Selasa, 06 Desember 2011

Garis tangan



RASANYA saya sedikit asing dengan nomer SMS yang masuk ke handphone, Senin (5/12/2011) kemarin sore. Dalam SMS itu, dikabarkan bahwa pemain tim nasional Indonesia U-23, Andik Vermansyah adalah keponakannya. "Dia masih famili dengan saya," tulisnya.

Di bawah tulisan itu tertera namanya, Yono, Bronggalan, teman lamamu. Karena saya masih sibuk, maka SMS itu saya abaikan. Ketika sedang nyantai, lagi-lagi isi SMS itu saya baca. "Yono.... Yono yang mana ya? Oh jangan-jangan dia adalah teman saya ketika masih kecil yang sama-sama suka main bola," pikir saya dalam hati.

Dulu, ketika masih bocah, rumah Yono hanya berjarak satu rumah dengan rumah kami. Ayahnya, bekerja sebagai tukang becak. Anaknya kalau enggak salah ehm... sekitar lima orang. Semuanya masih kecil-kecil.

Karena tergolong tidak mampu, Yono hanya bisa menamatkan sekolah di bangku kelas tiga SD. Biasanya sepulang sekolah, kami selalu bermain sepak bola di tanah kosong yang kanan kirinya sawah. Saya akui, Yono memang lincah. Tendangannya pun okey. Bola yang kami pakai pun bola plastik.

Kalau sudah main bola, biasanya kami pulang mendekati magrib. Kawan-kawan yang ikut bermain, jumlahnya makin sore makin banyak. Pendek kata, setiap hari tidak ada waktu untuk tidak bermain bola. Rasanya nikmat, bisa tertawa cengigisan dan badan menjadi sehat pula.
Waktu terus berjalan. Ketika menginjak bangku SMP, saya mulai ikut klub sepak bola. Namanya Poris. Latihannya di Lapangan PJKA, Surabaya.

Bertahun-tahun kami berlatih. Dari situ saya pindah ke klub Suryanaga, setelah menginjak SMA. Lapangan tempat berlatihnya di lapangan KKO (Kestarian Gubeng). Di Suryanaga, ada beberapa pemain yang akhirnya namanya melejit diantaranya Joko Malis, Rudy Kelces dan lain-lain. Pelatihnya, Om Pang. Kebetulan, di kampung kami ada dua pemain sepak bola ternama. Namanya Ketip Suripno dan Riono Asnan, keduanya dulu adalah pemain Niac Mitra. Kadang, kami berlari-lari bersama dan berlatih main bola bersama mereka. Juga ada Slamet, pemain Mercu Buana Medan. Dari merekalah kami berlatih sepak bola.

Nah, saat kami masuk klub, Yono masih saja bermain bola sepak di kampung. Belakangan, sambil bekerja ikut orang di salon kecantikan, ia masuk klub sepak bola Bentoel.

Entah kapan kami berpisah. Yang jelas saya sudah lupa alias tak bertemu Yono lagi, sejak rumahnya dijual. Dari kecil, Yono memang tipe bocah mandiri. Walau berasal dari keluarga tidak mampu, ia sangat rajin bekerja. Pekerjaan apapun dia lakukan, asal dapat uang. Bahkan, ia pernah jadi kuli batu segala. Tidak hanya itu, kadangkala, dia ikut saya ngamen, menyanyi dari kampung ke kampung menjajakan suara.
***
TAHUN terus berjalan. Setiap pulang ke Surabaya, saya sudah tidak inggat lagi nama Yono, bocah berkulit putih dan rada pendek.
Nah, dari SMS itu saya mulai menebak. Jangan-jangan dia adalah Yono, teman kecil, teman satu kampung saya.

Karena penasaran, dia saya hubungi. "Kamu Yono Bronggalan ya?" "Iya.... Masak kamu lupa sama saya," katanya. "Sebentar ya... nanti saya hubungi, kebetulan saya lagi kerja motong rambut," tuturnya.
Selang satu jam kemudian, telepon saya berdering. Eittt... Yono rupanya telepon balik. Dia menanyakan kabar saya. Saya jawab alhamdulillah dan saya katakan bahwa saya sekarang kerja di Kalimantan.

"Enggak apa-apa.... Saya hanya berharap umurmu dowo, rezekimu akeh, anakmu sehat-sehat dan jadi orang," katanya dalam dialeg Suroboyo yang medok.

Dalam komunikasi itu, Yono lebih banyak bercerita tentang rekan-rekan kita yang nasibnya tidak begitu baik. "Sekarang saya dengar Acil sudah di Jakarta. Dia sudah kaya. Kamu juga. Nah, ada satu teman kita yang waktu itu orang tuanya kaya, sekarang hidupnya menyedihkan. Saya sangat kasihan kalau ketemu dia," tuturnya.
Siapa namanya?

"Itu... Eko... Bapaknya dulu kerja jadi tentara, angkatan laut." Oh... saya inggat betul dengan wajah dan tabiat Eko. Maklum, ketika sama-sama masih duduk di bangku SMA, Eko hidupnya serba berkecukupan. Di kampung kami, rumanya mungkin paling keren.
Bapaknya, sangat sayang sama anak-anaknya. Ibunya pun supel bergaul, terutama ketika kami main-main ke rumahnya. Hampir setiap hari, kami selalu jalan berdua.

Belakangan, ia keburu menikah selepas SMA. Bersamaan dengan itu, ayahnya meninggal dunia. Sejak saat itu, keluarganya pontang-panting mencari nafkah.

"Ibunya sekarang juga sudah meninggal. Dia belum punya rumah dan masih kontrak. Kadang kalau saya bertemu dia, saya selalu memberikan uang. Saya benar-benar kasihan dengan dia. Dia sekarang ngamen di Terminal Wonokromo bersama teman-temannya, termasuk Klanting," jelas Yono.

Hari itu, pendek kata saya dibawa Yono ke masa lalu, masa yang sungguh menyenangkan, walau ketika malam tiba rumah kami tidak ada lampu penerangan, kecuali lampu templok. Setiap malam, suara jengkerik dan kodok, bersahut-sahutan, saling menyanyi bersama gesekan biola daun-daun padi yang menguning.
***
MASIH menurut Yono. Ternyata kunci keberhasilan manusia itu kerja keras. "Dulu saya ketika masih kecil, kurang kerja keras gimana. Kamu sendiri kan tahu. Bahkan, kita sama-sama ngamen bersama kamu dan Eko. Tapi saya tahu, kamu ngamen bukan untuk mencari uang atau menjadikan keahlian itu sebagai profesi. Kamu kan hanya melatih mental saja dan hobi nyanyi. Sedangkan Eko tidak. Dia, maaf dari dulu rada manja dan ngamen menjadi profesinya," tuturnya.
Setelah cas... cis... cus... akhirnya, ganti saya yang bicara.

"Anakmu berapa?" "Anakku tiga." "Umur berapa dan sekarang kerja dimana?" "Anakku yang pertama cewek. Dia sekarang menjadi dokter umum di RSUD Dr Soetomo. Sedangkan yang kedua juga cewek dan sekarang bekerja menjadi dokter gigi. Yang terakhir masih SMA," tuturnya.

Wow... saya sedikit terperanjat. Ternyata, kawanku ini mampu mendidik anak-anaknya hingga menjadi manusia sukses. Latar belakang pendidikan saja hanya SD kelas tiga, tetapi ia mampu mengangkat derajat anaknya.

Apa sudah menikah? "Sudah... belum lama ini. Setelah menikah dia saya belikan rumah di Citraland." Wew... ciamik tenan koncoku ini.
Nah, dalam kesempatan itu dia menawarkan agar saya mampir ke rumahnya jika ada waktu luang. "Saya masih buka usaha salon. Alhamdulillah... sampai sekarang masih jalan terus. Cuman, begini ya... saya hanya berpesan. Jangan sekali-kali main perempuan. Nakal ya nakal.. jangan sampai jatuh cinta lagi," pesannya. "Kok? Emangnya kenapa?" pancing saya. Dia hanya ketawa..... (achmad subechi)

0 komentar: