* Dibalik Keindahan Menjelajah Pulau Maratua (5)
LAPORAN
-----------------
ACHMAD SUBECHI
M WIKAN
BASIR DAUD
------------------
MALAM itu suasana di Maratua Paradise Resort, terasa sepi. Beberapa rekan wartawan nasional sudah beranjak ke kamarnya masing-masing.
DEBURAN ombak, pasca kepergian Arif Hadianto (Staff Public Relation PT Berau Coal) dan Basir Daud (wartawan Tribun Kaltim) menuju Pulau Derawan menumpang speed boad, memecah keheningan. Dari jam ke jam, deburannya semakin keras. Ada kegelisahan dalam hati mengenai nasib keduanya.
"Saya rada was-was dengan gelombang yang semakin membesar. Semoga keduanya enggak ada masalah dalam perjalanan menuju Derawan," tutur saya kepada Fadli, karyawan bagian desain grafis yang ikut juga dalam rombongan.
Sesekali, saya kontak mereka via handphone. Lagi-lagi tak ada jawaban. Tak terasa hari sudah mulai larut malam. Jarum jam sudah menunjukan pukul 23.00 Wita. Seorang petugas resort menceritakan bahwa dulu ada speed boat yang terbalik saat membawa wartawan menuju Derawan. "Untungnya mereka memakai jaket pelampung. Dan jika dibandingkan dengan kondisi sekarang ini, ombaknya memang lebih besar. Apalagi kalau malam hari," tuturnya.
Cerita itu membuat hati saya makin kecut, memikirkan nasib dua teman yang sedang berlayar ditengah hantaman gelombang. Ditengah kecemasan, tiba-tiba handphone saya berdering. "Mas Bec... saya sekarang masih berada di laut dan belum nyampai Pulau Derawan. Nih lagi mencoba modem, siapa tahu bisa dikirim dari sini filenya. Jadi sekarang speednya lagi berhenti," tutur Arif.
Perasaan takut, cemas dan entah apalagi, seakan-akan lenyap seketika. Dua rekan kami ternyata aman-aman saja. "Nanti kalau enggak bisa terkoneksi ya terpaksa saya harus ke Derawan," tambahnya.
***
SATU jam kemudian, saya coba hubungi Arif dan Basir. Handphone keduanya mati. Rasa cemas kembali datang. Perlahan saya langkahkan kaki menyusuri geladak resort menuju ke kamar.
Di kamar, Fadli sedang duduk termenung. Rupanya, ia juga memikirkan nasib rekan-rekannya. "Sudah ada kontak Mas dengan mereka?" "Sudah.... tapi mereka belum sampai ke Derawan," tutur saya.
Malam itu, Maratua terkesan menyeramkan. Hantaman ombak ke kaki-kaki resort terbuat dari kayu ulin, terasa mengayun-ayunkan kami. Suara ombak yang begitu keras, mirip seperti hujan badai. Lebih-lebih di luar kamar. Angin bertiup begitu kencang.
Saat menanti kepastian itulah, tiba-tiba handphone kembali berdering. "Mas... saya malam ini tidak jadi balik ke Maratua. Nih, kami sudah berada di Derawan dan sedang berusaha mengirim email. Jadi kami nginap di Derawan, besok pagi balik ke Maratua," tutur Arif. Plong.... rasanya.
Sejak itu, mata kami sudah bisa diajak kompromi. Sementara deburan ombak di bawah kolong tempat tidur terasa semakin keras. Fadli, terlihat sudah terlelap. Saya pun mulai terkantuk.
***
PAGI hari ketika sarapan, beberapa wartawan nasional menanyakan nasib Arif dan Basir. Saya katakan mereka nginap di Derawan. Mereka lega.
Sekitar pukul 09.00 pagi sebuah speed boat terlihat merapat di dermaga Paradise Resort Maratua. Arif dan Basir turun dari speed. Kami bersalaman. Keduanya tampak masih loyo. Walau begitu mereka satu persatu mengisahkan petualangan sejatinya, menerjang ombak di malam hari.
"Saya duduk di bangku speed boat bagian belakang. Waktu itu langit tidak begitu cerah. Hanya satu dua bintang yang bersinar. Namun, permukaan laut di belakang speed boat penuh dengan cahaya dari organisme laut seperti plankton. Saya jadi ingat saat belajar di bangku kuliah. Walaupun saya tidak suka mata kuliah yang berbau biologi, tapi saya ingat yang satu ini. Mereka yang mengeluarkan cahaya di permukaan laut masuk dalam kelompok organisme bioluminesens. Organisme yang memproduksi cahaya dari suatu reaksi kimia. Di daratan juga ada. Misalnya kunang-kunang," kenang Basir memulai cerita.
Cahaya itu cukup menghibur di tengah gundah gelana menghadapi serangan ombak besar dalam perjalanan menuju Derawan. "Dalam hati saya berpikir, kemampuan renang saya yang terbatas tidak akan mampu bertahan lama jika speed boat tenggelam akibat dihantam ombak. Saya kembali memandang ke arah depan. Hamparan laut seolah tanpa batas. Gelap dan gelap... Hanya sorotan lampu speed boat. Saya lalu menenangkan diri dengan menyerahkan sepenuhnya kepada kemampuan motoris dan takdir. Saya tersenyum dalam hati. Motoris membawa alat Global Positioning System (GPS) yang digunakan sebagai alat navigasi. Keduanya mengaku keturunan suku bajo. Suku bajo dikenal bersahabat dengan lautan. Mereka menghabiskan sebagian besar hidupnya di laut," tuturnya.
Dalam perjalanan, kata Basir, ia berusaha menyalakan laptop dan berusaha mencari sinyal di sejumlah titik antara Pulau Maratua dan Pulau Derawan. Kata sang motoris di sejumlah lokasi, sinyal telepon sangat kuat. Selain agar cepat kembali ke Maratua, juga lebih cepat mengirim berita.
"Dalam perjalanan menuju perairan di tengah Maratua dan Derawan, kami dikagetkan dengan kapal pengangkut peti kemas asal jepang. Motoris mengatakan, jalur perairan itu kerap digunakan kapal besar. Melihat kapal yang hanya jelas dengan beberapa titik lampu, motoris mengurangi laju speed boat. Ia ingin mencari dimana batas belakang kapal agar tidak salah mengambil rute. Dengan lampu speed boat yang tak begitu terang, sang motoris memberikan kode, berharap kapal memberikan kode balik tentang kondisi panjang kapal."
Setelah tiga kali kode, kapal raksasa itu menyalakan lampu sorotnya, lalu mengarahkan ke bagian depan tengah dan belakang kapal agar terlihat. Lampu sorot kapal berhenti di belakang kapal agar dapat digunakan sebagai panduan speed boat yang hendak melintasi belakang kapal.
Seketika itu juga sang motoris tancap gas melewati belakang kapal disusul bunyi peluit kapal Jepang seperti menyampaikan pesan selamat menempuh perjalanan yang masih panjang. "Sayang, speed boat tidak memiliki peluit untuk membalas salam kapal asal negeri Matahari terbit itu," ujar Basir.
Hampir sekitar 30 menit mengarungi lautan. sang motoris mulai mengurangi lajunya. Katanya, di lokasi ini biasanya sinyal berlimpah ruah.
"Saya membuka laptop yang terpasang di modem. Mencari sinyal, tapi belum juga berhasil. Begitupun pemberhentian selanjutnya. Kami lakukan sebanyak tiga kali. Sementara, Pulau Derawan mulai tampak dari lampu yang menyerupai titik-titik api dalam peta hotspot," jelas Basir.
Akhirnya, mereka memutuskan untuk lebih dekat lagi dengan Derawan. "Kami parkir di samping kapal satu keluarga suku Bajo. Mereka menambatkan kapal di luar pantai Derawan yang berjarak sekitar 2 Km dari garis pantai. Sepertinya motoris dan asisten mengenal keluarga itu. Mereka berbicara dalam bahasa yang tidak saya mengerti. Yang pasti bukan bahasa Inggris. Saya menebak, mereka sedang berkomunikasi dalam bahasa Bajo. Saya sempat melihat anak perempuan yang tidur berbalut selimut di atas dek kapal.
Syukurlah, parkir kali itu tidak sia-sia."
Rupanya, jaringan internet di kawasan itu bisa diandalkan. Berkas sebesar 2 Mega Byte via email dalam waktu kurang dari 60 detik sudah terkirim.
Saat akan mengirim file berikutnya, baterai lamptop mendadak habis. Laut terasa mulai kurang bersahabat. Angin kencang dan ombak besar mulai bergoyang. Kami memutuskan bersandar di Pulau Derawan untuk mengisi baterai dan melanjutkan pengiriman data. (*)
0 komentar:
Poskan Komentar