Rabu, 11 Januari 2012

Uang Rakyat

DI DUNIA ini siapa sih yang tak bisa menghabiskan uang? Ketika uang (anggaran) berlimpah, maka cara menghabiskannya pun dengan mudah kita temukan.

Tetapi bagaimana caranya kalau uang dari rakyat itu kita kembalikan lagi ke rakyat? Eiiitt... nanti dulu. Pasti mbulet dan belum tentu semua dana nyampai ke rakyat, walau program-program yang ditawarkan sangat menjanjikan.

Adalah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Lembaga legislatif yang selama ini katanya dekat dengan rakyat dan kepanjangan tangan dari rakyat, kembali menjadi sorotan publik.

Setelah mendapatkan kritik tajam dari publik gara-gara berencana membangun gedung super mewah, DPR kembali menjadi bahan cemoohan rakyat.

Kali ini diam-diam DPR RI melakukan renovasi toilet, pengadaan peralatan absen finger print, perbaikan areal parkir motor dan merenovasi ruang rapat Badan Anggaran (Banggar) DPR.

Hanya membutuhkan waktu 48 hari, gedung Banggar sudah berubah menjadi ciamik, mentereng dan wah. Dana yang ditelan cukup fantastis, Rp 19.995.000.000. Angka ini belum termasuk biaya lain-lain.

Biaya pengerjaan renovasi ditambah konsultan perencana dan konsultan pengawasnya mencapai Rp 20.794.890.000. Untuk mengisi ruang rapat itu, Setjen DPR membeli hampir 200 kursi impor. Wow... sedap coi...! Emangnya negeri ini tak memiliki produk lokal?

Sedangkan untuk renovasi 220 toilet di Gedung Nusantara I, diperkirakan menelan dana Rp 2 miliar. Kalau kita bagi, maka satu toilet memakan dana Rp 9 juta.

Begitu juga perbaikan areal parkir motor. Kali ini DPR menganggarkan dana Rp 3 miliar. Uniknya lagi, sejumlah pimpinan dan anggota DPR RI mengaku tidak tahu menahu tentang urusan bangun membangun itu.

Semuanya ditangani Sekjen DPR RI. Seperti disampaikan Anggota komisi I DPR, Tjahjo Kumolo, semua proyek itu bukan urusan anggota DPR.
Ketua DPR Marzuki Alie pun juga mengaku kaget bukan kepalang. Ia tidak tahu menahu soal renovasi ruangan rapat Badan Anggaran (Banggar) DPR yang mencapai Rp 20 miliar.

"Pembangunan Banggar DPR Rp 20 miliar. Kita minta itu evaluasi lagi, itu pasti ada yang salah. Masa ruangan 10 x 10 meter habis Rp 20 miliar, saya agak terkejut itu, kaget. Uang segitu mau buat fasilitas apa? Mau buat pesawat ke ruang angkasa barangkali. Ruang rapat ada teknologi seperti apalagi?," jelas Marzuki.

Sayangnya kekagetan Marzuki sudah terlambat. Gedung Banggar sudah terlanjur dipoles, dipercantik dan kini menjadi imut-imut lengkap dengan LCD TV wall selebar 2 x 2 meter sebanyak tiga unit. Belum lagi dindingnya, dilengkapi penyerap suara supaya tidak memantul alias tak bocor keluar.

Kalau sudah begini lalu mau apalagi? Tidak mungkin gedung yang sudah direnovasi itu dibongkar kembali. Seharusnya, sebagai wakil rakyat, bapak-bapak terhormat di lembaga legislatif indera pengelihatan dan pendengarannya lebih tajam serta hatinya lebih melek lagi.

Sebaliknya, jangan saling lempar handuk ketika publik dengan gencar menyoroti pemborosan uang negara. Bagaimana pun juga, uang negara adalah uang milik rakyat yang harus dikelola dan dikontrol dengan baik dan benar. Bukan, diobral sesuka-suka udelnya tanpa mempedulikan kondisi keuangan negara.

Andai uang sebesar Rp 25 miliar lebih itu jika kita belikan nasi bungkus dan kita bagi-bagikan kepada penduduk miskin, mungkin ada sekitar 5 juta orang yang bisa menyambung hidupnya (asumsinya satu bungkus Rp 5000). Sedangkan jumlah penduduk miskin di Indonesia hingga 2010 mencapai 31 juta lebih.

Kepada saudara-saudaraku pemegang kendali pemerintahan, kami hanya berharap kelola uang negara dengan bijak, sehingga rakyat dengan ikhlas dan tulus mau membantu membangun negeri ini melalui ketaatan dalam membayar pajak.

0 komentar: