
Dibalik Keindahan Menjelajah Pulau Maratua (2)
JOURNAL IFRC yang hendak kami kirim via email, rencanannya akan dibagi-bagikan kepada peserta yang hendak kembali ke kampung halamannya. Saat hendak dikirim, astaga aliran listrik di Pulau Derawan mati.
"KALAU begitu, nanti kita kirim dari Pulau Maratua saja," jelas Arif Hadianto, Staff Public Relation PT Berau Coal. "Apa ada jaringan internet di pulau itu?" tanya saya. "Seingat saya ada kok. Bahkan di sana ada warnet segala," balas Arif.
Pagi itu, ada beberapa pulau yang akan kami datangi. Pulau-pulau itu bertebaran di sekitar Pulau Maratua. Diantaranya, Pulau Kakaban dan Pulau Sangalaki.
Tepat pukul 06.00 Wita, sinar matahari pagi mulai tertutup oleh awan putih bercampur hitam. Angin berhembus melewati celah-celah pohon nyiur di tepi pantai Pulau Derawan. Berbagai jenis ikan karang berenang dengan lincah ditengah beningnya air.
Rombongan kami, M Wikan, Basir Daud dan saya (Tribun Kaltim), Inne Nathalia, Haris Tan (Kompas TV), Amanda Valani, Pops Popovsky (Metro TV), serta Indra Harsaputra (Jakarta Post), mulai menyiapkan perbekalan.
Tiga orang penduduk setempat membawa gerobak kayu, mangangkut barang-barang milik kami melewati jembatan Kiani yang panjangnya skitar 70 meter. Di jetty inisebuah speed boat yang kami sewa sudah bersandar.
Keberangkatan kami, sempat sedikit terhambat dengan datangnya seorang pengurus cottage. Pria itu menemui kami dan menanyakan kaki katak yang katanya sempat kami pinjam. "Mana kaki kataknya kok belum dikembalikan?" tanyanya.
Mendapat pertanyaan itu, rombongan kami agak kaget karena kami merasa tidak pernah meminjam. Daripada berkepanjangan, Arif, pemandi wisata kami dari PT Berau Coal, tanpa banyak bicara menyerahkan kaki katak miliknya. "Ini harganya lebih mahal. Ambil saja."
Usai menyelesaikan persoalan 'kecil', kami semua naik speed boat menuju Pulau Maratua. Pulau Maratua merupakan salah satu pulau di kawasan kepulauan Derawan yang letaknya berada di Kabupaten Berau, Propinsi Kalimantan Timur.
Pulau Maratua itu adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di lautan Sulawesi dan berbatasan dengan negara Malaysia. Pulau berbentuk kecil panjang dan lengkung tajam, seperti mata pancing, selama ini menjadi andalan pariwisata Kaltim.
Speedboat yang kekuatan mesinnya mencapai 200 PK, kapasitasnya 13 orang. Waktu tempuhnya dari Pulau Derawan menuju Pulau Maratua sekitar 45 menit.
Namun jika ombak dan angin kencang, maka perjalanan menuju Pulau Maratua bisa ditempuh lebih dari satu jam. Speedboat jenis Kapal motor tempel memiliki panjang sekitar lima meter, melaju kencang.
Tepat pukul 09.00 Wita, kapal motor tempel yang kami tumpangi meninggalkan Pulau Derawan. Barang-barang yang kami bawa sebagian besar adalah kamera. Semuanya kami letakkan di dalam speed boat dekat kursi motoris. Pengamatan saya, barang paling banyak adalah milik wartawan Metro TV. Rupanya, mereka membawa kamera bawah laut, lengkap dengan peralatan diving.
***
PAGI itu air laut terlihat sangat tenang dan hanya percikan ombak kecil dari kapal yang kami rasakan. Penghuni lautan masih dapat terlihat, hingga kami memasuki perairan dalam antara Pulau Derawan dan Pulau Maratua.
Saat speed yang kami tumpangi memasuki perairan kawasan Pulau Maratua, warna air laut berbeda dengan air laut yang berada di pulau Derawan. Penyebabnya, ternyata Pulau Maratua merupakan pulau karang, sehingga memiliki laut dangkal yang pendek dibanding dengan Pulau Derawan.
Di tengah perjalanan, Arif dan Amanda, terlihat naik di atas speed boad di tengah hajaran ombak menikmati indahnya alam semesta. Antara menyenangkan dan membahayakan, pikir teman-teman. Untungnya semua penumpang mengenakan jaket pelampung (life jacket).
Kami mulai baru merasakan hentakan ombak, saat speed boat mulai mendekati Pulau Maratua. Meskipun kami dapat melihat pulau itu dari kejauhan, namun membutuhkan waktu cukup lama untuk dapat merapat ke pulau nan menawan dan menjanjikan.
"Kita harus memutar untuk dapat merapat di Maratua Paradise Resort, karena laut masih surut. Coba lihat, sekitar resort masih terlihat karang, dan kita harus memutar masuk melalui sebelah kanan resort yang tidak ada karangnya,” kata sang motoris.
Hantaman ombak yang mulai membesar juga dirasakan dua rekan kami yang nongkrong di atap speed boat. Baju mereka basah kuyup terkena air laut.
***
SEMAKIN mendekati Maratua, ombak makin ganas. Akhirnya, sang motoris berhasil merapatkan speednya.Kami sangat terpesona, manakala untuk kali pertama menginjakan kaki di dermaga Maratua Paradise Resort.
Resort yang dikelola warga Malaysia, memiliki lebih dari 10 kamar dan letaknya di atas air. Sedang lima resort lainnya berada di tepi pantai. Semua dindingnya terbuat dari kayu yang dilapisi cat pelindung.
"Kami sering kemari, karena lokasi resort ini sangat indah dan untuk menuju kepulau-pulau lain lebih dekat,” ungkap Arif Hadianto.
Bukan hanya resort, pasir putih dan beningnya air laut di sekitar resort terasa menyejukan hati. Sangat indah dan menawan. Bahkan, beberapa rekan detik itu juga ingin menyelam dan menari-nari bersama ikan-ikan cantik.
Setelah mengeluarkan barang-barang dari kapal, kami menaiki tangga resort yang semuanya terbuat dari kayu, kami disambut dengan senyum ramah para karyawan resort yang semuanya merupakan warga Pulau Maratua.
Lima kamar kami pesan, tarif satu kamar untuk satu malam dari Rp 500 hingga Rp 800 ribu. Selain menawarkan pemandangan pantai, Maratua Paradise Resort, juga menawarkan pemandangan sunset yang dapat dinikmati dari kamar. "Murah kan Mas harganya. Angka itu sudah termasuk makan tiga kali," tutur Arif.
Setiap kamar memiliki fasilitas seperti kamar mandi lengkap dengan air panas, air conditioner (AC), balkon untuk santai dan lemari es.
Bahkan, dari dalam kamar mandi, kita bisa menikmati pemandangan laut yang luar biasa mempesonanya.
Namun untuk hiburan seperti televisi pihak resort tidak menyediakan. Sedangkan kuliner yang disuguhkan kepada para tamu, pengelola resort memberikan banyak pilihan, seperti makanan Eropa dan makanan laut. “Untuk makanan laut kami mendapatkannya dari penduduk di Pulau Maratua. Mereka rata-rata nelayan dan selalu menjual hasil lautnya ke resort kami,” ungkap salah satu karyawan resort.
Di bawah resort, kami melihat gerombolan ikan kakap putih menari-nari dan saling berkejaran. Usai membawa barang-barang ke dalam kamar resort, kami kembali mempersiapkan diri menikmati indahnya terumbu karang di kawasan Maratua Resort.
Kami harus beristirahat sejenak, menikmati makanan yang disajikan, sambil mempersiapkan diri untuk melakukan diving dan snorkeling di perairan tersebut. (ACHMAD SUBECHI)
0 komentar:
Poskan Komentar