Dibalik Keindahan Menjelajah Pulau Maratua (4)
LAPORAN
-----------------
ACHMAD SUBECHI
M WIKAN
BASIR DAUD
------------------
RESORT itu pantas dinamakan Paradise. Pemandangan sore dari teras belakang resort terlihat sangat indah. Sejauh mata memandang hanya hamparan laut biru. Pulau Maratua serasa daratan satu-satunya di dunia. Semilir angin dan segelas kopi menemani kami usai diving.
DITENGAH melepas lelah, handphone saya tiba-tiba berbunyi. Dari balik telepon terdengar suara Bintoro Prabowo, Manager of Public Relations Berau Coal.
"Arif (Arif Hadianto, Staff Public Relation PT Berau Coal) kok dari tadi saya hubungi enggak bisa, kenapa?" tanyanya. "Oh... dia habis diving. Nanti kalau ketemu dia saya beritahunya."
Beberapa saat kemudian Arif mendatangi saya. "Mas Bec, Pak Bintoro minta file PDF Journal IFRC dikirim hari ini, karena peserta sudah mau pulang," tuturnya. "Persoalannya bukannya tidak mau ngirim Rif. Saluran internet di sini ngadat."
Kemudian, saya minta Basir Daud menghidupkan laptop. Lagi-lagi jaringan internet tak bisa terdeteksi. Berkali-kali ia memindahkan posisi laptop dan modem eksternal, dengan harapan bisa mendapatkan sinyal. Bahkan, sejak dari Pulau Derawan, para wartawan nasional maupun lokal, terpaksa menambahkan lilitan kawat tembaga di tubuh modem eksternal agar bisa mendapatkan sinyal.
Rupanya jaringan internet di Maratua tidak bisa diakses. Langkah berikutnya adalah mencari warnet di sekitar Pulau Maratua. Seorang pengelola resort mengatakan, sebenarnya di Pulau Maratua ada jaringan internet. Sayangnya, jaringan itu tak berjalan normal dalam beberapa hari terakhir.
Sebenarnya di Maratua, ada dua sinyal operator selular. Sayangnya, kami hanya membawa modem dari satu jenis operator, sehingga tidak bisa mencoba sinyal operator selular lainnya.
Fotografer Tribun Kaltim, M Wikan H bersama Arif akhirnya menjelajah Pulau Maratua mencari jaringan internet. Siapa tahu ada warga yang memiliki akses internet.
Ternyata, di Maratua ada warnet. warnet itu bantuan dari Departemen Komunikasi dan Informatika untuk mengatasi isolasi informasi di daerah terpencil. Sayangnya, sejak Februari 2011, warnet tidak lagi bisa diakses internet.
***
BASIR Daud lalu menyusul M Wikan di warung internet. Lantaran sedikit melek tekhnologi, Wikan, berusaha membantu warga desa untuk menghidupkan kembali jaringan internet yang ada di warnet.
Bahkan, ia meminta Basir untuk membawa laptopnya. Untuk mencapai warnet, Basir terpaksa jalan kaki. Sebagian besar jalan yang dilewati adalah jalan setapak dengan alas tanah, lebar rata-rata sekitar setengah meter.
Sepanjang perjalanan, terlihat 'nyanyian' pohon kelapa yang menjulang tinggi diterpa angin laut. Setelah melewati jalan setapak, lebar jalan utama menuju pemukiman warga cukup lumayan, mencapai 10 meter.
Warnet berada tak jauh dari dermaga warga. Di samping warnet, ada tempat bermain billiar. Sampai di Warnet, Basir Daud melihat Wikan sedikit berkeringat. Ia lalu menunjukkan statistik di layar monitor.
Karena tetap tak bisa connect, Wikan sempat menghubungi petugas IT Tribun Kaltim untuk meminta tips.
Kesimpulan akhir dari serangkaian ujicoba itu adalah pengelola warnet harus menghubungi operator yang menyediakan layanan akses internet.
***
MENJELANG Maghrib, kami kembali ke resort. Lagi-lagi mencoba utak-atik laptop dan modem. Hasilnya tetap sama, nol sinyal. Padahal hari itu ada sejumlah berita penting yang hendak kami kirim ke Balikpapan, selain PDF Journal IFRC. Sambik menikmati makan malam, saya berdiskusi dengan Arif Hadianto, mencari solusi.
Hasil dari diskusi diputuskan, mengirim berita melalui Pulau Derawan. Itu artinya, kami akan naik speed boat di malam hari menuju Derawan.
"Mas Bec di sini saja enggak usah ikut. Mas kan enggak bisa berenang. Biar saya dan Basir daud saja yang ke Derawan malam ini," tutur Arif.
Selanjutnya, kami mencari informasi dari pengelola resort, mengenai keadaan cuaca di malam hari dan menyewa speed boat. Menurut petugas resort, biasanya keadaan gelombang di Maratua pada malam hari cukup ganas.
Walau begitu, Arif tetap memutuskan untuk berangkat, apapun yang terjadi. Selanjutnya, ia menelepon ke beberapa tokoh masyarakat di Pulau Maratua yang bisa membantu menyiapkan speed boat. "Kalau siap, kita berangkat sekarang. Harga Rp 1 juta enggak ada masalah," ujar Arif.
Tak lama berselang, sebuah speed boat kecil berkapasitas lima orang sudah yang ditunggu merapat di dermaga resort bersama satu motoris dan satu asisten motoris. "Berani berangkat Pak," tanya Arif. Tak terdengar jelas apa jawaban motoris. Sang motoris yang mengaku PNS itu, hnya tersenyum.
Basir dan Arif terlihat duduk di bangku speed boat. Suasana laut, sudah mulai gelap dengan deburan ombak lumayan kencang. Seakan mengucapkan salam perpisahan, speed boat itu lalu melesat ke tengah samudera. Apa yang terjadi terhadap dua rekan kami? Mengapa mereka tak juga tiba di resort Maratua hingga pagi hari? Ikuti cerita selanjutnya. (*)
0 komentar:
Poskan Komentar