<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006</id><updated>2012-02-20T11:12:02.036+07:00</updated><category term='Myanmar'/><category term='karyawan'/><category term='perusahaan'/><category term='Rizal'/><category term='wanita'/><category term='tribunnews.com'/><category term='achmad subechi'/><category term='pengemis'/><category term='killing'/><category term='Buyung'/><category term='Lebaran'/><category term='anak-anak'/><category term='Burma'/><category term='perubahan'/><title type='text'>achmad subechi (The Soul and Spirit of Mankind)</title><subtitle type='html'>SARANA atau wadah bagi siapa saja yang ingin berbagi pengalaman mengenai hakikat kehidupan dan pencerahan jiwa, akal dan hati. Spirit lahir dari jiwa, hati dan akal yang bersih</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>354</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-2200019021812906768</id><published>2012-02-20T11:08:00.001+07:00</published><updated>2012-02-20T11:12:02.045+07:00</updated><title type='text'>Ribetnya bertemu Jusuf Kalla</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-aYp0zV5A11M/T0HH5SjvWPI/AAAAAAAAAs8/HPXDeVFPOf0/s1600/421213_3287054054572_1214293920_3475884_1403052649_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 136px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-aYp0zV5A11M/T0HH5SjvWPI/AAAAAAAAAs8/HPXDeVFPOf0/s200/421213_3287054054572_1214293920_3475884_1403052649_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5711065589530712306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;ISTANA adalah simbol kekuasaan. Hanya mereka-mereka yang dekat dan punya jaringan dengan sang penguasa yang bisa masuk ke rumah kekuasaan. Seumur-umur menjadi wartawan, baru dua kali saya menginjakan kaki ke Istana kepresidenan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undangan berkali-kali tiba. Tapi ada rasa enggan melangkahkan kaki ke tempat itu, karena dulu saya 'terprovokasi' pidato seorang kyai dan intelektual Islam yang mengatakan, "Akan melahirkan fitnah bagi siapa saja yang datang ke tempat-tempat penguasa..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan kali pertama saya ke ruang Jepara Istana Presiden, ketika Gus Dur telah menjadi Presiden. Kira-kira dua pekan sebelum kekuasaan Gus Dur jatuh, saya tiba-tiba tergerak untuk masuk ke Istana hanya sekedar menemui Yenny Wahid, putri Gus Dur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang setelah menunggu sekian jam, Yenny tak bisa menemui saya karena ia ada acara mendadak. Kecewa? Tidak... Terasa nyaman berada di ruang Jepara. Baru duduk beberapa menit, petugas Paspampres menyajikan teh manis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, selama berada di ruang itu, saya terkenang peristiwa masa lalu, detik-detik menegangkan antara BJ Habibie dan Soeharto menjelang kursi kekuasaannya runtuh. Kalau tidak salah, beberapa jam menjelang Soeharto menyerahkan tongkat estafet kepemimpinannya, BJ Habibie terlihat tegang lantaran Soeharto mulai bersikap lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagal bertemu Yenny, saya melangkahkan kaki pulang ke kantor. Malam harinya, rombongan Paspamres datang ke kantor saya di kawasan Palmerah Selatan. Ternyata, Yenny Wahid membawa dua ikat rambutan yang dibeli di Pasar Palmerah. Sebagai gantinya, Yenny saya belikan soto ayam yang ada di depan kantor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami makan dengan lahap, sambil mendiskusikan perkembangan politik terkini, terutama menyangkut kursi kekuasaan Gus Dur yang ketika itu sedang digoyang. &lt;br /&gt;                             ***&lt;br /&gt;KAMIS (19/3) siang handphone saya berdering. "Kak Bec... kita ditunggu Pak Jusuf Kalla di Istana Wapres siang ini. Jangan lupa bawa baju batik dan jangan pakai celana jean. Saya tunggu di kantor ya," pesan Dahlan, Pemimpin Redaksi Tribun Timur. "Siaaapppp....." kata saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu juga saya bergerak meluncur ke kantor mengenakan kaos, pakai topi dan celana jean. Dahlan yang sudah lama menunggu mendadak kaget melihat penampilan saya. "Mana batiknya? Kok pakai kaos" "Ah entar beli aja di pasar... " "Lho kita mau ke Istana Wapres sama siapa saja?" tanya saya. "Ehmmm ada Pak Herman Darmo (Dirkel Persda), Mas Domu (Wakil Kepala Biro Persda) dan Kak Bec." "Dalam rangka apa?" "Saya juga enggak tahu. Yang jelas Pak JK mau bertemu kita-kita," tambah Dahlan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya temui Domu yang lagi sibuk ngetik di depan komputer. "Dom.. lu udah beli batik belum?" "Ini bos... saya mau ke pasar. Mas Dahlan tadi sudah belanja. Beliau beli celana dan pakaian." Wah gawat... "Okey Dom... Ayuk kita pergi beli pakaian..." Dari kantor kami cukup berjalan kaki menuju Pasar Palmerah yang lokasinya tak begitu jauh dari kantor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdua kemudian membeli dua buah pakaian batik lengan pendek dan dua buah celana panjang serta sepotong sisir rambut. "Wah... untuk bertemu JK saja kita harus ngeluarin duit dulu ya Dom... beli ini itu..." canda saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ketika semua pakaian sudah terbeli dan kami hendak berangkat ke kantor, Domu lagi-lagi saya ingatkan. "Apa celana kamu enggak terlalu panjang? Postur tubuhmu kan tidak begitu tinggi." "Siapppp bos... Saya lari saja ke tukang jahit pakaian di seberang." Nah, di tempat jahit yang luasnya berukuran 1,5 meter kali satu meter, Domu meminta Pak Tua (sang penjahit) segera memotong bagian bawah celana panjangnya. "Mau ditunggu atau diambil besok?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya tunggu sekarang Pak. Saya mau menemui Pak Wapres Jusuf Kalla," sahut Domu. Si tukang jahit tertawa lebar. "Hebatttt ya bisa bertemu wakil presiden..." Lima belas menit kemudian, celana panjang itu sudah kelar dipermak. Lalu kami berangkat ke kantor menjemput teman-teman yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobil meluncur ke Istana Wakil Presiden. "Mau bertemu siapa?" tanya Paspampres.. "Kami mau bertemu Pak Jusuf Kalla." "Apa sudah mendaftar?" "Sudah...." "Okey silakan parkir lalu masuk ke gedung sebelah sana." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, saat hendak melangkahkan kaki menuju ruangan wapres, seorang wanita meminta kami agar lewat pintu depan dan Pak JK sudah menunggu. Di ruangan tamu pertama, terlihat 10 kursi dan meja panjang. Ada tiga buah lukisan terpanjang di dinding. Lukisan pertama adalah nuansa mirip Tanah Lot, Bali. Lukisan kedua seorang wanita sedang melamun dan lukisan tiga,, semacam mentari tapi di bawahnya terdapat ikan-ikan sedang berebutan makanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa arti lukisan itu?" tanya saya kepada Bian, sang fotografer Persda. "Ehmmm... saya enggak tahu artinya. Yang jelas mentari itu seperti makanan ikan, kayak cacing yang digulung-gulung, trus ikannya sedang menanti makanan dari atas," ungkap Bian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil merenung memikirkan apa makna dari lukisan itu, tiba-tiba muncul anak muda dari ruangan wapres. Namanya Erwin Aksa Mahmud. Kami sudah cukup lama kenal. Dia masih ada hubungan famili dengan Jusuf Kalla. Penampilannya sederhana, murah senyum dan santun. Sambil menunggu panggilan, ngobrolah kami di ruang tamu, sekali-kali bercanda. "Win... anak-anak ini tadi baru beli baju batik semua," kata Herman Darmo setengah bercanda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erwin kemudian ikut ketawa ngakak karena mendengar kepolosan kami yang memang jarang pakai pakaian batik kalau tidak ada acara formil. Maklum, kami-kami adalah wartawan yang biasa di lapangan. Jadi pakai batik, rasanya kurang apa ya.... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah obrolan itu seorang Paspampres wanita mendatangi kami. "Waktu yang diberikan bapak-bapak 20 menit." Lagi-lagi... "Siaaappppppppppppp...." Tak lama kemudian, kami dipanggil masuk menuju ruang tamu kedua. "Apa nama ruang tamu ini Mas Yadi (staf wapres)?" tanya saya. "Kagak ada namanya Mas... Namanya ya ruang tamu," jawabnya. Mendengar jawaban itu, semua ketawa. Sepuluh menit kemudian, ajudan mengingatkan. "Bapak mau masuk ke ruangan." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak JK dengan wajah kelihatan lelah, menyambut kami. Ia lalu duduk, kemudian menebar senyum dan sedikit menghela nafas. Obrolan dimulai dari bagaimana caranya JK mengelola negeri ini. Kemudian berlanjut ke persoalan politik, pendidikan, SDM, SDA, isu-isu lokal dan masalah krisis global. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas saya menangkap kesan, JK benar-benar entpreneur sejati yang mengandalkan intuisinya dalam memanage negeri ini. Ia berani menantang arus, mengeluarkan kebijakan yang dinilai tidak populer walau menuai protes sekalipun. Ia juga bercerita panjang lebar tentang pengalamannya ketika menghadiri sebuah pertemuan di Jepang menyangkut pemanasan global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, pertemuan kami harus berakhir setelah hampir satu jam bersama JK. Padahal, sesuai dengan jadwal yang dibuat protokoler, kami hanya diberi waktu 20 menit. Ternyata tembus sampai satu jam. JK terlihat puas, kami juga puas karena telah mendapatkan kesempatan khusus untuk melakukan wawancara dan hasilnya dinikmati pembaca esok harinya....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-2200019021812906768?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/2200019021812906768/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=2200019021812906768&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/2200019021812906768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/2200019021812906768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2012/02/ribetnya-bertemu-jusuf-kalla.html' title='Ribetnya bertemu Jusuf Kalla'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-aYp0zV5A11M/T0HH5SjvWPI/AAAAAAAAAs8/HPXDeVFPOf0/s72-c/421213_3287054054572_1214293920_3475884_1403052649_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-5715416317303231603</id><published>2012-02-10T19:51:00.002+07:00</published><updated>2012-02-10T20:02:57.721+07:00</updated><title type='text'>Kol Prantara Bawa 9 Kelapa Muda</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-wrn3ulmDFFo/TzUVbn2Fq5I/AAAAAAAAAsw/UZME0ZNh9o8/s1600/01_Kapendam%2BVI%2BMulawarman%2Bsaat%2Bberkunjung%2Bke%2BTribun%2Bberikan%2Bucapan_M%2BWIKAN%2BH.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 284px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-wrn3ulmDFFo/TzUVbn2Fq5I/AAAAAAAAAsw/UZME0ZNh9o8/s400/01_Kapendam%2BVI%2BMulawarman%2Bsaat%2Bberkunjung%2Bke%2BTribun%2Bberikan%2Bucapan_M%2BWIKAN%2BH.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5707491667058469778" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;* Beri Ucapan Selamat Kepada Tribun Kaltim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERBAGAI ucapan selamat terus mengalir baik lewat telepon maupun SMS, terkait dengan keberhasilan Tribun Kaltim meraih gold winner dan silver winner, The Best of Kalimantan Regional Newspaper IPMA 2012. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kemarin ada ribuan SMS yang masuk ke pimpinan Tribun Kaltim. Tak hanya itu saja. Jumat (10/2) siang kemarin, Tribun Kaltim kedatangan rombongan dari Kodam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini yang datang adalah Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) VI Mulawarman, Kolonel Kav Prantara Santosa SSos Msi bersama stafnya, Mayor Arm Answari Jadi, Lettu Inf M Yunus. Mereka membawa sembilan buah kelapa muda dan sembilan kotak berisi rujak cingur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mana trophy gold winnernya?," tanya Prantara di ruangan kerja Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim, Achmad Subechi. Usai melihat-lihat gold winner dan silver winner, Prantara menyempatkan diri foto bersama dengan Achmad Subechi dan Pemimpin Perusahaan Tribun Kaltim H Zainal Abidin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami sengaja membawa sembilan kotak rujak cingur dan kelapa muda, karena bulan Mei mendatang Tribun Kaltim genap berusia sembilan tahun," kata Prantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lalu apa makna dari kelapa hijau?" pancing Achmad Subechi kepada Prantara. "Kelapa ini kan cikal bakal dari tunas kelapa. Tunas akan tumbuh menjadi besar lalu buahnya bermanfaat untuk semua orang. Kami berharap Tribun Kaltim juga begitu, terus tumbuh seperti pohon kelapa yang memiliki batang cukup kuat, buah dan airnya bermanfaat untuk manusia serta akarnya menjadi pondasi yang kokoh. Dengan demikian Tribun Kaltim akan terus berjaya serta mampu menghidupi seluruh karyawannya dan berjuang dalam mencerdaskan kehidupan bangsa," tutur Prantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, untuk meraih penghargaan ketiga kalinya ini bukanlah hal yang mudah. "Apalagi IPMA merupakan ajang bergengsi buat insan pers. Dan tidak semua media cetak dengan mudah mendapatkan gold winner. Tapi Tribun Kaltim sudah dua kali ini menerima gold winner. Ini sungguh luar biasa dan kami ikut bangga serta memberikan apresiasi tersendiri buat Tribun. Sekali lagi saya ucapkan selamat..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prantara berharap, semoga prestasi semacam ini kedepan bisa dipertahankan, karena bagaimanapun juga Tribun Kaltim telah membawa nama baik Kalimantan Timur dalam peringatan hari pers di Jambi.&lt;br /&gt;Dalam kesempatan itu, Prantara sempat memuji ehos kerja Achmad Subechi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dibalik kesederhanaannya, dia adalah sosok yang memiliki potensi super. Istilah saya, low profile, hight product. Jujur saja, selama dinas di Kaltim saya banyak belajar sama dia tentang berbagai hal. Integritasnya, kesederhanaanya, intelektualitasnya dan spirit atau kegigihannya dalam bekerja itulah yang pantas kita tiru," ungkap Prantara sedikit memberikan sanjungan. &lt;br /&gt;(*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-5715416317303231603?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/5715416317303231603/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=5715416317303231603&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/5715416317303231603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/5715416317303231603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2012/02/kol-prantara-bawa-9-kelapa-muda.html' title='Kol Prantara Bawa 9 Kelapa Muda'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-wrn3ulmDFFo/TzUVbn2Fq5I/AAAAAAAAAsw/UZME0ZNh9o8/s72-c/01_Kapendam%2BVI%2BMulawarman%2Bsaat%2Bberkunjung%2Bke%2BTribun%2Bberikan%2Bucapan_M%2BWIKAN%2BH.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-2494701314964557382</id><published>2012-02-09T18:06:00.001+07:00</published><updated>2012-02-09T18:08:28.119+07:00</updated><title type='text'>Sudah Siapkah Kita?</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-A3-rhbOA8p4/TzOpHO-uBVI/AAAAAAAAAsk/y4bgFaentcY/s1600/bic3.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 136px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-A3-rhbOA8p4/TzOpHO-uBVI/AAAAAAAAAsk/y4bgFaentcY/s200/bic3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5707091094553888082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;SEKITAR 321 kabupaten dan kota di Indonesia berisiko terkena bencana. Untuk itu diperlukan kewaspadaan dari pimpinan daerah agar risiko bahaya dapat dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berdasarkan peta multi bahaya dari 13 jenis bencana maka terdapat 321 kabupaten/kota atau 65 persen yang memiliki risiko tinggi. Sebanyak 173 kabupaten/kota berisiko sedang atau sebanyak 35 persen," jelas Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13 Jenis bencana yang ada di Indonesia yang dibuat pemetaan risiko bencana adalah gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, puting beliung, kekeringan, banjir, tanah longsor, gelombang pasang, kebakaran lahan dan hutan, epidemi dan wabah penyakit, gagal teknologi, kebakaran gedung dan permukiman, dan konflik sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berdasarkan peta risiko tersebut maka tidak ada kabupaten/kota yang berisiko rendah terhadap bencana. Untuk itu pemda perlu memberikan prioritas pembangunan terhadap penanggulangan bencana," jelas Sutopo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya kenyataannya masih ada 138 kabupaten/kota yang belum membentuk BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah). Yang sudah terbentuk BPBD pun ternyata masih sangat terbatas dukungan anggaran, peralatan dan SDM-nya sehingga pemda bersama DPRD perlu memberikan dukungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semua menjadi kewenangan bupati/walikota bersama DPRD. Jika tidak maka bencana akan terus menimbulkan kerusakan dan kerugian yang besar," terangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang disampaikan Sutopo Purwo Nugroho itu adalah warning buat kita semua. Kita tidak hanya masyarakat yang bakal menjadi korban, tetapi juga para penyelenggara negara yang ada di masing-masing daerah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah siapkah kita menghadapi bencana? Rasa-rasanya jika mengacu pada pengalaman-pengalaman sebelumnya, penanggulangan bencana dan tanggap darurat selalu saja terlambat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa demikian? Bisa jadi kita tidak begitu serius menyikapi ancaman dan kita baru tergagap-gagap manakala bencana telah meluluhlantakan harta benda dan menelan korban jiwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya masing-masing daerah jauh-jauh hari sudah melakukan pemetaan menyangkut peristiwa apa saja yang bakal terjadi di daerahnya. Lalu memprediksikan seberapa besar efek dari bencana serta pertolongan pertama buat para korban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi sampai saat ini masing-masing daerah tidak memiliki roadmap yang jelas bila sewaktu-waktu bencana benar-benar terjadi. Paling-paling yang sudah siap hanya pada tataran koordinasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa jauh-jauh hari masing-masing daerah tidak memiliki kontainer yang di dalamnya terdapat barang-barang kebutuhan buat para korban bencana berisi sembako, selimut, kue kering, air mineral, makanan ringan dan lain-lain serta obat-obatan yang di up date setiap berapa bulan sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga ketika terjadi bencana, kesempatan pertama adalah mengirimkan kontainer berisi barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh para korban ke lokasi bencana.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua tak berharap bencana menghampiri kita. Tetapi sedia payung sebelum hujan lebih baik untuk meminimalisir jatuhnya korban jiwa dan harta benda, termasuk kecepatan dalam memberikan bantuan pangan kepada para korban. Sudah siapkah kita ketika bencana menyapa kita?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-2494701314964557382?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/2494701314964557382/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=2494701314964557382&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/2494701314964557382'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/2494701314964557382'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2012/02/sudah-siapkah-kita.html' title='Sudah Siapkah Kita?'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-A3-rhbOA8p4/TzOpHO-uBVI/AAAAAAAAAsk/y4bgFaentcY/s72-c/bic3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-5026138811616986874</id><published>2012-02-08T22:01:00.003+07:00</published><updated>2012-02-08T22:17:30.776+07:00</updated><title type='text'>Tribun Kaltim Borong Trophy IPMA</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-C6wzx6ubBYY/TzKPsP5NlZI/AAAAAAAAAsY/ZgdMdM2PnkI/s1600/ceo%2Bkompas.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 204px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-C6wzx6ubBYY/TzKPsP5NlZI/AAAAAAAAAsY/ZgdMdM2PnkI/s400/ceo%2Bkompas.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5706781668175353234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUASANA haru dan gembira mewarnai pemberian anugerah 'Telkom; Indonesia Print Media &amp; Indonesia Inhouse Magazine Award 2012' yang digelar di Kota Jambi, 7 Februari 2012 kemarin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, saya sempat berteriak kegirangan di depan CEO Kompas Gramedia, Agung Adi Prasetyo dan sembilan pemimpin redaksi dari seluruh koran yang ada di bawah naungan Group of Regional Newspaper Kompas Gramedia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa saya bergembira? Dari sejumlah koran daerah yang diumumkan, katagori Kalimantan Region Newspaper, paling akhir dibacakan. Dari sekian koran yang ada di Kalimantan, hanya ada lima koran daerah yang masuk nominasi, termasuk Tribun Kaltim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan empat koran daerah lainnya adalah Metro Banjar, Tribun Pontianak (Group of Regional Newspaper Kompas Gramedia), Kaltim Post dan Kalteng Pos. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Feeling saya, koran-koran daerah kita dapat silver semua dan tak ada yang dapat gold," celetuk Albert GJ Joko, Pemimpin Redaksi Tribun Pontianak kepada saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar prediksi itu, hati saya sempat kecut juga. Apalagi ketika kali pertama diumumkan untuk katagori Sumatera Regional Newspaper, tak ada satu pun koran yang mendapatkan gold winner. Rinciannya:&lt;br /&gt;*  Tribun Batam ( silver winner)&lt;br /&gt;*  Riau Pos (silver winner)&lt;br /&gt;*  Sumut Pos (silver winner)&lt;br /&gt;*  Tribun Medan (silver winner)&lt;br /&gt;*  Tribun Pekanbaru (silver winner)&lt;br /&gt;*  Batam Pos (bronze winner)&lt;br /&gt;*  Sriwijaya Post (bronze winner)               &lt;br /&gt;*  Bangka Pos (bronze winner)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga untuk katagori Java Regional Newwspaper. Hanya ada satu koran yang berhasil menyabet gold winner. &lt;br /&gt;* Tribun Jogja (silver winner)&lt;br /&gt;* Solopos (silver winner)&lt;br /&gt;* Pikiran Rakyat (silver winner) &lt;br /&gt;* Pikiran Rakyat (gold winner)&lt;br /&gt;Sedangkan untuk katagori Sulawesi Region Newspaper hanya ada tiga nominasi. Hasilnya:&lt;br /&gt;* Fajar (silver winner)&lt;br /&gt;* Tribun Timur (silver winner)&lt;br /&gt;* Tempo Makassar (gold winner)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara untuk katagori National Newspaper hanya ada tiga nominasi. Hasilnya: &lt;br /&gt;* Bali Post (silver winner)&lt;br /&gt;* Koran Tempo (gold winner)&lt;br /&gt;* Republika (gold winner)&lt;br /&gt;* Kompas (gold winner)&lt;br /&gt;* Kompas (gold winner)  &lt;br /&gt;                            ***&lt;br /&gt;HASIL itu semakin membuat hati saya dag... dig... dug... "Wah celaka 12 nih dapat silver juga," kata saya kepada teman-teman yang lain. Namun, belakangan kecemasan itu menjadi kegembiraan karena dua koran Group of Regional Newspaper Kompas Gramedia untuk area Kalimantan, Tribun Kaltim dan Metro Banjar berhasil menyabet gold winner. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, sebagai 'bonusnya' Tribun Kaltim juga mendapatkan silver winner. Sedangkan Kaltim Post (silver winner), Tribun Pontianak (silver winner) dan Kalteng Post (silver winner). Tepukan dari teman-teman pemred sontak membahana di seantero Hotel Novita, Jambi. Saya pun melangkah kedepan untuk menerima penghargaan.     &lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;Usai mendapatkan trophy dan piagam, CEO Kompas Gramedia, Agung Adi Prasetyo menghampiri saya dan mengucapkan selamat. "Selamat... selamat ya... Nanti kita foto bersama setelah acara ini ditutup," katanya, disusul rekan-rekan pemred lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat asyik ngobrol dengan Mas Agung, mendadak muncul Director Executive Serikat Perusahaan Pers (SPS) Asmono Wikan. Sambil cengar-cengir, Asmono memberikan ucapan selamat. "Wah Tribun Kaltim memang hebat Mas Agung. Selama tiga tahun berturut-turut memborong trophy Ipma," katanya. Mas Agung pun senyam-senyum sambil mengucapkan rasa terima kasihnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2010, ketika IPMA kali pertama digelar, Tribun Kaltim berhasil menyabet dua penghargaan sekaligus (gold winner dan bronze winner). Tahun 2011, Tribun Kaltim hanya berhasil menyabet satu trophy yaitu silver winner. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum selesai acara, Mas Agung sudah mendekati panggung. Begitu acara ditutup saya diminta naik ke panggung. "Kita potret disana saja biar kelihatan tulisannya (back droup)," tuturnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sontak pemimpin redaksi dari Group of Regional Newspaper Gramedia lainnya ramai-ramai naik ke atas panggung. Nah, ketika kami sedang berpose meluapkan kegembiraan, mendadak Ketua Umum Serikat Perusahaan Pers (SPS) Pusat Dahlan Iskan, berlari dan menyelinap ikut berpose di samping saya. Dengan senyumnya yang khas, Dahlan minta dipotret beberapa kali. &lt;br /&gt;                              ***&lt;br /&gt;BAGI Tribun Kaltim, prestasi kali ini cukup melegakan karena berhasil meraih gold winner kembali. Penantian yang cukup panjang itu akhirnya kesampaian juga. Apalagi selama ini, Asmono Wikan selalu memprovokasi saya agar Tribun Kaltim berhasil mempertahankan gelarnya. "Sebagai juara, masak tahun ini enggak ikut. Ikut dong... Raih kembali gold winner-nya," katanya memberikan semangat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibalik keberhasilan ini, kami dan karyawan Tribun Kaltim mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi kami akal untuk terus berkarya dan melakukan inovasi. Inovasi adalah jawaban ditengah ketatnya persaingan usaha penerbitan pers. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, kami ucapkan rasa terima kasih kepada Pemimpin Perusahaan Tribun Kaltim Zainal Abidin yang selalu mensupport kami untuk terus berkarya, terima kasih kepada seluruh karyawan Tribun Kaltim yang tak mengenal lelah mengukir prestasi dan terima kasih kepada relasi bisnis dan redaksi yang selama ini telah memberikan kepercayaan kepada kami. Kupersembahkan penghargaan ini kepada Tribun Kaltim yang sebentar lagi genap berusia sembilan tahun... (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-5026138811616986874?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/5026138811616986874/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=5026138811616986874&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/5026138811616986874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/5026138811616986874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2012/02/tribun-kaltim-borong-trophy-ipma.html' title='Tribun Kaltim Borong Trophy IPMA'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-C6wzx6ubBYY/TzKPsP5NlZI/AAAAAAAAAsY/ZgdMdM2PnkI/s72-c/ceo%2Bkompas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-6736193310984240520</id><published>2012-02-05T18:42:00.001+07:00</published><updated>2012-02-05T18:45:29.364+07:00</updated><title type='text'>Sikap SBY</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-gxWsQgE7Prw/Ty5rxsNT82I/AAAAAAAAAsM/WWPGUiqxtGA/s1600/bechi1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-gxWsQgE7Prw/Ty5rxsNT82I/AAAAAAAAAsM/WWPGUiqxtGA/s200/bechi1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5705616279349752674" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sikap SBY&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETUA Dewan Pembina Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akhirnya angkat bicara terkait dengan adanya kader Demokrat yang ditengarai terlibat kasus korupsi pembangunan Wisma Atlet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus ini semakin menarik perhatian publik karena mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin blak-blakan di depan pengadilan dan menyebut-nyebut nama sejumlah kader Demokrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam jumpa pers itu, SBY membantah isu pencopotan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum. "Saya tegaskan, tak ada penonaktifan Ketua Umum Anas Urbaningrum," kata SBY dalam jumpa pers di kediamannya, Cikeas, Jawa Barat, 5 Februari 2012.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SBY pun tak mau berasumsi mengenai keterlibatan Anas Urbaningrum dalam kasus korupsi yang saat ini sedang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Nazaruddin, kader Demokrat lain yang sudah menjadi tersangka adalah Angelina Sondakh. "Proses hukum masih berkelanjutan. Kita pegang asas praduga tak bersalah," ucap SBY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan itu SBY mengimbau kader partai untuk tidak mengalah, lari, dan tiarap terhadap pelbagai serangan yang ditujukan kepada partai selama delapan bulan terakhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya tak suka mengeluarkan kata-kata ini, tapi selama 8 bulan ini, saya harus terus memberikan penguatan kepada kader partai. Jangan pasif, jangan tiarap. Atas dasar fakta apa yang berlangsung di KPK, jelaskan duduk persoalan, dengan demikian akan adil mengenai penilaian publik, penilaian terhadap partai Demokrat," kata SBY. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi kalimat terakhir SBY itu sedikit menyindir Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum yang selama ini cenderung diam ketika mendapat 'sorotan' tajam dari berbagai kalangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah diamnya Anas dan adanya kader Demokrat terlibat Wisma Atlet membuat pamor partai menurun? Lingkaran Survei Indonesia (LSI) melansir hasil surveinya. Hasilnya, dukungan rakyat terhadap Partai Demokrat (PD) semakin melorot. Turunnya dukungan terhadap PD bukan semata karena kasus Wisma Atlet, tapi juga karena kian turunnya pamor SBY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kasus Wisma Atlet bukan satu-satunya variabel, yang membuat Demokrat terpuruk. Demokrat sangat lekat dengan citra SBY. Turun naiknya pamor SBY juga mempengaruhi dukungan publik kepada Demokrat," ujar Peneliti Senior LSI, Barkah Pattimahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini bola ada di tangan KPK. Akankah Anas akan dimintai keterangan? Atau jangan-jangan KPK  sengaja mengulur-ulur waktu? Sebenarnya sikap KPK yang lambat jelas merugikan Anas Urbaningrum dan Demokrat. &lt;br /&gt;Semakin lama KPK membiarkan kasus ini, maka Demokrat akan selalu menjadi bahan pembicaraan publik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua berharap kasus Wisma Atlet dibuka dengan terang benderang, siapa yang sesungguhnya bermain. Jika ada pejabat publik yang diduga terlibat, hukum harus ditegakan dan tanpa memandang status sosial dan segala tetek benggeknya. Beranikah KPK setelah mendapat sinyal dari SBY?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-6736193310984240520?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/6736193310984240520/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=6736193310984240520&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/6736193310984240520'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/6736193310984240520'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2012/02/sikap-sby.html' title='Sikap SBY'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-gxWsQgE7Prw/Ty5rxsNT82I/AAAAAAAAAsM/WWPGUiqxtGA/s72-c/bechi1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-6591624835440461188</id><published>2012-02-03T18:11:00.003+07:00</published><updated>2012-02-05T00:43:49.214+07:00</updated><title type='text'>Layar 'Bioskop' KPK</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-tHg4GQSJT-U/Ty1uBZuvZQI/AAAAAAAAArc/qNcn9J45gW0/s1600/bechi1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-tHg4GQSJT-U/Ty1uBZuvZQI/AAAAAAAAArc/qNcn9J45gW0/s200/bechi1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5705337273314141442" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;PIMPINAN Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mulai unjuk gigi. Kemarin KPK secara resmi menetapkan politisi Partai Demokrat Angelina Sondakh sebagai tersangka kasus dugaan suap Wisma Atlet. Angie disangka dengan pasal penyuapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Angie, KPK juga mencekal anggota Badan Anggaran (Banggar) dari PDIP Wayan Koster. "Tersangka barunya inisialnya AS, seorang perempuan," kata Ketua KPK Abraham Samad dalam jumpa pers di Gedung KPK, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jaksel, Jumat (3/2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterlibatan Angie dalam kasus ini sering diungkapkan para saksi, termasuk tersangka M Nazaruddin. Angie disebut menerima fee Rp 5 miliar terkait proyek itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekretaris Jenderal (Sekjen) PD, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) menyampaikan keprihatinannya yang mendalam. "Saya prihatin atas penetapan status tersangka kepada ibu Angelina Sondakh. Kembali lagi salah satu kader teras PD menjalani proses hukum setelah lama PD diterpa badai dan gelombang cobaan. Kami sedang diuji,” kata Ibas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibas mengatakan, PD akan terus konsisten mendukung aparat penegak hukum untuk menuntaskan kasus ini secara terang benderang. Demokrat tidak akan mengintervensi penuntasan kasus ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gebrakan KPK kali ini seakan menampar para pimpinan KPK sebelumnya saat kali pertama menangani kasus Muhammad Nazaruddin. Berbagai kalangan menilai, mengapa baru kali ini Angie ditetapkan sebagai tersangka. Padahal, sebelumnya nama Angie dan sejumlah tokoh lainnya sudah disebut-sebut Nazar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi kasus Wisma Atlet ditengarai korupsi berjamaah yang bisa menyodok kesana-kemari. Terlepas lambat atau tidaknya kasus Wisma Atlet yang jelas lembaga penyapu koruptor yang dipimpin Abraham Samad, kini  telah memiliki politicall will untuk mencokok tokoh-tokoh lain yang diduga terlibat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi dalam waktu dekat, KPK akan kembali membikin kejutan-kejutan baru terkait Wisma Atlet. Siapa yang bakal dicokok? Publik sudah tahu sejak kasus itu bergulir. Sejumlah nama terdengar di seantero negeri ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, kita semua menunggu apakah Abraham Samad yang belum lama ini bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berani menunjukkan taringnya, agar uang negara yang telah dirampok secara berjamaah bisa kembali lagi ke negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika melihat track record Abraham Samad, pria itu diperkirakan memiliki nyali besar untuk menyapu bersih para tukang entit. Kapan? Kita tunggu sebentar lagi karena layar 'bioskop' sudah terpasang di KPK. Siapa sutradara dan pemain utamanya? Mari kita intip nama-nama yang sudah ada di kantong Abraham Samad setelah Angie ditetapkan sebagai tersangka. Akankah ada efek dominonya? Atau jangan-jangan Angie akan 'memasang' badan seorang diri menghadapi perkaranya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-6591624835440461188?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/6591624835440461188/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=6591624835440461188&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/6591624835440461188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/6591624835440461188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2012/02/layar-bioskop-kpk.html' title='Layar &apos;Bioskop&apos; KPK'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-tHg4GQSJT-U/Ty1uBZuvZQI/AAAAAAAAArc/qNcn9J45gW0/s72-c/bechi1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-7593808182639872471</id><published>2012-01-31T21:02:00.002+07:00</published><updated>2012-02-05T00:46:57.350+07:00</updated><title type='text'>Potong Bebek Angsa</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-P6u59d-sJ00/Ty1vBkpGASI/AAAAAAAAAro/RWCvNa3S28w/s1600/bechi4.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 152px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-P6u59d-sJ00/Ty1vBkpGASI/AAAAAAAAAro/RWCvNa3S28w/s200/bechi4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5705338375754875170" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;TERKEJUT membaca berita bahwa Miranda Swaray Gultom yang kini jadi tersangka dalam kasus cek pelawat, ternyata menyampaikan Laporan Harta Kekayaan (LHK) terakhirnya pada tahun 2006, saat ia masih menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI).&lt;br /&gt;Padahal jabatan Mirandadi BI berakhir tahun 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Miranda menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia sejak 1997-1999 dan 1999-2003. Setelah itu, pada tahun 2004 dia kembali ditetapkan sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia berdasarkan Kepres RI Nomor 98/M tahun 2004 dan dilantik Ketua MA Bagir Manan untuk masa jabatan 2004-2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam data Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang diakses di KPK, Selasa (31/1), Miranda memiliki total harta sebesar Rp 24,6 miliar. Nilai itu terdiri dari tanah, mobil, surat berharga dan giro setara kas yang dikumpulkan selama menjabat di BI hingga berasal dari warisan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidaktaatan Miranda menyampaikan Laporan Harta Kekayaan (LHK), jelas melanggar Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara Yang Bersih Dan Bebas Dari Korupsi, Kolusi Dan Nepotisme. Dalam ketentuan itu, pejabat wajib melaporkan harta kekayaannya sebelum, selama dan sesudah menjabat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya kenapa baru sekarang ketidaktaatan Miranda itu terungkap? Lalu kenapa KPK sebagai lembaga yang memverifikasi harta kekayaan pejabat diam saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah aturan mainnya sudah jelas bahwa pejabat yang tidak menyampaikan LHKPN akan dijatuhi hukuman disiplin sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh ketidaktaatan Miranda itu mungkin juga dilakukan oleh para pejabat lainnya. Anehnya, sampai saat ini tak ada satupun pejabat yang terkena sanksi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang pemimpin bangsa dan tokoh yang memiliki pengaruh, Miranda seharusnya memberikan contoh yang baik buat masyarakat. Bukan sebaliknya, diam-diam melanggar ketentuan yang telah ditetapkan oleh negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita akui bahwa menjadi pemimpin tidaklah mudah. Tingkat kesulitannya terletak pada kesuritauladanan alias memberikan contoh yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bawahannya akan menurut jika pemimpinnya saja sudah tidak taat aturan. Bagaimana bawahannya tidak korup, jika ucapan dan perbuatan pemimpinnya tidak sama. Bagaimana bawahannya tidak jujur kalau pemimpin di atasnya juga tidak jujur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tak pernah memikirkan tempat tinggalnya, pemimpin yang tak pernah memikirkan makanannya, pemimpin yang tidak pernah memikirkan tempat tidurnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maknanya apa? Ketika seorang pemimpin tidak terjebak kepada kepentingan pribadi, maka akan lahir kejujuran, kedisiplinan, ketataan terhadap hukum dan aturan mainnya serta tidak serong (nyosor) ke kanan dan ke kiri, kayak lagu potong bebek angsa. &lt;br /&gt;Sebaliknya, pemimpin akan vokus kepada pekerjaan besar bagaimana memanage negeri ini menjadi lebih baik lagi, mampu mensejahterahkan rakyatnya, mampu mengangkat harkat dan martabat rakyatnya dan bisa mencerdaskan kehidupan bangsa melalui olah pikir dan pengabdiannya yang benar-benar tulus dan ikhlas. Mungkinkah?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-7593808182639872471?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/7593808182639872471/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=7593808182639872471&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/7593808182639872471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/7593808182639872471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2012/01/potong-bebek-angsa.html' title='Potong Bebek Angsa'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-P6u59d-sJ00/Ty1vBkpGASI/AAAAAAAAAro/RWCvNa3S28w/s72-c/bechi4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-4808016760039960181</id><published>2012-01-13T20:05:00.003+07:00</published><updated>2012-02-05T00:50:53.704+07:00</updated><title type='text'>Memercik Air Didulang</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-A_tq7u4M9tw/Ty1v6jIKHHI/AAAAAAAAAr0/P5_xyh-QVe0/s1600/bechi1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-A_tq7u4M9tw/Ty1v6jIKHHI/AAAAAAAAAr0/P5_xyh-QVe0/s200/bechi1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5705339354600840306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;TANGGAL 1 April 2012 mendatang, rakyat Indonesia akan dihadapkan pada dua masalah besar. Pertama, pemerintah berniat membatasi subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melakukan penghematan bahan bakar, pemerintah mencanangkan penggunaan bahan bakar gas sebagai pengganti BBM. Kedua, dalam waktu bersamaan pemerintah akan menaikan Tarif Dasar Listrik (TDL). &lt;br /&gt;Tahun 2011 lalu, pemerintah memutuskan memberikan subsidi untuk energi sebesar Rp 195,288 triliun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, kalau rencana pemerintah itu berhasil dilaksanakan, maka ada dana sebesar Rp 195 triliun lebih yang katanya akan dialokasikan ke tempat lain atau istilahnya tepat sasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan pemerintah melarang penggunaan BBM Bersubsidi adalah karena pengguna BBM jenis ini banyak berasal dari kalangan orang kaya.&lt;br /&gt;Menuju 1 April 2012, masih ada waktu untuk berwacana mengenai rencana pemerintah tersebut. Ide-ide liar bertebaran. Lahirlah peluang bisnis baru diantaranya mengenai penerapan penggunaan bahan bakar gas dengan menggunakan konverter kit (alat konversi BBM ke BBG) yang harganya berkisar Rp 12-15 juta rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, beban biaya BBM akan ditanggung oleh pengguna kendaraan golongan rumah tangga sederhana yang tak memiliki akses (kemampuan) menggunakan bahan bakar gas yang akan jadi pengganti BBM.&lt;br /&gt;Sebenarnya kalau mau jujur, langkah penghematan terhadap keuangan negara tak hanya melalui satu cara, penghapusan subsidi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak cara yang bisa dilakukan agar anggaran subsidi buat masyarakat tetap dipertahankan dan tidak mengorbankan rakyat. &lt;br /&gt;Dan alasan pemerintah melarang penggunaan BBM Bersubsidi karena pengguna BBM berasal dari kalangan orang kaya, bukankah itu sama dengan pepatah 'memercik air didulang'? Lha... siapa yang membuat sistem dan aturan lain itu sehingga orang kaya bisa menikmati subsidi? Mengapa subsidi yang tidak tepat sasaran dibiarkan bertahun-tahun? Lalu apakah hanya gara-gara subsidi supaya tepat sasaran, maka masyarakat kelas menengah ke bawah terkena dampak dari kebijakan yang mungkin tak populer?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita semua melakukan introspeksi diri. Di negara manapun tugas sang penguasa adalah mensejahterakan rakyatnya, bukan menambah beban baru yang akhirnya membuat rakyat 'tercekik' alias tak bernafas ditengah tingginya biaya hidup dan mahalnya biaya pendidikan. &lt;br /&gt;Jadi sudah sewajarnya jika uang dari rakyat, dikembalikan lagi ke rakyat untuk kesejahteraan rakyat melalui subsidi. Bukan sebaliknya, hanya karena iri atau dengki kepada orang kaya yang menikmati subsidi, maka masyarakat kecil akan terkena imbasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pencabutan subsidi itu dipaksakan, mestinya jauh-jauh hari pemerintah memberikan contoh kepada masyarakat dengan mengeluarkan keputusan bahwa semua mobil berplat merah, wajib menggunakan bahan bakar non subsidi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedepan, mari kita semua melakukan introspeksi diri, sudahkah uang negara kita kelola dengan baik dan benar? Mampukah kita mengerem dan menyelamatkan uang negara dari tangan-tangan koruptor? Atau jangan-jangan ada yang salah di negeri ini sehingga kita tidak mampu mengelolanya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-4808016760039960181?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/4808016760039960181/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=4808016760039960181&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/4808016760039960181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/4808016760039960181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2012/01/memercik-air-didulang.html' title='Memercik Air Didulang'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-A_tq7u4M9tw/Ty1v6jIKHHI/AAAAAAAAAr0/P5_xyh-QVe0/s72-c/bechi1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-6340392517846173693</id><published>2012-01-12T16:59:00.005+07:00</published><updated>2012-02-05T00:54:16.669+07:00</updated><title type='text'>Holopis Kuntul Baris</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-MqgoAMJ0Y04/Ty1wvb6xrkI/AAAAAAAAAsA/bLChlQ3IFhI/s1600/bechi1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-MqgoAMJ0Y04/Ty1wvb6xrkI/AAAAAAAAAsA/bLChlQ3IFhI/s200/bechi1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5705340263198731842" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;GEDUNG Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI adalah rumah rakyat. Di sanalah tempat para wakil rakyat bekerja. Dan sudah seharusnya para wakil rakyat mau menerima dan mendengarkan keluh kesah rakyat yang datang ke gedung DPR RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis (12/1) kemarin, ribuan pendemo gabungan dari petani dan mahasiswa menuntut pengembalian kepemilikan hak atas tanah kepada rakyat di depan gedung DPR RI. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan ribuan rakyat, tentu saja membuat aparat keamanan jengah. Semua pintu gerbang dijaga ketat. Demonstran tak boleh masuk. Aparat menghalau massa dengan menyemprotkan air dari water cannon. Massa membalasnya dengan melempari polisi dengan batu dan kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketegangan tetap saja berlangsung. Wakil rakyat yang duduk di Senayan tak juga ada yang mau mendatangi massa untuk mendengarkan aspirasinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buntu....! Lalu lahirlah gerakan 'holopis kuntul baris' (ungkapan yang pernah dilontarkan Bung Karno untuk menyemangati bangsa Indonesia agar bergotong royong). Mereka yang tadinya memenuhi pinggir Gedung DPR di Jalan Gatot Subroto, mulai merangsek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagar di bagian depan gedung DPR setinggi tiga meter, rontok seketika begitu kekuatan 'holopis kuntul baris' mulai berbicara. Itulah kekuatan rakyat. Jangankan pagar besi setinggi gunung, ketika rakyat sudah berbicara, beton setebal apapun bakal runtuh. Mirip para penonton sepak bola yang mau nyerobot karena tak memiliki karcis. Karena kekuatan mereka cukup besar, hanya sekali dorong, pintu stadion bisa jebol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu di era Orde Baru, pagar gedung DPR RI tak begitu tinggi. Pagarnya biasa-biasa saja. Para demonstran yang hendak menyampaikan aspirasinya ke rumah rakyat, tak begitu repot masuk ke rumah rakyat. Bahkan, ada kesan rakyat diberi kebebasan melakukan orasi di halaman maupun di hall gedung DPR. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih-lebih menjelang reformasi 1998. Hampir tiap hari rumah rakyat penuh dengan demonstran. Lahirlah aksi pendudukan hingga Soeharto terjungkal dari kursi kekuasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, gedung DPR RI berubah menjadi benteng. Pagar-pagar tinggi berdiri, jumlah pamdal ditambah, bahkan sistem keamanannya juga menggunakan tekhnologi termutakhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat yang hendak menyampaikan aspirasinya, tak begitu mudah masuk ke gedung itu. Lalu mengapa rumah rakyat harus diciptakan seperti itu, terkesan 'angker' dan tertutup buat rakyat? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi langkah penjagaan esktra ketat pasca jatuhnya rezim Orde Baru adalah bagian dari ketakutan yang terlalu berlebihan dari sang penguasa (paranoid).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi, penguasa tak mau sejarah kelam --aksi pendudukan oleh mahasiswa di tahun 1998-- terulang kembali di gedung DPR.&lt;br /&gt;Lalu kemana rakyat akan mengadu atau meneriakan aspirasinya kalau rumah rakyat sudah 'tertutup' seperti itu? Mengapa para anggota dewan takut atau bahkan ogah menerima rakyat yang hendak melakukan silahturrahmi, curhat atau sekedar menyampaikan uneg-uneg yang tengah dialaminya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kebuntuan komunikasi antara wakil rakyat dengan rakyatnya masih seperti ini, kedepan penyaluran aspirasinya akan semakin liar, misalnya melalui jejaring situs sosial semacam facebook, twitter, blog dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan melalui internet, akan lebih bahaya dampaknya seperti yang terjadi pada beberapa negara di Timur Tengah. Akankah cara berpikir wakil rakyat kita akan berubah? Atau jangan-jangan rakyat hanya dibutuhkan jika Pemilu sudah dekat? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada niat wakil rakyat. Sesungguhnya ada beban di kedua pundak mereka yang diberi nama amanah. Amanah lebih berat dibanding kita memikul dua gunung sekalipun....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-6340392517846173693?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/6340392517846173693/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=6340392517846173693&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/6340392517846173693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/6340392517846173693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2012/01/holopis-kuntul-baris.html' title='Holopis Kuntul Baris'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-MqgoAMJ0Y04/Ty1wvb6xrkI/AAAAAAAAAsA/bLChlQ3IFhI/s72-c/bechi1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-841524290776938381</id><published>2012-01-11T19:11:00.002+07:00</published><updated>2012-01-11T19:18:38.709+07:00</updated><title type='text'>Uang Rakyat</title><content type='html'>DI DUNIA ini siapa sih yang tak bisa menghabiskan uang? Ketika uang (anggaran) berlimpah, maka cara menghabiskannya pun dengan mudah kita temukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi bagaimana caranya kalau uang dari rakyat itu kita kembalikan lagi ke rakyat? Eiiitt... nanti dulu. Pasti mbulet dan belum tentu semua dana nyampai ke rakyat, walau program-program yang ditawarkan sangat menjanjikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Lembaga legislatif yang selama ini katanya dekat dengan rakyat dan kepanjangan tangan dari rakyat, kembali menjadi sorotan publik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendapatkan kritik tajam dari publik gara-gara berencana membangun gedung super mewah, DPR kembali menjadi bahan cemoohan rakyat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini diam-diam DPR RI melakukan renovasi toilet, pengadaan peralatan absen finger print, perbaikan areal parkir motor dan merenovasi ruang rapat Badan Anggaran (Banggar) DPR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya membutuhkan waktu 48 hari, gedung Banggar sudah berubah menjadi ciamik, mentereng dan wah. Dana yang ditelan cukup fantastis, Rp 19.995.000.000. Angka ini belum termasuk biaya lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya pengerjaan renovasi ditambah konsultan perencana dan konsultan pengawasnya mencapai Rp 20.794.890.000. Untuk mengisi ruang rapat itu, Setjen DPR membeli hampir 200 kursi impor. Wow... sedap coi...! Emangnya negeri ini tak memiliki produk lokal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan untuk renovasi 220 toilet di Gedung Nusantara I, diperkirakan menelan dana Rp 2 miliar. Kalau kita bagi, maka satu toilet memakan dana Rp 9 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga perbaikan areal parkir motor. Kali ini DPR menganggarkan dana Rp 3 miliar. Uniknya lagi, sejumlah pimpinan dan anggota DPR RI mengaku tidak tahu menahu tentang urusan bangun membangun itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya ditangani Sekjen DPR RI. Seperti disampaikan Anggota komisi I DPR, Tjahjo Kumolo, semua proyek itu bukan urusan anggota DPR.&lt;br /&gt;Ketua DPR Marzuki Alie pun juga mengaku kaget bukan kepalang. Ia tidak tahu menahu soal renovasi ruangan rapat Badan Anggaran (Banggar) DPR yang mencapai Rp 20 miliar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pembangunan Banggar DPR Rp 20 miliar. Kita minta itu evaluasi lagi, itu pasti ada yang salah. Masa ruangan 10 x 10 meter habis Rp 20 miliar, saya agak terkejut itu, kaget. Uang segitu mau buat fasilitas apa? Mau buat pesawat ke ruang angkasa barangkali. Ruang rapat ada teknologi seperti apalagi?," jelas Marzuki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya kekagetan Marzuki sudah terlambat. Gedung Banggar sudah terlanjur dipoles, dipercantik dan kini menjadi imut-imut lengkap dengan LCD TV wall selebar 2 x 2 meter sebanyak tiga unit. Belum lagi dindingnya, dilengkapi penyerap suara supaya tidak memantul alias tak bocor keluar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sudah begini lalu mau apalagi? Tidak mungkin gedung yang sudah direnovasi itu dibongkar kembali. Seharusnya, sebagai wakil rakyat, bapak-bapak terhormat di lembaga legislatif indera pengelihatan dan pendengarannya lebih tajam serta hatinya lebih melek lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, jangan saling lempar handuk ketika publik dengan gencar menyoroti pemborosan uang negara. Bagaimana pun juga, uang negara adalah uang milik rakyat yang harus dikelola dan dikontrol dengan baik dan benar. Bukan, diobral sesuka-suka udelnya tanpa mempedulikan kondisi keuangan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai uang sebesar Rp 25 miliar lebih itu jika kita belikan nasi bungkus dan kita bagi-bagikan kepada penduduk miskin, mungkin ada sekitar 5 juta orang yang bisa menyambung hidupnya (asumsinya satu bungkus Rp 5000). Sedangkan jumlah penduduk miskin di Indonesia hingga 2010 mencapai 31 juta lebih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada saudara-saudaraku pemegang kendali pemerintahan, kami hanya berharap kelola uang negara dengan bijak, sehingga rakyat dengan ikhlas dan tulus mau membantu membangun negeri ini melalui ketaatan dalam membayar pajak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-841524290776938381?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/841524290776938381/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=841524290776938381&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/841524290776938381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/841524290776938381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2012/01/uang-rakyat.html' title='Uang Rakyat'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-7140415360875845428</id><published>2012-01-10T15:39:00.002+07:00</published><updated>2012-01-12T11:58:35.194+07:00</updated><title type='text'>Budaya Ngentit....</title><content type='html'>KETIDAKJUJURAN kembali lagi berbicara. Ketika kita menghadapi penyakit yang satu ini, jangan pernah berkata benci atau memusuhinya. Tersenyum dan tersenyumlah. Mengapa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia bisa berkembang dan tumbuh menjadi manusia sempurna, manakala ia dibekali ilmu yang banyak. Ilmu adalah pintu jendela dunia, ilmu akan membawa kita ke gerbang pintu keselamatan dan kebahagiaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya apa, dengan ilmu, maka langkah kita dalam menjalani kehidupan bisa ditata, tidak sembrono dan selalu berhati-hati dalam setiap kali mengambil keputusan. Ilmu akan memberikan sudut pandang berbeda dalam melihat berbagai persoalan yang membentang di depan kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi manusia yang ilmunya cekak aos alias kurang, sudah dapat dipastikan ia menjadi manusia bodoh atau terbelakang. Cara berpikir, bersikap dan bertindaknya pun sempit allias dangkal. Kalau sudah begitu maka manusia itu akan sembrono, gegabah dan ngasal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin siang saya menyempatkan diri nyeruput kopi hitam di sebuah cafe yang ada di Bandara Soekarno-Hatta. Sambil menghisap rokok, datanglah seorang anak muda, duduk satu meja dengan saya. Anak muda ini hendak pergi ke Bali. Sedangkan saya ke Balikpapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngobrol bersama anak muda yang kelihatan energik, rasanya enak juga. Katanya ia sudah keliling nusantara, melihat keindahan alam semesta yang dimiliki Indonesia. "Kapan hari saya ke Pulau Derawan dan Samlaki melihat penyu," katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil ngobrol, anak muda ini juga mencicipi kopi hitam yang rada panas. Setengah jam kemudian, sang anak muda memanggil pelayan. "Berapa? Saya hanya minum kopi hitam." "Rp 15 ribu...." Usai membayar, anak muda itu pamit menuju ke ruang tunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan saya masih nongkrong, sambil menghisap rokok. Seperempat jam kemudian saya datang ke kasir. Sang kasir usianya masih muda berpenampilan perlente. "Minum apa Pak?" "Kopi hitam," kata saya sambil menyodorkan uang Rp 50.000. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, kasir cowok itu memberikan uang pengembalian Rp 25.000 tanpa stroke pembayaran. Dalam hati, duh... budaya ngentit masih saja terjadi. Mulai dari kalangan atas sampai kelas teri pun budaya itu tak akan pernah habis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menatap kedua mata sang kasir, saya lemparkan senyum ucapan terima kasih atas usaha mengentitnya. He... he.. he... Sambil berjalan menuju ruang tunggu, hati saya bertanya-tanya. "Jangan-jangan, bocah itu sengaja ngentit karena terdesak atau di dompetnya tak ada lagi uang untuk transport pulang ke rumah? Atau gaji mereka memang kecil dan tidak cukup?" Persetan dengan itu. Tapi yang jelas saya sedikit menyesal kenapa budaya ngentit itu tak juga hilang dari negeri ini.... (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-7140415360875845428?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/7140415360875845428/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=7140415360875845428&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/7140415360875845428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/7140415360875845428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2012/01/budaya-ngentit.html' title='Budaya Ngentit....'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-8111176768828836754</id><published>2012-01-10T15:11:00.002+07:00</published><updated>2012-01-10T15:14:17.588+07:00</updated><title type='text'>Menghapus Folder di Dalam Hati</title><content type='html'>MENCINTAI dan dicintai. Menyayangi dan disayangi. Mengasihi dan dikasihi. Dunia rasanya adem, nyaman dan menyenangkan, manakala cinta, sayang dan kasih itu dapat terwujud dengan sepenuh hati dan dilandasi dengan keikhlasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa-rasanya sulit untuk diimplementasikan, walau hanya tiga kata: cinta, sayang dan kasih. Sebelum panjang lebar bicara tentang cinta, mari kita kupas dulu definisinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak salah, cinta adalah  emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi cinta, bermakna mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi atau kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan sang objek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dari definisi itu, kita tak perlu lagi membedah kata sayang dan kasih. Mengapa? Di dalam cinta, kedua kata itu sudah termaktub di dalamnya. Ha... ha... ha... kayak undang-undang dasar saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, ungkapan rasa cinta itu ditujukan kepada keluarga, teman-teman, pacar (asmara) dan lain sebagainya. Sedangkan perasaan antarsesama biasa ddisebut kasih sayang. Sedangkan perasaan terhadap dirinya sendiri, biasanya disebut narsisisme. Bagaimana kalau perasaan cinta itu kita tujukan kepada negara? Itulah yang dinamakan nasionalisme.&lt;br /&gt;                 ***&lt;br /&gt;MENCINTAI, mengasihi dan menyayangi, tak selamanya indah. Tergantung persepsi dari mereka yang disasar. Kadang, ketika kata cinta diungkapkan kepada seseorang baik itu pacar, teman atau kerabat, bisa melahirkan penafsiran yang berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, ketika ada seorang pria mengatakan kepada teman wanitanya, "Aku mencintaimu..." Sang wanita yang merasa bukan pujaan hatinya, bisa jadi bakal sewot bahkan menilai ucapan itu lebay. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, ketika kata cinta diungkapkan kepada sang kekasih, wow... berbunga-bungalah hatinya. Dunia, seakan milik mereka berdua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana ketika cinta tercerabut dari akarnya? Yang tersisa adalah luka, tangis, kebencian, kesedihan dan entah apalagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka yang sudah terbiasa putus cinta, prahara itu tak akan berimplikasi kepada fisiknya. Bahkan, ia akan tetap tegar menantang sang badai mencari sang kekasih yang baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi bagi mereka yang memang dari sononya hatinya terlalu lembut, implikasinya sangat jelas. Indikatornya, tidak doyan makan, suka melamun, terjebak pada romantisme masa lalu, selalu mual ketika wajah sang mantan seakan-akan melintas di depan matanya, susah tidur (depresi), berjalan tak tentu arah, kurang bersemangat dalam melakukan aktivitas apapun, cenderung menyendiri, gelisah berkepanjangan, tak merespon ketika diajak ngobrol dan berbagai macam tanda-tanda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling mengerikan adalah ketika mereka menutup diri, mengurung diri dan tak lagi mau bermain dengan apa yang dinamakan cinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang rekan wanita bergelar dokter, kemarin bercerita banyak kepada saya bahwa ia sudah mual dengan kata-kata cinta. Usut punya usut, pengalaman masa lalu membuat dirinya 'sakit' ogah berkenalan lagi dengan cinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bayangkan, kedua orang tua kami sudah setuju. Calmer juga sudah setuju. Menungggu saya selesai diwisuda setelah itu kami akan menikah. E ternyata ada-ada saja kendalanya. Semuanya menjadi berantakan," kata sang dokter wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengaku sudah tiga kali patah hati. Gara-gara trauma masa lalu, membuat hatinya tertutup. Tak ada lagi ruang atau folder baru yang diberi nama cinta untuk menampung perasaan cintanya maupun pria yang menaruh hati kepadanya. &lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                    ***&lt;br /&gt;BENARKAH hati bisa patah? Itu hanya istilah saja. Hati terbuat dari segumpal darah berwarna hitam. Bentuknya kecil, tapi dalamnya sangat luas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati kerap melahirkan folder-folder baru ketika sang pemilik raga terbersit secuil harapan atau keinginan. Misalnya, ketika kita melihat rumah mewah, maka secara otomatis hati telah menciptakan folder 'rumah'. Begitu juga ketika muncul keinginan memiliki mobil mewah, pacar cantik/tampan, uang segudang dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, persoalannya, kita tidak terbiasa atau bahkan tidak bisa menghapus semua folder yang sudah ada di dalam hati. Pernahkah kita melakukan introspeksi diri, folder apa saja yang sudah ada di dalam hati kita? Atau jangan-jangan folder-folder itu berisi sampah, alias tak ada manfaatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada saudaraku yang sedang patah hati, kepada saudaraku yang berkeinginan mempercantik diri, kepada saudaraku yang memimpikan rumah, mobil baru dan lain sebagainya, mari kita renungkan: apakah folder itu masih relevan? Jika tidak, pejamkan mata, tangan kanan seakan-akan menyentuh hati, lalu ambil folder-foldder sampah itu, kemudian campakan ke dalam recycle bin.... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga dengan cara ini, akan lahir spirit baru, bagaimana cara meraih semua mimpi-mimpi itu.... Bayangkan apa yang hendak diraih dan pikirkan terus menerus tanpa henti, maka alam akan bekerja dengan sendirinya lalu membawa mimpi-mimpi itu kepada saudaraku... Tetap semangat dan jangan mudah putus asa. Hidup harus dinikmati, asal kita bissa menemukan cara bagaimana menikmati indahnya kehidupan ini...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-8111176768828836754?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/8111176768828836754/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=8111176768828836754&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/8111176768828836754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/8111176768828836754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2012/01/menghapus-folder-di-dalam-hati.html' title='Menghapus Folder di Dalam Hati'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-1439945248135514877</id><published>2012-01-07T23:48:00.002+07:00</published><updated>2012-01-07T23:51:21.498+07:00</updated><title type='text'>Antara Ngomel dan Sedekah</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-IhSeoFaMMSc/Twh3_dl0IpI/AAAAAAAAApw/kZDE2idELIY/s1600/MENGARTIKAN-KEBIASAAN-KUCING.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-IhSeoFaMMSc/Twh3_dl0IpI/AAAAAAAAApw/kZDE2idELIY/s200/MENGARTIKAN-KEBIASAAN-KUCING.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5694933660968690322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;ACAP KALI ia menjemputku di beranda rumah. Ketika pintu taksi terbuka, sang perut buncit menyapaku dengan caranya sendiri. Bulu-bulu di tubuhnya, ia gesek-gesekan ke kakiku. Geli... tapi, aku suka, apalagi ada kesan ia ingin bermanja-manja denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa hari ini, si perut buncit selalu saja duduk di depan pintu rumahku. Ketika aku melangkahkan kaki keluar rumah, ia selalu saja ingin bermanja-manja. Kata orang Jawa, muyek... terus alias kagak mau pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kalau sudah begitu, kutatap kedua matanya yang caem. Ingin membelainya. Tapi jangan coba-coba. Ia rada ganas lho. Pernah suatu hari aku ingin memeluknya. Ehmm... baru saja tangan kananku menyentuh tubuhnya, ia sontak menggeliat, lalu kuku-kukunya yang tacam menancap di tanganku. Sekali tarik, darah keluar. Duh... di perut buncit galak amat. Antara sebel dan senang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya kali ini saja si perut buncit menancapkan kukunya ke tubuhku. Suatu hari ketika aku tak merespon manjanya, ia rada sebel. Jemari kakiku dicengkeramnya. Lagi-lagi kuambil betadi, takut infeksi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dua hari lalu, perutnya semakin membesar. Mungkin ada empat bayi yang di kandungnya. Merasa kasihan, aku balik ke dapur. Tak ada ikan yang tersedia untuknya. Lalu kubuka kulkas. Ehmmm... ada yang masih terbungkus rapi. Naget itu lalu kugoreng. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, kuberikan kepada si perut buncit. Kali ini ia rada tidak doyan. Sebel juga melihat polanya. Lalu naget itu kucuil-cuil agar aromanya merebak. Kali ini, ia mulai doyan. Lahap... alias nyam-nyam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, saat si perut buncit menikmati naget, istriku mendadak teriak. "Kok kenapa nagetnya dikasihkan ke kucing? Itu kan ada ikan di meja makan." Astaga....! Ngomel lagi, ngomel lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam. Sesaat kemudian, kulangkahkah kaki masuk ke dalam rumah. Ternyata ada beberapa ikan yang telah digoreng istriku. Bagian kepalanya, kupotong dan kuberikan kepada si perut buncit. Sang meong merasa kegirangan dan aku lega alias plong lantaran makanan yang aku berikan itu bisa bermanfaat buat sang jabang bayi. &lt;br /&gt;                  ***&lt;br /&gt;TADI pagi, si perut buncit datang kembali ke rumahku. Ia duduk di depan pintu. Kuambilkan sepiring ikan bandeng yang telah digoreng istriku. Tanpa sepengetahuannya, ikan-ikan itu dilahapnya. Aku tertawa dan merasa senang.&lt;br /&gt;"Semoga sedekahku kepada sang meong bermanfaat," gumanku.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai si perut buncit menyantap ikan bandeng, istriku lagi-lagi memergokinya. "Hah? Mana ikan-ikan yang aku goreng tadi? Astaga.... masak dikasihkan ke kucing semuanya. Duh... Papa ini gimana sih... Anak-anak mau makan apa?" Ngomel lagi ngomel lagi... Aku hanya terdiam dan terdiam. Ternyata bersedekah pun ada tata caranya, ada toto kromonya, alias bukan grasak-grusuk seenak udelnya biar tidak menyinggung perasaan manusia lain....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-1439945248135514877?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/1439945248135514877/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=1439945248135514877&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/1439945248135514877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/1439945248135514877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2012/01/antara-ngomel-dan-sedekah.html' title='Antara Ngomel dan Sedekah'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-IhSeoFaMMSc/Twh3_dl0IpI/AAAAAAAAApw/kZDE2idELIY/s72-c/MENGARTIKAN-KEBIASAAN-KUCING.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-1415259171238199404</id><published>2012-01-05T14:34:00.003+07:00</published><updated>2012-01-05T21:14:00.738+07:00</updated><title type='text'>Kerinduan</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-LhLVGXDJOXI/TwWwCDQsbKI/AAAAAAAAApk/Hu1eRt15Qh8/s1600/ibnu.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 173px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-LhLVGXDJOXI/TwWwCDQsbKI/AAAAAAAAApk/Hu1eRt15Qh8/s200/ibnu.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5694150853161413794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;HUJAN tak lagi berhenti. Suara petir bergemuruh, saling bersahut-sahutan. Kutatap dari balik jendela, ada gelembung-gelembung air di tanah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GELEMBUNG-gelembung itu meletus satu persatu. Tumbuh kembali, meletus lagi hingga hujan reda. Ketika dingin menerpa, ketika sunyi menyergap, ketika diri ini kehilangan kehangatan, ingin kupeluk dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini engkau aku timang-timang, lalu kuajak engkau bermain menatap hujan. Kukecup keningmu sambil kugendong. Kemudian kuajak engkau mendekati si meong yang kedinginan di depan sebuah toko. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kuturunkan kedua kakimu ke tanah mendekati si meong. Eitt... engkau teriak, setengah merenggek, ketakutan. Tapi kedua kelopak matamu yang jernih, tak pernah lepas menatap meong yang tengah kedinginan. &lt;br /&gt;                             ***&lt;br /&gt;KOTAK berbentuk kubus, segitiga dan jajaran genjang itu warnanya mempesona. Belum lagi bola-bola plastik. Engkau ambil kotak-kotak itu, lalu engkau masukan ke dalam bola berlubang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali aku memintamu melakukan kembali. Eittt... engkau benar-benar pandai. Lalu senyum pun mengembang. Di atas meja panjang itu, kau permainkan benda-benda itu. Lagi-lagi mata emakmu terlihat ceria, seceria senyumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bola-bola itu engkau lempar ke lantai. Laju dan terpental kesana-kemari. Engkau tersenyum. Aku pun ikut riang. Tak usah kau tanya kemana cinta yang begitu tulus itu sekarang pergi? Cinta itu kini bersamamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bola-bola menyeruak masuk ke dalam kolong, membentur kaki-kaki meja. Engkau berusaha mengambilnya. Lagi-lagi aku melarangmu. Biarkan aku saja yang mengambilnya, walau keringat membasahi tubuhku. Berkali-kali engkau lakukan itu, berkali-kali itupula aku memungutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarum jam terus bergerak. Sore menjemput. Engkau harus pergi ditengah rintik. Kupayungi, kuantar engkau ke dalam mobil yang ada di seberang jalan. Kedua matamu, masih menatapku. Mobil itu lalu meleset. Hanya derai dan derai yang tersisa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini, ada lega. Rindu sudah tertebus. Kapan lagi engkau bermain, menebar senyum, tertawa riang dan bercanda bersamaku kembali seperti ketika emakmu lamat-lamat memperhatikan keceriaan kita berdua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kita tatap awan, ehm... gelap... sebentar lagi hujan makin deras, sederas cintaku, sayangku kepada engkau....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-1415259171238199404?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/1415259171238199404/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=1415259171238199404&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/1415259171238199404'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/1415259171238199404'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2012/01/kerinduan.html' title='Kerinduan'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-LhLVGXDJOXI/TwWwCDQsbKI/AAAAAAAAApk/Hu1eRt15Qh8/s72-c/ibnu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-6737908720806841344</id><published>2011-12-08T14:04:00.002+07:00</published><updated>2011-12-08T14:12:11.958+07:00</updated><title type='text'>Dua Mesin Speed Boat Rusak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-Y3FAYxdPF-0/TuBjPvOzNXI/AAAAAAAAApY/AHFCkXa8tS4/s1600/_MG_8102.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-Y3FAYxdPF-0/TuBjPvOzNXI/AAAAAAAAApY/AHFCkXa8tS4/s200/_MG_8102.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5683651851769296242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;* Dibalik Keindahan Menjelajah Pulau Maratua (7-habis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAPORAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ACHMAD SUBECHI&lt;br /&gt;M WIKAN&lt;br /&gt;BASIR DAUD&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETELAH balik kandang ke Resort Paradise Maratua, beberapa rekan-rekan kami masih trauma atas petualangan yang nyaris tak pernah mereka lakukan seumur hidup --naik speed boad pada malam hari ditengah gelombang cukup besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBAGIAN lainnya, mengambil nafas sejenak, melupakan ketegangan. Sementara saya dan Arif, masih termanggu di dermaga, mengenang perjalanan yang 'konyol'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena cuaca masih tak bersahabat, akhirnya, kami putuskan untuk menginap semalam. "Besok jam 08.00 pagi, teman-teman sudah berada di dermaga dan kita akan pulang," jelas Arif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu perasaan cemas dan gundah gulana terpancar di wajah-wajah kami. Jika ombak masih 'berteriak' tentu kami tak akan berani pulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena situasi semakin tak memungkinkan, Arif menghubungi Manager Public Relation PT Berau Coal, Bintoro. "Mas... gimana kalau kita sewa speed yang agak besar dari Berau. Cuaca di sini tidak memungkinkan untuk kembali ke Berau dengan menumpang speed kecil," tanya Arif melalui handphone. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa jawaban Bintoro, tapi yang jelas ketika kami bangun tidur, sebuah speed boat dari Berau sudah bersandar di sekitar Paradise Resort Maratua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu speed boat yang akan kita tumpangi. Kapasitasnya sekitar 40 orang," tutur Arif. Speed boat itu terlihat rada menjauh dari dermaga. Sekitar pukul 09.00, speed mulai merapat. Lagi-lagi, ombak begitu kencang. Akhirnya, sang motoris menunda keberangkatan. Sampai kapan? Tak jelas benar. "Kita akan berangkat kalau ombaknya sudah tenang," tambah Arif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunggu, saya sempatkan diri jalan-jalan ke perkampungan yang ada di Pulau Maratua bersama Fadli dan Basir. Usai melawati perkebungan kelapa, kami mendapati pemukiman warga. Sebagian besar rumah di Maratua berdinding batu, tampak bersih. Pondasi rumah, terbuat dari batu karang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin ke ujung, kami mendapati sebuah dermaga yang menjorok ke Teluk. Dermaga itu cukup panjang. Sejumlah perahu bersandar di tempat itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa warga sibuk menurunkan semen dan pasir dari dalam perahu. "Kami beli di Tarakan. Harganya tahu sendirilah..." kata salah seorang warga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil bercerita kesana-kemari tentang kehidupan di Pulau Maratua, tiba-tiba Arif menghhubungi saya via handphone. "Kita paling lambat berangkat dari Maratua jam 13.00."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, keinginan kami bersahabat dan bercengkerama dengan penduduk Maratua yang rata-rata bersahaja dengan pendatang, terputus ditengah jalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami lalu berjalan kaki menuju dermaga. Sebuah speed boat yang hendak kami tumpangi, sibuk merapatkan speednya ke dermaga. Begitu berrsandar, rekan-rekan masuk ke dalam speed boat. Ucapan selamat jalan, semoga selamat terlontar dari bibir karyawan resort. Tak ketinggalan, Pak Sulaiman, warga Pulau Maratua yang hendak mengambil gajinya di Berau, kembali ikut nebeng ke Berau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Speed melaju dengan cepat. Gelombang, lumayan keras. Sang motoris selalu memperhatikan alur laut. Kami semua berselancar ditengah gelombang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena trauma dengan peristiwa sebelumnya, saya minum antimo, lalu tertidur. Beberapa jam kemudian, saya terbangun. Speed kami tak bisa melaju dan terdampar di muara sungai menuju Berau. "Kenapa?"&lt;br /&gt;Oh... rupanya, dua mesin speed boat ngadat alias rusah akibat hantaman gelombang. Kami semua menunggu speed boat cadangan yang dikirim dari Berau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah jam kemudian, sebuah speed boat datang. Kami semua pindah tempat. Speed melaju dengan kencang dan tiba di Berau sore hari. Dari Berau, kami bergegas ke Bandara Kalimarau, mengejar penerbangan terakhir menuju Balikpapan. Sementara beberapa wartawan nasional, masih tetap menginap di Berau untuk melakukan liputan lainnya. &lt;br /&gt;                              ***&lt;br /&gt;SESAMPAINYA di kantor, saya membuka internet. Ingin mengetahui mengapa dalam beberapa hari belakangan, badai cukup kencang menghantam Maratua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaga, ternyata Pulau Maratua terkena imbas dari munculnya badai topan Nesat yang menghantam Filipina. Di Filipina, badai itu menyebabkan banjir, pohon tumbang, dan para karyawan tak bisa pergi ke kantor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dilaporkan wartawan BBC, Kate McGeown, dari Luzon tengah, angin lesus berkekuatan 170 kilometer per jam ini juga menimbulkan tanah longsor, di Provinsi Isabela dan Auroroa di Pantai Pasifik.&lt;br /&gt;"Banyak jalan terendam air, penerbangan dibatalkan, dan sejumlah media lokal menyarankan agar warga masyarakat tidak bepergian bila tidak terlalu penting," ujar McGeown.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membaca berita itu, bulu kuduk mendadak berdiri. Andaikan speed yang kami tumpangi terbalik, bisa dibayangkan tubuh kami yang hanya berjaket pelampung berisi gabus, akan terbawa kesana-kemari. Sementara kekuatan jaket pelampung gabus, tak begitu lama. &lt;br /&gt;Sebuah petualangan lumayan mendebarkan. Akankah kami berani ke Maratua kemballi? Mari kita tanya kepada sang ombak.... (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-6737908720806841344?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/6737908720806841344/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=6737908720806841344&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/6737908720806841344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/6737908720806841344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2011/12/dua-mesin-speed-boat-rusak.html' title='Dua Mesin Speed Boat Rusak'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-Y3FAYxdPF-0/TuBjPvOzNXI/AAAAAAAAApY/AHFCkXa8tS4/s72-c/_MG_8102.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-3204550863068692882</id><published>2011-12-07T10:32:00.002+07:00</published><updated>2011-12-07T10:42:09.871+07:00</updated><title type='text'>Asbak itu Tiba-tiba Pecah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-6LaLBTzsRTs/Tt7gHZpfCTI/AAAAAAAAApM/KQtot2BmeUk/s1600/Speed%2Bboat%2Byang%2Bkami%2Btumpangi%2Bnyaris%2Btenggelam%2Bdihantam%2Bgelombang%2Bsaat%2Bmenuju%2BBerau%2Bdari%2BPulau%2BMaratua..jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-6LaLBTzsRTs/Tt7gHZpfCTI/AAAAAAAAApM/KQtot2BmeUk/s200/Speed%2Bboat%2Byang%2Bkami%2Btumpangi%2Bnyaris%2Btenggelam%2Bdihantam%2Bgelombang%2Bsaat%2Bmenuju%2BBerau%2Bdari%2BPulau%2BMaratua..jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5683226197536737586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;* Dibalik Keindahan Menjelajah Pulau Maratua (6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAPORAN&lt;br /&gt;-----------------&lt;br /&gt;ACHMAD SUBECHI&lt;br /&gt;M WIKAN&lt;br /&gt;BASIR DAUD&lt;br /&gt;------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MASIH menurut Basir Daud, malam itu ombak lautan semakin membesar. Speed boat yang mereka tumpangi kesulitan untuk mencari dermaga yang dekat dengan tempat penginapan di Pulau Derawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETELAH berputar-putar mengelilingi pulau, dengan susah payah, sang motoris menemukan lokasi yang paling baik untuk memarkirkan speed boat dalam kondisi cuaca yang kurang bersahabat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya dan Arif bergegas menuju penginapan. Angin kencang kian terasa saat kami menyusuri jalan dari dermaga menuju penginapan. Arif memutuskan, kita harus menginap malam ini karena tak mungkin kembali ke Maratua," kenang Basir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil mengisi baterai, Basir lagi-lagi mencoba mengakses internet dengan modem sebelumnya. Sayang, sinyal internet di penginapan tidak sama dengan tempat di tengah laut, tempat ia mengirim file melalui email. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami mencoba mengakses jaringan di teras penginapan, tapi hasilnya tetap sama. Akhirnya, kami memilih memanfaatkan kekuatan jaringan yang ada. Kami baru memastikan berkas kedua dengan kapasitas 2 MB baru terkirim setelah bangun pagi."&lt;br /&gt;                              ***&lt;br /&gt;ESOKNYA ketika Basir dan Arif sudah merapat ke Maratua, kami berencana akan meninggalkan pulau itu menuju Berau, sekitar pukul 14.00 Wita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing teman sudah berkemas-kemas, tinggal angkat kopor menuju dermaga Paradise Resort Maratua. Sebuah speed boat yang kami sewa dari Derawan dan sudah sehari semalam berada di Maratua, tak berani mendekati dermaga. Ombak kian ganas, disertai terpaan angin yang begitu kencang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunggu ombak tak lagi bergulung-gulung, kami sempatkan diri ngobrol di restoran Maratua. Beberapa rekan lainnya, terlihat saling bercanda dan ada juga yang melamun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri, tengah asyik ngobrol berdua bersama Arif. Nah, saat itulah tiba-tiba sebuah asbak rokok yang ada di meja kami, mendadak pecah, terbelah menjadi dua. Hah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, asbak itu cukup besar dan terbuat dari kaca. "Mas... apa ini maknanya?" tanya Arif. "Waduh... saya tidak tahu Rif...Lupakan saja..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua jam kemudian, saya ikut nimbrung di meja teman-teman wartawan nasional. Ketika asyik bercanda, gelas minum yang terbuat dari kaca, tiba-tiba retak. Waduh, sebuah firasat atau? Entahlah....&lt;br /&gt;"Kalau sampai jam 17.00 ombak masih seperti ini, lebih baik kita menginap lagi di sini. Cuacanya sangat tidak memungkinkan dan berbahaya," kata Arif.&lt;br /&gt;                             *** &lt;br /&gt;SEKITAR pukul 17.30, speed boat berhasil merapat di dermaga. Ketika kami hendak naik ke dalam speed boat, seorang PNS, guru SD di Maratua, ikut menumpang. Pria setengah baya itu berniat ke Berau untuk mengambil gaji. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika masuk ke dalam speed boat, saya sodorkan sebuah jaket pelampung. Tapi ditolaknya. "Saya sudah terbiasa begini," katanya. &lt;br /&gt;Beberapa rekan kami hanya geleng-geleng kepala. Nama pria itu Sulaiman. Ia memilih duduk di buritan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Speed boat tancap gas menjelang mahgrib. Deburan ombak yang semakin kencang mulai terasa menghantam bodi speed. Saya duduk di tak jauh dari sang motoris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombongan kami lainnya, M Wikan, Basir Daud, Fadli (Tribun Kaltim), Inne Nathalia, Haris Tan (Kompas TV), Amanda Valani, Pops Popovsky (Metro TV), serta Indra Harsaputra (Jakarta Post), mulai terlihat cemas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru beberapa menit speed boat berjalan, lautan terlihat gelap dan hanya bisa dilihat melalui sorot lamu speed boat yang tak begitu terang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guncangan semakin terasa. Beberapa rekan, mulai terlihat mual-mual. Bahkan, saya sendiri terpaksa meminta antimo kepada Indra Harsaputra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulaiman, sang guru SD yang sedari tadi berdiri di belakang speed boat, mulai meminta jaket pelampung. Setelah itu, ia tak lagi berdiri, melainkan duduk sambil mulutnya komat-kamit. Rekan-rekan kami lainnya juga melakukan hal yang sama. Wajah mereka mulai pucat. Bahkan, M Wikan, menarik diri untuk duduk di belakang setelah ia melihat ombak tingginya sekitar dua meter di atas speed boat. Saya pun harap-harap cemas. Doa mulai dipanjatkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, air laut masuk ke delam speed boat melalui kabin atas. Barang-barang bawaan kami basah. Saya amati wajah sang motoris. Ehmm... ternyata pria itu juga mulai ketakutan. Lebih-lebh setelah air laut berkali-kali membasahi tubuhnya dari atas. Ditengah hantaman gelombang, saya bertanya kepada sang motoris. "Derawan masih jauh?" "Masih...." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah keheningan itulah, tiba-tiba sang motoris berteriak. "Mati kita...." bersamaan dengan masuknya air laut ke dalam speed boat. Kata-kata, itu makin acap terdengar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika itu juga saya dekati sang motoris. "Daripada kita semua mati, kita balik saya ke Pulau Maratua." "Okey.. Pak.." Teman-teman merasa plong alias lega begitu mengetahui speed boat balik kanan. Setelah lebih dari 15 menit, kami melihat kerlap-kerlip lampu pulau dari kejauhan. "Sssstt... itu Maratua. Tak lama lagi kita nyampai," bisik saya kepada Indra Harsaputra, wartawan Jakarta Post yang tak bisa berenang seperti saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu merapat di dermaga Paradise Resort Maratua, hati kami menjadi lega. Para karyawan resort kembali menyambut kami dengan gembira. &lt;br /&gt;"Kalau perjalanan tadi kita teruskan, kita semua bisa tenggelam. Ombaknya begitu besar," kata sang motoris. Alamaakkkkkkkkk.... bisa mati dong! (dtc)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-3204550863068692882?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/3204550863068692882/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=3204550863068692882&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/3204550863068692882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/3204550863068692882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2011/12/asbak-itu-tiba-tiba-pecah.html' title='Asbak itu Tiba-tiba Pecah'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-6LaLBTzsRTs/Tt7gHZpfCTI/AAAAAAAAApM/KQtot2BmeUk/s72-c/Speed%2Bboat%2Byang%2Bkami%2Btumpangi%2Bnyaris%2Btenggelam%2Bdihantam%2Bgelombang%2Bsaat%2Bmenuju%2BBerau%2Bdari%2BPulau%2BMaratua..jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-5640347253461666154</id><published>2011-12-06T18:37:00.004+07:00</published><updated>2011-12-06T18:44:18.865+07:00</updated><title type='text'>Garis tangan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-pWKtV1LLCtI/Tt3__fOJZMI/AAAAAAAAAo0/p8H1bYzci0I/s1600/garis-tangan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 124px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-pWKtV1LLCtI/Tt3__fOJZMI/AAAAAAAAAo0/p8H1bYzci0I/s200/garis-tangan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5682979770989110466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RASANYA saya sedikit asing dengan nomer SMS yang masuk ke handphone, Senin (5/12/2011) kemarin sore. Dalam SMS itu, dikabarkan bahwa pemain tim nasional Indonesia U-23, Andik Vermansyah adalah keponakannya. "Dia masih famili dengan saya," tulisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah tulisan itu tertera namanya, Yono, Bronggalan, teman lamamu. Karena saya masih sibuk, maka SMS itu saya abaikan. Ketika sedang nyantai, lagi-lagi isi SMS itu saya baca. "Yono.... Yono yang mana ya? Oh jangan-jangan dia adalah teman saya ketika masih kecil yang sama-sama suka main bola," pikir saya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, ketika masih bocah, rumah Yono hanya berjarak satu rumah dengan rumah kami. Ayahnya, bekerja sebagai tukang becak. Anaknya kalau enggak salah ehm... sekitar lima orang. Semuanya masih kecil-kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tergolong tidak mampu, Yono hanya bisa menamatkan sekolah di bangku kelas tiga SD. Biasanya sepulang sekolah, kami selalu bermain sepak bola di tanah kosong yang kanan kirinya sawah. Saya akui, Yono memang lincah. Tendangannya pun okey. Bola yang kami pakai pun bola plastik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sudah main bola, biasanya kami pulang mendekati magrib. Kawan-kawan yang ikut bermain, jumlahnya makin sore makin banyak. Pendek kata, setiap hari tidak ada waktu untuk tidak bermain bola. Rasanya nikmat, bisa tertawa cengigisan dan badan menjadi sehat pula. &lt;br /&gt;Waktu terus berjalan. Ketika menginjak bangku SMP, saya mulai ikut klub sepak bola. Namanya Poris. Latihannya di Lapangan PJKA, Surabaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahun-tahun kami berlatih. Dari situ saya pindah ke klub Suryanaga, setelah menginjak SMA. Lapangan tempat berlatihnya di lapangan KKO (Kestarian Gubeng). Di Suryanaga, ada beberapa pemain yang akhirnya namanya melejit diantaranya Joko Malis, Rudy Kelces dan lain-lain. Pelatihnya, Om Pang. Kebetulan, di kampung kami ada dua pemain sepak bola ternama. Namanya Ketip Suripno dan Riono Asnan, keduanya dulu adalah pemain Niac Mitra. Kadang, kami berlari-lari bersama dan berlatih main bola bersama mereka. Juga ada Slamet, pemain Mercu Buana Medan. Dari merekalah kami berlatih sepak bola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, saat kami masuk klub, Yono masih saja bermain bola sepak di kampung. Belakangan, sambil bekerja ikut orang di salon kecantikan, ia masuk klub sepak bola Bentoel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kapan kami berpisah. Yang jelas saya sudah lupa alias tak bertemu Yono lagi, sejak rumahnya dijual. Dari kecil, Yono memang tipe bocah mandiri. Walau berasal dari keluarga tidak mampu, ia sangat rajin bekerja. Pekerjaan apapun dia lakukan, asal dapat uang. Bahkan, ia pernah jadi kuli batu segala. Tidak hanya itu, kadangkala, dia ikut saya ngamen, menyanyi dari kampung ke kampung menjajakan suara. &lt;br /&gt;                                ***&lt;br /&gt;TAHUN terus berjalan. Setiap pulang ke Surabaya, saya sudah tidak inggat lagi nama Yono, bocah berkulit putih dan rada pendek. &lt;br /&gt;Nah, dari SMS itu saya mulai menebak. Jangan-jangan dia adalah Yono, teman kecil, teman satu kampung saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena penasaran, dia saya hubungi. "Kamu Yono Bronggalan ya?" "Iya.... Masak kamu lupa sama saya," katanya. "Sebentar ya... nanti saya hubungi, kebetulan saya lagi kerja motong rambut," tuturnya.&lt;br /&gt;Selang satu jam kemudian, telepon saya berdering. Eittt... Yono rupanya telepon balik. Dia menanyakan kabar saya. Saya jawab alhamdulillah dan saya katakan bahwa saya sekarang kerja di Kalimantan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Enggak apa-apa.... Saya hanya berharap umurmu dowo, rezekimu akeh, anakmu sehat-sehat dan jadi orang," katanya dalam dialeg Suroboyo yang medok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam komunikasi itu, Yono lebih banyak bercerita tentang rekan-rekan kita yang nasibnya tidak begitu baik. "Sekarang saya dengar Acil sudah di Jakarta. Dia sudah kaya. Kamu juga. Nah, ada satu teman kita yang waktu itu orang tuanya kaya, sekarang hidupnya menyedihkan. Saya sangat kasihan kalau ketemu dia," tuturnya. &lt;br /&gt;Siapa namanya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu... Eko... Bapaknya dulu kerja jadi tentara, angkatan laut." Oh... saya inggat betul dengan wajah dan tabiat Eko. Maklum, ketika sama-sama masih duduk di bangku SMA, Eko hidupnya serba berkecukupan. Di kampung kami, rumanya mungkin paling keren. &lt;br /&gt;Bapaknya, sangat sayang sama anak-anaknya. Ibunya pun supel bergaul, terutama ketika kami main-main ke rumahnya. Hampir setiap hari, kami selalu jalan berdua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan, ia keburu menikah selepas SMA. Bersamaan dengan itu, ayahnya meninggal dunia. Sejak saat itu, keluarganya pontang-panting mencari nafkah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibunya sekarang juga sudah meninggal. Dia belum punya rumah dan masih kontrak. Kadang kalau saya bertemu dia, saya selalu memberikan uang. Saya benar-benar kasihan dengan dia. Dia sekarang ngamen di Terminal Wonokromo bersama teman-temannya, termasuk Klanting," jelas Yono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, pendek kata saya dibawa Yono ke masa lalu, masa yang sungguh menyenangkan, walau ketika malam tiba rumah kami tidak ada lampu penerangan, kecuali lampu templok. Setiap malam, suara jengkerik dan kodok, bersahut-sahutan, saling menyanyi bersama gesekan biola daun-daun padi yang menguning. &lt;br /&gt;                  ***&lt;br /&gt;MASIH menurut Yono. Ternyata kunci keberhasilan manusia itu kerja keras. "Dulu saya ketika masih kecil, kurang kerja keras gimana. Kamu sendiri kan tahu. Bahkan, kita sama-sama ngamen bersama kamu dan Eko. Tapi saya tahu, kamu ngamen bukan untuk mencari uang atau menjadikan keahlian itu sebagai profesi. Kamu kan hanya melatih mental saja dan hobi nyanyi. Sedangkan Eko tidak. Dia, maaf dari dulu rada manja dan ngamen menjadi profesinya," tuturnya. &lt;br /&gt;Setelah cas... cis... cus... akhirnya, ganti saya yang bicara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anakmu berapa?" "Anakku tiga." "Umur berapa dan sekarang kerja dimana?" "Anakku yang pertama cewek. Dia sekarang menjadi dokter umum di RSUD Dr Soetomo. Sedangkan yang kedua juga cewek dan sekarang bekerja menjadi dokter gigi. Yang terakhir masih SMA," tuturnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wow... saya sedikit terperanjat. Ternyata, kawanku ini mampu mendidik anak-anaknya hingga menjadi manusia sukses. Latar belakang pendidikan saja hanya SD kelas tiga, tetapi ia mampu mengangkat derajat anaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sudah menikah? "Sudah... belum lama ini. Setelah menikah dia saya belikan rumah di Citraland." Wew... ciamik tenan koncoku ini. &lt;br /&gt;Nah, dalam kesempatan itu dia menawarkan agar saya mampir ke rumahnya jika ada waktu luang. "Saya masih buka usaha salon. Alhamdulillah... sampai sekarang masih jalan terus. Cuman, begini ya... saya hanya berpesan. Jangan sekali-kali main perempuan. Nakal ya nakal.. jangan sampai jatuh cinta lagi," pesannya. "Kok? Emangnya kenapa?" pancing saya. Dia hanya ketawa..... (achmad subechi)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-5640347253461666154?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/5640347253461666154/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=5640347253461666154&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/5640347253461666154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/5640347253461666154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2011/12/garis-tangan.html' title='Garis tangan'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-pWKtV1LLCtI/Tt3__fOJZMI/AAAAAAAAAo0/p8H1bYzci0I/s72-c/garis-tangan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-6681125945810029380</id><published>2011-12-06T17:11:00.005+07:00</published><updated>2011-12-06T20:43:16.960+07:00</updated><title type='text'>Speed Boat Kami Dipandu Kapal Jepang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-NKlPL105NPk/Tt4b6Rkx3ZI/AAAAAAAAApA/9e36dEQq0TA/s1600/_MG_7720.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-NKlPL105NPk/Tt4b6Rkx3ZI/AAAAAAAAApA/9e36dEQq0TA/s200/_MG_7720.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5683010467752172946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;* Dibalik Keindahan Menjelajah Pulau Maratua (5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAPORAN&lt;br /&gt;-----------------&lt;br /&gt;ACHMAD SUBECHI&lt;br /&gt;M WIKAN&lt;br /&gt;BASIR DAUD&lt;br /&gt;------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;MALAM itu suasana di Maratua Paradise Resort, terasa sepi. Beberapa rekan wartawan nasional sudah beranjak ke kamarnya masing-masing. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;DEBURAN ombak, pasca kepergian Arif Hadianto (Staff Public Relation PT Berau Coal) dan Basir Daud (wartawan Tribun Kaltim) menuju Pulau Derawan menumpang speed boad, memecah keheningan. Dari jam ke jam, deburannya semakin keras. Ada kegelisahan dalam hati mengenai nasib keduanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya rada was-was dengan gelombang yang semakin membesar. Semoga keduanya enggak ada masalah dalam perjalanan menuju Derawan," tutur saya kepada Fadli, karyawan bagian desain grafis yang ikut juga dalam rombongan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali, saya kontak mereka via handphone. Lagi-lagi tak ada jawaban. Tak terasa hari sudah mulai larut malam. Jarum jam sudah menunjukan pukul 23.00 Wita.  Seorang petugas resort menceritakan bahwa dulu ada speed boat yang terbalik saat membawa wartawan menuju Derawan. "Untungnya mereka memakai jaket pelampung. Dan jika dibandingkan dengan kondisi sekarang ini, ombaknya memang lebih besar. Apalagi kalau malam hari," tuturnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita itu membuat hati saya makin kecut, memikirkan nasib dua teman yang sedang berlayar ditengah hantaman gelombang. Ditengah kecemasan, tiba-tiba handphone saya berdering. "Mas Bec... saya sekarang masih berada di laut dan belum nyampai Pulau Derawan. Nih lagi mencoba modem, siapa tahu bisa dikirim dari sini filenya. Jadi sekarang speednya lagi berhenti," tutur Arif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan takut, cemas dan entah apalagi, seakan-akan lenyap seketika. Dua rekan kami ternyata aman-aman saja. "Nanti kalau enggak bisa terkoneksi ya terpaksa saya harus ke Derawan," tambahnya.&lt;br /&gt;                            ***&lt;br /&gt;SATU jam kemudian, saya coba hubungi Arif dan Basir. Handphone keduanya mati. Rasa cemas kembali datang. Perlahan saya langkahkan kaki menyusuri geladak resort menuju ke kamar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamar, Fadli sedang duduk termenung. Rupanya, ia juga memikirkan nasib rekan-rekannya. "Sudah ada kontak Mas dengan mereka?" "Sudah.... tapi mereka belum sampai ke Derawan," tutur saya. &lt;br /&gt;Malam itu, Maratua terkesan menyeramkan. Hantaman ombak ke kaki-kaki resort terbuat dari kayu ulin, terasa mengayun-ayunkan kami. Suara ombak yang begitu keras, mirip seperti hujan badai. Lebih-lebih di luar kamar. Angin bertiup begitu kencang. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saat menanti kepastian itulah, tiba-tiba handphone kembali berdering. "Mas... saya malam ini tidak jadi balik ke Maratua. Nih, kami sudah berada di Derawan dan sedang berusaha mengirim email. Jadi kami nginap di Derawan, besok pagi balik ke Maratua," tutur Arif. Plong.... rasanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, mata kami sudah bisa diajak kompromi. Sementara deburan ombak di bawah kolong tempat tidur terasa semakin keras. Fadli, terlihat sudah terlelap. Saya pun mulai terkantuk. &lt;br /&gt;                            ***&lt;br /&gt;PAGI hari ketika sarapan, beberapa wartawan nasional menanyakan nasib Arif dan Basir. Saya katakan mereka nginap di Derawan. Mereka lega. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul 09.00 pagi sebuah speed boat terlihat merapat di dermaga Paradise Resort Maratua. Arif dan Basir turun dari speed. Kami bersalaman. Keduanya tampak masih loyo. Walau begitu mereka satu persatu mengisahkan petualangan sejatinya, menerjang ombak di malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya duduk di bangku speed boat bagian belakang. Waktu itu langit tidak begitu cerah. Hanya satu dua bintang yang bersinar. Namun, permukaan laut di belakang speed boat penuh dengan cahaya dari organisme laut seperti plankton. Saya jadi ingat saat belajar di bangku kuliah. Walaupun saya tidak suka mata kuliah yang berbau biologi, tapi saya ingat yang satu ini. Mereka yang mengeluarkan cahaya di permukaan laut masuk dalam kelompok organisme bioluminesens. Organisme yang memproduksi cahaya dari suatu reaksi kimia. Di daratan juga ada. Misalnya kunang-kunang," kenang Basir memulai cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya itu cukup menghibur di tengah gundah gelana menghadapi serangan ombak besar dalam perjalanan menuju Derawan. "Dalam hati saya berpikir, kemampuan renang saya yang terbatas tidak akan mampu bertahan lama jika speed boat tenggelam akibat dihantam ombak. Saya kembali memandang ke arah depan. Hamparan laut seolah tanpa batas. Gelap dan gelap... Hanya sorotan lampu speed boat. Saya lalu menenangkan diri dengan menyerahkan sepenuhnya kepada kemampuan motoris dan takdir. Saya tersenyum dalam hati. Motoris membawa alat Global Positioning System (GPS) yang digunakan sebagai alat navigasi. Keduanya mengaku keturunan suku bajo. Suku bajo dikenal bersahabat dengan lautan. Mereka menghabiskan sebagian besar hidupnya di laut," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan, kata Basir, ia berusaha menyalakan laptop dan berusaha mencari sinyal di sejumlah titik antara Pulau Maratua dan Pulau Derawan. Kata sang motoris di sejumlah lokasi, sinyal telepon sangat kuat. Selain agar cepat kembali ke Maratua, juga lebih cepat mengirim berita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dalam perjalanan menuju perairan di tengah Maratua dan Derawan, kami dikagetkan dengan kapal pengangkut peti kemas asal jepang. Motoris mengatakan, jalur perairan itu kerap digunakan kapal besar. Melihat kapal yang hanya jelas dengan beberapa titik lampu, motoris mengurangi laju speed boat. Ia ingin mencari dimana batas belakang kapal agar tidak salah mengambil rute. Dengan lampu speed boat yang tak begitu terang, sang motoris memberikan kode, berharap kapal memberikan kode balik tentang kondisi panjang kapal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tiga kali kode, kapal raksasa itu menyalakan lampu sorotnya, lalu mengarahkan ke bagian depan tengah dan belakang kapal agar terlihat. Lampu sorot kapal berhenti di belakang kapal agar dapat digunakan sebagai panduan speed boat yang hendak melintasi belakang kapal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika itu juga sang motoris tancap gas melewati belakang kapal disusul bunyi peluit kapal Jepang seperti menyampaikan pesan selamat menempuh perjalanan yang masih panjang. "Sayang, speed boat tidak memiliki peluit untuk membalas salam kapal asal negeri Matahari terbit itu," ujar Basir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir sekitar 30 menit mengarungi lautan. sang motoris mulai mengurangi lajunya. Katanya, di lokasi ini biasanya sinyal berlimpah ruah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya membuka laptop yang terpasang di modem. Mencari sinyal, tapi belum juga berhasil. Begitupun pemberhentian selanjutnya. Kami lakukan sebanyak tiga kali. Sementara, Pulau Derawan mulai tampak dari lampu yang menyerupai titik-titik api dalam peta hotspot," jelas Basir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, mereka memutuskan untuk lebih dekat lagi dengan Derawan. "Kami parkir di samping kapal satu keluarga suku Bajo. Mereka menambatkan kapal di luar pantai Derawan yang berjarak sekitar 2 Km dari garis pantai. Sepertinya motoris dan asisten mengenal keluarga itu. Mereka berbicara dalam bahasa yang tidak saya mengerti. Yang pasti bukan bahasa Inggris. Saya menebak, mereka sedang berkomunikasi dalam bahasa Bajo. Saya sempat melihat anak perempuan yang tidur berbalut selimut di atas dek kapal.  &lt;br /&gt;Syukurlah, parkir kali itu tidak sia-sia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, jaringan internet di kawasan itu bisa diandalkan. Berkas sebesar 2 Mega Byte via email dalam waktu kurang dari 60 detik sudah terkirim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat akan mengirim file berikutnya, baterai lamptop mendadak habis. Laut terasa mulai kurang bersahabat. Angin kencang dan ombak besar mulai bergoyang. Kami memutuskan bersandar di Pulau Derawan untuk mengisi baterai dan melanjutkan pengiriman data. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-6681125945810029380?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/6681125945810029380/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=6681125945810029380&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/6681125945810029380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/6681125945810029380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2011/12/speed-boat-kami-dipandu-kapal-jepang.html' title='Speed Boat Kami Dipandu Kapal Jepang'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-NKlPL105NPk/Tt4b6Rkx3ZI/AAAAAAAAApA/9e36dEQq0TA/s72-c/_MG_7720.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-6629203395112682323</id><published>2011-12-05T12:42:00.001+07:00</published><updated>2011-12-05T13:22:41.561+07:00</updated><title type='text'>Susahnya Mendapatkan Sinyal Internet</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-7Ji-szMlMbw/Ttxi0hP9bpI/AAAAAAAAAoQ/7XjIvyxjC1A/s1600/_MG_7881.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-7Ji-szMlMbw/Ttxi0hP9bpI/AAAAAAAAAoQ/7XjIvyxjC1A/s200/_MG_7881.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5682525484252753554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dibalik Keindahan Menjelajah Pulau Maratua (4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAPORAN&lt;br /&gt;-----------------&lt;br /&gt;ACHMAD SUBECHI&lt;br /&gt;M WIKAN&lt;br /&gt;BASIR DAUD&lt;br /&gt;------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RESORT itu pantas dinamakan Paradise. Pemandangan sore dari teras belakang resort terlihat sangat indah. Sejauh mata memandang hanya hamparan laut biru. Pulau Maratua serasa daratan satu-satunya di dunia. Semilir angin dan segelas kopi menemani kami usai diving.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DITENGAH melepas lelah, handphone saya tiba-tiba berbunyi. Dari balik telepon terdengar suara Bintoro Prabowo, Manager of Public Relations Berau Coal.&lt;br /&gt;"Arif (Arif Hadianto, Staff Public Relation PT Berau Coal) kok dari tadi saya hubungi enggak bisa, kenapa?" tanyanya. "Oh... dia habis diving. Nanti kalau ketemu dia saya beritahunya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian Arif mendatangi saya. "Mas Bec, Pak Bintoro minta file PDF Journal IFRC dikirim hari ini, karena peserta sudah mau pulang," tuturnya. "Persoalannya bukannya tidak mau ngirim Rif. Saluran internet di sini ngadat." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, saya minta Basir Daud menghidupkan laptop. Lagi-lagi jaringan internet tak bisa terdeteksi. Berkali-kali ia memindahkan posisi laptop dan modem eksternal, dengan harapan bisa mendapatkan sinyal. Bahkan, sejak dari Pulau Derawan, para wartawan nasional maupun lokal, terpaksa menambahkan lilitan kawat tembaga di tubuh modem eksternal agar bisa mendapatkan sinyal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya jaringan internet di Maratua tidak bisa diakses. Langkah berikutnya adalah mencari warnet di sekitar Pulau Maratua. Seorang pengelola resort mengatakan, sebenarnya di Pulau Maratua ada jaringan internet. Sayangnya, jaringan itu tak berjalan normal dalam beberapa hari terakhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya di Maratua, ada dua sinyal operator selular. Sayangnya, kami hanya membawa modem dari satu jenis operator, sehingga tidak bisa mencoba sinyal operator selular lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fotografer Tribun Kaltim, M Wikan H bersama Arif akhirnya menjelajah Pulau Maratua mencari jaringan internet. Siapa tahu ada warga yang memiliki akses internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, di Maratua ada warnet. warnet itu bantuan dari Departemen Komunikasi dan Informatika untuk mengatasi isolasi informasi di daerah terpencil. Sayangnya, sejak Februari 2011, warnet tidak lagi bisa diakses internet.&lt;br /&gt;                           ***&lt;br /&gt;BASIR Daud lalu menyusul M Wikan di warung internet. Lantaran sedikit melek tekhnologi, Wikan, berusaha membantu warga desa untuk menghidupkan kembali jaringan internet yang ada di warnet.&lt;br /&gt;Bahkan, ia meminta Basir untuk membawa laptopnya. Untuk mencapai warnet, Basir terpaksa jalan kaki. Sebagian besar jalan yang dilewati adalah jalan setapak dengan alas tanah, lebar rata-rata sekitar setengah meter. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan, terlihat 'nyanyian' pohon kelapa yang menjulang tinggi diterpa angin laut. Setelah melewati jalan setapak, lebar jalan utama menuju pemukiman warga cukup lumayan, mencapai 10 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warnet berada tak jauh dari dermaga warga. Di samping warnet, ada tempat bermain billiar. Sampai di Warnet, Basir Daud  melihat Wikan sedikit berkeringat. Ia lalu menunjukkan statistik di layar monitor.&lt;br /&gt;Karena tetap tak bisa connect, Wikan sempat menghubungi petugas IT Tribun Kaltim untuk meminta tips.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan akhir dari serangkaian ujicoba itu adalah pengelola warnet harus menghubungi operator yang menyediakan layanan akses internet.&lt;br /&gt;                  ***&lt;br /&gt;MENJELANG Maghrib, kami kembali ke resort. Lagi-lagi mencoba utak-atik laptop dan modem. Hasilnya tetap sama, nol sinyal. Padahal hari itu ada sejumlah berita penting yang hendak kami kirim ke Balikpapan, selain PDF Journal IFRC. Sambik menikmati makan malam, saya berdiskusi dengan Arif Hadianto, mencari solusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil dari diskusi diputuskan, mengirim berita melalui Pulau Derawan. Itu artinya, kami akan naik speed boat di malam hari menuju Derawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas Bec di sini saja enggak usah ikut. Mas kan enggak bisa berenang. Biar saya dan Basir daud saja yang ke Derawan malam ini," tutur Arif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, kami mencari informasi dari pengelola resort, mengenai keadaan cuaca di malam hari dan menyewa speed boat. Menurut petugas resort, biasanya keadaan gelombang di Maratua pada malam hari cukup ganas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau begitu, Arif tetap memutuskan untuk berangkat, apapun yang terjadi. Selanjutnya, ia menelepon ke beberapa tokoh masyarakat di Pulau Maratua yang bisa membantu menyiapkan speed boat. "Kalau siap, kita berangkat sekarang. Harga Rp 1 juta enggak ada masalah," ujar Arif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama berselang, sebuah speed boat kecil berkapasitas lima orang sudah yang ditunggu merapat di dermaga resort bersama satu motoris dan satu asisten motoris. "Berani berangkat Pak," tanya Arif. Tak terdengar jelas apa jawaban motoris. Sang motoris yang mengaku PNS itu, hnya tersenyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Basir dan Arif terlihat duduk di bangku speed boat. Suasana laut, sudah mulai gelap dengan deburan ombak lumayan kencang. Seakan mengucapkan salam perpisahan, speed boat itu lalu melesat ke tengah samudera. Apa yang terjadi terhadap dua rekan kami? Mengapa mereka tak juga tiba di resort Maratua hingga pagi hari? Ikuti cerita selanjutnya. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-6629203395112682323?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/6629203395112682323/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=6629203395112682323&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/6629203395112682323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/6629203395112682323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2011/12/susahnya-mendapatkan-sinyal-internet.html' title='Susahnya Mendapatkan Sinyal Internet'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-7Ji-szMlMbw/Ttxi0hP9bpI/AAAAAAAAAoQ/7XjIvyxjC1A/s72-c/_MG_7881.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-4350617574069776959</id><published>2011-12-04T12:27:00.002+07:00</published><updated>2011-12-04T12:36:26.353+07:00</updated><title type='text'>Wah... Ada Bulu Babinya Ya?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-m2xcfdabKlY/TtsG0F26EGI/AAAAAAAAAoE/maPEQBBa4HE/s1600/Arif%2BHadianto%2Bdan%2BAmanda%2BValani%2Bbersiap-siap%2Bmenyeburkan%2Bdiri%2Bke%2Blaut%252C%2Bmenikmati%2Bkeindahan%2BPulau%2BMaratua..jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 131px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-m2xcfdabKlY/TtsG0F26EGI/AAAAAAAAAoE/maPEQBBa4HE/s200/Arif%2BHadianto%2Bdan%2BAmanda%2BValani%2Bbersiap-siap%2Bmenyeburkan%2Bdiri%2Bke%2Blaut%252C%2Bmenikmati%2Bkeindahan%2BPulau%2BMaratua..jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5682142846853451874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dibalik Keindahan Menjelajah Pulau Maratua (3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;LAPORAN&lt;br /&gt;-----------------&lt;br /&gt;ACHMAD SUBECHI&lt;br /&gt;M WIKAN&lt;br /&gt;BASIR DAUD&lt;br /&gt;------------------&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PULAU Maratua terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil yang ada di sekitar teluknya, seperti Pulau Sidau, Pulau Semut, Pulau Andongabu, Pulau Sangalan, Pulau Bulingisan, Pulau Nisakoh, Pulau Bakungan, Pulau Nunukan dan gosong pasir serta Pulau Pabahanan. Ada beberapa pulau kecil yang dikelola warga asing, Jerman dan Malaysia. Pulau-pulau itu dilengkapi resort.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MARATUA surga bagi para pecinta keindahan bawah laut. Jika anda mau bertemu dengan ribuan ikan barakuda, atau ingin menikmati perjalanan penyu hijau, di sinilah tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawasan di sekitar pulau ini memiliki 21 titik poin penyelaman, poin Batu Selatan, Coral Garden, Tanjung Keramat, Turtle Traffic, South Face, Gusung Pal, Maratua Reef, Cabbahes Coral, Sponge Reef, Mid Reef, Last Sand, Fuselier Paradise, Hanging Garden, Eel Garden, Fantasi Wall, CCM Paradise, Lighy House, Gorgonzola, East Wall, dan Channel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai beristirahat sejenak, rombongan kami yang terdiri dari M Wikan, Basir Daud dan saya (Tribun Kaltim), Inne Nathalia, Haris Tan (Kompas TV), Amanda Valani, Pops Popovsky (Metro TV), Indra Harsaputra (Jakarta Post) dan Arif Hadianto (Staff Public Relation PT Berau Coal), menemui divemaster bernama Rivi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, kami diajak ke dive store. Di tempat ini kami memilih perlengkapan selam, seperti snorkel, masker, tabung oksigen, hingga regulator dan pakaian selam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu hanya empat rekan yang berniat menyelam. Mereka adalah M Wikan, Amanda Valani, Pops Popovsky dan Arif Hadianto. Lainnya, tidak memiliki keahlian, termasuk saya. Karena itu, kami hanya ikut mengantar mereka menumpang speed boat menuju ke poin penyelaman.Tempat ini menjadi lalintasnya penyu (turtle traffic). Biasanya, penyu-penyu di tersebut menyempatkan diri beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke perairan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah peralatan dan perlengkapan selam kami siapkan, termasuk kamera dalam air, yang akan kami gunakan untuk mengabadikan penyelaman, kami didampingi divemaster  Rivi, pria asal Bajau. Sehari-hari Rivi berada di Maratua Paradise Resort. &lt;br /&gt;                              ***&lt;br /&gt;SIANG itu, Minggu (25/9), Rivi mengajak kami menumpang kapal, khusus mengangkut para penyelam. Perjalanan dari Maratua Paradise Resort menuju ke poin penyelaman, kira-kira memakan waktu 15 menit. &lt;br /&gt;Sebelum menyelam ke laut, Rivi memberikan pengarahan, mulai dari cara memakai peralatan selam hingga penentuan waktu penyelaman di dalam air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masing-masing penyelam memiliki buddy (teman). Kita menyelam di poin turtle traffic. Air agak tenang, ada beberapa isyarat dengan tangan yang harus kita cermati. Bila jari tangan saya membentuk angka nol, semua harus menjawab dengan mengangkat tangan. Artinya, tidak ada masalah. Jangan sekali-kali tidak menjawab, karena itu tanda kesadaran kita,” kata Rivi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Rivi juga mengajarkan isyarat lainnya. Jika tangan seperti membelah horizontal, ini menandakan waktu penyelaman selesai atau penyelam harus naik ke permukaan. Isyarat lainnya posisi tangan hormat dengan cara menunjukan arah, merupakan isyarat arah penyelaman. "Kita akan menyelam selama 45 menit," kata Rivi. Wow... lama amat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu persatu rekan-rekan kami mulai menyelam. Di atas kapal hanya tersisa, motoris, saya (Achmad Subechi), Haris Tan, Inne Nathalia, Basir Daud dan Indra Harsaputra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian suasana menjadi hening dan hanya ditemani deburan ombak. Inne Nathalia yang dari awal ingin melakukan snorkeling (selam permukaan) atau selam dangkal, mulai menceburkan diri ke laur lengkap dengan pelampung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang motoris, tertawa melihat kami para pria yang tak berani terjun ke dalam laut. "Ayuk.. kalau lainnya mau snorkeling silakan. Kami bawa alatnya," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, saya meminta Basir Daud untuk ikut menyebur ke dalam laut. "Kelihatannya dangkal nih Sir... Masak sarjana keluatan tidak bisa berenang," kelakar saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa basa-basi, Basir Daud melepas celana panjangnya. Ia lalu nyemplung ke dalam laut. "Kalau berenang begini saja sih saya bisa Mas," teriaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, Haris Tan dan Indra Harsaputra, ikutan menyeburkan diri setelah mengetahui kedangkalan air laut hanya setinggi dada. Walau begitu, mereka semua mengenakan jaket pelampung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat rekan-rekan lainnya berenang, saya akhirnya berminat juga untuk menikmati pemandangan bawah laut. "Wah ada bulu babinya ya?" kata saya kepada sang motoris. "Ehmm... enggak begitu banyak Mas. Asal jangan ke tengah saja. Di sana bulu babinya lebih banyak," tuturnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya rada trauma dengan bulu babi. Suatu hari ketika saya pergi ke Derawan, rekan saya Priyo Suwarno (Redpel Tribun Kaltim), kedua kakinya terluka saat berenang di sekitar jetty Derawan. Waktu itu ia sangat antusias untuk berenang begitu melihat keindahan Derawan. Saat menceburkan diri itulah, kedua kakinya menginjak bulu babi. Tahu sendiri kan resikonya kalau kena bulu babi? &lt;br /&gt;                             ***&lt;br /&gt;JARUM jam terus bergerak. Rekan-rekan kami yang menyelam belum juga menampakkan batang hidungnya. "Ngapain aja ya mereka di bawah. Kok betah amat," guman saya dalam hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil nongkrong di atas kapal menikmati lautan lepas, kami sempatkan diri untuk bercanda menunggu kehadiran teman-teman. &lt;br /&gt;Tak lama kemudian saya melihat baju renang dari kejauhan. Rupanya, teman-teman sudah berdatangan dan mendekati kapal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah rugi kalau Mas Bec tidak menyelam. Pemandangannya begitu indah," kata Amanda. Sementara M Wikan, sibuk membuka hasil potretannya. Ada beberapa terumbu karang dan ratusan ikan karang di dasar laut yang diabadikannya. Termasuk penyu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata mereka, saat menyelam arus laut  saat itu lumayan kencang. Mereka memergoki enam penyu hijau yang sedang berenang dan ada juga yang lagi 'rebahan' di dasar laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa tadi menemukan hiu?" "Wah kalau hiunya dia ada di poin satunya. Di sana...," kata sang motoris sambil menunjukan titik lokasinya. Ngeri ah... Selanjutnya kapal khusus menyelam merapat di dermaga Maratua Paradise Resort. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-4350617574069776959?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/4350617574069776959/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=4350617574069776959&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/4350617574069776959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/4350617574069776959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2011/12/wah-ada-bulu-babinya-ya.html' title='Wah... Ada Bulu Babinya Ya?'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-m2xcfdabKlY/TtsG0F26EGI/AAAAAAAAAoE/maPEQBBa4HE/s72-c/Arif%2BHadianto%2Bdan%2BAmanda%2BValani%2Bbersiap-siap%2Bmenyeburkan%2Bdiri%2Bke%2Blaut%252C%2Bmenikmati%2Bkeindahan%2BPulau%2BMaratua..jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-8522126657432479119</id><published>2011-12-04T12:23:00.001+07:00</published><updated>2011-12-04T12:26:43.520+07:00</updated><title type='text'>Kakap Putih Terlihat Menari-nari</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-6W38HCr4dmQ/TtsEipSSmzI/AAAAAAAAAn4/pM2j5QJMeXs/s1600/maratua.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 132px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-6W38HCr4dmQ/TtsEipSSmzI/AAAAAAAAAn4/pM2j5QJMeXs/s200/maratua.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5682140348102646578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dibalik Keindahan Menjelajah Pulau Maratua (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JOURNAL IFRC yang hendak kami kirim via email, rencanannya akan dibagi-bagikan kepada peserta yang hendak kembali ke kampung halamannya. Saat hendak dikirim, astaga aliran listrik di Pulau Derawan mati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"KALAU begitu, nanti kita kirim dari Pulau Maratua saja," jelas Arif Hadianto, Staff Public Relation PT Berau Coal. "Apa ada jaringan internet di pulau itu?" tanya saya. "Seingat saya ada kok. Bahkan di sana ada warnet segala," balas Arif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, ada beberapa pulau yang akan kami datangi. Pulau-pulau itu bertebaran di sekitar Pulau Maratua. Diantaranya, Pulau Kakaban dan Pulau Sangalaki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pukul 06.00 Wita, sinar matahari pagi mulai tertutup oleh awan putih bercampur hitam. Angin berhembus melewati celah-celah pohon nyiur di tepi pantai Pulau Derawan. Berbagai jenis ikan karang berenang dengan lincah ditengah beningnya air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombongan kami, M Wikan, Basir Daud dan saya (Tribun Kaltim), Inne Nathalia, Haris Tan (Kompas TV), Amanda Valani, Pops Popovsky (Metro TV), serta Indra Harsaputra (Jakarta Post), mulai menyiapkan perbekalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga orang penduduk setempat membawa gerobak kayu, mangangkut barang-barang milik kami melewati jembatan Kiani yang panjangnya skitar 70 meter. Di jetty inisebuah speed boat yang kami sewa sudah bersandar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberangkatan kami, sempat sedikit terhambat dengan datangnya seorang pengurus cottage. Pria itu menemui kami dan menanyakan kaki katak yang katanya sempat kami pinjam. "Mana kaki kataknya kok belum dikembalikan?" tanyanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapat pertanyaan itu, rombongan kami agak kaget karena kami merasa tidak pernah meminjam. Daripada berkepanjangan, Arif, pemandi wisata kami dari PT Berau Coal, tanpa banyak bicara menyerahkan kaki katak miliknya. "Ini harganya lebih mahal. Ambil saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai menyelesaikan persoalan 'kecil', kami semua naik speed boat menuju Pulau Maratua. Pulau Maratua merupakan salah satu pulau di kawasan kepulauan Derawan yang letaknya berada di Kabupaten Berau, Propinsi Kalimantan Timur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulau Maratua itu adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di lautan Sulawesi dan berbatasan dengan negara Malaysia. Pulau berbentuk kecil panjang dan lengkung tajam, seperti mata pancing, selama ini menjadi andalan pariwisata Kaltim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Speedboat yang kekuatan mesinnya mencapai 200 PK, kapasitasnya 13 orang. Waktu tempuhnya dari Pulau Derawan menuju Pulau Maratua sekitar 45 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jika ombak dan angin kencang, maka perjalanan menuju Pulau Maratua bisa ditempuh lebih dari satu jam. Speedboat jenis Kapal motor tempel memiliki panjang sekitar lima meter, melaju kencang. &lt;br /&gt;Tepat pukul 09.00 Wita, kapal motor tempel yang kami tumpangi meninggalkan Pulau Derawan. Barang-barang yang kami bawa sebagian besar adalah kamera. Semuanya kami letakkan di dalam speed boat dekat kursi motoris. Pengamatan saya, barang paling banyak adalah milik wartawan Metro TV. Rupanya, mereka membawa kamera bawah laut, lengkap dengan peralatan diving.&lt;br /&gt;                          ***&lt;br /&gt;PAGI itu air laut terlihat sangat tenang dan hanya percikan ombak kecil dari kapal yang kami rasakan. Penghuni lautan masih dapat terlihat, hingga kami memasuki perairan dalam antara Pulau Derawan dan Pulau Maratua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat speed yang kami tumpangi memasuki perairan kawasan Pulau Maratua, warna air laut berbeda dengan air laut yang berada di pulau Derawan. Penyebabnya, ternyata Pulau Maratua merupakan pulau karang, sehingga memiliki laut dangkal yang pendek dibanding dengan Pulau Derawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah perjalanan, Arif dan Amanda, terlihat naik di atas speed boad di tengah hajaran ombak menikmati indahnya alam semesta. Antara menyenangkan dan membahayakan, pikir teman-teman. Untungnya semua penumpang mengenakan jaket pelampung (life jacket).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mulai baru merasakan hentakan ombak, saat speed boat mulai mendekati Pulau Maratua. Meskipun kami dapat melihat pulau itu dari kejauhan, namun membutuhkan waktu cukup lama untuk dapat merapat ke pulau nan menawan dan menjanjikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita harus memutar untuk dapat merapat di Maratua Paradise Resort, karena laut masih surut. Coba lihat, sekitar resort masih terlihat karang, dan kita harus memutar masuk melalui sebelah kanan resort yang tidak ada karangnya,” kata sang motoris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hantaman ombak yang mulai membesar juga dirasakan dua rekan kami yang nongkrong di atap speed boat. Baju mereka basah kuyup terkena air laut.&lt;br /&gt;                            ***&lt;br /&gt;SEMAKIN mendekati Maratua, ombak makin ganas. Akhirnya, sang motoris berhasil merapatkan speednya.Kami sangat terpesona, manakala untuk kali pertama menginjakan kaki di dermaga Maratua Paradise Resort. &lt;br /&gt;Resort yang dikelola warga Malaysia, memiliki lebih dari 10 kamar dan letaknya di atas air. Sedang lima resort lainnya berada di tepi pantai. Semua dindingnya terbuat dari kayu yang dilapisi cat pelindung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami sering kemari, karena lokasi resort ini sangat indah dan untuk menuju kepulau-pulau lain lebih dekat,” ungkap Arif Hadianto.&lt;br /&gt;Bukan hanya resort, pasir putih dan beningnya air laut di sekitar resort terasa menyejukan hati. Sangat indah dan menawan. Bahkan, beberapa rekan detik itu juga ingin menyelam dan menari-nari bersama ikan-ikan cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengeluarkan barang-barang dari kapal, kami menaiki tangga resort yang semuanya terbuat dari kayu, kami disambut dengan senyum ramah para karyawan resort yang semuanya merupakan warga Pulau Maratua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima kamar kami pesan, tarif satu kamar untuk satu malam dari Rp 500 hingga Rp 800 ribu. Selain menawarkan pemandangan pantai, Maratua Paradise Resort, juga menawarkan pemandangan sunset yang dapat dinikmati dari kamar. "Murah kan Mas harganya. Angka itu sudah termasuk makan tiga kali," tutur Arif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kamar memiliki fasilitas seperti kamar mandi lengkap dengan air panas, air conditioner (AC), balkon untuk santai dan lemari es. &lt;br /&gt;Bahkan, dari dalam kamar mandi, kita bisa menikmati pemandangan laut yang luar biasa mempesonanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun untuk hiburan seperti televisi pihak resort tidak menyediakan. Sedangkan kuliner yang disuguhkan kepada para tamu, pengelola resort memberikan banyak pilihan, seperti makanan Eropa dan makanan laut. “Untuk makanan laut kami mendapatkannya dari penduduk di Pulau Maratua. Mereka rata-rata nelayan dan selalu menjual hasil lautnya ke resort kami,” ungkap salah satu karyawan resort.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah resort, kami melihat gerombolan ikan kakap putih menari-nari dan saling berkejaran. Usai membawa barang-barang ke dalam kamar resort, kami kembali mempersiapkan diri menikmati indahnya terumbu karang di kawasan Maratua Resort. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami harus beristirahat sejenak, menikmati makanan yang disajikan, sambil mempersiapkan diri untuk melakukan diving dan snorkeling di perairan tersebut. (ACHMAD SUBECHI)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-8522126657432479119?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/8522126657432479119/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=8522126657432479119&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/8522126657432479119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/8522126657432479119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2011/12/kakap-putih-terlihat-menari-nari.html' title='Kakap Putih Terlihat Menari-nari'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-6W38HCr4dmQ/TtsEipSSmzI/AAAAAAAAAn4/pM2j5QJMeXs/s72-c/maratua.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-6444762298054945955</id><published>2011-12-03T15:11:00.004+07:00</published><updated>2011-12-03T15:19:23.347+07:00</updated><title type='text'>Ada 'Umi Hotaru' di Derawan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-1iCFtpgnW_Y/TtnalpFFu-I/AAAAAAAAAns/IsLO2hVKUoA/s1600/wikan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-1iCFtpgnW_Y/TtnalpFFu-I/AAAAAAAAAns/IsLO2hVKUoA/s200/wikan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5681812745121807330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dibalik Keindahan Menjelajah Pulau Maratua (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;EVENT Indonesian Fire and Rescue Challenge (IFRC) yang diselenggarakan 16-27 September 2011 di Berau, telah berakhir. Banyak catatan menarik selama mengikuti kegiatan IFRC. Diantaranya adalah keindahan Pulau Derawan dan Maratua yang akan diturunkan secara bersambung mulai hari ini. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MALAM itu adalah hari terakhir IFRC digelar di Pulau Derawan. Sebagai tuan rumah event nasional kali ini adalah PT Berau Coal. Selesai acara penutupan, rombongan wartawan nasional dan lokal, membuat acara bakar-bakar ikan. Acara serupa sebelumnya juga kami gelar di depan cottege.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari terakhir, api unggun sengaja kami buat. Albertus Prayudha, wartawan Trans 7 paling getol menyalakan api bersama Sofyan dan Agustinus Bayuadji Ranuatmadja (Banda Indonesia Balikpapan). Saat api unggun mulai membesar, tiba-tiba Albertus berteriak. "Ada tukik (anak penyu)." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sontak beberapa teman wartawan dan anggota relawan Banda Indonesia Balikpapan yang lagi nyantai di teras penginapan berlarian. Mereka adalah Agustinus Bayuadji Ranuatmadja, Sofyan (Banda Indonesia), Muhammad Hilmansyah (Metro TV), Albertus Prayudha (Trans 7) dan Jasmin (Trans TV), Ilo (Kompas), M Wikan dan Basir Daud (Tribun Kaltim), Inne Nathalia, Haris Tan (Kompas TV), Amanda Valani, Pops Popovsky (Metro TV), dan  Indra Harsaputra (Jakarta Post).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini tidak hanya satu tukik. Ada beberapa ekor tukik bermunculan dari balik pasir. Rupanya, tukik-tukik itu keluar setelah melihat nyala api. Malam itu juga, kami semua secara 'ritual' melepas tukik dimotori oleh Ilo, wartawan Kompas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mari kita lepas tukik ini ke laut," tuturnya. Sebelum dilepas, kami sempat berfoto bareng. Ada lima tukik yang dikembalikan lagi ke habitatnya. Sesaat kemudian, tukik-tukik lainnya bermunculan. Lagi-lagi kami mengembalikan ke habitatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan di tempat terang melepaskan tukiknya. Dia pasti kembali lagi mendekati api unggun," tutur Arif Hadianto, Staff Public Relation, PT Berau Coal sambil berjalan menuju ke pesisir pantai yang agak gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai melepas tukik-tukik itu, kami sedikit terperangah dengan kunang-kunang laut. "Binatang apa ya ini? Aneh... kok nyala," tanya Arif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Binatang itu terlalu kecil dan susah diidentifikasi bentuknya karena datang bersama ombak lalu menyelinap diantara butiran pasir. &lt;br /&gt;Kami sempat menangkapnya. Sayangnya, sulit membedakan mana yang pasir dan mana kunang-kunang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisme dasar laut itu akan menyala ketika kita siram dengan air laut. Konon, binatang ini hidup di sekitar laut jepang dan doyan begadang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Jepang memanggilnya 'umi hotaru' atau sea-fireflies. Bentuknya, mirip pasir dan rada pemalu karena kalau siang suka ngumpet dibalik rumput laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunang-kunang marina ini punya kehidupan yang unik. Siklus hidupnya berkisar antara enam bulan sampai satu tahun. Kunang-kunang laut termasuk keluarga udang-udangan atau crustacea. Jenis yang dapat mengeluarkan cahaya adalah vargula hilgendorfii dan cypridina hilgendorfii.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena penasaran ingin melihat bentuknya, masing-masing rekan mengambil sejumput pasir, diteliti satu persatu. Aiiii... lagi-lagi binatang itu susah dilihat dengan mata telanjang. Terlalu kecil...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                              ***                &lt;br /&gt;PULAU Maratua. Nama pulau ini tak begitu asing bagi warga Kalimantan Timur. Keindahan alam dan keramahan penduduknya, membuat kami enggan beranjak meninggalkan pulau yang telah menanamkan rindu. Mengapa Maratua mampu membuai rindu para wisatawan? Benarkah Maratua menjanjikan sejuta pesona? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu speedboat yang akan membawa kami berlayar terlihat bersandar di salah satu jetty Pulau Derawan. "Teman-teman speedboat sudah siap. Kita akan segera berangkat ke Pulau Maratua," kata Arif Hadianto, Staff Public Relation, PT Berau Coal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapat arahan itu, rombongan kami, M Wikan, Basir Daud (Tribun Kaltim), Inne Nathalia, Haris Tan (Kompas TV), Amanda Valani, Pops Popovsky (Metro TV), dan  Indra Harsaputra (Jakarta Post), segera menyiapkan semua perbekalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun juga melakukan hal yang sama. Sebuah personal computer (PC) yang sengaja kami bawa dari Balikpapan untuk mendesain halaman khusus liputan Indonesian Fire and Resque Challenge (IFRC) ke 14, ikut kami kemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum meninggalkan cottage, kami berniat mengirimkan satu file Journal IFRC yang masih tersisa dalam bentuk PDF ke teman-teman yang ada di PT Berau Coal untuk difoto copy. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Journal IFRC itu rencanannya akan dibagi-bagikan kepada peserta yang hendak kembali ke kampung halamannya. Saat hendak dikirim melalui email, astaga aliran listrik di Pulau Derawan mati. "Kalau begitu, nanti kita kirim dari Pulau Maratua saja," jelas Arif Hadianto, Staff Public Relation PT Berau Coal. "Apa ada jaringan internet di pulau itu?" tanya saya. "Seingat saya ada kok. Bahkan di sana ada warnet segala," balas Arif. (ACHMAD SUBECHI)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-6444762298054945955?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/6444762298054945955/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=6444762298054945955&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/6444762298054945955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/6444762298054945955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2011/12/ada-umi-hotaru-di-derawan.html' title='Ada &apos;Umi Hotaru&apos; di Derawan'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-1iCFtpgnW_Y/TtnalpFFu-I/AAAAAAAAAns/IsLO2hVKUoA/s72-c/wikan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-8883059378942298033</id><published>2011-10-03T15:41:00.000+07:00</published><updated>2011-10-03T15:42:59.361+07:00</updated><title type='text'>Citra Politisi</title><content type='html'>MENGEJUTKAN atau biasa-biasa saja? Atau jangan-jangan hasil riset Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang menyatakan citra positif politisi di mata masyarakat hancur, merosot drastis, tak perlu kita sikapi? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau apalagi... Marah? Mana mungkin, toh kita hanya rakyat biasa. Paling kita semua hanya ngedumel alias mengelus dada. Sikap paling enteng adalah emang gue pikirin (egp). Mengapa? Bukankah rakyat telah memilih wakil rakyat secara demokratis melalui Pemilu, sehingga mereka bisa mendapatkan kursi di Senayan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, ketika tokoh yang mereka pilih berperilaku atau bersikap yang tidak baik, apakah konstituen bisa meminta pertanggungjawaban kepada mereka? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada temuan LSI. Riset adalah riset. Riset sebagai 'alat' ukur untuk 'membaca' dan membuktikan persepsi-persepi yang tengah berkembang di masyarakat mengenai sikap politisi kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut LSI, selama enam tahun sejak survei yang sama dilangsungkan pada tahun 2005, ditemukan penurunan hingga mencapai angka 21 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LSI mencatat tahun 2011, hanya 23,4 persen yang menganggap positif citra politisi. Sisanya, sebanyak 51,3 persen menyatakan buruk atau sangat buruk dan 25,3 persen memilih tidak tahu atau tidak menjawab. Tahun 2005, 44,2 persen responden menilai kerja politisi masih relatif baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Banyak responden menyatakan politisi saat ini lebih buruk dibandingkan politisi era Orde Baru," ujar peneliti LSI, Ardian Sopa, saat menggelar konferensi pers 'Badan Anggaran DPR dan Memburuknya Citra Politisi di Mata Publik', Minggu (2/10).&lt;br /&gt;Kenapa menurun? Apakah ini terkait dengan perilaku para politisi kita di DPR? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:Salah satu penurunan citra politisi adalah munculnya pemain baru yang powerfull dalam jaringan mafia korupsi yakni oknum Banggar. Diyakini, oknum di DPR ini menjadi hulu dari persekongkolan politisi tingkat tinggi untuk berbuat kejahatan,“ kata Ardian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ardian memberikan contoh, Seperti kejahatan korupsi di Kemenpora dan Kemenaketrans. "Jaringan korupsi bekerja lintas partai di Banggar, ada oknum di kementrian, ada broker politik, pengusaha dan kepala daerah. Ini orkestra persekongkolan korupsi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngeri amat.... Jika asumsi itu benar, betapa menyedihkannya nasib negeri ini. Anggota DPR terhormat, justru telah menciptakan kegelisahan, ketidakpastian dan kegamangan di masyarakat. Lalu rakyat harus percaya kepada siapa ketika sebuah lembaga negara (DPR) sudah tak lagi bisa dipercaya? Lalu dimana kita mempertanyakan ketidakadilan dan kesejahteraan yang tak juga bisa kita petik? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia, bukan negeri yang tak memiliki masa depan. Indonesia adalah aset dunia. Negeri ini akan menjadi bangsa yang besar kalau para pemimpinnya bertindak adil, visioner, arif, bijaksana, punya integritas, merakyat, cerdas dan 'indera' hatinya selalu memancarkan cahaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya yang mampu menenteramkan hati rakyatnya, cahaya yang bisa mencerdaskan bangsanya dan cahaya yang tak pernah diwarnai dengan janji-janji belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua hanya bisa menitipkan dan mempercayakan negeri ini kepada mereka, termasuk menitipkan jeritan hati rakyat yang merindukan kemakmuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa ini terlalu mahal dipertaruhkan hanya untuk kepentingan sempit semata. Bangsa ini harus tetap ada, bangsa ini harus mampu memerdekakan kemiskinan, kebodohan, kesengsaraan, ketidakadilan, kesenjangan, kerapuhan jiwa dan segala tetek bengeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kita tak akan sembrono menitipkan bangsa ini kepada pemimpin-pemimpin yang pragmatis, oportunis, tak berintegritas dan kerdil dalam berpikir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya terlalu mahal untuk memberikan kepercayaan kepada mereka, karena ada ratusan juta anak-anak bangsa yang derajatnya harus kita angkat demi masa depan Indonesia. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-8883059378942298033?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/8883059378942298033/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=8883059378942298033&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/8883059378942298033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/8883059378942298033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2011/10/citra-politisi.html' title='Citra Politisi'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-4048104457554371471</id><published>2011-10-01T11:24:00.004+07:00</published><updated>2011-10-01T11:34:23.562+07:00</updated><title type='text'>Maratua Pulau tak Terlupakan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-oYp6Pe49Jro/ToaYRdwKpzI/AAAAAAAAAm4/3KVjuLCZNBs/s1600/_MG_7788.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 191px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-oYp6Pe49Jro/ToaYRdwKpzI/AAAAAAAAAm4/3KVjuLCZNBs/s400/_MG_7788.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5658377407649457970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-7UD60JCLB30/ToaXthrwkfI/AAAAAAAAAmw/SJTkX9__NhI/s1600/_MG_7738.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 134px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-7UD60JCLB30/ToaXthrwkfI/AAAAAAAAAmw/SJTkX9__NhI/s200/_MG_7738.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5658376790229422578" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PULAU Maratua. Nama pulau ini tak begitu asing bagi warga Kalimantan Timur. Keindahan alam dan keramahan penduduknya, membuat kami enggan beranjak meninggalkan pulau yang telah menanamkan rindu. Mengapa Maratua mampu membuai rindu para wisatawan? Benarkah Maratua menjanjikan sejuta pesona?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAGI itu speedboat yang akan membawa kami berlayar terlihat bersandar di salah satu jetty Pulau Derawan. "Teman-teman speedboat sudah siap. Kita akan segera berangkat ke Pulau Maratua," kata Arif Hadianto, Staff Public Relation, PT Berau Coal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencananya, ada beberapa pulau yang akan kami datangi. Pulau-pulau itu bertebaran di sekitar Pulau Maratua. Diantaranya, Pulau Kakaban dan Pulau Sangalaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sembilan orang yang ikut dalam rombongan kami. Mereka adalah wartawan Tribun Kaltim, Metro TV dan Kompas TV. Setelah menaikkan semua barang bawaan kami, speedboat satu mesin, mulai bergerak menuju laut lepas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu cuaca benar-benar cerah. Lautpun terlihat tenang. Sepanjang perjalanan, kami sempat melihat beberapa pulau yang kelihatan hijau. Termasuk Pulau Maratua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kejauhan pulau itu terlihat memanjang dengan nyiur melambai-lambai. Koordinat titik terluar Maratua 20 15’ 12? LU, 1180 38’ 41' BT. Pulau ini berbatasan dengan negara tetangga Malaysia dan Filipina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa alternatif untuk menuju ke tempat ini. Pertama, para wisatawan yang sudah berada di Pulau Derawan, cukup menyewa speedboat menuju Pulau Maratua. Tarifnya, berkisar antara Rp 700 ribu hingga Rp 1 juta (PP).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Alternatif kedua, dari Bandara Kalimarau, Berau, para wisatawan disarankan lewat jalan darat menuju Tanjung Batu. Perjalanannya memakan waktu dua jam. Di Tanjung Batu, tersedia speedboat yang akan membawa wisatawan menuju Maratua. Waktu tempuhnya berkisar satu setengah  jam. &lt;br /&gt;                                ***&lt;br /&gt;BEBERAPA menit menjelang merapat ke Pulau Maratua, speedboat yang kami tumpangi mulai dihajar ombak. Bahkan, beberapa rekan kami basah kuyup. Dari kejauhan terlihat rumah-rumah kayu yang menjorok ke pantai berwarna coklat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum berlabuh di jetty, motoris speedboat, lebih dulu berputar ke arah kanan, karena di depan resort ada gundukan karang yang memanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di Maratua, kami mendadak terkejut. Rumah-rumah berwarna coklat itu ternyata Maratua Paradise Resort. Kabarnya, resort ini dikelola warga Malaysia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menginap di resort yang dinding-dindingnya terbuat dari kayu, per orang dikenakan biaya antara Rp 700 ribu hingga Rp 900 ribu, lengkap dengan makan sing, pagi dan malam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu resort dilengkapi dengan kamar mandi dengan fasilitas long bath up, lantai dan dinding keramik serta shower. Uniknya, jendela kamar mandi yang letaknya di atas long bath up, sengaja dibuat menghadap ke laut. Jadi wisatawan sambil mandi, bisa melihat pesona laut lepas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di resort ini, juga disediakan ruang tamu yang menyatu dengan tempat tidur, dilengkapi dengan kulkas, AC dan kipas angin gantung. Sedang di bagian belakang, pintunya dibuat lebar dan disediakan tempat santai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tempat inilah, para wisawatan bisa menyaksikan penyu dan berbagai jenis ikan yang menari-nari di sekitar resort. Apalagi air lautnya terlihat bening hingga karang lautnya terlihat. Menjelang sore, kita juga bisa melihat indahnya sunset menebarkan sejuta warna menghiasai cakrawala. &lt;br /&gt;                                     ***&lt;br /&gt;BERWISATA ke Pulau Maratua, tak akan berkesan jika tak menceburkan diri ke laut walau hanya sekedar snorkeling (selam permukaan) atau selam dangkal (skin diving). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi wisatawan yang tak membawa peralatan, Maratua Paradise Resort menyiapkan berbagai macam peralatan, berikut master scuba diver. Diantaranya, masker selam, snorkel, kaki katak (sirip selam) dan pelampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan melakukan snorkeling, wisatawan bisa melihat pemandangan bawah air sambil berenang dengan wajah menghadap ke permukaan air dan bernapas melalui snorkel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang sudah jago menyelam (scuba diving), wisatawan bisa menyewa tabung gas, masker oksigen dan kaki katak serta baju selam. "Untuk tiga kali penyelaman kita hanya dikenakan biaya sekitar Rp 700 ribu, berikut peralatannya," kata Arif Hadianto yang kerap melakukan penyelaman di Pulau Maratua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya fasilitas menyelam saja yang akan diperoleh wisatawan. Master Scuba Diver akan mengangkut para penyelam menuju titik-titik yang sudah ditentukan dengan menggunakan speedboat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat kedalaman menyelamnya pun tergantung keahlian yang dimiliki para wisatawan. Bagi mereka yang sudah terbiasa, akan dibawa ke dasar laut yang memiliki kedalaman antara 10-20 meter. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menyelam, mereka lebih dulu mendapatkan pengarahan di atas speedboat. "Kita akan menyelam selama 45 menit. Masing-masing akan kita dampingi," kata seorang master scuba diver kepada rombongan kami yang hendak menyelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan bagi mereka yang tak punya ilmu menyelam, cukup melakukan snorkeling di kedalaman 1-2 meter, sambil melihat keindahan terumbu karang berikut berbagai jenis ikan dan penyu. &lt;br /&gt;                                    ***&lt;br /&gt;PULAU Maratua ‘surga’ bagi para penyelam. Keindahan lautnya menjadi daya tarik tersendiri. Bahkan Pangeran William pun pernah kepincut. Anak tertua Pangeran Charles dari Kerajaan Inggris beberapa waktu lalu pernah menginap di pulau yang indah ini selama dua minggu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Suami Kate Middleton demen dengan dunia bawah laut. Dan di pulau ini anda cukup menyelam dua meter, lalu akan terlihat keindahan yang benar-benar mempesona, mulai dari terumbu karangnya hingga berbagai jenis ikan, penyu dan ubur-ubur air payau. Jika beruntung, wisatawan akan mendapati hiu yang biasa mangkal tak jauh dari resort.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika malam tiba, nyanyian ombak yang ada di bawah kolong-kolong tempat tidur begitu menyentuh kalbu. (achmad subechi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEINDAHAN MARATUA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Maratua termasuk pulau terluar di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Pulau ini menjadi tujuan wisata terkenal dengan objek wisata bahari. Wisatawan mancanegara sering berkunjung ke pulau ini untuk snorkeling maupun diving. Pulau ini dikenal dengan sebutan Paradise Island, pulau surga bagi para diver dan pemburu wisata kelautan&lt;br /&gt;* Selama ini Pulau Maratua menjadi 'surga' para penyu, terutama penyu hijau&lt;br /&gt;* Pulaunya berbentuk huruf U&lt;br /&gt;* Di tengah pulau Maratua, terdapat 14 pulau-pulau kecil. Ada dua pulau yang sudah dikelola oleh warga negara Jerman dan Malaysia&lt;br /&gt;* Keragaman ekosistem bawah laut menjadi salah satu daya tarik wisatawan, baik domestik maupun mancanegara&lt;br /&gt;* Memiliki keragaman terumbu karang tertinggi ketiga di dunia setelah Raja Ampat dan Salamon&lt;br /&gt;* Memiliki gugusan gunung dan hamparan hutan&lt;br /&gt;* Anda dapat menikmati padang lamun, hutan bakau, dan aneka satwa air seperti penyu hijau, penyu sisik, paus, lumba-lumba, kima, ketam kelapa, duyung, cumi-cumi (cuttlefish), lobster, ikan pipa (ghostpipe fish), gurita (bluering octopus), nudibranchs, kuda laut (seahorses), belut pita (ribbon eels) danikan skorpion (scorpionfishes) dan ikan baracuda&lt;br /&gt;* Maratua terdiri dari empat kampung, yaitu Kampung Tanjung Harapan Bohebukut, Teluk Alulu, Bohesilian dan Payung Payung. Suku yang bermukim di Maratua mayoritas suku Bajo, yang kebanyakan bermata pencaharian sebagai nelayan&lt;br /&gt;* Di pulau seluas 2.282,46 hektare hanya ada kendaraan roda dua saja sebagai alat transportasi warga. Untuk berpergian dari kampung satu ke kampung lain, warga harus lebih banyak melalui jalan setapak dengan sepeda motor. (bec)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JALUR&lt;br /&gt;* Dari Balikpapan, wisatawan naik pesawat menuju Kabupaten Berau&lt;br /&gt;* Dari Bandara Kalimarau Berau, wisatawan naik angkutan darat menuju Tanjung Batu. Memakan waktu sekitar dua jam&lt;br /&gt;* Dari Tanjung Batu, naik speedboat menuju Pulau Maratua. Butuh waktu sekitar 1,5 jam. Tergantung cuacanya (bec)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PULAU LAIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAK jauh dari Pulau Maratua, wistawan bisa melakukan kunjungan ke pulau lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Pulau Kakaban, pulau nan eksotik. Di pulau ini ada laguna yang berubah menjadi danau, karena aksesnya ‘tertutup’ oleh atol sempurna (yang konon hanya ada dua di dunia)&lt;br /&gt;* Ada jelly fish atau Ubur-ubur, yang tidak menyengat. Spesies ini hanya ada dua di dunia, satu spesies di Kakaban dan satu spesies lagi di luar negeri&lt;br /&gt;* Selain itu ada berbagai jenis coral dan ikan yang langka. Wisatawan diminta berhati-hati berenang di kawasan ini. Mengapa? Ada palung laut. Jaraknya sekitar 1 jam dari Maratua, 1,5 jam dari Derawan&lt;br /&gt;* Pulau Sanglaki. Pulau ini menjadi tempat penangkaran penyu. Selain penyu, diperairan ini ada juga ikan pari/manta, terkadang serombongan manta muncul dipermukaan (bec)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-4048104457554371471?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/4048104457554371471/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=4048104457554371471&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/4048104457554371471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/4048104457554371471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2011/10/maratua-pulau-tak-terlupakan.html' title='Maratua Pulau tak Terlupakan'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-oYp6Pe49Jro/ToaYRdwKpzI/AAAAAAAAAm4/3KVjuLCZNBs/s72-c/_MG_7788.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-9065045722716741695</id><published>2011-08-06T19:17:00.002+07:00</published><updated>2011-08-06T21:15:17.558+07:00</updated><title type='text'>"Biarlah Aku Disini...."</title><content type='html'>Heldy Cinta Terakhir Bung Karno (9- habis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERJALANAN manusia tanpa bisa diduga. Heldy  yang tadinya bergelimang harta pemberian dari  Bung Karno, akhirnya harus rela melepaskan satu  persatu harta pemberian sang oratur ulung itu.  Benarkah anaknya menikah dengan cucu Presiden  Soeharto? Mari kita petik makna dibalik cerita  kehidupan Heldy Djafar, wanita asal Tenggarong  yang menjadi cinta terakhir Bung Karno. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ZAMAN telah berubah. Bung Karno yang dulu  kesohor sebagai tokoh Proklamator sekaligus  orator ulung, akhirnya dikucilkan. ehari- harinya Bung Karno menghabiskan waktu di Wisma  Yaso. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya putra-putrinya dan istrinya yang boleh  menjenguk. Diantaranya istri Bung Karno yang  boleh menemui Soekarno adalah Hartini dan Ratna  Sari Dewi. Sedangkan Heldy Djafar, istri  terakhir Bung Karno, agak diperketat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, Heldy tak lagi bisa berkomunikasi  dengan Bung Karno.&lt;br /&gt;Sementara Gusti Suriansyah Noor, pria yang  telah menyatakan cintanya kepada Heldy, masih  saja kerap berkunjung ke rumah wanita yang asal  Tenggarong, Kutai Kartanegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heldy pun bertanya kepada ibunya soal  kedekatannya dengan Gusti. Hj Hamiah, ibu  kandung heldy sempat menasehati putri  bungsunya.  "Paling enak yang memiliki suami  sendiri, bukan suami yang punya banyak orang.  Awak (kamu) bisa memiliki seutuhnya," kata sang  ibu.&lt;br /&gt;Mendengar nasehat dari ibunya, pintu hati Heldy  mulai terbuka. Ia ingin menikah kembali dan  membangun keluarga seutuhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya tanggal 19 Juni 1968, saat usia Heldy  berusia 21 tahun, ia dipersunting Gusti  Suriansyah Noor. Acara pernikahan diadakan di  Gedung Wanita, Jalan Diponegro, Jakarta Pusat.  Hadir dalam acara tersebut, Idham Chalid,  Johanes Leimena, Rahmi Hatta, Lasmidjah Hardi,  Kasimo, Sidarto Danusubroto dan istrinya,  Mangil Martowidjojo dan sanak keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai menikah, Gusti diangkat menjadi pimpinan  proyek di kalimantan Selatan. Heldy lalu  diajaknya ke Kalsel. Setahun kemudian, mereka  kembali ke Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jakarta, keduanya menempati rumah dinas di  kawasan Tomang. Sedangkan rumah Heldy di Jalan  Cibatu, ia kontrakan ke orang lain. &lt;br /&gt;Bagaimana dengan mobil pemberian Bung Karno?  Rupanya pada tahun 1969, mobil Mercedez Benz  itu ditarik. Bung karno masih saja mengirimkan  uang melalui ajudannya kepada Heldy untuk  membeli mobil pengganti. Oleh Heldy uang itu  dibelikan Fiat.&lt;br /&gt;                                ***&lt;br /&gt;SUATU malam Heldy bermimpi. Kamar mandinya  terdapat gambar-gambar Bung Karno. Dan tiba- tiba gambar-gambar itu berjatuhan satu demi  satu ke lantai, lalu rontoh terpecah belah.  Heldy menjerit. Saat itu ia masih mengandung  anak kedua bernama Maya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, Minggu 21 Juni 1970, perasaan  Heldy terasa tidak enak. Ia mulai cemas dengan  keadaan Bung Karno. Kemudian ia memutar radio. Ternyata, Sang  Proklamator sekaligus mantan suamina itu telah  meninggal dunia. Ia lalu menangis seorang diri  di ruang tamu. Suaminya menawarkan kepada Heldy  untuk melayat ke Wisma Yaso. Namun, atas  pertimbangan kondisi tubuhnya yang sedang  mengandung, maka niat itu diurungkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 22 Juni 1970, jenazah Bung Karno  dimakamkan di Blitar, di sebelah makam ibunda  tercintanya. Heldy sendiri baru ke makam Bung Karno sekitar  tahun 1992. ketika itu, ia bersama rombongan  Dharma wanita PU, melakukan kunjungan ke Jawa  Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tiba di pemakaman, Heldy terasa berat  untuk melangkah. Ia dekati batu nisan Bug  Karno, lalu batu besar di atas pusara Bung  Karno itu diciumnya. Seketika itu juga Heldy  tak kuasana menahan tangisnya. Dua puluh tahun  lebih ia tak bertemu Bung Karno. Bahkan, ia tak  bisa melihat wajah terakhir mantan suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas maafkan kesalahan saya. Mas yang tenang  disini, saya baik-baik saja. Terima kasih untuk  semua kenangan yang pernah Mas berikan kepada  saya, kenangan yang begitu manis, kenangan  indah dalam hidup saya. Terima kasih Mas..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu setelah ke makam Bung Karno, Heldy  lagi-lagi bermimpi. Kali ini ia mimpi  menghadiri pesta yang meriah. Diantara tamu  yang hadir di pesta itu, Heldy melihat sosok  Bung Karno berpakaian serba hijau lengkap  dengan tanda kepangkatannya. Bung Karno duduk  di barisan belakang. Dalam mimpinya, Heldy  mendekati Bung Karno. "Mas, kok duduk di  belakang, yuk kita duduk di depan," pinta  Heldy. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Karno lalu menjawabnya, "Biarlah aku di  sini saja, di sana ada suamimu." Usai  mengatakan itu, Bung Karno berdiri dari  duduknya lalu pergi. Menurut pandangan Heldy,  Bung Karno berjalan menuju kuburan. &lt;br /&gt;                                  ***&lt;br /&gt;WAKTU terus berjalan. Tak terasa, Gusti Maya  Firanti Noor atau Maya, sudah berusia 16 tahun.  Anak kandung Heldy itu masih sekolah di SMP 12  Kebayoran Baru, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari Maya usai tampil bermain drum band  di Jalan Melawai. Usai tampil, Maya bersama  kelompok pompomp girl masuk ke dalam mobil.  Mobilnya tiba-tiba diikuti oleh mobil lain di  belakangnya. Mobil Maya lalu berhenti. Sejumlah  pria mengajaknya berkenalan. Diantara mereka  adalah Haryo Wibowo Hardjoyudanto atau akrab  dipanggil Ari Sigit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi Heldy bermimpi. Kali ini Presiden RI  Soeharto dan istrinya datang ke rumahnya. Heldy  tidak tahu makna mimpinya.&lt;br /&gt;Setengah bulan kemudian, Maya bercerita kepada  ibunya. "Mama saya kenalan dengan cucu  presiden." "Ah... mana ada cucunya yang sudah  besar," tanya Heldy kepada anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Heldy baru percaya ketika suatu hari, Ari  Sigit datang menemui Maya ke rumahnya. Hubungan  terus berlanjut. Heldy mulai angkat bicara.  "Sebaiknya jangan sama Maya.  Karena saya dulu  pernah dekat dengan Bung Karno."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh... tidak apa-apa tante. Kita buat saja  dinasti presdiden." Akhirnya, Maya dan Ari  Sigit menikah di usia muda. Namun, keduanya  berpisah setelah menjalani hukuman delapan  bulan penjara karena narkoba.&lt;br /&gt;                    ***&lt;br /&gt;HARI terus berganti. Rumah pemberian Soekarno  di Jalan Cibatu akhirnya ia lego. Heldy lalu  membeli rumah di Jalan Hang Lekir. Tak lama  kemudian, Gusti, suami tercinta terkena stroke.  Rumah itupun akhirnya ia jual dan ia belikan  rumah di Kemang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai istri sekaligus seorang ibu dari enam  orang putra-putrinya, Heldy harus bertahan  menghidupi keluarga dan merawat suaminya. &lt;br /&gt;Mulai saat itu, satu persatu perhiasan  pemberian Bung karno ia tukar dengan lembaran  uang. "Mas terima kasih sudah memberi perhiasan  ini dan perhiasan pemberian Mas ini ternyata  menjadi penolong saya di saat sulit. Maafkan  saya harus melepas ini."&lt;br /&gt;Tanggal 6 Juli 2007, Heldy ditimpa musibah.  Setelah tujuh tahun menderita stroke, Gusti  Suriansyah Noor meninggal dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini usia Heldy 64 tahun. Penampilannya masih  tetap menarik. Wajahnya mempesona. Ia menikmati  hidup bersama keenam anak dan menantunya.  Sebagian rumahnya di bagian belakang yang ada  di Jalan Kemang, ia sewakan sebagai cafe...  (bec/sumber: diolah dari buku berjudul Heldy  Cinta Terakhir Bung Karno)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-9065045722716741695?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/9065045722716741695/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=9065045722716741695&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/9065045722716741695'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/9065045722716741695'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2011/08/biarlah-aku-disini.html' title='&quot;Biarlah Aku Disini....&quot;'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-5394980924723090167</id><published>2011-08-05T20:41:00.002+07:00</published><updated>2011-08-05T20:54:41.130+07:00</updated><title type='text'>"Dik... Tolong Doakan Aku..."</title><content type='html'>Heldy Cinta Terakhir Bung Karno (8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HELDY Djafar, wanita asal Tenggarong, Kutai  Kartanegara yang menikah dengan Bung Karno,  mulai dirundung pilu. Ia tak bisa menemui  suaminya, kecuali di rumah Yurike --istri Bung  Karno yang lain. Apa kata-kata yang diucapkan  Heldy sebelum berpisah dengan Bung Karno?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEBAHAGIAAN Heldy Djafar dalam menjalin rumah  tangga dengan Presiden RI Soekarno, mulai tak  menentu. Suhu politik ketika itu kian memanas.  Posisi Bung Karno semakin terpojok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, datang anggota Corps Polisi Militer  (CPM) ke rumah Heldy di Jalan Cibatu. Siang itu  Heldy sedang bercengkerama dengan sanak  keluarganya. Mendengar suara pintu mobil yang  ditutup agak keras dan deru mesin mobil Jeep,  sontak Heldy terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para anggota CPM itu masuk ke dalam rumah,  memeriksa setiap sudut, untuk mencari Bung  Karno. Para anggota CPM itu datang atas  instruksi Pangdam V Jaya, Mayjen Amir Machmud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai melakukan pemeriksaan, anggota CPM itu  mengatakan, mulai malam ini penjagaan dan  pengawalan dicabut dengan pertimbangan situasi  politik yang semakin tidak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, rumah tempat tinggal Heldy dinyatakan  tidak layak untuk ditempati seorang Presiden.  Karena itu, Bung Karno dilarang tingggal di  Jalan Cibatu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan rumah yang direkomendasikan layak untuk  ditempati Presiden adalah rumah di Jalan  Cipinang, Cempedak, Polonia. Rumah itu  ditempati Yurike Sanger, istri Bung Karno yang  lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas kejadian itu, melalui pengawal pribadinya,  Heldy meminta agar peristiwa tersebut  diceritakan kepada Bung Karno. Bung Karno  sendiri meminta Heldy tidak usah khawatr dan  pertemuan antara dirinya dengan Heldy bisa  dilakukan di rumah Yurike. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu Heldy menjadi sedih. Suaminya  tak lagi bertandang ke rumahnya. Setiap kali  akan berkunjung ke rumah Yurike, Bung Karno  selalu meminta tolong ajudannya bernama Sidarto  Danusubroto untuk menjemput Heldy. Kadang Bung  Karno menitipkan surat buat Heldy.&lt;br /&gt;Semula, setiap kali datang ke rumah Yurike,  Heldy --wanita asal Tenggarong, Kutai  Kartanegara-- masih merasa nyaman. Belakangan,  Yurike mulai tidak senang dengan kehadiran  Heldy. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, kedatangannya ke Cipinang, atas  perintah suaminya. Bahkan, Yurike sudah mulai  menunjukkan kesan ketidakramahannya kepada  Heldy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah banyak peristiwa yang membuat Yurike  sebel, suatu hari Heldy menerima telepon. Sang  penelepon bernama Untung. Kepada Heldy untuk  mengatakan bahwa Bung Karno tidak datang ke  Cipinang, karena itu Heldy diminta agar tak  datang ke rumah itu lagi. "ibu Heldy harus  mengerti perasaan Ibu yang disini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, Heldy juga menerima telepon dari  ajudan Bung Karno. "Ibu jangan lupa bahwa Bapak  nanti malam datang ke Polonia. Jadi Ibu harus  datang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu saja. Heldy kerap mendapat  teror. Namun teror itu tak pernah ia ceritakan  kepada suaminya. Walau Bung Karno jarang bertemu dengan Heldy,  namun sang Proklamator itu masih saja memenuhi  kebuuhan ekonomi istrinya. Melalui utusan  khusus, Bung Karno kerap mengirim uang.  Biasanya uang itu disimpan dalam amplop putih  yang didalamnya ada selembar surat dan lengkap  dengan tanda tangan Bung Karno.&lt;br /&gt;                     ***&lt;br /&gt;HELDY mulai limbung. Apalagi sejak para  pengawalnya dicabut, beberapa teman lamanya  mulai memberanikan diri datang ke rumah Heldy.  Mereka senang bisa bergurau dan berkumpul  kembali bersama Heldy. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, beberapa teman mahasiswa dari  Universitas Indonesia dan sarjana yang baru  lulus, datang silih berganti. Diantara pria  yang datang ke rumah Heldy adalah anak Pangeran  Muhamad Noor dari Kalimantan Selatan bernama  Gusti Suriansyah Noor. Ia insinyur jebolan ITB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jarang, Gusti sering menarik perhatian  Heldy. Heldy pun mulai jaga diri dan mengatakan, boleh  berteman tapi harus diingat bahwa dirinya  adalah milik Bung Karno. Walu begitu, Gusti  tidak takut dengan status Heldy. Bahkan, ia  terus mengejar Heldy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah untuk mengukur keseriusan Gusti, Heldy  punya jurus jitu. "Kalau mau mendapatkan saya  harus bekerja dulu, saya akan dikasih makan  apa? Masa seorang insinyur tidak bekerja?  Tolong ya, kalau tidak bekerja dalam satu bulan  ini jangan main ke rumah saya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, dalam waktu satu minggu Gusti datang  kembali menemui Heldy. Ia mengaku sudah bekerja  menjadii pegawai negeri sipil di Kementerian  Pekerjaan Umum. Kenapa semudah itu? Ternyata,  Gusti adalah putra mantan Menteri PU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertemuan itu, Gusti memohon dengan  sangat agar cintanya diterima. Sejak saat itu  Heldy mulai memberikan perhatian kepada Gusti,  dengan catatan bahwa dirinya masih menjadi  istri Bung Karno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudahlah jangan pikirkan Bung karno. Bung  Karno istrinya ada yang lain, bukan Heldy saja.  Saya juga dapat menyayangi Heldy seperti beliau  menyayangimu. Tolong berikan kesempatan tu  kepada saya," tutur Gusti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati Heldy mulai bergetar. Ia mulai  membanding-bandingkan, dari sekian banyak tamu  yang datang ke rumahnya, mengapa hanya Gusti  yang mengena di hatinya.&lt;br /&gt;                   ***&lt;br /&gt;SUATU hari Heldy datang ke rumah Yurike. Kepada  sang pemilik rumah, ia meminta izin untuk  menemui Bung Karno yang tengah terbaring di  ranjang kayu yang ada di dalam kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heldy lalu duduk besila di lantai, dekat  ranjang Bung Karno.&lt;br /&gt;Sejurus kemudian, Heldy mulai mencurahkan isi  hatinya. "Mas, saya sayang sekali dengan Mas.  Saya terima kasih sekali atas semua yang Mas  berikan kepada saya. Tentang perubahan dalam  hidup, saya sampai jadi begini." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihatnya kembali wajah Bung karno. Ia  kemudian melanjutkan isi hatinya. "Sayangnya  kondisi saat ini kita tidak bisa sering  bersama. Mas maafkan saya kalau saya boleh  menjauh dari Mas untuk melepaskan diri. Karena  kondisi dan suasana seperti ini sangat  menyakitkan hati saya. Saya tidak bisa begini  terus, Mas. Harus ketemu Mas di rumah orang  lain," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, telapak tangan Bung Karno  diraihnya. Ia lalu mencium permukaan tangan  sang Presiden RI. Ia lalu terisak menahan  tangis. Air matanya membasahi telapak tangan  Bung Karno. Lalu, Bung Karno membuka matanya  dan ikut meneteskan air mata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dik, kau itu kan orangnya yang sering salat.  Biasanya orang yang salat itu tabah dan  tawakal. Tolong doakan aku sampai dimana  keadaanku. Aku tidak mau pisah sama kau, kau  cinta terakhirku. Kecuali aku pulang ke  Rachmatullah..." isak Bung Karno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heldy lagi-lagi tak mampu membendung air  matanya. Dadanya terasa sesak. Ia amat sedih  harus berpisah dengan Bung Karno. Bung Karno  pun juga begitu. Ia ikutan menangis. Sesaat kemudian, Bung Karno berbisik. "Kau itu  pasti ada yang suka." Heldy terdiam.... Ia lalu  pamit. "Mas.... saya pergi...."&lt;br /&gt;                    ***&lt;br /&gt;KAPAN Heldy bertemu Bung Karno kembali? Malam  itu Heldy bersama seorang rekannya asal dari  Kalimantan berniat mencari makan. Sari, sang  sopir pribadinya ia minta mengantarkannya  mencari makan.&lt;br /&gt;Saat mobil yang ditumpanginya berada di  Bundaran Air Mancur Jalan Thamrin, ia melihat  mobil Bung Karno. "Sari itu mobil Bapak," ujarr  Heldy. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobil Bung Karno ketika itu sedang melintas di  Jalan Setiabudi. Melihat mobil yang ditumpangi  Heldy menyalip, mobil Bung Karno lalu  mengejarnya, hingga tiba di Jembatan semanggi.   Mobil Bung Karno lalu berhenti tepat di depan  mobil Heldy. Ajudan Bung Karno, Mayor Guritno  segera turun. Ia meminta Heldy mendatangi Bung  Karno yang ada di dalam mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heldy berjalan cepat dan masuk ke dalam mobil.  "Kau darimana?" "Mas darimana?" ujar Heldy  balik bertanya. "Aku baru mencari makan, adik  baik-baik saja? Kau darimana? Malam-malam  keluar?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heldy balik bertanya. "Mas mau kemana?" "Aku  mau pulang ke Wisma Yaso. Sudah, masuklah ke  mobilmu lagi dan kau pulang. Hati-hati, jaga  dirimu ya," pesan Bung Karno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heldy lalu menatap mobil Ford yang ditumpangi  Bung Karno. Ia melihat dari dalam mobil, Bung  karno masih melambaikan tangannya hingga Heldy  hilang dari padangan matanya.... (bec/sumber:  diolah dari buku berjudul Heldy Cinta Terakhir  Bung Karno)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-5394980924723090167?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/5394980924723090167/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=5394980924723090167&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/5394980924723090167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/5394980924723090167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2011/08/dik-tolong-doakan-aku.html' title='&quot;Dik... Tolong Doakan Aku...&quot;'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-6313852001710606781</id><published>2011-08-05T20:37:00.002+07:00</published><updated>2011-08-05T20:39:43.605+07:00</updated><title type='text'>Seperti Kejepit di Dalam Gelap!</title><content type='html'>Heldy Cinta Terakhir Bung Karno (7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISTANA Merdeka menjadi saksi kali terakhir Bung Karno menyampaikan pidatonya di hari Kemerdekaan RI. Heldy --istri Bung Karno asal Tenggarong, Kutai Kartanegara-- bangga bisa hadir mendengarkan orasinya suaminya yang membakar spirit bangsa Indonesia. Apa aja isi pidato Bung Karno? Lalu apa makanan kesukaan Bung Karno?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEJAK menikah dengan Bung Karno, Heldy benar-benar menempatkan dirinya sebagai istri yang baik. Setiap kali ia menemani suaminya di Wisma Negara, Heldy selalu menyiapkan pakaian, celana panjang, kaos oblong hingga kemeja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rasanya saya puas melihat Bung Karno tampil rapi. Seorang Presiden harus tampil rapi, karena banyak bertemu orang dan dilihat orang. Padahal tidak ada yang meminta saya untuk melakukan hal tersebut. Saya lakukan dengan tulus dan inisiatif saya sebagai istri untuk melayani suami," kenang Heldy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Heldy, Bung Karno adalah lelaki sejati, berperasaan halus dan memiliki selera yang tinggi. Selain itu Bung Karno suka memberi istrinya perhiasan, uang, kain batik dan kain bahan kebaya.&lt;br /&gt;Heldy masih ingat pemberian dari suaminya, sesaat setelah Bung Karno pulang dari Kairo. Satu set oerhiasan bermata pirus, ia berikan kepada Heldy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari-hari, Heldy kerap menemani suaminya di Wisma Negara. Ia biasanya menemani sang Presiden makan siang. Semua menu masakan, sudah disiapkan Istana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, Bung Karno mendapat kiriman rendang dari Megawati Soekarnoputri. Bung Karno yang begitu senang memakan daging menawarkan kepada Heldy. "Ini lho rendang buatan anak tercinta." Rendang itu begitu empuk dan terasa enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Heldy, menu sehari-hari sang Presiden adalah makanan khas Indonesia, mulai dari sambal terasi dan lalapan hingga kecap. Menu itu harus ada. Kadang juga sayur lodeh dengan ayam goreng atau ayam bakar, rawaon, tempe. Nasi? Bung Karno tak begitu banyak melahap nasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan buah yang digemari Bung Karno adalah semangka, pisang raja, kesemek, mangga, duku, atau rambutan. Setiap hendak menyantap buah, Heldy selalu mengupaskannya terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kenangan menarik yang tak bisa dilupakan drg Suryani Ardi, keponakan Heldy. Suatu hari ia sedang berlibur di rumah Heldy, tantenya. Tiba-tiba ada pengawal Presiden yang masuk ke dalam rumah dan mengatakan ada tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya dan sepupu yang lain segera cepat-cepat membereskan sandal yang berserakan agar tidak terlihat sang tamu. Lalu kami berlari ke kamar yang letaknya di belakang. Dari sana kami melihat, oooh... tamu itu berbadan tinggi tegap, berkepala botak, berumur dan ternyata suami tante Heldy. Kami slaing berbisik. Suami tante Heldy tua ya. Saya tidak tahu kalau suami tante Heldy seorang Presiden, karena tamu tersebut tidak memakai peci seperti tampilan Pak Presiden," kenang Suryani yang kini tinggal di Balikpapan.&lt;br /&gt;                   ***&lt;br /&gt;NAWAKSARA adalah sebuah judul pidato Presiden Soekarno yang disampaikan tanggal 22 Juni 1966 dalam Sidang Umum IV MPRS. Pidato itu oleh Bung Karno sengaja dibikin sebagai pertanggungjawaban sukarela tentang pelaksanaan tugas-tugas selaku mandataris.&lt;br /&gt;Mengapa pidato itu disebut Bung karno sebagai pertanggungjawaban secara sukarela? Alasannya, pertanggungjawaban tersebut diberikan bukan atas permintaan MPRS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mempersiapkan pidato Nawaksara, Bung Karno, bisa berjam-jam di dalam kamar. Sebelum ia menulis, Bung Karno lebih dulu mencari bahan-bahan dan saran-saran tertulis dari berbagai pihak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala Bung Karno sedang mempersiapkan naskah pidato Nawaksara di Wisma Negara, Heldy menyaksikan suaminya sedang berpikir keras untuk menuangkan buah pikirannya ke dalam lembaran-lembaran kertas. &lt;br /&gt;Tanggal 22 Juni 1966, Bung Karno berbicara di depan Sidang MPRS IV. Ia menjelaskan bahwa dirinya tetap sebagai pemimpin besar revolusi Indonesia, sesuai dengan ketetapan MPRS No I/1960.&lt;br /&gt;                   ***&lt;br /&gt;17 AGUSTUS 1966, kemerdekaan Republik Indonesia genap berusia 21 tahun. Bung Karno lagi-lagi membacakan pidatonya di Istana Merdeka. Pidato kali ini sangat monumental. Judul pidatonya, 'Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah! (never leave history).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seorang pemimpin yaitu Abraham Lincoln berkata: 'One cannot escape history'. Orang tidak bisa melepaskan diri dari sejarah. Saya pun berkata demikian. Tetapi saya tambah never leave history! Janganlah sekali-kali meninggalkan sejarah! Jangan meninggalkan sejarahmu yang sudah! Hai bangsaku... karena jikalau engkau meninggalkan sejarahmu yang sudah, engkau akan berdiri di atas vacum, engkau akan berdiri di atas kekosongan dan lantas negkau akan berdiri di atas kekosongan dan lantas engkau menjadi bingung dan perjuanganmu paling hanya akan berupa amuk-amuk belaka! Seperti kejepit di dalam gelap!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya soal warning jangan lupakan sejarah saja yang disampaikan Bung Karno. Dalam pidatonya, ia sempat menyinggung soal Surat Perintah 11 Maret (Supersemar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apalagi kataku tadi, dalam tahun 1966 ini!!! Tahun 1966 ini, kata mereka: ha, cindelijk, eindelijk, at long last. Presiden Soekarno telah dijambret oleh rakyatnya sendiri. Presiden Soekarno telah dikup. Presiden Soekarno telah ditelikung oleh satu 'triumvirat' yang terdiri dari Jenderal Soeharto, Sultan Hamengku Buwono dan Adam Malik. Dan itu 'Perintah 11 Maret; kata mereka, bukanlah itu penyerahan pemerintahan kepada jenderal Soeharto?? Dan tidaklah pada waktu Sidang Umum MPRS yang baru lalu, mereka reaksi musuh-musuh kita mengharap-harapkan, bahkan menghasut-hasut, bahkan menujumkan, bahwa Sidang MPRS itu sedikitnya akan menjinakan Soekarno atau akan mencukur Soekarno sampai gundul sama sekali atau akan mendongkel Presiden dari kedudukannya semula? Kata mereka dalam bahasa mereka, 'The MPRS session will be the final settelment with Soekarno'. Artinya Sidang MPRS ini akan menjadi perhitungan terakhir --laatse afrekening-- dengan Soekarno."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, Soekarno meneruskan kembali pidatonya. "Surat Perintah 11 Maret itu mula-mula dan memang sejurus waktu, membuat mereka bertempik sorak-sorai kesenangan. Dikiranya SP 11 Maret adalah suaru penyerahan pemerintahan! Dikiranya SP 11 Maret adalah satu penyerahan pemerintahan! Dikiranya SP 11 Maret adalah satu perintah pengamanan. Perintah pengamanan jalannya pemerintahan, pengamanan jalannya pemerintahan. Demikian kataku pada waktu melantik kabinet. Kecuali itu juga perintah pengamanan keselamatan priibadi Presiden, Perintah pengamanan wibawa Presiden. Perintah pengamanan ajaran Presiden. Perintah pengamanan beberapa hal, Jenderal Soeharto telah mengerjakan perintah itu dengan baik. Dan saya mengucapkan terima kasih kepada Jenderal Soeharto akan hal itu. Perintah pengamanan, bukan penyerahan pemerintahan. Bukan transfer of authority!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan itu, Soekarno juga sempat meledak lawan-lawan politiknya. "Mereka, musuh, sekarang kecele sama sekali!!! Dan sekarang pun, pada hari Proklamasi sekarang ini, mereka kecelee lagi! Lho Soekarno masih Presiden! Lho Soekarno masih pemimpin besar revolusi. Lho Soekarno masih mandataris Perdana Menteri! Lho Soekarno masih berdiri lagi di mimbar ini!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pidato Bung Karno yang meledak-ledak itu tentu saja menarik perhatian masyarakat. Bagi Heldy, peristiwa ini begitu penting karena untuk kali pertama sebagai istri Presiden RI, ia menghadiri peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI di Istana Merdeka dan mendengarkan tokoh proklamasi itu berorasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1965, Heldy pernah hadir ke Istana. Itupun bersama anggota keluarganya dan statusnya masih gadis. Di akhir pidatonya Bung karno mengatakan, "Aku pemimpin besarmu. Demikian kata MPRS, aku pemimpinmu. Ikutilah pimpinanku ini, ikutilah semua petunjukku. Aku tidak punya 'pengangsa-angsa', aku tidak punya keinginan keuntungan pribadi, aku tidak mengejar self interest. Aku hanya memimpin engkau, aku hanya ingin menunjukkan jalan kepada engkau, selalu dengan engkau, tidak pernah tanpa engkau. Dengan engkau aku berdiri, tanpa engkau aku bukan apa-apa. Dengan engkau aku jaya, tanpa engkau aku gagal. Jangan ragu-ragu, jangan bimbang! Mari berjalan terus melanjutkan revolusi, di atas jalan yang aku tunjuk. Ya Allah ya Robbi, ridhailah revolusi Indonesia dibawah pimpinan ini." (bec/sumber: diolah dari buku berjudul Heldy Cinta Terakhir Bung Karno)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-6313852001710606781?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/6313852001710606781/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=6313852001710606781&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/6313852001710606781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/6313852001710606781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2011/08/seperti-kejepit-di-dalam-gelap.html' title='Seperti Kejepit di Dalam Gelap!'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-727055555809771490</id><published>2011-08-05T20:33:00.000+07:00</published><updated>2011-08-05T20:36:16.181+07:00</updated><title type='text'>"Aku tak Suka Liz Taylor..."</title><content type='html'>Heldy Cinta Terakhir Bung Karno(6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HARI yang membahagiakan telah tiba. Soekarno secara resmi menyunting Heldy, wanita asal Tenggarong, Kutai Kartanegara di Istana Negara. Sehari sebelum acara dilangsungkan, Heldy mendapat kabar, ayahnya meninggal di Tenggarong. Bagaimana kelengkapan ceritanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETELAH menjalin hubungan cukup lama, akhirnya Bung Karno mengajak Heldy untuk menikah secara resmi. Bung Karno bercerita, setiap wanita yang akan dinikahinya, ia selalu melakukan pendekatan selama setahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah Dik, mau menjadi istriku? Kau tahu keadaan sedang begini?" Mendengar pertanyaan itu, Heldy terdiam. Apalagi selama ini Bung Karno sudah memiliki istri. Ada yang sudah diceraikan, ada juga yang belum. Nama-nama orang yang pernah hidup dengan Soekarno diantaranya, Siti Oetari Tjokroaminoto, Inggit Garnasih, Fatmawati, Hartini, Ratna Sari Dewi, Haryatie, Kartini Manoppo dan Yurike Sanger. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heldy sendiri selama ini tak mengenal mereka satu persatu. Heldy hanya mengenal Yurike Sanger. Perkenalan itu terjadi karena Yurike pernah sama-sama menjadi anggota barisan Bhineka Tunggal Ika.&lt;br /&gt;"Mengapa Bapak menyenangi saya yang jauh lebih muda?" Bung Karno lalu angkat bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang aku cari bukan waita yang cantik luarnya saja. Tetapi juga dalamnya dan itu ada pada dirimu. Kau sungguh menarik bagiku dan kau juga bisa beribadah dan mengerti baca Al Qur'an. Ini yang aku cari sesungguhnya. Kau kira Gina Lollobrgida, Liz Taylor, cantik?" Aku tidak suka. Wanita itu cantik karena hatinya. Kalau hatinya baik, wajahnya cantik sekali. Itulah engkau. Kau cantik sekali."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan hati Soekarno itu membuat Heldy menatap Bung Karno dengan penuh sayang dan sedikit gemetar. "Saya tidak bisa menolak lamaran Bapak. Hubungan kita sudah terlanjur dekat. Saya mau menikah dengan Bapak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban itu tentu saja melegakan Bung Karno. Ia kemudian menentukan tanggal pernikahan, tepatnya lima hari sebelum Bung Karno genap berulang tahun ke 65. Heldy sendiri menghadiahkan sebuah lukisan Bung Karno yang mengenakan belangkon. Lukisan itu ia beli dari Indonesia Art.&lt;br /&gt;                             ***&lt;br /&gt;RENCANA pernikahan Heldy itu kemudian diinfomasikan ke H Djafar dan Hj Hamiah serta semua anggota keluarganya. Bahkan, H Djafar seketika itu juga berangkat dari Tenggarong ke Samarinda. Sayangnya, ketika sampai di Samarinda, dadanya terasa sakit. Ia lalu balik lagi ke kampung halamannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam hari menjelang accara pernikahan anaknya, H Djafar, meninggal dunia. Kbar duka itu lalu disampaikan oleh Yus --kakak kandung Heldy-- ke Jakarta. "Heldy Bapak tidak bisa datang ke Jakarta, beliau meninggal dunia kena serangan jantung."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heldy masih terduduk di depan kaca meja rias yang ada di salah satu kamar Wisma Negara. Matanya menatap ke depan kaca. Ada duka dari raut wajahnya. Ia kemudian berdoa, mendoakan almarhum ayahnya. &lt;br /&gt;Hari itu akad nikah jadi diadakan. Bung Karno masih menerima tamu di Istana Merdeka. Tak lama kemudian, Bung Karno memasuki ruangan untuk melangsungkan pernikahan. Ketika itu Bung Karno mengenakan jas hitam, kemeja putih, berpeci hitam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai saksi pernikahan adalah Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) Idham Chalid. Selain itu ada juga kakak heldy, Erham Djafar, selaku wali dan Menteri Agama KH Saifuddin Zuhri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka duduk di depan meja. Tangan Bung Karno dan walinya saling berjabat erat. "Dengan emas kawin sebuah gelang emas putih bermata berlian dengan kadar 6 karat..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idham Chalid dengan bahasa Belanda sempat bertanya kepada Bung Karno. "Wie is die vrouw... (Siapa wanita ini?)" Lalu Soekarno menjawab, "Hoeft niet te vragen, je wil bet weten. Ze is een Borneo meisj. Ik ben geintereserd met zijn natuurlijke mooi (Sudahlah tidak usah ditanya, nanti tahu sendiri. Ini gadis Kalimantan. Saya sangat tertarik oleh kecantikannya yang alami)."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai melangsungkan ijab kabul, surat nikah tertulis yang ditandatangani saksi dan wali dipegang Idham Chalid. Heldy tak sempat memintanya.&lt;br /&gt;                    ***&lt;br /&gt;USAI menikah, Bung Karno melakukan pertemuan dengan Gubernur DKI dan menteri di ruang yang sama. Dalam pertemuan itu Erham dan Heldy juga ikut terlibat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erham sempat ditawari Bung Karno untuk menjadi bupati atau Gubernur Kalimantan. Namun, Erham menolak tawaran itu. Ia lebih suka bekerja di kantor bank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya Erham. Bung Karno juga menawari Yus --kakak Heldy-- untuk menjalankan ibadah haji. Oleh Yus tawaran itu diterima dan ia berangkat naik kapal laut selama 40 hari. Bung Karno memberikan uang saku 4.000 doolar AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, Bung Karno meminta Gubernur DKI Mayjen Soemarno Sosroatmodjo untuk mengeluarkan surat pemberian tanag 4.000 meter persegi di Jalan Sudirman yang nantinya akan dibangun menjadi gedung 'Kalimantan Centre'. Tanah tersebut nantinya akan dikelola Heldy bersaudara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dalam waktu dua minggu surat tersebut dikeluarkan. Sayangnya pada tahun 1966 tidak ada investor. Jadi ya sudah sampai sekarang tidak terwujud Kalimantan Centre," kenang Erham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamuan makan siang di hari yang paling bahagia itu, tidak diwarnai dengan menu istimewa layaknya pesta pernikahan. Hanya menu makanan sehari-hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heldy terus menunggu hingga sore hari. Menjelang sore, Bung Karno menemuinya. Kepada istrinya yang baru, Bung Karno membisikan kata-kata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akku tahu kamu tidak mencari aku. Aku juga tahu akku juga tidak mencari kau. Kita ini dipertemukan Tuhan. Engkaulah wanita yang selama ini aku cari,, engkau wanita yang aku cintai, engkau cinta terakhir bagiku. Jangan permainkan aku ya..." Lagi-lagi, Heldy terdiam.. Begitullah cara Bung Karno dalam menaklukan wanita yang ia cintai... (bec/sumber: diolah dari buku berjudul Heldy Cinta Terakhir Bung Karno)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-727055555809771490?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/727055555809771490/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=727055555809771490&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/727055555809771490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/727055555809771490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2011/08/aku-tak-suka-liz-taylor.html' title='&quot;Aku tak Suka Liz Taylor...&quot;'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-8981950299432979840</id><published>2011-08-02T20:40:00.002+07:00</published><updated>2011-08-02T20:43:53.163+07:00</updated><title type='text'>"Kami Dijemput Mobil Limousine"</title><content type='html'>Heldy Cinta Terakhir Bung Karno (5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAHUN 1965 Jakarta benar-benar memanas.  Peristuwa G30 S PKI, membuat Heldy sedih. Ia  gundah gulana memikirkan nasib Bung Karno.  Akhirnya kesedihan itu berubah menjadi  kebahagiaan. Bung Karno memanggilnya dan  meminta Heldy bersama keluarganya melakukan  pelesiran ke Hongkong dan Jepang. Benarkah Bung  Karno memberikan tanah seluas 4.000 meter  persegi kepada Heldy? Lalu untuk apa tanah  seluas itu diberikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETIAP kali Bung Karno datang ke rumah Heldy di  Jalan Cibatu, pria asal Blitar itu, langsung  menuju ke dapur untuk mengetahui masakan sang  pemilik rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika siang hari Bung Karno minta direbuskan  sebutir telur, lalu disantapnya dengan kecap.  Kebiasaan Bung Karno itu tak hanya dilakukan  siang hari. Pagi hari ia suka mengkonsumsi  telur. Selama ini, Bung Karno jarang memakan  daging. Nasi pun juga sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, Bung Karno datang pada malam hari  sekitar pukul 19.00. Selanjutnya, ia mengajak  Heldy pergi keluar rumah. Kali ini tujuannya ke  makam ayahanda Bung Karno yang bernama Raden  Soekemi Sosrodihardjo. Makam itu terletak di  Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karet, Jakarta  Pusat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat nyekar, Bung Karno membawa bunga mawar  merah yang utuh. Keduanya menumpang mobil  pribadi, Mercedes Benz warna hitam 220 S. &lt;br /&gt;Ayah Bung Karno meninggal 8 Mei 1945 di rumah  Bung Karno, Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta  Pusat. Waktu itu, Soekemi sengaja datang ke  Jakarta untuk melihat kelahiran sang cucu,  Guntur Sukarno Putra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Soekemi sedang berbelanja di daerah  Manggarai, ia mendadak terjatuh. Setelah  menjalani perawatan di rumah sakit selama  beberapa hari, ayah Bung Karno itu akhirnya  meninggal dunia.&lt;br /&gt;                            ***&lt;br /&gt;KEHADIRAN Presiden RI Soekarno ke tempat  pemakaman ayahnya, mendapat perhatian dari  masyarakat setempat. Mereka mengira, Bung Karno  datang bersama Megawati Soekarnoputri saat  nyekar ayahandanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai melakukan tabur bunga dan berdoa, mereka  akan pergi ke Wisma Negara. Dalam perjalanan  menuju ke tempat parkir, seorang ajudan  mengatakan kepada Heldy, jika Presiden sudah  mengajaknya nyekar ke makam salah satu orang  tuanya, itu berarti Bung Karno serius menjalani  hubungan dengan wanita yang diajaknya ke makam.&lt;br /&gt;Setibanya di Wisma Negara, Bung Karno melihat  seekor kecoa dalam posisi terbalik. Tubuhnya  meronta-ronta. Melihat kejadian itu, Presiden  memanggil sang ajudan dan memintanya untuk  membalikan tubuh kecoa. Selama ini Bung Karno  dikenal sebagai pria yang peduli dengan makhluk  hidup. Hatinya sangat peka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Wisma Negara Heldy akan menemani Bung Karno  untuk makan malam. Biasanya usai makan, Bung  Karno bekerja dengan serius dan Heldy hanya  duduk di sofa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati anaknya dekat dengan Presiden, namun  ayah Heldy, H Djafar tak pernah memanfaatkan  kedekatan putrinya dengan kepala negara.  Bahkan, ketika itu H Djafar mendapatkan tawaran  dari Bung Karno untuk menjadi pemimpin di  Kalimantan dan menduduki jabatan di sebuah  perusahaan. Sayangnya, tawaran itu ditolaknya.&lt;br /&gt;                                ***&lt;br /&gt;AKHIR September 1965, udara di Jakarta cukup  panas, sepanas suhu politik yang mulai  menggeliat. Heldy mulai cemas. Apalagi meletus  peristiwa G30 S PKI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai peristiwa itu, Heldy tak mendapat kabar  tentang keberadaan Bung Karno. Ia hanya bisa  berdoa. Kegundahan Heldy terobati manakala Bung  Karno mengirimkan utusan untuk menjemput Heldy  dan mengajaknya ke Istana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heldy masih ingat, malam itu baru pukul 19.00,  langit sudah gelap dan jalan raya menuju Istana  sunyi senyap. pemandangan yang terlihat di  jalan-jalan adalah tentara berpakaian loreng  sambil membawa senapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maklum, sejak meletus peristiwa G30 S PKI, Ibu  Kota mulai diberlakukan jam malam. Biasanya  kalau Heldy tiba di Istana, Bung Karno dengan  senang hati menyambutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini, ia melihat Bung Karno sedang tiduran  di kamar tidur. Raut wajahnya terlihat letih,  air matanya turun perlahan. "Kau baik-baik saja  kan?" tanya Bung Karno. "Alhamdulillah baik- baik. Mas gimana?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertemuan itu Bung Karno banyak  bercerita. Heldy hanya mendengarkan dan ia tak  berani bertanya soal G30 S PKI. Sejurus  kemudian, Bung karno meminta Heldy agar liburan  ke luar negeri. &lt;br /&gt;"Pergilah negkau liburan ke Hongkong dan ke  Jepang bersama kakak-kakakmu. Nanti semua akan  diatur oleh Kedutaan Indonesia di negara  masing-masing," pinta Bung Karno. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho Mas yang harus istirahat, mengapa kami  yang harus pergi bersenang-senang?" tanya  Heldy. "Tidak apa-apa. Kau selama ini tegang menanti  dan memikirkan aku. pergilah kau berlibur, tapi  jangan lama-lama. Kalau dirimu senang aku juga  akan senang. Bawalah kakak-kakakmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya, Hrldy berangkat juga ke luar negeri.  "Setibanya di Hongkong, kami disambut dan  dilayani layaknya keluarga Presiden. Dijemput  dengan mobil istimewa, tinggal di Hotel  Mandarin. Di Hongkong hanya jalan-jalan melihat  tempat wisata dan berbelanja. Dijamu di tempat  makan yang mahal, menginap di hotel berbintang  dan selama perjalanan selalu dikawal. Kami  merasa nyaman," kenang Heldy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Hongkong, mereka terbang ke Jepang.  "Sambutan di Jepang sungguh luar biasa baiknya.  Bayangkan saja, saya dan rombongan dijemput  mobil tepat di bawah tangga pesawat dengan  mobil Limousine. Lalu langsung meluncur menuju  ke Hotel Imperial. Kami disambut sebagai  layaknya tamu negara." Malamnya, mereka dijamu  oleh Duta Besar Indonesia untuk Jepang, Harsono  Reksoatmodjo.&lt;br /&gt;Bagaimana dengan uang saku pemberian Bung  Karno? Ternyata masih utuh dan sebagian ia  belanjakan piring makan, gelas yang cantik,  sendok garpu, peralatan makanan, kain untuk  bekaya, make up berbagai merk terkenal dan  tempat kecap. Mengapa beli botol kecap? Bung Karno senang  kecap. Jadi di meja makan selalu disediakan  kecap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pulang ke Jakarta, Heldy dan rombongan  duduk di kelas bisnis. Selain rombongan Heldy,  ada Pangeran Noor dari Kalimantan yang pernah  menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum -- Pangeran Gusti Suriansyah Noor dan keluarganya. Pembicaraan pun berlanjut dengan akrab karena  Heldy juga berasal dari Kalimantan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang dari Jepang, Bung Karno kembali  berkunjung ke rumah Heldy. "Bagaimana kabarmu,  baik? Senang jalan-jalannya? Dan bagaimana  pengawalmu, baikkah selama bertugas?" Kemudian Bung Karno melihat-lihat foto  perjalanan Heldy dari luar negeri. "Kau cantik.  Dik, aku sayang sekali dengan kau. kau cinta  terakhirku, tapi tolong kau jangan mainkan aku.  Kau mau tidak kuangkat namamu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat dijawab, Bung Karno kembali  berbicara. "Kuberikan tanah di Jalan Jenderal  Sudirman seluas 4.000 meter persegi dan kau  bangun gedung. Nanti aku yang meletakkan batu  pertamanya. Kau menjadi direktris, baru kau  disitu diekspose sebagai istriku. Nanti gedung  itu diberi nama Serikat Dagang Kalimantan.  Pusat produksi dari Kalimantan, pusat kegiatan  apapun yang berhubungan dengan Kalimantan.  Tempat pertemuan. Gedung ini untuk hari tuamu,  sebelum jadi (dibangun) pasti sudah ada yang  mau kontrak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar ketulusan Bung Karno, Heldy hanya  bisa berkata. "Terima kasih Mas,  alhamdulillah..." Setelah itu Heldy terdiam....  Kecintaan Bung Karno kepada Heldy amat luar  biasa. Ia tak segan-segan titip kepada orang  lain, agar Heldy benar-benar dijaga. Biasanya,  ketika Bung Karno hendak meninggalkan rumah  Heldy, ia selalu berpesan kepada mbok yang  bekerja di rumah Heldy. "Mbok, jagain ndoro  putri yang benar ya." "Inggih ndoro kakung,"  jawab si Mbok. (bec/sumber: diolah dari buku  berjudul Heldy Cinta terakhir Bung Karno)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-8981950299432979840?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/8981950299432979840/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=8981950299432979840&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/8981950299432979840'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/8981950299432979840'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2011/08/kami-dijemput-mobil-limousine.html' title='&quot;Kami Dijemput Mobil Limousine&quot;'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-1309878378440864262</id><published>2011-08-02T18:42:00.002+07:00</published><updated>2011-08-02T18:47:59.938+07:00</updated><title type='text'>"Apa Saya Harus Meminta...?"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-wb6AQVZqQpQ/Tjfj5PRvI-I/AAAAAAAAAmg/ncPMkCGfalw/s1600/Bung%2BKarno%2B04.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 44px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-wb6AQVZqQpQ/Tjfj5PRvI-I/AAAAAAAAAmg/ncPMkCGfalw/s200/Bung%2BKarno%2B04.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5636224031170438114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Heldy Cinta Terakhir Bung Karno(4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRESIDEN RI Soekarno punya cara tersendiri untuk memikat hati Heldy, gadis asal Tenggarong, Kutai Kartanegara. Setiap kali datang ke rumah Heldy, Bung Karno tak segan-segan membawa salak sekeranjang. Bahkan, dua buah mangga pun ia bawa demi Heldy. Bagaimana cerita lengkapnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12 MEI 1965. Rumah Erham --kakak kandung Heldy-- di Jalan Ciawi III nomer 4, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, mendadak menjadi perhatian 'orang-orang' Istana Kepresidenan. Seorang diantara mereka masuk ke dalam rumah untuk menyampaikan kabar penting. Kabarnya cukup mengejutkan. Sang Presiden RI, Soekarno, akan datang ke rumah itu sebentar lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tolong jika bapak datang, lampu teras dimatikan. Juga lampu dalam ruang tamu." Begitu isi pesan utusan Istana kepada sang pemilik rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erham, sontak terkejut. Pembesar negara akan datang ke rumahnya untuk menemui Heldy, adik kandungnya. "Kenapa kamu tidak katakan sebelumnya bahwa Presiden akan datang?" tanya Erham kepada Heldy.&lt;br /&gt;Mendengar pertanyaan itu, Heldy lalu menjawab. "Mana saya tahu kalau Presiden serius akan datang ke rumah." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, sebuah mobil VW kodok warna coklat gelap yang dikemudikan Soeparto, berhenti di depan rumah, diiringi dua mobil lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Presiden terlihat turun dari dalam mobil. Inilah kali pertama Soekarno 'apel' di rumah Heldy, gadis yang pernah diajak menari lenso di Istana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah Soekarno menuju teras rumah Heldy disaksikan pohon kamboja yang saat itu sedang berbunga dan berwarna pink. Lampu teras pun sudah dimatikan, sesuai pesan orang Istana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran Bung Karno, diterima Yus --kakak Heldy yang mendapat tugas untuk menerima tamu. Selanjutnya keduanya masuk ke ruang tamu. Suasana ruang tamu terasa hening. Hanya ada lampu lima watt yang masih menyala di sudut ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini Bung Karno tampil agak beda. Tanpa mengenakan peci, sehingga dahinya yang besar dan botaknya kelihatan. Walau begitu, Bung Karno yang berpostur tinggi besar, dengan wajah terawat dan penuh kharisma, mengenakan celana panjang warna hitam, kemeja warna putih lengan pendek dengan kancing bagian atasnya terbuka serta memakai sandal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian, Erham menyalami Bung Karno. Begitu juga H Djafar, ayah kandung Heldy yang kebetulan waktu itu sedang berada di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Assalamualaikum Pak Haji. Kapan datang dari Kalimantan?" tanya Bung Karno kepada Djafar. Usai menjawab salam Bung Karno dan berjabat tangan, Djafar lalu berbalik arah masuk ke dalam kamar. Entah mengapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini hanya Erham dan Yus yang menemani Bung Karno. Tak lama kemudian heldy ikut bergabung menemui tamu terhormat. Rupanya, maksud kedatangan Bung Karno ke rumah Heldy, hanya untuk mengutarakan isi hatinya. Ia mengatakan rasa cintanya pada gadis asal Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Bung Karno menyatakan cintanya, Heldy berusaha menolaknya dengan halus dengan pertimbangan bahwa usianya masih muda. Bahkan, Heldy menawarkan kepada Bung Karno agar mencari wanita lain. &lt;br /&gt;Mendengar ucapan Heldy, Bung Karno tidak kesalah, apalagi marah. Ia hanya tersenyum, lalu memberikan hadiah yang tersimpan di dalam box. Setelah dibuka, ternyata isinya jam tangan merk Rolex. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika itu juga Heldy mencium tangan presiden. Setelah itu ia pamit ke belakang membuatkan secangkir teh buat sang Presiden. Saat secangkir teh itu disajikan, Bung Karno mengaduknya dengan sendok kecil. "Siapa yang membuat minuman teh?" tanyanya. "Saya sendiri Pak." "Hmm... enak dan pas rasanya. Pintar kamu membuat minuman teh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai menyeruput teh, Bung Karno lalu mengajak Heldy keluar rumah. Tujuannya untuk mencari makan. Heldy satu mobil dengan Bung Karno. Mobil itu dikemudikan Darsono. Sedangkan ajudan presiden, Kol Parto, duduk di sebelahnya. Sementara Erham, kakak kandung Heldy, ikut bersama mobil lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dalam perjalanan itulah, Bung Karno lagi-lagi mengeluarkan 'jurusnya'. "Dik, kau tahu... Kau tidak pernah mencari aku, aku juga tidak mencari kau. Tapi Allah sudah mempertemukan kita."&lt;br /&gt;Heldy terdiam. Ia hanya mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Bung karno. Betapa tidak, ketika itu usia Heldy baru 18 tahun, sedangkan Bung Karno 64 tahun. Beda 47 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi Heldy belum memberikan jawaban kepada sang pria yang lagi kasmaran. Sejak pertemuan itu, Bung Karno makin rajin datang ke rumah Heldy. Setiap kali apel, Bung Karno selalu memberi amplop berisi uang yang tidak sedikit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasan Bung Karno membagi-bagikan uangnya tak hanya ditujukan kepada Heldy saja. Ibu kandung Heldy, Hj Hamiah bila sedang berada di Jakarta, juga kecipratan rezeki. Bahkan, Bung Karno tak segan-segan mencium tangan Hj Hamiah jika keduanya bertemu di Jakarta.&lt;br /&gt;Selain uang, Bung Karno kerap membawakan minyak wangi, satu set perhiasan serba berkilau bermata berlian hingga lembaran kain batik pilihan terbaik dan lukisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya itu saja. Heldy sempat diberi mobil Holden Premier warna biru telur asin untuk kegiatan sehari-hari. Jika sedang apel dan Heldy tak ada di rumah, maka Bung Karno biasanya menunggu kekasihnya itu di sofa sambil tiduran. Kadangkala, Bung Karno tak segan-segan mengajak Djohan, kakak Heldy yang masih duduk di bangku SMA kelas 3, bermain panco di atas meja makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Bung Karno kalah dalam permainan, Djohan tak segan-segan membikinkan minuman buat Bung Karno. Minumannya sederhana, segelas teh, plus gula lalu ditambah es batu. "Good, bagus. Enak minuman ini."&lt;br /&gt;                    ***&lt;br /&gt;MENJADI kekasih seorang presiden, membuat Heldy semakin ribet. Mau tidak mau, penampilan Heldy harus berubah. Setiap kali berangkat ke sekolah, Heldy menghias pergelangan tangannya dengan jam Rolex dan harum minyak wangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar kelas, orang-orang Istana Kepresiden selalu memantaunya. Penjagaan pun semakin ketat. Sejumlah guru yang tadinya menaksir Heldy, mulai kehilangan nyalinya. Begitu juga dengan Adji, pria yang pernah jatuh hati dengan Heldy, mulai patah hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adjie yang waktu itu masih mahasiswa, tak berani berbuat apa-apa begitu mengetahui sang kekasihnya berpaling kepada Bung Karno.&lt;br /&gt;Gara-gara itu, Erham, kakak kandung heldy memutuskan agar adiknya sekolah di rumah dengan memanggil guru menambah pelajaran bahasa Belanda dan Inggris. Mengapa harus belajar bahasa asing?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, Heldy sering diajak Bung Karno bertemu dengan teman-temannya seperti Dasaad (pengusaha yang sering memberi bantuan finansial), Chaerul Saleh, J leimena dan Soebandrio. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka setiap kali bertemu Bung Karno selalu memakai bahasa Belanda. Karena itu Heldy berinisiatif belajar bahasa Belanda, mendatangkan guru wanita dari Manado. Namanya Nyonya Woworuntu (seorang mantan walikota pertama di Manado).&lt;br /&gt;                      ***&lt;br /&gt;BUNG Karno memang luar biasa dalam memikat wanita. Setiap kali datang ke rumah Heldy, ia tak segan-segan membawa dua buah mangga matang. "Ini mangga hasil kebun Pak Dassad, dikirim untuk aku," kata Bung Karno. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa disuruh, Heldy bergegas mengambil pisau, lalu mengupasnya kemudian disajikan kepada Bung Karno.  Suatu hari Bung Karno membawa sekeranjang salak. Salaknya enak sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itulah, Heldy resmi menjadi teman dekat Bung Karno. Konsekuensinya, Heldy harus siap dengan peraturan yang dibikin Bung Karno.  Dua jam sebelum Bung Karno datang, Heldy sudah menyiapkan kain dan kebaya yang akan dipakai dan sanggul dari cemara panjang, lengkap dengan selop dan hak setinggi tujuh sentimeter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heldy pun lalu menunjuk Eka Rosdiana, sepupunya, untuk menjadi sekretaris. Tugasnya menemani Heldy ke Istana. Agustus 1965, Heldy resmi menjadi wanita yang sedang dicintai Presiden. Bahkan, tiga bulan setelah kedatangan Bung Karno ke rumah di Jalan Ciawi, Heldy diberi hadiah sebuah rumah di Jalan Cibatu 33, Kebayoran Baru. Rumah itu bersertifikat dengan menggunakan namanya sendiri. Luas tanahnya 600 meter persegi, lengkap dengan empat kamar dan satu kamar khusus untuk Bung Karno. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Heldy tinggal bersama bersama Djohan dan Rosdiana. Rumah itu mendapat penjagaan ekstra ketat, lengkap dengan sopir, sekretaris dan mobil buat Heldy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut ajudan Bung Karno, Zaenal, mobil Holden Premier yang diberi Bung Karno buat Heldy dirasakan sudah tidak layak lagi. "Ibu sudah tidak pantas memakai Holden Premier, sebaiknya ganti admiral saja," tutur Zaenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, oleh Heldy usul dari sang ajudan itu disampaikan kepada Presiden. Sebenarnya, Heldy takut juga untuk menyampaikannya. Tapi ia ingat, Bung Karno pernah menegurnya. "Dik kau tidak cinta aku ya, kok tidak pernah meminta?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pad saat itu Heldy hanya menjawab, "Apakah cinta harus sama dengan meminta? Saya sudah banyak diberi macam-macam oleh Bapak? Apa saya harus meminta?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, gara-gara usul ajudan itulah, maka Bung Karno bereaki. "Dik kau tidak pantas naik Admiral, sebaiknya Mercedes." Maka keesokan harinya, Mercedes B warna hitam dengan nomer B 1008 --sesuai dengan tanggal lahir Heldy-- sudah ada di Jalan Cibatu. (bec/sumber: diolah dari buku berjudul Heldy Cinta terakhir Bung Karno)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-1309878378440864262?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/1309878378440864262/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=1309878378440864262&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/1309878378440864262'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/1309878378440864262'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2011/08/apa-saya-harus-meminta.html' title='&quot;Apa Saya Harus Meminta...?&quot;'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-wb6AQVZqQpQ/Tjfj5PRvI-I/AAAAAAAAAmg/ncPMkCGfalw/s72-c/Bung%2BKarno%2B04.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-6238792114272257813</id><published>2011-07-31T18:55:00.001+07:00</published><updated>2011-08-02T18:41:17.546+07:00</updated><title type='text'>"Saya Lihat Kau di Metropole?"</title><content type='html'>* Heldy Cinta Terakhir Bung Karno(3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEJAK kali pertama bertemu, Presiden Soekarno  rupanya mulai terpikat dengan Heldy. Saat  berada di Istana, tokoh proklamator itu tak  segan-segan mengajukan pertanyaan kepada sang  gadis. Apa isi dialognya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GERAK-gerik Presiden RI I Soekarno saat  berdialog dengan Heldy, gadis asal Tenggarong,  Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, rupanya  diamati oleh Yus --kakak kandung Heldy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang bagian protokol kepresidenan mendekati  Yus. "Adikmu tadi mendapat perhatian khusus  dari Presiden. Lihat adikmu diajak bicara  Presiden. Artinya, adikmu mendapat perhatian.  Baik-baik dijaga," pesannya. Mendengar nasehat  itu, Yus sendiri tidak tahu makna dari kata  dijaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman pertama menjadi anggota barisan  Bhineka Tunggal Ika, membuat Heldy senang.  Apalagi, ia sempat diajak ngobrol Bung Karno.&lt;br /&gt;Selanjutnya, pertemuan antara Heldy dengan Bung  Karno terjadi, ketika kepala sekolahnya,  memanggil Heldy --Sekolah Guru Kepandaian Putri  (SGKP) yang kemudian berubah nama menjadi  Sekolah Kepandaian Keputrian Atas (SKKA).  Sekarang sekolah itu diubah lagi menjadi  Sekolah Menengah Kepandaian Keputrian (SMKK).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya Heldy. Beberapa murid lainnya juga  dipanggil dan diajak ke Istana Bogor untuk  masuk ke dalam barisan Bhineka Tunggal Ika.  Mereka berangkat menumpang bus khusus.  Sesampainya di Istana Bogor, mereka diminta  berdandan. semua sudah disediakan, mulai dari  pakaian kebaya, kain, cemara untuk sanggul  hingga selop sepatu. Sang periasnya adalah  Maryati, penyanyi keroncong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat barisan Bhineka Tunggal Ika sudah  berdandan, para pagar ayu diminta berbaris dan  menempati posisinya masing-masing untuk siap- siap menerima tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sat itu Heldy memilih berdiri di pojok, takut  dilihat Bung karno.  Apalagi ketika itu,  kebayanya kelihatan kedodoran dan sanggulnya  terasa ogleg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ketika Presiden Soekarno memasuki ruangan  untuk melihat barisan Bhineka Tunggal Ika,  matanya mendadak menatap Heldy. Melalui  ajudannya, Heldy lalu dipanggil Soekarno.  Kkinya bergetar, hatinya berdebar. Soekarno kemudian menegurnya. "Sanggulmu salah,  bukan begini. Juga kebaya dan kainmu. Siapa  yang mendadanimu?" "Ibu Maryati Pak."&lt;br /&gt;                                 ***&lt;br /&gt;PERTEMUAN ketiga antara Soekarno dengan Heldy  terjadi kembali, saat anggota barisan Bhineka  Tunggal Ika diwajibkan menyanyi di depan  presiden, satu persatu. Dari sekian anggota,  Heldy mendapat urutan nomer satu untuk  menyanyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun tarik olah vokal, menyanyikan lagu asal  Kalimantan. Usai menyanyikan lagu berjudul  'Bajiku Batang (padi), Bung Karno meminta Heldy  untuk menyanyikannya sekali lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan selanjutnya terjadi saat Yus -kakak  kandung Heldy-- meminta ke Istana untuk menjadi  pagar ayu kembali. Saat Bung Karno masuk ruangan, kedua matanya  menyapu semua sudut ruangan. Lalu, Bung Karno  memperhatikan Heldy yang ketika itu mengenakan  kebaya warna hijau. Lalu dipanggilah Heldy. Lagi-lagi gadis itu dengkulnya gemetaran. Ia  berjalan perlahan menghampiri Bung Karno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendekat, Bung Karno dengan suaranya  yang khas bertanya. "Kemana saja kau? Sudah  lama tidak kelihatan?" "Sakit Pak," jawab  Heldy. "Bohong, kau pacaran. Saya lihat kau di  Metropole (sekarang Megaria) sedang menonton  film." "Tidak Pak..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Soekarno mengutarakan niatnya. "Nanti  kalau lenso sama aku ya, sini kau duduk dekat  aku." Karuan saja, hati Heldy berkecamuk, antara  takut, senang dan gemetar. Ia takut melakukan  kesalahan saat lenso dengan presiden.  Untungnya, selama di Jakarta, ia pernah diajari  menari lenso oleh kakaknya. Malam itu, tamu negara yang hadir diantaranya  ada Titiek Puspa, Rita Zahara dan Feti Fatimah.&lt;br /&gt;                                ***&lt;br /&gt;HELDY lalu duduk di kursi yang letaknya persis  di belakang presiden. Selama ini siapapun yang  dipilih Bung Karno untuk menari lenso, selalu  duduk di dekatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat berlenso dimulai. Bung Karno mulai  mengajak Heldy. Gadis itu diam membisu tak  berani menatap wajah sang presiden. Bung Karno  lalu berbisik. "Siapa namamu?" "Heldy..."  "Boleh aku datang ke rumahmu? Sekolahmu?"  "Kelas dua SKKA."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog terus berlangsung. Bung Karno semakin  gencar mengajukan pertanyaan. "Berapa umurmu?"  "Delapan belas tahun." "Hmmmm... cukup," kata  Bung Karno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heldy sendiri mengaku tidak pernah tahu apa  arti dari ungkapan Bung Karno yang mengatakan  cukup. Keduanya terus berlenso diikuti irama musik dan  nyanyian dari para tamu yang dilantunkan secara  serentak penuh hentak. Syairnya kira-kira  begini: 'Baju hijau siapa yang punya, baju  hijau siapa yang punya, baju hijau siapa yang  punya, baju hijau bapak yang punya'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu itu berulang-ulang dinyanyikan hingga  tepukan tangan membahana di seantero ruangan. Esoknya, Heldy mulai merasa tidak nyaman saat  bersekolah. Ia merasa ada yang mengawasinya.  Bahkan, ia merasa tak sebebas dulu saat  berteman dengan teman-temannya di sekolah. &lt;br /&gt;Bahkan, Zulkifli, teman Heldy yang kerap  bertandang ke rumah Heldy, tak lagi berani  mendekat.Apalagi, beberapa bulan setelah itu,  Zulkifli pernah melihat Heldy pergi ke dokter  THT dikawal orang Istana. Penampilannya tetap  sederhana, namun auranya begitu memancar....  (bec/sumber: diolah dari buku berjudul Heldy  Cinta terakhir Bung Karno)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-6238792114272257813?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/6238792114272257813/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=6238792114272257813&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/6238792114272257813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/6238792114272257813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2011/07/saya-lihat-kau-di-metropole.html' title='&quot;Saya Lihat Kau di Metropole?&quot;'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-5109514658575827840</id><published>2011-07-30T11:43:00.005+07:00</published><updated>2011-08-02T18:42:27.684+07:00</updated><title type='text'>"Darimana Asal Kamu? Aku Kira dari Sunda"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-ojtZj9n8nhg/TjOMmw5vnJI/AAAAAAAAAmY/O0J6D4ABUiM/s1600/Bung%2BKarno%2B3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 116px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-ojtZj9n8nhg/TjOMmw5vnJI/AAAAAAAAAmY/O0J6D4ABUiM/s200/Bung%2BKarno%2B3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5635002156360637586" /&gt;&lt;/a&gt; * Heldy Cinta Terakhir Bung Karno (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KISAH perjalanan Heldy, gadis asli Tenggarong,  Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur yang  akhirnya dinikahi Presiden I Soekarno, penuh  liku. Bagaimana ceritanya Heldy bisa masuk ke  dalam lingkungan Istana? Lalu apa komentar  Soekarno kali pertama bertemu Heldy? Berikut  kisahnya seperti yang tertuang dalam buku  berjudul: 'Heldy Cinta Terakhir Bung Karno'  yang dtulis Ully Hermono dan Peter Kasenda.  Buku ini diluncurkan oleh Penerbit Buku Kompas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAKTU terus berjalan. Heldy beranjak menjadi  remaja yang menarik perhatian rekan-rekannya.  Ketika itu ia masih duduk di bangku SMP yang  letaknya di Gunung Pedidi, Jalan Rondong,  Demang Tenggarong, Kutai Kartanegara,  Kalimantan Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ia duduk di bangku SMP kelas tiga, Heldy  pindah sekolah ke sebuah SMP di Samarinda.  Kepindahan Heldy dilakukan karena adanya  nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda.  Implikasinya, H Djafar, ayah Heldy untuk  sementara waktu beristirahat dari pekerjaannya  di Oost Borneo Maatschapppij). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tamat dari SMP, Heldy hijrah ke Jakarta  menyusul kakaknya untuk mencari ilmu. Cita-cita  nya menjadi  seorang desainer interior. Kendati jarak antara Samarinda-Jakarta lumayan  jauh, namun Heldy tak pernah surut untuk  melangkahkan kakinya meraih asa. &lt;br /&gt;Dari Samarinda, ia menumpang kapal menuju  Balikpapan. Selanjutnya ia naik kapal laut  Naira dari Pelabuhan Semayang, Balikpapan,  menuju ke Surabaya ditemani familinya, Milot  dan Izhar iparnya.&lt;br /&gt;Selanjutnya dari Surabaya mereka menumpang  kereta api menuju Jakarta dan berhenti di  Stasiun Gambir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kakinya kali pertama  menyentuh Jakarta, Heldy merasa bangga. Apalagi  pada tahun 1963, jalanan di Jakarta sudah  beraspal, jembatan Semanggi yang lebar dan  membentuk lengkungan menarik, rumah dan gedung  terbuat dari beton dan rimbunnya dedaunan  pohon-pohon besar di tepi jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kota metropolitan, Heldy tinggal di rumah  kakaknya Erham, di Jalan Ciawi III nomer 4,  Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Erham sendiri  bekerja di sebuah perusahaan bank dan sudah   memiliki tiga orang anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Yus, kakak Heldy, waktu itu masih  kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia.  Ia memilih tinggal di asrama Kalimantan, Jalan  Cimahi 16, Menteng, Jakarta Pusat. Yus dikenal sebagai aktivis organisasi. Ketika  masih kuliah ia sudah didapuk menjadi Ketua  Perhimpunan Pemuda Kalimantan Timur. Seminggu berada di Jakarta, Heldy diajak Yus  main-main ke asrama. Di sana ada pemuda bernama Adji, mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas  Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran Heldy menarik perhatian  Adji. "Siapa gadis itu?" "Oo... ini adikku, Heldy.  Dia baru datang dari Kutai," jawab Yus. "Untuk  saya saja adikmu," tutur Adjie. Selanjutnya,  Heldy dikenalkan kepada Adjie oleh Yus. Sejak  itu, kendati usianya terpaut lima tahun,  keduanya saling mengunjungi.&lt;br /&gt;                                    ***&lt;br /&gt;DI JAKARTA Heldy masuk ke Sekolah Guru  Kepandaian Putri (SGKP) yang kemudian berubah  nama menjadi Sekolah Kepandaian Keputrian Atas  (SKKA). Sekarang sekolah itu diubah lagi  menjadi Sekolah Menengah Kepandaian Keputrian  (SMKK).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letak sekolahnya di daerah Pasar Baru. Di  sekolah ini, sejumlah gadis dari daerah,  menimba ilmu tentang dunia masak-memasak dan  mengurus rumah tangga. Sejak sekolah di tempat itu, etiap hari Heldy  naik bus menuju ke sekolahnya. Kadang ia  dijemput oleh rekannya bernama Sri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekolahnya khusus buat murid yang beragama  Islam, diadakan pencahrian bakat siapa yang  mahir membaca Al Qur'an. Kepala sekolah  memberikan pengumuman kepada para murid yang  bisa membaca Al Qur'an disarankan ke kantor  kepala sekolah untuk dites.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian banyak murid dipilihlah Heldy.  Mengapa? Sejak kecil ia sudah khatam membaca Al  Qur'an. Kepandaiannya membaca Al Qur'an membuat  Heldy makin dikenal di sekolahnya. Suatu hari Heldy diundang sebagai qoriah dalam  acara peringatan Nuzulul Qur'an di asrama  mahasiswa Universitas Indonesia di Jalan  Pegangsaan Timur, Jakarta Pusat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heldy diundang oleh guru kimianya yang waktu  itu juga tercatat sebagai mahasiswa kedokteran  UI. Namanya Zulkifli TS Tjaniago (kini menjadi  dokter spesialis kandungan). Sejak saat itu Heldy tak hanya dikenal di  sekolahnya saja. Para mahasiswa banyak yang  mengenal namanya. Bahkan, ia pernah dipilih  menjadi cover majalah Pantjawarna. Di cover  tersebut, Heldy memakai busana khas Tenggarong,  lengkap dengan sanggul cepol di atas dan tusuk  kembang goyang.&lt;br /&gt;                             ***&lt;br /&gt;BAGAIMANA ceritanya Heldy bisa masuk ke  lingkungan Istana Kepresidenan? Adalah Yus,  sang kakak yang waktu itu kuliah di UI. Saat  itu Yus dipercaya oleh protokol kepresidenan  untuk menyiapkan barisan Bhineka Tunggal Ika ke  Istana. Biasanya, ia mencari remaja putri dan  putra yang layak untuk menjadi bagian dari  barisan itu.&lt;br /&gt;Dipilihlah Heldy, adiknya, sebagai wakil dari  Kalimantan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga sepupu dan  keponakannya. Semuanya ikut menjadi barisan  Bhineka Tunggal Ika. Dan sudah menjadi tradisi  bagi Istana, setiap kali mengadakan kegiatan,  tim protokol membutuhkan pagar ayu, pagar bagus  yang terdiri dari para remaja lengkap dengan  pakaian daerah seluruh Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya diambil dari perhimpunan remaja daerah  yang tinggal di Jakarta. Bung Karno sangat  menyenangi keindahan dan peduli dengan kekayaan  budaya Indonesia yang begitu beragam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari pada tahun 1964, Istana sedang sibuk  menyiapkan penyambutan tim Piala Thomas. Untuk  itu dibutuhkan barisan Bhineka Tunggal Ika,  sebagai penerima tamu. Heldy dipilih untuk ikut  serta. Ia mengenakan kebaya warna pink dengan  kain lereng berselendang dan memakai sanggul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tibalah hari H. Heldy bersama remaja lainnya  siap berdiri secara teratur di anak tangga  Istana, berbaris rapi dekat pintu masuk. &lt;br /&gt;Seperti biasa, Presiden Soekarno menaiki anak  tangga Istana melalui barisan Bhineka Tunggal  Ika yang sudah rapi berbaris dan berdiri di  setiap anak tangga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Karno menaiki anak tangga satu persatu  sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Tepat saat  mendekati barisan di belakang Heldy, ia menyapa  dengan caranya yang khas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Darimana asal kamu?" "Dari Kalimantan Pak."  "Oh... aku kira dari Sunda. Oh... ada orang  Kalimantan cantik." Itulah awal pertama  percakapan Heldy dengan Bung Karno. (bec/sumber: diolah dari buku berjudul Heldy  Cinta terakhir Bung Karno)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-5109514658575827840?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/5109514658575827840/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=5109514658575827840&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/5109514658575827840'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/5109514658575827840'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2011/07/darimana-asal-kamu-aku-kira-dari-sunda.html' title='&quot;Darimana Asal Kamu? Aku Kira dari Sunda&quot;'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-ojtZj9n8nhg/TjOMmw5vnJI/AAAAAAAAAmY/O0J6D4ABUiM/s72-c/Bung%2BKarno%2B3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-2608756936403082563</id><published>2011-07-29T20:27:00.006+07:00</published><updated>2011-07-30T11:50:56.425+07:00</updated><title type='text'>Anakmu Kelak Dapat Orang Besar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-U1k00CBRNEk/TjK2ljEInHI/AAAAAAAAAmQ/kcTimsAxbRc/s1600/Bung%2BKarno%2B1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 133px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-U1k00CBRNEk/TjK2ljEInHI/AAAAAAAAAmQ/kcTimsAxbRc/s200/Bung%2BKarno%2B1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634766839977909362" /&gt;&lt;/a&gt; * Heldy Cinta Terakhir Bung Karno (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;TAK banyak yang tahu kalau Presiden RI I  Soekarno, ternyata pernah menikahi Heldy  Djafar, seorang gadis asli Tenggarong, Kutai  Kartanegara, Kalimantan Timur. Pernikahan  secara Islam diadakan di Wisma Negara, 11 Juni  1966. Saksinya Ketua DPA Idham Chalid dan  Menteri Agama Saifuddin Zuhri.&lt;br /&gt;Saat Soekarno dikucilkan di Wisma Yaso, Heldy,  lalu menikah dengan pria lain. Pria itu bernama  Gusti Suriansyah Noor, keturunan dari Kerajaan  Banjar. Belakangan, satu dari enam orang  anaknya, menikah dengan cucu Presiden RI  Soeharto. Bagaimana kisahnya? Mulai hari ini,  Tribun Kaltim akan membedah buku berjudul:  'Heldy Cinta Terakhir Bung Karno' yang dtulis  Ully Hermono dan Peter Kasenda. Buku ini  diluncurkan oleh Penerbit Buku Kompas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;USIANYA masih 10 tahun. Suatu hari di tahun  1957, Heldy, menyaksikan sebuah mobil bak  terbuka yang melintas di depan rumahnya. Para  penumpang mobil menyebarkan selebaran berisi  pengumuman bahwa akan ada pidato Presiden  Soekarno di Samarinda.&lt;br /&gt;Kakak kandung Heldy, bernama Yus, tak mau  ketinggalan. Ia ikut memunggut lembaran kertas  itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil berdiri di balik pagar rumahnya, Jalan  Mangkurawang, Tenggarong, bocah itu sempat  bertanya kepada kakaknya. "Ada apa Kak ke  Samarinda?" "Bapak Presiden mau pidato di sana,  saya mau mendengarkan langsung di alun-alun  Samarinda," kata Yus.&lt;br /&gt;Mendengar penjelasan dari kakaknya, Heldy mulai  merengek. "Aku mau ikut dengarkan pidato  Presiden. Aku juga mau lihat langsung wajah  Bapak Presiden."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak usahlah, kau masih anak-anak, kau  mengerti apalah, sudah masuk rumah," pinta Yus.  Setelah mengajak adiknya masuk ke dalam rumah,  Yus, bergegas lari, mengejar rombongan manusia  yang hendak pergi ke Samarinda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heldy lalu masuk ke kamar ibunya Hj Hamiah.  Seketika itu juga ia menangis. "Mau lihat  Presiden... mau lihat Presiden..." rengeknya.&lt;br /&gt;Mendengar tangis anaknya, sang ibunya malah  geram. Gadis kecil itu dicubitnya. "Kayak nenek  moyangnya aja yang datang. Tidak boleh ikut,  nanti kegencet orang banyak, kamu anak kecil  memang tahu apa tentang pidato Presiden.  Saudara juga bukan. Sudahlah diam, dan sudahlah  cukup dengarkan pidato Presiden lewat radio.  Duduklah!"&lt;br /&gt;Maklum, namanya saja anak kecil. Walau sudah  diberathu, Heldy masih saja tetap merengek. Ia  masih saja menangis hingga sore hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan Heldy untuk melihat dari dekat pidati  Presiden Soekarno itu, mungkin terpicu dengan  gambar-gambar Bung Karno dalam bentuk kalender  maupun hiasan dinding yang terpajang di  rumahnya.&lt;br /&gt;"Di rumah kami, gambar Bung Karno ada dimana- mana. Dalam bentuk kalender maupun hiasan  dinding. Maklum saja, saat itu Bung Karno  adalah presiden kebanggaan seluruh rakyat  Indonesia," kenang Erham, kakak kandung Heldy  yang paling tua.&lt;br /&gt;                              ***&lt;br /&gt;HELDY lahir di Tenggarong, Kutai Kartanegara,  Kalimantan Timur, tangggal 10 Agustus 1947 dari  pasangan H Djafar dan Hj Hamiah. Ia bungsu dari  sembilan bersaudara. "Bapak seorang aanemer  (pemborong). Kami hidup serba kecukupan. Bapak  termasuk orang terpandang dan dihormati di desa  kami."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Hj Hamiah mengandung Heldy, wanita itu  sempat melihat bulan bulat seutuhnya (bulan  purnama). Lalu seorang rekan H Djafar yang  sedang bertandang ke rumahnya (seorang  Tionghoa) mengatakan, "Nanti bayimu lahir harus  dijaga hati-hati ya, sampai beranjak dewasa,"  begitu pesannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Heldy duduk di bangku SMP, seorang tante  yang dianggap pandai meramal dan biasa disapa  Mbok Nong mengatakan, "Wah anakmu ini kelak  jika dewasa akan mendapatkan orang besar." Mendapat penjelasan itu, Hj Hamiah balik  bertanya. "Orang besar itu maksudnya apa?" "Ya bertitellah seperti insinyur, dokter. Jadi  tolong dijaga hati-hati ya."&lt;br /&gt;                              ***&lt;br /&gt;RUMAH orang tua Heldy adalah rumah panggung.  Bangunannya memanjang ke samping mencapai 30  meter dan memanjang ke belakang 40 metter.  Terbuat dari kayu pilihan dengan plafon rumah  setinggi empat meter dan memiliki jendela yang  berukuran panjang ke bawah dengan kisi-kisi  kayu, lalu berlapis kaca pada bagian luarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah jendelanya pun cukup banyak.  Di atas  pintu masuk depan rumah tertulis tahun  dibangunnya rumah tersebut, tahun 1938.  (bec/sumber: diolah dari buku berjudul Heldy  Cinta Terakhir Bung Karno)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-2608756936403082563?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/2608756936403082563/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=2608756936403082563&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/2608756936403082563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/2608756936403082563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2011/07/anakmu-kelak-dapat-orang-besar.html' title='Anakmu Kelak Dapat Orang Besar'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-U1k00CBRNEk/TjK2ljEInHI/AAAAAAAAAmQ/kcTimsAxbRc/s72-c/Bung%2BKarno%2B1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-2107984648562206697</id><published>2011-07-24T19:13:00.004+07:00</published><updated>2011-07-24T19:21:12.884+07:00</updated><title type='text'>Balada 3 Bocah Penyemir Sepatu</title><content type='html'>TIGA bocah penyemir sepatu itu tampak serius membagi tugasnya. Seorang diantaranya bertugas 'menaburkan' semir, lainnya mengosok-gosokan kain gombal di punggung sepatu, biar kelihatan mengkilat. Usai bagi-bagi tugas, seorang diantarara mereka, bergegas mengembalikan sepatu ke pemiliknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua lembar uang pecahan Rp 5.000, selembar Rp 2.000 dan sattu lembar lagi Rp 1.000 yang diberikan sang pemilik sepatu yang sedari tadi nongkrong di salah satu coffee yang ada di Bandara Sepinggan Balikpapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai menerima uang, sang bocah itu berlari menuju ke rekan-rekannya yang lagi duduk di luar coffee. Nah, saat lari itulah, selembar uang pecahan Rp 5.000, ia 'buang' di sela-sela kursi coffee. Sesaat kemudian, sang bocah itu dengan wajah lugunya menceritakan bahwa ia hanya mendapat ongkos dari sang pemilik sepatu sebesar Rp 8.000. Uang itu lalu dibagi bertiga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu bocah yang rada ngotot, karena merasa pekerjaan yang ia kerjakan lebih banyak dibanding rekannya yang lain. Apalagi, kalau tugasnya hanya mengantar sepatu yang sudah mengkilat ke pemiliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balada ketiga bocah penyemir semir itu membuat saya tertawa geli. &lt;br /&gt;Kebetulan, siang kemarin saya duduk tak jauh dari mereka. Sesekali saya tersenyum, melihat ulah sang bocah. Apalagi, uang Rp 5.000 yang sengaja ia buang, mulai didekati. Ketika kedua rekannya lengah, uang itu secepat kilat diambilnya, lalu dimasukan ke dalam kantongnya. &lt;br /&gt;Saya tertawa geli melihat ulah sang bocah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, bocah-bocah itu sudah mengenal ketidakjujuran, sudah mengenal bagaimana caranya 'ngentit' duit, sudah mengenal bagaimana trik menipu bahkan mengkhianati rekannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakanya lagi, seorang rekannya yang sudah bersusah payah mendapatkan order, dan bekerja dengan sungguh-sungguh, hanya mendapatkan uang Rp 1.000. Sedangkan, bocah lainnya bermodalkan kain gombal dapat jatah Rp 2.000. Nah, yang tugasnya mengantar sepatu malah dapat jatah besar Rp 10.000. Itupun yang Rp 5.000-nya berasal dari uang hasil ngentit.&lt;br /&gt;                            ***&lt;br /&gt;PUAS 'mengkadali' rekannya, bocah itu menghampiri saya. "Semirr... Om..." katanya sedikit memelas. Untuk menguji kejujurannya, saya lepas sepatu. "Nih... semir yang baik ya..." Belum sempat sepatu itu dibawa ke rekan-rekannya untuk disemir secara keroyokan, saya merogoh beberapa lembar uang, tanpa menghitung berapa nilai nominalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sontak, bocah itu lari menuju ke rekan-rekannya, keluar coffee. Saya amati lagi perilakunya. Kali ini bocah itu jujur. Lembaran uuang itu ditebar ke lantai, lagi dibagi sama rata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, saat mereka hendak menyemir sepatu, mendadak ketiganya kabur. "Lariiiiiiiii....," teriaknya. Hah? Saya terbenggong... "Lho... ada apa ini?" Sepasang sepatu itu mereka telantarkan begitu saja. &lt;br /&gt;Seorang wanita penjaga coffee, tersenyum bahkan sedikit tertawa melihat ulah mereka. Secepat kilat ketiga bocah itu angkat kaki. Yang tersisa hanya sepercah kain gombal.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Duh.. kasihan...." kata sang pelayan coffee. "Kenapa?" tanya saya. "Mungkin mereka takut sama petugas bandara yang lewat tadi." Oh.... elok benar. Sepengetahuan saya, petugas bandara tadi hanya melintas saja dan tak terlihat merazia para penyemir sepatu yang bertebaran di bandara. Pikir saya, mungkin sebentar lagi para bocah penyemir itu kembali datang, lalu melaksanakan tugasnya kembali, menyemir sepasang sepatu milik saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alamaaakkk.... ! Setengah jam ditunggu-tunggu, ketiga bocah itu tak menampakan batang hidungnya. Sementara sepatu saya yang harusnya sudah 'disulap' menjadi sepatu yang licin, tak jelas rimbanya. &lt;br /&gt;Untung ada petugas coffee yang mengingatkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak... itu sepatu bapak yang tercecer di lantai sebelah sana." "Hah...?" Astaga.... Untung wujud sepatu itu masih ada. Seandainya sepatu itu raib digondol ketiga bocah mbetik, wow... saya bisa nyeker nih... He... he...he... Lagi-lagi saya tersenyum. Sepatu itu lalu saya ambil dan saya pakai kembali.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebelum pulang, ternyata nikmat juga ya 'dikadali' bocah-bocah. Tak ada rasa jengkel, sakit hati, apalagi dendam pada mereka. Lagi-lagi saya kembali tertawa. Ternyata, untuk menyambung hidup saja, repotttt.... dan harus melepaskan tanggung jawab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikan bocah-bocah itu bertemu saya kembali, saya akan mengelus-elus kuncung rambutnya sambil tersenyum dan tertawa lebar karena 'keelokan' perilakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa saya tersenyum dan tidak marah? Kejadian itu adalah ayat dari Tuhan. Maknannya? Siapapun yang diberikan amanah, harus bisa memegang amanah yang dibebankan di pundaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, soal konsistensi bahwa antara ucapan dan perbuatan harus sama. Tidak boleh inkonsisten karena bisa merugikan manusia lain. Ketiga, ternyata ketidakjujuran pun sudah melanda bocah-bocah yang seharusnya mereka bakal menjadi pemimpin bangsa.....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-2107984648562206697?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/2107984648562206697/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=2107984648562206697&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/2107984648562206697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/2107984648562206697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2011/07/balada-3-bocah-penyemir-sepatu.html' title='Balada 3 Bocah Penyemir Sepatu'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-1401787693035670774</id><published>2011-07-16T13:53:00.005+07:00</published><updated>2011-07-16T14:01:14.044+07:00</updated><title type='text'>Menorehkan Nama Harum</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: Achmad Subechi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DITENGAH maraknya isu KKN dan rasa keadilan yang semakin menjauh (lemahnya penegakan supremasi hukum), belakangan muncul isu reshuffle kabinet. Entah siapa yang menghembuskan isu itu, namun yang jelas sejumlah nama yang bakal lengser sudah mulai bertebaran di media. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang bilang wacana reshuffle sengaja dihembuskan untuk mengalihkan isu Century, Nazaruddin, kasus Sesmenpora dan berbagai macam isu KKN lainnya. "Lontaran isu reshuffle itu selalu jadi balsem untuk mengalihkan isu strategis. Saya nggak terlalu percaya SBY berani mengambil langkah itu. Apalagi sekarang ini Demokrat sedang terancam dan dia butuh meyakinkan banyak pihak," ujar pengamat politik yang juga akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Arie Sudjito.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ada juga yang mengait-ngaitkan isu reshuffle itu dengan kinerja para menteri. Awal Juli lalu, UKP4 melakukan evaluasi. Hasilnya cukup mengejutkan. Hanya 50 persen saja kementerian yang menjalankan instruksi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). &lt;br /&gt;Kuntoro menyatakan, dari 34 menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid 2, sebanyak 17 menteri dinilai memiliki kinerja buruk dan kurang rajin sehingga roda pemerintahan pun tidak berjalan efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temuan itu juga diungkap SBY kepada para menterinya. Menurut SBY dari instruksi yang diberikannya, realisasinya masih kurang 50 persen. "Karena saya sudah dapatkan laporannya kurang dari 50 persen dari yang saudara laksanakan," ujar SBY dalam sidang paripurna kabinet, di kantornya, Kamis (7/7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SBY meminta supaya masalah-masalah yang berada di setiap jajaran diketahui. Mana yang tidak bergerak dan yang sudah ditindaklanjuti. Karena dia mengaku khawatir jika instruksi-instruksi tersebut malah dilupakan, tidak diimplementasikan dengan baik. "Saya khawatir sebagian dari kita tidak ingat ada instruksi, apalagi tertulis," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa instruksi presiden tidak dijalankan? Benarkah terjadi 'pembangkangan'? Atau ethos kerja menteri-menteri kita memang seperti itu? 'Pembangkangan' rasa-rasanya tidak mungkin. Semua menteri walau berasal dari berbagai macam warna, loyalitasnya sampai saat ini masih okey. Beda di era Orde Baru dulu. Menjelang runtuhnya kekusaan Soeharto, setidaknya ada 14 menteri yang mendadak mengundurkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mengapa hanya 50 persen menteri yang menjalankan isntruksi presiden? Bisa jadi, hal ini terjadi karena orientasi para menteri menjelang 2014 sudah bergeser. Tak dapat dipungkiri, 'pundi-pundi' harus sudah diisi sebelum pesta demokrasi digelar. Partai yang tak memiliki 'pundi-pundi' cukup banyak, dijamin pasti keok alias kalah, karena untuk menduduki kursi kekuasaan membutuhkan dana yang besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jika asumsi itu benar, kita semua bisa membayangkan, apa yang akan terjadi pada bangsa ini kedepan jika semua menteri terjebak kepentingan pribadi maupun kelompoknya. Bangsa yang besar dengan sumber daya alam berlimpah dan memiliki luas wilayah yang luar biasa, tak bisa dibiarkan begini terus-menerus. Kita semua harus merubah cara pandang kita dan cara berpikir kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika cara pandang kita sudah benar dengan menggunakan mata hati, maka kedepan apa yang kita lakukan akan menuai hasil yang baik. Bukan menuai aib atau malapetaka buat anak-anak bangsa yang akan menjadi pewaris negeri ini. Mari kita torehkan nama yang harum di bumi pertiwi dengan meninggalkan sejuta anggan. Anggan yang bisa memberikan spirit baru buat bangsa ini, bukan anggan yang dangkal atau sempit...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-1401787693035670774?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/1401787693035670774/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=1401787693035670774&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/1401787693035670774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/1401787693035670774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2011/07/menorehkan-nama-harum.html' title='Menorehkan Nama Harum'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-5163902311653703606</id><published>2011-07-07T13:02:00.000+07:00</published><updated>2011-07-07T13:04:25.878+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-cgYqHKjYZgE/ThVMT5SyDRI/AAAAAAAAAmI/6hcYiLJGdMo/s1600/citradiri2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-cgYqHKjYZgE/ThVMT5SyDRI/AAAAAAAAAmI/6hcYiLJGdMo/s200/citradiri2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5626487214150126866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: Achmad Subechi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HANYA dua kata. Citra diri. Kedengarannya dua kata  tersebut sepele dan tak bermakna apa-apa. Namun,  kalau mau ‘dibedah’ atau diselami lebih dalam, justru  dua kata ini bisa mengangkat harkat dan martabat  manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, citra diri seseorang bisa runtuh  seketika, manakala ia tak lagi eling alias lalai.  Kelalaian akan melahirkan kesembronoan. Mereka yang  sembrono pasti akan celaka. Bahkan, mereka yang sudah  terangkat derajatnya, akan terjun bebas dari kursi  tertingginya (top event moment).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era kekinian, dua kata ini sangat penting. Ketika  citra diri seseorang naik, maka lahirlah trust atau  kepercayaan. Ketika kepercayaan sudah terbangun, maka  jaringan (network) semakin luas. Manakala jaringan  sudah ada di tangan, dapat dipastikan manusia lebih  bisa hidup dibanding mereka yang tak memiliki  network.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin, Riset Lingkaran Survei Indonesia (LSI)  menyebutkan, kepuasan publik atas kinerja Presiden  SBY terus melorot. Salah satu penyebabnya adalah  sikap reaktif SBY jika diserang isu dengan  menyampaikan curhat di depan publik. SBY pun diminta  menghentikan politik pencitraan dengan cara curhat  seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaiknya yang seperti itu (curhat) dihentikan saja.  Karena ini adalah politik pencitraan dan masyarakat  sekarang sudah sadar ditipu politik pencitraan,  politik persepsi,” kata analis politik dari Undip M  Yulianto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, hingga Pemilu 2009 lalu, elektoral masih  dikendalikan persepsi citra publik dengan kekuatan  media dan kekuatan publik. Puncak dari politik  pencitraan adalah publik yang merasa tertipu. Padahal  kepemimpinan sejati tidak memerlukan politik  pencitraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Publik yang merasa tertipu dengan curhat itu  menunjukkan titik balik dari pencitraan. Saya  berharap jangan karena pencitraan instan, lalu  masyarakat menjadi tertipu,” imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil riset itu, lagi-lagi bertitik tolak pada dua  kata (citra diri). Dimana-mana, citra diri itu  terbentuk tak jauh dari perilaku kita sebagai  manusia. Ketika peilaku seseorang terjaga, terkontrol  dan mudah dikendalikan oleh diri sendiri, maka citra  positif akan melekat pada diri seseorang.  Sebaliknya, bagi mereka yang tak mampu menguasai  perilaku, maka yang terjadi adalah celaka alias  musibah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga manusia yang berusaha membentuk citra  dirinya sebaik mungkin. Biasanya, dibalik pembentukan  citra diri itu ada sesuatu yang kadangkala manusia  lain tak bisa memahaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu (kepentingan) itu akan terungkap pada saat  seseorang sudah berhasil meraih titik impiannya.  Misalnya, perebutan kursi kekuasaan. Saat kekuasaan  sudah berada di tangan, manusia cenderung ora eling  alias lupa dengan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum terkena penyakit lupa, ada baiknya kita semua  sering melakukan kontemplasi. Siapa sesungguhnya diri  kita ini? Dulu kita ini siapa? Sekarang kita berdiri  di sebelah mana dan kedepan mau melangkah kemana?  Sudahkah kita berbuat yang terbaik buat bangsa ini?  Kalau belum, mari kita bekerja dengan baik dan benar  serta profesional dalam bidang masing-masing demi  bangsa yang kita namakan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum citra diri bangsa kita semakin menurun, sudah  saatnya kita semua merapatkan barisan, melakukan  konsolidasi lalu membuat komitmen baru bahwa bangsa  ini adalah bangsa yang mengutamakan kejujuran, bukan  bangsa yang selalu memanfaatkan kesempatan untuk  kepentingan pribadi maupun kelompoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menegakkan integritas (kejujuran) tak hanya diajarkan  kepada bocah-bocah yang masih duduk di bangku sekolah  dasar, tetapi justru gerakan penyadaran itu harus  dimulai dari level para pejabat negara dan  bawahannya.  Memang sulit mengajak para penguasa untuk memasuki  wilayah kesadaran baru -–dapat dipercaya, memegang  teguh amanat dan jujur terhadap dirinya sendiri  maupun kepada rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya kesadaran manusia mulai tumbuh, setelah  terjepit oleh berbagai masalah atau ketika manusia  sudah berada di balik jeruji besi tanpa ada teman dan  kawan yang mau peduli dengan persoalan yang tengah  dihadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mumpung belum terlambat, mari kita semua berdiam diri  sebentar, tafakur dengan niat melakukan pembaharuan  dan perubahan terhadap sikap kita yang mungkin selama  ini keliru atau sengaja memelesetkan diri karena aji  mumpung. Sekali lagi menjaga dua kata (citra diri)  tak semudah mencari jarum di tengah ilalang…..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-5163902311653703606?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/5163902311653703606/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=5163902311653703606&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/5163902311653703606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/5163902311653703606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2011/07/oleh-achmad-subechi-hanya-dua-kata.html' title=''/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-cgYqHKjYZgE/ThVMT5SyDRI/AAAAAAAAAmI/6hcYiLJGdMo/s72-c/citradiri2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-3931007743102764607</id><published>2011-07-07T12:40:00.004+07:00</published><updated>2011-07-07T12:48:37.799+07:00</updated><title type='text'>Permen dari sang penguasa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-uWjC0zf-aN4/ThVHcRuQiiI/AAAAAAAAAmA/bF7c85D16wI/s1600/permen-karet.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-uWjC0zf-aN4/ThVHcRuQiiI/AAAAAAAAAmA/bF7c85D16wI/s200/permen-karet.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5626481860588636706" /&gt;&lt;/a&gt;   &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: Achmad Subechi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMERINTAH Susilo Bambang Yudhoyono  (SBY)-Boediono bikin kejutan. Di bulan Juli 2011 kali ini, pemerintah akan bagi-bagi 'bonus' berupa gaji ke 13. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana itu tertuang dalam Peraturan Pemerintah No 33 Tahun 2011 tentang Pemberian gaji/pensiun/tunjangan bulan ketiga belas disebutkan, para pejabat negara juga mendapatkan gaji yang sama.&lt;br /&gt;Ternyata tidak hanya Pegawai Negeri Sipil (PNS), Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri saja yang bakal menerima gaji ke 13 (bulan ketiga belas).&lt;br /&gt;Para pejabat negara juga mendapatkan gaji yang sama. Mereka adalah Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, dan Wakil Presiden RI Boediono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu pemerintah juga memberikan gaji ke 13 kepada anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan DPR RI, anggota Mahkamah Konstitusi, Hakim Agung, hakim pada Badan Peradilan Umum, Peradilan Tata Usaha Negara, Peradilan Agama, Peradilan Militer dan Hakim yang dipekerjakan untuk tugas peradilan (yustisial).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu saja. Hakim Pengadilan Pajak, anggota Badan Pemeriksa Keuangan, anggota KPK, anggota Komisi Yudisial, para menteri dan pejabat setingkat menteri, kepala perwakilan RI yang berkedudukan sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh, gubernur dan wakil gubernur, bupati/Walikota dan wakilnya, juga mendapatkan hak yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah juga memberika gaji ke 13 kepada pensiunan PNS dan mantan pejabat. Kementerian Keuangan memastikan 4,7 juta PNS akan mendapatkan gaji ke-13 bulan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa pemerintah bagi-bagi 'bonus'? Filosofinya adalah bahwa pemerintah berkewajiban meningkatkan kesejahteraan pegawai negeri, pejabat negara, dan penerima pensiun/tunjangan sebagai wujud apresiasi atas prestasi dan pengabdian mereka pada&lt;br /&gt;bangsa dan negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pemberian gaji/pensiun/tunjangan bulan ketiga belas merupakan salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan.&lt;br /&gt;Benarkah dengan gaji ke 13 tersebut kinerja abdi negara akan meningkat? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara soal kinerja tak lepas dari apa yang dinamakan ethos kerja. Asumsi yang dibangun belakangan ini menyebutkan, kinerja seseorang akan meningkat ketika kesejahteraannya terjamin. Benarkah asumsi itu? Di banyak negara, ternyata kesejahteraan bukan salah satu cara untuk meningkatkan kinerja seseorang. Banyak variabel yang mempengaruhinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu contoh, di India, seorang pengusaha mengeluh. Kesejahteraan sudah ditinggikan, bahkan semua karyawan setiap hari diberi makan gratis. Tetapi apa yang terjadi? Kinerja merek selalu saja menurun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usut punya usut, penyebabnya ada pada level menengah yang ternyata tidak mampu memimpin atau memanage bawahannya. Mereka  cenderung arogan, tidak terpuji, bahkan sewenang-wenang. Penyebab kedua, ternyata para karyawannya tak memiliki visi. Terpenting dibayar dan bekerja sesuai argo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, terkait dengan political will dari pemerintah (permen) yang memberikan gaji ke 13, kita semua berharap, abdi negara kedepan bekerja dengan tulus, ikhlas dan berusaha memberikan yang terbaik buat bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga level menengah, mampu memberikan contoh yang baik kepada bawahannya, sehingga spirit postif yang dibangun, selaras dengan keinginan penguasa yang selalu berusaha mensejahterakan abdi negaranya, ditengah kebutuhan manusia yang kian hari kian tinggi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-3931007743102764607?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/3931007743102764607/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=3931007743102764607&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/3931007743102764607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/3931007743102764607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2011/07/permen-dari-sang-penguasa.html' title='Permen dari sang penguasa'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-uWjC0zf-aN4/ThVHcRuQiiI/AAAAAAAAAmA/bF7c85D16wI/s72-c/permen-karet.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-635102890229174450</id><published>2011-07-07T12:34:00.002+07:00</published><updated>2011-07-07T12:49:40.065+07:00</updated><title type='text'>Kebutuhan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-cKNUZoS15co/ThVGR58BZcI/AAAAAAAAAl4/EYLuIDVsGLw/s1600/pelajar.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-cKNUZoS15co/ThVGR58BZcI/AAAAAAAAAl4/EYLuIDVsGLw/s200/pelajar.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5626480582893594050" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: Achmad Subechi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;HARI-hari belakangan ini, para orang tua mau tidak mau harus mengencangkan ikat pingang. Pertama, ada biaya yang harus dikeluarkan buat sang buah hati hanya untuk memenuhi kebutuhan refreshing sang anak pada saat musim liburan seperti ini. &lt;br /&gt;Kedua, pemenuhan kebutuhan sekolah, mulai dari pembelian buku, baju seragam dan segala tetek bengeknya. Selain itu ada juga orang tua yang rada pening, lantaran harus memasukan sekolah anaknya ke jenjang yang lebih tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendek kata, minggu-minggu ini, uang melulu. Semuanya tak lain demo sang buah hati. Namanya saja buah hati. Ia selalu diidam-idamkan manusia. Ketika sang buah hati mulai membutuhkan biaya, mau tidak mau orang tua harus banting tulang, hanya semata-mata untuk mencerdaskan sang anak agar kedepan menjadi manusia berguna, bermanfaat buat dirinya sendiri, anggota keluarganya dan orang lain. Bukan, anak yang selalu ngandoli orang tua hingga dewasa. Jika itu yang terjadi, orang tua selalu merasa terbebani di usia senjanya. &lt;br /&gt;Terkait dengan soal urusan dunia persekolahan, pada musim pendaftaran sekolah, pungutan liar dikhawatirkan bakal marak terjadi. Alasannya pihak sekolah macam-macam. Mulai dari pembelian buka, seragam sekolah hingga sumbangan sukarela untuk pembangunan gedung dan pemenuhan sarana dan prasarana sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendiknas Muhammad Nuh meminta agar masyarakat waspada dan tak segan mengadukan jika ada praktik tersebut. "Intinya satu untuk pendidikan dasar SD dan SMP Negeri tidak boleh ada pungutan yang dikaitkan dengan penerimaan siswa baru. Itu sudah kami teken bersama antara saya dan Pak Suryadharma Ali," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Nuh, jika ada praktik liar tersebut, masyarakat bisa mengadu ke Kemendiknas. Salah satu caranya dengan mengirim SMS, email, atau telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pendidikannya tingkat wajib, kalau ada silakan laporkan ke posko aduan masyarakat. Kalau ada di mana saja, negeri, kalau dia pungut laporkan, kita akan berikan tindakan tegas," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Telepon 177 itu langsung ke Diknas, atau sampakan ke email tapi saya nggak hapal, sepertinya aduan@kemdiknas.go.id, telepon ada juga tapi saya nggak hapal," tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Mendiknas sudah bener. Jauh-jauh hari ia sudah mewanti-wanti. Akankah harapan sang Mendiknas terpenuhi? Kita semua berharap, aturan main yang ideal itu bisa tercipta sehingga tak lagi membenani para orang tua yang hidupnya semakin hari kian terhimpit. &lt;br /&gt;Nah agar apa yang diimpikan Pak Mendiknas itu tercapai, maka mau tidak mau harus ada pengawasan. Pengawasan ini tak hanya dilakukan sehari setelah siswa masuk sekolah, tetapi harus dipantau secara berkelanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman membuktikan, pungutan akan muncul setelah tiga bulan sang anak bersekolah. Dengan berbagai macam alasan, para orang tua sekolah dikumpulkan kepala sekolah lalu mendapat penjelasan tentang program sekolah, tata tertib dan ujung-ujungnya kembali ke rusan rupiah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu lahirlah wacana berupa sumbangan sukarela. Ketika para orang tua sepakat memberikan sumbangan sukarela, maka angkanya pun mulai ditentukan. Misal, paling rendah Rp 2 juta rupiah per siswa.&lt;br /&gt;Akankah budaya semacam ini masih saja akan terjadi walau pemerintah sudah berusaha meringankan beban orang tua? Semuanya kita kembalikan lagi kepada pihak pengelola sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah sekolah tempat anak-anak kita mencari ilmu orientasinya menciptakan kader-kader bangsa yang memiliki intelektual, integritas dan visi yang baik dalam mengelola negeri ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika benar, kita musti percaya bahwa sekolah yang seperti itu, tak lagi menggunakan pendekatan materialistik, tetapi lebih mengedepankan hasil, menciptakan anak-anak bangsa yang hebat dan kedepan mampu mengelola negeri ini menjadi lebih baik lagi...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-635102890229174450?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/635102890229174450/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=635102890229174450&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/635102890229174450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/635102890229174450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2011/07/kebutuhan.html' title='Kebutuhan'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-cKNUZoS15co/ThVGR58BZcI/AAAAAAAAAl4/EYLuIDVsGLw/s72-c/pelajar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-7673093072499209582</id><published>2011-07-07T12:27:00.003+07:00</published><updated>2011-07-07T12:52:45.260+07:00</updated><title type='text'>Kesejahteraan Prajurit</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-rDoGo1CXdv0/ThVE6Fc9QDI/AAAAAAAAAlw/a6MHA5tAdVA/s1600/prajurit_tni_ilustrasi_100930150253.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 144px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-rDoGo1CXdv0/ThVE6Fc9QDI/AAAAAAAAAlw/a6MHA5tAdVA/s200/prajurit_tni_ilustrasi_100930150253.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5626479074156036146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: Achmad Subechi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;AKHIRNYA teka-teki siapa Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) yang bakal menggantikan Jenderal George Toisutta, terjawab sudah. &lt;br /&gt;Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah memutuskan Letjen TNI Pramono Edhie Wibowo sebagai KSAD. Pelantikan Pramono akan digelar Kamis (30/6) hari ini di di Istana Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Besok rencananya pukul 14.00 WIB, akan dilantik. Pelantikan dipimpin presiden langsung di Istana Negara," ujar Mensesneg Sudi Silalahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudi memastikan keputusan presiden SBY untuk memilih Pramono Edhie didasarkan pada prestasi, track record dan jenjang karir yang bersangkutan. Sudi membantah bila ada unsur nepotisme dalam pemilihan ipar SBY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak Pramono juga pernah jadi ajudan Presiden Megawati. Dan untuk menjadi ajudan presiden itu tidak mudah, ada tes yang harus dilewati," terang Sudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya Pramono menjabat sebagai Panglima Komando Strategi TNI Angkatan Darat (Kostrad). Dengan menduduki pos baru yang sangat strategis, peluang Pramono untuk menjadi pemimpin bangsa makin terbuka lebar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa? Ada banyak tokoh di TNI AD yang akhirnya menjadi pemimpin bangsa setelah menduduki kursi KSAD. Misalnya, Jenderal TNI Try Sutrisno (mantan wapres). Ia pernah menjadi Wakil KSAD. Ada beberapa nama lainnya seperti Jenderal TNI AH Nasution, Jenderal TNI Umar Wirahadikusuma (mantan Wapres), Jenderal Rudini (mantan Mendagri), Jenderal TNI Edi Sudrajat (mantan Panglima ABRI/ Menteri Pertahanan dan Keamanan), Jenderal TNI R Hartono (mantan Menteri Komunikasi dan Informasi), Jenderal TNI Tysano Sudarto, Jenderal TNI Endriartono Sutarto, Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Jenderal TNI Wiranto dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu benarkah ada skenario mendorong Letjen TNI Pramono Edhie Wibowo ke kursi kekuasaan yang lebih tinggi? Kita masih ingat, beberapa waktu lalu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah memberikan pernyataan penting. Diantaranya adalah soal pencalonannya kembali pada Pilpres 2014. "Saya memperkenalkan diri. Nama saya Susilo Bambang Yudhoyono. Jabatan saya, Presiden hasil pemilu 2004-2009. Saya bukan capres 2014. Istri dan anak-anak saya juga tidak akan mencalonkan diri," kata SBY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu artinya tak ada satupun klan dari SBY yang akan tampil di 2014. Lalu bagaimana dengan klan Ny Ani Bambang Yudhoyono? Terlepas dengan munculnya pro dan kontra atas keputusan SBY yang telah menunjuk adik iparnya, kita sebagai bangsa Indonesia berharap Letjen TNI Pramono Edhie Wibowo mampu memimpin TNI AD dengan baik dan benar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kepemimpinannya, TNI AD diharapkan kedepan semakin profesional. Profesional artinya tidak hanya menyangkut sumber daya manusianya saja, tetapi juga alat utama sistem senjata (alutista) kita yang mungkin belum terlalu cangih, terutama dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih penting lagi adalah soal kesejahteraan prajurit yang tingkat kebutuhan hidupnya kian hari semakin tinggi. Semoga KSAD yang baru mampu menyelesaikan persoalan-persoalan yang mendasar dan selama ini dirasakan para prajurit TNI AD. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-7673093072499209582?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/7673093072499209582/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=7673093072499209582&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/7673093072499209582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/7673093072499209582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2011/07/kesejahteraan-prajurit.html' title='Kesejahteraan Prajurit'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-rDoGo1CXdv0/ThVE6Fc9QDI/AAAAAAAAAlw/a6MHA5tAdVA/s72-c/prajurit_tni_ilustrasi_100930150253.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-1762174170920432737</id><published>2011-07-07T12:23:00.002+07:00</published><updated>2011-07-07T12:27:06.761+07:00</updated><title type='text'>Terlambat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-nWngwWMJTmU/ThVDnuPYWpI/AAAAAAAAAlo/6b3Fod_nSv4/s1600/bubur.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 167px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-nWngwWMJTmU/ThVDnuPYWpI/AAAAAAAAAlo/6b3Fod_nSv4/s200/bubur.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5626477659175803538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERLAMBAT....! Terlambat adalah buah dari mengampangkan atau meremehkan persoalan. Orang Jawa bilang, sembrono. Sembrono biang dari malapeta, akibat kita sselalu menepikan ketidakhati-hatian atau kekurangcermatan (kurang sigap). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kesigapan sudah diremehkan yang terjadi adalah bola panas. Ketika bola panas itu  menggelinding tanpa arah, semuanya menjadi panik, cemas bahkan gelisah. Apalagi bola itu menghantam semua lini, tanpa bisa dibendung oleh sang penjaga gawang kelas wahid sekalipun.&lt;br /&gt;Adalah Muhammad Nazaruddin. Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat itu kini tak lagi diketahui rimbanya, setelah kabur ke Singapura. Mabes Polri mendapat tugas berat dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Instruksi itu keluar sehari setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Nazaruddin menjadi tersangka kasus dugaan suap di Kemenpora. Melalui Juru Bicara Presiden, Julian Aldrin Pasha, Presiden menyatakan telah memerintahkan Kapolri Jenderal Timur Pradopo untuk menangkap Nazaruddin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasi sudah menjadi bubur. Nazaruddin kini dikabarkan tak lagi berada di Singapura. Bahkan, nama dan foto Nazaruddin sudah terpampang di website Interpol. 'Wanted Nazaruddin, Muhammad'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya lagi, dari tempat persembunyiannya, Nazaruddin kerap melempar bola panas menuding rekan-rekan separtainya menerima dana. Bahkan, ia tak segan-segan melakukan kontra intelijen hanya untuk membersihkan namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena Nazaruddin tidak akan mencuat kalau seandainya aparatur negara mampu menjaga rahasia terkait dengan rencana keluarnya surat cekal yang diajukan KPK ke Ditjen Imigrasi. Buktinya, sehari sebelum surat cekal itu turun, Nazar sudah kabur ke Singapura dengan alasan berobat. Terlambat...! Kita semua selalu terlambat bertindak. Keterlambatan bertindak itu terjadi karena pola pikir kita yang kadang terlalu cekak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti para koruptor lainnya. Setidaknya selama reformasi bergulir, ada 45 koruptor yang kabur ke luar negeri. Kenapa kita selalu terlambat? Atau jangan-jangan keterlambatan mencegah koruptor kabur ke luar negeri adalah bagian dari sebuah skenario? Lalu benarkah dibalik skenario ada kongkalikong? Kita semua tidak tahu. Tapi yang pasti nasi sudah menjadi bubur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman kaburnya 45 koruptor ke luar negeri, rasa-rasanya tak pernah diambil hikmahnya atau bahkan dijadikan bahan pelajaran untuk melakukan langkah antisipasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini semua pihak kebakaran jengot. Saling tuding, saling menyalahkan, saling sodok, saling hantam, seakan menjadi tradisi baru bagi bangsa ini dalam setiap kali menghadapi persoalan. Lalu lahirlah kambing hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh ironi....! Tapi itulah fakta, fakta yang kadang membuat kita geli, fakta yang bisa membuat manusia menjadi kontraproduktif manakala semuanya berjalan terlambat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai jurus akhirnya dikeluarkan seperti langkah yang dilakukan Menkumham Patrialis Akbar. Ia memastikan, paspor Nazaruddin sudah dicabut. Pencabutan paspor sudah diberitahukan ke seluruh Perwakilan Indonesia di luar negeri. Langkah ini sama dengan yang terjadi pada Nunun Nurbaeti, tersangka kasus dugaan suap pemilihan Deputi Gubernur Senior BI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya? Sampai saat ini interpol tak mampu menemukan tempat persembunyian Nunun dan Nazaruddin. Sekali lagi, kita selalu ketinggalan kereta....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-1762174170920432737?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/1762174170920432737/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=1762174170920432737&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/1762174170920432737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/1762174170920432737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2011/07/terlambat.html' title='Terlambat'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-nWngwWMJTmU/ThVDnuPYWpI/AAAAAAAAAlo/6b3Fod_nSv4/s72-c/bubur.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-6531402896412158108</id><published>2011-06-09T20:36:00.004+07:00</published><updated>2011-06-10T11:21:54.264+07:00</updated><title type='text'>Hadiahnya Makan Gratis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-BIGtkJU24sA/TfGb2mL3-BI/AAAAAAAAAlg/PWxRMhGWvqU/s1600/IMG_7676.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 266px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-BIGtkJU24sA/TfGb2mL3-BI/AAAAAAAAAlg/PWxRMhGWvqU/s400/IMG_7676.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5616441572573313042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-8yl_tfnTPEw/TfGaFDX_7UI/AAAAAAAAAlQ/ZCURcUMz-X4/s1600/_AMI4436.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 133px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-8yl_tfnTPEw/TfGaFDX_7UI/AAAAAAAAAlQ/ZCURcUMz-X4/s200/_AMI4436.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5616439621903707458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;SUASANA kantor redaksi Tribun Kaltim, Kamis (9/6) malam mendadak heboh. Semua mata memandang Trophy Indonesia Print Media Award (IPMA) 2011 yang ditaruh di atas meja redaksi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trophy berupa kerucut gulungan cover (sampul) muka koran Tribun Kaltim edisi 29 Oktober 2010, ditancapkan pada kayu bubut berbentuk setengah bola. Di bagian samping kayu tertulis 'Silver Winner The Best Kalimantan Regional Newspaper'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang mengabadikannya dengan kamera, ada juga yang sekedar mengamati bentuk desainnya. Tak hanya itu, beberapa karyawan mulai dari wartawan, redaktur hingga tenaga lay out, terlihat mengangkat-angkat trophy ke atas seperti pemain sepak bola yang selesai memenangkan pertandingan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mendapatkan Silver Winner, maka lengkaplah anugerah penghargaan yang telah diraih Tribun Kaltim. Tahun lalu, Tribun Kaltim meraih dua trophy sekaligus, Gold Winner dan Bronze Winner The Best Kalimantan Regional Newspaper.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trophy kali ini diserahkan langsung oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Serikat Perusahaan Pers (Dulu bernama Serikat Penerbit Suratkabar/SPS), Dahlan Iskan, Rabu (8/6) malam di Hotel Aston, Denpasar, Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin Perusahaan Tribun Kaltim, Zainal Abidin, sontak datang ke ruang redaksi memberikan ucapan selamat kepada Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim, Achmad Subechi yang kemarin sore baru tiba dari Bali membawa trophy kemenangan. "Selamat buat teman-teman redaksi yang telah bekerja keras dan berani melakukan inovasi, sehingga kita kembali mendapatkan trophy dari IPMA," tutur Zainal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas prestasi itu, Zainal menjanjikan akan memberikan hadiah kepada karyawan. Hadiahnya, rada unik. Apa? "Besok (Jumat) semua karyawan silakan makan di kantin&lt;br /&gt;yang dikelola koperasi. Enggak usah bayar.... Semuanya gratis. Ini semua kita lakukan sebagai rasa syukur atas prestasi yang telah diraih teman-teman," tutur Zainal. &lt;br /&gt;Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim, Achmad Subechi semalam sempat membreifing awak redaksi terkait dengan penghargaan yang berhasil diraih koran yang baru berusia delapan tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, prestasi yang diraih Tribun kali ini tak lepas dari hasil olah pikir para karyawan yang selama ini berani melakukan inovasi baik dari sisi tata perwajahan (desain) hingga content. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sejak awal kami memberikan kebebasan kepada para karyawan terutama di redaksi, untuk itu jangan berhenti melakukan inovasi. Jangan cepat puas atau bangga dengan prestasi yang telah kalian ukir. Sebaliknya, belajar dan belajarlah untuk berani menuangkan ide dan gagasan agar Tribun kedepan semakin berkembang dan diminati masyarakat Kaltim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini menurut Achmad Subechi, Tribun Kaltim, tidak pernah menghambat apalagi menghalang-halangi inovasi yang lahir dari pemikiran para karyawan. "Asal inovasi yang diciptakan ada argumentasinya dan bisa membuat perusahaan semakin berkembang. Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih kepada seluruh karyawan. Teruslah berkarya demi untuk perubahan," pesannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajang bergengsi kompetisi sampul muka media cetak se Indonesia, dinilai oleh empat juri. Mereka adalah Daniel Surya (chairman Southeast Asia DHM Idholland), Firman Ichsan (Fotografer dan Ketua Dewan Kesenian Jakarta), Desnaidi Aziz (VP Marcom PT Telkom Tbk) dan Prof Dr Ibnu Hamad (guru besar Ilmu Komunikasi UI). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menarik di acara pemberian anugerah IPMA kemarin. Ketua Umum SPS Dahlan Iskan, sempat menarik perhatian ratusan tamu undangan. Direktur PLN itu, didaulat berjoget bersama CEO Kompas Gramedia (KG) Agung Adiprasetya. Sambil diiringi lagu Perahu Layar, Dahlan, terlihat serius berjoget. Kedua kakinya tampak lincah, lari kesana-kemari, sambil kedua tangannya bergoyang-goyang. "Apa nama jogetnya Pak?" tanya seorang MC kepada Dahlan Iskan. "Joget komando..." kata Dahlan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak cukup sampai disitu. Ketika lagu Poco-poco mengalun di seantero ruangan, Dahlan tanpa didaulat, bergegas naik ke atas panggung. Lagi-lagi ia berjoget. Kali ini jogetnya rada unik. Joget ala mencuci, memeras dan menjemur pakaian, membuat tamu undangan tertawa terpingkal-pingkal. (bec)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-6531402896412158108?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/6531402896412158108/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=6531402896412158108&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/6531402896412158108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/6531402896412158108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2011/06/hadiahnya-makan-gratis.html' title='Hadiahnya Makan Gratis'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-BIGtkJU24sA/TfGb2mL3-BI/AAAAAAAAAlg/PWxRMhGWvqU/s72-c/IMG_7676.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-3136252740607012345</id><published>2011-05-11T17:21:00.004+07:00</published><updated>2011-05-11T17:42:02.164+07:00</updated><title type='text'>Sewindu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-NYb78OW3r0o/Tcpn7tN6iuI/AAAAAAAAAk0/oJR-bJJqIK4/s1600/tribun.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 249px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-NYb78OW3r0o/Tcpn7tN6iuI/AAAAAAAAAk0/oJR-bJJqIK4/s400/tribun.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5605406961663904482" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Achmad Subechi&lt;br /&gt;(Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim)&lt;br /&gt;               &lt;br /&gt;RASANYA baru kemarin kami hadir di Kalimantan Timur, rasanya baru kemarin kami mencoba berbuat yang terbaik buat bangsa ini, rasanya baru kemarin kami melangkah bersama anak-anak bangsa, rasanya baru kemarin kami membangun spirit baru mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengangkat harkat dan martabat anak-anak bangsa dan rasanya baru kemarin Tribun Kaltim genap sewindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada kata lain yang bisa kami ucapkan di hari bahagia ini, kecuali rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi semua kenikmatan kepada kami. Hari ini 8 Mei 2011, Tribun Kaltim, tepat berusia delapan tahun atau sewindu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa ada perbedaan antara 8 tahun dengan sewindu? Beda dalam konotasi —-8 tahun faktual—- prosais, sedangkan sewindu berkonotasi periode yang berdimensi. Berdimensi untuk kita refleksikan secara khusus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama sewindu, kami tak dapat memungkiri bahwa Tribun Kaltim telah mencatat berbagai macam peristiwa yang terjadi di level nasional, regional bahkan internasional.&lt;br /&gt;Selama delapan tahun itupula, berbagai macam persoalan bangsa mulai dari maraknya aksi kekerasan terkait dengan demokrasi, sengketa tanah berakibat pada penggusuran, terorisme, korupsi, lemahnya supremasi hukum, menurunnya kepercayaan rakyat kepada penguasa dan lain sebagainya, telah kami rekam dan kami sajikan kepada pembaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca sendiri yang akan menilai, mengapa persoalan-persoalan itu muncul dan terus berdatangan. Apa solusinya dan sampai kapan negeri ini bebas dari berbagai macam 'penyakit' yang merugikan semua pihak? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal Tribun Kaltim berdiri di bumi Kalimantan Timur, kami ingin memberikan makna pada setiap berita yang kami sajikan. Diharapkan, lahir kesadaran baru dari masyarakat bahwa peristiwa-peristiwa yang tidak penting dan cenderung merugikan masyarakat (kontraproduktif), bisa dieliminir, sehingga ada waktu dan ruang untuk menatap masa depan yang lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sebuah bangsa 'dipaksakan' untuk memasuki ranah kontraproduktif yang terus-menerus, maka yang akan lahir adalah kecemasan, kegalauan, kesedihan, kegundahan dan ketidaan waktu untuk berpikir maju. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, ketamakan alias keserakahan, kedengkian, kemunafikan, kepicikan dan lain sebagainya, akan lebih dominan menguasai manusia. Semua 'penyakit' itu mau tidak mau akan memberikan warna terhadap perjalanan bangsa ini, terhadap generasi kita yang bakal memegang tongkat estafet..&lt;br /&gt;                                                             ***&lt;br /&gt;SUDAH delapan tahun kami berkarya bersama anak-anak muda (jurnalis) yang memiliki integritas tinggi, idealisme, ethos kerja yang bagus dan semangat dalam menciptakan perubahan (inovasi). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerja keras mereka tanpa mengenal lelah, telah membuahkan hasil yang patut dicatat dalam sejarah. Sebuah penghargaan bergengsi telah kami raih. Tahun lalu, Tribun Kaltim (Group of Regional Newspaper Kompas Gramedia) mendapatkan dua penghargaan Gold Winner dan Bronze Winner untuk katagori The Best Newspaper Front Page Design Regional Kalimantan, Pressmart Indonesia Print Media Award (IPMA) 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prestasi itu tak akan bisa kami raih kalau anak-anak muda yang bekerja di Tribun Kaltim, bekerja asal-asalan, tak bisa mengelola waktu dan tak berani melakukan inovasi. Inovasi ada di tangan mereka. Inovasi buah dari olah pikir mereka untuk selalu memberikan yang terbaik buat lembaga.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari inovasi, lahirlah prestasi. Prestasi buah dari apa yang kita kerjakan. Selama delapan tahun, kami telah membuka 'ladang'. 'Ladang' itu harus dirawat. Lalu kami pilih benih yang baik untuk disemai, bukan benih yang jelek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun, 'ladang' itu kami jaga bersama-sama dengan ethos kerja yang tinggi, kreatifitas dan sikap yang baik (berwatak baik). Ketika benih yang kami semai sudah mulai tumbuh, kami semua masih tetap menjaganya hingga ia menjadi pohon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar buah itu tak diambil orang, kami terus menjaganya siang malam dengan inovasi. &lt;br /&gt;Kedepan, mulai hari Senin (9/5) Tribun Kaltim hadir dengan 36 halaman. Ada empat halaman tambahan yang kami beri nama Urbanlife (satu paket dengan Superball). Urbanlife terbit dua kali dalam seminggu. Sedangkan sesi Weekend, terbit setiap hari Sabtu. Khusus untuk hari Minggu mendatang, kami akan menambah empat halaman, sehingga menjadi 32 halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penambahan halaman ini sebagai persembahan dan rasa syukur kami buat para pembaca. Selain itu, kami juga mengucapkan terima kasih kepada relasi redaksi dan iklan yang selama ini telah menjalin hubungan baik dengan Tribun Kaltim. Sekali lagi, kami ucapkan terima kasih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon itu kini sudah berbuah. Buahnya masih ranum... Esok, buah itu akan kami petik dan kami nikmati hasilnya agar lebih bermakna buat diri kami, keluarga kami dan orang lain.... (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-3136252740607012345?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/3136252740607012345/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=3136252740607012345&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/3136252740607012345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/3136252740607012345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2011/05/sewindu.html' title='Sewindu'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-NYb78OW3r0o/Tcpn7tN6iuI/AAAAAAAAAk0/oJR-bJJqIK4/s72-c/tribun.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-4257413359761507714</id><published>2010-07-29T20:53:00.001+07:00</published><updated>2010-07-29T20:56:27.474+07:00</updated><title type='text'>In Memoriam Muhammad Syaifullah (1)</title><content type='html'>Dihadiahi Topi dan Kaos...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAJI Muhammad Syaifullah, Kepala Biro Harian Kompas Kalimantan, Senin (26/7) pagi ditemukan meninggal di rumah dinasnya di Balikpapan, Kalimantan Timur. Ada kenangan yang tak bisa dilupakan Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim, Achmad Subechi, selama bergaul dengan pria murah senyum dan bersahaya. Berikut catatan Achmad Subechi yang ikut mengantar jenazah almarhum ke Kandangan, Banjarmasin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"POSISI dimana bos?" "Saya di Balikpapan." "Waktu bos ke Medan, saya sedang di Palembang." "Dalam rangka apa ke Palembang?" Ia tak menjawab. Chatting via Facebook itu pun terhenti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah komunikasi saya terakhir, kira-kira Sabtu (24/7) malam dengan Muhammad Syaifullah, Kepala Biro Kompas Kalimantan yang Senin (26/7) pagi lalu ditemukan meninggal di rumah dinasnya di Balikpapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya tanggal 14 Juni 2010, saya sempat menghubungi dia melalui telepon untuk menanyakan kehadiran dia pada acara resources policy yang diadakan Direktorat PSDM Kompas Gramedia di Hotel Santika Balikpapan, 15 Juni 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya, saya akhirnya bertemu Syaiful di lobi hotel. Sambil menunggu acara dimulai, saya sempat berbincang-bincang mengenai  inovasi-inovasi yang telah dilakukan Group of Regional Newspaper Kompas Gramedia (Persda). "Kenapa Persda membikin tribunnews.com? Apa maksudnya? Kan sudah ada Kompas.com?" tanyanya agak kritis kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu sengaja diajukan karena ia tahu saya adalah  pimpinan proyek (pimpro) tribunnews.com. Seperti biasa, saya kemudian menjelaskan panjang lebar falsafah dari proyek yang sudah berjalan sekitar lima bulan lalu.    &lt;br /&gt;                                     &lt;br /&gt;Selama ini saya mengenal Syaiful sebagai sosok wartawan yang memiliki integritas. Selain murah senyum, pria itu rendah hati dan enak kalau diajak bicara. Saya sendiri tak pernah mendengar ia mengeluh, terutama soal profesinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup terpisah dari keluarga adalah hal yang biasa bagi seorang wartawan. Dua anaknya, dan istrinya selama ini tinggal di Banjarmasin. Ia tinggal sendiri di rumah dinasnya di Balikpapan. Nasibnya, hampir sama dengan saya, hidup terpisah jauh dari anak dan istri.  &lt;br /&gt;                                         ***&lt;br /&gt;SENIN, 26 Juli 2010 pagi. Handphone saya berdering. "Mas... Mas Syaiful meninggal dunia di rumahnya. Saya tidak bisa kesana karena saya sendiri juga sedang dirawat di rumah sakit, mau operasi" kata M Wikan, fotografer Tribun Kaltim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, telepon kembali berdering. Kali ini, Redaktur Pelaksana Tribun Kaltim memberikan kabar yang sama. "Okey... silakan tunggu di kantor, saya segera meluncur." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan menuju rumah dinas Kompas, saya masih tidak percaya dengan kabar duka itu. Apalagi beberapa hari sebelumnya, saya sempat chatting dengan Syaiful. &lt;br /&gt;Mobil terus bergerak. Saya diam sesaat. Pekan lalu sebelum berangkat ke Balikpapan, saya melihat topi berwarna hitam berlogo Kompas tergeletak di ruang tamu. Topi itu sempat saya sentuh. Ada niat untuk memberikan ke orang lain, karena anak-anak saya tak pernah memakainya. Ketika topi itu hendak saya berikan, mendadak hati kecil saya berkata, "Kenapa diberikan? Kan ini topi pemberian Syaiful Kompas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, saya teringat wajahnya karena topi itu adalah pemberian dia setelah sukses membikin acara Jelajah Trans Kalimantan tahun 2009. Waktu itu ia sengaja datang ke kantor hanya untuk memberikan hadiah berupa topi dan kaos kepada saya.&lt;br /&gt;                                          ***&lt;br /&gt;SAAT tiba di TKP, suasananya tidak begitu ramai. Sepertinya tidak ada kejadian apapun. Saya melihat fotografer saya, Fahmi dan beberapa wartawan Tribun serta reporter dari sejumlah televisi nasional yang selama ini bersahabat dengan almarhhum. &lt;br /&gt;Ada juga beberapa petugas Satlantas Polresta Balikpapan dan reserse yang berjaga-jaga di sekitar TKP. Saya lalu masuk ke dalam rumah bersama Priyo Suwarno dan Kapolres Balikpapan AKBP A Rafik. Inna lillahi wa inna ilayhi raji'un, ternyata sahabat saya itu sudah pergi (meninggal) dengan menggengam remote televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kabar duka itu merebak, handphone saya tak henti-hentinya berdering. Para petinggi Kompas tetap saja masih tidak percaya. Mereka selalu saja menanyakan kebenaran informasi itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakil Pemimpin Redaksi Kompas Trias Kuncahyono, Markus Suprihadi (Managing Editor Kompas.com), Tri Harjono (Redaktur Humaniora), Hariadi (Redaktur Nusantara), Hengki (PSDM) dan sejumlah wartawan Kompas pagi itu juga terbang menuju Balikpapan.&lt;br /&gt;Sambil menunggu kedatangan mereka, saya menghubungi Pemimpin Redaksi Banjarmasin Post, Yusran Pare, agar membantu keberangkatan Ny Inainijah Sri Rohmani terbang ke Balikpapan bersama anak-anaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat meneteskan air mata ketika kali pertama mendengar suara Ny Inainijah yang meminta saya agar membantu proses pengiriman jenazah suaminya ke Banjarmasin. "Tolong Mas Bechi, urus suami saya. Jenazahnya akan kami makamkan di Kandangan, Banjarmasin," katanya.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar tak memakan waktu, saya meminta istrinya untuk membuat surat pernyataan dari pihak keluarga yang menghendaki jenazah almarhum untuk diotopsi. Surat itu difax ke kantor Tribun Kaltim. Setelah itu saya menghubungi Yayasan Kasimo untuk mengurus segala sesuatunya, termasuk pemberangkatan jenazah ke Kandangan, Banjarmasin.&lt;br /&gt;Sekitar pukul 14.30, Trias Kuncahyono dan Hariadi datang ke RS Bhayangkara, Balikpapan. Keduanya sempat melihat kondisi Syaiful di ruang kamar mayat bersama Kapolres Balikpapan AKBP A Rafik.&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(achmad subechi)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-4257413359761507714?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/4257413359761507714/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=4257413359761507714&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/4257413359761507714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/4257413359761507714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2010/07/in-memoriam-muhammad-syaifullah-1.html' title='In Memoriam Muhammad Syaifullah (1)'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-4782169832866879384</id><published>2010-06-10T17:17:00.000+07:00</published><updated>2010-06-10T17:18:29.225+07:00</updated><title type='text'>Dokumentasi ‘Keblinger’</title><content type='html'>SEORANG sahabat bertanya kepada saya melalui Facebook.  ”Kasus kayak gini kl terlalu di ekspos media malah bikin anak2 kita pengen liat, tp kl ga ekspos ga bikin pelakunya jera… trus gimana mas bec??” (Konteksnya adalah soal beredarnya video mesum dalam beberapa hari ini melibatkan publik figur/artis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana-mana orang membicarakan tontotan baru yang menjijikkan dan tak pantas diobral di negara yang penduduknya dikenal santun, ramah dan selalu menjunjung tinggi norma-norma. Di warung-warung, masyarakat mempergunjingkannya. Di terminal sama. Di kampung-kampung ibu-ibu mual-mual setelah melihat tontonan yang tak elok itu. Di kantor-kantor, semua karyawan tertawa ngakak. Sebagian ada yang mengelus dada, sedikit prihatin. “Ini adalah wilayah privasi… privasi seseorang…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setuju… setuju sekali bahwa ‘areal’ itu adalah wilayah privasi. Cuma, tak semua hal yang terkait privasi harus didokumentasikan dengan baik dan benar, ditengah-tengah masyarakat kita yang belum terbiasa menyimpan dokumentasi mengenai hari-hari bersejarah yang dialaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cekaknya ilmu pendokumentasian, mengakibatkan lahirnya ‘Dokumentasi Keblinger’. Ketika ‘Dokumentasi Keblinger’ ini bocor, implikasinya akan melahirkan keresahan sosial semacam ini. Berapa banyak para orang tua yang wanti-wanti betul dan terpaksa menemani anaknya nongkrong di meja komputer, khawatir salah klik. Ibu-ibu yang seharusnya waktunya terbuang untuk mengurusi persoalan rumah tangga, terpaksa memelototi jari jemari sang anak di depan layar komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke laptop I. Isu itu benar-benar meresahkan. Isu itu benar-benar melahirkan kecemasan, rasa takut dan kekhawatiran. Isu itu harus segera disikapi, agar peristiwa serupa tak lagi terjadi di negeri ini. Isu itu menjadi pengalaman berharga buat para artis, pejabat, dan masyarakat umum, agar lebih berhati-hati lagi dalam mendokumentasikan hal-hal yang terkait dengan maalah privasi. Dan ‘Dokumentasi Keblinger’ semacam ini telah memberikan contoh yang tidak baik buat masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, hingga hari ini, petinggi negara yang berkompeten atau terkait dengan masalah ini, belum juga buka suara. Seharusnya, ada penjelasan atau himbauan yang menyejukan, ada petunjuk-petunjuk praktis yang disampaikan sebelum penyakit yang kita namakan ‘Dokumentasi Keblinger’ itu menyelinap masuk ke ruang bocah-bocah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekurangtanggapan pejabat tinggi negara dalam memotret realitas sosial yang tengah ramai dibicarakan, bisa dimaklumi. Mengapa? Karena kita memang tak pernah diajari mengolah rasa. Rasa menyangkut kepekaaan. Kepekaan tak akan lahir kalau kita sendiri tidak merasakannya. Kepekaan membutuhkan jam terbang, kepekaan tidak sakdet saknyet (datang tiba-tiba). Kepekaan adalah buah dari perjalanan yang panjang dengan segudang pengalaman empiris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke laptop II. Seorang guru taman kanak-kanak, dua jam yang lalu mengirimkan SMS kepada saya. “Berita tentang Ariel dan videonya yang heboh membuat murid-muridku bertanya. Apa itu porno, vulgar, mesum? Pusing menjawabnya…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak bisa memberikan jawaban karena saya bukan seorang guru taman kanak-kanak. Saya juga tidak bisa memberikan solusi kepada Bu Guru. Saya hanya bisa membayangkan betapa merahnya wajah sang guru ketika mendapat pertanyaan yang cukup telak dari anak-anak TK. Saya hanya bisa merasakan, betapa gelisahnya hati sang guru, betapa cemasnya hati sang guru, melihat kenyataan yang mau tidak mau harus kita terima karena dunia memang sudah berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke laptop III. Pertanyaan sahabat di atas (lead) menunjukan betapa resah dan gelisahnya para orang tua menyikapi video mesum yang datang bertubi-tubi.  Dunia memang sedang berubah. Kita semua sedang belajar, belajar beradaptasi dengan dunia yang tanpa batas, ruang dan waktu. Kemajuan tekhnologi ada plus minusnya. Kuncinya: ada pada diri kita sendiri (cara berpikir, bersikap dan bertindak) dalam menghadapi perubahan yang kadang di luar nalar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu masyarakat tak percaya terhadap semua informasii yang ada di internet. Bahkan, informasi itu dianggap sampah. Anak-anak kita juga tidak kenal internet, tapi sekolah menuntut mereka berselancar di internet mencari data skunder.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para orang tua yang tadinya tak paham dengan internet, ikut-ikutan ingin tahu bahkan sekarang kecanduan. Itulah fenomena yang tengah menggeliat dan kedepan semakin menggeliat atau bahkan merobohkan dunia. Sebaliknya, kalau kita tidak berubah dalam menyikapi perubahan radikal semacam ini, kita akan ketinggalan kereta, kita tak menemukan jendela dunia (perpustakaan terbesar se jagat raya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengerikan memang…. Tapi itulah dunia… dunia yang ternyata tak mau diam. Dunia yang sekarang sedang bergerak menuju kepada era informasi. Bukankah secuil informasi adalah uang? (contohnya: ketik REG….maka kita akan mendapatkan data tentang jodoh, nasib, pencerahan, doa dan lain-lain. Data itu tidak gratis.  Duit kita terkuras dan sang pengelola mendapatkan keuntungan lalu menjadi manusia tajir, manusia cerdas, manusia yang pandai menangkap perubahan……&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-4782169832866879384?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/4782169832866879384/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=4782169832866879384&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/4782169832866879384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/4782169832866879384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2010/06/dokumentasi-keblinger.html' title='Dokumentasi ‘Keblinger’'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-6989659415204553613</id><published>2010-06-10T17:13:00.002+07:00</published><updated>2010-06-10T18:08:25.275+07:00</updated><title type='text'>Sepak Raga</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/TBDHhLJ_e4I/AAAAAAAAAkY/RMZrD-EcDaM/s1600/nivu.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 142px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/TBDHhLJ_e4I/AAAAAAAAAkY/RMZrD-EcDaM/s200/nivu.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5481100119254203266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;JUMAT (11/6) esok, semua mata di dunia akan berlama-lama di layar kaca. Perhelatan akbar (Piala Dunia 2010) digelar di Afrika Selatan. Sayang untuk event kali ini, lagi-lagi nama Indonesia tak tercantum dalam deretan negara yang berlaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, tahun 1938 (sebelum kemerdekaan), Indonesia masuk dalam catatan sejarah piala dunia dengan nama Hindia-Belanda (Nederlands-Indië). Tim sepak raga Indonesia tercatat sebagai negara Asia pertama yang masuk ke Piala Dunia di Perancis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemain yang dikirimkan terdiri dari berbagai warna (Belanda, Jawa, Ambon, Tionghoa dan pribumi). Mereka adalah Mo Heng Tan (penjaga gawang), Achmad Nawir (kapten), Hong Djien Tan, Frans Meeng, Tjaak Pattiwael, Hans Taihuttu, Suvarte Soedarmadji, Anwar Sutan, Henk Sommers, Frans Hukon, dan Jack Samuels. Di bangku cadangan ada J Harting (penjaga gawang), Mo Heng Bing, Dorst, Teilherber, G Faulhaber, R Telwe, See Han Tan, dan G Van den Burgh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menumpang kapal Johan van Oldenbarnevelt dari Tandjong Priok, Batavia menuju Belanda. Tim Hindia-Belanda tiba di Pelabuhan Rotterdam setelah terombang-ambing oleh badai petir selama tiga bulan. Lama betul? Itulah kondisi ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 72 tahun sejarah itu telah berlalu dan hingga kini kita belum bisa mengukir sejarah kembali. Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng mengaku optimistis bahwa Indonesia, dengan sumber daya yang ada, dapat segera menjadi Macan Asia dan mampu berlaga di ajang pertandingan sepak raga Piala Dunia. “Saya yakin, 5, 10, 15 tahun lagi kita sudah bisa jadi Macan Asia dan lolos ke Piala Dunia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap optimitis itu diharapkan bisa menjadi ‘bara’ positif buat anak-anak bangsa, agar lima tahun kedepan Indonesia mampu berbicara dan menjadi sorotan dunia di ajang bergengsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akankah mimpi itu tercapai? Bagaimana caranya?” tanya teman saya saat nongkrong di kantin kantor. Sebelum menjawab, saya balik bertanya. “Kenapa banyak pemain asing di Indonesia? Kenapa Indonesia seakan-akan menjadi tempat mencari duit para pemain asing?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya menjawab. “Ya begitulah… keadaannya. Semua berlomba-lomba menyewa pemain asing. Seperti sekarang ini, mereka semua pulang di musim sepi kompetisi. Kalau toh nanti mereka dipanggil lagi, harganya biasanya minta dua kali lipat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa di negeri ini tak ada lagi pemain yang hebat, kok kita harus mengambil pemain asing?” tanya saya. “Ada sih… cuman ya itu tadi. Masing-masing daerah gengsi dan ingin menjadi pemenang. Karena itu mereka berani membayar pemain mahal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan kawan itu mengingatkan saya soal munculnya banjir protes di Yunani tahun 2007 lalu. Waktu itu dari 16 klub yang ada dengan total pemain 475 orang, 261 pemainnya berasal dari 80 negara. Tentu saja masyarakat Yunani gerah. Lalu Bagaimana dengan di Indonesia? Entah, saya sampai saat ini belum memiliki data berapa jumlah mereka dan berasal dari berapa negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melibatkan pemain asing boleh-boleh saja, asal ada batasannya. Batasan macam apa? Tergantung spirit yang dibangun. Kalau spiritnya untuk membangkitkan citra klub atau daerah (hanya sekedar itu) ya… enggak usah pakai pemain lokal. Ambil saja semua pemain asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, kalau spirit yang diambil adalah ingin melahirkan pemain-pemain handal, maka pemain asing yang dikontrak  benar-benar pilihan dan para pemain lokal wajib hukumnya ‘mencuri’ ilmu mereka untuk dikembangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana caranya supaya kita bisa mewakili Indonesia ke piala dunia?” tanya rekan saya lagi. Gampang… Pertama, kita harus berani melakukan reformasi total terhadap payung organisasi sepak bola di negeri ini. Kalau perlu, libatkan pihak swasta untuk mengelola sumber daya manusia yang bertugas khusus mencari dan mengembleng para pemain-pemain berbakat yang dijaring dari seluruh Indonesia, tanpa melalui klub-klub yang sudah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua anak-anak bangsa boleh mendaftar. Mereka diseleksi secara ketat, mirip kayak mencari penyanyi Indonesian Idol, tanpa melihat status sosial atau latar belakang pendidikan dan lain sebagai.  Kalau masing-masing daerah kita bisa menemukan 10 pemain saja, maka kita kalikan dengan jumlah provinsi yang ada di negeri ini. Sudah berapa banyak SDM yang terjaring. Lalu mereka diperas lagi hingga lembaga itu benar-benar mendapatkan pemain yang bisa dihandalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu mereka digembleng dan biarkan fokus kepada target yang ingin diraih (masuk dalam piala dunia). Secara periodek, mereka diajak bertanding ke luar negeri sambil mengintip kehebatan klub dari negara lain. Pulang dari luar negeri, lakukan evaluasi di kelas dan praktekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kumpulkan semua dokumentasi (video) piala dunia. Putar, lalu rumuskan dan evaluasi gol-gol yang tercipta. Kalau perlu buatkan grafisnya lalu jadikan buku pedoman untuk para pemain. Kepada para pemain yang menonton semua video yang menayangkan pertandingan piala dunia, minta mereka agar fokus pada posisinya masing-masing dan memperhatikan body language pemain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran dengan cara bodon (cara paling bodoh) ini, nyaris tak pernah diajarkan klub-klub di negeri ini. Paling kalau toh para pemain diajak menonton pertandingan, mereka hanya berteriak-teriak, bertepuk tangan dan mencaci maki pemain yang sedang ditontonnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya, mereka fokus pada strategi memenangkan pertandingan dan mencontoh kehebatan pemain dalam menjebolkan gawang. Kenapa gol itu tercipta? Bagaimana prosesnya? Lalu apa yang harus kita lakukan? Nah, berbagai pertanyaan itu akan melahirkan spirit baru, agar pemain bola tidak hanya mengandalkan kekuatan kaki, tetapi juga bermain bola dengan menggunakan olah pikirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba lihat strategi atau cara bermain bola klub-klub ternama di dunia. Hampir tidak pernah ada, seorang pemain membawa bola lebih dari dua menit. Rata-rata hanya hitungan detik, bola yang ada di kakinya sudah dioper ke rekannya. Begitu juga ketika bola rekannya membawa bola, pemain lainnya ‘goyang’ atau bergerak kesana kemari mencari posisi (punya inisiatif).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, maka para pemain akan ngirit tenaga, tidak tamak dan tidak cari nama untuk dirinya sendiri. Kerja tim, benar-benar diutamakan untuk kepentingan yang lebih besar. Sebaliknya di negeri ini, masih ada pemain bola yang larinya kencang seperti kuda sambil membawa bola, tapi begitu nyampai di depan gawang lawan, tubuhnya terhuyung-huyung lantaran nafasnya entek alias habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lha buat apa mengobral energi, lalu hasilnya nol. Ini terjadi karena apa? Lagi-lagi ego, ingin mencari nama alias ingin beken alias ingin ngetop alias ingin populer. Ego harus dibentuk, dan dikelola dengan baik agar bisa melahirkan kerja sama yang apik antarpemain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, dulu ekitar tahun 1980 an, saya pernah ikut klub sepak bola di Surabaya. Selama mengikuti klub dan ikut kompetisi, hampir sama sekali tak pernah diajari bagaimana cara bermain bola secara teoritik. Padahal, dalam bermain bola, ada segudang tehnik permainan. Misanya, tendangan satu kura-kura, setengah kura-kura dan lain-lain (tehnik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling-paling kita hanya digembleng fisik, lalu disuruh bertanding antar teman dan uji coba ke daerah. Tidak pernah ada pelajaran tentang bola yang disampaikan di dalam kelas. Pelajaran di lapangan, monoton seperti itu itu saja. Begitu juga latihan fisiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakanya lagi, ketika spirit untuk menjadi pemain itu sudah mengelora, mental kita diruntuhkan oleh kepentingan pribadi para pelatih, pemilik klub dan petaruh (pejudi). Biasanya, sebelum bertanding, ketika para  berada di ruang ganti pakaian, masing-masing pemain yang dianggap bisa diajak cincai-cincai sudah didekati. “Nanti buka dua ya… “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduh… Celaka 12 nih. Apa artinya buka dua, buka tiga, buka empat? Itu artinya, kita diminta agar gawang kita kebobolan 2-0, 3-0, 4-0. Nah, kalau sudah begitu, para pemain tanpa diberitahu taktiknya mampu menterjemahkan keinginan pihak ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urusan gawang kita kebobolan itu urusan kecil. Biasanya tekhnik jual beli gol itu dilakukan ketika ada tendangan penjuru (pojok). Ketika posisi kita ada di depan gawang pertahanan, maka saat bola yang ditendang lawan melayang ke mulut gawang, pemain belakang akan menghaluanya dengan kepala (heading) lalu tepat di kaki lawan. Cukup sekali sentil, maka gawang itu kebobolan. Apalagi kalau sang kiper diam-diam juga sudah dilobi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak segudang trik-trik lainnya. Sejak saat itu, saya tak lagi mempunyai selera untuk bermain bola. Tobattttttt….. tenan…! Apa yang terjadi ini baru di level kelas teri. Entah, apakah di level klub besar juga ada? Saya malas mengorek-ngoreknya. Apalagi sudah saya putuskan untuk tidak lagi berurusan dengan sepak-menyepak. Kurombeng sepatu itu…..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-6989659415204553613?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/6989659415204553613/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=6989659415204553613&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/6989659415204553613'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/6989659415204553613'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2010/06/sepak-raga.html' title='Sepak Raga'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/TBDHhLJ_e4I/AAAAAAAAAkY/RMZrD-EcDaM/s72-c/nivu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-4507476902436415023</id><published>2010-04-24T14:12:00.003+07:00</published><updated>2010-04-24T14:19:30.086+07:00</updated><title type='text'>Jelajah Laut Teluk Balikpapan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S9KbSkJzx-I/AAAAAAAAAkQ/gDBY06T7fXs/s1600/Foto1907.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S9KbSkJzx-I/AAAAAAAAAkQ/gDBY06T7fXs/s320/Foto1907.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5463600041198602210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S9KbSGQqziI/AAAAAAAAAkI/P9MKdHdqlkY/s1600/Foto1895.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S9KbSGQqziI/AAAAAAAAAkI/P9MKdHdqlkY/s320/Foto1895.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5463600033174310434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S9KbRlCwnFI/AAAAAAAAAkA/J1h7C8UAR2s/s1600/Foto1876.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S9KbRlCwnFI/AAAAAAAAAkA/J1h7C8UAR2s/s320/Foto1876.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5463600024257600594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S9KbROHKCrI/AAAAAAAAAj4/STl5GTC6SGA/s1600/Foto1886.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S9KbROHKCrI/AAAAAAAAAj4/STl5GTC6SGA/s320/Foto1886.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5463600018102028978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S9KbQZNSA6I/AAAAAAAAAjw/5JtUMzzMUV4/s1600/Foto1867.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 186px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S9KbQZNSA6I/AAAAAAAAAjw/5JtUMzzMUV4/s320/Foto1867.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5463600003900638114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S9KapzBTXwI/AAAAAAAAAjo/W0Lo6_gULUo/s1600/Foto1881.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S9KapzBTXwI/AAAAAAAAAjo/W0Lo6_gULUo/s320/Foto1881.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5463599340814819074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S9KapIVITUI/AAAAAAAAAjg/lVw6nVEahZk/s1600/Foto1879.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S9KapIVITUI/AAAAAAAAAjg/lVw6nVEahZk/s320/Foto1879.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5463599329355255106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S9Kaoj6W-NI/AAAAAAAAAjY/DzLAU7K1eXY/s1600/Foto1897.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S9Kaoj6W-NI/AAAAAAAAAjY/DzLAU7K1eXY/s320/Foto1897.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5463599319579293906" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S9Kan7-Gs9I/AAAAAAAAAjQ/2rW_7u-7Va8/s1600/Foto1883.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S9Kan7-Gs9I/AAAAAAAAAjQ/2rW_7u-7Va8/s320/Foto1883.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5463599308857586642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S9KaGYllo3I/AAAAAAAAAjI/PYs3Kdv9W2o/s1600/Foto1847.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S9KaGYllo3I/AAAAAAAAAjI/PYs3Kdv9W2o/s320/Foto1847.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5463598732423832434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JUMAT pekan lalu pukul 02.00 dinihari, saya masih menyelesaikan beberapa pekerjaan di kantor. Manajer Sirkulasi Tribun Kaltim, Iskandar tiba-tiba telepon. "Mas... kita nanti berangkat mancing jam 03.00 ya," katanya. "Siappp...!" kata saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mesin percetakan Tribun Kaltim sudah tak lagi berbunyi, saya turun ke bawah. Teman-teman bagian percetakan, sirkulasi dan redaksi, rupanya sudah berkumpul di Pos Satpam. "Terus terang saya tidak punya alat mancingnya lho," kata saya kepada Manajer Percetakan Suparman. "Gampang bos... saya bawa dua kok," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyiapkan segalanya, kami berangkat menuju Sungai Manggar, Balikpapan. Ketika mobil tiba di depan RSUD Kanujoso, saya berhenti sebentar membeli dua bungkus roti tawar dan beberapa botol air mineral, buat bekal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 15 menit kemudian, mobil yang kami tumpangi tiba di rumah Magi Haryadi, karyawan bagian sirkulasi, sambil menunggu Hendro, karyawan bagian percetakan yang mendapat tugas membeli umpan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pukul 04.00, ayam mulai berkokok. Kami lalu berjalan kaki menuju tepian Sungai Manggar. Untuk menuju ke tepian sungai, kami harus melintasi pemukiman nelayan. Jalanan yang becek, tak mematahkan niat kami untuk pergi memancing. "Untung pakai sandal. Coba pakai sepatu, basah semua Mas," ungkap M Wikan, fotografer Tribun Kaltim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu suasananya benar-benar hening dan gelap. Tak terasa, kaki kami sudah menginjak kawasan hutan bakau (mangrove). Dengan menggunakan lampu handphone, kami berjalan tertatih-tatih. Agak ngeri, khawatir ada buaya atau ular yang kena injak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah kesunyian itu, tiba-tiba ada seorang nelayan sedang duduk di tepi sungai. "Kok berani ya di pagi buta tanpa ada teman, nongkrong di tepi sungai seorang diri," tanya saya kepada beberapa teman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah hidup. Tak ada secuil rasa takut, demi sesuap nasi buat anak isterinya.  Wajah sang nelayan, tidak begitu jelas, karena memang tidak ada lampu di tepi sungai. Saya sempat melihat perahunya bersandar, lengkap dengan peralatan untuk mencari kepiting dan ikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa di sungai ini ada buayanya?" "Alhamdulillah tidak ada dan mudah-mudahan saya tidak menemukan buaya Pak," tutur sang nelayan. Pagi itu ia mengaku hendak berangkat menyusuri Sungai Manggar. Targetnya adalah mencari kepiting. "Sehari kadang saya hanya dapat lima kilo. Itu kalau rezekinya ada. Pulangnya ya nanti malam. Untuk itu saya membawa bekal (nasi dan lauk ala kadarnya)," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh dari sang nelayan, saya samar-samar melihat sebuah perahu kecil berwarna putih, berikut lampu kelap-kelip. Lampu itu menggunakan baterai dan hanya dipasang pada sebatang gala. Lampu ini sangat bermanfaat buat para nahkoda kapal yang sedang berlayar ditengah laut. Tanpa ada lampu semacam ini, perahu-perahu nelayan bisa celaka ditabrak kapal-kapal besar saat berlayar di tengah samudera. &lt;br /&gt;                                             ***&lt;br /&gt;PERAHU yang kami tumpangi hanya diikat dengan seutas tali. Untuk bisa naik ke atas perahu, kami terpaksa memanfaatkan perahu milik nelayan lainnya sebagai alat untuk meloncat. "Busyett... Kalau jatuh ke sungai gimana nih. Gelap lagi..." &lt;br /&gt;Saya dari dulu memang agak takut dengan air sungai atau laut, karena memang tidak bisa berenang. Karena itu berbagai ajakan memancing ke laut, selalu saja saya tolak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sedikit trauma. Dulu, ketika Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT) diguncang gempa tahun 1992, saya pernah mengunjungi Pulau Babi, naik helikopter. Di dalam penerbangan, sang pilot bercerita kalau heli yang sekarang diterbangkannya pernah celaka di Timor-Timur. Alamaak... Saya lihat ke bawah, semuanya laut nan biru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga ketika berkunjung ke Pulau Besar, Maumere, saya terpaksa dijemput pasukan elit TNI Angkatan Laut dari kesatuan Intai Amfibi (Taifib) dengan menggunakan perahu karet pada malam hari, lantaran sang helikopter yang mengangkut saya dan kawan-kawan jurnalis tak juga datang ke Pulau Besar, karena rusak.&lt;br /&gt;Ditengah gelombang yang tinggi, dan suasana yang gelap, akhirnya kami disuruh meloncat ke seutas tampar yang sudah terpasang di dinding kapal. Padahal, laut di daerah NTT dikenal dalam. Ngeriii........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke jelajah laut kali ini, entah mengapa kok saya bersedia. Hitung-hitung mencari pengalaman, melakukan petualangan kecil-kecilan. Setelah semua teman-teman berada di atas perahu,  suara mesin menderu-nderu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahyu Laksono, sang pemilik perahu terlihat berdiri sambil menyodok-nyodokan galah ke dasar sungai, agar perahunya bisa mundur. Perahu itu menyusuri hutan bakau menuju ke muara, lalu ke laut lepas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum ke muara, perahu berukuran 2 X 10 meter itu harus mundur terlebih dahulu, karena sempitnya sungai. Ranting-ranting pohon bakau berseliweran di atas kepala kami. Petualangan amat menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan menuju laut lepas, perahu harus melewati Jembatan Manggar, Balikpapan. Saya melihat rumah-rumah nelayan di tepi Sungai Mangar, mirip siluet. Sungguh menawan. "Laut sedang pasang. Kalau kita terlambat sedikit, kita enggak bisa lewat jembatan itu," kata Pak Aspik, sang nelayan yang ikut mendampingi kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima menit kemudian, perahu kami berhasil melewati Jembatan Manggar. Wow, lega rasanya. Sang motoris Wahyu Laksono, terlihat duduk di kursi kemudi perahu. Kemudinya, mirip seperti pisau yang ditempelkan di dinding perahu. Untuk mengendalikan kemudi itu, Wahyu cukup menggunakan kaki kirinya. Sedangkan tangannya, sibuk memegang gas, berupa tongkat besi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara mesin perahu meraung-raung di pagi buta. Tanpa menggunakan alat penerangan, kecuali sebuah senter yang sekali-kali dinyalakan, perahu itu terus bergerak ke Teluk Balikpapan. Karena semalaman belum tidur, saya rebahkan tubuh ke lantai perahu dengan berbantal ala kadarnya. Apalagi, kata teman-teman, untuk menuju ke lokasi pemancingan kali ini, butuh waktu sekitar satu jam setengah. &lt;br /&gt;                                          ***&lt;br /&gt;GELOMBANG semakin tinggi disertai hujan. Beberapa teman, lari ke bagian moncong perahu (palka-palkaan), ngumpet. Kebetulan ada ruangan kosong, berukuran 2 X 2 meter yang biasanya dipakai para nelayan untuk tempat istirahat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dalam ruangan, saya melihat Pak Aspik, sibuk memompa air yang masuk ke dalam lambung kapal dengan menggunakan alat penghisap terbuat dari sepatang kayu yang di bagian bawahnya diberi kelep. Kelep itu dimasukan ke dalam paralon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali kelep pompa itu ditarik, lalu dibetulkan karena ngadat. "Wah... bisa celaka nih," pikir saya. Di sekitar ruangan palka, saya melihat ada beberapa pelampung warna kuning. Pelampung itu cukup buat menyelamatkan diri kalau badai menghantam kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari pagi mulai bersinar kemerah-merahan dari arah timur. Ombak yang lumayan besar, membuat pusing kepala. Wahyu Laksono memerintahkan Pak Aspik melempar jangkar ke laut. Jangkar yang diikat dengan tali plastik warna biru itu dilemparnya. Sementara Wahyu sibuk dengan handphone satelitnya. "Ini adalah alat GPS (global positioning system) untuk mengetahui posisi kita. Saya sudah menggunakan alat ini sekitar dua tahun lalu. Termasuk para nelayan di sini, semuanya menggunakan GPS untuk memantau 'kotoran' (rambu) yang mereka tempatkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai lego jangkar, Wahyu kembali memerintahkan Pak Aspik untuk melempar 'kotoran' (rambu). Rambu yang dilempar ke laut, kali ini berupa sebatang besi agak runcing yang ditancapkan ke gabus, lalu di atasnya diberi botol bekas air mineral, dan bendera. Supaya tidak hanyut ditelan gelombang, rambu itu diberi batu di bagian bawahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencananya, kami akan mancing di tempat ini. Sayang gelombangnya semakin tinggi. Saya melihat Wahyu, sang motoris, sedikit panik. Walau perahu sudah lego jangkar, namun perahu itu terus berputar. Kelihatannya ada pusaran angin yang membuat gelombang laut semakin tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak Aspik... cepat angkat jangkarnya. Kita pergi saja dari sini," teriak Wahyu. Bagaimana dengan 'kotoran' (rambu)? Wahyu tak menghiraukannya. 'Kotoran' itu ia biarkan begitu saja, lalu perahu tancap gas entah kemana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dihantui rasa takut, cemas dan khawatir dilahap gelombang, rekan-rekan saya rupanya ada yang mulai kliyengan. Mereka terdiam. Saya sendiri juga sudah mulai ikut mumet, berusaha merebahkan diri di dalam ruangan sempit, lalu terpejam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama tertidur, ada perasaan tidak enak. Badan rasanya diombang-ambingkan perahu. Tak terdengar lagi tawa dan canda, ketika saya terbangun. Saya hanya melihat Pak Aspik dan Wahyu serta Magi Haryadi (karyawan Tribun Kaltim bagian sirkulasi) masih berada di perahu. "Lho lainnya kemana?" tanya saya kepada Wahyu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di sana Mas... (bagan). Apakah Mas mau kesana juga?" tuturnya. Oh... rupanya, rekan-rekan saya semua sudah loncat ke bagan. Mereka sengaja minta diturunkan ke bagan karena kepalanya pusing, tak tahan goncangan ombak yang terlalu besar. &lt;br /&gt;Saya coba berdiri dan melihat mereka. Eittt... saya nyaris jatuh. Kalau saya bertahan di sini, pasti muntah. Akhirnya, saya beranikan diri naik di atas palka, melakukan persiapan untuk meloncat ke bagan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah perahu yang sedang terayun-ayun dengan kencangnya, saya lihat warna laut di sekitar bagan kebiru-biruan. "Ini pasti dalam..." Dibantu, Magi, akhirnya saya berhasil meloncat ke bagan. &lt;br /&gt;Di bagan, ada rumah gubuk beratap rumbai-rumbai. Di dalamnya, saya melihat sahabat saya Parman, sedang terlelap. "Sampean kok kuat bertahan di dalam perahu. Saya saja loncat kesini kok. Kalau enggak bisa muntah," kelakar Kamto, karyawan Tribun Kaltim bagian umum. &lt;br /&gt;                                            ***&lt;br /&gt;BAGAN tancap, terbuat dari kayu ala kadarnya. Termasuk ranting-ranting pohon. Di bawah bagan ada jala yang begitu lebar. Jala ini akan diturunkan ke laut pada malam hari untuk menjaring ikan, dengan menggunakan lampu. Tiga tahun lalu, bagan-bagan ini ada yang rusak karena ditabrak kapal-kapal besar. Padahal, dulu, untuk membuat bagan biayanya mencapai Rp 30 juta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nongkrong di atas bagan sambil menikmati keindahan laut lepas, sangat mengasyikan. Tempat ini nyaman buat mereka yang suka melakukan kontemplasi. Sayangnya, tidak semua masyarakat perkotaan bisa menikmatinya. Andaikan, bagan-bagan itu dikelola dengan baik dan 'dijual' menjadi paket wisata, khusus di pagi dan siang hari, berapa duit yang bisa dipetik.&lt;br /&gt;                                          ***&lt;br /&gt;UMPAN yang kami pakai untuk memancing ikan, berupa udang hidup. Kali ini, rekan-rekan saya berlomba-lomba mendapatkan ikan. Sayangnya, ikan di sekitar bagan, tidak terlalu besar. Seperempat telapak tangan. Ikannya berwarna kuning. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ombak mulai reda, sang motoris mengajak kami kembali ke tempat semula. Alasannya, ikan di sana agak banyak dan lumayan besar. Sepanjang perjalanan, cuaca lagi-lagi tidak menguntungkan. Dari kejauhan, terlihat Balikpapan, tengah dilanda hujan lebat. Gelombang lumayan tinggi. "Sebentar lagi juga reda kok. gelombang besar ini kan terjadi karena ada awan gelap di Balikpapan. Kita sekarang berada enam mil dari tempat tadi," tutur Wahyu.&lt;br /&gt;Dengan menggunakan GPS, kami akhirnya bisa memantau keberadaan 'kotoran' (rambu) yang tadi sudah kami tancapkan di wilayah itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu nyampai, "Lho... kok hilang ya? Kemana ya...?" tanya &lt;br /&gt;Wahyu. Akhirnya, perahu berputar-putar, berusaha mencari. Sepuluh menit kemuudian benda (rambu) itu terlihat. "Ternyata dia hanyut juga walau sudah kita beri pemberat berupa batu," tutur Wahyu. Jangkar akhirnya dilego. Baru beberapa menit mesin perahu berhenti, tiba-tiba gelombang besar datang. Perahu lagi-lagi terayun-ayun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri pura-pura berani, padahal nyali kecut juga. &lt;br /&gt;Kail pancing pun dilempar ke laut. Sayang, tak ada satu ekor ikanpun yang terpancing. Saya usulkan untuk segera pulang. Semuanya sepakat. Nah, rupanya dalam perjalanan pulang, sang nelayan sempat berhenti di beberapa tempat. Sebel....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di sini ikannya banyak. Kan ada karangnya," tutur Wahyu. Saya coba lempar pancing. Aihh... lumayan, ada ikan baronang yang memakan kail saya. Lalu disusul ikan kerapu, ikan kakap dan ikan-ikan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi, ikan yang kami dapatkan tidak begitu besar. Paling besar kira-kira setelapak tangan. Sambil memasak air panas dengan menggunakan kompor minyak tanah, sang nelayan bersama teman-teman lainnya menikmati kopi, secuil roti dan makanan kecil.&lt;br /&gt;Saya sendiri agak ngeri begitu melihat kompor dinyalakan. "Kalau kompor ini terguling lalu minyaknya tumpah membakar perahu, gimana ya cara saya menyelamatkan diri." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecemasan itu selalu berkecamuk di dalam otak saya, hingga akhirnya perahu kembali ke hutan bakau. Kami lalu membagi hasil tangkapan yang tak begitu banyak. Hanya setengah karung, lalu kami bagi bertujuh. Sampai di rumah, ikan-ikan itu saya bikin pepes... Wow... nikmatt... tapi saya berjanji tak akan pernah bersedia kalau diajak mancing lagi. Cukuplah....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-4507476902436415023?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://regional.kompas.com/read/2010/04/24/13521274/Semoga.tak.Ada.Buaya' title='Jelajah Laut Teluk Balikpapan'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/4507476902436415023/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=4507476902436415023&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/4507476902436415023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/4507476902436415023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2010/04/jelajah-laut-teluk-balikpapan.html' title='Jelajah Laut Teluk Balikpapan'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S9KbSkJzx-I/AAAAAAAAAkQ/gDBY06T7fXs/s72-c/Foto1907.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-100186998878563868</id><published>2010-04-14T19:25:00.002+07:00</published><updated>2010-04-14T19:27:34.817+07:00</updated><title type='text'>Kekerasan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S8W0nOPHVbI/AAAAAAAAAjA/y747WlB9Yss/s1600/Mbah-Priok10.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 151px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S8W0nOPHVbI/AAAAAAAAAjA/y747WlB9Yss/s200/Mbah-Priok10.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5459968709185983922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;KEKERASAN terjadi dimana-mana. Tindakan anarkhisme kembali mencuat dari kota yang menjadi pusat kekuasaan negara (Jakarta). Sejak pagi hari, rakyat bukannya disuguhi makanan, tetapi sebuah tontonan yang membuat miris hati --bentrok antara Satpol PP dengan massa yang berusaha mempertahankan Makam Mbak Priok dari penggusuran. &lt;br /&gt;Puluhan manusia menderita luka-luka, bahkan tiga orang dilaporkan tewas akibat tindakan yang kontraproduktif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua anggota DPRD yang datang ke lokasi untuk meleraikan pertikaian, ikut menjadi korban. Selain kena lemparan batu, seorang diantaranya kena bogem aparat. Sejumlah mobil dibakar massa. Asap mengepul dimana-mana, membuat merinding mereka yang menonton tayangan televisi secara live. Seorang petugas yang sudah tak berdaya, jatuh terkulai di tanah, tetap digebukin. Ngeri dan ngeri. Sungguh-sungguh memilukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aparat kepolisian yang ikut meredakan ketegangan itu, akhirnya terkena getahnya berhadap-hadapan dengan massa. Mereka semua berjibaku. Prihatin dan prihatin. Kita semua hanya bisa mengelus dada. Sejumlah wanita panik dan binggung mencari anaknya yang terjebak di areal pemakaman Mbah Priok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah petinggi dan pejabat di negeri ini hanya menghimbau melalui televisi. Wakil Gubernur DKI Prijanto mengatakan, "Saya menyampaikan permintaan maaf atas kejadian ini. Penertiban ini sejak jam 15.00 tadi sudah saya minta dihentikan. Sehingga Polisi, Satpol PP lebih tenang lagi." Himbauan baru datang sore hari, padahal darah sudah tertumpah dimana-mana dari kedua belah pihak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa negeri ini tak pernah damai? Ada-ada saja kehebohan yang tercipta. Kalau kemarin-kemarin periok di dunia persilatan politik semakin mendidih karena kasus Century, kini kalangan kelas bawah yang umek dengan berbagai macam persoalan menyangkut nasib sang perut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat vs rakyat. Saling berhadap-hadapan dan berjibaku. Kita pasti tahu hasilnya. Kedukaan, tangis, luka hati karena kehilangan anggota keluarganya. Belum lagi kerugian materi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi korbannya adalah rakyat. Rakyat kecil. Entah itu aparat, entah itu rakyat sipil. Mereka adalah rakyat yang memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan kita. &lt;br /&gt;Begitu juga anggota Satpol PP. Mereka adalah rakyat. Sama-sama manusia yang punya jiwa, pikiran dan hati. Sama-sama manusia yang punya tanggung jawab buat keluarganya dan negeri ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka meluncur ke lapangan untuk melakukan eksekusi atas instruksi pimpinan. Mereka bentrok (bergerak) juga atas komando dari pimpinan. Semuanya sudah dikalkulasi oleh pimpinannya ketika pasukan mulai bergerak ke lapangan. Persoalannya yang dihadapi anggota Satpol PP adalah rakyat yang sebagian besar tak tahu duduk persoalan sebenarnya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota Satpol PP selalu ditempatkan di barisan terdepan dengan pakaian untuk mempertahankan diri, tameng, helm dan baju. Kali ini yang dihadapi ribuan massa bersenjata celurit, bambu runcing, batu, samurai, golok, kayu yang sudah dimodifikasi dengan benda tajam dan berbagai senjata lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aparat mundur? Tidak... Ini adalah perintah. Perintah harus dilaksanakan. Ketika derap sepatu mulai terdengar, massa siap-siap berhadapan. Perang meletus.... Korab berjatuhan, di kedua belah pihak.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau sudah dilengkapi tameng dan helm, anggota Satpol PP adalah manusia biasa. Mereka bukanlah manusia berbadan besi yang kebal senjata tajam, lemparan batu atau pentungan. Mereka adalah manusia biasa yang punya daging, punya darah dan gampang terluka ketika kena benda tajam atau benda tumpul. Sama seperti kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka juga punya hati, punya perasaan dan sama-sama tidak mau disakiti. Tetapi atas nama hukum dan atas nama perintah, mereka tak bisa menolak tugas yang maha berat itu. Bentrok pun harus dihadapi demi kelancaran tugas yang diembankan kepadanya. Kenapa bentrok, bentrok, bentrok, gusur dan gusur terus menerus terjadi di negeri ini? Mengapa air mata rakyat, harus tertumpah di muka bumi ketika harus berhadapan dengan alat penguasa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir setiap hari ibu-ibu dan anak-anak yang tak paham hukum, harus menangis mengiba-iba, berharap agar lapaknya tidak digusur, berharap agar diberi waktu sejenak supaya mereka bisa hidup dari berjualan. Pasca penggusuran, tak ada yang peduli. Apakah mereka (korban pengusuran) bisa makan atau tidak, apakah anaknya bisa sekolah atau tidak. Cuek dan cuek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah potret kehidupan yang nyaris tak pernah berhenti dan terjadi di seantero negeri ini. Kekerasan yang dilakukan --jalan terakhir-- karena yang digusur tidak mau, selalu saja melahirkan korban. Belum lagi dampak psikologis dari tindakan aparat yang disaksikan para bocah, anak-anak dari korban penggusuran, lalu penonton televisi dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak psikologis itu tidak bisa ditebus dengan uang. Tindakan kekerasan yang terjadi di depan mereka, berimplikasi kepada mental-mental anak bangsa. Akan lahir bocah-bocah yang cinta kekerasan, bocah-bocah yang di dalam hatinya selalu menoreh dendam, menoreh luka, bocah-bocah yang geram, bocah-bocah yang tak mengenal empati karena orang tuanya menjadi korban kekerasan dan ketidakadilan dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua tidak mau dan tak rela kalau negeri yang kita cintai akan diisi oleh anak-anak bangsa yang pikirannya dangkal akibat produk dari kekerasan. Bukankah bangsa ini selalu mengagung-agungkan kekerabatan, mengagung-agungkan kegotoroyongan, mengagung-agungkan musyawarah dan mufakat, mengagung-agungkan tepo seliro?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dimana budaya warisan keluhur itu sekarang berada? Sudah raibkan dari negeri ini? Atau nilai-nilai itu sengaja kita kubur, pura-pura tidak tahu hanya untuk kepentingan pragmatis? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan, bukanlah cara terbaik dalam menyelesaikan berbagai konflik di negeri ini. Kekerasan akan melahirkan kekerasan, kekerasan akan menciptakan dendam, kekerasan akan meninggalkan sejarah yang tak bermutu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan kemanusian (ngemong, memanusiawikan orang lain, menghargai harkat dan martabatnya), dan intelektual rasanya lebih tepat dibanding menggunakan pendekatan yang bertumpu pada okol(kekuatan fisik) semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunci dari lahirnya sebuah konflik dan jatuhnya korban jiwa adalah ketidaksabaran dalam menyelesaikan masalah, ketidaksabaran dalam mencari solusi, ketidaksabaran menggunakan akal, ketidaksabaran melihat orang lain tenang dan bahagia.&lt;br /&gt;Cukup dan hentikan semua jenis kekerasan di negeri ini, agar bumi yang kita pijak ini tak mengeluh lantaran selalu tergenang oleh air mata-air mata dan darah yang tertumpah akibat kesewenang-wenangan....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-100186998878563868?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/100186998878563868/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=100186998878563868&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/100186998878563868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/100186998878563868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2010/04/kekerasan.html' title='Kekerasan'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S8W0nOPHVbI/AAAAAAAAAjA/y747WlB9Yss/s72-c/Mbah-Priok10.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-912910494622776806</id><published>2010-04-12T21:02:00.002+07:00</published><updated>2010-04-12T21:06:23.266+07:00</updated><title type='text'>Penyesalan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S8Mo03EQTXI/AAAAAAAAAiw/iTR09xnDhEg/s1600/penyesalan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 173px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S8Mo03EQTXI/AAAAAAAAAiw/iTR09xnDhEg/s200/penyesalan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5459252061903277426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Achmad Subechi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENYESALAN selalu saja datang terlambat. Ketika nasi sudah menjadi bubur, lahirlah kesadaran. Kesadaran yang terbangun setelah manusia mengalami pengalaman empiris yang membuat hatinya gunda gulana, sedih, kecewa, sakit hati dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan dengan itu, lahirlah keputusan. Keputusan yang benar-benar bijak, keputusan rasional, keputusan yang datang tanpa ujuk-ujuk, melainkan melalui sebuah proses panjang yang diberi nama eling (ingat). Hanya manusia-manusia yang waras atau eling saja yang masih punya rasa penyesalan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Krisdayanti. Artis ternama yang puncak popularitasnya sudah teraih begitu lama. Ia sudah mencapai titik kulminasi tertinggi. Dan kurvanya cenderung menurun, seiring dengan bertambahnya usia, munculnya pesaing-pesaing baru dan banyaknya godaan yang datang bertubi-tubi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin, sang Diva menyesal. Ada air mata menetes di pipinya. Penyesalan itu ia ungkapkan kepada publik, terkait kisah asmaranya dengan pengusaha asal Timor Leste, Raul Lemos. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KD --inisialnya-- juga meminta maaf secara terbuka kepada istri Raul, Ata, karena telah lancang memacari suaminya. Tidak hanya meminta maaf kepada Ata saja. Pelantun 'Mencintaimu' itu juga meminta maaf kepada sang kakak, Yuni Shara, karena ia merasa telah menjerumuskannya ke dalam kemelut kisah cintanya sehingga sang kakak disomasi Ata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengakuan dan rasa penyesalan KD itu --walau perilakunya tak terkait dengan kepentingan publik, tetapi pengakuan dan kejujurannya yang disampaikan kepada publik-- menyisakan pelajaran berarti buat negeri ini.  &lt;br /&gt;Berkata jujur, apa adanya dan menyesal. Tiga point itu yang belakangan mulai pudar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, para leluhur kita mengajarkan kepada anak cucu kita agar bersikap gentle, apa adanya dan terbuka serta berani meminta maaf ketika melakukan kesalahan. &lt;br /&gt;Ungkapan permintaan maaf, membuat hati menjadi bersih (plong) walau mereka yang dimintai maaf tidak mau menerima dengan tangan terbuka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan para koruptor di negeri ini? Akankah mereka berani meminta maaf kepada 250 juta penduduk Indonesia? Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka pasca vonis yang dijatuhkan pengadilan tipikor. Banding dan banding. Masih saja bergelut atau bermain di ranah hukum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, faktanya, uang milik negara yang notabene milik rakyat yang diembat (diambil dengan menggunakan pendekatan kekuasaan) telah diselewengkan untuk kepentingan pribadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya gentle, mau mengakui kesalahan dan siap menanggung segala resiko akibat segala tindak-tanduknya yang tak terpuji, serta mau meminta maaf kepada publik, rasanya sudah saatnya kita tanamkan kepada para pewaris negeri ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau toh sekarang para koruptor tidak mau meminta maaf, itu urusan mereka. Nanti pengakuan mereka akan kita saksikan beramai-ramai di hari akhir, di depan Tuhan Yang Maha Esa. Terpenting, kedepan anak-anak bangsa yang bakal menjadi pewaris negeri ini, kita warisi nilai-nilai kearifan, nilai-nilai kepatutan, nilai-nilai kejujuran dan segudang nilai lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuannya, agar mereka tidak terkena penyakit tipu-tipu, penyakit yang mementingkan diri sendiri dan kelompoknya, penyakit yang merugikan manusia lain, penyakit yang membuat hatinya keras, sekeras batu akibat perilaku pragmatis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami masih percaya bahwa dari sekian ratus juta masyarakat Indonesia, masih ada manusia-manusia yang waras, manusia-manusia yang tak latah (ikut rusak dengan alasan kalau tidak begitu tidak bisa makan), manusia-manusia yang eling, manusia-manusia yang memiliki kesadaran bahwa negeri ini harus dikelola dengan baik sehingga benar-benar menjadi mercusuar dunia yang menjadi dambaan semua manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri yang patut diteladani, negeri yang semua rakyatnya taat pada hukum, negeri yang makmur, aman dan tenteram, negeri yang masyarakatnya bebas dari perilaku-perilaku buruk, negeri yang pemimpinnya selalu mengutamakan kesejahteraan rakyat dan negeri yang selalu melahirkan manusia-manusia cerdas dan berhati baik. Akankah?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-912910494622776806?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/912910494622776806/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=912910494622776806&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/912910494622776806'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/912910494622776806'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2010/04/penyesalan.html' title='Penyesalan'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S8Mo03EQTXI/AAAAAAAAAiw/iTR09xnDhEg/s72-c/penyesalan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-3951136823235924581</id><published>2010-04-12T21:01:00.002+07:00</published><updated>2010-04-12T21:09:48.037+07:00</updated><title type='text'>Heboh...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S8MpfENdFtI/AAAAAAAAAi4/VbDiwsh6CJo/s1600/8922_1272484291587_1214293920_844220_3792823_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 115px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S8MpfENdFtI/AAAAAAAAAi4/VbDiwsh6CJo/s200/8922_1272484291587_1214293920_844220_3792823_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5459252786986030802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;GEGER di Republik ini tak lepas dari elite-elite yang ada di atas. Saling cakar, saling seruduk, saling membenci, saling menyerang dan saling melakukan pembunuhan kharakter dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aib-aib itu satu persatu keluar ke permukaan. Mereka yang tak bersalah dicari-cari kesalahannya untuk dibidik. Mereka yang salah, berlindung dibalik hukum. Hukum cenderung tak berpihak kepada rakyat. Hukum sedang diadili, hukum sedang disorot oleh rakyat. Peradilan sesat, akhirnya menoreh luka di hati rakyat. Sampai kapan? Para pendekar hukum, satu persatu dicopot karena aroma tak sedap masuk ke hidung para pimpinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saling gigit antarsatu dengan yang lain sudah bukan fenomena lagi. Saling beryanyi, mencari teman senasib, agar ada teman di bui juga sudah lazim. Lainnya, angkat tangan, bahkan ada yang lempar handuk khawatir ikut terkena imbasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarat pohon kelapa, semakin tinggi kedudukan seseorang, maka pucuk daunnya akan semakin bergoyang dengan kencang diterpa angin. Capek, melelahkan dan harus siap bertahan agar tak roboh.&lt;br /&gt;Ketika sang pohon kelapa roboh, maka batangnya pun ikut terhempas ke tanah. Akarnya juga ikut-ikutan tercerabut, walau hanya beberapa. Sisanya, masih bertahan di bawah tanah. &lt;br /&gt;Karena itu, ada manusia yang tak mau menjadi pucuk pohon kelapa atau menjadi batang. Takut.... Alasannya, saat sang pucuk bergoyang, maka batangnyapun ikut bergoyang. Ikut-ikutan bergerak kesana kemari dan apa kata yang di atas (pimpinan). Sedangkan, sang akar yang sebenarnya mendapat peranan penting, tetap kuat mencengkeram tanah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala semuanya sudah tak selaras, maka ambruklah sang pohon kelapa. Sang pohon yang awalnya berdiri tegar siap menantang badai, akhirnya tak bisa apa-apa. Ternyata pohon itu rapuh, pohon itu tak sekuat apa yang kita bayangkan. &lt;br /&gt;Ketika pohon itu ambruk, manusia beramai-ramai mendekat lalu mengambil buahnya, batangnya, daunnya dan lain-lain. Mereka bersorak sorai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru setelah itu lahirlah kesadaran atau penyesalan. Mengapa begini, mengapa begitu. Sang pohon mencari justifikasi, saling menyalahkan antara satu dengan yang lain. Ditemukanlah 'kambing hitam'. Heboh... dan heboh... Buah dari heboh-heboh itu lalu dinikmati rakyat. Ternyata buah yang mereka makan, malah membikin rakyat menjadi binggung. Mereka tak tahu harus berbuat apa... Sampai kapan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-3951136823235924581?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/3951136823235924581/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=3951136823235924581&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/3951136823235924581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/3951136823235924581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2010/04/heboh.html' title='Heboh...'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S8MpfENdFtI/AAAAAAAAAi4/VbDiwsh6CJo/s72-c/8922_1272484291587_1214293920_844220_3792823_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-1153445239386475954</id><published>2010-04-12T13:26:00.002+07:00</published><updated>2010-04-12T13:29:01.797+07:00</updated><title type='text'>Rendah Hati</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S8K9n8bqdkI/AAAAAAAAAio/vfRcD9j6XAU/s1600/9730_1251416444904_1214293920_778110_626395_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 162px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S8K9n8bqdkI/AAAAAAAAAio/vfRcD9j6XAU/s200/9730_1251416444904_1214293920_778110_626395_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5459134192261166658" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Achmad Subechi, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BENIH itu telah tumbuh dan kini sudah berbuah. Ketika ditanam, ada doa, keringat dan cucuran air mata. Enam tahun lalu, tepatnya 8 Mei 2003, di gedung yang sangat-sangat sederhana di Jalan Indrakila  Straat III Dalam, Balikpapan, kami semua menundukkan kepala, menanti kelahiran 'bayi' yang diberi nama Tribun Kaltim (Group of Regional Newspaper Kompas Gramedia). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih teringat, ketika itu menjelang penerbitan perdana Tribun Kaltim, suasana di ruangan redaksi terlihat tegang. Para awak redaksi yang digembleng selama hampir tiga bulan, harap-harap cemas dengan produk yang mereka hasikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H Sjamsul Kahar (Wakil Direktur Kelompok Persda Bidang Redaksi) yang menjadi Pemimpin Umum Tribun Kaltim, terlihat berlinang air mata seusai membaca doa. Termasuk juga para perintis Tribun Kaltim, Uki M Kurdi dan Febby Mahendra Putra. &lt;br /&gt;Kami semua mengamin, doa yang dipanjatkan. Kami semua berharap dan meminta kepada Sang Khalik agar benih yang kami tanam bisa tumbuh menjadi besar, lalu memberi penghidupan kepada siapa saja yang bernaung di bawah pohon itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu langkah dan nafas bersama anak-anak bangsa telah terukir di Bumi Borneo. Kalimantan Timur seakan menjadi saksi sejarah berkumpulnya anak-anak muda dengan berbagai macam latar untuk melahirkan karya-karya intelektual demi mencerdaskan kehidupan bangsanya. Pers yang kredibel dan independen, akhirnya menjadi warna baru bagi dunia penerbitan di Kaltim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui karya-karya mereka, ada nilai-nilai dan makna yang bisa dipetik oleh para pembaca Tribun Kaltim, khususnya masyarakat di Kalimantan Timur. Kami tidak hanya menyajikan berita bersifat informatif, edukatif dan menghibur, tetapi kami lebih menekankan jurnalisme bermakna yang bisa membawa bangsa ini menjadi bangsa yang besar dan di dalamnya berisi manusia-manusia cerdas yang bisa menyelesaikan berbagai macam persoalan dengan kepala dingin dan hati yang sejuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di gedung ini pula, selama enam tahun kami tanamkan kesederhanaan, rasa rendah hati, baik hati, kritis namun penuh dengan semangat membangun dalam konteks menjalankan fungsi pers --bukan menghancurkan apalagi mencabik-cabik- yang peduli kepada sesama dengan menggunakan pendekatan  friendly newspaper. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat ini kami tanamkan juga nilai-nilai integritas (kejujuran) demi menjaga citra diri. Ketika citra diri terbangun dengan baik, maka harkat dan martabat manusia akan tetap terjaga dengan baik dan tak akan tercerabut dari akarnya. Ujung-ujungnya adalah akan melahirkan rasa percaya diri, menuju wilayah profesionalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bekerja secara profesional, kami berharap akan lahir anak-anak bangsa yang memiliki integritas, beretos kerja tinggi, beretika, baik hati, rendah hati dan dapat dipercaya hasil karyanya. Itu artinya, kami selalu berusaha menyajikan berita-berita yang kredibel dan independensi kami tetap terjaga, sebagai pers yang bebas dan bertanggung jawab.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sadar, usia enam tahun, ibarat bayi yang baru bisa berjalan dan perlu bimbingan atau arahan dari semua pihak. Kritik dari pembaca sangat kami harapkan agar kami tidak pongah, sombong bahkan lupa diri. Kami adalah manusia biasa. Manusia yang selalu saja penuh dengan kelemahan dan kekurangan. Di hari yang baik ini, kami segenap pimpinan dan karyawan Tribun Kaltim dengan besar hati meminta maaf kepada para pembaca, nara sumber dan relasi bisnis, jika selama enam tahun perjalanan kami, ada ketidaksempurnaan. &lt;br /&gt;                                                                             ***&lt;br /&gt;KINI perkembangan meng-create teknologi semakin pesat dan cepat. Akses berita, foto, audio, video streaming, TV dan radio via hand phone serta menjamurnya bisnis online (ekonomi berbasis ilmu pengetahuan), membuat kami tertantang untuk terus menerus melakukan perubahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki tahun kelima, Tribun Kaltim telah melakukan transformasi, dengan membuat terobosan baru di tekhnologi informasi dengan menghadirkan sebuah website, www.tribunkaltim.co.id. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Website ini sengaja kami buat untuk menjawab tantangan baru yaitu menggeliatnya dunia internet yang kian hari semakin pesat. Para pembaca di seantero dunia, dengan mudah mendapatkan informasi dari menit ke menit setiap denyut nadi kehidupan yang ada di Kalimantan Timur. &lt;br /&gt;Lagi-lagi, kami adalah manusia biasa. Tentu saja apa yang kami tampilkan buat para pembaca, masih belumlah sempurna. Untuk itu, sekali lagi, kami dengan rendah hati meminta masukan (kritik) dari pembaca, khususnya masyarakat Kaltim agar apa yang kami cita-citakan bisa tercapai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada semua pihak yang selama ini telah menjalin kerja sama dengan Tribun Kaltim (relasi bisnis, nara sumber dan anggota masyarakat) dan telah kami anggap sebagai saudara, kami ucapkan terima kasih.(*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-1153445239386475954?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/1153445239386475954/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=1153445239386475954&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/1153445239386475954'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/1153445239386475954'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2010/04/rendah-hati.html' title='Rendah Hati'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S8K9n8bqdkI/AAAAAAAAAio/vfRcD9j6XAU/s72-c/9730_1251416444904_1214293920_778110_626395_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-8956548791782508010</id><published>2010-04-10T20:53:00.001+07:00</published><updated>2010-04-10T20:56:48.850+07:00</updated><title type='text'>Rumitnya Mengurai Benang Kusut</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S8CDmFhDWaI/AAAAAAAAAig/BGvo26xCrog/s1600/kusut.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 198px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S8CDmFhDWaI/AAAAAAAAAig/BGvo26xCrog/s200/kusut.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5458507438712117666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: Achmad Subechi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TELINGA kami selalu mendengar. Mata kami belum melihat data. Berbagai macam ketimpangan di negeri ini, selalu menjadi bahan pergunjingan dimana-mana. Ketika saya nongkrong di pos ronda kampung, bapak-bapak mengeluhkan berbagai macam persoalan yang tak pernah berhenti menerpa negeri ini. Mulai dari kasus Century, Gayus, helm SNI, pemalak di perumahan, kuli angkut yang memaksa, dan tindakan aparat yang main gusur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya coba menutup telinga rapat-rapat agar tak nendengar cerita itu itu mulu. Lagi-lagi, telinga saya bocor. Ketika kaki melangkah ke suatu tempat, cafe, misalnya, cerita tentang kebobrokan negeri ini terutama soal aparatur negara yang dianggap tak berpihak kepada rakyat, selalu saja menghampiri telinga saya. Sebel....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya malas mendengar cerita-cerita yang membuat kita skeptis, pesimistis bahkan kehilangan daya atau semangat untuk memberikan sedikit pemikiran atau gagasan agar negeri ini kedepan semakin baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sikap apatis semacam itu lahir karena sudah tak ada lagi harapan, karena persoalan yang terjadi di hadapan kita persis kayak benang yang lagi kusut. Ruwet dan susah diudari. Kadang ada kegamangan, gemes, sebel, jengkel dan pasrah begitu tahu keadaan negeri ini kok dari dulu tak pernah tentram. Geger terus dan selalu saja lahir masalah baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini pasti ada yang salah pada negeri ini. Pantes bala (bencana) selalu saja datang pada negeri kita," begitu guman seorang rekan cangkruk di pos ronda. Saya terdiam dan ogah berkomentar, karena takut tambah ruwet dan benang itu sulit diudari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluh kesah dari rakyat kelas bawah, hampir tak pernah berhenti. Mulai dari ruwetnya mencari nafkah, ruwetnya rasa keadilan, ruwetnya kasus korupsi, ruwetnya kongkalikong, ruwetnya persoalan hidup hingga ruwetnya demo kerbau. Pendek kata, problem di negeri ini semakin complicated. So? Diam... Rasanya lebih baik, daripada teriak teriak tapi tak dihiraukan penguasa. Nangis, sedih? Bukan cara untuk menyelesaikan masalah. Mau berhadapan? Alamaakkk... siapa diri kita ini. Wong rakyat jelata biasa kok, mau macam-macam. Apalagi kita bukan wakil rakyat. Jadi kagak boleh mengklaim diri sebagai pembela rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang ke rumah, suara manusia berkomentar di radio ehmm sangat beragam. Isinya keluh kesah melulu. Korupsi menjadi topik utama. Semua pendengar seakan-akan menjadi manusia yang serba hebat, serba tahu, serba bisa dan mampu mengatasi masalah. Sang penyiar akhirnya binggung sendiri, karena para komentator ternyata lebih pintar bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari belakangan, saya coba tutup telinga dengan alat peredam. Eittt... masih bocor juga. Ketika kepala sudah saya rebahkan ke bantal, dan telinga saya sumpal dengan kapas, bocoran informasi soal korupsi masih saja terdengar dari siaran televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sampai saya ngumpet ke kolong tempatt tidur. E.. coro-coro juga lagi ngrumpi soal kasus Gayus yang lagi bikin heboh rakyat Indonesia. Saya coba nyelam ke kolam renang. Air-air itu pun juga masih bernyanyi. Lagunya terdengar sumbang. Lagi-lagi soal kasus korupsi yang dibahas. Saya coba tanya ke awan. Awan terbahak-bahak. "Apa kata dunia kagak bayar pajak" Walah.. celaka benar nih hidup di negeri yang kaya raya, tapi banyak masalah yang serumit benang kusut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-8956548791782508010?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/8956548791782508010/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=8956548791782508010&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/8956548791782508010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/8956548791782508010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2010/04/rumitnya-mengurai-benang-kusut.html' title='Rumitnya Mengurai Benang Kusut'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S8CDmFhDWaI/AAAAAAAAAig/BGvo26xCrog/s72-c/kusut.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-9127985145660061379</id><published>2010-04-10T20:50:00.002+07:00</published><updated>2010-04-10T20:53:26.279+07:00</updated><title type='text'>Menanti Borok Baru</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S8CCzPyDpRI/AAAAAAAAAiY/KGV-tpmBUts/s1600/images.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 158px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S8CCzPyDpRI/AAAAAAAAAiY/KGV-tpmBUts/s200/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5458506565294466322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: Achmad Subechi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KORUPSI semakin menggurita di negeri ini. Ada perasaan miris, cemas, gundah, sedih dan entah apalagi, begitu mengetahui 'borok-borok' korupsi satu persatu keluar ke permukaan. Setelah kasus pegawai pajak Gayus Halomoan P Tambunan terungkap, kini menanti kasus lainnya yang akan dibuka ke publik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Ketua Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan Yunus Husein, borok yang akan dibuka itu bobotnya lebih besar dibandingkan kasus Gayus. Disebut-sebut borok itu melibatkan mantan pegawai pajak yang lebih tinggi dibandingkan Gayus. Sebenarnya, kata Yunus, pihaknya telah menyerahkan data itu kepada Polri, Kejaksaan Agung, dan Kementerian Keuangan, sekitar Maret 2009. Kenapa kasus itu diam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yunus meminta para wartawan untuk menanyakan hal itukepada Kapolri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri dan Jaksa Agung Hendarman Supandji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD melempar sinyal baru soal borok-borok di negeri ini. Katanya, dalam waktu dekat akan muncul lagi kasus korupsi baru yang nilainya sekitar Rp 100 miliar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan Menteri Pertahanan itu menegaskan, kasus korupsi yang akan menghebohkan tersebut tidak melibatkan institusi perpajakan. "Korupsi tersebut lintas instansi," ungkapnya. Data-data penting mengenai kasus itu, sudah ada di tangan anggota DPR RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikan sinyalemen yang disampaikan dua pejabat tinggi negara itu benar, betapa miris hati masyarakat Indonesia melihat berbagai macam kasus korupsi terungkap satu persatu di negeri tercinta ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat Indonesia yang selalu taat membayar pajak buat membangun negaranya, 'dikadali' begitu saja oleh para penguasa. Sungguh tidak elok dan kurang arif rasanya, memakan uang rakyat yang diperoleh dari hasil kerja keras --menguras keringat, bangun pagi pulang malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika borok-borok itu semakin terbuka, dikhawatirkan tingkat kepercayaan publik terhadap aparatur negara semakin menurun. Lagi-lagi kuncinya pada trust atau kepercayaan. Ketika rakyat sudah tak lagi percaya kepada pengelola negara, lalu mau dikemanakan negeri ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum citra diri bangsa kita semakin menurun, sudah saatnya kita semua merapatkan barisan, melakukan konsolidasi lalu membuat komitmen baru bahwa bangsa ini adalah bangsa yang mengutamakan kejujuran, bukan bangsa yang selalu memanfaatkan kesempatan untuk kepentingan pribadi maupun kelompoknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menegakkan integritas (kejujuran) tak hanya diajarkan kepada bocah-bocah yang masih duduk di bangku sekolah dasar, tetapi justru gerakan penyadaran itu harus dimulai dari level para pejabat negara dan bawahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sulit mengajak para penguasa untuk memasuki wilayah kesadaran baru --dapat dipercaya, memegang teguh amanat dan jujur terhadap dirinya sendiri maupun kepada rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya kesadaran manusia baru tumbuh, setelah terjepit oleh berbagai masalah atau ketika manusia sudah berada di balik jeruji besi tanpa ada teman dan kawan yang mau peduli dengan persoalan yang tengah dihadapinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mumpung belum terlambat, mari kita semua melakukan kontemplasi untuk melakukan pembaharuan dan perubahan terhadap sikap kita yang mungkin selama ini keliru atau sengaja memelesetkan diri karena aji mumpung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa sesungguhnya diri kita ini? Dulu kita ini siapa? Sekarang kita berdiri di sebelah mana dan kedepan mau melangkah kemana? Sudahkah kita berbuat yang terbaik buat bangsa ini? Kalau belum, mari kita bekerja dengan baik dan benar serta profesional dalam bidang masing-masing demi bangsa yang kita namakan Indonesia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-9127985145660061379?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/9127985145660061379/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=9127985145660061379&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/9127985145660061379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/9127985145660061379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2010/04/menanti-borok-baru.html' title='Menanti Borok Baru'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S8CCzPyDpRI/AAAAAAAAAiY/KGV-tpmBUts/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-8064413237013426373</id><published>2010-04-10T20:47:00.002+07:00</published><updated>2010-04-10T20:48:06.181+07:00</updated><title type='text'>Di Balik Lahirnya Tribunnews.com</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S8CBipIYUkI/AAAAAAAAAiQ/FC3ZVsyhXYg/s1600/0_TRIBUNEWS_SYUKURAN_KIRIM02.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 124px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S8CBipIYUkI/AAAAAAAAAiQ/FC3ZVsyhXYg/s200/0_TRIBUNEWS_SYUKURAN_KIRIM02.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5458505180529578562" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: Achmad Subechi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HARU bercampur gembira, sekaligus plong (lega). Itulah perasaan hati kami, ketika pembacaan doa yang dilakukan sahabat saya, Uki M Kurdi, jebolan Pondok Pesantren Gontor yang kini menjadi Pemimpin Redaksi Tribun Lampung, diakhiri dengan salam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini sulapan..." bisik rekan saya lainnya. Betapa tidak, dalam waktu dua bulan, kami telah rampung menyelesaikan pembuatan website berita yang kami beri nama Tribunnews.com. Kehadiran Tribunnews.com, menambah jumlah website berbasis berita yang lebih dulu hadir di negeri ini. Misalnya, detik.com, kompas.com, vivanews.com, inilah.com, okeyzone.com dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerja keroyokan kali ini, waktunya berdekatan dengan launching Tribun Jambi, 17 Maret 2010 lalu. Di tengah kesibukan menyiapkan bayi di Pulau Sumatera, kami juga sibuk menyiapkan bayi lainnya di Jakarta, yang akhirnya secara resmi Tribunnews.com diluncurkan 22 Maret 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara syukuran di markas Persda, Jalan Palmerah Selatan 3, Jakarta, merupakan sejarah baru bagi Group of Regional Kompas Gramedia. Selama ini kami telah melahirkan 14 koran daerah berikut websitenya. Untuk level nasional, baru kali ini kami membuat portal berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan haru bercampur gembira, terpancar dari seluruh karyawan Persda yang sengaja kami undang untuk ikut berbagi kegembiraan. Tak kalah pentingnya, kami berharap doa tulus yang mereka panjatkan segera melambung ke langit lalu dijabah oleh Allah, kemudian apa yang kami cita-citakan --masuk 10 besar Alexa-- segera terealisasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa optimistis itu semakin membesar manakala saya melihat perkembangan Tribunnews.com dari hari ke hari. Dalam waktu seminggu (versi beta), Tribunnews yang awalnya bertengger di urutan 45.000 versi Alexa, kini berubah menjadi urutan ke 12.000 (website di Indonesia). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan yang sangat signifikan ini, membuat spirit kami bertambah tinggi. Lebih-lebih ketika saya melihat jumlah member Tribunnews.com di Facebook sudah mencapai angka 2.125 fans (Senin, 22/3/2010). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka ini ditambah dengan jumlah anggota penulis Citizen Reporter dan Tribunners yang semakin hari kian melambung. "Citizen Reporter menjadi unggulan kami. Mengapa? Karena di Tribunnews.com, semua orang bisa jadi wartawan," kata Direktur Group of Regional Newspaper Kompas Gramedia, Herman Darmo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan Herman Darmo, Direktur Keuangan Group of Regional Newspaper Kompas Gramedia, Sentrijanto, optimistis bahwa Tribunnews.com bisa menjadi portal berita terbesar di negeri ini. "Apalagi kami melihat kerja sama teman-teman begitu kompak dalam mengerjakan proyek ini," tuturnya saat memberikan sambutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kami kelahiran Tribunnews.com yang diluncurkan kemarin, membuat hati kami merasa lega. Kerja keras kami dari hari ke hari, bekerja siang malam telah berbentuk. Tak jarang, agar proyek ini segera diterima pasar, kami --Achmad Subechi (Pimro Tribunnews.com/Pemred Tribun Kaltim), Dahlan (Wakil Pimpro/Pemred Tribun Timur) dan Febby Mahendra Putra (Ketua Komisi Contents/Pemred Tribun Batam), terpaksa begadang, melakukan rapat maraton di kamar Hotel Santika, Jakarta, sambil membawa infokus hingga dinihari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara 'nyanyian' anak isteri kami, untuk sementara terpaksa kami 'pinggirkan' hanya semata-mata menunggu kelahiran sang bayi yang kami beri nama Tribunnews.com. Semoga ketulusan dan keikhlasan kami, berangkat dari pikiran, hati dan jiwa yang bersih dalam berkarya, diridhoi Tuhan. Sehingga kedepan, pohon Tribunnews.com, segera berbuah lalu buah, ranting dan daunnya bisa dinikmati oleh kami, keluarga kami dan manusia lain. Amin....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi kepada masyarakat Indonesia, kami mohon doa restunya, terutama teman-teman kami di Facebook, Tribunners dan Citizen Reporter yang selama ini telah memberikan dukungan kepada kami. Termasuk ratusan reporter kami yang tersebar di seantero negeri ini. Selamat bekerja dan sukses selalu.... Salam Tribunews.com.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-8064413237013426373?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/8064413237013426373/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=8064413237013426373&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/8064413237013426373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/8064413237013426373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2010/04/di-balik-lahirnya-tribunnewscom.html' title='Di Balik Lahirnya Tribunnews.com'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S8CBipIYUkI/AAAAAAAAAiQ/FC3ZVsyhXYg/s72-c/0_TRIBUNEWS_SYUKURAN_KIRIM02.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-383666068333948930</id><published>2010-04-10T20:39:00.001+07:00</published><updated>2010-04-10T20:43:08.505+07:00</updated><title type='text'>Surat Cinta Buat Koruptor</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S8CAYv2o-CI/AAAAAAAAAiI/DU7hTWLpK5s/s1600/Malu-Korupsi-ILUSTRASI.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 148px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S8CAYv2o-CI/AAAAAAAAAiI/DU7hTWLpK5s/s200/Malu-Korupsi-ILUSTRASI.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5458503911023900706" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: Achmad Subechi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kekuasaan telah membuat gelap hati. Kekuasaan membuat pikiran dangkal. Kekuasaan membuat nalar tak lagi bermata. Kami tidak marah melihat perilaku-perilaku anda. Kami tidak mengajarkan dendam kepada anak-anak bangsa, walau masa depan mereka tercabik-cabik karena perilaku kalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, kami trenyuh dan kasihan dengan anda dan keluarga. Ketika aib-aib itu bertebaran dan menerpa anda, pernahkah anda berpikir bahwa isteri, anak dan saudara anda juga terhakimi? Pernahkah anda berpikir bagaimana rasanya kalau isteri dan anak-anak anda dikucilkan oleh lingkungan, dijadikan bahan pergunjingan lalu nasibnya menjadi terlunta-lunta setelah anda masuk bui?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka seharusnya tak mendapatkan siksaan psikologis semacam itu, seandainya anda bekerja dengan baik dan benar serta profesional dalam mengemban amanat yang diberikan negara. Pernahkah anda berpikir bahwa uang dari hasil korupsi yang sebagian diberikan ke isteri untuk dibelikan susu, beras, lauk pauk, akan menjadi darah panas ketika makanan-makanan itu masuk ke dalam tubuh keluarga anda? Lalu bagaimana cara anda membersihkan darah-darah panas itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan sesali kalau ada anak anda yang sakit, ada anak anda yang gagal dalam menitit karir, ada anak anda yang menjadi pengangguran dan susah mendapatkan pekerjaan, ada anak anda yang tertimpa musibah atau ada anak anda yang aibnya terbongkar karena kena narkoba atau tindakan kriminal lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah anda berpikir, betapa sakitnya hati rakyat-rakyat kecil yang taat membayar pajak dari hasil keringatnya sendiri, bekerja siang malam, demi membantu negaranya? Lalu kenapa uang-uang halal dari rakyat itu kalian ubah menjadi haram? Lalu kalian berpesta pora menikmatinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah mati akalkah? Sudah mati rasakah? Sudah putus urat rasa malunyakah? Atau memang kalian sengaja mencampakan mahkota yang diberikan Tuhan yang diberi nama harkat dan martabat? Betapa malangnya kalian, manakala kekuasaan yang kalian genggam lalu engkau salahgunakan hanya untuk kepentingan pragmatis. Betapa menyedihkannya nasib kalian, manakala aib-aib itu dibongkar oleh Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat kami rakyat kecil, uang seribu perak, dua ribu perak, sangat berarti buat bekal sekolah anak-anak kami. Tapi uang-uang itu kami sisihkan untuk negara kami, sebagai rasa tanggung jawab sebagai warga negara yang taat membayar pajak. Kami-kami juga tak pernah menuntut negara untuk memberikan berbagai macam fasilitas berlimpah, walau kami-kami taat membayar pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa itu kami lakukan? Kami tahu, para pengelola negara sudah sangat sibuk untuk mengurusi berbagai macam persoalan yang dialami bangsa ini. Kami makmun, nurut dan apa kata negara. Kami masih percaya, negara ini akan menjadi negara yang besar dan bermartabat kalau dikelola dengan baik, dengan hati yang tulus, dengan jiwa dan pikiran yang bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat terbuka ini kami buat, bukan karena benci atau dendam dengan kalian, tetapi kami justru sayang kepada anda dan keluarga karena kalian adalah sama dengan kami. Sama sama memiliki jiwa, roh, hati dan perasaan yang semua itu pemberian dari Sang Maha Esa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyesalan selalu datang terlambat. Enggak apa-apa, asal rasa (kemauan untuk bertobat) itu masih ada. Penyesalan pasti menyisakan tangis karena harus berpisah dengan keluarga (anak dan isteri) lantaran hukum sudah bicara. Penyelasan, pasti melahirkan makna. Dan makna itu akan kalian temukan sendiri ketika anda sudah berada di balik jeruji besi tanpa fasilitas mewah seperti yang pernah anda rasakan ketika masih memegang tampuk kekuasaan…..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-383666068333948930?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/383666068333948930/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=383666068333948930&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/383666068333948930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/383666068333948930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2010/04/surat-cinta-buat-koruptor.html' title='Surat Cinta Buat Koruptor'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S8CAYv2o-CI/AAAAAAAAAiI/DU7hTWLpK5s/s72-c/Malu-Korupsi-ILUSTRASI.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-5831421602214004037</id><published>2010-03-23T13:30:00.001+07:00</published><updated>2010-03-23T13:33:03.618+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tribunnews.com'/><title type='text'>Andaikan Mall-mall ada Stasiun Kereta Apinya</title><content type='html'>Tulisan ini dimuat di &lt;a href="http://http://www.tribunnews.com/2010/03/21/Andaikan-Mall-mall-ada-Stasiun-Kereta-Apinya"&gt;tribunnews.com&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU (22/3/2010) jam 14.00 WIB, saya bersama rekan saya Uki M Kurdi, jalan-jalan ke kawasan Sudimara, Tangerang Selatan. Rencana itu sudah kami rancang jauh-jauh hari. Tujuannya, melihat perkembangan pembangunan di kawasan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dulu tahun 1980, saya sering naik kereta api dari Jakarta menuju Sudimara. Kebetulan famili saya tinggal di kawasan Jombang, dekat Sudimara," kenangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pukul 14.00, Uki M Kurdi sudah berada di halaman kantor. Kami lalu berjalan kaki menuju ke Stasiun Palmerah. Jaraknya, sekitar 600 meter dari kantor kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini kami sengaja naik kereta api sambil menikmati suasana. Harga tiket kereta api Ciiujung, hnya Rp 4.300 untuk sekali jalan. Usai beli tiket, kami nongkrong di sekita peron. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stasiun Palmerah, sudah tertata. Beda dengan dulu. Tempat penjualan tiketnya cukup lumayan bersih, dengan bangunan baru (minimalis). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Suasananya berbeda dengan stasiun yang ada di Jepang dan Cina," kata Uki M Kurdi yang selama menjad wartawan kerap berpergian ke luar negeri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betul... Dibandingkan dengan Singapura saja jauh. Coba, seandainya masing-masing mall di Jakarta ada stasiunnya, mungkin masyarakat Jakarrta lebih suka naik kereta daripada membawa kendaraan pribadi. Dengan demikian Jakarta tidak macet," sahut saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, saya sempat berandai-andai soal suasana di masing-masing stasiun. Misalnya, lantai peron yang selama ini diaspal, dirubah menjadi keramik atau didesain sedemikian cakepnya, lalu di sekitar stasiun ada cafe, ehmm... betapa nikmat dan nyamannya para calon penumpang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuman, kesadaran masyarakat terhadap kebersihan harus ditingkatkan. Tak ada lagi puntung-puntung rokok, gelas plastik bekas minuman dan segudang sampah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebenarnya sekarang ini sudah ada kemajuan. Coba lihat para penumpang kerreta AC sudah memiliki kesadaran. Tak ada lagi penumpang tak berkarcis. Mereka malu kalau naik kereta tak membawa tiket, apalagi nyogok kondektur. Penumpang lain akan bereaksi," tutur saya kepada Uki M Kurdi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau agak molor sekitar setengah jam, KA Ciujung akhirnya ddatang juga. Kami berdua naik, walau harus berdesak-desakan dan tak mendapatkan tempat duduk. Sepanjang perjalanan, kami bercerita panjang lebar mengenai dunia perkereta-apian di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Coba kalau urusan kereta api di Indonesia diserahkan ke Jepang, mungkin Jepang akan membangun rel bertingkat. Tetapi, regulasi tetap di tangan pemerintah, terutama menyangkut harga tiket," kata Uki kepada saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu. Pemerintah harus berani menyulap semua stasiun yang ada di negeri ini. Jika semua stasiu ditata dan dikelola dengan baik dan benar, maka dunia perkeretaapian di negeri ini tak kalah dengan negara-negara lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau menurut saya, perusahanaan kereta api tinggal memoles sedikit. Kesan stasiun yang selama ini kumuh harus dihilangkan atau dikubur dalam-dalam. Kedua, UU Perkeretaapian benar-benar diterapkan. Jadi tak ada lagi penumpang tak berkarcis, tak ada lagi penumpang yang naik loko, tak ada lagi penumpang yang naik ke atap kereta."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendek kata, perusahaan kereta api di Indonesia harus berani melakukan perubahan. Mengapa? Pasarnya sudah ada. Selain cepat, tak terhalang kemacetan, jadwal kereta api di negeri ini sudah mulai tepat waktu alias tak molor-molor seperti zaman jadul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, pasar yang besar ini apakah mau dilirik atau tidak? Kalau sekedar asal dapat penumpang atau melayani masyarakat, ya jadinya seperti sekarang ini --lampu di gerbong kereta kadang tidak menyala, kamar kecil kotor bahkan tidak ada airnya dan gerbong-gerbong terlihat kusam, walau kerap dicat ulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa kereta yang kami tumpangi sudah berhenti di Stasiun Sudimara. Hanya memakan waktu sekitar 15-20 menit perjalanan dari Palmerah menuju Sudimara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, teman saya sempat kagum begitu kereta melintas di kawasan Stasiun Jurang Mangggu. "Wow... stasiunnya keren dan bersih," teriaknya. Seorang penumang menimpali. "Ini stasiun baru Pak."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-5831421602214004037?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/5831421602214004037/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=5831421602214004037&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/5831421602214004037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/5831421602214004037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2010/03/andaikan-mall-mall-ada-stasiun-kereta.html' title='Andaikan Mall-mall ada Stasiun Kereta Apinya'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-1627837861024059769</id><published>2010-03-23T13:26:00.001+07:00</published><updated>2010-03-23T13:29:22.911+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tribunnews.com'/><title type='text'>Menelaah Karya Cipta Tuhan</title><content type='html'>Tulisan ini dimuat di &lt;a href="http://http://www.tribunnews.com/2010/03/23/menelaah-karya-cipta-tuhan"&gt;tribunnews.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nak... kucing itu tidak akan meong-meong kalau tidak lapar. Di rumahnya, ada tiga ekor anaknya yang baru saja dilahirkan. Kalau saja engkau beri makan sang kucing, maka makanan itu berubah menjadi susu. Lalu susunya diisep oleh anak-anak meong. Lambat laun, meong-meong itu menjad besar."&lt;br /&gt;Achmad Subechi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERNAKAH kita mengamati dedaunan yang ada di halaman rumah kita? Mulai dari bentuk, warna, goresan dan perpanduan antara batang, ranting dan tangkainya? Pernakah kita mengamati buah salak berikut kulit dan pelapisnya? Kadang kita tak bisa menelaah lagi lebih dalam atau lebih detil, bagaimana proses penciptaan sebuah tanaman hingga melahirkan buah yang nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang rekan kantor saya tertegun dan kernyitnya berdiri, manakala melihat saya memegang sebutir salak. "Coba amati kulit salak ini. Bentuknya memang kasar. Tapi, kulit ini diciptakan Tuhan melalui sebuah proses yang lama. Tujuannya apa? Supaya buah yang ada di dalamnya tidak rusak dimakan wereng atau hama. Lho sudah begitu, di luar buahnya, Tuhan masih saja memberikan pelapis yang tipis. Ini luar biasa dan hanya bisa dicerna oleh manusa-manusia yang mau memaksimalkan akal dan pikirannya," kata saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa maknanya? "Ya maknanya seperti yang sampean jelaskan tadi." Coba cari makna lain? Teman saya terdiam. Lalu saya sedikit menjelaskan, sebenarnya makna buah salak ini adalah Tuhan meminta kepada manusia agar manusia melindungi dirinya dari berbagai macam godaan. Atau bisa jadi, Tuhan juga berharap agar manusia bisa melindungi dirinya dan harta bendanya dari serangan penjahat. "Buktinya, kulit salak ini kan ibarat tameng."  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua tahu bahwa tanaman tumbuh melalui biji-bijian. Siapa yang lebih dulu hadir? Apakah biji atau tanaman? Sama dengan telur dan ayam. Mengamati berbagai macam karya Tuhan --alam semesta dan isinya-- membuat diri kita terasa kecil dan kecil. Mungkin sekecil debu yang berterbangan diantara asap knalpot kendaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua karya cipta Tuhan memiliki nilai keagungan dan estetika yang luar biasa. Kadang karya-karya Tuhan tak mampu kita cerna. Lihat saja, seluruh isi alam semesta ini. Begitu juga proses penciptaan manusia yang begitu rumit dan membutuhkan waktu. Sel-sel yang ada di dalam tubuh manusia, mengurai, lalu bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing seperti yang dikehendaki Sang Khalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa foto yang mengabadikan hasil karya Tuhan. Foto itu menunjukan bahwa keindahan tak hanya ada di dunia daratan, tetapi di dasar lautpun penuh dengan keindahan. Bahkan kabar terakhir di luar negeri, belum lama in ditemukan sungai berikut ranting-ranting pohon di dasar laut. Subhanallah... Maha Benar Engkau Ya Allah beserta firman-Mu.&lt;br /&gt;Tapi mengapa kita kadang pongah? Sombong? Mentang-mentang? Bahkan, merasa paling hebat? Ironinya lagi, ada juga manusia yang sok berkuasa. Ketika kekuasaan berada digenggamannya, seakan-akan dunia miliknya. Sama halnya dengan dua insan yang lagi mabok asmara. Ora eling alias lagi tidak waras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika manusia lagi tidak eling, diajak mengamati hasil karya Tuhan, susahnya minta ampun. Coro-coro, kecoak bahkan semut yang lewat didepannya, diinjak begitu saja. Lho? Bukankah coro, kecoak dan semut, adalah hasil karya cipta Tuhan yang ditujukan kepada manusia berakal? Bahwa di dalam tubuh binatang yang sekecil apapun, ternyata ada organ tubuh yang kalau kita teliti, betapa rumitnya dan nyaris tak dapat dilihat dengan mata telanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin malam, anak saya membawa gagang sapu. Seekor kucing yang meong-meong di depan pintu rumah, dia hardik. Gagangnya ia pukulkan ke tubuh sang meong. Meong pun lari terkencing-kencing. Sedangkan wajah anak saya terlihat memerah. Ia geram. Ia jengkel dengan suara meong milik tetangga yang menganggu telinganya saat sedang belajar menyelesaikan pekerjaan rumah (PR). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kejadian itu, anak saya yang paling bungsu saya dekati. "Nak... kucing itu tidak akan meong-meong kalau tidak lapar. Di rumahnya, ada tiga ekor anaknya yang baru saja dilahirkan. Kalau saja engkau beri makan sang kucing, maka makanan itu berubah menjadi susu. Lalu susunya diisep oleh anak-anak meong. Lambat laun, meong-meong itu menjad besar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sontak, wajah Aina yang tadinya cemberut berubah menjadi sedih. Ia lalu masuk ke dalam rumah. Diambilnya sepotong ikan. Lalu ia panggil-panggil sang meong yang 'bernyanyi'. Begitu ikan itu diletakan di tanah, sang meong melahapnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati kecil saya bersyukur bahwa ada empati di dalam kalbu anak saya. Empati itu belumlah karatan, dan syukur-syukur tidak membatu sekeras baja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terdiam sambil mengamati bagaimana cara sang meong melahap ikan sedekah pemberian anak saya. Lalu, saya berdoa dan berharap agar kucing itu juga ikut berdoa pada malam hari supaya Tuhan selalu memberikan rezeki berlimpah kepada saya dan keluarga, sehingga bisa membelikan seekor ikan lagi buat sang meong...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-1627837861024059769?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/1627837861024059769/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=1627837861024059769&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/1627837861024059769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/1627837861024059769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2010/03/menelaah-karya-cipta-tuhan.html' title='Menelaah Karya Cipta Tuhan'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-1552409647304808707</id><published>2010-03-23T13:10:00.003+07:00</published><updated>2010-03-23T13:40:23.508+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tribunnews.com'/><title type='text'>Di Balik Lahirnya Tribunnews.com</title><content type='html'>Tulisan ini dimuat di &lt;a href="http://www.tribunnews.com/2010/03/23/Dibalik-Lahirnya-Tribunnews.com"&gt;www.tribunnews.com&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;Di Balik Lahirnya Tribunnews.com&lt;br /&gt;&lt;a href="http://tribunnews.com"&gt;Tribunnews.com&lt;/a&gt; - Selasa, 23 Maret 2010 00:53 WIBShare   + –&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HARU bercampur gembira, sekaligus plong (lega). Itulah perasaan hati kami, ketika  pembacaan doa yang dilakukan sahabat saya, Uki M Kurdi, jebolan Pondok Pesantren Gontor yang kini menjadi Pemimpin Redaksi Tribun Lampung, diakhiri dengan salam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini sulapan..." bisik rekan saya lainnya. Betapa tidak, dalam waktu dua bulan, kami telah rampung menyelesaikan pembuatan website berita yang kami beri nama Tribunnews.com. Kehadiran Tribunnews.com, menambah jumlah website berbasis berita yang lebih dulu hadir di negeri ini. Misalnya, detik.com, kompas.com, vivanews.com, inilah.com, okeyzone.com dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerja keroyokan kali ini, waktunya berdekatan dengan launching Tribun Jambi, 17 Maret 2010 lalu. Di tengah kesibukan menyiapkan bayi di Pulau Sumatera, kami juga sibuk menyiapkan bayi lainnya di Jakarta, yang akhirnya secara resmi &lt;a href="http://tribunnews.com"&gt;Tribunnews.com&lt;/a&gt; diluncurkan 22 Maret 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara syukuran di markas Persda, Jalan Palmerah Selatan 3, Jakarta,  merupakan sejarah baru bagi Group of Regional Kompas Gramedia. Selama ini kami telah melahirkan 14 koran daerah berikut websitenya. Untuk level nasional, baru kali ini kami membuat portal berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan haru bercampur gembira, terpancar dari seluruh karyawan Persda yang sengaja kami undang untuk ikut berbagi kegembiraan. Tak kalah pentingnya, kami berharap doa tulus yang mereka panjatkan segera melambung ke langit lalu dijabah oleh Allah, kemudian apa yang kami cita-citakan --masuk 10 besar Alexa-- segera terealisasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa optimistis itu semakin membesar manakala saya melihat perkembangan Tribunnews.com dari hari ke hari. Dalam waktu seminggu (versi beta), &lt;a href="http://tribunnews.com"&gt;Tribunnews&lt;/a&gt; yang awalnya bertengger di urutan 45.000 versi Alexa, kini berubah menjadi urutan ke 12.000 (website di Indonesia). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan yang sangat signifikan ini, membuat spirit kami bertambah tinggi. Lebih-lebih ketika saya melihat jumlah member Tribunnews.com di Facebook sudah mencapai angka 2.125 fans (Senin, 22/3/2010). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka ini ditambah dengan jumlah anggota penulis Citizen Reporter dan Tribunners yang semakin hari kian melambung. "Citizen Reporter menjadi unggulan kami. Mengapa? Karena di Tribunnews.com, semua orang bisa jadi wartawan," kata Direktur Group of Regional Newspaper Kompas Gramedia, Herman Darmo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan Herman Darmo, Direktur Keuangan Group of Regional Newspaper Kompas Gramedia, Sentrijanto, optimistis bahwa Tribunnews.com bisa menjadi portal berita terbesar di negeri ini. "Apalagi kami melihat kerja sama  teman-teman begitu kompak dalam mengerjakan proyek ini," tuturnya saat memberikan sambutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kami kelahiran Tribunnews.com yang diluncurkan kemarin, membuat hati kami merasa lega. Kerja keras kami dari hari ke hari, bekerja siang malam telah berbentuk. Tak jarang, agar proyek ini segera diterima pasar, kami --Achmad Subechi (Pimro Tribunnews.com/Pemred Tribun Kaltim), Dahlan (Wakil Pimpro/Pemred Tribun Timur) dan Febby Mahendra Putra (Ketua Komisi Contents/Pemred Tribun Batam), terpaksa begadang, melakukan rapat maraton di kamar Hotel Santika, Jakarta, sambil membawa infokus hingga dinihari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara 'nyanyian' anak isteri kami, untuk sementara terpaksa kami 'pinggirkan' hanya semata-mata menunggu kelahiran sang bayi yang kami beri nama Tribunnews.com. Semoga ketulusan dan keikhlasan kami, berangkat dari pikiran, hati dan jiwa yang bersih dalam berkarya, diridhoi Tuhan. Sehingga kedepan, pohon &lt;a href="http://tribunnews.com"&gt;Tribunnews.com&lt;/a&gt;, segera berbuah lalu buah, ranting dan daunnya bisa dinikmati oleh kami, keluarga kami dan manusia lain. Amin....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi kepada masyarakat Indonesia, kami mohon doa restunya, terutama teman-teman kami di Facebook, Tribunners dan Citizen Reporter yang selama ini telah memberikan dukungan kepada kami. Termasuk ratusan reporter kami yang tersebar di seantero negeri ini. Selamat bekerja dan sukses selalu.... Salam &lt;a href="http://tribunnews.com"&gt;Tribunews.com&lt;/a&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-1552409647304808707?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/1552409647304808707/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=1552409647304808707&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/1552409647304808707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/1552409647304808707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2010/03/di-balik-lahirnya-tribunnewscom.html' title='Di Balik Lahirnya Tribunnews.com'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-788141984468759315</id><published>2010-03-12T02:25:00.004+07:00</published><updated>2010-03-12T02:47:41.883+07:00</updated><title type='text'>KEBESARAN TUHAN...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S5lIv1fYcfI/AAAAAAAAAhw/unI6HT1kWK0/s1600-h/tre43.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 192px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S5lIv1fYcfI/AAAAAAAAAhw/unI6HT1kWK0/s200/tre43.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5447465210931081714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S5lHGC3TM1I/AAAAAAAAAhg/l-0V_zChB5s/s1600-h/1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 103px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S5lHGC3TM1I/AAAAAAAAAhg/l-0V_zChB5s/s200/1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5447463393454928722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;SEMUA ciptaan Tuhan memiliki nilai estetika yang luar biasa. Kadang karya-karya Tuhan tak mampu kita cerna. Lihat saja, seluruh isi alam semesta ini. Begitu juga proses penciptaan manusia yang begitu rumit dan membutuhkan waktu. Sel-sel yang ada di dalam tubuh manusia, mengurai, lalu bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing seperti yang dikehendaki Sang Khalik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa foto yang mengabadikan hasil karya Tuhan. Foto-foto ini menunjukan bahwa keindahan tak hanya ada di dunia daratan, tetap di dasar lautpun penuh dengan keindahan. Subhanallah... Maha Benar Engkau Ya Allah dengan semua firman-Mu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-788141984468759315?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/788141984468759315/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=788141984468759315&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/788141984468759315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/788141984468759315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2010/03/kebesaran-tuhan.html' title='KEBESARAN TUHAN...'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_6F05BcxMEas/S5lIv1fYcfI/AAAAAAAAAhw/unI6HT1kWK0/s72-c/tre43.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-6704378345411548658</id><published>2009-06-11T02:54:00.001+07:00</published><updated>2009-06-11T02:54:46.453+07:00</updated><title type='text'>Kutitipkan Bangsa Ini…</title><content type='html'>Oleh Achmad Subechi - 25 Maret 2009 - Dibaca 525 Kali -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    LELAKI tua itu selalu saja datang ke rumah, setiap kali saya pulang dari Balikpapan. Saya juga heran, kenapa ia bisa tahu kalau saya sudah tiba di Jakarta. Usianya sekitar 65 tahun. Ia tinggal di rumah petak bersama istri keduanya. Anaknya dua, semua wanita. Satu pelajar SMA dan satu lagi pelajar SMP. Meski tergolong kurang mampu, namun anaknya terawat, bersih dan tak kelihatan kalau mereka anaknya orang tidak mampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Setiap kali saya lewat di depan rumahnya ada rasa trenyuh dan terharu dengan spiritnya. Bayangkan, tinggal di rumah petak berukuran 3 X 4 meter, tanpa kamar dan hanya ada satu kamar mandi Pak Tua itu mampu menyekolahkan anaknya. Istrinya hanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sehari-hari, dengan nafas tersenggal-senggal, ia datangi rumah tetangga kanan kirinya. Tangannya menengadah tanda meminta. Saya enggak tahu persis berapa penghasilan yang ia dapatkan dalam sehari. Kadang, seusai bertemu saya, Pak Tua itu selalu tersenyum manja. Wow… hati saya terasa plong. Artinya, hari ini saya bisa membahagiakan manusia lain, walau hanya dengan senyuman dan kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Anak-anak saya sudah hafal. Ketika Pak Tua terlihat berjalan kaki tertatih-tatih dari jauh, anak saya selalu teriak. “Pak Pak… Tua tuh… Dia mau ke rumah.” Biasanya, kami duduk di teras rumah, sekedar ngobrol. Sesekali saya berpura-pura sebagai orang ‘pintar’ saat penyakit asmanya kambuh. Biasanya, telapak tangan saya tempelkan ke dada. Enggak lama kemudian, Pak Tua itu tersenyum sambil mengatakan, “Kena… kena… Nah itu dia… penyakitnya… Alhamdulillah….” Saya tertawa kecil, karena apa yang saya lakukan itu hanya sedikit memberikan sugesti saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Apakah ia dapat BLT? Ternyata tidak. Sama dengan tetangga saya lainnya. Seorang janda beranak tiga. Tahun lalu, ia mengadu dan menangis di depan saya menceritakan ada rasa ketidakadilan terhadap program BLT. “Masak… tetangga saya yang mampu malah dapat BLT, sedangkan saya tidak. Padahal nama saya sudah didata. Pak RT sudah saya datangi, tapi dia diam saja,” tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Rasanya ingin hari itu juga saya menemui Ketua RT setempat. Tapi karena rumah kontrakan saya beda dengan RT sang Ibu, saya tak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya mengelus dada melihat perilaku-perilaku penguasa kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kemarin seorang janda setengah baya, punya dua orang anak datang ke rumah saya. Ia mengucapkan rasa terima kasih karena selama ini biaya sekolah anaknya dihandle oleh istri saya. Lagi-lagi, dia mengeluh tak mendapatkan dana BLT. “Tapi untunglah Pak… Ibu mau memberi dana kepada anak saya untuk biaya sekolah…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ***&lt;br /&gt;    DI BALIKPAPAN ketika bencana tanah longsor menghantam salah satu pemukiman, saya datang ke lokasi kejadian memotret dan mencari data. Masya Allah, saya dapati sebuah rumah berukuran 3 kali 2 meter yang dihuni oleh lima orang anggota keluarga. Kamar tidurnya saja tidak ada. Semua ngruntel jadi satu. “Bapak bekerja menjadi penjaga sekolah… Kami berlima tinggal di rumah ini,” kata seorang  bocah berusia tujuh tahun kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pemandangan memilukan juga saya lihat di Maumere. Ketika itu saya meliput gempa bumi. Ketika masuk ke pedalaman, ada juga manusia yang tinggal di kandang binatang bersama anak-anak dan istrinya. Pekerjaannya di ladang. Lagi-lagi saya mengelus dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Gambaran seperti ini amat kontras dengan di ibu kota. Mall-mall penuh sesak. Rumah-rumah makan bertebaran disana sini. Mau apa saja bisa. Semuanya tersedia. Bagaimana dengan yang di pelosok-pelosok desa yang infrastrukturnya belum memadai bahkan hampir tidak ada?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dimana rasa keadilan? Dimana pemerataan? Dimana kesejahteraan? Lalu mengapa kemakmuran itu masih jauh dan tak bisa dipetik? Mengapa bangsaku menjadi terpecah-pecah begini, terkotak-kotak oleh simbol dan kekuasaan, tercabik-cabik oleh kepentingan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Indonesia, bukan negeri yang tak memiliki masa depan. Indonesia adalah aset dunia. Negeri ini akan menjadi bangsa yang besar kalau para pemimpinnya bertindak adil, visioner, arif, bijaksana, berintegritas, merakyat, cerdas dan punya hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Wahai para calon pemimpin bangsa, “Kutitipkan negeri ini kepada kalian. Kutitipkan jasa-jasa bapaku yang telah berjuang terhadap negeri ini kepada kalian. Kutitipkan anak-anak bangsa ini kepada kalian. Kuserahkan semuanya kepada kalian… dan dengarkan jeritan hati rakyat serta pahami  tingkat kesulitan mereka. Tenggoklah mereka dan jangan hanya duduk di singgasana… Angkatlah derajat kesadaran manusia ke dalam nilai-nilai kemanusian universal..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bangsa ini terlalu mahal dipertaruhkan hanya untuk kepentingan sempit. Bangsa ini harus tetap ada, bangsa ini harus mampu memerdekakan kemiskinan, kebodohan, kesengsaraan, ketidakadilan, kesenjangan, kerampuhan jiwa dan segala tetek bengeknya. Akankah masa depan bangsa ini kita percayakan kepada manusia-manusia yang pragmatis, oportunis, tak memiliki integritas, tak profesional, tak berintelektual? Jawabannya ada pada bangsa ini…. Salam dari anak bangsa…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Share on Facebook    Share on Twitter &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 tanggapan untuk “Kutitipkan Bangsa Ini…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Novrita,&lt;br /&gt;      — 25 Maret 2009 jam 3:16 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Ketika orang yang dianggap sebagai pemegang amanah untuk menyelenggarakan negara ini , untuk mensejahterakan rakayt negeri ini, untuk memakmurkan kehidupan bernegara…tidak mampu atau bahkan ada yang menyelewengkan amanah… Kewajiban kita adalah mengingatkan…&lt;br /&gt;          Tidak bisa kita memaksakan dengan cara-cara kekerasan…&lt;br /&gt;          Namun setidaknya…janganlah kita menjadi penyebab dari keterpurukan, kemiskinan, kesemrawutan, kekacauan…&lt;br /&gt;          Tamparlah diri kita sendiri ketika kita mengabaikan tangisan orang disekeliling kita yang kelaparan….&lt;br /&gt;   2. jalil,&lt;br /&gt;      — 25 Maret 2009 jam 3:49 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Ya bangsa ini adalah bangsa yang besar, gemah ripah lo jinawi, seharusnya tidak ada pemandangan kurang makan, anak2 tidak sekolah, susah berobat krn ngga punya biaya, tidur di kandang binatang, tapi saat ini realitanya demikian adanya. Masih banyak jumlahnya lalu kapan akan berkahir penderitaan saudara-saudara kita sebangsa yang kurang beruntung tersebut, Kita memang hanya bisa menitip bangsa ini kepada pemimpinnya, sang pemimpin yang BENAR.&lt;br /&gt;   3. slametwijadi,&lt;br /&gt;      — 25 Maret 2009 jam 3:54 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          ada adagium yang menyatakan “the society get a leader it deserves”. apakah memang “layak” bangsa indonesia mendapatkan pemimpin2 spt sekarang ini? jawaban ada pada kita sendiri. indonesia mempunyai semua syarat2 untuk menjadi bangsa yang besar, makmur dan sejahtera tetapi ibarat diterowongan yang panjang dan gelap, saat ini kita belum melihat sinar cahaya diujung terowongan.betapapun, kita tidak boleh pesimis,semoga satu saat nanti bangsa kita dapat memilih pemimpin2nya yang benar.&lt;br /&gt;   4. Unang Muchtar,&lt;br /&gt;      — 25 Maret 2009 jam 4:07 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Ya Allah, sayatlah di api neraka lidah para pemimpin kami, yang hari-hari ini sedang menebar janji untuk memperbaiki nasib Saudara-saudara kami dari belenggu kemiskinan, kesengsaraan dan kesulitan hidup, sayatlah lidah mereka bila mereka terpilih dan tak menepati janjinya……………..&lt;br /&gt;          Engkau maha bijaksana, engkau maha tahu dan jauhkanlah kami dari Pemimpin-pemimpin munafik.&lt;br /&gt;          Amin……&lt;br /&gt;   5. Ryani,&lt;br /&gt;      — 25 Maret 2009 jam 7:52 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Seharusnya para pemimpin bangsa ini lebih banyak meluangkan waktunya untuk melihat langsung keadaan rakyatnya. Jangan hanya pandai berteori saja &amp; mengumbarkan kata2 yang mengatasnamakan kepentingan rakyat.&lt;br /&gt;   6. abuga,&lt;br /&gt;      — 25 Maret 2009 jam 8:05 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          salam,&lt;br /&gt;          saya yakin masih banyak cerita pilu di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          ini bisa akibat dari aparat daerah yang hanya berpangku tangan dan membuat laporan abs ‘asal bapak senang’ saja. sudah biasa aparat daerah hanya nunggu jatah dan ngemplang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          sementar pemimpin nasional kalo mau terjun terlalu ribet dengan protokol. pendek kata pemimpin tidak punya gambaran ttg rakyat yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          hanya satu pertanyaan di hati: apa kira2 yang terpikirkan di benak presiden, gubernur, bupati, dpr jika media memberitakan kisah2 pilu anak negeri ini. di mana peran mereka?? kenapa kisah2 ini selalu ditemukan oleh wartawan bukan dpr yang katanya dekat dengan rakyat?? bukan pemerintah yang katanya pengayom rakyat??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          masihkah mereka bisa tertawa, makan enak omong kosong, selingkuh, tidur nyenyak, menilep uang rakyat miskin………. entahlah.&lt;br /&gt;   7. Endro,&lt;br /&gt;      — 25 Maret 2009 jam 8:20 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Mohon maaf, ada satu hal yang bisa dilakukan pak Achmad Subechi. Sepertinya pak SBY meski dikritik kiri kanan masih komit melanjutkan program BLT apabila terpilih jadi presiden lagi.&lt;br /&gt;          Mohon maaf lho ya pak Achmad, mungkin anda masih bisa mendatangi pak RT dari Pak Tua. Meskpun bukan Pak RT anda namun apabila didatangi dan dihimbau baik-baik untuk menambahkan nama Pak Tua pada daftar penerima BLT dan pak RT tahu anda wartawan insya Allah beliau tergerak melakukannya. Wassalam.&lt;br /&gt;   8. Bambang Darmanto,&lt;br /&gt;      — 26 Maret 2009 jam 9:37 am&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Saya sendiri heran kalau membaca dan mendengar SBY dengan lantangnya mengatakan bahwa tingkat kemiskinan dan pengangguran telah menurun dibandingkan sebelumnya, padahal dalam keseharian melihat disekitar kita semakin banyak pengemis, pengamen &amp; pengangguran yang berseliweran disepanjang jalan dan di tempat-tempat umum.&lt;br /&gt;          Apakah keberhasilan hanya mungkin dinikmati oleh mereka yang dekat dengan kekuasaan ?&lt;br /&gt;   9. Fatchurrachman,&lt;br /&gt;      — 27 Maret 2009 jam 6:57 am&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Tentu saja SBY mengatakan tingkat kemiskinan dan pengangguran turun, karena disekeliling dia kan orang-orang kaya yang meskipun mengemis, tetapi SBY pikir dia bisa dimanfaatkan untuk kumpulin dana kampanye gitu. Lha korban lumpur lapindo yang kepengin ketemu saja dicuekin, tapi dia ga bisa menindak Nirwan Bakrie. Hopo tumon ?&lt;br /&gt;  10. sumijan,&lt;br /&gt;      — 21 Mei 2009 jam 3:58 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Ya, ini satu realitas anomali jiwa dari negeri yang katanya mengusung visi kedilan bagi sosial dan kemakmuran begi seluruh rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Disisi lain, sebagai anak bangsa yang mengedepankan hati empati dan nalar ketika bersikap, jangan sampai lupa mengkalkulasi secara lebih cermat setiap keadaan sebelum bertindak. Dengan begitu energi positif yang hendak kita transpormasikan untuk membela kebenaran itu jangan sampai secara tidak disadari ternyata telah terjebak kedalam wilayah yang kontra pruduktif,di tengah 99% sumber daya dan dana di negeri ini di kuasai oleh para “politikus hitam,pengusaha hitam dan konlomerat hitam”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Jadi secara itung-itungan ilmu saudagar, syarat utama yang dibutuhkan untuk menolong orang kecil di neri ini adalah dengan cara bersikap premisif terhadap perilaku koruptif kapanpu, dimanapun dan dalam keadaan situasi serta kondisi yang bagaimanapun,pokoknya harus dapet restu kaum koruptif terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Dengan begitu pekerjaan menolong orang lain dalam bentuk mengentaskan dari jurang kemiskinan atau apapun masalahnya di jamin menjadi “LEBIH CEPAT DAN LEBIH BAIK”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Pendeknya, semua itu tergantung ISITAS para pihak yang berkompeten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Urusan pantas atau tidak,nanti dulu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-6704378345411548658?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/6704378345411548658/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=6704378345411548658&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/6704378345411548658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/6704378345411548658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2009/06/kutitipkan-bangsa-ini.html' title='Kutitipkan Bangsa Ini…'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-1046186784235783958</id><published>2009-06-11T02:52:00.000+07:00</published><updated>2009-06-11T02:53:37.323+07:00</updated><title type='text'>Selamat Jalan Sahabat</title><content type='html'>Selamat Jalan Sahabat&lt;br /&gt;Oleh Achmad Subechi - 28 April 2009 - Dibaca 851 Kali -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    AWAL Januari 2008. Nongkrong sambil ngobrol (berdiskusi) di kantin belakang Kompas, seusai bekerja menjadi kebiasaan kami. Malam itu, selepas bertugas di Kompas.com, saya janjian bertemu Eddy Hasbi (redaktur foto Kompas) di kantin membicarakan perkembangan Kompas Images. Setelah itu saya berniat naik kembali ke lantai lima (kantor Kompas.com).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sebelum menuju ke lantai lima, saya mampir ke ruangan Eddy. Di tempat itulah, saya bertemu Bambang Wahyuwahono, redaktur desk olahraga. Kami berdua tertawa terbahak-bahak mengenang masa lalu. Masa-masa yang menyenangkan saat bertugas di lapangan meliput berita-berita hukum dan politik. Maklum, saya sudah begitu lama tidak bertemua dia. “Saya baru saja Ching (begitu dia biasa memanggil saya) ditarik lagi ke Jakarta. Sebelumnya saya menjadi wakil kepala biro di Jawa Barat. Sekarang saya di desk olahraga,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Saat itu saya juga bercerita kepada dia kalau saya ‘dua kaki’ –menjadi Kepala Biro Persda dan diperbantukan ke Kompas.com. “Baguslah Ching. Hidup ini jangan dibuat susah. Dinikmati saja…. Yang penting anak-anak bisa sekolah. Kedua, integritas (kejujuran) tetap dipertahankan Ching…,” tuturnya sedikit memberi pesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pertemuan dengan Bambang mengingatkan saya pada masa lalu. Pria yang begitu bersahaja, santun, tegas dan penuh wibawa serta energik itu, cukup dikenal oleh para pejabat di negeri ini. Semangatnya dalam mencari berita tak mengenal waktu.  Pernah suatu hari, saya bertemu dia di kantor Komnas HAM kawasan Rawamangun. Padahal waktu itu hari sudah menunjukkan pukul 00.30. Kebetulan Ketua Komnas HAM hendak mengumumkan hasil investigasinya. Tak ada keluh kesah dari bibirnya. Ia dengan setia menanti hasil jumpa pers yang disampaikan Baharuddin Lopa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Begitu juga ketika kantor Komnas HAM pindah ke kawasan Menteng. Ia benar-benar akrab dengan semua pejabat di Komnas HAM. Keakraban Bambang dengan mereka karena ia dianggap memiliki integritas dan peduli dengan berbagai macam persoalan HAM. Ia benar-benar menguasai konteks (duduk persoalan). Wajar saja, kalau bertanya, pertanyaannya begitu tajam dan menukik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Begitu juga saat ngepos di kantor YLBHI. Hampir setiap hari, ia berdiskusi sambil menggali isu dari Bambang Widjajanto, Munir (almarhum) dan Teten Masduki.  Gaya bicaranya tidak meledak-ledak. Tatapan matanya tajam dan bersahaja. Kekritisannya itulah yang membuat dirinya disegani wartawan lain. Banyak yang terkesima dengan BW (panggilan akrabnya). Apalagi selama ini ia sangat peduli dengan apa yang dinamakan penegakan supremasi hukum dan ketidakadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sepekan setelah peremuan itu, saya mendapat kabar kalau BW terjatuh di kantor dan dirawat di rumah sakit karena stroke. Saya kaget. Saya tak menduga, jika pertemuan itu merupakan pertemuan kali terakhir saya dengan BW, karena beberapa saat kemudian saya dipindah ke Kalimantan Timur. Lebih mengejutkan lagi, Minggu (26/4) kemarin saya mendapat SMS yang mengabarkan bahwa sahabat saya itu telah pergi selama-lamanya. Selamat jalan sahabat…. Semoga Allah Swt meluaskan dan menerangi kuburmu serta menerima semua amal ibadahmu, termasuk hasil karya jurnalistikmu hingga pintu reformasi terbuka seperti sekarang ini. Sekali lagi, selamat jalan kawan….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Share on Facebook    Share on Twitter &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8 tanggapan untuk “Selamat Jalan Sahabat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. lily yulianti,&lt;br /&gt;      — 29 April 2009 jam 7:56 am&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Terima kasih untuk tulisan ini. Saya ingat saat beberapa kali bertemu mas BW di Jakarta, dia ramah dan dalam percakapan-percakapan yang meski singkat, senantiasa memberi pesan serta semangat. Semoga Allah memberi tempat yang layak dan menerima ibadah mas BW. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          ly&lt;br /&gt;   2. adven,&lt;br /&gt;      — 29 April 2009 jam 8:31 am&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Turut berduka cita Pak Bechi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Meninggalnya Pak Bambang Wahyuwahono yang mendadak tentu menjadi kabar yang mengagetkan. Saya tidak mengenal secara pribadi Beliau, namun membaca kiprah Beliau dari tulisan Bapak, bisa saya pastikan Pak BW merupakan salah satu aktor penting di belakang panggung bagi tegaknya demokrasi dan keadilan HAM di Indonesia. Melalui hasil liputan dan investigasinya masyarakat Indonesia belajar tentang hak dan kewajibannya selaku warga negara. Jalan hidup seorang wartawan memang jalan terjal dan sunyi. Kita, pembaca berita bisa mengenal hasil tulisannya namun sangat jarang bisa mengenal pribadinya. Selamat jalan Pak BW, terima kasih atas dedikasi dan integritas di dalam hidup dan karya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Terima kasih sudah mensharingnya pada kami Pak Bechi.&lt;br /&gt;   3. Yani,&lt;br /&gt;      — 29 April 2009 jam 10:58 am&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Inna Lillahi wa Innalillahi roojiuun…&lt;br /&gt;          Semoga Almarhum mendapat tempat yang mulia di sisi Allah swt dan kepada keluarga yang&lt;br /&gt;          ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan lahir batin..Aamiin.&lt;br /&gt;   4. katou,&lt;br /&gt;      — 29 April 2009 jam 4:30 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          telah hilang sahabat ku “koKi”, kolom kita… i love koki forever more than ever… say yes to koki&lt;br /&gt;   5. Cempluk,&lt;br /&gt;      — 30 April 2009 jam 2:37 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Hikz sedih membacanya…smoga mas BW diterima disisiNYA…,,,,,pakdhe ACHMAD SUBECHI ikut berduka cita hiks&lt;br /&gt;   6. R.Ngt.Anastasia Ririen Pramudyawati,&lt;br /&gt;      — 1 Mei 2009 jam 4:38 am&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          ..turut berduka, Bung Bechi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Saya hafal geliat internal seorang Jurnalist idealis &amp; terhormat seperti Beliau..&lt;br /&gt;          Semoga setiap sumbangsih gelisah Nurani atas segala kisah &amp; peristiwa eksternal yang Beliau sharing-kan selama ini tetap berlanjut dan menjadi salah satu agent pengubah - pembaik kondisi stagnant yang masih banyak menggejala di Negeri yang sama kita cintai ini..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          ‘nuwun&lt;br /&gt;   7. gsumariyono,&lt;br /&gt;      — 3 Mei 2009 jam 5:21 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          landasan utamanya karena pak BW jujur, berani dan punya harga diri, tidak terombang ambing dengan ideologi dan konsep2 pemikiran yang ‘ngawur’, tetapi pak BW mempunyai pandangan yang membela kepentingan banyak.. selamat jalan pak BW….&lt;br /&gt;   8. sumijan,&lt;br /&gt;      — 21 Mei 2009 jam 2:30 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          saya yakin di gedung Kompas Palmerah,disana tempat bersemayam para jurnalis pejuang yang seluruh pengabdian hidupnya hanya pantas dicatat dan diperlihatkan di depan Tuhan. Semoga apa yang di buat oleh generasi jurnalis kedepan bisa membuat orang seperti Mas Bambang menjadi tersenyum bahagia dari liang-liang kubur mereka. Saya sangat mengenal tipologi jurnalis group kompas,dari bau dan warnanya sungguh kentara menyengat tajam hingga ke jantung hati setiap pembacanya. Saya selalu bilang kepada anak-anak saya di daerah” nak,kalau kamu rajin baca koran terbitan group Kompas,insyaAlloh kamu akan menjadi cerdas dan lekas dewasa”. Alkhamdulillah anak saya sangat faham akan maksud saya. Selamat jalan, saudaraku,do’a dan sikapku menyertai setiap kebaikanmu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-1046186784235783958?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/1046186784235783958/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=1046186784235783958&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/1046186784235783958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/1046186784235783958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2009/06/selamat-jalan-sahabat.html' title='Selamat Jalan Sahabat'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-3563199033869928368</id><published>2009-06-11T02:50:00.000+07:00</published><updated>2009-06-11T02:52:17.952+07:00</updated><title type='text'>Wasiat Terakhir Mantan Presiden Korea Selatan</title><content type='html'>Oleh Achmad Subechi - 23 Mei 2009 - Dibaca 1486 Kali -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    USIANYA sudah mencapai 62 tahun. Ia pernah memegang tampuk kekuasaan tertinggi (presiden) tahun 2003-2008 di negaranya. Namanya Roh Moo-hyun. Beberapa waktu lalu, lelaki itu dipanggil aparat kejaksaan di negaranya, terkait dengan kasus korupsi yang melibatkan keluarga dan orang dekatnya. Bahkan, 19 April 2009 lalu, para jaksa di Korea Selatan (Korsel), menahan seorang pembantu dekatnya bernama Jung Sang Moon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Mantan Sekretaris Umum itu kemudian ditahan, karena diduga menerima suap jutaan dolar dari pengusaha sepatu yang sudah ditahan dan para pengusaha lokal lainnya untuk keluarga Roh. Roh Moo-hyun sendiri, juga akan diperiksa terkait tuduhan itu. Sedangkan, istri Roh, anaknya dan seorang keponakan perempuan Roh, telah diperiksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Diduga malu atas tuduhan korupsi melibatkan anggota keluarganya, Roh akhirnya mengambil jalan pintas. Sabtu (23/5) pagi, lelaki itu bunuh diri loncat dari sebuah bukit dan tewas seketika, walau sempat dibawa ke rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Mantan Presiden Roh meninggalkan rumahnya pukul 05.45. Ketika mendaki bukit Ponghwa, dia terlihat melompat sekitar pukul 06.40,” kata Moon Jae-in, Kepala Staf Kepresidenan Roh. Bahkan, sebelum bunuh diri, ia meninggalkan wasiat buat keluarganya. “Segalanya menjadi sulit… Saya merasa membuat banyak orang menderita.” Selain itu Roh juga berpesan agar jenazahnya dikremasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Roh adalah pribadi yang dibentuk dari bawah (jalanan). Mantan pejuang hak asasi manusia itu tak pernah menduga bakal duduk di The Blue House, Istana Kepresidenan. Sebagai anak petani miskin dan peternak ayam di Kimhae, Roh amat bersahaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sayang, petaka itu menghampiri keluarganya. Roh merasa malu. Suatu hari sebelum kasus korupsi melilit keluarganya terbongkar, Roh dengan rendah hati menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat dan negaranya karena tak bisa menuntaskan masalah korupsi dan perekonomian. Pidato itu disampaikan, satu hari setelah Mahkamah Konstitusi negara itu menolak usaha untuk meng-impeachnya dan memulihkannya kembali ke jabatan presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Katanya, Mahkamah tidak membebaskan dirinya dari kewajiban moral dan politiknya. Untuk itu dia bertekad mengatasi masalah ekonomi Korea Selatan. Sebelumnya, parlemen meng-impeachnya Roh dengan tuduhan melancarkan kampanye secara tidak sah, salah-kelola dalam bidang ekonomi dan tidak berhasil menghentikan korupsi. Mahkamah Konstitusi Korea Selatan memutuskan tuduhan ketidakmampuannya melaksanakan tugas dan tuduhan korupsi tidak dapat dibuktikan.&lt;br /&gt;    ***&lt;br /&gt;    SUNGGUH amat menyedihkan. Lebih-lebih setelah membaca isi surat wasiat Roh. Pesan yang ia sampaikan teramat dalam. Ada makna tersembunyi yang patut dijadikan pelajaran buat para pejabat kita di negeri ini. Roh tidak akan melakukan tindakan nekat, seandainya anggota keluarganya tak terlilit kasus korupsi. Ia paham betul kekuasaan akan melahirkan madu. Madu-madu itulah yang menarik minat para ’semut’ untuk mendekat ke istana raja. Ketika keinginan atau kepentingan para ’semut’ itu tak mampu menembus benteng pertahanan Roh, maka keluarga dekat Roh yang didekati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Akibatnya, aib itu menyeruak, lalu melambung ke seantero Korea bahkan dunia. Roh tak mampu mengelola isu itu. Ada beban moral yang tak bisa ia tanggung untuk selamanya. “Saya merasa membuat banyak orang menderita..” Bayang-bayang ketakutan karena merasa bersalah, bisa jadi membuat Roh mengambil jalan pintas. Kematian adalah cara terbaik dan tercepat dalam menyelesaikan masalah. Roh ingin bebas, ia tak mau dikejar-kejar bayang-bayang ketakutan yang telah membuat malu dirinya. Ada perasaan bersalah terhadap masyarakat dan negaranya. Ia tak tega melihat bangsanya menderita karena ulah para koruptor yang notabene ternyata ada di dalam anggota keluarganya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam pribadi manusia, tubuh ini selalu dikendalikan oleh dua kekuatan: nafsu dan akal (pikiran). Ketika hati (tempat bersemayamnya segala keinginan/nafsu) tak mampu dikendalikan oleh akal, maka manusia cenderung akan melakukan aktivitas negatif dan merugikan manusia lain. Sebaliknya, ketika akal manusia mampu menguasai hati –’merevisi’ atau bahkan tak menuruti kata hati– maka ia akan menjadi pribadi-pribadi tinggi yang bisa mengeyampingkan bahkan mencampakan penyakit hati. Pribadi yang tinggi dijamin berjiwa bersih dan bercahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bagaimanapun juga, petaka yang terjadi pada Roh, mari kita ambil hikmahnya. Calon pemimpin di negeri ini hendaklah bercermin dari peristiwa-peristiwa terburuk yang awalnya mengeyampingkan persoalan moral untuk memenuhi keinginan hati. Bukankah pusat kekuasaan, akan menjadi sentral para ’semut’ untuk menghisap bahkan mencuri madu dengan berbagai cara? Tak mustahil, kasus yang terjadi pada keluarga Roh juga bakal terjadi di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kita semua tahu, kekuasaan yang dimiliki istana, mampu merubah segala-galanya. Tergantung mereka yang memiliki kepentingan akankah mampu menanamkan pengaruhnya untuk meraih apa yang diinginkannya? Untuk itu kita berharap, siapapun presiden terpilih, hendaknya mampu mengendalikan hatinya, mengontrol perilaku-perilaku anggota keluarganya, agar rakyat dan negara tak dirugikan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Share on Facebook    Share on Twitter &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14 tanggapan untuk “Wasiat Terakhir Mantan Presiden Korea Selatan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. om_parmin,&lt;br /&gt;      — 23 Mei 2009 jam 5:02 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          coba kalo di indonesia. pejabat yang korupsi punya rasa malu dan urat ke-MALU-an nya tdk putus.bisa di bayangkan berapa banyak yang akan bunuh diri karena ketahuan korupsi.sayang nya pejabat kita masih memegang motto: BERANI HIDUP demi sebuah kemunafikan..&lt;br /&gt;   2. hendro,&lt;br /&gt;      — 23 Mei 2009 jam 5:09 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          KPK tidak perlu capek kalau pejabat kita seperti orang KOREA, pasti banyak yg bunuh diri.&lt;br /&gt;   3. pablo,&lt;br /&gt;      — 23 Mei 2009 jam 6:43 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          “Saya merasa membuat banyak orang menderita..” Bayang-bayang ketakutan karena merasa bersalah, bisa jadi membuat Roh mengambil jalan pintas. Kematian adalah cara terbaik dan tercepat dalam menyelesaikan masalah. Roh ingin bebas, ia tak mau dikejar-kejar bayang-bayang ketakutan yang telah membuat malu dirinya. Ada perasaan bersalah terhadap masyarakat dan negaranya. Ia tak tega melihat bangsanya menderita karena ulah para koruptor yang notabene ternyata ada di dalam anggota keluarganya sendiri.&lt;br /&gt;          Begitulah seharusnya kita bersikap - para karuptor ” SILAHKAN MENYUSUL “&lt;br /&gt;   4. amien,&lt;br /&gt;      — 23 Mei 2009 jam 10:17 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          di Indonesia sebenarnya juga mencoba untuk mulai memasuki fase tersebut, dimana korupsi menjadi hal yang hina. bukan saja korupsi yang dilakukan diri sendiri, tapi juga korupsi yang terjadi karena faktor keluarga seperti yang dialami Roh dan di Indonesia oleh Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          terkait dengan korupsi oleh keluarga presiden, pak SBY juga sering mengungkapkan hal tersebut di berbagai kesempatan di TV. Bahwa memimpin bangsa harus mendahulukan kepentingan rakyat, bukan keluarga, Entah siapa yang dimaksud oleh SBY seperti yang terakhir disampaikan pada diskusinya dengan Kadin. beberapa pakar menyatakan bahwa yang disindir oleh SBY tentang bisnis keluarga di pemerintah ialah JK, meskipun JK tidak pernah menanggapi langsung hal tersebut, mungkin karena JK tidk merasa melakukan hal tersebut. ia hanya menyatakan bahwa bisnis keluarganya hanya sekitar 10 % yang bersentuhan dengan pemerintah yang dinyatakannya saat menjawab pertanyaan Karni Ilyas tentang bisnis keluarga JK dalam tolk show di TVOne.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          sebaiknya pak SBY mengungkapkan data seperti tuduhannya, biar masyarakat dapat menilai…&lt;br /&gt;          karena mental pak Roh Mooh-Hyun (untuk mengakui korupsi yang dilakukan keluarga dekatnya) sepertinya belum dimiliki oleh calon pemimpin-pemimpin kita&lt;br /&gt;   5. sianeindriani,&lt;br /&gt;      — 23 Mei 2009 jam 11:37 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Kita juga prihatin, negeri kita ini sekarang yang dipikirin hanya Kekuasaan, lantas uang. Kini uang telah menjadi segalanya. Agar menang Pilkada pakai uang, menang Pileg pakai uang, lolos dari tangkapan KPK pakai uang, Menang Pilpres pakai uang…eh BLT&lt;br /&gt;   6. Rukyal Basri,&lt;br /&gt;      — 24 Mei 2009 jam 6:22 am&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Kalau arwah Roh yang punya malu tiba tiba terbang ke Indonesia, dan merasuki orang orang Indonesia yang memang pantas dirasukinya, wah, agaknya lahan kuburan nggak bakal cukup deh, tukang gali kubur panen raya, termasuk supir ambulanse dan modin tukang doa, tukang kembang dll.&lt;br /&gt;   7. oscar soenda,&lt;br /&gt;      — 24 Mei 2009 jam 10:19 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          bangsa jepang punya tradisi harakiri jika merasa malu teramat sangat. rasa malu ditransformasikan kedalam laku seppuku, mengakhiri hidup dengan usus terburai daripada hidup dipermalukan karena kegagalan. bangsa jepang juga mengubah spirit bushido menjadi sikap etos kerja yang hebat. lihat saja, produk2 industri jepang pasti ada ditiap rumah tangga indonesia. korea juga begitu. roh moon-hyun mengakhiri hidup dengan bunuh diri, daripada hidupnya dipermalukan !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          saatnya semangat siri ala bugis ditransformasikan dalam kehidupan bangsa indonesia. misalnya, malu untuk korupsi, malu untuk mencuri, malu untuk kolusi, malu untuk memanfaatkan jabatan dan kekuasaan untuk keluarga, kerabat, lingkaran dekat, dst. andai JK jadi presiden, dan ada kerabatnya yang korupsi, akankah seppuku dengan badik untuk menebus rasa malu? atau seperti pada umumnya bangsa kita yang suka ngeles dan cari kambing hitam? wallauhualam bissawab………………….&lt;br /&gt;   8. Abak,&lt;br /&gt;      — 24 Mei 2009 jam 10:30 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Hm…. di sini rasa salah itu selalu dilempar ke orang lain, tidak berhenti di diri sendiri. dan berani menunjuk, saya yang salah.&lt;br /&gt;          sehingga persoalan tidak selesai, dan ujungnya saling menyalahkan, dan merasa dirinya yang paling benar dan paling bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          siapa korup?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          tidak ada yang mengaku, tunjuk orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          siapa yang nepotis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          tidak ada yang mengaku, tunjuk orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          siapa yang menyalahgunakan fasilitas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          tidak ada yang mengaku, tunjuk orang lain&lt;br /&gt;   9. zentua Simbolon,&lt;br /&gt;      — 25 Mei 2009 jam 3:27 am&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Hidup Indonesia, tidak perlu bunuh diri kayak gini. Para koruptor kita memang lain dari yang lain. ketika koruptor biasanya berlindung atas nama agama; bantu bangun mesjid, LSM berbau agama, sumbang pengjian,sekolah-2 berbau agama(Pesantren-2), sumbang ke gereja, dan rumah ibadah agama-2 lainnya. Jadi kontradiktif dengan korea, koruptor kita malah bangga udah sumbang itu-ini. ada yang malah merasa malaikat, Hidup koruptorrrrrrrrrrrrr,,,,,….. selamat koruptor,……………. Amin.&lt;br /&gt;  10. Yan,&lt;br /&gt;      — 25 Mei 2009 jam 6:03 am&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Pejabat Indonesia disarankan nonton drama korea, supaya terhibur sekaligus dapat pelajaran berharga. he he he&lt;br /&gt;  11. ANSWARI JADI,&lt;br /&gt;      — 25 Mei 2009 jam 7:59 am&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          KEMATIAN YANG SANGAT TERHORMAT, DARI PADA DIADILI OLEH MASA YANG KADANG2 MENGABAIKAN HUKUM, SEBAGAI ANAK BANGSA BERANI BERBUAT BERANI BERTANGGUNG JAWAB, TINGGAL MENUNGGU PENGADILAN AKHIRAT, YANG BAIK KITA TIRU YANG JELEK BUANG JAUH2 DR NKRI&lt;br /&gt;  12. z Lubis,&lt;br /&gt;      — 25 Mei 2009 jam 9:05 am&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          @abak.&lt;br /&gt;          Untuk Korup,kolusi mungkin bisa lempar atau tunjuk orang lain&lt;br /&gt;          tp kalo nepostis sudah jelas terlihat,tinggal tunjuk aja!!&lt;br /&gt;  13. sumijan,&lt;br /&gt;      — 25 Mei 2009 jam 11:04 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Terimakasih Pak Bechi, anda telah mengantarkan hikmah kebaikan kerumah kami melalui bacaan ini, sehingga :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Kami bisa belajar untuk untuk lebih hati-hati dan lebih teliti dalam menilai setiap keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Kami bisa belajar menjaga nasib, dengan menghindari sikap inkonsisten sebagaimana yang telah membuat Pak Roh Moo Hyun menjadi “kesleo Sikap” yang kemudian menjadi “Kesleo Jiwa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Kami bisa belajar, betapa Pak Roh Moo Hyun telah kehilangan jiwanya lantaran tidak pandai menjaga nasibnya,perubahhan sikapnya telah membuat hidupnya dikelilingin kesukaran-kesukaran yang menghantarnya pada jurang aib kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Kami bisa belajar, bahwa “Hantu Kewenangan Presiden” telah menjadi “ALAT UJI PENYINGKAP TABIR KARAKTER ASLI” dari seorang “Humanis” kaliber dunia Roh Moo Hyun. Sehingga harga diri dan kredibilitas se orang Roh Moo Hyun talah di ukur dan di bobot dengan hasil akhir “r a s a m a l u” yang tak tertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          “Rasa Malu”, Ia benar-benar telah memberikan kredibilitas luarbiasa atas bangsa jepang, sifat Tuhan sungguh di Muliakan di sana yang justeru oleh bangsa yang tak pernah menyebut-nyebut nama Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          “Rasa malu” Ia juga telah di wahyukan pada Bangsa Cina,ketika korupsi secara kongkret dapat di berantas dengan sikap tegas dan sangat cekatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Beribu-ribu penjahat termasuk koruptor telah di hukum tembak mati di negeri cina,bahkan jika itu ketua partai berkuasa atau presiden sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Tanpa bermaksud menjelek-jelekan bangsa sendiri, di Indonesia ini kurang apa di banding negara manapun dalam menyebut-nyebut nama Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Tetapi mengapa “Rasa Malu” itu hingga kini belum juga datang..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Ketika “rasa malu” itu tidak lagi ada dan atau kalaupun ada tak lagi dapat diterapkan secara persis, maka masih adakah tempat bagi Tuhan di sini…?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Ketika “kerja tipu-tipu.nego-nego dan kommpak-kompak jahat” telah di angkat menjadi panglima sikap, masihkah harus tetap merasa bahwa agama dan keber-agamaan masih ada disini…?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Ini negara kita,baik buruknya ya.. tanggungjawab kita bersama,, karena agama itu nasehat..agama itu nasehat..agama itu nasehat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          memnerapkan agama secara persis itu dengan nasehat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          nasehat itu menghendaki kebaikan pada yang lainya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Karena sesungguhnya amal ibadah itu di hitung pada akhirnya perbuatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Berbahagialah bagi orang yang bisa istikomah dalam nama Tuhan hingga ajal tiba.&lt;br /&gt;  14. qqpink,&lt;br /&gt;      — 30 Mei 2009 jam 12:38 am&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          klo di indonesia semua pejabat yg ngaku korup pasti butuh penjara yg lebih besar lagi….soalnya saingan sama yg nyolong ayam…n klo disini pejabat berani bunuh diri kaya mantan presiden korsel pasti kuburan pada numpuk tuh saingan sama orang yg gak ada identitasnya…n pasti indonesia penduduknya jadi gak banyak…..kan pada mati semua…buat negara korsel turut berduka cita atas kepergian Roh Moo-hyun……T_T&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-3563199033869928368?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/3563199033869928368/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=3563199033869928368&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/3563199033869928368'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/3563199033869928368'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2009/06/wasiat-terakhir-mantan-presiden-korea.html' title='Wasiat Terakhir Mantan Presiden Korea Selatan'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-4613106048844059897</id><published>2009-06-11T02:49:00.000+07:00</published><updated>2009-06-11T02:50:00.324+07:00</updated><title type='text'>Duka dari Pulau Dewata</title><content type='html'>Oleh Achmad Subechi - 26 Mei 2009 - Dibaca 1209 Kali -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    MASIH ingat kasus pembunuhan terhadap Fuad Muhammad Syafruddin yang akrab dipanggil Udin. Wartawan Harian Bernas, Yogjakarta, tewas dianiaya sejumlah pria tak dikenal di depan rumah kontrakannya. Peristiwa itu terjadi 13 Agustus 1996. Insan pers di tanah air geger. Penguasa Orde Baru diminta menuntaskan kasus itu. Hakim di pengadilan memvonis bebas terdakwa Iwik. Motifnya sampai sekarang belum jelas.Kasus kekerasan terhadap wartawan kembali terulang. AA Gde Bagus Narendra Prabangsa, redaktur Radar Bali (Jawa Pos Group) yang hilang sejak 11 Februari dan ditemukan tewas di tengah laut di Teluk Bungsil, antara Pelabuhan Padang Bai dan Pulau Nusa Penida, 16 Februari 2009 lalu, ternyata tewas dibunuh. Kapolda Bali Irjen Polisi Teuku Ashikin Husein menjelaskan, eksekusi terhadap korban dilakukan di rumah aktor intelektual Nyoman Susrama di Banjar Petak, Bebalang, Bangli, sekitar pukul 16.30 hingga 22.30 Wita, 11 Februari 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Nyoman Susrama dikenal publik sebagai adik pejabat di Bangli. Sore itu korban dijemput Komang Gede, Nyoman Rencana dan Komang Gede Wardana di Taman Bangli menggunakan mobil Honda Civic hijau. Dalam kasus dugaan penyimpangan proyek di Dinas Pendidikan, Komang Gede menjabat sebagai akunting proyek pembangunan sekolah TK Internasional di Bangli. Sesampainya di rumah Susrama, korban digelandang ke belakang rumah dengan kedua tangan dilipat dan diikat di belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Susrama memerintahkan Nyoman Rencana dan Wardana menghabisi nyawa korban. Pelaku memukul kepala korban berkali-kali hingga terkapar. Setelah tak bernyawa, mayat korban dimasukkan ke dalam kamar.Kemudian, Susrama memerintahkan pelaku Jampes dan Endy, membersihkan darah yang tercecer di halaman belakang. Malamnya mayat korban dibawa keluar rumah lalu dibuang ke tengah laut. Tujuh tersangka yang diduga terlibat dalam kasus pembunuhan berencana ini kini di tahanan Polda Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Terungkapnya kasus pembunuhan terhadap jurnalis kali ini membuat hati kami pedih. Kami ikut berduka atas meninggalnya kawan kami. Mengapa kebencian atau ketidaksukaan itu harus dilampiaskan dengan mencabut nyawa kawan kami? Apalagi dilakukan dengan tindakan kekerasan yang melampaui batas-batas kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Wartawan adalah manusia biasa. Wartawan bukan makhluk yang tidak pernah melakukan kesalahan atau kehilafan. Ketidaksempurnaan selalu saja terjadi dalam menjalankan tugas-tugas jurnalistiknya. Sama dengan profesi-profesi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Wartawan memiliki tanggungjawab moral, selalu kritis dalam menyikapi problem-problem sosial yang ada di depan matanya, menggunakan mata hati dalam memotret berbagai macam ketimpangan, berjalan dengan pikirannya dan selalu berorientasi kepada mereka yang lemah, terperdaya serta tertindas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ketika hasil karya mereka dianggap ‘menyakitkan’, maka pihak-pihak yang merasa tersentil atau bahkan dirugikan, seharusnya memanfaatkan ruang hak jawabnya. Bukan sebaliknya, ketidakpuasan terhadap pemberitaan harus dihadapi dengan cara-cara yang tidak terpuji, main culik, lalu dianiaya sampai mati. Sebagai insan pers, kami semua tentu saja menyesalkan tindakan main hakim sendiri. Aparat kepolisian diharapkan bekerja secara profesional, tanpa pandang bulu dalam menegakkan hukum. Siapapun para pelakunya, mereka harus diadili dengan baik dan benar sesuai koridor hukum yang berlaku di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kita semua sudah muak dengan tindakan-tindakan kekerasan yang terjadi di atas kulit bumi bernama Indonesia. Segala persoalan yang terjadi pada bangsa ini, hendaknya diselesaikan dengan menggunakan akal, bukan lagi dengan kekuatan otot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bukankah bangsa kita adalah bangsa yang beradab, bangsa yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan berbudi luhur? Kedepan kita tak mengharapkan kasus Udin dan Narendra Prabangsa kembali terulang. Kita juga tak menginginkan pencabutan nyawa terjadi kepada siapa saja, terutama kepada manusia-manusia Indonesia, karena nyawa adalah hasil karya cipta Tuhan. Membunuh manusia –bukan dalam keadaan darurat– sama dengan kita tak menghargai hasil karya Sang Maha Pencipta. Semoga apa yang terjadi pada kawan kami, bisa diambil hikmahnya agar kekuatan akal lebih dikedepankan daripada menggunakan kekuatan emosional yang ujung-ujungnya melahirkan kematian… Selamat jalan kawan. Kami semua turut berduka… Kepada keluarga yang ditinggalkan, kami turut berbelasungkawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Share on Facebook    Share on Twitter &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21 tanggapan untuk “Duka dari Pulau Dewata”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. linda,&lt;br /&gt;      — 26 Mei 2009 jam 11:10 am   edit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Duka saya juga luar biasa mengetahui ada kejadian seperti ini (lagi!) yang diterima oleh wartawan.&lt;br /&gt;          Hanya pengadilah akhirat lah yang amat berimbang kelak yang akan ditimpakan kepada si pelaku dan sutradara pembunuhan ini…..&lt;br /&gt;   2. arifin basyir,&lt;br /&gt;      — 26 Mei 2009 jam 11:27 am   edit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Inna lillahi wainna illaihi rojiun. Selain kasus udin yogya masih ada lagi yaitu marsinah dan yang masih hangat adalah kasus munir dan terbaru kini nazarudin. Suspec diagnosa atau azas praduga tak bersalah mengarah pada keterlibatan aparatur keamanan negara. Tetapi ‘kekebalan hukum’ agaknya tidak mampu ditembus oleh pengak hukum, sehingga penyelesaian masalah agaknya masih jauh panggang dari api. Ironisnya ini terjadi dalam kehidupan dunia nyata, dalam kehidupan hukum positif yang jelas aturan mainnya. Lalu bagaimana sekarang dengan kehidupan dunia maya yang sekarang semakin marak. Orang bebas berbicara, tanpa harus diketahui dimana keberadaannya. Orang bisa menjadi wartawan dadakan, bisa menjadi politisi, menjadi kontrol sosial. Kalau seandainya makhlik di dunia maya ini tersangkut masalah hukum, sehubungan dengan ucapannya di dunia maya menyerang kepentingan pejabat negara di dunia nyata. Apakah juga harus menanggung resiko nyawa taruhannya. Jelas lebih sulit mencari barang bukti di dunia maya, sehingga kalaupun ada pembunuhan sang pelaku akan lebih mudah lari dari tanggung jawabnya. Kalau demikian halnya, sungguh semakin tidak nyaman hidup di republik ini. Resiko pekerjaan ini tidak saja menimpa wartawan, tetapi bisa jadi orang terkenal (publik figure) lainnya, misalnya artis atau selebritis yang justru celaka oleh fanatisme penggemarnya. Ya memang semua pekerjaan menanggung resiko dan semua kehidupan pasti ada resiko. Semoga kasus Bali jangan terulang kembali&lt;br /&gt;   3. ardi yanuar,&lt;br /&gt;      — 26 Mei 2009 jam 2:11 pm   edit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          sedih banget mendengar kejadian demi kejadian yg menimpa jurnalis indonesia.. untuk menulis dan mengungkap sebuah kasus secara aktual dan faktual, seorang jurnalis tak jarang sering mempertaruhkan nyawa-nya…btw, majulah terus jurnalis indonesia…gempur semua ketidakadilan di negri tercinta ini.. mendiang bagus narendra layak menyandang pahlawan pers bali, yg saya yakin dirinya tak terbeli…&lt;br /&gt;   4. Ahmad Zainul Ihsan Arif,&lt;br /&gt;      — 26 Mei 2009 jam 9:19 pm   edit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Turut berduka cita yang mendalam, semoga pihak pengadilan dapat memvonis hukuman yang seberat-beratnya.&lt;br /&gt;          Selamat Jalan Kawan, menghadaplah yang kuasa dengan tenang.&lt;br /&gt;   5. sumijan,&lt;br /&gt;      — 26 Mei 2009 jam 10:56 pm   edit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          “RASA MALU” benar-benar telah terputus dari urat nadi para pelaku itu sehingga nekat luar biasa menyiksa dan membunuh seorang jurnalis yang mencari nafkah keluarga dengan cara menyuarakan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Saya menduga ada yang nggak beres dengan praktek penyelenggaraan pemerintahan dan tata kelola pembangunan di daerah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Lebih dari itu, fenomena premanisme di sekeliling pemimpin pemerintahan lokal marak diseantero negeri ini bahkan mengarah pada praktek premanisme aparat dan aparatisme preman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Pertanyaanya adalah, kepentingan apa yang mendasari fenomena maraknya premanisme di pemerintahan lokal…?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Saya percaya, ketika kejahatan berjaya maka pemimpinya pasti penjahat.&lt;br /&gt;          Mungkin keberadaan para preman itu, sengaja di ciptakan dan dipelihara untuk mengkompensasikan atas kebobrokan moral pemimpin dan kepemimpinan di pemerintahan lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Sistem yang tadinya merupakan alat, diubah menjadi tujuan sehingga segalanya menjadi serba formalitas tanpa rasa. Di atas semua itu yang sesungguhnya berperan adalah sistem diluar sistem,yaitu apa kata preman. Pemimpin dan kroni-kroninya di pemerintahan cukup terima bersihnya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Praktek premanisme di seputar penyelenggaraan pemerintahan di daerah saat ini sudah sedemikian mantap dan kokoh, dilakukan oleh multifihak dengan sistem bagito alias dibagi roto,&lt;br /&gt;          Dibutuhkan kompak-kompak jahat untuk membuat semuanya menjadi tampak normal dan terhormat setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Dengan begitu Pasukan Preman “PEJAH GESANG KULO NDEREK PENJENENGAN” (hidup mati pokoknya saya ikut boss) akan meraja lela di seantero negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Inilah ancaman terbesar yangb berpotensi menggagalkan demokrasi di daerah, acuh terhadap kondisi ini resikonya adalah NKRI pecah berantakan. Tunggu waktu saja.&lt;br /&gt;   6. abraham,&lt;br /&gt;      — 27 Mei 2009 jam 7:56 am   edit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          tidak ada masalah yg tdk dpt dicarikan solusinya dgn baik. jangan membunuh, jangan menginginkan isteri, suami, anak, harta benda sesamamu. jgn merencnkan yg jahat kpd sesama, pdhal kalian saling kenal. peace, please!!&lt;br /&gt;   7. putu,&lt;br /&gt;      — 27 Mei 2009 jam 9:13 am   edit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Sebagai putra Bali, saya sangat berduka, bukan saja terhadap korban dan keluarganya, terlebih lagi terhadap kejahatan yang dilakukan oleh otak pelaku kejahatan ini.&lt;br /&gt;          Kejahatan kemanusiaan ini telah melukai kita semua, terlepas dari apapun agama kita. Peristiwa memalukan ini membuktikan bahwa walau orang Bali terkenal jujur, baik hati, ramah, dsb. sebenarnya tidak berbeda dengan suku-suku lain di dunia dalam hal kejahatan kemanusiaan. Selalu ada oknum, yang karena kebodohannya (begitulah kitab suci Weda menyebut) mampu berbuat kejahatan diluar batas-batas kemanusiaan.&lt;br /&gt;          Apabila terbukti tersangka adalah otak pelaku kejahatan sesungguhnya, sebaiknya masyarakat Bali meminta Bupati Bangli (kakak tersangka) dan istri tersangka yang lolos menjadi anggota DPRD Bali, untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Sangat tidak pantas keluarga ini menempati kedudukan terhormat di masyarakat.&lt;br /&gt;   8. Pepih Nugraha,&lt;br /&gt;      — 27 Mei 2009 jam 10:07 am   edit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Ikut berduka, Bec…. biarlah hukum yang bicara selanjutnya. Kalau hukum sudah bicara ngawur atas kasus ini (misalnya membebaskan si anak pejabat preman itu), wartawan turun ke jalan untuk demo besar-besaran!&lt;br /&gt;   9. viant,&lt;br /&gt;      — 27 Mei 2009 jam 10:54 am   edit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          semoga hukum bisa benar2 berada pada posisinya&lt;br /&gt;  10. linda,&lt;br /&gt;      — 27 Mei 2009 jam 11:39 am   edit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Hukum harus diluruskan. Jangan sampai sulit bagai menegakkan benang basah. Anak pejabat mana yang kebal hukum di dunia reformasi seperti ini? Besan Presiden saja bisa ditahan, kok!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Coba buka lembaran lama. Peristiwa Sum Kuning yang menyayat hati, apakah sampai kini sempat terkuak siapa pelakunya? Kalau dihitung-hitung, sang pelaku kini sudah beranak bercucu. Bagaimana kalau hukum Tuhan berlaku bagi keturunannya..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Anak pejabat, harusnya tak perlu gede kepala. Mereka lupa, hidup mereka pun nebeng uang bapaknya, yang segala sesuatunya dibayar dari pajak rakyat. Dari keringat kita. Mereka benar-benar lupa…..&lt;br /&gt;  11. arifin basyir,&lt;br /&gt;      — 27 Mei 2009 jam 11:56 am   edit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Waduh, waduh seperti ini to perilaku pejabat dan anak pejabat di republik ini. Kalau begini aku nggak kerasan hidup di negeri ini. Aku akan pindah, aku akan mendirikan negara sendiri. Dunia masih luas, dunia maya, planet maya pada masih bisa dihuni. Mudah-mudahan di negei baru menemukan keadilan diatas kebenaran dan kebenaran diatas keadilan, keadilan dan kebenaran diatas segala-galanya. Sampai jumpa disana………………………………&lt;br /&gt;  12. sayurijo,&lt;br /&gt;      — 27 Mei 2009 jam 1:16 pm   edit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          superman dan spiderman… sama-sama jadi jadi wartawan di siang hari, menghajar orang di malam hari. Kenapa wartawan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Karena wartawan banyak tahu, tapi tak punya kekuatan. Karena mereka cuma manusia biasa yang punya nyawa hanya satu lapis. Tinggal diincar, dihabisi dan… dilupakan. selesai perkara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Seharusnya ada semacam superhero yang bisa melindungi wartawan&lt;br /&gt;  13. bambang setyawan,&lt;br /&gt;      — 27 Mei 2009 jam 2:53 pm   edit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Tindakan pelaku membunuh wartawan sangat keji dan tidak ber pri kemanusiaan. Ikut berduka cita atas wafatnya wartawan Gde Bagus Narendra.&lt;br /&gt;          Tetapi para wartawan perlu mawas diri dan melihat kebelakang, kenapa peristiwa penganiayaan atau pembunuhan kepada wartawan terus berulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Saya berbendapat hal ini berulang karena cara pengungkapan berita yang dilansir para wartawan dianggap menyinggung dan bahkan membuka aib si pelaku dan bahkan disiarkan kepada umum, dan kadang kadang sangat vulgar, yang membuat amarah besar bagi orang yang diberitakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Kebebasan Pers tidaklah mutlak, bahwa wartawan bisa semena mena untuk menista orang dengan memberitakan atau memuat berita berita yang menyinggung harkat atau perasaan seseorang. dengan dalih toh sesuai undang undang pers seharusnya orang tersebut bisa membantah melalui hak jawab atas pemberitaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Saya berharap pemberitaan wartawan lebih santun, isi berita berimbang, jujur dan tentu tidak secara vulgar beritanya menyinggung harkat, martabat, perasaan orang yang diberitakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Mudah mudahan komentar ini afda manfaatnya, agar peristiwa kekerasan terhadap wartawan tidak berulang/terulang lagi. Wallohuallam…….&lt;br /&gt;  14. bineka,&lt;br /&gt;      — 27 Mei 2009 jam 4:59 pm   edit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          yah begitulah hukum du Indonesia, maju tak gentar membela yang bayar, banyak kasus koruposi yang hilang begitu saja, dan ynag menegakkan kebenaran malah dibunuh. maling ayam dipenjkara + dihajar kadang smapai mati semntra yg korupsi sampai triyunan melenggang bebas. Paling dari pak hakin cuma slah prosedsur. Yah kalau si Fulan korupsi 10 m, tinggal kasih pak hakim 1m, jaksa 1m, polisi 1m dan pengacara 1m. nanti jkan jadi salah pe\rosedure. kasihan rakyat dan pahlawan yang telah mebela tanah air melihat NKRI jadi rebutan para pejabat korup. terahir di Batam kapal Tangker Pewrtamina jual BBM di laut lepas. Makanya kita kalah sama Vietnam yang baru Merdeka tahun1974.&lt;br /&gt;  15. R.Ngt.Anastasia Ririen Pramudyawati,&lt;br /&gt;      — 27 Mei 2009 jam 5:54 pm   edit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          ..turut berduka, Bung Becki..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Kejernihan Nurani desakan asli energi jurnalistik tidak sedetikpun bisa dipatahkan oleh arogansi apa pun.. dari pihak siapa pun di muka Bumi ini. Jenis kejernihan yang kemurniannya tidak lekang waktu. Sebab ia bermuara pada hakikinya sang Kebenaran sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Sebuah aliran lembut (dalam nada tegas sekalipun) ..yang derasannya mampu getarkan elegi hati mana pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Energi itu, juga untuk pengorbanan (Alm.) AA Gde Bagus Narendra Prabangsa..&lt;br /&gt;  16. Robin,&lt;br /&gt;      — 27 Mei 2009 jam 6:21 pm   edit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Ikut berduka atas kematian wartawan.&lt;br /&gt;          semoga arwahnya di terima di sisi Tuhan&lt;br /&gt;  17. haris harindra,&lt;br /&gt;      — 27 Mei 2009 jam 7:24 pm   edit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          selain harus mengawal terus proses hukum, mungkin ada baiknya pula boikot berita kepemimpinan kakak dari aktor yang bupati bangli itu. terus tekan supaya mereka berhitung dengan posisinya yang tidak terhormat itu.&lt;br /&gt;          - turut berduka cita. AA Gde Bagus Narendra Prabangsa, saya tidak mengenal anda sebelumnya. tapi kini saya kehilangan anda. semoga keluarga yang ditinggalkan tabah menerima -&lt;br /&gt;  18. Djawara Putra Petir, MP., SH., MH.,&lt;br /&gt;      — 27 Mei 2009 jam 7:45 pm   edit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          TURUT BERDUKA CITA ATAS MENINGGALNYA AA GDE BAGUS NARENDRA PRABANGSA DAN SEKALIGUS RASA SENANG DENGAN TERBONGKARNYA PARA PELAKU PEMBUNUHAN YANG HARUS DIHUKUM SETIMPAL DENGAN PERBUATANNYA, SEMOGA INI MERUPAKAN KORBAN KALI TERAKHIR DARI PEJABAT BERMENTAL KOROP—–MENTAL KOROP MERUPAKAN MENTAL KEJAM UNTUK MENSENGSARAKAN ORANG BANYAK, SEHINGGA BAGI MEREKA APALAH ARTINYA MENGHILANGKAN SATU NYAWA, SEDANGKAN KOROP ITU SENDIRI SECARA TIDAK LANGSUNG MEMBUNUH RIBUAN JIWA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          SALAM DARI SURABAYA :&lt;br /&gt;          BUAT KELUARGA ALMARHUM DAN JAWAPOS GROUP, JANGAN GENTAR UNTUK TERUS MENYUARAKAN——BENAR KATAKAN BENAR, SALAH KATAKAN SALAH ! ———&lt;br /&gt;  19. albertus prayudia,&lt;br /&gt;      — 28 Mei 2009 jam 3:31 pm   edit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Kenapa seorang yang mewartakan harus tewas dengan cara seperti itu? Jangan Pandang keluarga pejabat… Tindak tegas Pak Polisi….&lt;br /&gt;  20. albertus prayudia,&lt;br /&gt;      — 28 Mei 2009 jam 3:35 pm   edit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Kenapa Ruang hak Jawab Harus Di Gantikan dengan Balok untuk mentungin orang… Katanya keluarga Pejabat… Kok Bodoh ya… Ketahuan, ya resiko… Kalau takut di tangkap, ya jangan korupsi atau maling…Kan akhirnya Ketangkap juga… Meski mayat saudara kami di buang di laut tapi jangan bersuka dulu. CCTV Tuhan ada di mana-mana…&lt;br /&gt;  21. sumijansumijan,&lt;br /&gt;      — 28 Mei 2009 jam 9:37 pm   edit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Manusia-manusia penyembah koruptor dan uang hasil korupsi, melihat kejadian ini sebagai alat pemuas nafsu kompak-kompak jahat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Tanpa menyembah koruptor dan uang hasil korupsi, mereka akan mati.&lt;br /&gt;          Wajar jika dalam peristiwa berdarah seperti ini, kemudian ada yang memanfa’atkan sebagai tunggangan gratis untuk memojok-mojokan peran wartawan. Dengan begitu Ia merasa telah berbuat benar dan karenanya pantas untuk mendapat “Angpao” dari para koruptor yang menghidupinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Apalagi kalau dengan caranya itu lantas bisa membuat para wartawan menjadi takut menyuarakan kebenaran dan berhenti memberitakan kasus-kasus korupsi, maka Ia akan mendapat mahkota dan di angkat menjadi panglima atas pasukan “pejah gesang kulo nderek boss”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Begundal-begundal macam nih, maunya di ceburin ke laut aja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-4613106048844059897?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/4613106048844059897/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=4613106048844059897&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/4613106048844059897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/4613106048844059897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2009/06/duka-dari-pulau-dewata.html' title='Duka dari Pulau Dewata'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-7291120667311143618</id><published>2009-06-11T01:24:00.000+07:00</published><updated>2009-06-11T01:26:04.455+07:00</updated><title type='text'>Ayat Sarat Makna</title><content type='html'>PASAR menjadi sumber inspirasi kehidupan. Lebih-lebih kalau kita mau melangkahkan kaki ke pasar tradisional. Ada spirit yang bisa kita ambil, setelah mengamati kehidupan dan perilaku para pedagangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sudah berapa banyak sahabat yang saya ajak nongkrong di pasar, sambil mengamati kehidupan di pasar. Ada nilai-nilai kearifan di dalamnya. Sebaliknya, ada juga pedagang yang tak berpegangan pada nilai. Terpenting untung, walau ketidakjujuran selalu menjadi alat untuk meraup kekayaan. Lebih mengelikan lagi, ada pedagang yang asal kasih harga, setelah melihat penampilan konsumennya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga ketika kita mengamati perilaku pembeli. Ulet, tidak grusak-grusuk dan pandai menawar. Sangking uletnya, cara menawarnya pun, benar-benar mampu merontokan hati pedagangnya. "Ada kepuasan tersendiri kalau kita berhasil menawar barang dagangan dengan murah," begitu seorang sahabat saya berkomentar setelah saya ajak nongkrong di Pasar Palmerah, beberapa bulan lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat saya itu merasakan ketenangan, setelah berjam-jam bercengkaram dengan pedagang sayur mayur. Ia bertanya ngalor ngidul, termasuk mengorek asal-usul sang pedagang serta sayur mayur yang dijajakannya. "Coba bayangkan, hanya mengambil untung Rp 500 perak saja per ikat, ibu itu berangkat dari Serpong pukul 15.00 sore dan kembali ke rumah pukul 06.00 pagi. Ini spirit luar biasa yang berhasil saya tangkap dari cerita sang ibu itu," katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, sahabat saya mengaku akan mencoba hidup berhemat, karena mencari uang Rp 500 perak saja susahnya minta ampun dan harus memeras keringat seperti yang dilakukan seorang ibu pedagang. "Hidup ini memang keras. Kalau mau makan, ya harus banting tulang kayak pedagang itu. Mereka tak mengenal waktu," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling menyenangkan kalau nongkrong di pasar tradisional adalah mengamati perilaku para pedagangnya. Kekerabatan antara penjual cabe, tomat, wortel, sayur mayur, benar-benar terbangun dari zaman nenek moyang mereka. Walau lapak mereka berdekatan, tak pernah ada cekcok mulut apalagi berantem. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tuhan menurunkan rezeki itu sudah ada alamatnya. Kita tak boleh sakit hati kalau melihat warung orang lain ramai, sedangkan warung kita sepi. Iri, dengki, sombong, rakus, harus kita kesampingkan kalau rezeki itu mau datang ke diri kita," kata Paijah, sang pedagang sayur mayur di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Paijah sudah puluhan tahun membuka lapak di pasar itu. Ia nyaris tak pernah menggerutu, walau dagangannya kadang sepi pembeli. Kuncinya, harus ulet, rajin dan tak mudah patah semangat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali saya tertawa geli setiap kali mengamati para pedagang sayur, ikan, bumbu-bumbu, buah dan lain-lain. Sambil menunggu pembeli, tangan mereka tak pernah berhenti bergerak atau berpangku tangan. Pasti ada-ada saja yang dipegangnya atau dibenahi (utek-tek barang dagangan). Nganggur sedikit saja (berdiam diri), rasanya tidak ada kamus buat para pedagang. Hidup harus dinamis.  &lt;br /&gt;                                     ***&lt;br /&gt;RABU (10/6) kemarin, saya sengaja mengajak Rizal (anak saya) jalan-jalan ke Pasar Kebayoran Lama. Kali ini saya ingin mengamati para pedagang di pasar loak. "Pa... itu ular kobra ya? Hi... menakutkan. Ular kok dijual," kata anak saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami terus berlalu. Kali ini kaki melintas di depan para penjual batu akik, manik-manik tempoe doloe, hingga keris-keris mini (miniatur). Saya tak begitu suka dengan batu akik. Pandangan kami hanya sekilas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ujung pasar, seorang wanita tua berbadan gemuk, sibuk menawarkan lembaran uang kuno. Saya berhenti sejenak. Seorang pria muda, terlihat memilih-milih uang jadul, diantaranya pecahan Rp 1000 bergambar Soekarno yang diterbitkan sekitar tahun 1964. Potongan kertasnya agak tebal, lebar dan panjang. Pada tahun yang sama, juga dikeluarkan uang pecahan Rp 10.000 juga bergambar sang Proklamator Soekarno. Bentuknya, lebih lebar lagi dibanding uang pecahan kertas terkini. Trus ada juga uang pecahan Rp 10.000 bergambar RA Kartini, pecahan Rp 100 rupiah bergambar Soekarno dan pecahan Rp 25 rupiah (tahun 1964) serta tumpukan uang kuno lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anak muda itu orang kaya. Dia kolektor uang dan sering membeli uang kuno ini. Kapan hari dia nongkrong di rumah saya sampai jam 03.00 pagi, hanya memilih uang jadul. Penampilannya ya begitu saja, tapi dia sangat kaya. Kadang dia memburu mata uang asing, Iran, Irak, dolar dan lain-lainnya," bisik sang emak kepada saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya amati, anak muda itu. Lagi-lagi, sang emak selalu menceritakan keadaan sesungguhnya siapa anak muda tersebut. Kali ini suaranya agak keras. Sang anak muda itu tahu kalau lagi diperguncingkan. "Ah... saya ini orang biasa saja. Jangan dengerin omongan emak," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh uang pecahan telah dipilih. Sang emak menelitinya satu persatu. "Ah.. kalau yang ini harganya agak mahal. Rp 100 ribu perlembar (mata uang Iran). Kalau lainnya okelah... perlembar Rp 5000 saja," kata sang emak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai dibayar, sang pemuda itu pergi. Saya jadi ikutan tertarik mengoleksi uang jadul. Saya pilih sepuluh lembar. "Berapa Mak?" "Kasih saja Rp 50.000." "Kalau uang golden nedherland ini berapaan?" "Oh... uang ini biasa dipakai untuk kerokan. Ya sudah sepuluh ribu empat," ungkapnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak saya, tertawa geli mengamati cara saya memilih-milih uang jadul. "Untuk apa Pa? Masak uang jadul kok dibeli?" "Eittt... tahu enggak... kalau kamu mau jadi orang kaya, mestinya uang pecahan Nedherland yang dikeluarkan tahun 1914 itu kamu beli semua," kata saya. "Lho untuk apa?" "Ah.. dikau ini kurang cerdas. Kan uang kepeng ini bisa dibuat liontin. Tinggal kamu lubangi, lalu dibelikan tali kalungnya, trus dijual ke teman-teman sekolahmu. Kamu jual Rp 25.000 saja bisa laku lho kalau sudah jadi kalung. Siapa tahu kalung dengan bandul mata uang kuno, bisa ngetren." Anak saya hanya tertawa saja. Akhirnya, saya beli empat kepeng. Sesampainya di rumah, kepeng-kepeng itu saya lubangi pakai paku dan saya bersihkan dengan braso. "Wow... bagus juga Pa," kata Rizal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sebelum saya meninggalkan lapak sang emak, mata wanita itu seakan tak berkedip menatap saya. Orang di sekitarnya juga begitu. "Apa ada yang salah? Bukankah, saya sudah membayarnya." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian, emak itu mendekati saya. Ia berbisik. "Sebentar... saya ada oleh-oleh buat kamu." "Hah.....? Oleh-oleh apa Mak?" Wanita itu lalu merunduk ke bawah mengambil tas kresek warna merah. "Ini kamu bawa pulang." "Apa isinya?" "Sudah bawa saja pulang ke rumah." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya saya berusaha menolak. Tapi bibir rasanya tak bisa berkata-kata, kecuali ucapan terima kasih. Saat kaki baru melangkah beberapa meter, sang emak itu memanggilnya saya kembali. "Hoi... kesini sebentar." "Ada apalagi Mak?" "Ini juga kamu ambil. Bawa ke rumah dan jangan dijual..." pesannya sambil memberikan satu tas kresek berwarna hitam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil pulang menuju ke rumah, Rizal, anak saya tak henti-hentinya tertawa. "Ada... ada saja Pa. Kenapa tidak ditolak?" "Zal... Papa justru terharu dengan sikap emak itu. Coba bayangkan, ditengah masyarakat yang tingkat individualistiknya begitu tinggi, masih saja ada orang mau memberi sesuatu ke orang lain. Dan nanti kamu akan tahu ada apa dibalik semua ini. Pasti ada makna tersembunyi..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di rumah, Rizal berteriak memanggil mamanya. "Nih... Papa ada-ada saja. Tuh, dikasih pedagang dua tas kresek. Enggak tahu apa isinya." Mendengar cerita Rizal, isteri saya tentu saja ngomel. "Kenapa enggak ditolak? Buat apa dibawa pulang ke rumah? Kasihkan ke orang saja..." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya diam, tak menjawab. Di depan teras, Rizal saya suruh membeli kardus bekas. Maksud saya, apapun isi dari tas kresek itu, barang pemberian orang haruslah kita rawat dan kita hargai, tanpa harus melihat nilainya. Apalagi, sang pemberi adalah manusia-manusia yang tulus, ikhlas tanpa pamrih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah saya buka, astaga... isinya berbagai macam pakaian wanita dan anak-anak. Semuanya terlihat masih baru. Entah, sang emak beli dari mana dan apa maksud dari pemberian itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu, saya masukan ke dalam kardus, lewatlah seorang janda tetangga rumah saya. "Om... itu apa?" tanyanya. "Oh... ini diberi pedagang uang jadul di Pasar Kebayoran Lama." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah saya mau juga lho Om... Kebetulan anak-anak belum beli baju." Tanpa ba... bi... bu... lagi, semua pakaian itu saya suruh angkut ke rumahnya. "Asal dipakai ya?" "Iya.. Om... dengan senang hati. Anak-anak saya pasti merasa senang...." tuturnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari cerita itu, ternyata sedekah itu memang ada alamatnya. Saya hanya perantara dari sang emak. Barang pemberian itu, akhirnya jatuh di tangan janda yang sehari-hari bekerja sebagai pembantu rumah tangga... Terima kasih Tuhan, Engkau telah menunjukan satu ayat yang sarat makna....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4485446538463938006-7291120667311143618?l=bechipersda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bechipersda.blogspot.com/feeds/7291120667311143618/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4485446538463938006&amp;postID=7291120667311143618&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/7291120667311143618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4485446538463938006/posts/default/7291120667311143618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bechipersda.blogspot.com/2009/06/ayat-sarat-makna.html' title='Ayat Sarat Makna'/><author><name>BECHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08775907967418830724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-emANB88_ydk/TyvaDcQMpqI/AAAAAAAAAqs/Fdyri-JOeCk/s220/bechi1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4485446538463938006.post-4886722072041193005</id><published>2009-06-07T22:12:00.000+07:00</published><updated>2009-06-07T22:13:33.041+07:00</updated><title type='text'>‘Pasar Hati’ Mendukungmu Prita (Era Humanisme)</title><content type='html'>Oleh Achmad Subechi - 3 Juni 2009 - Dibaca 876 Kali -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    PRITA Mulyasari. Dia hanya manusia biasa. Popularitasnya mengalahkan artis-artis papan atas di Indonesia, karena ketertindasan. Sudah ada 15.000 dukungan di facebook. Hampir setiap hari saya mendapatkan surat dukungan itu dari beberapa rekan saya. Tuntutan teman-teman adalah ‘Bebaskan Ibu Prita Mulyasari dari tahanan dan segala tuntutan hukum’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Di Balikpapan, Kalimantan Timur, kalangan penggiat dunia maya, sudah memperguncingkan kasus Prita. “Tolong angkat kasus ini. Dimana empati kita? Ibu itu masih punya dua anak yang masih kecil-kecil. Masak gara-gara menulis email saja, dia harus masuk penjara. Ini keterlaluan,” kata Yoyok Setiyono (News Director Info Channel).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Yoyok, usianya masih muda. Tapi, hatinya bergejolak dan tak mau menerima perlakuan yang dianggapnya melampaui batas dan mengekang kebebasan manusia untuk berkeluh kesah atau sekedar menyampaikan pendapatnya setelah mendapatkan pengalaman empiris. Begitus juga teman-teman saya lainnya yang rajin berselancar di dunia internet. Mereka terharu mendengar berita yang cukup mengejutkan. “Apa salahnya kita curhat dengan teman melalui email dan isinya menceritakan pengalaman pribadinya. Lha kok ini tiba-tiba dijebloskan ke penjara. Aneh….?” tutur rekan saya lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kembali ke soal dukungan terhadap Prita yang angkanya sudah mencapai 15.000. Ini sutau fenomena yang luar biasa. Surat dukungan yang melimpah ruah itu, menandakan bahwa masyarakat kita telah muak dengan tindakan-tindakan yang tak menggunakan hati. Ini adalah era bangkitnya gerakan humanisme. Ketika ada manusia tertindas, dianggap terdhzalimi, bahkan tercerabut hubungan kasih sayangnya dengan sang buah hati, maka ‘pasar’ akan menjawabnya. ‘Pasar’ juga yang akan ikut berbicara, menolak tindakan-tindakan yang dianggap bertentangan dengan nilai-nilai dasar kemanusian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sebuah gerakan yang ciamik dan tak menutup kemungkinan akan terus berkembang, demi menjaga harga diri dan harkat martabat manusia. Terlepas salah atau benar, rakyat rupanya masih mempunyai hati. Hati nurani yang letaknya di dasar jiwa itu berontak dan ikut berbicara dalam memperjuangkan asasi manusia. Ketika hati sudah mengambil peranan, maka pendekatan yang dilakukan dalam menyelesaikan masalah, akan lebih elegan, walau negara kita adalah negara hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hati terbuat dari segumpal darah yang hitam. Tapi ia mampu merobek-robek keangkuhan, merobek-robek kesombongan, merobek-robek kediktaktoran, merobek-robek kedhzaliman dan merobek-robel sel syaraf mata manusia serta mampu menumbahkan air mata bahkan menjebol dinding-dinding hati manusia lainnya yang hitam pekat akibat kearoganan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bukankah Prita adalah manusia biasa, manusia yang juga punya hati dan buah hati? Tak ada satupun manusia di dunia ini yang boleh memisahkan atau bahkan membuat abar-abar, sehingga hubungan kasih sayang antara seorang ibu dan anaknya tercabik-cabik. Mampukah kita membendung air mata, manakala Khairan Ananta Nugroho (3) dan adiknya Ranarya Puandika Nugroho (1 tahun 3 bulan) –keduanya anak Ny Prita– bertanya kepada bapaknya, “Ayah dimana Ibu….?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ternyata, dibalik rintihan itu… kini sang ibu berada dibalik jeruji penjara hanya karena persoalan yang mungkin bisa diselesaikan dari hati ke hati, sejak kasus itu mencuat. Kini lagi-lagi ‘Pasar Hati’ telah mengibarkan bendera perang. ‘Pasar Hati’ sudah terlanjur berbicara tak hanya di seantero negeri ini. ‘Pasar Hati’ di dunia internasional pun juga sudah mendengar cerita ini. Lalu, sampai kapan ‘Pasar Hati’ mampu menerobos dinding-dinding hati manusia-manusia yang diberikan amanah untuk menegakkan hukum dan keadilan? Prita… bersabarlah….. teman-teman di dunia maya berada di belakangmu……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Share on Facebook    Share on Twitter &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;34 tanggapan untuk “‘Pasar Hati’ Mendukungmu Prita (Era Humanisme)”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Linda Sari,&lt;br /&gt;      — 3 Juni 2009 jam 2:07 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          setuju mas….. mari kit beri dukungan terus untuk ibu Prita….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          hanya orang2 yang tidak punya hati nurani yang sanggup memisahkan anak dari ibunya..&lt;br /&gt;          atau..(maaf..) mungkin mereka tidak terlahir dari rahim seorang ibu…..&lt;br /&gt;   2. linda,&lt;br /&gt;      — 3 Juni 2009 jam 2:08 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Hanya manusia yang tidak berhati dan tidak berbudi lah yang mengusulkan dan memberi ide, serta menyeret seorang Ibu muda yang tengah menyusui, yang hanya berseloroh dalam tulisannya menyatakan ketidakpuasannya kepada layanan publik yang namanya Rumah Sakit…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Ayo kita cari tahu,siapa pemilik RS OMNI itu.., siapa saja susunan direksinya…. , yang apakah betul-betul hanya mementingkan bisnis semata-mata tanpa mau menerima kritikan konsumen. . ?? dan dengan segala arogansinya menyeret wanita yang memiliki dua anak balita kepada proses hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Bukalah hati .. bukalah rasa wela asih kalian…..&lt;br /&gt;          Tiada akan ada gunanya Rumah Sakit semegah itu kalau penghuninya ( baca: pemiliknya ) tidak berjiwa….&lt;br /&gt;   3. bambang,&lt;br /&gt;      — 3 Juni 2009 jam 2:18 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          dulu tindakan seperti itu mungkin dilakukan penjajah kepada warga “inlander”,tapi sekarang setelah lebih 60 tahun merdeka,mereka para penguasa dan penegak hukum yang punya logo “pengayom” justru tanpa hati nurani dan deep tought mengikuti saja perintah organisasi/orang yang membayarnya mengetrapkan pasal-pasal yang memberatkan pada orang yang lemah.&lt;br /&gt;          Quo vadis kebebasan mengemukakan pendapat ya&lt;br /&gt;   4. rizaldo,&lt;br /&gt;      — 3 Juni 2009 jam 2:18 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          setuju mas. jajaran direksi RS OMNI tidak punya hati nurani. copot saja para direksinya.&lt;br /&gt;   5. Novrita,&lt;br /&gt;      — 3 Juni 2009 jam 2:33 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Yang paling gak bisa diterima adalah orang yang demikian tega memisahkan anak yang masih membutuhkan ASI dengan ibunya. Apa hal ini tidak melanggar hak bagi seorang ibu untuk memberikan gizi, makanan, asupan yang baik buat sang bayi?&lt;br /&gt;          Saya begitu marah mengikuti kasus ini. Dari segi hak asasi sang bayi, dia berhak 100% memperoleh ASI, begitu juga sebaliknya. Katanya digembar-gemborkan pemberian ASI. Sekarang, kok malah ada ibu sedang memberikan ASI harus dipisahkan dengan anaknya.&lt;br /&gt;          Jangan bilang, bahwa ” bisa saja anaknya dibawa serta ke rumah tahanan.”Apa gak lihat kondisi kejiwaan sang anak..?&lt;br /&gt;          Konsumen ngeluh kok malah diseret ke pengadilan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Kemana nurani para penegak hukum?&lt;br /&gt;          APa tidak bisa melihat kasus ini dari kacamata yang lebih lebar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Paranoid yang berlebihan dari RS Omni saya rasa makin membuat makin kacau… Saya yakin, adanya kasus ini makin menambah simpati kepada Prita dan mempurukkan RS Omni..&lt;br /&gt;          APa iya hal itu yang diinginkan RS Omni..?&lt;br /&gt;          Pihak Humas RS Omni mestinya bisa melihat hal ini dengan cermat dan mempertimbangkan dengan matang. Begitu juga Direkturnya… Semua yang mengelola RS Omni seharusnya memberi masukan yang bijak terhadap pemilik.&lt;br /&gt;          Kalo sudah begini, percayalah.. yang diingat masyarakat adalah hal jelek tentang RS Omni…Makin jauh dari tujuan semula untuk meredam agar complaint Prita gugur kan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Kalo Prita tidak merasa salah, ya memang dia tidak salah menurut saya… Bukankah wajar seorang konsumen mengeluh apabila ada pelayanan yang kurang…&lt;br /&gt;          Semoga Prita tabah dan terus diberi kekuatan. Dibalik semua ini ada hikmah yang jauuuuuhhh lebih besar..&lt;br /&gt;   6. Mas Agus,&lt;br /&gt;      — 3 Juni 2009 jam 2:35 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Naahhhh… IDI… apa ini bisa disebut malpraktek…? DEPKES… kok diam saja…? Kok yang berkunjung malah Dewan Pers bukannya LBH ini kasus hukum yang semena-mena… siapa sih yang punya OMNI…? kok sebegitu kuasanya dia terhadap pasien… Polisi harus menyelidiki ini…&lt;br /&gt;   7. ugeng,&lt;br /&gt;      — 3 Juni 2009 jam 2:46 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          betul mas achmad.. ini memang perang hati.. dimana keadilan dan hati para jaksa, ketika mereka harus menahan seorang ibu di penjara. padahal saat pemeriksaan di polisi, polisi tidak menahannya karena ibu prita sangat kooperatif dan mempunyai balita.. sedangkan 2 jaksa yg terancam pidana 20 th karena ganja saja dikenakan wajib lapor… saya akan memilih pemimpin yg lebih mengutamakan hati dan keadilan.. tp apakah ada?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Ugeng: Itulah kualitas pemimpin kita. tanpa bermaksud mencurigai siapapun, kita sudah bosan dan jenuh dengan apa yang dinamakan ketidakadilan. Buat apa pakai lambang timbangan segaa, kalau cara menakarnya tidak baik dan benar. Salam kompasiana….&lt;br /&gt;   8. Indont3ars,&lt;br /&gt;      — 3 Juni 2009 jam 2:52 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Anda terlalu banyak berteori.!!!bla…bla..bla…ngoceh tanpa makna….apa yg anda harapkan dng teriak2 di internet..? knp ngga bertindak sekalian aja,turun kejalanan demontrasi..emang lbh gampang sih bersikap seperti orang yg perduli,soalnya anda cuman duduk didepan komputer di temenin rokok sama kopi…dan tulisan anda terlalu puitis….mencoba menarik simpati membaca justru bikin muak,stop being a walking pen…try to sound smart buy you are stupid.aksi bicara lebih keras dari pada omongan ….just go outside and help that women….!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Indont3ars: Luar biasa sekali pemikaran dan penilaian anda. Salut.. Thanks banget… Sorry gue mau ngopi lagi nih… daag&lt;br /&gt;   9. Bagindazzz,&lt;br /&gt;      — 3 Juni 2009 jam 2:53 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Jgn pernah singgah apalagi berobat ke Rumah Sakit ini&lt;br /&gt;  10. N. Nurhayathi,&lt;br /&gt;      — 3 Juni 2009 jam 3:08 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Kasus ini sebenarnya bisa jadi berakar pada debat hangat akhir-akhir ini yakni tentang neoliberalisme. Rumah Sakit yang dibuat tidak lebih sebagai proyek bisnis akhirnya hanya bicara keuntungan..keuntungan dan bila perlu menipu pasiennya karena mengganggap pasien sapi perahan yang dapat dieksploitasi. Pendekatan pasar dalam pengembangan kesehatan melalui privatisasi layanan rumah sakit sangat jelas bersumber pada neoliberalisme…dan bisa dicari siapa yang membuatnya menjadi begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Para dokter sekarang pun banyak yang mengejar keuntungan materi sebagai motivasi menjadi dokter, bukan untuk pelayanan publik. Oleh karena itu, mereka menganggap pasien adalah konsumen yang dapat diperas demi memperoleh penghasilan yang tinggi, bukan demi penyembuhan penyakit si pasien. Cerita Ny Prita jelas menunjukkan betapa rendahnya kualitas dokter yang bertugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Jadi, kesimpulannya..mari kita dukung pembebasa ibu Prita..stop privatisasi layanan rumah sakit.. perketat masuk FK dengan seleksi yang baik agar yang masuk benar-benar memiliki motivasi menolong sesama bukan untuk mencari keuntungan di atas penderitaan orang lain dan yang terpenting boikot rumah sakit yang mengeksploitasi pasiennya. Yang terpenting jangan piliah capres yang melakukan privatisasi pelayanan publik alias neolib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Salam&lt;br /&gt;  11. dedy risanto,&lt;br /&gt;      — 3 Juni 2009 jam 3:21 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Ikut Prihatin dengan kasus ibu Prita, membuat kita jadi berhati-hati lagi berselancar di dunia maya… tapi seperti biasa orang indonesia,,,Untung Kejadiannya dimasa Kampanye Capre-Cawapres,jadi kayaknya bisa happy ending,, karena baru sebentar saja Ibu mega, ibu Mufidah dan ibu Uga mau membesuk bahkan menurut kompas akan diminta unutk di bawa pulang,!&lt;br /&gt;          saya tidak bisa membayangkan penderitaan ibu Prita kalo kejadiannya bukan dimasa Kampaye, Kasus David-Singapur meledak di masa kampanye Caleg,, jadi niali jualnya kurang,,,,,sabar-sabar-sabar,, gusti paringono sabar!&lt;br /&gt;  12. albertus prayudia,&lt;br /&gt;      — 3 Juni 2009 jam 3:31 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Mentang-mentang punya kuasa, punya wewenang, eh begitu… Inikan demokrasi Cyber…Kalau nggak mau di komentarin… ya berhati baik dan bertindaklah yang baik… Sekali lagi kan ada hak jawab… Jangan main penjarain orang….penjara bukan penyelesaian… terlebih tangisan sang buah hati… sungguh menggetarkan hati…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          kok ya tega…………,&lt;br /&gt;  13. Abukamal,&lt;br /&gt;      — 3 Juni 2009 jam 3:38 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Ngeri juga ya, kalau berobat ke rumah sakit ini berarti harus siap-siap dipenjara. Apapun yang dilakukan dokter, perawat, dan temen2nya di rumah sakit tidak boleh diomongin, tidak boleh diperbincangkan, tidak boleh dikeluhkesahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Kami ikut mendoakan semoga Bu Prita secepatnya bebas.&lt;br /&gt;  14. andre,&lt;br /&gt;      — 3 Juni 2009 jam 3:41 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          BOIKOT RUMAH SAKIT OMNI&lt;br /&gt;  15. Mas Agus,&lt;br /&gt;      — 3 Juni 2009 jam 3:43 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          @Indont3ars… kalah saingan ente… kita kaum intelektual bro… demo milik kaum liberal… klo kita masih bisa berkarya dengan damai kenapa gak. Ini juga bisa dibilang demo… tapi ini demonya orang intelek… Kaum intelek berpikir dengan otak dan penanya… kaum liberal berpikir dengan otak dan ototnya… jangan-jangan anda ini termasuk orang liberal… atau mungkin neo-liberal…?&lt;br /&gt;  16. lintang,&lt;br /&gt;      — 3 Juni 2009 jam 4:02 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          saya yakin masih ada penegak hukum yang ‘punya hati’&lt;br /&gt;  17. kuncoro,&lt;br /&gt;      — 3 Juni 2009 jam 4:06 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          tolong kompas kalau perlu membantu ini, depkes bereaksilah kalau perlu juga tutup tuh rumah sakit. mentang2 oran kecil sebegitunya enak aja jeblos penjara&lt;br /&gt;  18. sumijansumijan,&lt;br /&gt;      — 3 Juni 2009 jam 5:07 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          WOW….ADA YANG SEPERTI NASIB SAYA…..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Saudaraku Prita Yang Terhormat tapi Tertindas di seantero negeri,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Dalam situasi ini,pekerjaan terpenting adalah memnajaga nasib dengan benar dan tepat,agar semua kesukaran-kesukaran tidak semakin sukar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Sungguh…!, trenyuh dan haru-biru suasana hati empati di dada ini, baru mengetahui hal ini setelah membaca tulisan “Pasar Hati” Mas Bechi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Seorang Ibu tulen yang kelihatan tak neko-neko, mengalami nasib buruk luar biasa akibat di laporkan pencemaran nama baik oleh satu Institusi yang merasa telah di cemarkan nama baiknya. Ironinya institusi yang sangat lekat dengan kerja-kerja sosial kemanusiaan pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Sebagi orang waras, saya bertanya-tanya dalam hati, dimanakah tempatnya hati dan empati Institusi kemanusiaan itu….? sehingga terlalu yakin bahwa tindakan-nya atas Ibu Prita adalah hal yang pantas dan wajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Adakah ibu Prita dijadikan tumbal alat sock theraphy atas sakit hati oknum-oknum Institusi yang semakin sering di laporkan mall praktek oleh para pasien-nya…?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Boleh jadi, Ibu-ibu Prita lainya akan menunggu giliran di pidanakan hanya karena melakukan-hal-hal baru yang seharusnya menjadi tanggung-jawab pemerintah untuk melakukan kerja pembinaan terhadap pengguna internet di se antero negeri ini. Ini fenomena baru, yang apabila terdapat unsur negatif-nya harusnya cukup dilakukan upaya pembinaan sosialisasi dan pendekatan yang lebih manusiawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Yakin, seandainya para arwah leluhur pendiri negara bangsa ini menyaksikan hal ini, niscaya mereka akan marah dan mengutuk praktek kerja-kerja anak bangsa yang semakin mendewa-dewa kan angka-angka untung-rugi dan menang-kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Seakan pusaka warisan leluhur, nilai-nilai filosofis Panca Sila dan mukadimah UUD’45 sudah lenyap di telan bumi, duh… Gusti alloh Tuhan-ku, semoga jauhkan azhab dari negeri kami ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Betapa nasib sesamaku di seantero negeri ini telah menjadi korban ke biadapan penerapan menejemen angka-angka, budaya baru dari bangsa kapitalis opportunistis asing yang dipaksakan untuk menindas dan memeras kami. Celaka.., oh…celaka, ternyata terbukti angka-angka tidak memiliki hati dan empati,apalagi rasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Yakin, di “Pasar Hati” Pak Bechi pasti ada di sediakan gratis ilmu “Menejemen Rasa dan Merasa”&lt;br /&gt;          Dengan ilmu “menejemen rasa dan merasa” semua anak bangsa akan menemukan hati dan empati serta kredibilitas nasionalis dan Pancasialis sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Penerapan menejemen angka-angka dalam urusan apapun pasti, melahirkan ketidak seimbangan, ke tidak pantasan, ketidak wajaran, ketidak samaan, ketidak pasian, ketidak adilan, ketitak rataan dsb..dsb…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Selanjutnya yang terjadi adalahsemuanya kerja-kerja hanya untuk memakmurkan dan mensejahterakan kaum kapitalis opportunistis dalam dan luar negeri. bahkan kerja-kerja di pemerintah,swasta dan kemasyarakatan….?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Semoga seluruh stakeholders bangsa ini segara siuman,bahwa peran dan fungsi anak bagsa ini adalah untuk membangun bangsa Indonesia dengan rasa dan karsa. Tanpa itu, kita hancur lebur sebagai bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Kembali ke Ibu Prita, apakah tindakan “institusi sosial kemanusiaan” RS melaporkan Ibu prita ini tidak kontraproduktif dengan visi dan misi RS sebagai institisu pengemban amanah sosial kemanusiaan…?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Ataukah, Ibu Prita ini adalah orang yang kebetulan dijadikan korban balas dendam dan sock theraphy atas oknum-onum RS yang sakit hati lantaran semakin sering di adukan mall paktek oleh warga masyarakat….?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          kalau kesemuanya itu hanya di dasarakan atas asumsi pihak RS akan adapat dirugikan, maka stikma negatif RS ke depan sebagai institusi angker dan berbahaya tak terhindarkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Saya sangat berharap ada fihak-fihak yang memiliki kapasitas intervensi positif menjadi fasilitator agar pihak RS mau mencabut laporanya, sebab ini kasus delik umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Semoga pihak Institusi aparat yang menengani kasus ini, dapat mengedepankan unsur “rasa dan merasa” serta pembinaan yang lebih manusiawi lagi terhadap Ibu Prita, sebab kasus internet adalah fenomena massa yang sama sekali baru sehingga menjadi tanggungjawab pemerintah juga untuk melindungi dan mengayomi setiap warga negaranya dari jeratan hukum lantaran ke awamanya. Apalagi untuk kategori seorang Ibu rumah tangga yang jelas tak mungkin neko-neko itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Mari membangun bangsa dengan rasa dan merasa, agar negara bangsa ini menjadi berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Besakan Ibu Prita atau bangsa ini tak punya hati dan rasa malu!!!!&lt;br /&gt;&lt;b
