* Dibalik Keindahan Menjelajah Pulau Maratua (7-habis)
LAPORAN
ACHMAD SUBECHI
M WIKAN
BASIR DAUD
SETELAH balik kandang ke Resort Paradise Maratua, beberapa rekan-rekan kami masih trauma atas petualangan yang nyaris tak pernah mereka lakukan seumur hidup --naik speed boad pada malam hari ditengah gelombang cukup besar.
SEBAGIAN lainnya, mengambil nafas sejenak, melupakan ketegangan. Sementara saya dan Arif, masih termanggu di dermaga, mengenang perjalanan yang 'konyol'.
Karena cuaca masih tak bersahabat, akhirnya, kami putuskan untuk menginap semalam. "Besok jam 08.00 pagi, teman-teman sudah berada di dermaga dan kita akan pulang," jelas Arif.
Malam itu perasaan cemas dan gundah gulana terpancar di wajah-wajah kami. Jika ombak masih 'berteriak' tentu kami tak akan berani pulang.
Karena situasi semakin tak memungkinkan, Arif menghubungi Manager Public Relation PT Berau Coal, Bintoro. "Mas... gimana kalau kita sewa speed yang agak besar dari Berau. Cuaca di sini tidak memungkinkan untuk kembali ke Berau dengan menumpang speed kecil," tanya Arif melalui handphone.
Entah apa jawaban Bintoro, tapi yang jelas ketika kami bangun tidur, sebuah speed boat dari Berau sudah bersandar di sekitar Paradise Resort Maratua.
"Itu speed boat yang akan kita tumpangi. Kapasitasnya sekitar 40 orang," tutur Arif. Speed boat itu terlihat rada menjauh dari dermaga. Sekitar pukul 09.00, speed mulai merapat. Lagi-lagi, ombak begitu kencang. Akhirnya, sang motoris menunda keberangkatan. Sampai kapan? Tak jelas benar. "Kita akan berangkat kalau ombaknya sudah tenang," tambah Arif.
Sambil menunggu, saya sempatkan diri jalan-jalan ke perkampungan yang ada di Pulau Maratua bersama Fadli dan Basir. Usai melawati perkebungan kelapa, kami mendapati pemukiman warga. Sebagian besar rumah di Maratua berdinding batu, tampak bersih. Pondasi rumah, terbuat dari batu karang.
Semakin ke ujung, kami mendapati sebuah dermaga yang menjorok ke Teluk. Dermaga itu cukup panjang. Sejumlah perahu bersandar di tempat itu.
Beberapa warga sibuk menurunkan semen dan pasir dari dalam perahu. "Kami beli di Tarakan. Harganya tahu sendirilah..." kata salah seorang warga.
Sambil bercerita kesana-kemari tentang kehidupan di Pulau Maratua, tiba-tiba Arif menghhubungi saya via handphone. "Kita paling lambat berangkat dari Maratua jam 13.00."
Sayang, keinginan kami bersahabat dan bercengkerama dengan penduduk Maratua yang rata-rata bersahaja dengan pendatang, terputus ditengah jalan.
Kami lalu berjalan kaki menuju dermaga. Sebuah speed boat yang hendak kami tumpangi, sibuk merapatkan speednya ke dermaga. Begitu berrsandar, rekan-rekan masuk ke dalam speed boat. Ucapan selamat jalan, semoga selamat terlontar dari bibir karyawan resort. Tak ketinggalan, Pak Sulaiman, warga Pulau Maratua yang hendak mengambil gajinya di Berau, kembali ikut nebeng ke Berau.
Speed melaju dengan cepat. Gelombang, lumayan keras. Sang motoris selalu memperhatikan alur laut. Kami semua berselancar ditengah gelombang.
Karena trauma dengan peristiwa sebelumnya, saya minum antimo, lalu tertidur. Beberapa jam kemudian, saya terbangun. Speed kami tak bisa melaju dan terdampar di muara sungai menuju Berau. "Kenapa?"
Oh... rupanya, dua mesin speed boat ngadat alias rusah akibat hantaman gelombang. Kami semua menunggu speed boat cadangan yang dikirim dari Berau.
Setengah jam kemudian, sebuah speed boat datang. Kami semua pindah tempat. Speed melaju dengan kencang dan tiba di Berau sore hari. Dari Berau, kami bergegas ke Bandara Kalimarau, mengejar penerbangan terakhir menuju Balikpapan. Sementara beberapa wartawan nasional, masih tetap menginap di Berau untuk melakukan liputan lainnya.
***
SESAMPAINYA di kantor, saya membuka internet. Ingin mengetahui mengapa dalam beberapa hari belakangan, badai cukup kencang menghantam Maratua.
Astaga, ternyata Pulau Maratua terkena imbas dari munculnya badai topan Nesat yang menghantam Filipina. Di Filipina, badai itu menyebabkan banjir, pohon tumbang, dan para karyawan tak bisa pergi ke kantor.
Seperti dilaporkan wartawan BBC, Kate McGeown, dari Luzon tengah, angin lesus berkekuatan 170 kilometer per jam ini juga menimbulkan tanah longsor, di Provinsi Isabela dan Auroroa di Pantai Pasifik.
"Banyak jalan terendam air, penerbangan dibatalkan, dan sejumlah media lokal menyarankan agar warga masyarakat tidak bepergian bila tidak terlalu penting," ujar McGeown.
Setelah membaca berita itu, bulu kuduk mendadak berdiri. Andaikan speed yang kami tumpangi terbalik, bisa dibayangkan tubuh kami yang hanya berjaket pelampung berisi gabus, akan terbawa kesana-kemari. Sementara kekuatan jaket pelampung gabus, tak begitu lama.
Sebuah petualangan lumayan mendebarkan. Akankah kami berani ke Maratua kemballi? Mari kita tanya kepada sang ombak.... (*)




