
Dibalik Keindahan Menjelajah Pulau Maratua (3)
LAPORAN
-----------------
ACHMAD SUBECHI
M WIKAN
BASIR DAUD
------------------
PULAU Maratua terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil yang ada di sekitar teluknya, seperti Pulau Sidau, Pulau Semut, Pulau Andongabu, Pulau Sangalan, Pulau Bulingisan, Pulau Nisakoh, Pulau Bakungan, Pulau Nunukan dan gosong pasir serta Pulau Pabahanan. Ada beberapa pulau kecil yang dikelola warga asing, Jerman dan Malaysia. Pulau-pulau itu dilengkapi resort.
MARATUA surga bagi para pecinta keindahan bawah laut. Jika anda mau bertemu dengan ribuan ikan barakuda, atau ingin menikmati perjalanan penyu hijau, di sinilah tempatnya.
Kawasan di sekitar pulau ini memiliki 21 titik poin penyelaman, poin Batu Selatan, Coral Garden, Tanjung Keramat, Turtle Traffic, South Face, Gusung Pal, Maratua Reef, Cabbahes Coral, Sponge Reef, Mid Reef, Last Sand, Fuselier Paradise, Hanging Garden, Eel Garden, Fantasi Wall, CCM Paradise, Lighy House, Gorgonzola, East Wall, dan Channel.
Usai beristirahat sejenak, rombongan kami yang terdiri dari M Wikan, Basir Daud dan saya (Tribun Kaltim), Inne Nathalia, Haris Tan (Kompas TV), Amanda Valani, Pops Popovsky (Metro TV), Indra Harsaputra (Jakarta Post) dan Arif Hadianto (Staff Public Relation PT Berau Coal), menemui divemaster bernama Rivi.
Selanjutnya, kami diajak ke dive store. Di tempat ini kami memilih perlengkapan selam, seperti snorkel, masker, tabung oksigen, hingga regulator dan pakaian selam.
Hari itu hanya empat rekan yang berniat menyelam. Mereka adalah M Wikan, Amanda Valani, Pops Popovsky dan Arif Hadianto. Lainnya, tidak memiliki keahlian, termasuk saya. Karena itu, kami hanya ikut mengantar mereka menumpang speed boat menuju ke poin penyelaman.Tempat ini menjadi lalintasnya penyu (turtle traffic). Biasanya, penyu-penyu di tersebut menyempatkan diri beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke perairan lainnya.
Setelah peralatan dan perlengkapan selam kami siapkan, termasuk kamera dalam air, yang akan kami gunakan untuk mengabadikan penyelaman, kami didampingi divemaster Rivi, pria asal Bajau. Sehari-hari Rivi berada di Maratua Paradise Resort.
***
SIANG itu, Minggu (25/9), Rivi mengajak kami menumpang kapal, khusus mengangkut para penyelam. Perjalanan dari Maratua Paradise Resort menuju ke poin penyelaman, kira-kira memakan waktu 15 menit.
Sebelum menyelam ke laut, Rivi memberikan pengarahan, mulai dari cara memakai peralatan selam hingga penentuan waktu penyelaman di dalam air.
"Masing-masing penyelam memiliki buddy (teman). Kita menyelam di poin turtle traffic. Air agak tenang, ada beberapa isyarat dengan tangan yang harus kita cermati. Bila jari tangan saya membentuk angka nol, semua harus menjawab dengan mengangkat tangan. Artinya, tidak ada masalah. Jangan sekali-kali tidak menjawab, karena itu tanda kesadaran kita,” kata Rivi.
Selain itu, Rivi juga mengajarkan isyarat lainnya. Jika tangan seperti membelah horizontal, ini menandakan waktu penyelaman selesai atau penyelam harus naik ke permukaan. Isyarat lainnya posisi tangan hormat dengan cara menunjukan arah, merupakan isyarat arah penyelaman. "Kita akan menyelam selama 45 menit," kata Rivi. Wow... lama amat.
Satu persatu rekan-rekan kami mulai menyelam. Di atas kapal hanya tersisa, motoris, saya (Achmad Subechi), Haris Tan, Inne Nathalia, Basir Daud dan Indra Harsaputra.
Sesaat kemudian suasana menjadi hening dan hanya ditemani deburan ombak. Inne Nathalia yang dari awal ingin melakukan snorkeling (selam permukaan) atau selam dangkal, mulai menceburkan diri ke laur lengkap dengan pelampung.
Sang motoris, tertawa melihat kami para pria yang tak berani terjun ke dalam laut. "Ayuk.. kalau lainnya mau snorkeling silakan. Kami bawa alatnya," tuturnya.
Akhirnya, saya meminta Basir Daud untuk ikut menyebur ke dalam laut. "Kelihatannya dangkal nih Sir... Masak sarjana keluatan tidak bisa berenang," kelakar saya.
Tanpa basa-basi, Basir Daud melepas celana panjangnya. Ia lalu nyemplung ke dalam laut. "Kalau berenang begini saja sih saya bisa Mas," teriaknya.
Kemudian, Haris Tan dan Indra Harsaputra, ikutan menyeburkan diri setelah mengetahui kedangkalan air laut hanya setinggi dada. Walau begitu, mereka semua mengenakan jaket pelampung.
Melihat rekan-rekan lainnya berenang, saya akhirnya berminat juga untuk menikmati pemandangan bawah laut. "Wah ada bulu babinya ya?" kata saya kepada sang motoris. "Ehmm... enggak begitu banyak Mas. Asal jangan ke tengah saja. Di sana bulu babinya lebih banyak," tuturnya.
Saya rada trauma dengan bulu babi. Suatu hari ketika saya pergi ke Derawan, rekan saya Priyo Suwarno (Redpel Tribun Kaltim), kedua kakinya terluka saat berenang di sekitar jetty Derawan. Waktu itu ia sangat antusias untuk berenang begitu melihat keindahan Derawan. Saat menceburkan diri itulah, kedua kakinya menginjak bulu babi. Tahu sendiri kan resikonya kalau kena bulu babi?
***
JARUM jam terus bergerak. Rekan-rekan kami yang menyelam belum juga menampakkan batang hidungnya. "Ngapain aja ya mereka di bawah. Kok betah amat," guman saya dalam hati.
Sambil nongkrong di atas kapal menikmati lautan lepas, kami sempatkan diri untuk bercanda menunggu kehadiran teman-teman.
Tak lama kemudian saya melihat baju renang dari kejauhan. Rupanya, teman-teman sudah berdatangan dan mendekati kapal.
"Wah rugi kalau Mas Bec tidak menyelam. Pemandangannya begitu indah," kata Amanda. Sementara M Wikan, sibuk membuka hasil potretannya. Ada beberapa terumbu karang dan ratusan ikan karang di dasar laut yang diabadikannya. Termasuk penyu.
Kata mereka, saat menyelam arus laut saat itu lumayan kencang. Mereka memergoki enam penyu hijau yang sedang berenang dan ada juga yang lagi 'rebahan' di dasar laut.
"Apa tadi menemukan hiu?" "Wah kalau hiunya dia ada di poin satunya. Di sana...," kata sang motoris sambil menunjukan titik lokasinya. Ngeri ah... Selanjutnya kapal khusus menyelam merapat di dermaga Maratua Paradise Resort. (*)
0 komentar:
Poskan Komentar