Rabu, 21 Agustus 2013

Singapura Penasaran

FENOMENA kepemimpinan Gubernur DKI Jokowi, mendapat sorotan dari dunia internasional. Gebrakan Jokowi dalam menata Jakarta dalam, menuai banyak kejutan. Gebrakan 'blusukan' memotret berbagai macam persoalan di masyarakat, mendapat sanjungan dari ilmuwan dari Singapore University of Technology and Design, Profesor Chan Heng Chee. Wanita itu penasaran dengan cara Gubernur DKI Jakarta menata sebuah kota. Atas dasar itu, ia mengikuti Jokowi blusukan ke Pasar Tanah Abang dan Waduk Pluit, Selasa (20/8/2013) lalu. "Saya berkeliling kota untuk melihat bagaimana pemimpin kota menata kotanya. Bagaimana pendekatan Jokowi di Solo dan Jakarta dapat mengubah kedua kota itu. Terutama dalam perilaku sehari-hari warga dan tata organisasi. Padahal, setahu saya, untuk menata itu sangat sulit," kata wanita tersebut. Chan mengatakan, dirinya memilih Jokowi di Solo dan Jakarta sebagai obyek penelitian karena menganggap aspek-aspek yang mendukung hasil penelitiannya lengkap. Ada pemimpin kota yang memiliki banyak rencana soal menata sebuah kota dan tentunya ada masalah tata kota yang terjadi. Menurut Chan, hasil penelitian berupa pola-pola pendekatan yang dilakukan Jokowi dalam menata kota akan diujicobakan kepada mahasiswa di tempatnya mengajar. Bahkan, akan ada rencana kerja sama antara universitas tersebut dan Jokowi secara langsung. "Saya akan kembali lagi ke Singapura untuk mempelajarinya. Saya berharap kami bisa kerja sama," ujarnya. Chan bersama Duta Besar Singapura untuk Indonesia Anil Kumar Nayar mengikuti Jokowi blusukan ke Pasar Tanah Abang dan Waduk Pluit. Ada pula jurnalis dari New York Times yang meliput kegiatan Jokowi di Waduk Pluit. Jokowi tak keberatan aktivitasnya diikuti oleh tamu-tamu mancanegara tersebut. Gaya kepemimpinan Jokowi yang sederhana, efektif, efisien dan tepat sasaran, belum banyak di copy paste oleh para pemimpin di negeri ini. Ada kecenderungan pemimpin kita selama ini duduk manis di belakang meja, minta dihormati, dihargai, disanjung, dan dikedepankan dalam berbagai hal. Namun kali ini Jokowi mampu membalik logika-logika umum. Kegiatan-kegiatan formil yang biasanya menghabiskan banyak uang negara, ia rubah sesederhana mungkin. Misalnya, pelantikan para walikota dan lain sebagainya. Wajar saja kalau gaya blusukan Jokowi mendapat reaksi postif dari masyarakat karena memang ada hasilnya dan tidak sekedar main tunjuk. Lihat saja gebrakan penggusuran rumah rumah penduduk di waduk Pluit. Hanya dalam waktu beberapa bulan, waduk itu berhasil disulap menjadi taman-taman yang indah dengan jalan-jalan yang masih baru. Rapi, kinclong serta menyenangkan bagi yang melihatnya. Begitu juga gebrakan penataan terhadap para PKL di Pasar Tanah Abang. Kini kawasan itu bebas dari kemacetan dan tak ada protes berlebihan dari para PKL. Padahal dulu, Tanah Abang benar-benar semrawut, rungsep dan sulit ditata lantaran dikuasai para preman. Kenapa Jokowi mampu menyulap kondisi buruk menjadi lebih baik? Kuncinya adalah memimpin dengan hati dan berorientasi kepada rakyat, bukan berorientasi untuk kepentingan pribadi maupun kelompoknya. Kita semua menyadari, masih banyak PR yang harus dikerjakan Jokowi dalam menata Jakarta. Untuk itu ia harus mampu merangkul semua pihak, agar gebrakan yang dilakukan berjalan dengan mulus dan diterima oleh rakyat. Pekerjaan rumah yang masih menumpuk itu diantaranya adalah penataan PKL di kawasan Kebayoran Lama yang juga memakan jalan umum, masih adanya preman atau pemalak di halaman parkir Gelora Bung Karno, peremajaan angkutan umum, menurunkan angka penganguran dan berbagai macam persoalan besar lainnya. Kita semua berharap kedepan akan lahir pemimpin-pemimpin baru ala Jokowi yang merakyat, santun, tak banyak cakap, tapi langsung konkrit dalam menjalankan tugasnya. Sehingga apa yang diinginkan dan diharapkan masyarakat Jakarta, dengan cepat terpenuhi, tak hanya kartu sehat, tetapi pengentasan kemiskinan (mengangkat harkat dan martabat) dan peningkatan SDM, menjadi prioritas utama yang harus direalisasikan. Dengan begitu, Jakarta akan menjadi kota yang benar-benar menjadi rujukan bagi dunia internasional. Semoga....

Senin, 05 Agustus 2013

Kelezatan Rohani

SETELAH menempa diri selama sebulan penuh (berpuasa) di bulan suci Ramadhan, esok kita akan memperbaiki diri dengan manusia lain, merajut benang yang putus, memperbaiki tingkah laku, mau mengakui kesalahan dan gentle dalam meminta maaf. Semua itu demi kelezatan rohani. Ketika jalan menuju kelezatan rohani, tak ada kata lelah, capek, malas, dendam, dengki, syirik, tomak dan lain sebagainya. Kita benar-benar akan memasuki kesadaran hakiki, kesadaran yang dibangun atas inisiatif setelah memahami semua kekurangan dan kelemahan kita sebagai manusia.Kehidupa sejati harus diwarnai oleh kebersihan jiwa, berusaha melakukan sesuatu yang terbaik. Puasa adalah cara manusia mempertinggi keimanan di hadapan Tuhan. Manusia mempunyai akal, nafsu dan roh. Masing-masing memiliki kelezatan. Kelezatan fisik makan dan minum. Itupun menurut medis jangan terlalu mengikuti nafsu, karena akan menimbulkan penyakit. Nafsu pun ada kelezatannya, bahkan bisa menjadikan seseorang lupa makan dan minum karena keasyikannya mengikuti 'permainan' yang merupakan kelezatan nafsu. Tetapi ada juga manusia yang bersedia tidak makan dan minum, bahkan meninggalkan keinginan-keinginan nafsunya karena ingin mendapatkan kelezatan yang lebih tinggi lagi, yaitu kelezatan rohani. Contohnya, mengapa mudik menjadi tradisi? Walau susah payah, capek, melelahkan dan harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit, namun tradisi itu tak pernah surut. Itulah yang dinamakan kelezatan rohani dalam melakukan silahturahmi bertemu dengan handai taulan dan kerabat. Kelezatan rohani adalah kelezatan tertinggi yang mampu mengalahkan kebutuhannya sehari-hari. Apa yang dimaksud silahturahim? Menyambung apa yang putus, memperbaiki hubungan kita dengan manusia lain yang rusak lantaran nafsu (ego). Karena itu pada saat bersilaturahim, sambunglah dan carilah mereka yang pernah kita lukai. Cairkan dan hangatkan kebekuan yang selama ini terjadi. Kelezatan rohani melebihi kelezatan jasmani, kelezatan rohani adalah keluhuran, kelezatan rohani adalah persahabatan yang tak akan pernah habis asal ada niat yang baik dalam hati untuk menjalin tali silaturahim kembali. Esok Hari Raya Idul Fitri telah tiba. Segenap pimpinan dan karyawan Tribun Kaltim mengucapkan: "Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Bathin kepada para relasi redaksi, bisnis dan para pembaca Tribun Kaltim..." Kita sebagai manusia tentu saja penuh dengan kekurangan, kesalahan, kekhilafan baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Karena itu dengan rendah hati, kami meminta maaf yang sebesar-besarnya dan kedepan tali silaturahim ini kita rajut kembali agar kekerabatan antar kita sebagai manusia kembali terjalin dan bercahaya serta mendapat rachmat dari Tuhan Yang Maha Esa.

Kedamaian....

DUA bom meledak di Vihara Ekayana Jalan Mangga II, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Minggu (4/8) pukul 19.00 WIB. Ledakan terjadi ketika sebagian umat sedang melakukan ibadah malam. Akibat dari bom berkekuatan low explosive, tiga orang mengalami luka-luka. Kabareskrim Komjen Sutarman menduga insiden bom yang meledak di vihara Ekayana, Kebon Jeruk merupakan ulah teroris. Namun polisi masih mengusut motif dan kelompok mana yang melakukan aksi teror tersebut. "Pastinya (teroris). Namanya nakutin orang kok," ujar Komjen Sutarman. "Kelompok mana Pak," tanya wartawan. "Masih kita telusuri dari olah TKP. Saat ini pun masih olah TKP," jawab Sutarman. Bom meledak dua kali sekitar pukul 19.00 WIB. Bom pertama yang berada di pintu masuk depan, meledak dengan kekuatan low explosive. Sedangkan bom kedua yang diletakkan di pintu bagian dalam, gagal meledak dan hanya mengeluarkan asap. Terdapat satu korban luka akibat ledakan bom pertama. Ulah teroris yang terjadi beberapa hari menjelang hari Raya Idul Fitri, mendapat kecaman dari berbagai pihak. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah menginstruksikan Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo agar jajaran kepolisian segera mengungkap motif dan menangkap pelaku pemboman Vihara Ekayana. "Selain itu kepada Menkopolhukam beserta Polri harus segera memberikan penjelasan kepada masyarakat agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi," ungkap Jurubicara Presiden Julian A Pasha. Dari peristiwa tersebut kita baru menyadari bahwa gerakan atau aksi terorisme di negeri ini benar-benar nyata walaupun misi atau pesan yang disampaikan para teroris tidak pernah jelas. Kedua, kita sepakat aksi pengemboman adalah perbuatan terkutuk, perbuatan yang dilaknat, perbuatan yang sungguh tidak mulia, perbuatan yang licik dan picik, apalagi menyasar rumah atau tempat ibadah. Ketiga, perbuatan memalukan itu justru terjadi pada saat umat Islam sedang menjalankan ibadah Ramadhan. Untuk itu, kita seluruh bangsa Indonesia turut prihatin dengan aksi teror yang tak bermutu, lantaran hanya mencelakai, membuat resah, melahirkan kecemasan terhadap orang lain. Atas kejadian itu sudah saatnya seluruh rakyat Indonesia merapatkan barisan, membuat komitmen baru bersama aparat keamanan bahwa segala tindakan anarkhis, teror, premanisme dan segala tetek bengek yang meresahkan rakyat, harus ditindak tegas dan tak boleh terjadi di negeri ini. Jangan beri ruang buat mereka yang sengaja menciptakan keresahan, kegelisahan dan keonaran di bumi tercinta yang bernama Indonesia. Sudah cukup tangis tertumpah di tanah negeri ini, sudah cukup luka itu terasa menyakitkan dan menyayat sampai ke ulu hati. Sekali lagi... maru kita ciptakan kedamaian, kita ciptakan kebersamaan, kita ciptakan hubungan yang baik antar manusia dan kita ciptakan kesejukan di tanah peninggalan para leluhur....

Minggu, 04 Agustus 2013

Integritas

MELALUI rapat pleno yang digelar Rabu (31/7) malam, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia memutuskan untuk memulihkan hak konstitusional pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman Suryadi Sumawireja sebagai peserta Pilkada Jatim 2013. Secara bersamaan, KPU RI memberi sanksi peringatan kepada Ketua KPU Provinsi Jawa Timur atas nama Andry Dewanto Ahmad dan merehabilitasi anggota KPU Jawa Timur atas nama Sayekti Suaindiyah. "Sementara tiga komisioner KPU Jatim atas nama Agus Machfud Fauzi, Agung Nugroho dan Nadjib Hamid diberhentikan sementara," ujar Ketua KPU RI Husni Kamil Manik. Selanjutnya untuk menjamin pelaksanaan pilkada di Jatim tetap berjalan, maka KPU RI mengambil alih tugas dan wewenang KPU Provinsi Jawa Timur. Serta tugas dan wewenang KPU Kabupaten/Kota yang tugas dan wewenangnya telah diambil alih oleh KPU Provinsi Jawa Timur.KPU juga akan segera melakukan supervisi kepada anggota KPU Jawa Timur untuk membangun soliditas dan kohesivitas di internal KPU se-Jawa Timur. "Jabatan tiga orang anggota KPU Jatim yang diberhentikan sementara akan dikembalikan setelah surat suara Pilkada Jatim mendapat persetujuan dari semua pasangan calon," jelas Husni. Pasangan Khofifah-Herman digugurkan oleh KPU Jatim sebagai calon gubernur dan wakil gubernur karena persentase dukungan dari partai politik kurang dari 15 persen. Tim pasangan tersebut menduga ada pemalsuan dukungan yang dilakukan pasangan pesaing Soekarwo-Saifullah (Karsa) atas dua partai, yakni Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia (PPNUI) dan Partai Kedaulatan (PK). Sementara baru satu tahun umur Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) berdiri dan bekerja, sudah 81 anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) di daerah yang diberhentikan. Pemberhentian itu disebabkan penyelenggara tidak independen dan berpihak pada salah satu calon peserta pemilu dan pemilihan kepala daerah (pilkada). "Sejak 2012 lalu sudah ada 81 anggota KPU dan Panwaslu di daerah yang diberhentikan. Cukup banyak, termasuk lima anggota KPU Nagekeo, Nusa Tenggara Timur," ujar Juru Bicara sekaligus anggota DKPP, Nur Hidayat Sardini. Selain sanksi pemberhentian, menurutnya, DKPP beberapa kali juga menjatuhkan sanksi pemberhentian sementara atau sekadar pemberhentian kepada penyelenggara pemilu yang terbukti melakukan pelanggaran kode etik. Nur mengatakan, selain penegakan sanksi atas pelanggaran kode etik, pihaknya juga mengupayakan pencegahan pelanggaran. Hal itu, katanya, dilakukan dengan pelaksanaan bimbingan teknik kepada penyelenggara pemilu di daerah. Langkah tegas DKPP itu patut diacungi jempol, manakala penyelenggara pesta demokrasi dianggap sudah tidak lagi profesional, tak memiliki integritas dan tidak independen. Di era sekarang menjaga integritas memang tak semudah membalik telapak tangan. Rayuan maut selalu saja datang. Apalagi eranya adalah era pragmatisme, era yang mengedepankan kepentingan sesaat dan aji mumpung. Sekarang tinggal bagaimana merubah cara berpikir kita. Apakah kita mau diseret ke wilayah pragmatisme atau tidak. Rasa-rasanya terlalu mahal, kalau harkat dan martabat kita sebagai manusia kita 'perjual belikan' hanya untuk kepentingan sesaat semata. Rasa-rasanya tidak elok dan kurang baik, kalau kekuasaan yang kita gengam runtuh hanya karena cara pandang kita yang sempit. Rasa-rasanya kurang bijak dan arif, manakala kita meninggalkan contoh yang tidak baik atau kurang terpuji kepada anak-anak bangsa. Bukankah mereka pewaris negeri ini? Mari kita torehkan nama kita di bumi ini dengan nama yang baik, nama yang memiliki greget karena kita mampu menjaga diri, menjaga integritas dan menjaga harkat dan martabat. Bukan sebaliknya, meninggalkan nama yang buruk atau rekam jejak yang tak patut menjadi contoh, akibat perilaku kita yang tidak terpuji.

Keputusan Sakral

BOLA liar kasus 'korupsi' mengelinding tak terkendali. Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin kembali melempar bola panas. Ia mengungkapkan, ada pejabat negara yang bermain proyek. Tanpa menyebutkan namanya, Nazaruddin hanya memberikan sinyal bahwa pejabat yang dimaksud adalah salah satu wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). "Ya salah satunya ada Wakil ketua DPR yang terlibat sih," ujar Nazaruddin di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Selasa (2/8/2013) lalu. Menurut Nazaruddin, nama pejabat itu sudah pernah ia sebutkan. "Seperti yang saya sebutkan namanya kemarin, itu semuanya nanti akan dibuktikan," katanya. Dia juga tidak menyebutkan nama proyek yang katanya melibatkan Wakil Ketua DPR itu. Hanya, Nazaruddin menyebut nilai proyek tersebut hampir mencapai Rp 6 triliun. "Yang pasti proyeknya saja hampir Rp 6 triliun, tentu bagi-baginya juga ratusan miliar," ungkapnya. Sebelum bicara soal keterlibatan pejabat negara, Nazaruddin kembali menyinggung soal proyek fiktif pengadaan Merpati jenis M 60 serta proyek pengadaan e-KTP yang nilainya sekitar Rp 5,8 triliun. Untuk proyek pengadaan pesawat, Nazaruddin mengaku diperintah seseorang untuk menerima uang. Dia juga mengungkapkan kalau uang proyek Merpati ini tidak hanya diterimanya. Uang hasil korupsi proyek ini, menurut Nazaruddin, juga diterima bendahara partai lain. Pengakuan Nazaruddin membuat miris masyarakat. Kalau tuduhan itu benar, ternyata budaya pat-gupilat dibalik proyek-proyek pemerintah, masih saja mewarnai perjalanan negeri ini. Korupsi seakan sudah mendarah daging dan sulit dihilangkan dari tanah Indonesia lantaran sudah menyeruak ke semua lini. Sungguh menyedihkan, karena para elite telah mempertontonkan keburukan perilakunya. Lalu apa jadinya negeri ini, kalau para pemimpin sudah tak selaras lagi antara ucapan dan perilakunya. Wajar saja kalau selama ini ada kegelisahan di kalangan anak-anak muda. Mereka sudah tak percaya lagi dengan para pemimpinnya. Lebih menggelikan lagi, sepertinya tak ada rasa malu yang terpancar di wajah-wajah para pelaku korupsi. Lihat saja faktanya. Saat mereka dicokok KPK, para koruptor masih bisa tersenyum dan melambaikan tangannya kepada wartawan. Seakan-akan tak ada rasa penyesalan. Jangan-jangan budaya 'tebal muka hati hitam' sudah mewabah di negeri ini? Mari kita semua melakukan introspeksi diri, belajar jujur dan jangan menuruti kata hati (nafsu duniawi) semata. Hijrah adalah cara terbaik untuk memasuki wilayah kesadaran hakiki, agar kita tidak keseleo, tidak terpeleset dan tidak aji mumpung serta silau dengan kekuasaan. Ketika kesadaran hakiki sudah menyentuh kalbu manusia, maka kami yakin hati, pikiran dan jiwanya akan bercahaya dan melahirkan kesejukan (kedamaian) dalam mengarungi dunia ini sebelum perjalanan ini berakhir tanpa bisa kita duga. Eling... dan eling adalah cara terbaik, agar harkat dan martabat keluarga kita terjaga, terlindungi dan menebarkan aroma wangi. Untuk mencapai itu semua, maka mau tidak mau orang terdekat (istri) harus menjadi pionir dalam menegakkan kejujuran dan selalu menjadi 'pengerem' manakala sang suami sudah mulai 'kebablasan' atau melenceng dari rel. Inggat... tidak ada pesta yang tak akan usai. Ketika pesta berakhir, kita akan capek dan lelah. Semoga penyesalan tidak datang terlambat dan ada baiknya kita mulai berbenah diri sebelum keheningan dan kesunyian di sekeliling bumi mendadak datang, lalu menyeret kita ke wilayah yang mencekam sambil menunggu keputusan sakral yang arif dan bijaksana.

Mencari Pemimpin

INDONESIA membutuhkan pemimpin. Pesta demokrasi akan mewarnai perjalanan negeri ini 2014 mendatang. Siapa calon presiden yang layak memimpin bangsa ini? Berbagai cara dilakukan untuk menyeleksi para calon presiden, seperti yang dilakukan Partai Demokrat (PD). Jauh-jauh hari PD memilih menggunakan sistem konvensi untuk menjaring kandidat jagoan untuk diusung dalam Pilpres 2014 mendatang. Ajang ini harus menghasilkan tokoh terbaik termasuk non-parpol terlepas dari unsur elektabilitas yang bersangkutan. "Tentu konvensi PD layak kita dukung. Konvensi menjaring capres yang tak terjaring oleh partai. Konvensi harus punya bobot akademik, yang terbaik. Capresnya lolos atau tidak (dalam seleksi KPU -red) itu urusan nanti," ujar pengamat politik Ray Rangkuti. Namun Ray memberikan masukan buat PD, terkait konvensi yang akan segera digelar. Menurutnya PD selaku penyelenggara juga harus mengumumkan secara transparan mengenai syarat-syarat tokoh yang bisa masuk dalam konvensi. "Karena konvensi ini kan hajat publik, jadi harus ada syarat yang diumumkan ke publik. Seperti tingkat pendidikan atau dukungan organisasi," kata Ray. Ray juga menyarankan PD agar konvensi disertai dengan debat konstruksitf antar kandidat. Hal tersebut diperlukan agar internal PD dan masyarakat bisa benar-benar mengetahui mana capres terbaik. Kita semua sepakat jalan yang ditempuh PD adalah cara terbaik untuk menjaring dan menyeleksi 'jagonya'. Asal mekanisme itu lepas dari KKN atau budaya ewuh pakewuh. Mencari pemimpin gampang-gampang susah. Kadang kita terperangkap pada penampilan fisik (casing) semata, bukan pada kedalaman hati dan pikirannya serta sikap (niat) yang baik untuk memperbaiki negeri ini. Kedua, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tak pernah memikirkan jenis makanannya, bentuk rumahnya dan tak juga memikirkan tempat tidurnya terbuat dari emas atau intan berlian. Dengan melepas tiga elemen itu tadi, maka pemimpin yang terpilih adalah pemimpin yang benar-benar tulus dan ikhlas serta tak berorientasi kepada penumpukan harta benda dan kemewahan. Lihat saja penampilan Jokowi. Pria yang jarang memasukan bajunya itu, tampil apa adanya, sederhana, tidak arogan serta mau makan di emperean PKL (pedagang kaki lima). Penampilan Jokowi bukan penampilan yang dibuat buat. Ia memang dari desa, namun dengan kualitas pemikiran ia berani menggebrak sitem yang normatif. Mulai dari menghilangkan budaya formalistik di jajaran birokrasi, hingga ia berani turun ke bawah (blusukan) menemui rakyatnya. Konon, sudah ada 45 juta KTP yang bakal diserahkan kepada Jokowi sebagai dukungan untuk menjadi capres. Mencari pemimpin seperti Jokowi sebenarnya tidak terlalu rumit. Banyak para pejabat di negeri ini yang sebenarnya humanis, egaliter dan bersahaja. Sayangnya, kursi kekuasaan telah menyilakukan hati dan pikirannya serta sehari-hari sibuk terjebak pada rutinitas semata. Memang, mendekatkan diri ke rakyat tidaklah mudah apalagi kalau kita sudah duduk di atas singasana. Ada rasa cangung. Tetapi kenapa ketika mendekati Pilkada atau Pemilu, para pemimpin mulai membutuhkan rakyatnya dan berusaha mendekat? Lagi-lagi itulah kepentingan, kepentingan yang sempit dan mendekat ke rakyat adalah 'basa-basi'. Kedepan, kita berharap Indonesia benar-benar memiliki pemimpin yang berintegritas, tak mementingkan diri pribadi, dekat degan rakyat, mau merasakan dan mendengar semua masalah yang dihadapi rakyat, mencarikan solusi terbaik dan tidak silau dengan kursi kekuasaan. Dengan begitu, kita berani taruhan, Indonesia yang kaya dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia, akan menjadi moncer (bersinar) di mata dunia. Indonesia akan menjadi negara yang disegani karena rakyat dan pemimpinnya ramah tamah, tidak arogan dan rendah hati dalam memimpin serta memiliki visi yang mulai, visi yang mampu membawa Indonesia menuju pintu gerbang kejayaan. Semoga....

Rabu, 31 Juli 2013

Rindu Kampung

LEBARAN kurang beberapa hari lagi. Budaya mudik akan mewarnai negeri ini. Tarif transportasi melambung tinggi, menyusul kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Lebaran. Budaya setahun sekali bertemu sanak famili, terasa sangat menyenangkan dan membahagiakan. Sayang, ada sebagian masyarakat yang nekat mudik menungang motor. Celakanya lagi, satu kendaraan ditumpangi empat orang (suami, istri dan dua anak) bahkan ada yang sampai lima orang. Nyinyir rasanya melihat para pemudik bermotor. Mengapa? Berdasarkan pengamatan Tribun tiga pekan lalu, kondisi jalan di sepanjang pantura maupun jalur selatan tak semuanya mulus. Masih banyak jalan rusak, berlubang dan tanpa adanya lampu penerangan. Berdasarkan data, jJumlah korban tewas dalam kecelakaan lalu lintas selama mudik-balik Lebaran tahun 2012 mencapai 760 orang. Dari angka itu, 518 korban adalah pengendara sepeda motor. Sedangkan jumlah kecelakaan mencapai 4.333 kejadian. Mengacu peristiwa tahun lalu, pemerintan telah mengimbau masyarakat untuk tidak mudik menggunakan motor, termasuk dengan mengerahkan kapal angkut terbesar milik TNI AL untuk mengangkut pemudik bersama motornya dengan rute Jakarta-Semarang. Tapi ada daya, motor tampaknya tetap menjadi pilihan favorit pemudik dengan berbagai alasan, mulai terbatasnya alat transportasi maupun karena ongkosnya yang murah-meriah. "Memang di jalan itu banyak yang tidak rasional," kata Anggota Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) Tulus Abadi. Perilaku tak rasional dari pengendara sepeda motor ini dijelaskan oleh Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Pol Chrysnanda. Dirinya menerangkan perilaku tak rasional itu seperti pemotor yang terlalu banyak membawa barang dan berkendara lebih dari dua orang. "Untuk membuat rasional, maka harus sadar waktu, keselamatan, keamanan, keuangan, dan lingkungan," ujarnya. Apalagi jumlah pemudik bermotor dari tahun ke tahun semakin meningkat. Tahun lalu mencapai 2,8 juta sepeda motor. Diprediksi, tahun ini akan menjadi 3,03 juta unit sepeda motor. Kita semua berhrap upaya maksimal pemerintah dengan menyediakan berbagai fasilitas angkutan untuk motor mulai dari kapal, truk hingga kereta api, mampu meminimalisir jumlah korban kecelakaan lalu lintas. Kita juga berharap, rindu kampung kali ini harus dipikir secara komprehensif dan mendalam sebelum mudik menggunakan sepeda motor. Nyawa atau keselamatan istri dan anak-anak lebih diutamakan. Ada baiknya, jangan mudik menggunakan sepeda motor kalau jarak tempuhnya mencapai ratusan kilometer. Kedua, jangan mudik mengendarai sepeda motor kalau kapasitasnya melebihi ketentuan yang berlaku. Sebab, berdasarkan pengalaman tahun lalu ada pemudik bermotor yang membawa barang terlalu tinggi dan berlebihan dengan mengikatkan bambu atau kayu di bagian belakang kendaraan. Cara ini, juga membahayakan keselamatan pemudik lainnya bila terjadi kecelakaan. Belum lagi kesiapan fisik anak-anak, terutama balita. Kasihan mereka. Jangan memaksakan diri dan lebih baik berpikir seribu kali daripada maut mengancam keselamatan keluarga anda. Solusi lain untuk mengurangi jumlah pemudik bermotor adalah menurunkan tarif angkutan umum milik negara seperti kereta api, kapal maupun angkutan darat, khusus buat kelas ekonomi. Bagaimanapun juga, angkutan milik negara adalah milik rakyat yang sengaja disediakan negara untuk meringankan beban masyarakat, terutama mereka yang tidak mampu tetapi spirit rindu kampungnya menjelang Lebaran begitu tinggi.

Kentongan Bambu

PENJAHAT bersenpi (senjata api) semakin merajalela. Saat mengeksekusi korbannya, mereka tidak melihat 'merk' (status sosial). Tidak peduli anggota TNI/Polri, para penjahat main tembak seenak udelnya, manakala kepergok korbannya saar melakukan aksi kejahatan. Kasus terbaru menimpa Aipda Patah Satiyono (53), di Jalan Cirendeu Raya, Ciputat, Tangerang Selatan, beberapa waktu lalu. , korban berangkat ke kantornya naik motor menuju kawasan Gambir. Tiba-tiba dari arah belakang, dua penjahat bersepeda motor, melepaskan tembakan. Korban tersungkur bermandikan darah. Nyawa korban berhasil diselamatkan setelah dibawa ke rumah sakit oleh warga setempat. "Kalau dilihat dari peristiwanya, sepertinya pelaku memang sudah merencanakan," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto. Rikwanto mengatakan, pelaku sudah mengetahui siapa yang menjadi targetnya. Bahkan, saat mengendarai motornya menuju ke kantornya, Aipda Patah mengenakan helm bertanda khusus anggota kepolisian. "Itu helmnya kan tulisan POLISI besar dan kelihatan kalau kena lampu, berarti pelaku memang sudah tahu kalau korban adalah polisi," jelasnya. Itu baru satu kasus. Kalau kita lihat di youtube (rekaman CCTV), aksi brutal para pencuri ranmor dan curat (pencurian dengan pemberatan) bersenjata api sangat-sangat miris dan membuat cemas. Para pelaku tak lagi mengenal waktu. Biasanya mereka menjarah pada malam hari, kini aksi mereka cenderung dilakukan pagi hari ketika rumah dalam keadaan kosong atau hanya dijaga pembantu rumah tangga. Paling mengerikan lagi, seperti yang terlihat di tayangan Youtube, para pelaku tak segan segan menembak korbannya dengan senjata api. Lalu apa solusinya? Lebaran tinggal beberapa hari lagi. Aksi kejahatan diperkirakan akan semakin meningkat. Kawasan perumahan atau pemukiman warga akan menjadi sasaran empuk penjahat. Sementara aparat kepolisian tak akan mampu mencover semua perumahan atau pemukiman warga yang ada di negeri ini, menginggat jumlah angggota polisi saat ini sekitar 395.000 orang atau masih jauh dari angka memadai, sekitar 760.000 orang. Berdasarkan jumlah penduduk Indonesia sekitar 230 juta orang, rasio polisi dengan jumlah penduduk saat ini sebesar satu berbanding 580 orang. Mengantisipasi jatuhnya korban akibat tindakan brutal para bandit, sudah saatnya masing-masing kepolisian di daerah daerah membuat semacam petunjuk praktis (buku paduan) yang bisa dibagikan ke warga. Isi buku petunjuk praktis itu macam-macam. Misalnya, apa yang harus dilakukan warga ketika memergoki aksi pencurian di rumahnya, di jalan dan lain sebagainya. Sebab, sampai saat ini masing-masing warga tak memiliki buku panduan langkah-langkah praktis yang perlu dilakukan saat memergoki aksi pencurian. Paling yang dilakukan warga adalah berteriak, "Malinggg...... maling... maling..." saat memergoki penjahat. Nah, ketika aksi itu dilakukan pistol berbicara. "Doooorrrr....." korban tersungkur dan tewas. Lalu bagaimana cara paling efektif? Perlukah ada kentongan bambu di rumah? Kalau perlu, sudah saatnya aparat kepolisian mensosialisasikan dan memotori gerakan siskamling dengan modal kentongan bambu. Cara ini kayaknya rada efektif, dibanding berteriak maling, namun senjata berbicara. Semoga Lebaran tahun ini semua wilayah di republik Indonesia aman dan masyarakat bisa mudik dengan tenang.

Sabtu, 24 November 2012

Letjen TNI Subekti Kirim 100 Ekor Jalak

* Komunitas Pelestarian Alam Bebaskan Burung
BERBAGAI macam cara dilakukan manusia untuk menyelamatkan alam semesta ini dari kehancuran. Kali ini, Komunitas Pelestarian Alam (KPA), melepas 300 ekor burung dari berbagai jenis agar mereka beranak pinak. HALAMAN markas Tribun Kaltim, di Jalan Indrakilla Straat III, Balikpapan, Jumat (23/11) sore mendadak meriah. Ibu-ibu, anak-anak dan para profesional muda terlihat berkumpul di depan kantor Tribun. Diantaranya, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim Achmad Subechi, Manajer Sirkulasi Iskandar, Regional Sales Operational manager XL Kalimantan, Herry Aji Purwanto, wakil dari Ditlantas Polda Kaltim, Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Balikpapan Wahyullah, ustadz Ahmad Rosyidi dan sejumlah anggota Bantuan Darurat (Banda) Indonesia yang dipimpin Albertus Prayudia. Kali ini mereka meresmikan terbentuknya Komunitas Pelestarian Alam yang digagas kalangan profesional. Mereka merasa prihatin dengan rusaknya lingkungan hidup yang terjadi di negeri ini. Salah satu cara yang dilakukan adalah melepas berbagai jenis burung ke alam bebas, agar burung-burung itu beranak pinak sehingga ekosistem alam bisa terjaga. Setidaknya ada 300 ekor burung yang dilepas dari halaman Tribun Kaltim. Jenisnya pun bermacam-macam. Ada burung jalak, parkit, derkuku, kutilang dan berbagai jenis burung lainnya. Burung-burung itu dibeli dari tangan pedagang yang ada di Balikpapan. Bahkan, Rektor Universitas Pertahanan (Unhan) yang pernah menjadi Pangdam VI/Mulawarman Letjen TNI Ir Drs Subekti MSc MPA, bersedia menjadi anggota kehormatan Komunitas Pelestarian Alam. "Walau saya tidak hadir di Balikpapan, hari ini saya akan membelikan 100 ekor burung jalak dan derkuku untuk dilepas, agar keseimbangan alam ini terjaga. Kami mendukung kegiatan komunitas ini," kata Subekti. Menurutnya, kelestarian alam perlu dijaga supaya tidak terjadi bencana di sana-sini. Karena itu, dalam waktu dekat ia akan mengadakan seminar bertemakan, 'Lestarikan hutan dan rumahku'. Tak hanya Subekti saja yang mendukung komunitas ini. Imam Munjiat, Ketua Yayasan Pendidikan Antasari yang juga mantan anggota DPR RI, menyambut baik gebrakan anak-anak muda yang peduli terhadap lingkungan hidup. "Saya sumbangkan sembilan ekor burung jalak dan empat parkit untuk dilepas," katanya. Kompol Didik Hariyanto, anggota Ditlantas Polda Kaltim, tak mau ketinggal. Ia ikut menyumbang 20 ekor burung kutilang dan trucukan untuk dibebaskan ke alam bebas. "Kami mendukung komunitas ini," tuturnya. Sementara dari IAI Balikpapan menyumbang 10 ekor burung parkit dan jalak, disusul XL Kalimantan menyumbangkan 17 ekor burung jalak, Banda Indonesia Balikpapan 20 ekor, dan sisanya dari karyawan Tribun Kaltim. Sebelum dilakukan pelepasan, puluhan anggota komunitas melakukan doa bersama yang dipimpin Ustadz Rosyidi. Menurut Rosyidi, ia sangat mendukung gerakan pelestarian alam seperti yang dilakukan kali ini. Harapannya, burung-burung yang dilepas bisa terbang bebas dan kembali ke habitatnya untuk beranak pinak dan membantu ekosistem alam. "Saya baru bergabung dengan komunitas ini karena kita semua peduli terhadap lingkungan. Agama apapun mengajarkan kita agar peduli pada lingkungan dan menjaga alam semesta dengan baik. Kita tidak dibenarkan merusak alam dan ekosistem. Selain hubungan manusia dengan Tuhan, dan manusia dengan manusia, namun juga harus dirawat hubungan manusia dengan lingkungannya termasuk binatang atau hewan. Jangan dirusak. Semoga komunitas ini bisa menggugah lapisan masyarakat lainnya untuk sama-sama peduli terhadap penyelematan alam ini dan apa yang kami lakukan bisa ditiru manusia lain," tuturnya. Usai berdoa, masing-masing anggota komunitas memegang burung dan melepaskannya ke alam liar disertai tepukan tangan. Sontak, seketika itu juga suasana menjadi ramai manakala melihat burung-burung itu bebas berterbangan. Ketua Komunitas Pelestarian Alam, Achmad Subechi mengatakan, bumi ini harus diselamatkan dari kehancuran. Dengan melepaskan kembai burung-burung ini, maka ekosistem akan terjadi. "Ekosistem adalah tempat terjadinya hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem dapat terjadi secara alamiah dan dapat juga terjadi karena dibuat oleh manusia. Ekosistem menjadi tidak seimbang jika terputusnya rantai makanan. Ketidakseimbangan ekosistem dapat diakibatkan oleh manusia dan juga karena alam itu sendiri. Semoga burung-burung yang kita lepas beranak pinak dan bisa mengisi kehidupan di alam semesta ini." Menurutnya, dari hasil riset, hampir 40-50 persen lingkungan hidup di Indonesia rusak. Untuk memulihkannya, berbagai gerakan penghijauan sudah dilakukan. "Kami sengaja memilih burung, supaya alam semesta ini menjadi merdu oleh kicuan atau nyanyian burung dan mereka bisa berkembang biak. Pernahkah mendengar suara nyanyian alam? Sekali-kali cobalah, dan hati ini terasa damai seakan tidak ada beban," tutur Achmad Subechi yang mengaku setiap pekan melepas dua ekor burung ke alam bebas. Ustadz Rosyidi berharap, gerakan dan kepedulian terhadap lingkungan semacam ini bisa ditiru oleh perusahaan dan pelaku usaha. "Saya berharap seluruh komponen bersatu dan melakukan terobosan untuk menyelamatkan bumi yang sudah tidak hijau lagi. Kita harus terus menggalakkan program kepedulian terhadap alam. Agama sangat menganjurkan kepada kita untuk saling menjaga dan melestarikan bumi ini, jika kita lalai maka bencana akan datang," pesannya. Ketua DPD KNPI Balikpapan, Andi Arief Agung mengapresiasi kegiatan yang dilakukan KPA. Pelepasan burung ke alam liar tersebut bukan hanya untuk menyelamatkan kerusakan alam dan ekosistemnya, melainkan juga mengandung nilai-nilai spritual dan filosofis yang sangat dalam. Bahkan, kemarin Andi Arief mengaku telah melepas 10 ekor burung di rumahnya pada hari sama, karena ia tidak bisa hadir ke kantor Tribun. "Saya sangat bangga dengan kegiatan sosial ini, ini ide yang luar biasa. Selain care terhadap kelestarian alam, anggota komunitas ini juga peduli kepada binatang agar mereka terbang bebas dan kembali ke habitatnya," tandasnya. Kedepulian juga datang dari Herry Aji Purwanto, Regional Sales Operational manager XL Kalimantan. Menurutnya, pihaknya sangat antusias terhadap kegiatan sosial yang peduli terhadap lingkungan. Apalagi, bumi saat ini sudah banyak mengalami kerusakan yang berdampak pada suhu udara dan cuaca yang sulit diprediksi. Bahkan, bencana alam kerap menimpa di sejumlah daerah. "XL turut berperan, karena kelestarian lingkungan menjadi concern (kepedulian) semua masyarakat Indonesia," ujarnya. Hal senada diutarakan anggota Bantuan Darurat (Banda) Indonesia, Albertus Prayudia. Selama ini Banda peduli terhadap kegiatan sosial seperti bencana longsor, banjir dan bencana lainnya. Dengan begitu, Banda mengaku akan mendukung semua kegiatan yang dilakukan KPA. "Kami mendukung dan memberikan apresiasi yang setinggi- tinggi terhadap komunitas ini, termasuk kepada Tribun Kaltim yang memprakarsasi kegiatan ini, termasuk teman- teman pecinta lingkungan. Semuanya ini demi untuk menjaga kelestarian alam. Dengan melestarikan alam maka memperkecil dampak bencana," jelasnya. Wahyullah, Ketua IAI Balikpapan menuturkan, saat ini alam Indonesia semakin rusak parah. Dia mencontohkan, seperti yang terjadi di Kaltim, banyak lahan yang hancur manusia. Bahkan, dia mengaku membaca Tribun Kaltim edisi Jumat (23/11) "Saya sempat membaca di Tribun Kaltim, ada Desa Mulawarman yang terancam lenyap di Kutai Kartanegara akibat penambangan batu bara yang semakin tak terbendung. Ini merupakan bukti nyata bahwa keserakahan semakin merajalela. Bayangkan saja, Kaltim sudah sangat miris kondisinya. Ambil contoh di Kukar yang diberitakan Tribun, dari 700 hektare cuma tersisa 35 persen saja. Entah ke mana ekosistem di dalamnya pergi akibat penjajahan penambangan tersebut," katanya. 'Mengapa tanahku rawan kini.... Bukit-bukit telanjang berdiri. Pohon dan rumput enggan bersemi kembali. Burung-burung pun malu bernyanyi...' itu kata Gombloh, sang penyanyi legendaris lewat lagu berjudul, 'Lestari Alamku....' (fer)

Kamis, 19 Juli 2012

Sabar dan Pemaaf

BEBERAPA pekan lalu musim liburan telah tiba. Seperti biasa, ketika saya pulang dari Balikpapan, anak-anak merengek minta diajak jalan-jalan. Kawasan Puncak, Bogor, menjadi pilihan kami. Murah, meriah, segar dan bisa mengendorkan mata setelah melihat keindahan seantero alam pegunungan. Kami berangkat pagi hari untuk menghindari kemacetan. Berwisata murah meriah ini biasa kami lakukan untuk meningkatkan komunikasi antara saya dengan anak-anak. Maklum, saya bertemu mereka sebulan sekali. Biasanya, selama dalam perjalanan mereka dan istri saya bercerita banyak tentang berbagai macam hal. Mulai dari soal pendidikan, kegiatan istri yang sibuk menjadi pengurus pengajian di kampung, sampai soal masa depan mereka. Rasanya, adem mendengarkan cerita-cerita mereka. Mobil terus melaju ke arah puncak. Kami berhenti di sebuah masjid yang terletak di tepi jalan untuk melaksanakan shalat Jumat. Masjid ini tidak begitu luas, namun para jamaah pada saat itu membludak hingga di tepi jalan raya. Usai shalat, mobil bergerak ke arah Cipanas, Jawa Barat. Di dalam mobil, istri saya meminta berhenti di sebuah masjid untuk shalat dhzuhur, bersama Aina, anak saya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) kelas lima. Sementara saya, Buyung dan Rizal, menunggu di dalam mobil. Sambil bercerita ngalor ngidul, saya menyantap rujak gobet yang kami beli di depan masjid. Setengah jam kemudian, tiba-tiba terdengar suara, "Brakkkk...!" Astaga, mobil saya ditabrak orang. Bagian samping kanan penyok dan lecet-lecet. Mobil itu mundur dan sang pengemudinya tidak melihat spion. Buyung dan Rizal, sontak keluar dari dalam mobil. Dasar anak-anak, ia spontan mendatangi sang sopir, sambil mengetuk-ngetuk kaca jendela. Kedua anak saya terlihat emosi. Darahnya mendidih. Khawatir terjadi apa-apa, saya minta keduanya menepi dan diam di tempat. Seorang pengemudi keluar dari dalam mobil. Rupanya, sang pengemudinya masih remaja. Anak itu bergegas mengecek bodi mobil saya. "Wah ini yang salah si tukang parkirnya," katanya. Mendengar kata-kata itu, Rizal dan Buyung naik pitam. "Lu... gimana sih. Dikau yang salah, lha kok nyalahkan tukang parkir," teriak Rizal. Lagi-lagi saya meminta keduanya diam dan duduk manis. Seorang ibu sedang hamil tua turun dari dalam mobil. "Maaf ya Nak... anak kami tidak sengaja," tuturnya. Tanpa banyak bicara saya persilahkan ibu dan anaknya itu segera masuk ke dalam mobil. "Silakan pergi Buk... enggak apa apa kok Bu...." Mendengar ucapan saya, keduanya meminta maaf. Mobil lalu tancap gas ke arah Jakarta. Usai peristiwa itu, giliran saya yang kena semprot. "Papa gimana sih... mestinya Papa minta ganti rugi dong. Bagaimana pun juga kalau mobil ini dibawa ke bengkel kita mengeluarkan uang Pa," tegur Rizal. Pendapat yang sama juga disampaikan Buyung. "Papa ini terlalu baik sama orang." *** MENGHADAPI cecaran itu saya hanya tersenyum. Dalam hati saya, inilah cara berpikir anak-anak yang melihat persoalan hanya dari satu sudut pandang. Mengapa kita tidak melihat masalah dari berbagai sudut pandang sehingga keputusan yang kita ambil benar-benar komprehensif? "Begini... hidup ini hanya sekali. Okey...! pa yang sudah kalian lakukan kepada orang lain? Kenapa kita tidak berusaha membantu manusia lain untuk membebaskan masalah yang sedang mereka hadapi? Cobalah belajar menjadi manusia yang pemaaf, walau keputusan yang kita ambil tadi kalian nilai konyol. Berapa sih duit yang kita keluarkan untuk membetulkan mobil? Bukan berarti kita sombong. Belajarlah melepaskan beban orang lain..." "Bukan begitu Pa... Biasanya orang akan marah-marah kalau mobilnya ditabrak orang lain. Lha ini Papa aneh... sangat aneh.." tutur Buyung, anak saya yang kini kuliah di Universitas Indonesia. Mendengar argumentasi itu, lagi-lagi saya tersenyum. "Kedua, belajarlah menjadi manusia yang sabar. Sabar itu kuncinya selamat. Kedua, belajarlah menjadi pemaaf. Orang yang mudah memaafkan kesalahan orang lain akan melahirkan kebahagiaan dan keterharuan. Apa yang Papa lakukan adalah contoh. Contoh buat siapa? Buat diri kalian bahwa hidup itu tidak boleh semena-mena, tidak boleh arogan, tidak boleh sombong dan tidak boleh menggencet orang lain walau posisi kita benar." Rupanya, argumentasi saya masih belum bisa diterima nalar mereka. Saat istri saya masuk ke dalam mobil, kedua anak saya melapor. "Papa tuh Ma... mobil ditabrak orang kok kagak mau minta ganti. Orangnya malah disuruh pergi," jelas Rizal. Istri saya hanya berkomentar pendek. "Harta yang kalian miliki ditabrak orang saja sudah marah-marah. Kenapa sih kita tidak bisa menjadi pemaaf dan bermurah hati?" tanya istri saya. Buyung dan Rizal terdiam. Saya tertawa dalam hati, semoga pelajaran hari ini bermakna untuk diri saya, keluarga saya dan orang lain. Selamat merenungkan...!