Kamis, 05 Januari 2012

Kerinduan


HUJAN tak lagi berhenti. Suara petir bergemuruh, saling bersahut-sahutan. Kutatap dari balik jendela, ada gelembung-gelembung air di tanah.

GELEMBUNG-gelembung itu meletus satu persatu. Tumbuh kembali, meletus lagi hingga hujan reda. Ketika dingin menerpa, ketika sunyi menyergap, ketika diri ini kehilangan kehangatan, ingin kupeluk dia.

Kali ini engkau aku timang-timang, lalu kuajak engkau bermain menatap hujan. Kukecup keningmu sambil kugendong. Kemudian kuajak engkau mendekati si meong yang kedinginan di depan sebuah toko.

Lalu kuturunkan kedua kakimu ke tanah mendekati si meong. Eitt... engkau teriak, setengah merenggek, ketakutan. Tapi kedua kelopak matamu yang jernih, tak pernah lepas menatap meong yang tengah kedinginan.
***
KOTAK berbentuk kubus, segitiga dan jajaran genjang itu warnanya mempesona. Belum lagi bola-bola plastik. Engkau ambil kotak-kotak itu, lalu engkau masukan ke dalam bola berlubang.

Sesekali aku memintamu melakukan kembali. Eittt... engkau benar-benar pandai. Lalu senyum pun mengembang. Di atas meja panjang itu, kau permainkan benda-benda itu. Lagi-lagi mata emakmu terlihat ceria, seceria senyumnya.

Bola-bola itu engkau lempar ke lantai. Laju dan terpental kesana-kemari. Engkau tersenyum. Aku pun ikut riang. Tak usah kau tanya kemana cinta yang begitu tulus itu sekarang pergi? Cinta itu kini bersamamu.

Bola-bola menyeruak masuk ke dalam kolong, membentur kaki-kaki meja. Engkau berusaha mengambilnya. Lagi-lagi aku melarangmu. Biarkan aku saja yang mengambilnya, walau keringat membasahi tubuhku. Berkali-kali engkau lakukan itu, berkali-kali itupula aku memungutnya.

Jarum jam terus bergerak. Sore menjemput. Engkau harus pergi ditengah rintik. Kupayungi, kuantar engkau ke dalam mobil yang ada di seberang jalan. Kedua matamu, masih menatapku. Mobil itu lalu meleset. Hanya derai dan derai yang tersisa.

Kali ini, ada lega. Rindu sudah tertebus. Kapan lagi engkau bermain, menebar senyum, tertawa riang dan bercanda bersamaku kembali seperti ketika emakmu lamat-lamat memperhatikan keceriaan kita berdua.

Lalu kita tatap awan, ehm... gelap... sebentar lagi hujan makin deras, sederas cintaku, sayangku kepada engkau....

0 komentar: