelum diperiksa harus setor duit dulu ,belum lagi resep obat yg diberikan harganya selangit mahalnya ,pengalaman saya sendiri mengantar anak dewasa berobat di UGD karena panas kemudian diperiksa darah bermacam2 yg menurut saya ada yg tidak perlu dan selesai pemeriksaan diharuskan dirawat ,karena menolak disuruh mengisi surat pernyataan menolak dirawat ,ternyata dgn istirahat dirumah dlm waktu 3 hari sembuh total ,coba kalau mengikuti kemauan pihak RS dirawat berapa juta biaya yg harus dibayar , yang menjengkelkan begitu selesai dari UGD dan membayar harga obat dan pemeriksaan darah harganya selangit tetapi pasien bisa apa mau tidak mau yah harus bayar .
26. Yaning,
— 4 Juni 2009 jam 11:30 am

Harusnya RS Omni bermain cantik dan elegan, dengan menanggapi keluhan konsumen dengan baik. Kalau begitu mereka sendiri juga bisa mengambil manfaat, yaitu brand image mereka akan menjadi bagus karena mengutamakan kepuasan konsumen. Sayangnya bukan seperti itu yang terjadi. Bukankah dengan menuntut Ibu Prita nama rumah sakit tersebut akan menjadi lebih buruk lagi dan mengurangi pasien potensial yang sebenarnya berniat berobat ke sana?
Soalnya promosi gethok tular alias dari mulut ke mulut itu sebenarnya paling efektif. Apalagi kalau hal buruk, wah, nyebarnya ke mana-mana itu.
Mari kita layani setiap konsumen, pasien, pengguna jasa apapun itu dengan baik.
27. echi,
— 4 Juni 2009 jam 12:31 pm

Saatnyalah LSM Wanita bergerak dan mendukung kaum yg tertindas, ini salah satu dari beberapa puluh kasus yg belum terungkap, masih banyak kasus yg tersembunyi yg berhubungan dengan wanita yg tak berdaya yg tdk mempunyai kekuatan .contohnya
ibu prita yg mengatakan kebenaran ,dinyatakan bersalah , dimana kesalahan ibu pitra ini , ….?
yach mudah2an tidak mempengaruhi perkembangan anak2 dari ibu Pitra dengan kejadian melihat ibunya ditahan . tolong ditinjau kembali, bebas kan tanpa bersyarat.. PakHakim ,,,mohon keadilan bapak sebagai penegak hukum , Ingat pak masih ada yg lebih berkuasa dari bapak kita punya bapak yang akan menilai kejujuran bapak ,ok dech pak …kita tunggu good news.
28. R.Ngt.Anastasia Ririen Pramudyawati,
— 4 Juni 2009 jam 1:11 pm

Pasar HATI.. jendela jerit sang Sukma.. pembahasa bisikan NURANI..

Bung Bechi, maturnuwun..

Kisah pilu Ibu Prita, sebuah contoh dari sekian banyak deret kisah senada lain yang acap kali berhasil mencuat sebentar, lalu melenyap.
Sayangnya, umumnya ia tidak nyata mereda.
Duka penyertanya tetap berlangsung.. dan (bisa) terhidupi abadi.. dalam keseharian sang korban.. termasuk lingkungan terdekat sang korban.

Bagaimana kita bisa berkaca pada kondisi ini..?
Saya kira, seperti yang sering kali saya utarakan sedari lama, kita musti kembali pada pembenahan pembentukan nilai Pendidikan Moralitas di Negeri kita ini.
Di segala sektor, tanpa kecuali..!!

Dari mana memulainya?
Cara praktisnya adalah dari setiap diri. Dari diri kita masing-masing.
Lalu, lebarkan sedikit demi sedikit energi/aura positifnya, ke lingkungan terdekat.
Bila setiap dari kita relakan diri memperbesar energi positif dimaksud, saya yakin perbaikan menjadi nyata. Setiap diri relakan diri menjadi Agent Perubahan.

Menuliskan bahasa sukma positif atas apa yang berlangsung di sekitar (seperti yang dilakukan oleh Bung Bechi, termasuk banyak Sahabat lain), juga salah satu cara terkait, menurut saya.
29. Indont3ars,
— 4 Juni 2009 jam 4:28 pm

R.Ngt Anastia Ririen……R.Ngt itu artinya apa.?
30. babyoil,
— 5 Juni 2009 jam 1:18 am

semua ini tdk akan terjadi apabila pemerintahan yg sekarang tdk terlalu cepat untuk memaksakan UU ITE berlaku

infrastruktur SDM kita masih banyak yg jaka sembung niiiihhh

kacau….
31. underworld,
— 5 Juni 2009 jam 4:25 am

Saya yakin seluruh masyarakat Indonesia dari berbagai lapisan pasti bakal membela dan mendukung untuk KEBEBASAN PRITA.
Jangan pernah menyerah PRITA karena kami akan mendukungmu dan semoga masalah ini cepat teratasi “LEBIH CEPAT LEBIH BAIK”
32. muniel,
— 5 Juni 2009 jam 8:23 am

berani gak bu siti fadhilah kasih sanksi ke rs omni?

menurtu bu siti “Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menegaskan, masyarakat sebaiknya belajar dari kasus Prita Mulyasari. Apabila masyarakat tidak puas dengan pelayanan kesehatan di rumah sakit, sebaiknya mengadu melalui jalur yang benar dan tidak asal menulis tanpa menyertakan bukti-bukti.
Siti Fadilah Supari, Kamis (4/6) di Lampung Selatan, mengatakan, ketika masyarakat berobat dan mendapat pelayanan kesehatan yang tidak memuaskan, masyarakat diperbolehkan mengadu kepada kepala dinas kesehatan setempat. Jika tetap tidak puas dengan penyelesaian masalah layanan kesehatan, masyarakat bisa mengadu ke Majelis Kehormatan Kedokteran Indonesia (MKKI).(kompas.com)

berarti curhat ato ngasih peringatan ke teman ttg suatu pelayan gak boleh ya….
sekarang jaman maju bu…. informasi sebagian besar lewat email bu……
bukan berarti prita melalui jalur yang salah!!!!!!!!!!!!!

Muniel: Mana ada sih pejabat yang mau memberikan ruang dan waktunya untuk menerima rakyatnya? Suruh menghadap atau melapor kepala dinas? Emang gampang apa? Coba deh besok gue menghadap Menkes, pasti ditanya macam-macam oleh sang ajudan…. Yang jelas, pemerintah harus melakukan penelitian secara serius apakah seberapa baik tingkat pelayanan dari RS swasta di negeri ini. Jangan hanya kemewahan infrastrukturnya saja yang ditonjolkan. Kapan nih Bu Menkes mengumumkan hasil penelitiannya?
33. erni,
— 5 Juni 2009 jam 5:06 pm

Apapun yang terjadi, RS OMNI sudah pasti kalah. Justru dengan blow up kasus ini secara besar - besaran, orang pasti langsung malas berobat kesana. Kesehatan sangatlah sensitif dan pasien memerlukan kepercayaan yang tinggi kepada dokter/ rumah sakit. Walaupun *misalnya* yang terjadi pada bu Prita adalah murni fitnah, warga juga pasti ragu untuk berobat kesana. Sekian ratus juta yang dimenangkan oleh OMNI tidak akan ada gunanya. It’s a lose-lose situation untuk OMNI.
34. fanni_g,
— 6 Juni 2009 jam 5:08 pm

to muniel:
Ibu Siti Fadhilah kayaknya gak akan kasih sanksi ke RS OMNI, melihat kasus ini sudah di-politisir. Selain itu juga banyak pihak2 tertentu yang berkepentingan pastinya.

Hati Nurani memang sangat diharapkan dalam penyelesaian kasus ini, tapi pemerintahan yang dipimpin oleh orang no.1 sekarang tidak akan ‘menyentuh’ area tersebut.

Dikarenakan oleh agenda yang ‘Ekonomi Neo-Lib’ lebih prioritas.

Lagi-lagi masyarakat ‘dibodohi’ oleh suatu aksi2 pembelaan yang tidak masuk akal!!!

Tren Baru di Era Kuliner

Oleh Achmad Subechi - 31 Mei 2009 - Dibaca 887 Kali -

HARI masih pagi. Seorang sahabat mengingatkan melalui SMS. “Bos… apakah acara masak- memasaknya jadi?” “Okey sipp bos.. Segera meluncur. Saya sudah di kantor nih.” Lima belas menit kemudian Jhony, tiba di ruangan saya. Sasaran pagi ini adalah ke Pasar Buton, Balikpapan. Pasar tak terlalu besar itu terletak di sekitar ring road, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Dalam perjalanan, otak mulai berputar, mencari menu yang tepat dan sesuai dengan selera atau lidah teman-teman. Sebelumnya, beberapa hari lalu Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Balikpapan, Nurhadi, bersama sejumlah anggotanya datang ke ruangan kerja saya.

Dari obrolan ringan itu, muncul ide membuat acara masak-memasak. “Boleh… enggak ada masalah. Nanti saya yang akan beli bumbu-bumbunya,” kata saya. “Mas… entar saya sumbang ikan kakap. Biar saya yang beli,” sahut Albertus Prayudha, wartawan Trans 7. Lho siapa yang bisa masak? “Serahkan ke anak-anak saja, Mereka jago sekali kalau soal memasak ikan,” tutur Nurhadi.

Bagi para jurnalis, mencari waktu kosong rasanya sangat sulit sekali. Akhirnya disepakati hari Sabtu (30/5). Sehari menjelang hari H, saya SMS Albert. “Jadi enggak acara masak-memasaknya?” Tak ada jawaban hingga Sabtu pagi. Janji adalah hutang. Saya enggak mau kalau di dalam kubur nanti, saya terbebani hutang. Apalagi hutang kepada wartawan televisi, takut dipancarluaskan melalui mulut (dirasani).

Walau belum ada kepastian, saya bersama Jhony, tetap saja meluncur ke Pasar Buton. Pagi itu, pasar ini rada sepi. Hanya ada beberapa pedagang sayur mayur, penjual kelapa dan buah-buahan. Sasaran pertama adalah membeli minyak goreng, beras kemasan 5 Kg, bawang merah, bawang putih, empon-empon, sayur sawi, tahu tempe dan cabe.

Ketika mobil bergerak menuju rumah kontrakan di kawasan Bhumi Nirwana, tiba-tiba Sumarsono (Redaktur Tribun Kaltim) menghubungi saya. “Jadi enggak Pak masak-masakannya? Saya bersama teman-teman sudah di Bhumi Nirwana?” “Okey… lima menit lagi saya sudah nyampai.” Astaga… rupanya, sejumlah teman-teman dari wartawan televisi sudah cukup lama menunggu saya di sekitar Jalan Athena. Karena mereka tidak tahu rumah saya, mereka nongkrong di tepi jalan. Cukup lama….

***

PINTU rumah baru saja saya buka. Segala tetek bengek hasil belanjaan masuk ke dapur. Tanpa ba.. bi.. bu… lagi, Helman, wartawan Metro TV, Nurhadi (RCTI), Heriyadi (ANTV) dan sejumlah reporter televisi lainnya, segera mengambil peranan. “Wah pisaunya kurang tajam nih. Ini harus diasah…” kata Nurhadi. Sementara Helman, Nurhadi, Heriyadi dan Poniran, sibuk memotong-motong sayur. Ada kacang panjang, jagung, manisa dan lain-lain. “Nih buat sayur asem ya bos…?” “Siappp….” “Nanti saya yang goreng tahunya,” kata Nurhadi.

Tiga plastik tahu dan tempe, sudah dipotong teman-teman dan dicampur dengan bumbu kunyit, bawang putih serta garam. Sreng…. suara wajan terdengar, meramaikan suasana rumah. Tanpa dikomando, beberapa teman lainnya mencuci piring, sendok, dan tempat sayur. “Mana nih Albert?” tanya saya. “Kagak tahu bos… Dari tadi kita kontak belum juga diangkat.”

Sekitar setengah jam kemudian, Albert telepon. “Mas… saya lagi di pasar beli ikan. Teman-teman apa sudah datang?” tanyanya. Sejam kemudian, Albert turun dari mobil. Ditentengnya tas kresek warna hitam berisi ikan kakap dan tongkol. Teman-teman lalu membersihkannya, berikut menyiapkan bumbunya. Nah, saat hendak digoreng, saya ambil botol sprite besar terletak di atas kulkas. Airnya lalu saya tuangkan ke daging ikan segar. Semuanya teriak, termasuk Nurhadi. “Hai… jangan… Nanti kalau beracun bagaimana,” cetusnya.

Saya tertawa ngakak. Yang lain ikutan ngakak. “Lho.. sprite kan mengandung soda. Enggak apa-apa kan?” tanya Poniran. “Eksperimen ya eksperrimen… tapi kalau kemudian terjadi reaksi kimia dan beracun kan bahaya,” guman lainnya. Lagi-lagi saya tertawa ngakak. Melihat saya tak henti-hentinya tertawa, seorang diantara mereka mengambil botol sprite yang saya letakan lagi di atas kulkas. Dibukanya tutup botol, lalu diminum isinya. “Ah… ternyata bukan sprite. Ini air putih biasa ya?” tanyanya. Tawa pun meledak….

Feri Mei Effendi, wartawan Tribun Kaltim, kali ini datang agak tergesa-gesa. Ia menenteng kantong plastik berisi empat kilo kepiting. Melihat kepiting yang masih segar, Heriyadi, segera bertindak. “Sebelum direbus, kulitnya dibersihkan dulu. Apa ada sikat gigi?” pesan Nurhadi. Sambil duduk di sudut pintu belakang, Heriyadi terlihat asyik membersihkan satu persatu kepiting yang siap ‘dieksekusi’. “Ayo dipotret nanti dimasukan ke facebook, biar istrinya di Jawa tahu bahwa dia itu bukan wartawan televisi, tapi pedagang kepiting. Ha… ha… ha….” celoteh rekan-rekannya.

Lelaki yang masih muda itu, tertawa ngakak. Ia tak bergeming dan tetap saja masih sibuk dengan binatang yang kalau digoreng kulitnya berubah warna menjadi merah kekuning-kuningan. Helman, tak mau diam. Sambil mengoreng tahu dan tempe, lelaki itu mengambil cobek. Di atas cobek, terlihat cabe merah, cabe rawit, terasi, gula merah, garam dan tomat. Semua bahan itu lebih dulu digorengnya. Tangan kanannya cukup lincah mempermainkan ulek-ulek. Dalam waktu lima menit, jadilah sambal terasi ala Helman. Tahu tempe yang telah matang, akhirnya menjadi sasaran. Ramai-ramai dicomot, lalu dioleskan ke sambal. “Mantappp….”

Ditengah riuh rendahnya canda itu, datang Kapten TNI Answari Jadi, Kasi Penum Kodam VI Tanjungpura. Antara kami dengan dia sudah saling mengenal. Setiap Sabrtu ia tak pernah absen mengikuti acara masak-memasak semacam ini. Hadir juga, Teddy Rumengan, angggota Millis Kaltim (dimotori Nani Tajriyani) yang tak pernah absen di acara masak memasak. Sayangnya, Teddy kerap datang terlambat karena ia jharus menyelesaikan tugasnya, mengirim berita ke Jakarta.

Biasanya, acara masak-memasak yang digelar setiap hari Sabtu, juga dihadiri oleh beberapa teman yang mempunyai hobi serupa. Misalnya, Corporate Communication Telkomsel Regional Kalimantan, Rina Dwinov dan beberapa stafnya. Tak ketinggalan, anggota Milis Kaltim, para jurnalis di Balikpapan dan Supervisor Marketing Astra Motor Balikpapan, Mario Felix. “To day saya enggak bisa ikut. Soalnya proses closing dan kemungkinannya lembur.” Begitu SMS Mario kepada saya. Bisa jadi Mario agak patah hati, lantaran Sabtu pekan lalu ia mendapat tugas bersama Budi (rekan kantornya) menanak nasi. Sayangnya, berasnya terlalu banyak dan airnya sedikit. Akibatnya, nasinya agak atos (keras). “Kalau matang sih matang bos… Ini tadi kan berasnya rencananya buat nasi goreng. Berhubung tidak jadi membuat nasi goreng, maka nasinya ya seperti ini,” tutur Mario memberi alasan.

Sama dengan Rina Dwinov. “Maaf Pak… Sabtu ini saya enggak bisa gabung. Lagi ada acara seminar di kampus Unmul Samarinda. Salam buat teman-teman ya…” tulis Rina melalui SMS. Biasanya, Rina paling doyan banget kolak labu dan pisang buatan Feri Mei Efendi. Kolak buatan Feri rasanya memang mantap, apalagi ditaburi potongan nangka. Wajar kalau teman-teman berebutan membawa pulang kolak labu.

Kalau Sabtu lalu menunya, rujak cinggur, urap-urap dan ikan teri balado, kali ini menunya benar-benar khas buatan wartawan televisi. Saya biasanya hanya menyediakan makanan ala Minang lainnya. Begitu juga Nani Tajriyani (Kooordinator Milis Kaltim). Pekan lalu, wanita itu bersama sejumlah anggota Milis Kaltim lainnya ikutan sibuk memasak. Kali ini ia tidak datang karena ada acara di Samarinda. “Maaf saya pagi-pagi harus ke Samarinda,” pesannya.

***

JARUM jam menunjukan pukul 13.30. Perut teman-teman mulai keroncongan. Sementara masakan yang sudah matang dan siap disantap, baru ikan pete-pete (semacam ikan teri, tapi agak besar) yang saya beli beberapa hari lalu bersama Kapten TNI Answari Jadi, di kampung nelayan Manggar, Balikpapan.

Ikan pete-pete itu saya goreng, lalu dicampur dengan cabe hijau dan tomat. Sebelumnya, saya siapkan bawang merah yang sudah diiris-iris lalu saya masukan ke dalam wajan. Begitu bawang itu mulai layu maka saya masukan cabe hijau yang sudah diblender ditambah garam secukupnya. Wow… harumnya mantap banget.

Tak tahan mencium bau aroma ikan asin pete-pete sudah siap saji, sejumlah teman-teman segera mengambil piring, lengkap dengan timun segar. Nyam… nyam… nyam… Albertus Prayudha, tetap bertahan. Ia tak terpengaruh, lantaran sejak dari tadi, ia sibuk dengan bumbu kepiting. “Kepiting ini saya namakan, kepting saos edan racikan Albert,” kelakarnya.

Semuanya tertawa. Entah, bumbu apa saja yang ia racik. Yang jelas, kepiting itu ia rebus bersama bumbu-bumbu yang telah diblendernya. “Kalau masak kepiting, jangan dipecah dulu. Nanti cairannya keluar. Dan itu membuat enggak enak,” tutur Nurhadi, sedikit membocorkan resep.

Aroma kepiting buatan Albert benar-benar menusuk hidung. Sementara tiga ekor kepala ikan kakap dan tongkol, dimasukan ke dalam sayur lodeh pakis dan rebung. Sayur lodeh ala Minang itu semakin mantap saja rasanya, setelah isinya dicampur ikan pari dan kepala ikan kakap serta ikan tongkol.

Sekitar pukul 14.30, semua makanan siap disantap. Usai makan-makan, teman-teman tanpa dikomando mengerjakan tugasnya masing-masing. Ada yang cuci piring, ada yang menyapu lantai dan ada yang mengumpulkan sampah-sampah untuk dibuang di tong sampah.

Ketika lagi santai, mendadak muncul tamu lainnya. Diantaranya, Yoyok Setiyono (News Director Info Channel) dan seorang rekannya sekantor, Trinilo Umardini (Redaktur Tribun Kaltim) bersama suaminya, Niko Ruru (wartawan Tribun Kaltim), Drs Andreanus Pamudji R MBA (Ketua Yayasan Kasimo Balikpapan). Ia datang bersama rekannya.

Hari telah sore. Teman-teman sudah saatnya bekerja kembali. Budaya masak-masakan semacam ini pernah ngetrend di tahun 1970-1980 an. Saya masih ingat ketika menetap di Surabaya. Hampir setiap pekan, bocah-bocah kampung patungan membeli seekor ayam untuk dimasak ramai-ramai. Ada kalanya, bagi mereka yang tak punya duit, cukup membawa sekaleng beras atau bumbu dapur. Lewat acara yang ringan tapi berkesan, kekerabatan kembali terjalin ditengah-tengah masyarakat yang kini terjebak ke dalam wilayah individualistik dan hedonis. Beginilah cara kami melepas kepenatan menjelang akhir pekan. Murah meriah dan penuh tawa canda. Siapa mau ikutan? Inilah tren baru di era kuliner….

Share on Facebook Share on Twitter

20 tanggapan untuk “Tren Baru di Era Kuliner”

1. ison,
— 31 Mei 2009 jam 7:30 pm

wah..ngences aku mas..pengen gabung seh…tapi mahal diongkos ya. kl-bpp..hmmmm.

Ison: He… he… he… Digagas dan dicoba saja dengan komunitas sampean. Pasti, menyenangkan dan akan ketagihan lho… kumpul-kumpul sambil bereksperimen.
2. Mas Wiro,
— 31 Mei 2009 jam 8:36 pm

awah makan dengan sambel rada pedes memang enak tenan. Habis makan belajar di http://www.wirosastro.com Pasti passss

Wiro: Ada gandengannya bos… sambalnya dikasih jeruk limau yang telah dipotong-potong (dadu) bersama kulitnya. Kalau dimakan kulitnya terasa nyess banget. Trus disiapkan tempe dan tahu goreng. Wow… sedappp… Kapan nih kita coba?
3. Novrita,
— 1 Juni 2009 jam 1:13 am

Wah… seru ya..kalo acara masak-masak terus habis itu disantapnya rame-rame juag.
Btw, saya mau kasih info nih… Sebetulnya memakai sprite sebagai pengganti air dalam memasak itu gak papa lho. Bisa sedikit sebagai pengempuk daging. Kan ada resep iga bakar cola…
Biasanya sih bukan untuk ikan, tapi untuk ayam atau daging sapi. Coba deh tumis irisan daging sapi pake bumbu bawang putih cincang, blackpepper, garam dan bawang bombay. Terus kalo sudah tercium aromanya tuang sedikit sprite. Tutup sebentar biar empuk dan meresap. Habis itu jika daging dirasa sudah matang, tambahkan irisan paprika. Very simple, tapi cicipi sendiri gimana rasanya….

Novrita:
Tak hanya seru Nov, tapi heboh. he.. hhe.. he.. Terima kasih banyak ya atas resep barunya. Tadinya saya kan berpikirnya beritu. Tapi yang namanya wartawan, apalagi cowok, mereka kan kagak ngerti dunia masak-memasak. Begitu sprite dituangkan, mereka kaget. Okey resepp barunya entar aku coba ya..
4. Vicky Laurentina,
— 1 Juni 2009 jam 8:46 am

Saya juga setuju kalau memasak daging dicampur soda. Rasanya nyes-nyes gimanaa..gitu! Bau soda itu menggiurkan, rasanya nagih dan bikin ceria. Dicobain aja ke ikan, Pak Achmad, siapa tau ada sensasi baru!

Vicky: Siappp… entar gue coba ama teman-teman. kalau enak, nanti gue kabarin ya…
5. viant,
— 1 Juni 2009 jam 9:16 am

mantap..! mas bechi…

Vian: Kapan nih ikut acara masak-memasak?
6. Hery Azwan,
— 1 Juni 2009 jam 9:17 am

Wah, asyik benar nih acaranya. Nanti di Jakarta saya mau buat ah…Ada yang mau ikut?

Hery: Di Jakarta sekarang mulai ngetren Mas. Di kampung-kampung anak-anak muda, patungan beli ayam, beras, bumbu, sayur dan lain-lain. Trus mereka masak di depan rumah. Kegiatan yang positif sekali, ditengah era kuliner, sambil menguji coba resep. Di Surabaya juga mulai ngetren. Kapan nih memulainya?
7. rizal,
— 1 Juni 2009 jam 10:10 am

WOOOOOOOOOOOOOOYYYYYYYYYY Curang bgt, mkn ga ngajak2…Mestinya Di Jakarta Jga kyk gtu dnk……hahahahahahahahahahaahahahahahahahahahahahahahhahahahahahahahaha
ha

Rizal: Entar Nak… Kalau papa pulang, pasti diajak masak-masak dah. Kan papa setiap pulang, selalu masakin Izal. Mo minta dimasakin apa Nak…? Salam buat Ina, Buyung dan mama ya…
8. rizal,
— 1 Juni 2009 jam 10:15 am

WOOOOOY Curang bgt, mkn ga ngajak2…Mestinya Di Jakarta Jga kyk gtu ahahahaha
9. diana,
— 1 Juni 2009 jam 10:57 am

waaaaaaw ennaaak …… bagi dong..

Diana: Gimana ya cara membaginya? Gue kirim via email aja ya…. ha… ha… ha…. (resepnya, maksudnya)
10. Yani,
— 1 Juni 2009 jam 11:31 am

Sebenarnya acara begini lebih pada meningkatkan kekerabatan & menjalin silaturahmi.
Yapi kalo ngumpul2 ga makan2 yaa…gak asyik juga ya !
Tapi aku salut lho…ama lelaki2 tsb, mau bersusah payah turun ke dapur.
Pasti yang jadi istrinya seneng banget, karna bisa ngorder menu..hehehheee.

Temen2 Milis Kaltim siap meramaikan suasana lagi.
Mudah2an bisa punya waktu yang tepat buat masak2an tapi pas jangan mati air deh…
jadi ga pake air di botol sprite (yang isinya emang air putih…huahahaaa..).

Ok Mas Bechi…lanjutkan terus kegiatannya :)

Yani: Siappp… perintah dilaksanakan.
11. nathalia,
— 1 Juni 2009 jam 1:37 pm

mas bechiiiiiiii, makin bikin ngiler ceritanya, apalagi sayur lodeh pakis dgn kepala kakap plus ikan asin, lapeeeer!!!!!!!!!!!

Nathalia: makanya segera dipraktekan dengan teman-teman komunitas, biar kagak ngiler. he… he.. he….
12. sumijansumijan,
— 1 Juni 2009 jam 2:56 pm

TERNYATA TABI’AT MAS ACHAMAD SUBECHI MASIH SEPERTI YANG DULU, CARA DAN SIKAP HIDUPNYA SELALU MENG-INSPIRASI ORANG UNTUK HIDUP MURAH MERIAH NAMUN KAYA FILOSOFIS KEINDAHAN YANG TAK TERLUPAKAN.

Pertama kali saya mengenal dia (Mas Bechi), tiga tahun yang lalu saat saya sedang di ibukota Jakarta bergulat dengan berbagai anomali hukum di negara hukum, koruptor insyaf mendatangi KPK, Kejagung-RI, Mabes Polri, Istana Presiden dll untuk mencari dan mendatangi semua aparat dan pejabat yang katanya bersedia melakukan tindakan hukum terhadap koruptor. Namun para pejabat dan aparat malah terkesan panik dan membuang muka.

Di tengah ironi sikap pejabat dan aparat yang seperti itu, Tuhan membertemukan saya dengan se-orang Jurnalis Pejuang penyuara dan pembela kebenaran, Achmad Subechi. Dengan Motor Yamaha reotnya saya di bonceng kesana-kemari,membangun jaringan perkuatan bersama para aktivis Ibukota Jakarta. Padahal para anak buahnya di Kompas group,mereka rata-rata memakai kendaraan mobil bagus-bagus.

Bagi saya dia Guru, Sahabat dan Kredibilitas, yang akhirnya “bisa” memberi arah konsistensi sikap hidup saya dibidang pemberantasan korupsi di daerah agar survive dan manfa’at serta berkah setiap hari,bahkan Alkhamdulillah.., telah di bobot,di ukur dan di hargai oleh Negara Republik Indonesia. Kini saya bekerja memuliakan Tuhan dan menjadi sangat siap menghadapai tantangan.

Dibalik sederhanaan hidup dan penampilanya yang kurang meyakinkan, tersimpan sumber daya tata pikir,tata batin, tata rasa, tata tindak dan tata sikap yang sungguh-sungguh berfihak habis atas nilai-nilai kemanusiaan,persis seperti yang di kehendaki oleh Tuhan di dalam Kitab Suci-Nya.

Kapan hari, saya sengaja diam-diam menjumpai dia di kantor Tribun Kaltim sekalian menikmati udara bebas di sepanjang perjalanan antara Bontang dan Balikpapan, maklum waktu itu saya baru keluar dari Penjara, akibat balik dilaporkan oleh seorang kepala daerah di kota saya dalam kasus Pencemaran Nama Baik dan Menyerang Kekuasaan Pemerintah.

Sa’at itu Bulan Ramadhan, setengah bulan lamanya saya di kota Balikpapan dan sering melihat, terlibat bekerja secara bersama-sama masak-memasak dengan sesama di rumah itu, rumah kenangan yang setiap menit-nya memberi arti penting dalam suasana kebatinan saya.

Sayur asem-nya yang kadang tak terasa asem, sambal terasi khas ala Achmad Subechi yang tak seberapa pedas, tahu gorengnya yang sering gosong sebelah, bumbu-bumbu yang berantakan sa’at memasak, peralatan memasak serba sederhana yang sangat merepotkan saat digunakan, bahkan sa’at pisau-pisau dapur tak lagi tajam, kami terus saja mempergunakanya, belum lagi kukas sayuran yang penuh sesak dengan berbagai stok bahan masakan yang kapan hari di beli dari pasar Buton.

Terkadang saya geleng-geleng kepala menyaksikan semuanya itu. Maklum saat itu Mas Bechi sedang menjalankan ibadah puasa,sehingga soal citra rasa masakan tak lagi bisa di kendalikan, shingga rasa sayur asemnya malah berasa pedas dan pahit…!.

Dalam hal masak-memasak,ternyata Mas Bechi cukup cekatan dan sangat bercitra rasa masakan khas rumahan. Sambel trasinya, subhanalloh…! toyip….toyib…toyib. Lelaki yang terkadang sangat serius dalam bekjerja ini, sepertinya sangat menikmati kesendirianya hidup jauh dari anak-isteri

Yang tak kalah serunya,saat saya di ajak berbelanja ke pasar dekat rumah kontrakan Mas Bechi, Pasar Buton namanya, saya benar-benar tak habis pikir,bahkan dalam hati marah dan tidak bisa menerima, sebab keberadaan saya di Balikpapan waktu itu untuk tujuan menikmati kebebasan mau bersenang-senang sama dia, e…e..e la dalah, lakok malah di ajak beli bahan-bahan masakan untuk bikin tak-jil Es-Campur sendiri dirumah. Padahal, hampir di sepanjang jalan yang dilewati, aneka makanan dan minuman siap santap di gelar bebas. Dalam hati saya berkata, sabar…sabar…sabar….!

Padahal saya saat itu sedang membawa banyak uang,yang tak mungkin habis untuk makan minum dan bersenang-senang di tempat-tempat ter-hebat di Balikpapan. Uang pemberian para sahabat saya yang terus mendesak saya supaya sekali-kali menghibur diri sendiri.

Lalu saya pilih ke Balikpapan sendirian, sebab isteri saya sibuk berjibaku dengan warung Es Campur n Empek-Empek yang semakin hari semakin laris manis. Maklum kami hidup berjualan seperti itu hingga saat ini sudah 25 tahun lamanya. Sehingga tidak adil rasanya jika sekali-kali dalam hidup saya, saya membahagiakan diri dengan cara pelesiran ke Balikpapan, begitalah awal cerita sebenarnya.

Tetapi yang namanya sumijan itu ternyata tetap saja sumijan, tidak bisa jauh-jauh dari tabi’at aslinya,sebagai orang biasa. Dan akhirnya di Balikpapan ketemu orang yang ternyata malah bertipologikan moyangnya “orang biasa”, cocok…cok…cok…..cok!

Wal-hasil bukanya suasana Kemewahan Hotel berbintang atau Kemeriahan pesta-pora di restauran,cafe, mall atau tempat-tempat faforit, tetapi malah berjibaku dengan mengupas buah Nenas, Pepaya, Nangka dll dengan menggunakan peralatan serba sederhada, bahkan pisaunya-pun sangat tumpul sebab hanya di gesek-gesek di lantai semen kalau mau di pakai.

Ampun…ampun, pokoknya ampun..!, ternyata ini lebih sengsara dari apa yang pernah saya alami di dalam pennnnjaaaaaara!!!

Pendeknya semua bayangan indah memukau yang serba istimewa dan luar biasa di awal keberankatan saya, menjadi sirna di depan nanas mentah dan pisu tumpul yang sangat menjengkelkan.

Begitu cerita aslinya, hampir setiap hari menjelang berbuka puasa.

Sampai akhirnya ketika saya selesai Sholat bergantian di rumah itu, di dalam do’a dan suasana batin saya, tiba-tiba merasakan adanya aura ketenteraman dan kenyamanan luarbiasa selama saya ber-aktivitas masak-memasak bersama Mas Bechi dan teman-temanya. Sikap saling memperhatikan dan menghormatinya,saling menjaga persasaan dan melindunginya, sungguh seperti kewalitas persaudaran sedarah dan dalam rumah tangga yang saya impi-impikan.

Mas Bechi, di mata saya adalah tipologi orang yang ” selalu memiliki stok kemampuan untuk berbagi kredibilitas dengan cara-cara yang terkadang hanya bisa difahami oleh nalar, hati dan empati yang hidup”, unik,awut-awutan tetapi kadang sangat serius dan menyenangkan.

Dibalik sederhanaan hidup dan penampilan pria itu, tersimpan sumber daya tata pikir,tata batin, tata rasa, tata tindak dan tata sikap yang sungguh-sungguh berfihak habis atas nilai-nilai kemanusiaan,persis seperti yang di kehendaki oleh Tuhan di dalam Kitab Suci-Nya.

Ternyata dibalik “Kerja Masak-Memasak Secara Bersama-sama dengan Sesama yang awalnya tidak saya sukai itu, menyimpan nilai pembelajaran kekuatan super dan hikmah kebersamaan lahir-batin.

Sepulang dari Balikpapan,saya langsung bersikap layaknya pendekar yang baru turun gunung pertapaan,”saya praktis menghabiskan waktu dan uang saya untuk memuliakan keluarga dengan menerapkan secara persis prinsip-prinsip hidup yang saya peroleh dari pengalaman yang awalnya menjengkelkan, “masak memasak bersama Mas Bechi di rumah itu”.

Saya pun kini kembali aktif menyuarakan dan membela kebenaran, melawan korupsi dengan sangat tegas,berani,mandiri dan tak kenal ampun.

Terimaksih Mas Bechi, semoga semua makhluq melata yang ada di rumah itu bersama para Malaikatnya Alloh SWT akan mencatat semua amal kebaikan itu. Amiin.

Salam integritas tiada henti (sumijan&keluarga)

Sumijan:
Kelihatan sepele. Acaranya hanya masak-memasak. Padahal, dalam proses itu, manusia akan menemukan berbagai macam hikmah. Diantaranya, ada segudang nilai-nilai terpendam yang tak semua orang mau memahaminya. Misalnya, saat mengupas bawang, kunyit, jahe dan lain-lain, saya kerap bertanya dalam hati, “Betapa besar Keagungan Tuhan dalam menciptakan tanaman itu. Kedua, saya juga selalu bertanya, siapa sih manusia yang telah menanam kunyit, jahe, bawang dan bumbu-bumbi dapur lainnya yang saat ini ada di depan saya? Dimanakah para petani-petani itu berada? Lalu ditanam di tanah yang sebelah mana? Kemudian, iapa yang membawa bumbu-bumbu itu dari desa menuju ke kota?”

Prosesnya teramat panjang. Dari benih, tumbuh menjadi tanaman, lalu dipanen dan kemudian melibatkan manusia lainnya untuk dijual ke kota. Kadang, manusia tak menyadari bahwa ada proses panjang dan rumit sebelum bumbu-bumbu itu nyampai ke rumah kita. Dan untuk membeli bumbu-bumbu itui, pasti saya mengeluarkan tenaga, waktu dan uang. Untuk mendapatkan uang, saya harus bekerja dengan baik dan benar serta tak mengenal waktu. Sebaliknya, bukan hanya dengan ongkang-ongkang kaki tanpa mengeluarkan keringat, tapi duitnya banyak, rumahnya mewah dan semua kebutuhan duniawi terpenuhi.

Dengan memahami filosofi itu, maka manusia mau menghormati dan menghargai secuil makanan yang ada di depannya. Selama ini kerap kali kita melihat di warung-warung atau restoran, begitu makanan yang disajikan tidak enak, kita dengan mudah menelantarkan makanan itu. Padahal, makanan itu bisa tersaji di depan meja, melibatkan banyak orang. Bukan hanya seorang bini atau pembantu rumah tangga saja. Mereka yang terlibat, sama-sama mengeluarkan keringat dan berangkat dari keikhlasan, memasakan makanan buat manusia lain. Suapay apa? Supaya panjang umur dan lain-lain…

Itu baru satu nilai Mas Sumijan. Nilai -nilai lainnya, silakan datang lagi ke Balikpapan, dan temukan sendiri maknanya. Salam buat keluarga. Semoga putra tertua segera lulus sarjana, walau bapaknya penjual es campur.
13. sumijansumijan,
— 1 Juni 2009 jam 3:40 pm

Alkhamdulillah, saya dengan sangat mudah dan murah bisa menikmati berbagai menu masakan khas bumbu desa di RT saya.

Kami berpatungan Rp. 5000,-/orang dan ke-esokan harinya saya sudah di antari sambal kacang/sambal pecel satu mangkok, sungguh luar biasa lezat,nikmat,sehat,mudah murah meriah dalam suasana kekerabatan antar warga yang sangat kental. Kehidupan kami di wilayah RT 14 Kelurahan Berbas Pantai Bontang Selatan sekarang menjadi sangat menyaudara.

Kapan hari, masak bubur manado,ikan asin sambal terasi.
Ikan Bakar, kebetulan ada seorang warga yang gemar memancing tetapi tidak untuk di jual, melainkan hanya hoby, hasil tangkapan yang diperoleh kadang sangat banyak, kalau sudah begitu warga sudah langsung action tanpa di komando ber-inisiatif untuk bekerja sama masak nasi dan bakar ikan untuk dimakan bersama-sama.

Yang demikian itu semakin sering dilakukan, entah karena ketagihan nikmatnya rasa komunitas outentik atau karena apa saya belum bertanya-tanyapada mereka. Yang jelas semenjak ada kebiasaan seperti itu,warga di lingkungan RT saya semakin guyub rukun dan bersatupadu ,utamanya saat ada ada kegiatan sosial ataupun hal-hal penting yang menyentuh kepekaan sosial.

Saya sendiri,sekarang setiap hari menjadi sangat serius membantu isteri saya memasak di dapur.

Ini fakta dan realita, di kampung saya sekarang.

Sumijan:
thanks atas komentarnya. Ternyata, sampean sudah menemukan nilai-nilai atau filosofis dibalik acara masak-memasak. Semoga bermanfaat buat diri sendiri, keluarga dan orang lain. Salam buat keluarga.
14. sumijansumijan,
— 1 Juni 2009 jam 10:35 pm

Benar Mas Bechi, kadang kita ini terhadap diri kita sendiri saja rasa-rasanya kok, kurang adil.

Beban persoalan yang seharusnya tanggungjawab psikologis, kadang tanpa kenal belas kasihan langsung saja kita timpakan pada fisik kita, akibatnya fisik kita yang tadinya sehat segar-bugar,e..e…kontan jadi gotongan dan di larikan ke rumah sakit.

Kalau “melihat” orang-orang yang hidup di pegunungan Cina umurnya panjang-panjang, mungkin karena mereka “bisa berbicara dan saling sapa” dengan berbagai tumbuh-tumbuhan di sekitarnya.

Kira-kira apakah itu ya, yang membuat orang Cina lebih brilyan dalam hal menjadi orang pertama yang menemukan kasiat penting dari berbagai bagian tumbuh-tumbuhan sebagai bahan ramuan obat-obatan herbal dsb..dsb….

Mungkin semua tanaman hutan di negeri Cina kalau waktu pagi,siang dan malam suka berbicara pada orang-orang untuk membocorkan bermacam-macam rahasia mengenai manfaat akar,batang,daun,kulit,bunga,buah dan biji dan semua yang ada pada diri para pepohonan di sana.

Enaknya.., andai saya jadi Nabi sulaiman,bisa bicara dengan berbagai makhluq melata,reftil dsb..dsb…

Enaknya…, andai saya juga bisa berbicara dan saling sapa dengan tumbuh-tumbuhan, seperti mereka,oh… alangkah damainya jiwa ini.

Mas Bechi, masih ada stok ilmu yang bikin orang bisa bicara dengan pohon…?

Kalau masih ada,saya tak ke balikpapan,boleh kan,ya…?
15. viant,
— 2 Juni 2009 jam 8:27 am

wah… ngajak nih mas bechi…, thank’s banget nih.. hehehehe..

Viant: Siappp….
16. xixi,
— 3 Juni 2009 jam 4:02 am

di saat setiap orang sibuk membicarakan peserta pemilu, ataupun ttg petaka manohara, masih ada yg sempat menuliskan sesuatu yg memberikan banyak penghiburan seperti tulisan anda diatas, walaupun anda jurnalist kawakan…

Aaiihhh… berapa banyak jurnalist yg bisa membawakan hal kecil dalam hidup menjadi sesuatu yg lebih penting dr pada issue issue panas yg lagi membara…?

saya bukan seorang yg pintar masak, akan tetapi saya juga sangat senang kumpul dgn temen hanya untuk masak masak… membaca tulisan anda, terbayang sudah keinginan untuk ngundang temen temen lagi, untuk melakukan yg seperti anda tulis… masak masak…

xixi: semoga bisa menginspirasi teman-teman lain. Salam balik dari saya…

Terima kasih untuk selingannya ini mas Achmad… salam
17. syaifuddin sayuti,
— 3 Juni 2009 jam 12:37 pm

mas bechi, menarik sekali kegiatan masak-memasaknya. saya iri melihat keguyupan, pertemanan yang kuat, dan kerja sama yang apik diantara jurnalis di balikpapan. thx sudah sharing hal kecil yang menarik ini. sometimes kalau ke balikpapan, boleh ya mampir. hehehe….salam kompasiana.

syaifuddin sayuti: Salam kompasiana juga. Dengan senang hati Mas… mampir ke Balikpapan. Saya berkantor di Tribun Kaltim. Kami tunggu kedatangannya….
18. ANSWARI JADI,
— 3 Juni 2009 jam 1:54 pm

lanjutkan perjuangan, masih ada yang laen mas pemburu madu ha ha ha

trims ragah

Answari: Siappp Mas… Gue balik dulu ke Jakarta. Sepulang dari jakarta saja ya… kita memburu madu, ikan dan kemudian masak-memasak lagi. Salam buat teman-teman di Kodam VI Tanjungpura.
19. WONG NDABLEK,
— 5 Juni 2009 jam 6:26 pm

Asik niy acaranya Pak Bechi, cuma sayang, alergiku lagi kambuh, jadi ikan or kepiting yang dah pasrah buat disantap, ga aku sentuh - sentuh…besok2 bikin barbeque party aja ya Pak hehehe…

–Wong Ndablek–

Woong Ndablek: Seep… boleh dicoba… alergi? Tabrak aja atuh… Entar kalau kambuh biar dipotret teman-teman.. ha… ha… ha…
20. WONG NDABLEK,
— 5 Juni 2009 jam 6:35 pm

Ada yg lupa, kl kmrn ikan dcampur sprite, nti kita buat ayam cola alias ayam yg dmasak dengan kuah coca cola, dah pernah nyoba?

–Wong Ndablek–

Wong Ndablek:
Wah kalau itu mah, gue belum pernah nyoba. Gimana ya rasanya? Nah kalau ayam direbus dengan air kelapa plus ditambah bumbu dan sedikit gula merah, gue udah nyoba Hasilnya, warna ayamnya ketika digoreng, mirip kayak ayam yang dijual di Mbok Berek. Okey sipp.. entar kapan-kapan kita coba ya. Thanks atas masukannya.

kirim komentar

Nama (wajib)

Email (tidak akan dipublikasikan) (wajib)

Website

Jumat, 29 Mei 2009

Kontradiksi

Kutitipkan Bangsa Ini…
Oleh Achmad Subechi - 25 Maret 2009 - Dibaca 505 Kali -

LELAKI tua itu selalu saja datang ke rumah, setiap kali saya pulang dari Balikpapan. saya juga heran, kenapa ia bisa tahu kalau saya sudah tiba di Jakarta. Usianya sekitar 65 tahun. Ia tinggal di rumah petak bersama istri keduanya. Anaknya dua, semua wanita. Satu pelajar SMA dan satu lagi pelajar SMP. Meski tergolong kurang mampu, namun anaknya terawat, bersih dan tak kelihatan kalau mereka anaknya orang tidak mampu.

Setiap kali saya lewat di depan rumahnya ada rasa trenyuh dan terharu dengan spiritnya. Bayangkan, tinggal di rumah petak berukuran 3 X 4 meter, tanpa kamar dan hanya ada satu kamar mandi Pak Tua itu mampu menyekolahkan anaknya. Istrinya hanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Sehari-hari, dengan nafas tersenggal-senggal, ia datangi rumah tetangga kanan kirinya. Tangannya menengadah tanda meminta. Saya enggak tahu persis berapa penghasilan yang ia dapatkan dalam sehari. Kadang, seusai bertemu saya, Pak Tua itu selalu tersenyum manja. Wow… hati saya terasa plong. Artinya, hari ini saya bisa membahagiakan manusia lain, walau hanya dengan senyuman dan kata-kata.

Anak-anak saya sudah hafal. Ketika Pak Tua terlihat berjalan kaki tertatih-tatih dari jauh, anak saya selalu teriak. “Pak Pak… Tua tuh… Dia mau ke rumah.” Biasanya, kami duduk di teras rumah, sekedar ngobrol. Sesekali saya berpura-pura sebagai orang ‘pintar’ saat penyakit asmanya kambuh. Biasanya, telapak tangan saya tempelkan ke dada. Enggak lama kemudian, Pak Tua itu tersenyum sambil mengatakan, “Kena… kena… Nah itu dia… penyakitnya… Alhamdulillah….” Saya tertawa kecil, karena apa yang saya lakukan itu hanya sedikit memberikan sugesti saja.

Apakah ia dapat BLT? Ternyata tidak. Sama dengan tetangga saya lainnya. Seorang janda beranak tiga. Tahun lalu, ia mengadu dan menangis di depan saya menceritakan ada rasa ketidakadilan terhadap program BLT. “Masak… tetangga saya yang mampu malah dapat BLT, sedangkan saya tidak. Padahal nama saya sudah didata. Pak RT sudah saya datangi, tapi dia diam saja,” tuturnya.

Rasanya ingin hari itu juga saya menemui Ketua RT setempat. Tapi karena rumah kontrakan saya beda dengan RT sang Ibu, saya tak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya mengelus dada melihat perilaku-perilaku penguasa kampung.

Kemarin seorang janda setengah baya, punya dua orang anak datang ke rumah saya. Ia mengucapkan rasa terima kasih karena selama ini biaya sekolah anaknya dihandle oleh istri saya. Lagi-lagi, dia mengeluh tak mendapatkan dana BLT. “Tapi untunglah Pak… Ibu mau memberi dana kepada anak saya untuk biaya sekolah…”

***
DI BALIKPAPAN ketika bencana tanah longsor menghantam salah satu pemukiman, saya datang ke lokasi kejadian memotret dan mencari data. Masya Allah, saya dapati sebuah rumah berukuran 3 kali 2 meter yang dihuni oleh lima orang anggota keluarga. Kamar tidurnya saja tidak ada. Semua ngruntel jadi satu. “Bapak bekerja menjadi penjaga sekolah… Kami berlima tinggal di rumah ini,” kata seorang bocah berusia tujuh tahun kepada saya.

Pemandangan memilukan juga saya lihat di Maumere. Ketika itu saya meliput gempa bumi. Ketika masuk ke pedalaman, ada juga manusia yang tinggal di kandang binatang bersama anak-anak dan istrinya. Pekerjaannya di ladang. Lagi-lagi saya mengelus dada.

Gambaran seperti ini amat kontras dengan di ibu kota. Mall-mall penuh sesak. Rumah-rumah makan bertebaran disana sini. Mau apa saja bisa. Semuanya tersedia. Bagaimana dengan yang di pelosok-pelosok desa yang infrastrukturnya belum memadai bahkan hampir tidak ada?

Dimana rasa keadilan? Dimana pemerataan? Dimana kesejahteraan? Lalu mengapa kemakmuran itu masih jauh dan tak bisa dipetik? Mengapa bangsaku menjadi terpecah-pecah begini, terkotak-kotak oleh simbol dan kekuasaan, tercabik-cabik oleh kepentingan?

Indonesia, bukan negeri yang tak memiliki masa depan. Indonesia adalah aset dunia. Negeri ini akan menjadi bangsa yang besar kalau para pemimpinnya bertindak adil, visioner, arif, bijaksana, berintegritas, merakyat, cerdas dan punya hati.

Wahai para calon pemimpin bangsa, “Kutitipkan negeri ini kepada kalian. Kutitipkan jasa-jasa bapaku yang telah berjuang terhadap negeri ini kepada kalian. Kutitipkan anak-anak bangsa ini kepada kalian. Kuserahkan semuanya kepada kalian… dan dengarkan jeritan hati rakyat serta pahami tingkat kesulitan mereka. Tenggoklah mereka dan jangan hanya duduk di singgasana… Angkatlah derajat kesadaran manusia ke dalam nilai-nilai kemanusian universal..”

Bangsa ini terlalu mahal dipertaruhkan hanya untuk kepentingan sempit. Bangsa ini harus tetap ada, bangsa ini harus mampu memerdekakan kemiskinan, kebodohan, kesengsaraan, ketidakadilan, kesenjangan, kerampuhan jiwa dan segala tetek bengeknya. Akankah masa depan bangsa ini kita percayakan kepada manusia-manusia yang pragmatis, oportunis, tak memiliki integritas, tak profesional, tak berintelektual? Jawabannya ada pada bangsa ini…. Salam dari anak bangsa…

Share on Facebook Share on Twitter

10 tanggapan untuk “Kutitipkan Bangsa Ini…”

1. Novrita,
— 25 Maret 2009 jam 3:16 pm

Ketika orang yang dianggap sebagai pemegang amanah untuk menyelenggarakan negara ini , untuk mensejahterakan rakayt negeri ini, untuk memakmurkan kehidupan bernegara…tidak mampu atau bahkan ada yang menyelewengkan amanah… Kewajiban kita adalah mengingatkan…
Tidak bisa kita memaksakan dengan cara-cara kekerasan…
Namun setidaknya…janganlah kita menjadi penyebab dari keterpurukan, kemiskinan, kesemrawutan, kekacauan…
Tamparlah diri kita sendiri ketika kita mengabaikan tangisan orang disekeliling kita yang kelaparan….
2. jalil,
— 25 Maret 2009 jam 3:49 pm

Ya bangsa ini adalah bangsa yang besar, gemah ripah lo jinawi, seharusnya tidak ada pemandangan kurang makan, anak2 tidak sekolah, susah berobat krn ngga punya biaya, tidur di kandang binatang, tapi saat ini realitanya demikian adanya. Masih banyak jumlahnya lalu kapan akan berkahir penderitaan saudara-saudara kita sebangsa yang kurang beruntung tersebut, Kita memang hanya bisa menitip bangsa ini kepada pemimpinnya, sang pemimpin yang BENAR.
3. slametwijadi,
— 25 Maret 2009 jam 3:54 pm

ada adagium yang menyatakan “the society get a leader it deserves”. apakah memang “layak” bangsa indonesia mendapatkan pemimpin2 spt sekarang ini? jawaban ada pada kita sendiri. indonesia mempunyai semua syarat2 untuk menjadi bangsa yang besar, makmur dan sejahtera tetapi ibarat diterowongan yang panjang dan gelap, saat ini kita belum melihat sinar cahaya diujung terowongan.betapapun, kita tidak boleh pesimis,semoga satu saat nanti bangsa kita dapat memilih pemimpin2nya yang benar.
4. Unang Muchtar,
— 25 Maret 2009 jam 4:07 pm

Ya Allah, sayatlah di api neraka lidah para pemimpin kami, yang hari-hari ini sedang menebar janji untuk memperbaiki nasib Saudara-saudara kami dari belenggu kemiskinan, kesengsaraan dan kesulitan hidup, sayatlah lidah mereka bila mereka terpilih dan tak menepati janjinya……………..
Engkau maha bijaksana, engkau maha tahu dan jauhkanlah kami dari Pemimpin-pemimpin munafik.
Amin……
5. Ryani,
— 25 Maret 2009 jam 7:52 pm

Seharusnya para pemimpin bangsa ini lebih banyak meluangkan waktunya untuk melihat langsung keadaan rakyatnya. Jangan hanya pandai berteori saja & mengumbarkan kata2 yang mengatasnamakan kepentingan rakyat.
6. abuga,
— 25 Maret 2009 jam 8:05 pm

salam,
saya yakin masih banyak cerita pilu di negeri ini.

ini bisa akibat dari aparat daerah yang hanya berpangku tangan dan membuat laporan abs ‘asal bapak senang’ saja. sudah biasa aparat daerah hanya nunggu jatah dan ngemplang.

sementar pemimpin nasional kalo mau terjun terlalu ribet dengan protokol. pendek kata pemimpin tidak punya gambaran ttg rakyat yang sebenarnya.

hanya satu pertanyaan di hati: apa kira2 yang terpikirkan di benak presiden, gubernur, bupati, dpr jika media memberitakan kisah2 pilu anak negeri ini. di mana peran mereka?? kenapa kisah2 ini selalu ditemukan oleh wartawan bukan dpr yang katanya dekat dengan rakyat?? bukan pemerintah yang katanya pengayom rakyat??

masihkah mereka bisa tertawa, makan enak omong kosong, selingkuh, tidur nyenyak, menilep uang rakyat miskin………. entahlah.
7. Endro,
— 25 Maret 2009 jam 8:20 pm

Mohon maaf, ada satu hal yang bisa dilakukan pak Achmad Subechi. Sepertinya pak SBY meski dikritik kiri kanan masih komit melanjutkan program BLT apabila terpilih jadi presiden lagi.
Mohon maaf lho ya pak Achmad, mungkin anda masih bisa mendatangi pak RT dari Pak Tua. Meskpun bukan Pak RT anda namun apabila didatangi dan dihimbau baik-baik untuk menambahkan nama Pak Tua pada daftar penerima BLT dan pak RT tahu anda wartawan insya Allah beliau tergerak melakukannya. Wassalam.
8. Bambang Darmanto,
— 26 Maret 2009 jam 9:37 am

Saya sendiri heran kalau membaca dan mendengar SBY dengan lantangnya mengatakan bahwa tingkat kemiskinan dan pengangguran telah menurun dibandingkan sebelumnya, padahal dalam keseharian melihat disekitar kita semakin banyak pengemis, pengamen & pengangguran yang berseliweran disepanjang jalan dan di tempat-tempat umum.
Apakah keberhasilan hanya mungkin dinikmati oleh mereka yang dekat dengan kekuasaan ?
9. Fatchurrachman,
— 27 Maret 2009 jam 6:57 am

Tentu saja SBY mengatakan tingkat kemiskinan dan pengangguran turun, karena disekeliling dia kan orang-orang kaya yang meskipun mengemis, tetapi SBY pikir dia bisa dimanfaatkan untuk kumpulin dana kampanye gitu. Lha korban lumpur lapindo yang kepengin ketemu saja dicuekin, tapi dia ga bisa menindak Nirwan Bakrie. Hopo tumon ?
10. sumijan,
— 21 Mei 2009 jam 3:58 pm

Ya, ini satu realitas anomali jiwa dari negeri yang katanya mengusung visi kedilan bagi sosial dan kemakmuran begi seluruh rakyat Indonesia.

Disisi lain, sebagai anak bangsa yang mengedepankan hati empati dan nalar ketika bersikap, jangan sampai lupa mengkalkulasi secara lebih cermat setiap keadaan sebelum bertindak. Dengan begitu energi positif yang hendak kita transpormasikan untuk membela kebenaran itu jangan sampai secara tidak disadari ternyata telah terjebak kedalam wilayah yang kontra pruduktif,di tengah 99% sumber daya dan dana di negeri ini di kuasai oleh para “politikus hitam,pengusaha hitam dan konlomerat hitam”.

Jadi secara itung-itungan ilmu saudagar, syarat utama yang dibutuhkan untuk menolong orang kecil di neri ini adalah dengan cara bersikap premisif terhadap perilaku koruptif kapanpu, dimanapun dan dalam keadaan situasi serta kondisi yang bagaimanapun,pokoknya harus dapet restu kaum koruptif terlebih dahulu.

Dengan begitu pekerjaan menolong orang lain dalam bentuk mengentaskan dari jurang kemiskinan atau apapun masalahnya di jamin menjadi “LEBIH CEPAT DAN LEBIH BAIK”.

Pendeknya, semua itu tergantung ISITAS para pihak yang berkompeten. Urusan pantas atau tidak,nanti dulu.

Cangkem....

Oleh Achmad Subechi - 6 April 2009 - Dibaca 410 Kali -

SEUMUR-umur baru kali ini saya bisa tertawa lepas. Lucu, unik sekaligus geli mendengar cerita dari kawan-kawan lama. Kemarin saya sengaja datang ke Surabaya, sekedar menjenguk ibu saya yang sakit. Sembari menghabiskan waktu, saya cangkruk di tepi jalan, tempat saya kongkow-kongkow ketika muda.

SEORANG tukang becak, rupanya masih ingat dengan wajah dan nama saya. Ngobrol berlanjut ke soal politik. Kata dia, Pemilu 2009 membawa berkah buat wong cilik seperti dirinya. “Berkahnya apa?” “Ya itu…. bagi-bagi duit. Kan yang di atas ngambil uang rakyat. Nah, kita di bawah sekarang dimintai bantuan untuk menyebarkan brosur,” katanya. “Oh… begitu. Trus dapat duit berapa?” “Kemarin saya dapat order dari tangan kanannya caleg. Lalu disuruh menyebarkan 3000 brosur. Saya dapat duit Rp 30.000,” katanya.

Brosur sebanyak itu memakan waktu berapa lama untuk menyebarkannya? “Satu jam saja sudah beres bos..” “Kok cepat amat? Gimana caranya?” “Lha saya kan cukup membagikannya di satu mulut gang saja. Setelah itu sisanya saya buang ke sampah,” tuturnya dengan mimik seakan-akan tak ‘berdosa’.

Lho kenapa dibuang ke tempat sampah. Kan sampean sudah dapat duit? “Begini bos… Sampean tahun singkatannya caleg enggak?” “Caleg? Singkatannya ya calon legislatif. Itu artinya mereka bakal menjsdi wakil rakyat di kursi DPR,” kata saya. “Salah besar bos… Caleg itu singkatannya cangkem legrek (mulut rusak) atau calon ngelek (menelan) uang rakyat..” tuturnya.

Mendapat jawaban itu saya ketawa ngakak. Dasar wong Suroboyo, kota ludruk, kota tempatnya manusia yang kalau bicara blak-blakan tanpa tedeng aling-aling, tanpa basa-basi dan apa adanya. “Kok sampean memberikan singkatan semacam itu? Itu kan nadanya negatif…?” “Lha gimana enggak negatif. Coba perhatikan apakah orang-orang partai itu bersih semuanya. Musim kampanye saja, mereka saling nelan atau memangsa uang milik temannya sendiri,” tambahnya.

Kok bisa? “Lha… setiap kampanye partai apa saja, saya selalu mendaftarkan diri. Cukup dengan KTP, saya dapat Rp 20.000. Padahal dari bosnya, mereka dapat Rp 50.000. Nah untuk itu kita harus jadi raja kadal, jangan mau jadi kadalnya. Ora goblok cak… ” jelasnya.

***

SEORANG pria berbadan besar berhenti tepat di depan saya. Ia masih mengenakan kaos bergambar salah satu partai. “Sampean anggota partai….?” tanya saya. “Bukan… Saya ini manusia bayaran.” Kok manusia bayaran? “Lha kemarin di Surabaya adda tiga partai melakukan kampanye. Malamnya saya daftar pakai KTP. Masing-masing partai memberikan dana Rp 20.000. Istri dan anak, saya daftarkan. Kan lumayan Rp 60.000. Itu baru satu partai. Kalau tiga partai, sudah berapa duitnya. Lumayan buat tambahan penghasilan,” ungkap pria itu.

Trus gimana cara anda membagi waktunya? “Gampang… Setelah dapat kaos dan duit, besoknya kita datang cuman sebentar. Setelah itu kabur, ganti kaos partai lain,” tuturnya. Cerdasss…. Suatu hari dia ditunjuk oleh salah satu koordinator partai agar mencarikan massa sebanyak 25 orang. Masing-masing orang dapat Rp 50.000. “Semua famili saya pinjam KTP-nya. Mereka saya daftarkan. Nah, setelah dapat duit… besoknya saya datang hanya lima orang,”

Lha apa mereka enggak curiga? “Saya sih sempat ditelepon sama sang pemberi order. Trus saya biang, semua massa sudah meluncur ke TKP bos.. Aman… aman.. aman…” Persoalannya sampean kan enggak jujur? “Mas… mau juur gimana. Yang di atas itu lebih tidak jujur lagi. Kita-kita ini kan butuh duit untuk sekolahnya anak-anak, butuh duit untuk makan. Habis pekerjaan saya cuman tukang becak. Mumpung ada kesempatan…”

Seorang rekan lainnya nimbrung ikut berbicara. “Semalam saya bergerilya bawa becak. Kan hari ini semua partai dilarang kampanye. Nah, tadi malam baliho-baliho itu saya embat saja. Lumayan dapat kayu dan kain poster buat bantak atau selimut anak-anak,” tuturnya. Dapat berapa becak? “Kayu? Ya hampir lima becak… Nanti saya jual ke tetangga,” ungkapnya.

Dari cerirta rekan-rekan lama, tawa saya nyaris tak pernah berhenti. Lucu, menggelikan dan aneh. Sejak kapan mereka belajar tidak jujur, sejak kapan mereka mulai berpikir cerdas (pragmatis), sejak kapan mereka belajar oportunis. Saya hanya menyimpulkan, demokrasi terkini, ternyata telah mengajarkan nilai-nilai yang tidak baik kepada wong cilik. Andai wong cilik itu menjadi caleg dan terpilih menjadi anggota dewan, mungkin lebih buruk lagi. Buktinya, ketika amanah menyebarkan brosur diberikan ke pundaknya, eittt.. brosur-brosur itu salah alamat, masuk ke tong sampah. Antara kepentingan pragmatis atau kejengkelan? Hanya hati mereka yang tahu….

Share on Facebook Share on Twitter

10 tanggapan untuk “Cangkem…”

1. Nufransa Wira Sakti,
— 6 April 2009 jam 9:59 am

Hahahah…. ada istilah baru nih Mas Bech. Bahkan rakyat kecilpun sudah mengerti dan tidak percaya lagi. Seandainya ada partai Golput, pasti menjadi pemenang mutlak dari Pemilu kali ini.

-Frans-

Betul Mas Frans… Saya saja yang mendengarkan tertawa ngakak. Dasar kota ludruk… he… he.. he…. Partai Golput? Mungkin lima tahun kedepan akan ada. Dan peminatnya tinggi sekali. Habis para jurkam menjual programnya terlalu normatif. Kedua, masa yang datang di setiap kampanye bukan massa yang benar-benar memiliki loyalitas. Mereka adalah masa bon-bonan seperti yang disampaikan teman saya.
2. Novrita,
— 6 April 2009 jam 12:03 pm

Dari komentar rakyat kecil seperti itu mestinya kita bisa melihat… ada apa dengan demokrasi di negeri ini ? Ada apa dengan perilaku orang yang dianggap bakal mewakili rakyat ?
Kelihatan bahwa sebetulnya pemilu malah lebih sekedar legitimasi bahwa ada yang terpilih.
Rakyat sepertinya sudah tidak peduli siapa yang bakal mengatur negeri ini. Yang pasti rakyat cuma butuh makan dan paling tidak bisa memenuhi kebutuhan dasar hidupnya.

Btw, gimana kondisi ibunya ? Sudah sehat….?

Ya begitulah Nov realitas yang saya potret. Apa yang saya tulis di atas adalah fakta. Wong cilik sebenarnya juga bergembira sih, karena ikut kecipratan duit. Persoalannya, nanti pasca pencoblosan, banyak caleg yang mindring dikejar-kejar hutang. Semoga saja tidak. Itulah konsekuensi dari perjuangan menuju perubahan nasib. Ibu? Alhamdulillah sudah sehat setelah bertemu anaknya. terimakasih Nov.. atas doanya…
3. Budi suharyono,
— 6 April 2009 jam 12:49 pm

Bagi calon Leglesatif agar membaca artikel ini, malu apa tidak ya…….
kalau tidak malu ,apa yang kita harapkan dari calon seperti itu……….. apa yang dikatakan oleh tukang becak itu adalah kenyataan dan itu memeng terjadi dan banyak.
Saya kadang juga judeg sendiri lihat keadaan itu ,….tapi mbuh lah, pusing……….
4. gendoet,
— 6 April 2009 jam 12:55 pm

Caleg = cangkeme legrek…. lucu mas ,,,saya bisa bayangin ekspresi nya tukang becak tsb, karena pernah tinggal di sby 8 tahun, saya ada tambahan mas, CANGGIH = CANGKEME NGGAH NGGIH. Ngerti to mas artinnya!

Siappp bos… Paham alias ngerti kamsudte.. he.. he.. he…..
5. tiwi,
— 6 April 2009 jam 6:47 pm

ha ha ha… perut saya sampai sakit baca postingan mas Bech. Lucu abiss….bahkan rakyat sekelas tukang becak bisa membuat anekdot seperti itu. bener-bener ruarr…biasa republik tercinta ini.

salam.
Tiwi

* Tiwi: Salam balik Mbakk…. Lha sampean saja kepingkel-pingkel, apalagi saya yang mendengar langsung kalimat mereka. Apalagi bahasanya medhok bangettt… he… he… he…. gaya suroboyoann.
6. Ganang Tidarwono Soedirman,
— 6 April 2009 jam 6:48 pm

Hal yang sebenarnya bila diresapi sangat ironis Pak,

Penyakit kejiwaan yang akhirnya menular kebawah. Dulu hanya Pemimpinnya, sekarang sudah berbareng dengan rakyatnya. Rupanya rakyat sekarang ini sudah tidak sanggup lagi untuk jujur terus. Sudah tidak sanggup lagi untuk tidak ikut rakus dan untuk tidak ikut lagi semua penyakit2 kejiwaaan yang ada selama ini. Sudah sangat susah untuk mempertahankan kejujuran, tidak ikut maling dan lain sebagainya. Semakin hari semakin parah. Buah contoh dari perilaku2 sakit jiwa yang ada diatasnya.
7. palawija,
— 6 April 2009 jam 8:32 pm

melimpahnya informasi korupsi, amoral dan kelakuan2 yang tidak baik para caleg maupun pejabat tingkat tinggi ketengah masyarakat menyebabkan rakyat menjadi pesimis dan apatis yah lebih baik cari kesempa tan yang bisa mendatangkan uang entah itu halal atau haram tdk peduli toh banyak yang melakukan itu zaman edan klo tdk ikut edah tdk kebagian…
8. bambang p.s.,
— 6 April 2009 jam 9:58 pm

Mungkin ada bedanya antara yang di atas dan yang di bawah. Yang di atas, berlaku maling untuk suatu kekuasaan (dan akan maling lebih besar lagi). Yang di bawah maling untuk menyambung hidup satu-dua hari ke depan saja. Dalam suatu cerita agama (entah di jaman khalifah siapa yah, mendadak lupa nich), ada rakyat kecil yang (super) miskin mencuri. Di ujung cerita (biar cepet aja langsung ke kesimpulan :-) ) maka ketahuan yang salah bukan rakyat kecil yang mencuri itu tadi tapi si pemimpin pemerintahnya karena kenapa bisa sampai terjadi si rakyat itu sampai tidak bisa makan dan harus mencuri. Jadi dalam konteks ini, yah yang salah ya yang di atas kenapa sampai membiarkan rakyat bisa sampai miskin begitu; jadinya mereka terpaksa meng”akal”li supaya bisa dapet duit banyak (dan diakomodir caleg-nya malah) untuk makan keluarganya.
Ada sisi baik dalam reportase di atas, rakyat kita semakin pandai dan sudah mengetahui perilaku bodoh dan tidak wajar dari para caleg. Ini aset yang bagus yang bisa diarahkan kedepannya untuk suatu pemilu yang fair (tinggal siapa yang mau mengarahkannya).
Dan akhir kata, karena banyak caleg yang akan kehabisan duit setelah pemilu, ada peluang bisnis baru yaitu buka …………………. pegadaian ha….ha….ha….. pasti banyak barang bagus akan digadai untuk dipakai mereka (caleg) bayar utang. salam.

* Bambang: Salam balik Mas… Sukses selalu…
9. Yani,
— 13 April 2009 jam 5:05 pm

Wuah..lucu nih Mas Bech…
Becandanya tukang becak culun untuk Caleg yang Abal-abal….!!!
10. sumijan,
— 21 Mei 2009 jam 3:23 pm

Maliiiiing..! Pencuri ya tetap maliiiiing. Maliiiiing..! Pencuri ya tetap maliiiing! Maliiiing…! Pencuri ya tetap maliiiing!!!

Umumnya Pencuri di Indonesia ini kalau di sebut Maling,mereka tidak terima atau paling tidak mereka jadi sewot dengan sebutan Maling.

Oleh karena itu,para pencuri di negeri ini mengerahkan segenap kekuatanya untuk mengubah cara pandang orang terhadap profesi pencuri. Lalu para pencuri ini dengan kekuatan hulu hilir super masif sitematis melakukann aksi-aksi pembutaan terhadap publik dan cuci otak para agen-agen moralitas di seantero negeri ini,sehingga hasilnya dapat di nikmati oleh para jamaah pencuri hinngga saat ini.

Apa itu hasilnya…?

Hasilnya, proyek transpomasi energi negatif untuk tipu-tipu telah merubah cara pandang orang terhadap kaum pencuri,khususnya terhadap pencuri uang rakyat. Orang sudah menngangap sebutan maling tidak pantas dan tidak etis jika diberlakukan kepada para pejabat,aparat dan konglomerat yang terbukti korupsi.

orang-orang yang telah dicuci otaknya ini mengatakan maling dengan istilah yang sangat premisif di duni permalingan,”mereka bukan maling, tetapi hanya orang yang kebetulan suka mengambil sesuatu yang bukan menjadi hak/miliknya”.

Dimata orang seperti itu,koruptor jelas di fahami sebagai RAHMAT yang harus dijaga dan di bela,dengan sikap ‘APAPUN SYARATNYA”!!!

inilkah yang dikatakan jaman edan, yen ora edan ora keduman.

Terapi Urin

Oleh Achmad Subechi - 6 April 2009 - Dibaca 516 Kali -

UMURNYA sekitar 45 tahun. Badannya agak gemuk. Dulu ketika muda, ia pernah menderita asma. Nah, kemarin ketika bertemu dengan saya, nafasnya saya amati. Seperti ia sudah sembuh total. Padahal pekerjaannya, kuli angkut beras di Pasar Pacarkeling, Surabaya. Apa resepnya?

SAYA masih duduk di beranda rumah, walau hari sudah larut malam. Seorang tukang becak menyapa saya. “Kapan datang? Sampean itu jangan cari uang melulu. Ingat ibu… Ibu sampean sekarang sering sakitt. Kapan lagi membahagiakan orang tua. Masak kalau mati saja baru pulang. Mumpung usianya masih panjang, sering-seringlah pulang ke Surabaya,” pesannya.

Saya terkaget. Wong cilik tak berpebdidikan, ternyata memiliki nilai-nilai yang sekali ucap, maknanya teramat dalam. Saya hanya senyam-senym saja ketika dinasehati teman lama. “Sehatkah?” “Alhamdulillah.. sudah tiga minggu ini saya kembali dsehat. Sebelumnya, saya sering sakit-sakitan. Asma kambuh, ke dokter…. Uang habis, tapi tidak sembuh,” ungkapnya.

Terus pakai obat apa kok bisa sembuh? “Obat luar…” “Maksudnya?” “Ya obat luar… Saya juga baru tahu kalau obat luar itu jos… ” tuturnya. Berapa harga obat luarnya? “Gratis…. dan dijamin cespleng.” Kok gratis? “Iya… gratis… Obat luar ini saya dapatkan dari dokter. Kapan hari saya ke RS Karangmenjangan. Setiap kali kambuh saya berobat ke RS itu. Rupanya dokter ini kasihan sama saya, dia lalu memberikan obat luar.”

Apa nama obat luar itu? “Maafff… ini rahasia… Saya minum air kencing sendiri setiap pagi.” Lho itu yang sampean maksudkan obat luar? “Iya… Waktu itu Pak Dokternya bilang… Kalau mau cepat sembuh… coba minum air kencing setiap pukul 04.30. Ini obat dari luar, kata Pak Doter. Tadinya saya sih enggak percaya. Tapi setelah saya coba meminumnya, ehmm… badan langsung berkeringat, capek-capek hilang dan asma saya alhamdulillah hilang,” kenangnya.

Ah saya kgak percaya? “Lho… coba tanya ke tetangga saya. Kemarin ada ibu-ibu juga mendeerira asma. Saya ajarin supaya minum air kencingnya. E.. dia marah-marah. Masak orang sakit disuruh minum air kencing sendiri. Kamu ini kurang ajar. Untung suaminya sudah saya jelaskan. Besoknya dia mencoba, dan alhamdulillah ibu itu sehat kembali,” ungkapnya.

Sekarang asma sampean tidak kambuh? “Tidak… Kalau dulu disuruh ngangkat satu kuintal beras, ampun deh.. Saya tidak kuat dan nafas saya keluar suara ngik.. ngik.. ngik…. Sekarang disuruh angkut berapa kuintal pun… okey punya. Artinya saya siappp.” Gimana atuh rasanya? “Ya ada sepetnya, kadang asin, kadang pedes.. Huaha… ha.. ha…. Tapi demi kesehatan, saya merem saja kalau minum air kencing. Apalagi lan tidak banyak, cuman beberapa cc saja.” Benarkah air kencing bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit? Itulah jawaban teman saya yang sudah mencobanya… Alhamdulillah, dia kembali pulih dan sehat… Selamat bekerja Cak… cari duit buat besarkan anak-anak…

Share on Facebook Share on Twitter

6 tanggapan untuk “Terapi”

1. Vicky Laurentina,
— 6 April 2009 jam 12:12 pm

Hari ini, ada yang bilang, obatnya minum air kencing sendiri. Besok apa? Minum ingus sendiri?
Ada-ada aja..
2. Novrita,
— 6 April 2009 jam 6:47 pm

Wah..nek aku yo gak mentholo ngombe koyok ngono….
Mungkin cuma sugesti… APa sudah ada pembuktian ilmiah? Karena urine itu kan kotoran yang dihasilkan tubuh yang harus dibuang keluar. Masa sih harus masuk lagi…? Apa iya ibu sampeyan kalo sakit dikasih gitu.. Coba deh tanya istri sampeyan.. yang lebih tahu tentang dunia kedokteran..

* Nov: Apa yang saya tulis di atas sebenarnya bukan soal benar atau tidaknya khasiat dari urine. Tetapi saya menangkap pesan dari abang becak bahwa hidup ini terlalu sulit. Ke dokter, mereka kagak gablek duit. Nah, akhirnya urine pun akhirnya ia jadikan ‘obat’ demi kesehatan mereka…. Maknanya bahwa rakyat kita ini memang belum sejahtera. Coba kalau punya duit, mereka pasti ke dokter spesialis… Betul enggak?
3. ima,
— 8 April 2009 jam 1:52 pm

Kalo kita meyakini sesuatu.. Insya Allah pasti terkabul..sama saja dgn air kencing yg dijadikan obat…
4. shinta setyawati,
— 11 April 2009 jam 8:27 pm

Kalo aku sih berdoa supaya aku selalu diberi kesehatan lahir batin oleh Allah SWT sehingga tidak perlu minum / mencoba obat yang aneh2….yang mungkin bagi sebagian orang (termasuk aku) dianggap tidak rasional.
5. Yani,
— 13 April 2009 jam 4:55 pm

Hal ini bukan pertama kalinya saya dengar. Karna memang ada yang namanya Terapi Urine untuk pengobatan. Yang diminum memang urine yang pertama kali keluar di pagi hari.
Ada juga beberapa orang yang melakoninya dan merasakan khasiatnya.
Berikhtiar untuk kesembuhan sepertinya bukanlah hal yang buruk.
6. sumijan,
— 21 Mei 2009 jam 2:56 pm

Ibuku adalah alasan kehidupanku,itulah yang membuat aku sewaktu kecil sangat patuh,walau disuruh minum air kencing ibuku yang direbus layaknya teh panas. Waktu itu kehidupan ekonomi keluargaku sangat sulit luar biasa,sehingga aku dan adik-adiku terjangkiti penyakit kuning,begitu yang kuingat. Alkhamdulillah aku dan adik-adiku sembuh lantaran minum air kencing rebus ibuku dan kini kami telah beranak-cucu. Itu cerita dulu di tahun 1972,saat sebagian besar penduduk di kota ku (nganjuk) makan ampas ketela pohon,ampas tahu, ketela/singkong.

Teman baiku di kaltim tiga tahun lalu memperlihatkan aksi irasional menurutku, ia adalah seorang kepala bagian laborat di RS ternama di kotaku. Terheran-heran aku dibuatnya, ternyata secara diam-diam ia telah meminum air kencingnya sendiri saben pagi untuk mangatasi penyakit yang ada pada dirinya. Padahal ia orang dengan status sosial mapan,bahkan istrinya bekerja sebagai boss di insytansi perpajakan dan bolak-balik ke luar negeri.

Yang aku tahu,sekarang ia tampak sehat dan bahagia setiap hari,sekali waktu meneleponku minta bertemu dalam suatu acara keluarga. ketika kutanya soal kebiasaannya meminum air kencing tiap pagi,ia pun tertawa lepas terbahak-bahak hingga mengundang perhatian para undangan lain yang hadir. ini bener-bener blog yang bagus dan mendidik empati dan nalar.