Kamis, 08 Desember 2011

Dua Mesin Speed Boat Rusak


* Dibalik Keindahan Menjelajah Pulau Maratua (7-habis)

LAPORAN

ACHMAD SUBECHI
M WIKAN
BASIR DAUD


SETELAH balik kandang ke Resort Paradise Maratua, beberapa rekan-rekan kami masih trauma atas petualangan yang nyaris tak pernah mereka lakukan seumur hidup --naik speed boad pada malam hari ditengah gelombang cukup besar.

SEBAGIAN lainnya, mengambil nafas sejenak, melupakan ketegangan. Sementara saya dan Arif, masih termanggu di dermaga, mengenang perjalanan yang 'konyol'.

Karena cuaca masih tak bersahabat, akhirnya, kami putuskan untuk menginap semalam. "Besok jam 08.00 pagi, teman-teman sudah berada di dermaga dan kita akan pulang," jelas Arif.

Malam itu perasaan cemas dan gundah gulana terpancar di wajah-wajah kami. Jika ombak masih 'berteriak' tentu kami tak akan berani pulang.

Karena situasi semakin tak memungkinkan, Arif menghubungi Manager Public Relation PT Berau Coal, Bintoro. "Mas... gimana kalau kita sewa speed yang agak besar dari Berau. Cuaca di sini tidak memungkinkan untuk kembali ke Berau dengan menumpang speed kecil," tanya Arif melalui handphone.

Entah apa jawaban Bintoro, tapi yang jelas ketika kami bangun tidur, sebuah speed boat dari Berau sudah bersandar di sekitar Paradise Resort Maratua.

"Itu speed boat yang akan kita tumpangi. Kapasitasnya sekitar 40 orang," tutur Arif. Speed boat itu terlihat rada menjauh dari dermaga. Sekitar pukul 09.00, speed mulai merapat. Lagi-lagi, ombak begitu kencang. Akhirnya, sang motoris menunda keberangkatan. Sampai kapan? Tak jelas benar. "Kita akan berangkat kalau ombaknya sudah tenang," tambah Arif.

Sambil menunggu, saya sempatkan diri jalan-jalan ke perkampungan yang ada di Pulau Maratua bersama Fadli dan Basir. Usai melawati perkebungan kelapa, kami mendapati pemukiman warga. Sebagian besar rumah di Maratua berdinding batu, tampak bersih. Pondasi rumah, terbuat dari batu karang.

Semakin ke ujung, kami mendapati sebuah dermaga yang menjorok ke Teluk. Dermaga itu cukup panjang. Sejumlah perahu bersandar di tempat itu.

Beberapa warga sibuk menurunkan semen dan pasir dari dalam perahu. "Kami beli di Tarakan. Harganya tahu sendirilah..." kata salah seorang warga.

Sambil bercerita kesana-kemari tentang kehidupan di Pulau Maratua, tiba-tiba Arif menghhubungi saya via handphone. "Kita paling lambat berangkat dari Maratua jam 13.00."

Sayang, keinginan kami bersahabat dan bercengkerama dengan penduduk Maratua yang rata-rata bersahaja dengan pendatang, terputus ditengah jalan.

Kami lalu berjalan kaki menuju dermaga. Sebuah speed boat yang hendak kami tumpangi, sibuk merapatkan speednya ke dermaga. Begitu berrsandar, rekan-rekan masuk ke dalam speed boat. Ucapan selamat jalan, semoga selamat terlontar dari bibir karyawan resort. Tak ketinggalan, Pak Sulaiman, warga Pulau Maratua yang hendak mengambil gajinya di Berau, kembali ikut nebeng ke Berau.

Speed melaju dengan cepat. Gelombang, lumayan keras. Sang motoris selalu memperhatikan alur laut. Kami semua berselancar ditengah gelombang.

Karena trauma dengan peristiwa sebelumnya, saya minum antimo, lalu tertidur. Beberapa jam kemudian, saya terbangun. Speed kami tak bisa melaju dan terdampar di muara sungai menuju Berau. "Kenapa?"
Oh... rupanya, dua mesin speed boat ngadat alias rusah akibat hantaman gelombang. Kami semua menunggu speed boat cadangan yang dikirim dari Berau.

Setengah jam kemudian, sebuah speed boat datang. Kami semua pindah tempat. Speed melaju dengan kencang dan tiba di Berau sore hari. Dari Berau, kami bergegas ke Bandara Kalimarau, mengejar penerbangan terakhir menuju Balikpapan. Sementara beberapa wartawan nasional, masih tetap menginap di Berau untuk melakukan liputan lainnya.
***
SESAMPAINYA di kantor, saya membuka internet. Ingin mengetahui mengapa dalam beberapa hari belakangan, badai cukup kencang menghantam Maratua.

Astaga, ternyata Pulau Maratua terkena imbas dari munculnya badai topan Nesat yang menghantam Filipina. Di Filipina, badai itu menyebabkan banjir, pohon tumbang, dan para karyawan tak bisa pergi ke kantor.

Seperti dilaporkan wartawan BBC, Kate McGeown, dari Luzon tengah, angin lesus berkekuatan 170 kilometer per jam ini juga menimbulkan tanah longsor, di Provinsi Isabela dan Auroroa di Pantai Pasifik.
"Banyak jalan terendam air, penerbangan dibatalkan, dan sejumlah media lokal menyarankan agar warga masyarakat tidak bepergian bila tidak terlalu penting," ujar McGeown.

Setelah membaca berita itu, bulu kuduk mendadak berdiri. Andaikan speed yang kami tumpangi terbalik, bisa dibayangkan tubuh kami yang hanya berjaket pelampung berisi gabus, akan terbawa kesana-kemari. Sementara kekuatan jaket pelampung gabus, tak begitu lama.
Sebuah petualangan lumayan mendebarkan. Akankah kami berani ke Maratua kemballi? Mari kita tanya kepada sang ombak.... (*)

Rabu, 07 Desember 2011

Asbak itu Tiba-tiba Pecah


* Dibalik Keindahan Menjelajah Pulau Maratua (6)

LAPORAN
-----------------
ACHMAD SUBECHI
M WIKAN
BASIR DAUD
------------------

MASIH menurut Basir Daud, malam itu ombak lautan semakin membesar. Speed boat yang mereka tumpangi kesulitan untuk mencari dermaga yang dekat dengan tempat penginapan di Pulau Derawan.

SETELAH berputar-putar mengelilingi pulau, dengan susah payah, sang motoris menemukan lokasi yang paling baik untuk memarkirkan speed boat dalam kondisi cuaca yang kurang bersahabat.

"Saya dan Arif bergegas menuju penginapan. Angin kencang kian terasa saat kami menyusuri jalan dari dermaga menuju penginapan. Arif memutuskan, kita harus menginap malam ini karena tak mungkin kembali ke Maratua," kenang Basir.

Sambil mengisi baterai, Basir lagi-lagi mencoba mengakses internet dengan modem sebelumnya. Sayang, sinyal internet di penginapan tidak sama dengan tempat di tengah laut, tempat ia mengirim file melalui email.

"Kami mencoba mengakses jaringan di teras penginapan, tapi hasilnya tetap sama. Akhirnya, kami memilih memanfaatkan kekuatan jaringan yang ada. Kami baru memastikan berkas kedua dengan kapasitas 2 MB baru terkirim setelah bangun pagi."
***
ESOKNYA ketika Basir dan Arif sudah merapat ke Maratua, kami berencana akan meninggalkan pulau itu menuju Berau, sekitar pukul 14.00 Wita.

Masing-masing teman sudah berkemas-kemas, tinggal angkat kopor menuju dermaga Paradise Resort Maratua. Sebuah speed boat yang kami sewa dari Derawan dan sudah sehari semalam berada di Maratua, tak berani mendekati dermaga. Ombak kian ganas, disertai terpaan angin yang begitu kencang.

Sambil menunggu ombak tak lagi bergulung-gulung, kami sempatkan diri ngobrol di restoran Maratua. Beberapa rekan lainnya, terlihat saling bercanda dan ada juga yang melamun.

Saya sendiri, tengah asyik ngobrol berdua bersama Arif. Nah, saat itulah tiba-tiba sebuah asbak rokok yang ada di meja kami, mendadak pecah, terbelah menjadi dua. Hah?

Padahal, asbak itu cukup besar dan terbuat dari kaca. "Mas... apa ini maknanya?" tanya Arif. "Waduh... saya tidak tahu Rif...Lupakan saja..."

Dua jam kemudian, saya ikut nimbrung di meja teman-teman wartawan nasional. Ketika asyik bercanda, gelas minum yang terbuat dari kaca, tiba-tiba retak. Waduh, sebuah firasat atau? Entahlah....
"Kalau sampai jam 17.00 ombak masih seperti ini, lebih baik kita menginap lagi di sini. Cuacanya sangat tidak memungkinkan dan berbahaya," kata Arif.
***
SEKITAR pukul 17.30, speed boat berhasil merapat di dermaga. Ketika kami hendak naik ke dalam speed boat, seorang PNS, guru SD di Maratua, ikut menumpang. Pria setengah baya itu berniat ke Berau untuk mengambil gaji.

Ketika masuk ke dalam speed boat, saya sodorkan sebuah jaket pelampung. Tapi ditolaknya. "Saya sudah terbiasa begini," katanya.
Beberapa rekan kami hanya geleng-geleng kepala. Nama pria itu Sulaiman. Ia memilih duduk di buritan.

Speed boat tancap gas menjelang mahgrib. Deburan ombak yang semakin kencang mulai terasa menghantam bodi speed. Saya duduk di tak jauh dari sang motoris.

Rombongan kami lainnya, M Wikan, Basir Daud, Fadli (Tribun Kaltim), Inne Nathalia, Haris Tan (Kompas TV), Amanda Valani, Pops Popovsky (Metro TV), serta Indra Harsaputra (Jakarta Post), mulai terlihat cemas.

Baru beberapa menit speed boat berjalan, lautan terlihat gelap dan hanya bisa dilihat melalui sorot lamu speed boat yang tak begitu terang.

Guncangan semakin terasa. Beberapa rekan, mulai terlihat mual-mual. Bahkan, saya sendiri terpaksa meminta antimo kepada Indra Harsaputra.

Sulaiman, sang guru SD yang sedari tadi berdiri di belakang speed boat, mulai meminta jaket pelampung. Setelah itu, ia tak lagi berdiri, melainkan duduk sambil mulutnya komat-kamit. Rekan-rekan kami lainnya juga melakukan hal yang sama. Wajah mereka mulai pucat. Bahkan, M Wikan, menarik diri untuk duduk di belakang setelah ia melihat ombak tingginya sekitar dua meter di atas speed boat. Saya pun harap-harap cemas. Doa mulai dipanjatkan.

Tiba-tiba, air laut masuk ke delam speed boat melalui kabin atas. Barang-barang bawaan kami basah. Saya amati wajah sang motoris. Ehmm... ternyata pria itu juga mulai ketakutan. Lebih-lebh setelah air laut berkali-kali membasahi tubuhnya dari atas. Ditengah hantaman gelombang, saya bertanya kepada sang motoris. "Derawan masih jauh?" "Masih...."

Ditengah keheningan itulah, tiba-tiba sang motoris berteriak. "Mati kita...." bersamaan dengan masuknya air laut ke dalam speed boat. Kata-kata, itu makin acap terdengar.

Seketika itu juga saya dekati sang motoris. "Daripada kita semua mati, kita balik saya ke Pulau Maratua." "Okey.. Pak.." Teman-teman merasa plong alias lega begitu mengetahui speed boat balik kanan. Setelah lebih dari 15 menit, kami melihat kerlap-kerlip lampu pulau dari kejauhan. "Sssstt... itu Maratua. Tak lama lagi kita nyampai," bisik saya kepada Indra Harsaputra, wartawan Jakarta Post yang tak bisa berenang seperti saya.

Begitu merapat di dermaga Paradise Resort Maratua, hati kami menjadi lega. Para karyawan resort kembali menyambut kami dengan gembira.
"Kalau perjalanan tadi kita teruskan, kita semua bisa tenggelam. Ombaknya begitu besar," kata sang motoris. Alamaakkkkkkkkk.... bisa mati dong! (dtc)

Selasa, 06 Desember 2011

Garis tangan



RASANYA saya sedikit asing dengan nomer SMS yang masuk ke handphone, Senin (5/12/2011) kemarin sore. Dalam SMS itu, dikabarkan bahwa pemain tim nasional Indonesia U-23, Andik Vermansyah adalah keponakannya. "Dia masih famili dengan saya," tulisnya.

Di bawah tulisan itu tertera namanya, Yono, Bronggalan, teman lamamu. Karena saya masih sibuk, maka SMS itu saya abaikan. Ketika sedang nyantai, lagi-lagi isi SMS itu saya baca. "Yono.... Yono yang mana ya? Oh jangan-jangan dia adalah teman saya ketika masih kecil yang sama-sama suka main bola," pikir saya dalam hati.

Dulu, ketika masih bocah, rumah Yono hanya berjarak satu rumah dengan rumah kami. Ayahnya, bekerja sebagai tukang becak. Anaknya kalau enggak salah ehm... sekitar lima orang. Semuanya masih kecil-kecil.

Karena tergolong tidak mampu, Yono hanya bisa menamatkan sekolah di bangku kelas tiga SD. Biasanya sepulang sekolah, kami selalu bermain sepak bola di tanah kosong yang kanan kirinya sawah. Saya akui, Yono memang lincah. Tendangannya pun okey. Bola yang kami pakai pun bola plastik.

Kalau sudah main bola, biasanya kami pulang mendekati magrib. Kawan-kawan yang ikut bermain, jumlahnya makin sore makin banyak. Pendek kata, setiap hari tidak ada waktu untuk tidak bermain bola. Rasanya nikmat, bisa tertawa cengigisan dan badan menjadi sehat pula.
Waktu terus berjalan. Ketika menginjak bangku SMP, saya mulai ikut klub sepak bola. Namanya Poris. Latihannya di Lapangan PJKA, Surabaya.

Bertahun-tahun kami berlatih. Dari situ saya pindah ke klub Suryanaga, setelah menginjak SMA. Lapangan tempat berlatihnya di lapangan KKO (Kestarian Gubeng). Di Suryanaga, ada beberapa pemain yang akhirnya namanya melejit diantaranya Joko Malis, Rudy Kelces dan lain-lain. Pelatihnya, Om Pang. Kebetulan, di kampung kami ada dua pemain sepak bola ternama. Namanya Ketip Suripno dan Riono Asnan, keduanya dulu adalah pemain Niac Mitra. Kadang, kami berlari-lari bersama dan berlatih main bola bersama mereka. Juga ada Slamet, pemain Mercu Buana Medan. Dari merekalah kami berlatih sepak bola.

Nah, saat kami masuk klub, Yono masih saja bermain bola sepak di kampung. Belakangan, sambil bekerja ikut orang di salon kecantikan, ia masuk klub sepak bola Bentoel.

Entah kapan kami berpisah. Yang jelas saya sudah lupa alias tak bertemu Yono lagi, sejak rumahnya dijual. Dari kecil, Yono memang tipe bocah mandiri. Walau berasal dari keluarga tidak mampu, ia sangat rajin bekerja. Pekerjaan apapun dia lakukan, asal dapat uang. Bahkan, ia pernah jadi kuli batu segala. Tidak hanya itu, kadangkala, dia ikut saya ngamen, menyanyi dari kampung ke kampung menjajakan suara.
***
TAHUN terus berjalan. Setiap pulang ke Surabaya, saya sudah tidak inggat lagi nama Yono, bocah berkulit putih dan rada pendek.
Nah, dari SMS itu saya mulai menebak. Jangan-jangan dia adalah Yono, teman kecil, teman satu kampung saya.

Karena penasaran, dia saya hubungi. "Kamu Yono Bronggalan ya?" "Iya.... Masak kamu lupa sama saya," katanya. "Sebentar ya... nanti saya hubungi, kebetulan saya lagi kerja motong rambut," tuturnya.
Selang satu jam kemudian, telepon saya berdering. Eittt... Yono rupanya telepon balik. Dia menanyakan kabar saya. Saya jawab alhamdulillah dan saya katakan bahwa saya sekarang kerja di Kalimantan.

"Enggak apa-apa.... Saya hanya berharap umurmu dowo, rezekimu akeh, anakmu sehat-sehat dan jadi orang," katanya dalam dialeg Suroboyo yang medok.

Dalam komunikasi itu, Yono lebih banyak bercerita tentang rekan-rekan kita yang nasibnya tidak begitu baik. "Sekarang saya dengar Acil sudah di Jakarta. Dia sudah kaya. Kamu juga. Nah, ada satu teman kita yang waktu itu orang tuanya kaya, sekarang hidupnya menyedihkan. Saya sangat kasihan kalau ketemu dia," tuturnya.
Siapa namanya?

"Itu... Eko... Bapaknya dulu kerja jadi tentara, angkatan laut." Oh... saya inggat betul dengan wajah dan tabiat Eko. Maklum, ketika sama-sama masih duduk di bangku SMA, Eko hidupnya serba berkecukupan. Di kampung kami, rumanya mungkin paling keren.
Bapaknya, sangat sayang sama anak-anaknya. Ibunya pun supel bergaul, terutama ketika kami main-main ke rumahnya. Hampir setiap hari, kami selalu jalan berdua.

Belakangan, ia keburu menikah selepas SMA. Bersamaan dengan itu, ayahnya meninggal dunia. Sejak saat itu, keluarganya pontang-panting mencari nafkah.

"Ibunya sekarang juga sudah meninggal. Dia belum punya rumah dan masih kontrak. Kadang kalau saya bertemu dia, saya selalu memberikan uang. Saya benar-benar kasihan dengan dia. Dia sekarang ngamen di Terminal Wonokromo bersama teman-temannya, termasuk Klanting," jelas Yono.

Hari itu, pendek kata saya dibawa Yono ke masa lalu, masa yang sungguh menyenangkan, walau ketika malam tiba rumah kami tidak ada lampu penerangan, kecuali lampu templok. Setiap malam, suara jengkerik dan kodok, bersahut-sahutan, saling menyanyi bersama gesekan biola daun-daun padi yang menguning.
***
MASIH menurut Yono. Ternyata kunci keberhasilan manusia itu kerja keras. "Dulu saya ketika masih kecil, kurang kerja keras gimana. Kamu sendiri kan tahu. Bahkan, kita sama-sama ngamen bersama kamu dan Eko. Tapi saya tahu, kamu ngamen bukan untuk mencari uang atau menjadikan keahlian itu sebagai profesi. Kamu kan hanya melatih mental saja dan hobi nyanyi. Sedangkan Eko tidak. Dia, maaf dari dulu rada manja dan ngamen menjadi profesinya," tuturnya.
Setelah cas... cis... cus... akhirnya, ganti saya yang bicara.

"Anakmu berapa?" "Anakku tiga." "Umur berapa dan sekarang kerja dimana?" "Anakku yang pertama cewek. Dia sekarang menjadi dokter umum di RSUD Dr Soetomo. Sedangkan yang kedua juga cewek dan sekarang bekerja menjadi dokter gigi. Yang terakhir masih SMA," tuturnya.

Wow... saya sedikit terperanjat. Ternyata, kawanku ini mampu mendidik anak-anaknya hingga menjadi manusia sukses. Latar belakang pendidikan saja hanya SD kelas tiga, tetapi ia mampu mengangkat derajat anaknya.

Apa sudah menikah? "Sudah... belum lama ini. Setelah menikah dia saya belikan rumah di Citraland." Wew... ciamik tenan koncoku ini.
Nah, dalam kesempatan itu dia menawarkan agar saya mampir ke rumahnya jika ada waktu luang. "Saya masih buka usaha salon. Alhamdulillah... sampai sekarang masih jalan terus. Cuman, begini ya... saya hanya berpesan. Jangan sekali-kali main perempuan. Nakal ya nakal.. jangan sampai jatuh cinta lagi," pesannya. "Kok? Emangnya kenapa?" pancing saya. Dia hanya ketawa..... (achmad subechi)

Speed Boat Kami Dipandu Kapal Jepang


* Dibalik Keindahan Menjelajah Pulau Maratua (5)

LAPORAN
-----------------
ACHMAD SUBECHI
M WIKAN
BASIR DAUD
------------------

MALAM itu suasana di Maratua Paradise Resort, terasa sepi. Beberapa rekan wartawan nasional sudah beranjak ke kamarnya masing-masing.

DEBURAN ombak, pasca kepergian Arif Hadianto (Staff Public Relation PT Berau Coal) dan Basir Daud (wartawan Tribun Kaltim) menuju Pulau Derawan menumpang speed boad, memecah keheningan. Dari jam ke jam, deburannya semakin keras. Ada kegelisahan dalam hati mengenai nasib keduanya.

"Saya rada was-was dengan gelombang yang semakin membesar. Semoga keduanya enggak ada masalah dalam perjalanan menuju Derawan," tutur saya kepada Fadli, karyawan bagian desain grafis yang ikut juga dalam rombongan.

Sesekali, saya kontak mereka via handphone. Lagi-lagi tak ada jawaban. Tak terasa hari sudah mulai larut malam. Jarum jam sudah menunjukan pukul 23.00 Wita. Seorang petugas resort menceritakan bahwa dulu ada speed boat yang terbalik saat membawa wartawan menuju Derawan. "Untungnya mereka memakai jaket pelampung. Dan jika dibandingkan dengan kondisi sekarang ini, ombaknya memang lebih besar. Apalagi kalau malam hari," tuturnya.

Cerita itu membuat hati saya makin kecut, memikirkan nasib dua teman yang sedang berlayar ditengah hantaman gelombang. Ditengah kecemasan, tiba-tiba handphone saya berdering. "Mas Bec... saya sekarang masih berada di laut dan belum nyampai Pulau Derawan. Nih lagi mencoba modem, siapa tahu bisa dikirim dari sini filenya. Jadi sekarang speednya lagi berhenti," tutur Arif.

Perasaan takut, cemas dan entah apalagi, seakan-akan lenyap seketika. Dua rekan kami ternyata aman-aman saja. "Nanti kalau enggak bisa terkoneksi ya terpaksa saya harus ke Derawan," tambahnya.
***
SATU jam kemudian, saya coba hubungi Arif dan Basir. Handphone keduanya mati. Rasa cemas kembali datang. Perlahan saya langkahkan kaki menyusuri geladak resort menuju ke kamar.

Di kamar, Fadli sedang duduk termenung. Rupanya, ia juga memikirkan nasib rekan-rekannya. "Sudah ada kontak Mas dengan mereka?" "Sudah.... tapi mereka belum sampai ke Derawan," tutur saya.
Malam itu, Maratua terkesan menyeramkan. Hantaman ombak ke kaki-kaki resort terbuat dari kayu ulin, terasa mengayun-ayunkan kami. Suara ombak yang begitu keras, mirip seperti hujan badai. Lebih-lebih di luar kamar. Angin bertiup begitu kencang.

Saat menanti kepastian itulah, tiba-tiba handphone kembali berdering. "Mas... saya malam ini tidak jadi balik ke Maratua. Nih, kami sudah berada di Derawan dan sedang berusaha mengirim email. Jadi kami nginap di Derawan, besok pagi balik ke Maratua," tutur Arif. Plong.... rasanya.

Sejak itu, mata kami sudah bisa diajak kompromi. Sementara deburan ombak di bawah kolong tempat tidur terasa semakin keras. Fadli, terlihat sudah terlelap. Saya pun mulai terkantuk.
***
PAGI hari ketika sarapan, beberapa wartawan nasional menanyakan nasib Arif dan Basir. Saya katakan mereka nginap di Derawan. Mereka lega.

Sekitar pukul 09.00 pagi sebuah speed boat terlihat merapat di dermaga Paradise Resort Maratua. Arif dan Basir turun dari speed. Kami bersalaman. Keduanya tampak masih loyo. Walau begitu mereka satu persatu mengisahkan petualangan sejatinya, menerjang ombak di malam hari.

"Saya duduk di bangku speed boat bagian belakang. Waktu itu langit tidak begitu cerah. Hanya satu dua bintang yang bersinar. Namun, permukaan laut di belakang speed boat penuh dengan cahaya dari organisme laut seperti plankton. Saya jadi ingat saat belajar di bangku kuliah. Walaupun saya tidak suka mata kuliah yang berbau biologi, tapi saya ingat yang satu ini. Mereka yang mengeluarkan cahaya di permukaan laut masuk dalam kelompok organisme bioluminesens. Organisme yang memproduksi cahaya dari suatu reaksi kimia. Di daratan juga ada. Misalnya kunang-kunang," kenang Basir memulai cerita.

Cahaya itu cukup menghibur di tengah gundah gelana menghadapi serangan ombak besar dalam perjalanan menuju Derawan. "Dalam hati saya berpikir, kemampuan renang saya yang terbatas tidak akan mampu bertahan lama jika speed boat tenggelam akibat dihantam ombak. Saya kembali memandang ke arah depan. Hamparan laut seolah tanpa batas. Gelap dan gelap... Hanya sorotan lampu speed boat. Saya lalu menenangkan diri dengan menyerahkan sepenuhnya kepada kemampuan motoris dan takdir. Saya tersenyum dalam hati. Motoris membawa alat Global Positioning System (GPS) yang digunakan sebagai alat navigasi. Keduanya mengaku keturunan suku bajo. Suku bajo dikenal bersahabat dengan lautan. Mereka menghabiskan sebagian besar hidupnya di laut," tuturnya.

Dalam perjalanan, kata Basir, ia berusaha menyalakan laptop dan berusaha mencari sinyal di sejumlah titik antara Pulau Maratua dan Pulau Derawan. Kata sang motoris di sejumlah lokasi, sinyal telepon sangat kuat. Selain agar cepat kembali ke Maratua, juga lebih cepat mengirim berita.

"Dalam perjalanan menuju perairan di tengah Maratua dan Derawan, kami dikagetkan dengan kapal pengangkut peti kemas asal jepang. Motoris mengatakan, jalur perairan itu kerap digunakan kapal besar. Melihat kapal yang hanya jelas dengan beberapa titik lampu, motoris mengurangi laju speed boat. Ia ingin mencari dimana batas belakang kapal agar tidak salah mengambil rute. Dengan lampu speed boat yang tak begitu terang, sang motoris memberikan kode, berharap kapal memberikan kode balik tentang kondisi panjang kapal."

Setelah tiga kali kode, kapal raksasa itu menyalakan lampu sorotnya, lalu mengarahkan ke bagian depan tengah dan belakang kapal agar terlihat. Lampu sorot kapal berhenti di belakang kapal agar dapat digunakan sebagai panduan speed boat yang hendak melintasi belakang kapal.

Seketika itu juga sang motoris tancap gas melewati belakang kapal disusul bunyi peluit kapal Jepang seperti menyampaikan pesan selamat menempuh perjalanan yang masih panjang. "Sayang, speed boat tidak memiliki peluit untuk membalas salam kapal asal negeri Matahari terbit itu," ujar Basir.

Hampir sekitar 30 menit mengarungi lautan. sang motoris mulai mengurangi lajunya. Katanya, di lokasi ini biasanya sinyal berlimpah ruah.

"Saya membuka laptop yang terpasang di modem. Mencari sinyal, tapi belum juga berhasil. Begitupun pemberhentian selanjutnya. Kami lakukan sebanyak tiga kali. Sementara, Pulau Derawan mulai tampak dari lampu yang menyerupai titik-titik api dalam peta hotspot," jelas Basir.

Akhirnya, mereka memutuskan untuk lebih dekat lagi dengan Derawan. "Kami parkir di samping kapal satu keluarga suku Bajo. Mereka menambatkan kapal di luar pantai Derawan yang berjarak sekitar 2 Km dari garis pantai. Sepertinya motoris dan asisten mengenal keluarga itu. Mereka berbicara dalam bahasa yang tidak saya mengerti. Yang pasti bukan bahasa Inggris. Saya menebak, mereka sedang berkomunikasi dalam bahasa Bajo. Saya sempat melihat anak perempuan yang tidur berbalut selimut di atas dek kapal.
Syukurlah, parkir kali itu tidak sia-sia."

Rupanya, jaringan internet di kawasan itu bisa diandalkan. Berkas sebesar 2 Mega Byte via email dalam waktu kurang dari 60 detik sudah terkirim.

Saat akan mengirim file berikutnya, baterai lamptop mendadak habis. Laut terasa mulai kurang bersahabat. Angin kencang dan ombak besar mulai bergoyang. Kami memutuskan bersandar di Pulau Derawan untuk mengisi baterai dan melanjutkan pengiriman data. (*)

Senin, 05 Desember 2011

Susahnya Mendapatkan Sinyal Internet


Dibalik Keindahan Menjelajah Pulau Maratua (4)

LAPORAN
-----------------
ACHMAD SUBECHI
M WIKAN
BASIR DAUD
------------------

RESORT itu pantas dinamakan Paradise. Pemandangan sore dari teras belakang resort terlihat sangat indah. Sejauh mata memandang hanya hamparan laut biru. Pulau Maratua serasa daratan satu-satunya di dunia. Semilir angin dan segelas kopi menemani kami usai diving.

DITENGAH melepas lelah, handphone saya tiba-tiba berbunyi. Dari balik telepon terdengar suara Bintoro Prabowo, Manager of Public Relations Berau Coal.
"Arif (Arif Hadianto, Staff Public Relation PT Berau Coal) kok dari tadi saya hubungi enggak bisa, kenapa?" tanyanya. "Oh... dia habis diving. Nanti kalau ketemu dia saya beritahunya."

Beberapa saat kemudian Arif mendatangi saya. "Mas Bec, Pak Bintoro minta file PDF Journal IFRC dikirim hari ini, karena peserta sudah mau pulang," tuturnya. "Persoalannya bukannya tidak mau ngirim Rif. Saluran internet di sini ngadat."

Kemudian, saya minta Basir Daud menghidupkan laptop. Lagi-lagi jaringan internet tak bisa terdeteksi. Berkali-kali ia memindahkan posisi laptop dan modem eksternal, dengan harapan bisa mendapatkan sinyal. Bahkan, sejak dari Pulau Derawan, para wartawan nasional maupun lokal, terpaksa menambahkan lilitan kawat tembaga di tubuh modem eksternal agar bisa mendapatkan sinyal.

Rupanya jaringan internet di Maratua tidak bisa diakses. Langkah berikutnya adalah mencari warnet di sekitar Pulau Maratua. Seorang pengelola resort mengatakan, sebenarnya di Pulau Maratua ada jaringan internet. Sayangnya, jaringan itu tak berjalan normal dalam beberapa hari terakhir.

Sebenarnya di Maratua, ada dua sinyal operator selular. Sayangnya, kami hanya membawa modem dari satu jenis operator, sehingga tidak bisa mencoba sinyal operator selular lainnya.

Fotografer Tribun Kaltim, M Wikan H bersama Arif akhirnya menjelajah Pulau Maratua mencari jaringan internet. Siapa tahu ada warga yang memiliki akses internet.

Ternyata, di Maratua ada warnet. warnet itu bantuan dari Departemen Komunikasi dan Informatika untuk mengatasi isolasi informasi di daerah terpencil. Sayangnya, sejak Februari 2011, warnet tidak lagi bisa diakses internet.
***
BASIR Daud lalu menyusul M Wikan di warung internet. Lantaran sedikit melek tekhnologi, Wikan, berusaha membantu warga desa untuk menghidupkan kembali jaringan internet yang ada di warnet.
Bahkan, ia meminta Basir untuk membawa laptopnya. Untuk mencapai warnet, Basir terpaksa jalan kaki. Sebagian besar jalan yang dilewati adalah jalan setapak dengan alas tanah, lebar rata-rata sekitar setengah meter.

Sepanjang perjalanan, terlihat 'nyanyian' pohon kelapa yang menjulang tinggi diterpa angin laut. Setelah melewati jalan setapak, lebar jalan utama menuju pemukiman warga cukup lumayan, mencapai 10 meter.

Warnet berada tak jauh dari dermaga warga. Di samping warnet, ada tempat bermain billiar. Sampai di Warnet, Basir Daud melihat Wikan sedikit berkeringat. Ia lalu menunjukkan statistik di layar monitor.
Karena tetap tak bisa connect, Wikan sempat menghubungi petugas IT Tribun Kaltim untuk meminta tips.

Kesimpulan akhir dari serangkaian ujicoba itu adalah pengelola warnet harus menghubungi operator yang menyediakan layanan akses internet.
***
MENJELANG Maghrib, kami kembali ke resort. Lagi-lagi mencoba utak-atik laptop dan modem. Hasilnya tetap sama, nol sinyal. Padahal hari itu ada sejumlah berita penting yang hendak kami kirim ke Balikpapan, selain PDF Journal IFRC. Sambik menikmati makan malam, saya berdiskusi dengan Arif Hadianto, mencari solusi.

Hasil dari diskusi diputuskan, mengirim berita melalui Pulau Derawan. Itu artinya, kami akan naik speed boat di malam hari menuju Derawan.

"Mas Bec di sini saja enggak usah ikut. Mas kan enggak bisa berenang. Biar saya dan Basir daud saja yang ke Derawan malam ini," tutur Arif.

Selanjutnya, kami mencari informasi dari pengelola resort, mengenai keadaan cuaca di malam hari dan menyewa speed boat. Menurut petugas resort, biasanya keadaan gelombang di Maratua pada malam hari cukup ganas.

Walau begitu, Arif tetap memutuskan untuk berangkat, apapun yang terjadi. Selanjutnya, ia menelepon ke beberapa tokoh masyarakat di Pulau Maratua yang bisa membantu menyiapkan speed boat. "Kalau siap, kita berangkat sekarang. Harga Rp 1 juta enggak ada masalah," ujar Arif.

Tak lama berselang, sebuah speed boat kecil berkapasitas lima orang sudah yang ditunggu merapat di dermaga resort bersama satu motoris dan satu asisten motoris. "Berani berangkat Pak," tanya Arif. Tak terdengar jelas apa jawaban motoris. Sang motoris yang mengaku PNS itu, hnya tersenyum.

Basir dan Arif terlihat duduk di bangku speed boat. Suasana laut, sudah mulai gelap dengan deburan ombak lumayan kencang. Seakan mengucapkan salam perpisahan, speed boat itu lalu melesat ke tengah samudera. Apa yang terjadi terhadap dua rekan kami? Mengapa mereka tak juga tiba di resort Maratua hingga pagi hari? Ikuti cerita selanjutnya. (*)

Minggu, 04 Desember 2011

Wah... Ada Bulu Babinya Ya?


Dibalik Keindahan Menjelajah Pulau Maratua (3)

LAPORAN
-----------------
ACHMAD SUBECHI
M WIKAN
BASIR DAUD
------------------



PULAU Maratua terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil yang ada di sekitar teluknya, seperti Pulau Sidau, Pulau Semut, Pulau Andongabu, Pulau Sangalan, Pulau Bulingisan, Pulau Nisakoh, Pulau Bakungan, Pulau Nunukan dan gosong pasir serta Pulau Pabahanan. Ada beberapa pulau kecil yang dikelola warga asing, Jerman dan Malaysia. Pulau-pulau itu dilengkapi resort.

MARATUA surga bagi para pecinta keindahan bawah laut. Jika anda mau bertemu dengan ribuan ikan barakuda, atau ingin menikmati perjalanan penyu hijau, di sinilah tempatnya.

Kawasan di sekitar pulau ini memiliki 21 titik poin penyelaman, poin Batu Selatan, Coral Garden, Tanjung Keramat, Turtle Traffic, South Face, Gusung Pal, Maratua Reef, Cabbahes Coral, Sponge Reef, Mid Reef, Last Sand, Fuselier Paradise, Hanging Garden, Eel Garden, Fantasi Wall, CCM Paradise, Lighy House, Gorgonzola, East Wall, dan Channel.

Usai beristirahat sejenak, rombongan kami yang terdiri dari M Wikan, Basir Daud dan saya (Tribun Kaltim), Inne Nathalia, Haris Tan (Kompas TV), Amanda Valani, Pops Popovsky (Metro TV), Indra Harsaputra (Jakarta Post) dan Arif Hadianto (Staff Public Relation PT Berau Coal), menemui divemaster bernama Rivi.

Selanjutnya, kami diajak ke dive store. Di tempat ini kami memilih perlengkapan selam, seperti snorkel, masker, tabung oksigen, hingga regulator dan pakaian selam.

Hari itu hanya empat rekan yang berniat menyelam. Mereka adalah M Wikan, Amanda Valani, Pops Popovsky dan Arif Hadianto. Lainnya, tidak memiliki keahlian, termasuk saya. Karena itu, kami hanya ikut mengantar mereka menumpang speed boat menuju ke poin penyelaman.Tempat ini menjadi lalintasnya penyu (turtle traffic). Biasanya, penyu-penyu di tersebut menyempatkan diri beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke perairan lainnya.

Setelah peralatan dan perlengkapan selam kami siapkan, termasuk kamera dalam air, yang akan kami gunakan untuk mengabadikan penyelaman, kami didampingi divemaster Rivi, pria asal Bajau. Sehari-hari Rivi berada di Maratua Paradise Resort.
***
SIANG itu, Minggu (25/9), Rivi mengajak kami menumpang kapal, khusus mengangkut para penyelam. Perjalanan dari Maratua Paradise Resort menuju ke poin penyelaman, kira-kira memakan waktu 15 menit.
Sebelum menyelam ke laut, Rivi memberikan pengarahan, mulai dari cara memakai peralatan selam hingga penentuan waktu penyelaman di dalam air.

"Masing-masing penyelam memiliki buddy (teman). Kita menyelam di poin turtle traffic. Air agak tenang, ada beberapa isyarat dengan tangan yang harus kita cermati. Bila jari tangan saya membentuk angka nol, semua harus menjawab dengan mengangkat tangan. Artinya, tidak ada masalah. Jangan sekali-kali tidak menjawab, karena itu tanda kesadaran kita,” kata Rivi.

Selain itu, Rivi juga mengajarkan isyarat lainnya. Jika tangan seperti membelah horizontal, ini menandakan waktu penyelaman selesai atau penyelam harus naik ke permukaan. Isyarat lainnya posisi tangan hormat dengan cara menunjukan arah, merupakan isyarat arah penyelaman. "Kita akan menyelam selama 45 menit," kata Rivi. Wow... lama amat.

Satu persatu rekan-rekan kami mulai menyelam. Di atas kapal hanya tersisa, motoris, saya (Achmad Subechi), Haris Tan, Inne Nathalia, Basir Daud dan Indra Harsaputra.

Sesaat kemudian suasana menjadi hening dan hanya ditemani deburan ombak. Inne Nathalia yang dari awal ingin melakukan snorkeling (selam permukaan) atau selam dangkal, mulai menceburkan diri ke laur lengkap dengan pelampung.

Sang motoris, tertawa melihat kami para pria yang tak berani terjun ke dalam laut. "Ayuk.. kalau lainnya mau snorkeling silakan. Kami bawa alatnya," tuturnya.

Akhirnya, saya meminta Basir Daud untuk ikut menyebur ke dalam laut. "Kelihatannya dangkal nih Sir... Masak sarjana keluatan tidak bisa berenang," kelakar saya.

Tanpa basa-basi, Basir Daud melepas celana panjangnya. Ia lalu nyemplung ke dalam laut. "Kalau berenang begini saja sih saya bisa Mas," teriaknya.

Kemudian, Haris Tan dan Indra Harsaputra, ikutan menyeburkan diri setelah mengetahui kedangkalan air laut hanya setinggi dada. Walau begitu, mereka semua mengenakan jaket pelampung.

Melihat rekan-rekan lainnya berenang, saya akhirnya berminat juga untuk menikmati pemandangan bawah laut. "Wah ada bulu babinya ya?" kata saya kepada sang motoris. "Ehmm... enggak begitu banyak Mas. Asal jangan ke tengah saja. Di sana bulu babinya lebih banyak," tuturnya.

Saya rada trauma dengan bulu babi. Suatu hari ketika saya pergi ke Derawan, rekan saya Priyo Suwarno (Redpel Tribun Kaltim), kedua kakinya terluka saat berenang di sekitar jetty Derawan. Waktu itu ia sangat antusias untuk berenang begitu melihat keindahan Derawan. Saat menceburkan diri itulah, kedua kakinya menginjak bulu babi. Tahu sendiri kan resikonya kalau kena bulu babi?
***
JARUM jam terus bergerak. Rekan-rekan kami yang menyelam belum juga menampakkan batang hidungnya. "Ngapain aja ya mereka di bawah. Kok betah amat," guman saya dalam hati.

Sambil nongkrong di atas kapal menikmati lautan lepas, kami sempatkan diri untuk bercanda menunggu kehadiran teman-teman.
Tak lama kemudian saya melihat baju renang dari kejauhan. Rupanya, teman-teman sudah berdatangan dan mendekati kapal.

"Wah rugi kalau Mas Bec tidak menyelam. Pemandangannya begitu indah," kata Amanda. Sementara M Wikan, sibuk membuka hasil potretannya. Ada beberapa terumbu karang dan ratusan ikan karang di dasar laut yang diabadikannya. Termasuk penyu.

Kata mereka, saat menyelam arus laut saat itu lumayan kencang. Mereka memergoki enam penyu hijau yang sedang berenang dan ada juga yang lagi 'rebahan' di dasar laut.

"Apa tadi menemukan hiu?" "Wah kalau hiunya dia ada di poin satunya. Di sana...," kata sang motoris sambil menunjukan titik lokasinya. Ngeri ah... Selanjutnya kapal khusus menyelam merapat di dermaga Maratua Paradise Resort. (*)

Kakap Putih Terlihat Menari-nari


Dibalik Keindahan Menjelajah Pulau Maratua (2)

JOURNAL IFRC yang hendak kami kirim via email, rencanannya akan dibagi-bagikan kepada peserta yang hendak kembali ke kampung halamannya. Saat hendak dikirim, astaga aliran listrik di Pulau Derawan mati.

"KALAU begitu, nanti kita kirim dari Pulau Maratua saja," jelas Arif Hadianto, Staff Public Relation PT Berau Coal. "Apa ada jaringan internet di pulau itu?" tanya saya. "Seingat saya ada kok. Bahkan di sana ada warnet segala," balas Arif.

Pagi itu, ada beberapa pulau yang akan kami datangi. Pulau-pulau itu bertebaran di sekitar Pulau Maratua. Diantaranya, Pulau Kakaban dan Pulau Sangalaki.

Tepat pukul 06.00 Wita, sinar matahari pagi mulai tertutup oleh awan putih bercampur hitam. Angin berhembus melewati celah-celah pohon nyiur di tepi pantai Pulau Derawan. Berbagai jenis ikan karang berenang dengan lincah ditengah beningnya air.

Rombongan kami, M Wikan, Basir Daud dan saya (Tribun Kaltim), Inne Nathalia, Haris Tan (Kompas TV), Amanda Valani, Pops Popovsky (Metro TV), serta Indra Harsaputra (Jakarta Post), mulai menyiapkan perbekalan.

Tiga orang penduduk setempat membawa gerobak kayu, mangangkut barang-barang milik kami melewati jembatan Kiani yang panjangnya skitar 70 meter. Di jetty inisebuah speed boat yang kami sewa sudah bersandar.

Keberangkatan kami, sempat sedikit terhambat dengan datangnya seorang pengurus cottage. Pria itu menemui kami dan menanyakan kaki katak yang katanya sempat kami pinjam. "Mana kaki kataknya kok belum dikembalikan?" tanyanya.

Mendapat pertanyaan itu, rombongan kami agak kaget karena kami merasa tidak pernah meminjam. Daripada berkepanjangan, Arif, pemandi wisata kami dari PT Berau Coal, tanpa banyak bicara menyerahkan kaki katak miliknya. "Ini harganya lebih mahal. Ambil saja."

Usai menyelesaikan persoalan 'kecil', kami semua naik speed boat menuju Pulau Maratua. Pulau Maratua merupakan salah satu pulau di kawasan kepulauan Derawan yang letaknya berada di Kabupaten Berau, Propinsi Kalimantan Timur.

Pulau Maratua itu adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di lautan Sulawesi dan berbatasan dengan negara Malaysia. Pulau berbentuk kecil panjang dan lengkung tajam, seperti mata pancing, selama ini menjadi andalan pariwisata Kaltim.

Speedboat yang kekuatan mesinnya mencapai 200 PK, kapasitasnya 13 orang. Waktu tempuhnya dari Pulau Derawan menuju Pulau Maratua sekitar 45 menit.

Namun jika ombak dan angin kencang, maka perjalanan menuju Pulau Maratua bisa ditempuh lebih dari satu jam. Speedboat jenis Kapal motor tempel memiliki panjang sekitar lima meter, melaju kencang.
Tepat pukul 09.00 Wita, kapal motor tempel yang kami tumpangi meninggalkan Pulau Derawan. Barang-barang yang kami bawa sebagian besar adalah kamera. Semuanya kami letakkan di dalam speed boat dekat kursi motoris. Pengamatan saya, barang paling banyak adalah milik wartawan Metro TV. Rupanya, mereka membawa kamera bawah laut, lengkap dengan peralatan diving.
***
PAGI itu air laut terlihat sangat tenang dan hanya percikan ombak kecil dari kapal yang kami rasakan. Penghuni lautan masih dapat terlihat, hingga kami memasuki perairan dalam antara Pulau Derawan dan Pulau Maratua.

Saat speed yang kami tumpangi memasuki perairan kawasan Pulau Maratua, warna air laut berbeda dengan air laut yang berada di pulau Derawan. Penyebabnya, ternyata Pulau Maratua merupakan pulau karang, sehingga memiliki laut dangkal yang pendek dibanding dengan Pulau Derawan.

Di tengah perjalanan, Arif dan Amanda, terlihat naik di atas speed boad di tengah hajaran ombak menikmati indahnya alam semesta. Antara menyenangkan dan membahayakan, pikir teman-teman. Untungnya semua penumpang mengenakan jaket pelampung (life jacket).

Kami mulai baru merasakan hentakan ombak, saat speed boat mulai mendekati Pulau Maratua. Meskipun kami dapat melihat pulau itu dari kejauhan, namun membutuhkan waktu cukup lama untuk dapat merapat ke pulau nan menawan dan menjanjikan.

"Kita harus memutar untuk dapat merapat di Maratua Paradise Resort, karena laut masih surut. Coba lihat, sekitar resort masih terlihat karang, dan kita harus memutar masuk melalui sebelah kanan resort yang tidak ada karangnya,” kata sang motoris.

Hantaman ombak yang mulai membesar juga dirasakan dua rekan kami yang nongkrong di atap speed boat. Baju mereka basah kuyup terkena air laut.
***
SEMAKIN mendekati Maratua, ombak makin ganas. Akhirnya, sang motoris berhasil merapatkan speednya.Kami sangat terpesona, manakala untuk kali pertama menginjakan kaki di dermaga Maratua Paradise Resort.
Resort yang dikelola warga Malaysia, memiliki lebih dari 10 kamar dan letaknya di atas air. Sedang lima resort lainnya berada di tepi pantai. Semua dindingnya terbuat dari kayu yang dilapisi cat pelindung.

"Kami sering kemari, karena lokasi resort ini sangat indah dan untuk menuju kepulau-pulau lain lebih dekat,” ungkap Arif Hadianto.
Bukan hanya resort, pasir putih dan beningnya air laut di sekitar resort terasa menyejukan hati. Sangat indah dan menawan. Bahkan, beberapa rekan detik itu juga ingin menyelam dan menari-nari bersama ikan-ikan cantik.

Setelah mengeluarkan barang-barang dari kapal, kami menaiki tangga resort yang semuanya terbuat dari kayu, kami disambut dengan senyum ramah para karyawan resort yang semuanya merupakan warga Pulau Maratua.

Lima kamar kami pesan, tarif satu kamar untuk satu malam dari Rp 500 hingga Rp 800 ribu. Selain menawarkan pemandangan pantai, Maratua Paradise Resort, juga menawarkan pemandangan sunset yang dapat dinikmati dari kamar. "Murah kan Mas harganya. Angka itu sudah termasuk makan tiga kali," tutur Arif.

Setiap kamar memiliki fasilitas seperti kamar mandi lengkap dengan air panas, air conditioner (AC), balkon untuk santai dan lemari es.
Bahkan, dari dalam kamar mandi, kita bisa menikmati pemandangan laut yang luar biasa mempesonanya.

Namun untuk hiburan seperti televisi pihak resort tidak menyediakan. Sedangkan kuliner yang disuguhkan kepada para tamu, pengelola resort memberikan banyak pilihan, seperti makanan Eropa dan makanan laut. “Untuk makanan laut kami mendapatkannya dari penduduk di Pulau Maratua. Mereka rata-rata nelayan dan selalu menjual hasil lautnya ke resort kami,” ungkap salah satu karyawan resort.

Di bawah resort, kami melihat gerombolan ikan kakap putih menari-nari dan saling berkejaran. Usai membawa barang-barang ke dalam kamar resort, kami kembali mempersiapkan diri menikmati indahnya terumbu karang di kawasan Maratua Resort.

Kami harus beristirahat sejenak, menikmati makanan yang disajikan, sambil mempersiapkan diri untuk melakukan diving dan snorkeling di perairan tersebut. (ACHMAD SUBECHI)

Sabtu, 03 Desember 2011

Ada 'Umi Hotaru' di Derawan


Dibalik Keindahan Menjelajah Pulau Maratua (1)


EVENT Indonesian Fire and Rescue Challenge (IFRC) yang diselenggarakan 16-27 September 2011 di Berau, telah berakhir. Banyak catatan menarik selama mengikuti kegiatan IFRC. Diantaranya adalah keindahan Pulau Derawan dan Maratua yang akan diturunkan secara bersambung mulai hari ini.

MALAM itu adalah hari terakhir IFRC digelar di Pulau Derawan. Sebagai tuan rumah event nasional kali ini adalah PT Berau Coal. Selesai acara penutupan, rombongan wartawan nasional dan lokal, membuat acara bakar-bakar ikan. Acara serupa sebelumnya juga kami gelar di depan cottege.

Pada hari terakhir, api unggun sengaja kami buat. Albertus Prayudha, wartawan Trans 7 paling getol menyalakan api bersama Sofyan dan Agustinus Bayuadji Ranuatmadja (Banda Indonesia Balikpapan). Saat api unggun mulai membesar, tiba-tiba Albertus berteriak. "Ada tukik (anak penyu)."

Sontak beberapa teman wartawan dan anggota relawan Banda Indonesia Balikpapan yang lagi nyantai di teras penginapan berlarian. Mereka adalah Agustinus Bayuadji Ranuatmadja, Sofyan (Banda Indonesia), Muhammad Hilmansyah (Metro TV), Albertus Prayudha (Trans 7) dan Jasmin (Trans TV), Ilo (Kompas), M Wikan dan Basir Daud (Tribun Kaltim), Inne Nathalia, Haris Tan (Kompas TV), Amanda Valani, Pops Popovsky (Metro TV), dan Indra Harsaputra (Jakarta Post).

Kali ini tidak hanya satu tukik. Ada beberapa ekor tukik bermunculan dari balik pasir. Rupanya, tukik-tukik itu keluar setelah melihat nyala api. Malam itu juga, kami semua secara 'ritual' melepas tukik dimotori oleh Ilo, wartawan Kompas.

"Mari kita lepas tukik ini ke laut," tuturnya. Sebelum dilepas, kami sempat berfoto bareng. Ada lima tukik yang dikembalikan lagi ke habitatnya. Sesaat kemudian, tukik-tukik lainnya bermunculan. Lagi-lagi kami mengembalikan ke habitatnya.

"Jangan di tempat terang melepaskan tukiknya. Dia pasti kembali lagi mendekati api unggun," tutur Arif Hadianto, Staff Public Relation, PT Berau Coal sambil berjalan menuju ke pesisir pantai yang agak gelap.

Usai melepas tukik-tukik itu, kami sedikit terperangah dengan kunang-kunang laut. "Binatang apa ya ini? Aneh... kok nyala," tanya Arif.

Binatang itu terlalu kecil dan susah diidentifikasi bentuknya karena datang bersama ombak lalu menyelinap diantara butiran pasir.
Kami sempat menangkapnya. Sayangnya, sulit membedakan mana yang pasir dan mana kunang-kunang.

Organisme dasar laut itu akan menyala ketika kita siram dengan air laut. Konon, binatang ini hidup di sekitar laut jepang dan doyan begadang.

Masyarakat Jepang memanggilnya 'umi hotaru' atau sea-fireflies. Bentuknya, mirip pasir dan rada pemalu karena kalau siang suka ngumpet dibalik rumput laut.

Kunang-kunang marina ini punya kehidupan yang unik. Siklus hidupnya berkisar antara enam bulan sampai satu tahun. Kunang-kunang laut termasuk keluarga udang-udangan atau crustacea. Jenis yang dapat mengeluarkan cahaya adalah vargula hilgendorfii dan cypridina hilgendorfii.

Karena penasaran ingin melihat bentuknya, masing-masing rekan mengambil sejumput pasir, diteliti satu persatu. Aiiii... lagi-lagi binatang itu susah dilihat dengan mata telanjang. Terlalu kecil...

***
PULAU Maratua. Nama pulau ini tak begitu asing bagi warga Kalimantan Timur. Keindahan alam dan keramahan penduduknya, membuat kami enggan beranjak meninggalkan pulau yang telah menanamkan rindu. Mengapa Maratua mampu membuai rindu para wisatawan? Benarkah Maratua menjanjikan sejuta pesona?

Pagi itu speedboat yang akan membawa kami berlayar terlihat bersandar di salah satu jetty Pulau Derawan. "Teman-teman speedboat sudah siap. Kita akan segera berangkat ke Pulau Maratua," kata Arif Hadianto, Staff Public Relation, PT Berau Coal.

Mendapat arahan itu, rombongan kami, M Wikan, Basir Daud (Tribun Kaltim), Inne Nathalia, Haris Tan (Kompas TV), Amanda Valani, Pops Popovsky (Metro TV), dan Indra Harsaputra (Jakarta Post), segera menyiapkan semua perbekalan.

Kami pun juga melakukan hal yang sama. Sebuah personal computer (PC) yang sengaja kami bawa dari Balikpapan untuk mendesain halaman khusus liputan Indonesian Fire and Resque Challenge (IFRC) ke 14, ikut kami kemas.

Sebelum meninggalkan cottage, kami berniat mengirimkan satu file Journal IFRC yang masih tersisa dalam bentuk PDF ke teman-teman yang ada di PT Berau Coal untuk difoto copy.

Journal IFRC itu rencanannya akan dibagi-bagikan kepada peserta yang hendak kembali ke kampung halamannya. Saat hendak dikirim melalui email, astaga aliran listrik di Pulau Derawan mati. "Kalau begitu, nanti kita kirim dari Pulau Maratua saja," jelas Arif Hadianto, Staff Public Relation PT Berau Coal. "Apa ada jaringan internet di pulau itu?" tanya saya. "Seingat saya ada kok. Bahkan di sana ada warnet segala," balas Arif. (ACHMAD SUBECHI)