Selasa, 10 Januari 2012

Menghapus Folder di Dalam Hati

MENCINTAI dan dicintai. Menyayangi dan disayangi. Mengasihi dan dikasihi. Dunia rasanya adem, nyaman dan menyenangkan, manakala cinta, sayang dan kasih itu dapat terwujud dengan sepenuh hati dan dilandasi dengan keikhlasan.

Rasa-rasanya sulit untuk diimplementasikan, walau hanya tiga kata: cinta, sayang dan kasih. Sebelum panjang lebar bicara tentang cinta, mari kita kupas dulu definisinya.

Kalau tidak salah, cinta adalah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi cinta, bermakna mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang.

Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi atau kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan sang objek.

Nah, dari definisi itu, kita tak perlu lagi membedah kata sayang dan kasih. Mengapa? Di dalam cinta, kedua kata itu sudah termaktub di dalamnya. Ha... ha... ha... kayak undang-undang dasar saja.

Biasanya, ungkapan rasa cinta itu ditujukan kepada keluarga, teman-teman, pacar (asmara) dan lain sebagainya. Sedangkan perasaan antarsesama biasa ddisebut kasih sayang. Sedangkan perasaan terhadap dirinya sendiri, biasanya disebut narsisisme. Bagaimana kalau perasaan cinta itu kita tujukan kepada negara? Itulah yang dinamakan nasionalisme.
***
MENCINTAI, mengasihi dan menyayangi, tak selamanya indah. Tergantung persepsi dari mereka yang disasar. Kadang, ketika kata cinta diungkapkan kepada seseorang baik itu pacar, teman atau kerabat, bisa melahirkan penafsiran yang berbeda.

Misalnya, ketika ada seorang pria mengatakan kepada teman wanitanya, "Aku mencintaimu..." Sang wanita yang merasa bukan pujaan hatinya, bisa jadi bakal sewot bahkan menilai ucapan itu lebay.

Sebaliknya, ketika kata cinta diungkapkan kepada sang kekasih, wow... berbunga-bungalah hatinya. Dunia, seakan milik mereka berdua.

Lalu bagaimana ketika cinta tercerabut dari akarnya? Yang tersisa adalah luka, tangis, kebencian, kesedihan dan entah apalagi.

Bagi mereka yang sudah terbiasa putus cinta, prahara itu tak akan berimplikasi kepada fisiknya. Bahkan, ia akan tetap tegar menantang sang badai mencari sang kekasih yang baru.

Tetapi bagi mereka yang memang dari sononya hatinya terlalu lembut, implikasinya sangat jelas. Indikatornya, tidak doyan makan, suka melamun, terjebak pada romantisme masa lalu, selalu mual ketika wajah sang mantan seakan-akan melintas di depan matanya, susah tidur (depresi), berjalan tak tentu arah, kurang bersemangat dalam melakukan aktivitas apapun, cenderung menyendiri, gelisah berkepanjangan, tak merespon ketika diajak ngobrol dan berbagai macam tanda-tanda.

Paling mengerikan adalah ketika mereka menutup diri, mengurung diri dan tak lagi mau bermain dengan apa yang dinamakan cinta.

Seorang rekan wanita bergelar dokter, kemarin bercerita banyak kepada saya bahwa ia sudah mual dengan kata-kata cinta. Usut punya usut, pengalaman masa lalu membuat dirinya 'sakit' ogah berkenalan lagi dengan cinta.

"Bayangkan, kedua orang tua kami sudah setuju. Calmer juga sudah setuju. Menungggu saya selesai diwisuda setelah itu kami akan menikah. E ternyata ada-ada saja kendalanya. Semuanya menjadi berantakan," kata sang dokter wanita.

Ia mengaku sudah tiga kali patah hati. Gara-gara trauma masa lalu, membuat hatinya tertutup. Tak ada lagi ruang atau folder baru yang diberi nama cinta untuk menampung perasaan cintanya maupun pria yang menaruh hati kepadanya.

***
BENARKAH hati bisa patah? Itu hanya istilah saja. Hati terbuat dari segumpal darah berwarna hitam. Bentuknya kecil, tapi dalamnya sangat luas.

Hati kerap melahirkan folder-folder baru ketika sang pemilik raga terbersit secuil harapan atau keinginan. Misalnya, ketika kita melihat rumah mewah, maka secara otomatis hati telah menciptakan folder 'rumah'. Begitu juga ketika muncul keinginan memiliki mobil mewah, pacar cantik/tampan, uang segudang dan lain sebagainya.

Nah, persoalannya, kita tidak terbiasa atau bahkan tidak bisa menghapus semua folder yang sudah ada di dalam hati. Pernahkah kita melakukan introspeksi diri, folder apa saja yang sudah ada di dalam hati kita? Atau jangan-jangan folder-folder itu berisi sampah, alias tak ada manfaatnya.

Kepada saudaraku yang sedang patah hati, kepada saudaraku yang berkeinginan mempercantik diri, kepada saudaraku yang memimpikan rumah, mobil baru dan lain sebagainya, mari kita renungkan: apakah folder itu masih relevan? Jika tidak, pejamkan mata, tangan kanan seakan-akan menyentuh hati, lalu ambil folder-foldder sampah itu, kemudian campakan ke dalam recycle bin....

Semoga dengan cara ini, akan lahir spirit baru, bagaimana cara meraih semua mimpi-mimpi itu.... Bayangkan apa yang hendak diraih dan pikirkan terus menerus tanpa henti, maka alam akan bekerja dengan sendirinya lalu membawa mimpi-mimpi itu kepada saudaraku... Tetap semangat dan jangan mudah putus asa. Hidup harus dinikmati, asal kita bissa menemukan cara bagaimana menikmati indahnya kehidupan ini...

0 komentar: