
ACAP KALI ia menjemputku di beranda rumah. Ketika pintu taksi terbuka, sang perut buncit menyapaku dengan caranya sendiri. Bulu-bulu di tubuhnya, ia gesek-gesekan ke kakiku. Geli... tapi, aku suka, apalagi ada kesan ia ingin bermanja-manja denganku.
Dalam beberapa hari ini, si perut buncit selalu saja duduk di depan pintu rumahku. Ketika aku melangkahkan kaki keluar rumah, ia selalu saja ingin bermanja-manja. Kata orang Jawa, muyek... terus alias kagak mau pergi.
Nah kalau sudah begitu, kutatap kedua matanya yang caem. Ingin membelainya. Tapi jangan coba-coba. Ia rada ganas lho. Pernah suatu hari aku ingin memeluknya. Ehmm... baru saja tangan kananku menyentuh tubuhnya, ia sontak menggeliat, lalu kuku-kukunya yang tacam menancap di tanganku. Sekali tarik, darah keluar. Duh... di perut buncit galak amat. Antara sebel dan senang.
Tak hanya kali ini saja si perut buncit menancapkan kukunya ke tubuhku. Suatu hari ketika aku tak merespon manjanya, ia rada sebel. Jemari kakiku dicengkeramnya. Lagi-lagi kuambil betadi, takut infeksi.
Nah, dua hari lalu, perutnya semakin membesar. Mungkin ada empat bayi yang di kandungnya. Merasa kasihan, aku balik ke dapur. Tak ada ikan yang tersedia untuknya. Lalu kubuka kulkas. Ehmmm... ada yang masih terbungkus rapi. Naget itu lalu kugoreng.
Kemudian, kuberikan kepada si perut buncit. Kali ini ia rada tidak doyan. Sebel juga melihat polanya. Lalu naget itu kucuil-cuil agar aromanya merebak. Kali ini, ia mulai doyan. Lahap... alias nyam-nyam.
Nah, saat si perut buncit menikmati naget, istriku mendadak teriak. "Kok kenapa nagetnya dikasihkan ke kucing? Itu kan ada ikan di meja makan." Astaga....! Ngomel lagi, ngomel lagi.
Aku terdiam. Sesaat kemudian, kulangkahkah kaki masuk ke dalam rumah. Ternyata ada beberapa ikan yang telah digoreng istriku. Bagian kepalanya, kupotong dan kuberikan kepada si perut buncit. Sang meong merasa kegirangan dan aku lega alias plong lantaran makanan yang aku berikan itu bisa bermanfaat buat sang jabang bayi.
***
TADI pagi, si perut buncit datang kembali ke rumahku. Ia duduk di depan pintu. Kuambilkan sepiring ikan bandeng yang telah digoreng istriku. Tanpa sepengetahuannya, ikan-ikan itu dilahapnya. Aku tertawa dan merasa senang.
"Semoga sedekahku kepada sang meong bermanfaat," gumanku..
Usai si perut buncit menyantap ikan bandeng, istriku lagi-lagi memergokinya. "Hah? Mana ikan-ikan yang aku goreng tadi? Astaga.... masak dikasihkan ke kucing semuanya. Duh... Papa ini gimana sih... Anak-anak mau makan apa?" Ngomel lagi ngomel lagi... Aku hanya terdiam dan terdiam. Ternyata bersedekah pun ada tata caranya, ada toto kromonya, alias bukan grasak-grusuk seenak udelnya biar tidak menyinggung perasaan manusia lain....
0 komentar:
Poskan Komentar