Oleh Achmad Subechi - 31 Mei 2009 - Dibaca 887 Kali -
HARI masih pagi. Seorang sahabat mengingatkan melalui SMS. “Bos… apakah acara masak- memasaknya jadi?” “Okey sipp bos.. Segera meluncur. Saya sudah di kantor nih.” Lima belas menit kemudian Jhony, tiba di ruangan saya. Sasaran pagi ini adalah ke Pasar Buton, Balikpapan. Pasar tak terlalu besar itu terletak di sekitar ring road, Balikpapan, Kalimantan Timur.
Dalam perjalanan, otak mulai berputar, mencari menu yang tepat dan sesuai dengan selera atau lidah teman-teman. Sebelumnya, beberapa hari lalu Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Balikpapan, Nurhadi, bersama sejumlah anggotanya datang ke ruangan kerja saya.
Dari obrolan ringan itu, muncul ide membuat acara masak-memasak. “Boleh… enggak ada masalah. Nanti saya yang akan beli bumbu-bumbunya,” kata saya. “Mas… entar saya sumbang ikan kakap. Biar saya yang beli,” sahut Albertus Prayudha, wartawan Trans 7. Lho siapa yang bisa masak? “Serahkan ke anak-anak saja, Mereka jago sekali kalau soal memasak ikan,” tutur Nurhadi.
Bagi para jurnalis, mencari waktu kosong rasanya sangat sulit sekali. Akhirnya disepakati hari Sabtu (30/5). Sehari menjelang hari H, saya SMS Albert. “Jadi enggak acara masak-memasaknya?” Tak ada jawaban hingga Sabtu pagi. Janji adalah hutang. Saya enggak mau kalau di dalam kubur nanti, saya terbebani hutang. Apalagi hutang kepada wartawan televisi, takut dipancarluaskan melalui mulut (dirasani).
Walau belum ada kepastian, saya bersama Jhony, tetap saja meluncur ke Pasar Buton. Pagi itu, pasar ini rada sepi. Hanya ada beberapa pedagang sayur mayur, penjual kelapa dan buah-buahan. Sasaran pertama adalah membeli minyak goreng, beras kemasan 5 Kg, bawang merah, bawang putih, empon-empon, sayur sawi, tahu tempe dan cabe.
Ketika mobil bergerak menuju rumah kontrakan di kawasan Bhumi Nirwana, tiba-tiba Sumarsono (Redaktur Tribun Kaltim) menghubungi saya. “Jadi enggak Pak masak-masakannya? Saya bersama teman-teman sudah di Bhumi Nirwana?” “Okey… lima menit lagi saya sudah nyampai.” Astaga… rupanya, sejumlah teman-teman dari wartawan televisi sudah cukup lama menunggu saya di sekitar Jalan Athena. Karena mereka tidak tahu rumah saya, mereka nongkrong di tepi jalan. Cukup lama….
***
PINTU rumah baru saja saya buka. Segala tetek bengek hasil belanjaan masuk ke dapur. Tanpa ba.. bi.. bu… lagi, Helman, wartawan Metro TV, Nurhadi (RCTI), Heriyadi (ANTV) dan sejumlah reporter televisi lainnya, segera mengambil peranan. “Wah pisaunya kurang tajam nih. Ini harus diasah…” kata Nurhadi. Sementara Helman, Nurhadi, Heriyadi dan Poniran, sibuk memotong-motong sayur. Ada kacang panjang, jagung, manisa dan lain-lain. “Nih buat sayur asem ya bos…?” “Siappp….” “Nanti saya yang goreng tahunya,” kata Nurhadi.
Tiga plastik tahu dan tempe, sudah dipotong teman-teman dan dicampur dengan bumbu kunyit, bawang putih serta garam. Sreng…. suara wajan terdengar, meramaikan suasana rumah. Tanpa dikomando, beberapa teman lainnya mencuci piring, sendok, dan tempat sayur. “Mana nih Albert?” tanya saya. “Kagak tahu bos… Dari tadi kita kontak belum juga diangkat.”
Sekitar setengah jam kemudian, Albert telepon. “Mas… saya lagi di pasar beli ikan. Teman-teman apa sudah datang?” tanyanya. Sejam kemudian, Albert turun dari mobil. Ditentengnya tas kresek warna hitam berisi ikan kakap dan tongkol. Teman-teman lalu membersihkannya, berikut menyiapkan bumbunya. Nah, saat hendak digoreng, saya ambil botol sprite besar terletak di atas kulkas. Airnya lalu saya tuangkan ke daging ikan segar. Semuanya teriak, termasuk Nurhadi. “Hai… jangan… Nanti kalau beracun bagaimana,” cetusnya.
Saya tertawa ngakak. Yang lain ikutan ngakak. “Lho.. sprite kan mengandung soda. Enggak apa-apa kan?” tanya Poniran. “Eksperimen ya eksperrimen… tapi kalau kemudian terjadi reaksi kimia dan beracun kan bahaya,” guman lainnya. Lagi-lagi saya tertawa ngakak. Melihat saya tak henti-hentinya tertawa, seorang diantara mereka mengambil botol sprite yang saya letakan lagi di atas kulkas. Dibukanya tutup botol, lalu diminum isinya. “Ah… ternyata bukan sprite. Ini air putih biasa ya?” tanyanya. Tawa pun meledak….
Feri Mei Effendi, wartawan Tribun Kaltim, kali ini datang agak tergesa-gesa. Ia menenteng kantong plastik berisi empat kilo kepiting. Melihat kepiting yang masih segar, Heriyadi, segera bertindak. “Sebelum direbus, kulitnya dibersihkan dulu. Apa ada sikat gigi?” pesan Nurhadi. Sambil duduk di sudut pintu belakang, Heriyadi terlihat asyik membersihkan satu persatu kepiting yang siap ‘dieksekusi’. “Ayo dipotret nanti dimasukan ke facebook, biar istrinya di Jawa tahu bahwa dia itu bukan wartawan televisi, tapi pedagang kepiting. Ha… ha… ha….” celoteh rekan-rekannya.
Lelaki yang masih muda itu, tertawa ngakak. Ia tak bergeming dan tetap saja masih sibuk dengan binatang yang kalau digoreng kulitnya berubah warna menjadi merah kekuning-kuningan. Helman, tak mau diam. Sambil mengoreng tahu dan tempe, lelaki itu mengambil cobek. Di atas cobek, terlihat cabe merah, cabe rawit, terasi, gula merah, garam dan tomat. Semua bahan itu lebih dulu digorengnya. Tangan kanannya cukup lincah mempermainkan ulek-ulek. Dalam waktu lima menit, jadilah sambal terasi ala Helman. Tahu tempe yang telah matang, akhirnya menjadi sasaran. Ramai-ramai dicomot, lalu dioleskan ke sambal. “Mantappp….”
Ditengah riuh rendahnya canda itu, datang Kapten TNI Answari Jadi, Kasi Penum Kodam VI Tanjungpura. Antara kami dengan dia sudah saling mengenal. Setiap Sabrtu ia tak pernah absen mengikuti acara masak-memasak semacam ini. Hadir juga, Teddy Rumengan, angggota Millis Kaltim (dimotori Nani Tajriyani) yang tak pernah absen di acara masak memasak. Sayangnya, Teddy kerap datang terlambat karena ia jharus menyelesaikan tugasnya, mengirim berita ke Jakarta.
Biasanya, acara masak-memasak yang digelar setiap hari Sabtu, juga dihadiri oleh beberapa teman yang mempunyai hobi serupa. Misalnya, Corporate Communication Telkomsel Regional Kalimantan, Rina Dwinov dan beberapa stafnya. Tak ketinggalan, anggota Milis Kaltim, para jurnalis di Balikpapan dan Supervisor Marketing Astra Motor Balikpapan, Mario Felix. “To day saya enggak bisa ikut. Soalnya proses closing dan kemungkinannya lembur.” Begitu SMS Mario kepada saya. Bisa jadi Mario agak patah hati, lantaran Sabtu pekan lalu ia mendapat tugas bersama Budi (rekan kantornya) menanak nasi. Sayangnya, berasnya terlalu banyak dan airnya sedikit. Akibatnya, nasinya agak atos (keras). “Kalau matang sih matang bos… Ini tadi kan berasnya rencananya buat nasi goreng. Berhubung tidak jadi membuat nasi goreng, maka nasinya ya seperti ini,” tutur Mario memberi alasan.
Sama dengan Rina Dwinov. “Maaf Pak… Sabtu ini saya enggak bisa gabung. Lagi ada acara seminar di kampus Unmul Samarinda. Salam buat teman-teman ya…” tulis Rina melalui SMS. Biasanya, Rina paling doyan banget kolak labu dan pisang buatan Feri Mei Efendi. Kolak buatan Feri rasanya memang mantap, apalagi ditaburi potongan nangka. Wajar kalau teman-teman berebutan membawa pulang kolak labu.
Kalau Sabtu lalu menunya, rujak cinggur, urap-urap dan ikan teri balado, kali ini menunya benar-benar khas buatan wartawan televisi. Saya biasanya hanya menyediakan makanan ala Minang lainnya. Begitu juga Nani Tajriyani (Kooordinator Milis Kaltim). Pekan lalu, wanita itu bersama sejumlah anggota Milis Kaltim lainnya ikutan sibuk memasak. Kali ini ia tidak datang karena ada acara di Samarinda. “Maaf saya pagi-pagi harus ke Samarinda,” pesannya.
***
JARUM jam menunjukan pukul 13.30. Perut teman-teman mulai keroncongan. Sementara masakan yang sudah matang dan siap disantap, baru ikan pete-pete (semacam ikan teri, tapi agak besar) yang saya beli beberapa hari lalu bersama Kapten TNI Answari Jadi, di kampung nelayan Manggar, Balikpapan.
Ikan pete-pete itu saya goreng, lalu dicampur dengan cabe hijau dan tomat. Sebelumnya, saya siapkan bawang merah yang sudah diiris-iris lalu saya masukan ke dalam wajan. Begitu bawang itu mulai layu maka saya masukan cabe hijau yang sudah diblender ditambah garam secukupnya. Wow… harumnya mantap banget.
Tak tahan mencium bau aroma ikan asin pete-pete sudah siap saji, sejumlah teman-teman segera mengambil piring, lengkap dengan timun segar. Nyam… nyam… nyam… Albertus Prayudha, tetap bertahan. Ia tak terpengaruh, lantaran sejak dari tadi, ia sibuk dengan bumbu kepiting. “Kepiting ini saya namakan, kepting saos edan racikan Albert,” kelakarnya.
Semuanya tertawa. Entah, bumbu apa saja yang ia racik. Yang jelas, kepiting itu ia rebus bersama bumbu-bumbu yang telah diblendernya. “Kalau masak kepiting, jangan dipecah dulu. Nanti cairannya keluar. Dan itu membuat enggak enak,” tutur Nurhadi, sedikit membocorkan resep.
Aroma kepiting buatan Albert benar-benar menusuk hidung. Sementara tiga ekor kepala ikan kakap dan tongkol, dimasukan ke dalam sayur lodeh pakis dan rebung. Sayur lodeh ala Minang itu semakin mantap saja rasanya, setelah isinya dicampur ikan pari dan kepala ikan kakap serta ikan tongkol.
Sekitar pukul 14.30, semua makanan siap disantap. Usai makan-makan, teman-teman tanpa dikomando mengerjakan tugasnya masing-masing. Ada yang cuci piring, ada yang menyapu lantai dan ada yang mengumpulkan sampah-sampah untuk dibuang di tong sampah.
Ketika lagi santai, mendadak muncul tamu lainnya. Diantaranya, Yoyok Setiyono (News Director Info Channel) dan seorang rekannya sekantor, Trinilo Umardini (Redaktur Tribun Kaltim) bersama suaminya, Niko Ruru (wartawan Tribun Kaltim), Drs Andreanus Pamudji R MBA (Ketua Yayasan Kasimo Balikpapan). Ia datang bersama rekannya.
Hari telah sore. Teman-teman sudah saatnya bekerja kembali. Budaya masak-masakan semacam ini pernah ngetrend di tahun 1970-1980 an. Saya masih ingat ketika menetap di Surabaya. Hampir setiap pekan, bocah-bocah kampung patungan membeli seekor ayam untuk dimasak ramai-ramai. Ada kalanya, bagi mereka yang tak punya duit, cukup membawa sekaleng beras atau bumbu dapur. Lewat acara yang ringan tapi berkesan, kekerabatan kembali terjalin ditengah-tengah masyarakat yang kini terjebak ke dalam wilayah individualistik dan hedonis. Beginilah cara kami melepas kepenatan menjelang akhir pekan. Murah meriah dan penuh tawa canda. Siapa mau ikutan? Inilah tren baru di era kuliner….
Share on Facebook Share on Twitter
20 tanggapan untuk “Tren Baru di Era Kuliner”
1. ison,
— 31 Mei 2009 jam 7:30 pm
wah..ngences aku mas..pengen gabung seh…tapi mahal diongkos ya. kl-bpp..hmmmm.
Ison: He… he… he… Digagas dan dicoba saja dengan komunitas sampean. Pasti, menyenangkan dan akan ketagihan lho… kumpul-kumpul sambil bereksperimen.
2. Mas Wiro,
— 31 Mei 2009 jam 8:36 pm
awah makan dengan sambel rada pedes memang enak tenan. Habis makan belajar di http://www.wirosastro.com Pasti passss
Wiro: Ada gandengannya bos… sambalnya dikasih jeruk limau yang telah dipotong-potong (dadu) bersama kulitnya. Kalau dimakan kulitnya terasa nyess banget. Trus disiapkan tempe dan tahu goreng. Wow… sedappp… Kapan nih kita coba?
3. Novrita,
— 1 Juni 2009 jam 1:13 am
Wah… seru ya..kalo acara masak-masak terus habis itu disantapnya rame-rame juag.
Btw, saya mau kasih info nih… Sebetulnya memakai sprite sebagai pengganti air dalam memasak itu gak papa lho. Bisa sedikit sebagai pengempuk daging. Kan ada resep iga bakar cola…
Biasanya sih bukan untuk ikan, tapi untuk ayam atau daging sapi. Coba deh tumis irisan daging sapi pake bumbu bawang putih cincang, blackpepper, garam dan bawang bombay. Terus kalo sudah tercium aromanya tuang sedikit sprite. Tutup sebentar biar empuk dan meresap. Habis itu jika daging dirasa sudah matang, tambahkan irisan paprika. Very simple, tapi cicipi sendiri gimana rasanya….
Novrita:
Tak hanya seru Nov, tapi heboh. he.. hhe.. he.. Terima kasih banyak ya atas resep barunya. Tadinya saya kan berpikirnya beritu. Tapi yang namanya wartawan, apalagi cowok, mereka kan kagak ngerti dunia masak-memasak. Begitu sprite dituangkan, mereka kaget. Okey resepp barunya entar aku coba ya..
4. Vicky Laurentina,
— 1 Juni 2009 jam 8:46 am
Saya juga setuju kalau memasak daging dicampur soda. Rasanya nyes-nyes gimanaa..gitu! Bau soda itu menggiurkan, rasanya nagih dan bikin ceria. Dicobain aja ke ikan, Pak Achmad, siapa tau ada sensasi baru!
Vicky: Siappp… entar gue coba ama teman-teman. kalau enak, nanti gue kabarin ya…
5. viant,
— 1 Juni 2009 jam 9:16 am
mantap..! mas bechi…
Vian: Kapan nih ikut acara masak-memasak?
6. Hery Azwan,
— 1 Juni 2009 jam 9:17 am
Wah, asyik benar nih acaranya. Nanti di Jakarta saya mau buat ah…Ada yang mau ikut?
Hery: Di Jakarta sekarang mulai ngetren Mas. Di kampung-kampung anak-anak muda, patungan beli ayam, beras, bumbu, sayur dan lain-lain. Trus mereka masak di depan rumah. Kegiatan yang positif sekali, ditengah era kuliner, sambil menguji coba resep. Di Surabaya juga mulai ngetren. Kapan nih memulainya?
7. rizal,
— 1 Juni 2009 jam 10:10 am
WOOOOOOOOOOOOOOYYYYYYYYYY Curang bgt, mkn ga ngajak2…Mestinya Di Jakarta Jga kyk gtu dnk……hahahahahahahahahahaahahahahahahahahahahahahahhahahahahahahahaha
ha
Rizal: Entar Nak… Kalau papa pulang, pasti diajak masak-masak dah. Kan papa setiap pulang, selalu masakin Izal. Mo minta dimasakin apa Nak…? Salam buat Ina, Buyung dan mama ya…
8. rizal,
— 1 Juni 2009 jam 10:15 am
WOOOOOY Curang bgt, mkn ga ngajak2…Mestinya Di Jakarta Jga kyk gtu ahahahaha
9. diana,
— 1 Juni 2009 jam 10:57 am
waaaaaaw ennaaak …… bagi dong..
Diana: Gimana ya cara membaginya? Gue kirim via email aja ya…. ha… ha… ha…. (resepnya, maksudnya)
10. Yani,
— 1 Juni 2009 jam 11:31 am
Sebenarnya acara begini lebih pada meningkatkan kekerabatan & menjalin silaturahmi.
Yapi kalo ngumpul2 ga makan2 yaa…gak asyik juga ya !
Tapi aku salut lho…ama lelaki2 tsb, mau bersusah payah turun ke dapur.
Pasti yang jadi istrinya seneng banget, karna bisa ngorder menu..hehehheee.
Temen2 Milis Kaltim siap meramaikan suasana lagi.
Mudah2an bisa punya waktu yang tepat buat masak2an tapi pas jangan mati air deh…
jadi ga pake air di botol sprite (yang isinya emang air putih…huahahaaa..).
Ok Mas Bechi…lanjutkan terus kegiatannya :)
Yani: Siappp… perintah dilaksanakan.
11. nathalia,
— 1 Juni 2009 jam 1:37 pm
mas bechiiiiiiii, makin bikin ngiler ceritanya, apalagi sayur lodeh pakis dgn kepala kakap plus ikan asin, lapeeeer!!!!!!!!!!!
Nathalia: makanya segera dipraktekan dengan teman-teman komunitas, biar kagak ngiler. he… he.. he….
12. sumijansumijan,
— 1 Juni 2009 jam 2:56 pm
TERNYATA TABI’AT MAS ACHAMAD SUBECHI MASIH SEPERTI YANG DULU, CARA DAN SIKAP HIDUPNYA SELALU MENG-INSPIRASI ORANG UNTUK HIDUP MURAH MERIAH NAMUN KAYA FILOSOFIS KEINDAHAN YANG TAK TERLUPAKAN.
Pertama kali saya mengenal dia (Mas Bechi), tiga tahun yang lalu saat saya sedang di ibukota Jakarta bergulat dengan berbagai anomali hukum di negara hukum, koruptor insyaf mendatangi KPK, Kejagung-RI, Mabes Polri, Istana Presiden dll untuk mencari dan mendatangi semua aparat dan pejabat yang katanya bersedia melakukan tindakan hukum terhadap koruptor. Namun para pejabat dan aparat malah terkesan panik dan membuang muka.
Di tengah ironi sikap pejabat dan aparat yang seperti itu, Tuhan membertemukan saya dengan se-orang Jurnalis Pejuang penyuara dan pembela kebenaran, Achmad Subechi. Dengan Motor Yamaha reotnya saya di bonceng kesana-kemari,membangun jaringan perkuatan bersama para aktivis Ibukota Jakarta. Padahal para anak buahnya di Kompas group,mereka rata-rata memakai kendaraan mobil bagus-bagus.
Bagi saya dia Guru, Sahabat dan Kredibilitas, yang akhirnya “bisa” memberi arah konsistensi sikap hidup saya dibidang pemberantasan korupsi di daerah agar survive dan manfa’at serta berkah setiap hari,bahkan Alkhamdulillah.., telah di bobot,di ukur dan di hargai oleh Negara Republik Indonesia. Kini saya bekerja memuliakan Tuhan dan menjadi sangat siap menghadapai tantangan.
Dibalik sederhanaan hidup dan penampilanya yang kurang meyakinkan, tersimpan sumber daya tata pikir,tata batin, tata rasa, tata tindak dan tata sikap yang sungguh-sungguh berfihak habis atas nilai-nilai kemanusiaan,persis seperti yang di kehendaki oleh Tuhan di dalam Kitab Suci-Nya.
Kapan hari, saya sengaja diam-diam menjumpai dia di kantor Tribun Kaltim sekalian menikmati udara bebas di sepanjang perjalanan antara Bontang dan Balikpapan, maklum waktu itu saya baru keluar dari Penjara, akibat balik dilaporkan oleh seorang kepala daerah di kota saya dalam kasus Pencemaran Nama Baik dan Menyerang Kekuasaan Pemerintah.
Sa’at itu Bulan Ramadhan, setengah bulan lamanya saya di kota Balikpapan dan sering melihat, terlibat bekerja secara bersama-sama masak-memasak dengan sesama di rumah itu, rumah kenangan yang setiap menit-nya memberi arti penting dalam suasana kebatinan saya.
Sayur asem-nya yang kadang tak terasa asem, sambal terasi khas ala Achmad Subechi yang tak seberapa pedas, tahu gorengnya yang sering gosong sebelah, bumbu-bumbu yang berantakan sa’at memasak, peralatan memasak serba sederhana yang sangat merepotkan saat digunakan, bahkan sa’at pisau-pisau dapur tak lagi tajam, kami terus saja mempergunakanya, belum lagi kukas sayuran yang penuh sesak dengan berbagai stok bahan masakan yang kapan hari di beli dari pasar Buton.
Terkadang saya geleng-geleng kepala menyaksikan semuanya itu. Maklum saat itu Mas Bechi sedang menjalankan ibadah puasa,sehingga soal citra rasa masakan tak lagi bisa di kendalikan, shingga rasa sayur asemnya malah berasa pedas dan pahit…!.
Dalam hal masak-memasak,ternyata Mas Bechi cukup cekatan dan sangat bercitra rasa masakan khas rumahan. Sambel trasinya, subhanalloh…! toyip….toyib…toyib. Lelaki yang terkadang sangat serius dalam bekjerja ini, sepertinya sangat menikmati kesendirianya hidup jauh dari anak-isteri
Yang tak kalah serunya,saat saya di ajak berbelanja ke pasar dekat rumah kontrakan Mas Bechi, Pasar Buton namanya, saya benar-benar tak habis pikir,bahkan dalam hati marah dan tidak bisa menerima, sebab keberadaan saya di Balikpapan waktu itu untuk tujuan menikmati kebebasan mau bersenang-senang sama dia, e…e..e la dalah, lakok malah di ajak beli bahan-bahan masakan untuk bikin tak-jil Es-Campur sendiri dirumah. Padahal, hampir di sepanjang jalan yang dilewati, aneka makanan dan minuman siap santap di gelar bebas. Dalam hati saya berkata, sabar…sabar…sabar….!
Padahal saya saat itu sedang membawa banyak uang,yang tak mungkin habis untuk makan minum dan bersenang-senang di tempat-tempat ter-hebat di Balikpapan. Uang pemberian para sahabat saya yang terus mendesak saya supaya sekali-kali menghibur diri sendiri.
Lalu saya pilih ke Balikpapan sendirian, sebab isteri saya sibuk berjibaku dengan warung Es Campur n Empek-Empek yang semakin hari semakin laris manis. Maklum kami hidup berjualan seperti itu hingga saat ini sudah 25 tahun lamanya. Sehingga tidak adil rasanya jika sekali-kali dalam hidup saya, saya membahagiakan diri dengan cara pelesiran ke Balikpapan, begitalah awal cerita sebenarnya.
Tetapi yang namanya sumijan itu ternyata tetap saja sumijan, tidak bisa jauh-jauh dari tabi’at aslinya,sebagai orang biasa. Dan akhirnya di Balikpapan ketemu orang yang ternyata malah bertipologikan moyangnya “orang biasa”, cocok…cok…cok…..cok!
Wal-hasil bukanya suasana Kemewahan Hotel berbintang atau Kemeriahan pesta-pora di restauran,cafe, mall atau tempat-tempat faforit, tetapi malah berjibaku dengan mengupas buah Nenas, Pepaya, Nangka dll dengan menggunakan peralatan serba sederhada, bahkan pisaunya-pun sangat tumpul sebab hanya di gesek-gesek di lantai semen kalau mau di pakai.
Ampun…ampun, pokoknya ampun..!, ternyata ini lebih sengsara dari apa yang pernah saya alami di dalam pennnnjaaaaaara!!!
Pendeknya semua bayangan indah memukau yang serba istimewa dan luar biasa di awal keberankatan saya, menjadi sirna di depan nanas mentah dan pisu tumpul yang sangat menjengkelkan.
Begitu cerita aslinya, hampir setiap hari menjelang berbuka puasa.
Sampai akhirnya ketika saya selesai Sholat bergantian di rumah itu, di dalam do’a dan suasana batin saya, tiba-tiba merasakan adanya aura ketenteraman dan kenyamanan luarbiasa selama saya ber-aktivitas masak-memasak bersama Mas Bechi dan teman-temanya. Sikap saling memperhatikan dan menghormatinya,saling menjaga persasaan dan melindunginya, sungguh seperti kewalitas persaudaran sedarah dan dalam rumah tangga yang saya impi-impikan.
Mas Bechi, di mata saya adalah tipologi orang yang ” selalu memiliki stok kemampuan untuk berbagi kredibilitas dengan cara-cara yang terkadang hanya bisa difahami oleh nalar, hati dan empati yang hidup”, unik,awut-awutan tetapi kadang sangat serius dan menyenangkan.
Dibalik sederhanaan hidup dan penampilan pria itu, tersimpan sumber daya tata pikir,tata batin, tata rasa, tata tindak dan tata sikap yang sungguh-sungguh berfihak habis atas nilai-nilai kemanusiaan,persis seperti yang di kehendaki oleh Tuhan di dalam Kitab Suci-Nya.
Ternyata dibalik “Kerja Masak-Memasak Secara Bersama-sama dengan Sesama yang awalnya tidak saya sukai itu, menyimpan nilai pembelajaran kekuatan super dan hikmah kebersamaan lahir-batin.
Sepulang dari Balikpapan,saya langsung bersikap layaknya pendekar yang baru turun gunung pertapaan,”saya praktis menghabiskan waktu dan uang saya untuk memuliakan keluarga dengan menerapkan secara persis prinsip-prinsip hidup yang saya peroleh dari pengalaman yang awalnya menjengkelkan, “masak memasak bersama Mas Bechi di rumah itu”.
Saya pun kini kembali aktif menyuarakan dan membela kebenaran, melawan korupsi dengan sangat tegas,berani,mandiri dan tak kenal ampun.
Terimaksih Mas Bechi, semoga semua makhluq melata yang ada di rumah itu bersama para Malaikatnya Alloh SWT akan mencatat semua amal kebaikan itu. Amiin.
Salam integritas tiada henti (sumijan&keluarga)
Sumijan:
Kelihatan sepele. Acaranya hanya masak-memasak. Padahal, dalam proses itu, manusia akan menemukan berbagai macam hikmah. Diantaranya, ada segudang nilai-nilai terpendam yang tak semua orang mau memahaminya. Misalnya, saat mengupas bawang, kunyit, jahe dan lain-lain, saya kerap bertanya dalam hati, “Betapa besar Keagungan Tuhan dalam menciptakan tanaman itu. Kedua, saya juga selalu bertanya, siapa sih manusia yang telah menanam kunyit, jahe, bawang dan bumbu-bumbi dapur lainnya yang saat ini ada di depan saya? Dimanakah para petani-petani itu berada? Lalu ditanam di tanah yang sebelah mana? Kemudian, iapa yang membawa bumbu-bumbu itu dari desa menuju ke kota?”
Prosesnya teramat panjang. Dari benih, tumbuh menjadi tanaman, lalu dipanen dan kemudian melibatkan manusia lainnya untuk dijual ke kota. Kadang, manusia tak menyadari bahwa ada proses panjang dan rumit sebelum bumbu-bumbu itu nyampai ke rumah kita. Dan untuk membeli bumbu-bumbu itui, pasti saya mengeluarkan tenaga, waktu dan uang. Untuk mendapatkan uang, saya harus bekerja dengan baik dan benar serta tak mengenal waktu. Sebaliknya, bukan hanya dengan ongkang-ongkang kaki tanpa mengeluarkan keringat, tapi duitnya banyak, rumahnya mewah dan semua kebutuhan duniawi terpenuhi.
Dengan memahami filosofi itu, maka manusia mau menghormati dan menghargai secuil makanan yang ada di depannya. Selama ini kerap kali kita melihat di warung-warung atau restoran, begitu makanan yang disajikan tidak enak, kita dengan mudah menelantarkan makanan itu. Padahal, makanan itu bisa tersaji di depan meja, melibatkan banyak orang. Bukan hanya seorang bini atau pembantu rumah tangga saja. Mereka yang terlibat, sama-sama mengeluarkan keringat dan berangkat dari keikhlasan, memasakan makanan buat manusia lain. Suapay apa? Supaya panjang umur dan lain-lain…
Itu baru satu nilai Mas Sumijan. Nilai -nilai lainnya, silakan datang lagi ke Balikpapan, dan temukan sendiri maknanya. Salam buat keluarga. Semoga putra tertua segera lulus sarjana, walau bapaknya penjual es campur.
13. sumijansumijan,
— 1 Juni 2009 jam 3:40 pm
Alkhamdulillah, saya dengan sangat mudah dan murah bisa menikmati berbagai menu masakan khas bumbu desa di RT saya.
Kami berpatungan Rp. 5000,-/orang dan ke-esokan harinya saya sudah di antari sambal kacang/sambal pecel satu mangkok, sungguh luar biasa lezat,nikmat,sehat,mudah murah meriah dalam suasana kekerabatan antar warga yang sangat kental. Kehidupan kami di wilayah RT 14 Kelurahan Berbas Pantai Bontang Selatan sekarang menjadi sangat menyaudara.
Kapan hari, masak bubur manado,ikan asin sambal terasi.
Ikan Bakar, kebetulan ada seorang warga yang gemar memancing tetapi tidak untuk di jual, melainkan hanya hoby, hasil tangkapan yang diperoleh kadang sangat banyak, kalau sudah begitu warga sudah langsung action tanpa di komando ber-inisiatif untuk bekerja sama masak nasi dan bakar ikan untuk dimakan bersama-sama.
Yang demikian itu semakin sering dilakukan, entah karena ketagihan nikmatnya rasa komunitas outentik atau karena apa saya belum bertanya-tanyapada mereka. Yang jelas semenjak ada kebiasaan seperti itu,warga di lingkungan RT saya semakin guyub rukun dan bersatupadu ,utamanya saat ada ada kegiatan sosial ataupun hal-hal penting yang menyentuh kepekaan sosial.
Saya sendiri,sekarang setiap hari menjadi sangat serius membantu isteri saya memasak di dapur.
Ini fakta dan realita, di kampung saya sekarang.
Sumijan:
thanks atas komentarnya. Ternyata, sampean sudah menemukan nilai-nilai atau filosofis dibalik acara masak-memasak. Semoga bermanfaat buat diri sendiri, keluarga dan orang lain. Salam buat keluarga.
14. sumijansumijan,
— 1 Juni 2009 jam 10:35 pm
Benar Mas Bechi, kadang kita ini terhadap diri kita sendiri saja rasa-rasanya kok, kurang adil.
Beban persoalan yang seharusnya tanggungjawab psikologis, kadang tanpa kenal belas kasihan langsung saja kita timpakan pada fisik kita, akibatnya fisik kita yang tadinya sehat segar-bugar,e..e…kontan jadi gotongan dan di larikan ke rumah sakit.
Kalau “melihat” orang-orang yang hidup di pegunungan Cina umurnya panjang-panjang, mungkin karena mereka “bisa berbicara dan saling sapa” dengan berbagai tumbuh-tumbuhan di sekitarnya.
Kira-kira apakah itu ya, yang membuat orang Cina lebih brilyan dalam hal menjadi orang pertama yang menemukan kasiat penting dari berbagai bagian tumbuh-tumbuhan sebagai bahan ramuan obat-obatan herbal dsb..dsb….
Mungkin semua tanaman hutan di negeri Cina kalau waktu pagi,siang dan malam suka berbicara pada orang-orang untuk membocorkan bermacam-macam rahasia mengenai manfaat akar,batang,daun,kulit,bunga,buah dan biji dan semua yang ada pada diri para pepohonan di sana.
Enaknya.., andai saya jadi Nabi sulaiman,bisa bicara dengan berbagai makhluq melata,reftil dsb..dsb…
Enaknya…, andai saya juga bisa berbicara dan saling sapa dengan tumbuh-tumbuhan, seperti mereka,oh… alangkah damainya jiwa ini.
Mas Bechi, masih ada stok ilmu yang bikin orang bisa bicara dengan pohon…?
Kalau masih ada,saya tak ke balikpapan,boleh kan,ya…?
15. viant,
— 2 Juni 2009 jam 8:27 am
wah… ngajak nih mas bechi…, thank’s banget nih.. hehehehe..
Viant: Siappp….
16. xixi,
— 3 Juni 2009 jam 4:02 am
di saat setiap orang sibuk membicarakan peserta pemilu, ataupun ttg petaka manohara, masih ada yg sempat menuliskan sesuatu yg memberikan banyak penghiburan seperti tulisan anda diatas, walaupun anda jurnalist kawakan…
Aaiihhh… berapa banyak jurnalist yg bisa membawakan hal kecil dalam hidup menjadi sesuatu yg lebih penting dr pada issue issue panas yg lagi membara…?
saya bukan seorang yg pintar masak, akan tetapi saya juga sangat senang kumpul dgn temen hanya untuk masak masak… membaca tulisan anda, terbayang sudah keinginan untuk ngundang temen temen lagi, untuk melakukan yg seperti anda tulis… masak masak…
xixi: semoga bisa menginspirasi teman-teman lain. Salam balik dari saya…
Terima kasih untuk selingannya ini mas Achmad… salam
17. syaifuddin sayuti,
— 3 Juni 2009 jam 12:37 pm
mas bechi, menarik sekali kegiatan masak-memasaknya. saya iri melihat keguyupan, pertemanan yang kuat, dan kerja sama yang apik diantara jurnalis di balikpapan. thx sudah sharing hal kecil yang menarik ini. sometimes kalau ke balikpapan, boleh ya mampir. hehehe….salam kompasiana.
syaifuddin sayuti: Salam kompasiana juga. Dengan senang hati Mas… mampir ke Balikpapan. Saya berkantor di Tribun Kaltim. Kami tunggu kedatangannya….
18. ANSWARI JADI,
— 3 Juni 2009 jam 1:54 pm
lanjutkan perjuangan, masih ada yang laen mas pemburu madu ha ha ha
trims ragah
Answari: Siappp Mas… Gue balik dulu ke Jakarta. Sepulang dari jakarta saja ya… kita memburu madu, ikan dan kemudian masak-memasak lagi. Salam buat teman-teman di Kodam VI Tanjungpura.
19. WONG NDABLEK,
— 5 Juni 2009 jam 6:26 pm
Asik niy acaranya Pak Bechi, cuma sayang, alergiku lagi kambuh, jadi ikan or kepiting yang dah pasrah buat disantap, ga aku sentuh - sentuh…besok2 bikin barbeque party aja ya Pak hehehe…
–Wong Ndablek–
Woong Ndablek: Seep… boleh dicoba… alergi? Tabrak aja atuh… Entar kalau kambuh biar dipotret teman-teman.. ha… ha… ha…
20. WONG NDABLEK,
— 5 Juni 2009 jam 6:35 pm
Ada yg lupa, kl kmrn ikan dcampur sprite, nti kita buat ayam cola alias ayam yg dmasak dengan kuah coca cola, dah pernah nyoba?
–Wong Ndablek–
Wong Ndablek:
Wah kalau itu mah, gue belum pernah nyoba. Gimana ya rasanya? Nah kalau ayam direbus dengan air kelapa plus ditambah bumbu dan sedikit gula merah, gue udah nyoba Hasilnya, warna ayamnya ketika digoreng, mirip kayak ayam yang dijual di Mbok Berek. Okey sipp.. entar kapan-kapan kita coba ya. Thanks atas masukannya.
kirim komentar
Nama (wajib)
Email (tidak akan dipublikasikan) (wajib)
Website