
* Dibalik Keindahan Menjelajah Pulau Maratua (6)
LAPORAN
-----------------
ACHMAD SUBECHI
M WIKAN
BASIR DAUD
------------------
MASIH menurut Basir Daud, malam itu ombak lautan semakin membesar. Speed boat yang mereka tumpangi kesulitan untuk mencari dermaga yang dekat dengan tempat penginapan di Pulau Derawan.
SETELAH berputar-putar mengelilingi pulau, dengan susah payah, sang motoris menemukan lokasi yang paling baik untuk memarkirkan speed boat dalam kondisi cuaca yang kurang bersahabat.
"Saya dan Arif bergegas menuju penginapan. Angin kencang kian terasa saat kami menyusuri jalan dari dermaga menuju penginapan. Arif memutuskan, kita harus menginap malam ini karena tak mungkin kembali ke Maratua," kenang Basir.
Sambil mengisi baterai, Basir lagi-lagi mencoba mengakses internet dengan modem sebelumnya. Sayang, sinyal internet di penginapan tidak sama dengan tempat di tengah laut, tempat ia mengirim file melalui email.
"Kami mencoba mengakses jaringan di teras penginapan, tapi hasilnya tetap sama. Akhirnya, kami memilih memanfaatkan kekuatan jaringan yang ada. Kami baru memastikan berkas kedua dengan kapasitas 2 MB baru terkirim setelah bangun pagi."
***
ESOKNYA ketika Basir dan Arif sudah merapat ke Maratua, kami berencana akan meninggalkan pulau itu menuju Berau, sekitar pukul 14.00 Wita.
Masing-masing teman sudah berkemas-kemas, tinggal angkat kopor menuju dermaga Paradise Resort Maratua. Sebuah speed boat yang kami sewa dari Derawan dan sudah sehari semalam berada di Maratua, tak berani mendekati dermaga. Ombak kian ganas, disertai terpaan angin yang begitu kencang.
Sambil menunggu ombak tak lagi bergulung-gulung, kami sempatkan diri ngobrol di restoran Maratua. Beberapa rekan lainnya, terlihat saling bercanda dan ada juga yang melamun.
Saya sendiri, tengah asyik ngobrol berdua bersama Arif. Nah, saat itulah tiba-tiba sebuah asbak rokok yang ada di meja kami, mendadak pecah, terbelah menjadi dua. Hah?
Padahal, asbak itu cukup besar dan terbuat dari kaca. "Mas... apa ini maknanya?" tanya Arif. "Waduh... saya tidak tahu Rif...Lupakan saja..."
Dua jam kemudian, saya ikut nimbrung di meja teman-teman wartawan nasional. Ketika asyik bercanda, gelas minum yang terbuat dari kaca, tiba-tiba retak. Waduh, sebuah firasat atau? Entahlah....
"Kalau sampai jam 17.00 ombak masih seperti ini, lebih baik kita menginap lagi di sini. Cuacanya sangat tidak memungkinkan dan berbahaya," kata Arif.
***
SEKITAR pukul 17.30, speed boat berhasil merapat di dermaga. Ketika kami hendak naik ke dalam speed boat, seorang PNS, guru SD di Maratua, ikut menumpang. Pria setengah baya itu berniat ke Berau untuk mengambil gaji.
Ketika masuk ke dalam speed boat, saya sodorkan sebuah jaket pelampung. Tapi ditolaknya. "Saya sudah terbiasa begini," katanya.
Beberapa rekan kami hanya geleng-geleng kepala. Nama pria itu Sulaiman. Ia memilih duduk di buritan.
Speed boat tancap gas menjelang mahgrib. Deburan ombak yang semakin kencang mulai terasa menghantam bodi speed. Saya duduk di tak jauh dari sang motoris.
Rombongan kami lainnya, M Wikan, Basir Daud, Fadli (Tribun Kaltim), Inne Nathalia, Haris Tan (Kompas TV), Amanda Valani, Pops Popovsky (Metro TV), serta Indra Harsaputra (Jakarta Post), mulai terlihat cemas.
Baru beberapa menit speed boat berjalan, lautan terlihat gelap dan hanya bisa dilihat melalui sorot lamu speed boat yang tak begitu terang.
Guncangan semakin terasa. Beberapa rekan, mulai terlihat mual-mual. Bahkan, saya sendiri terpaksa meminta antimo kepada Indra Harsaputra.
Sulaiman, sang guru SD yang sedari tadi berdiri di belakang speed boat, mulai meminta jaket pelampung. Setelah itu, ia tak lagi berdiri, melainkan duduk sambil mulutnya komat-kamit. Rekan-rekan kami lainnya juga melakukan hal yang sama. Wajah mereka mulai pucat. Bahkan, M Wikan, menarik diri untuk duduk di belakang setelah ia melihat ombak tingginya sekitar dua meter di atas speed boat. Saya pun harap-harap cemas. Doa mulai dipanjatkan.
Tiba-tiba, air laut masuk ke delam speed boat melalui kabin atas. Barang-barang bawaan kami basah. Saya amati wajah sang motoris. Ehmm... ternyata pria itu juga mulai ketakutan. Lebih-lebh setelah air laut berkali-kali membasahi tubuhnya dari atas. Ditengah hantaman gelombang, saya bertanya kepada sang motoris. "Derawan masih jauh?" "Masih...."
Ditengah keheningan itulah, tiba-tiba sang motoris berteriak. "Mati kita...." bersamaan dengan masuknya air laut ke dalam speed boat. Kata-kata, itu makin acap terdengar.
Seketika itu juga saya dekati sang motoris. "Daripada kita semua mati, kita balik saya ke Pulau Maratua." "Okey.. Pak.." Teman-teman merasa plong alias lega begitu mengetahui speed boat balik kanan. Setelah lebih dari 15 menit, kami melihat kerlap-kerlip lampu pulau dari kejauhan. "Sssstt... itu Maratua. Tak lama lagi kita nyampai," bisik saya kepada Indra Harsaputra, wartawan Jakarta Post yang tak bisa berenang seperti saya.
Begitu merapat di dermaga Paradise Resort Maratua, hati kami menjadi lega. Para karyawan resort kembali menyambut kami dengan gembira.
"Kalau perjalanan tadi kita teruskan, kita semua bisa tenggelam. Ombaknya begitu besar," kata sang motoris. Alamaakkkkkkkkk.... bisa mati dong! (dtc)
0 komentar:
Poskan Komentar