
* Seruan Damai Indonesia dari Sumenep
Oleh: Putut Prabantoro (Ketua Gerakan Ekayastra Unmada)
BERTEPATAN dengan Hari Valentine, seruan 'Damai Indonesia' dikumandangkan dari Kabupaten Sumenep dalam seminar kebangsaan nasional dengan thema 'Satu Bangsa, Satu Perdamain, Satu Kesejahteraan'.
Acara ini sudah beberapa kali kami adakan. Namanya Gerakan Ekayastra Unmada-Semangat Satu Bangsa (dari wartawan, oleh wartawan, untuk Indonesia) yang bekerja sama dengan Pemda Kabupaten Sumenep.
Saya sedikit terharu. Mengapa? Ada seribu orang lebih menghadiri seminar yang berlangsung di Pendopo Keraton Sumenep, Selasa (14/2.)
Hadir sebagai pembicara adalah KH Salahuddin Wahid (Ketua Gerakan Integritas Nasional), KH A Busyro Karim (Bupati Sumenep), I Gde Pradnyana (Kadiv Humas, Sekuriti dan Formalitas BPMigas), Sunudyantoro (Redaktur Politik Koran Tempo) dan Teguh Santosa (Pemimpin Redaksi Rakyat Merdeka Online yang juga Wasekjen PP Pemuda Muhammadiyah).
Seminar kali ini juga dihadiri para wartawan nasiona dari Jakarta dan Surabaya, dipandu Tri Agung Kristanto (Redaktur Politik dan Hukum Harian KOMPAS) sebagai moderator.
Seminar yang kami adakan dilatarbelakangi dengan banyaknya konflik horizontal dan vertikal di berbagai daerah. Konflik-konflik yang ada bersumber pada perebutan batas wilayah otonomi daerah, perebutan sumber-sumber ekonomi, ketidakadilan, pilkada, sentimen suku pendatang dan suku asli dan lain-lain. Jika konlfik-konflik ini tidak segera diberi perhatian khusus dan diselesaikan, dikhawatirkan frekuensi dan tingkat konflik akan meningkat.
Sejak diberlakukan, otonomi daerah meski dalam bungkus demokrasi secara tidak sadar dan mungkin tidak diakui adalah kembalinya bangsa Indonesia ke masa kerajaan-kerajaan ratusan tahun lalu mengingat pemekaran wilayah menggunakan wilayah kerajaan.
Sebagai akibatnya adalah munculnya sentimen agama, kesukuan, rasial dan perebutan ekonomi. Sebagai akibat lebih lanjut adalah munculnya berbagai konflik di berbagai wilayah Indonesia.
Tercatat terkait dengan konflik perebutan batas wilayah, terdapat 945 kasus dan baru 90 kasus diantaranya bisa diselesaikan. Kasus konflik perbatasan wilayah yang tercatat adalah perebutan Gunung Kelud antara Kabupaten Blitar dan Kabupaten Kediri.
Saya sendiri tidak tahu, apa yang diperebutkan dari Gunung Kelud tersebut? Padahal jaman dulu hingga sekarang, Gunung Kelud termasuk gunung yang berbahaya. Sumber konflik berdasarkan pada perebutan sumber-sumber ekonomi lebih parah dan bahkan menelan korban.
Kasus Freeport -Papua, Bima-Sumbawa, Mesuji-Lampung, Tiaka-Sulawesi Tengah, kasus Kabupaten Rohul vs Kabupaten Kampar yang merebutkan lima sumur minyak yang ada di wilayah itu, kasus Pulau Padang–Kabupaten Meranti, Riau yang menolak kehadiran PT Riau Andalan Pulp & Paper, kasus Muara Badak dan masih banyak kasus lainnya. Sementara kasus terakhir terkait dengan konflik berbau SARA adalah di Kalianda. Lampung antara suku Bali dan suku Lampung.
***
DARI berbagai kasus itu, saya rada miris. Seakan-akan persatuan dan kesatuan Indonesia mulai goyah dan terancam. Karena itu, bangsa Indonesia termasuk para pemimpinnya harus segera disadarkan dengan kondisi yang memperihatinkan semacam ini dan tidak terjebak pada kepentingan sempit semata.
Mengapa kami mengadakan di Sumenep? Semuanya dilatarbelakangi oleh peran daerah tersebut dalam sejarah panjang Indonesia. Tanpa Adipati Aria Wiraraja tidak akan pernah ada Kerajaan Majapahit yang melahirkan Indonesia dan juga tidak ada Gajahmada yang mempunyai ide mempersatukan nusantara meski dengan cara yang berbeda. Karena secara de facto Indonesia sudah kembali ke wilayah kerajaan-kerajaan dulu adalah penting untuk mengambil 'roh' persatuan dari Sumenep dengan Aria Wiraraja menjadi Adipati Pertamanya.
***
ASISTEN Bidang Pemerintahan, Sekda Provinsi Jatim, Ashyar yang hadir mewakili Gubernur Jatim Sukarwo menegaskan bahwa seminar kebangsaan seperti ini adalah penting. Pendekatan penyelesaian konflik secara budaya dan nasionalisme adalah penting mengingat tidak mungkin lagi menggunakan pendekatan keamanan.
Pendekatan budaya dan nasionalisme, jelas Ashyar, karena kemajemukan atau keberagaman merupakan ciri khas yang melekat pada bangsa Indonesia.
Karena itu kemajemukan harus menjadi modal utama dalam membangun mental bangsa dalam mencapai keadilan dan kemakmuran. Meskipun demikian, jika tidak didekati secara bijaksana, kemajemukan dalam beberapa kasus menjadi sumber konflik juga karena masyarakat tidak memahami makna pluralism.
Untuk mengatasinya diperlukan sistem hukum yang harmonis.Pembangunan sistem hukum yang harmonis harus disertai dengan penegakkan hukum yang kuat dengan pijak keadilan.
Media memegang peranan penting dalam membangun komunikasi antara masyarakat dan pemerintah antara suprastruktur dan infrastruktur.
Para pekerja media harus menyadari arti penting posisinya sebagai mediator, penerang bagi masyarakat. "Pers harus mengakomodasi keragaman dan kearifan lokal,” ujar Ashyar.
Bupati Sumenep, KH A Busyro Karim menegaskan bahwa kekayaan bangsa Indonesia adalah keberagaman. Keberagaman atau pluralism itu harus dihargai, dijunjung tinggi oleh bangsa Indonesia karena memang demikian adanya struktur kebangsaan Indonesia.
Pluralisme harus dibangun dengan pemahaman akan sejarah panjang negara Indonesia. Sejarah panjang negara Indonesia menunjukkan bahwa pluralisme menjadi kekuatan. Pembangunan kerajaan Majapahit yang menjadi cikal bakal negara Indonesia juga berdasarkan pluralisme yakni Jawa dan Madura.
"Bahkan di Sumenep sendiri dipengaruhi oleh China, Arab, Eropa, Jawa, Madura. Ini terlihat dari bangunan pendopo Keraton Sumenep tempat penyelenggaraan seminar kebangsaan ini,” ujar Bupati lulusan IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
Bupati Sumenep kembali menegaskan bahwa keberagaman seharusnya tidak menghancurkan, tetapi sumber kebersatuan. Dalam perjalanan sejarah, Sumenep telah menunjukkan sikapnya dalam pluralisme. Sumenep telah memiliki jiwa dan semangat terbukan terhadap kemajemukan. Hal ini bisa dilihat dari menyerukan perdamaian bagi Bangsa Indonesia.
Hendaknya daerah-daerah lain juga menjunjung tinggi pluralisme untuk mengatasi perbedaan dengan melihat nilai pluralisme sebagai kekuatan dan kekayaan bangsa yang harus senantiasa dipelihara dan dijaga.
Sahabat saya KH Salahuddin Wahid juga turut prihatin menyikapi situasi dan kondisi yang ada. Menurutnya, jika ada usulan suksesi sebaiknya dilakukan sesuai dengan kalender politik yang telah disepakati.
"Tahun 2014 adalah kalender politik Indonesia dan gunakan tahun itu untuk melakukan suksesi. Suksesi di tengah jalan adalah tidak mungkin. Hanya orang gila yang mau menumbangkan pemerintah pada saat ini. Biaya sosial tak akan tergantikan jika menumbangkan pemerintah sekarang di tengah-tengah masa pemerintahannya. Biarlah semua berjalan sesuai dengan waktu yang telah disepakati," tandas Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang.
Meskipun demikian, Gus Solah - panggilan akrab KH Salahuddin Wahid menyebutkan, jika kita melihat adanya kekurangan pemerintah saat ini adalah kewajiban kita membantu dengan cara mengkritisi. "Kita semua mencintai negara ini, tetapi harus kritis terhadap pemerintah,"ujarnya.
***
SEMINAR kebangsaan yang kami selenggarakan kali ini menjadi adalah sejarah bagi Sumenep karena pertama kali diadakan dalam skala nasional. Malam sebelumnya, dalam rangkaian kegiatan tersebut diselenggarakan juga pengajian akbar di Sumenep dengan mendengarkan tausiah dari KH Salahuddin Wahid dan dihadiri 2000 orang. (*)